Hutan Tele dalam Kenangan Seorang Blogger
*****
MENGAPA memandang Danau Toba dari Tele, saya sebut bisa meluruhkan arogansi? Karena dari sini, Danau Toba, tepatnya sebagiannya, terlihat sangat kecil di bawah sana. Seperti melihat di peta saja, bedanya di sini tampak begitu indah, seperti lukisan naturalis di kanvas raksasa.
Sebuah warung di sana, menyediakan menara kayu, untuk bisa mendapatkan view yang lebih tinggi. Wuih, danau seluas itu, seperti ngga ada apa-apanya. Apalagi aku?
Berdiri di menara kayu itu, ketiadaan diri di tengah kemahaagungan alam ini begitu terasa. Ini seperti miniatur perjalanan ke luar angkasa, yang dilakukan para astronot dan orang-orang kelebihan uang.
Menatap bumi yang ringkih, dalam warna biru terang di bawah (ups… ngga ada defenisi atas bawah di luar angkasa ya…) dibungkus kekalnya hitam jagat raya. Sungguh kita bukan apa-apa, debu kosmik yang tak punya signifikansi.
*****
HAWA dingin pasti membuat perut cepat terasa perih. Nah di sana cukup banyak penjual makanan. Bila Anda yang muslim agak ragu soal makanan, memesan mie instan dalam cup strerefoam dan air meneral botolan menjadi pilihan yang paling aman, selain bawa bekal makanan sendiri tentu saja.
Namun kerepotan kecil itu, sama sekali tidak sebanding dengan pelajaran alam yang akan Anda dapatkan.
Selamat mencoba.
*Artikel dengan judul asli Tele, ini adalah tulisan Toga Nainggolan, yang telah dimuat di blognya Newsiaweek, tanggal 15 April 2007. Selain sebagai blogger, Toga adalah wartawan sebuah surat kabar di Medan (Robert Manurung)
Tag: batak, hutan, kontemplasi, opini, selamatkan hutan tele, tele, toba

19 Februari, 2008 pukul 11:14 am
wahhh…dah sampe sana juga bung? ….
mantap..
19 Februari, 2008 pukul 11:22 am
Aku selalu melintasi daerah ini kalau mau menuju kampungku yaitu Dolok Sanggul. Seingatku, tak pernah sekalipun aku tidak singgah untuk sekedar merenung sambil menikmati kopi panas di tempat ini. Bagi teman-teman yang bukan Batak, tempat ini adalah suatu lokasi yang paling maksimal untuk menikmati keindahan alam Danau Toba. Tapi bagi kami orang Batak tempat ini bukan sekedar tempat menatap keindahan alam Danau Toba tapi jauh lebih besar yaitu membangun hubungan spiritualitas (kontemplasi) dengan para leluhur kami, dan terutama kepada Sang Khalik.
Seperti tulisan di atas, kedigdayaan kami sebagai manusia akan segera sirna begitu berada di daerah itu. Kekuatan magis Sang Pencipta dengan dahsyatnya menyadarkan kita bahwa dengan kuasaNya yang begitu besar, alam ini diciptakan sangat sempurna.
1 Maret, 2008 pukul 8:17 pm
Saya mengunjungi Danau Toba dan Brastagi sekitar tahun 1999 pertengahan. Indahnya disana, tenang, hijau dan dengan udaranya yang sejuk. Kalau ke Tele saya belum pernah, tapi andaikan kesampaian, akankah suasana di Tele masih seperti yg anda lukiskan disini? *sigh* Semoga aja hutan di Tele bisa diselamatkan ya .. amin.