Foto close-up tanah mati ini dijepret oleh sahabatku, Charlie M. Sianipar, minggu lalu di Desa Martoba, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara.
Di dekat tanah inilah Komunitas TobaDream akan memulai “impian besar”, namun dengan langkah-langkah kecil yang pasti : menanam sekitar 1.000 pohon yang akan dirawat sampai tumbuh dewasa.
Kami tidak berani ngomong besar, misalnya sesumbar menanam sejuta pohon, sebab kemampuan kami memang sangat kecil. Dan kami tahu, alam yang tandus ini hanya bisa dihidupkan kembali dengan menanam pohon dan merawatnya, bukan dengan retorika. (Robert Manurung)

Tag: berita, danau toba, foto, krisis, lingkungan, samosir, sumatera utara
25 Februari, 2008 pukul 8:29 pm
sebuah langkah kecil tapi bisa mendatangkan manfaat yang besar kepada generasio berikutnya bung robert. semoga langkah tobadream diikuti juga oleh komunitas di daerah lain. salut.
25 Februari, 2008 pukul 9:17 pm
@ Sawali Tuhusetya
Semoga demikian Pak Sawali. Kami memang sangat berharap bisa menjalin kerjasama dengan komunitas lain, bukan saja demi menyelamatkan lingkungan di Tapanuli, tapi di mana saja di negeri tercinta ini.
Mudah-mudahan kaum muda kita tergerak menjadi ujung tombak penyelamatan dan pelestarian lingkungan. Untuk itu kita perlu membangun sebuah paradigma baru dan mengkampanyekannya, bahwa peduli lingkungan adalah lifestyle yang gaul dan keren. Sebaliknya merusak lingkungan adalah perbuatan norak, bahkan bisa digolongkan kriminal.
Terima kasih. Salam
26 Februari, 2008 pukul 8:05 am
walau tak terlahir di tepi danau toba . saat pulang dimana saat saya bertemu dengan banyak hal ditepi danau, diperbukitan. hanya tersisa gurat-gurat cantiknya dulu lukisan area itu. Dan mungkin warga disana sudah cukup puas dengan kejayaan dan kekayaan masa lalu. jika pohon terakhir, sudah ditebang habis, ikan terakhir sudah terpancing, burung terakhir sudah diburu, apakah uang dapat mengganti semua?
26 Februari, 2008 pukul 3:52 pm
Penting sekali semangat yang sama ditularkan kepada bangsoi yang tinggal di Samosir, terutama generasi mudanya, agar mereka juga merasa sebagai pemilik gerakan ini, bukan semata-mata menonton orang-orang dari Jakarta nanam pohon.
Ada baiknya, gerakan ini diposisikan sebagai gerakan moral dengan melibatkan para pemimpin informal, seperti pangula ni huria dan rohaniwan dari berbagai latar belakang kepercayaan.
Sukses untuk Komunitas Toba Dream! Dream what you want to dream; go where you want to go; be what you want to be, because you have only one life and one chance to do all things you want to do.
18 Maret, 2008 pukul 10:53 am
[...] AyoMerdeka : Samosir, Oh Samosir… [...]
28 April, 2008 pukul 10:08 pm
Go Samosir… join yah.. di forumnya samosir… gosamosir.com
23 Juli, 2008 pukul 2:47 pm
oh pendudk batak ku yg sangat sombong dan angkuh.
belajar lah dari dunia luar.
masyarakat batak itu tdk akan mau menjaga hutan karena itu membuat harimau dan babiat tempat nya bersembunyi.
satu lagi setiap pohon yg akan tumbuh akan di babat babi liar dan horbo yg berkeliaran di tempat mu itu. ok…
satu lagi. penduduk batak hampir majoritas busung lapar .tapi kau sangkal.karena mulut mu malu.tdk menerima kebenaran katakata ku ini.karena kau manusia sombong.jadi bagaimana kau utk menghijaukan tanah di samosir kalau rakyat mu tdk di beri makan yg baik.
adakah yg perduli?omong kosong semua.mulut besar.rakyat nya bertani di makan uang pupuk.dan harga padi tdk baik bila panen. pemerintah mu memimport beras agar harga beras anjlok kalau udh panen. jadi apa mau mu batak heang?
lihat kami di luar negeri miskin kaya tetap semua senang ada sumber makanan yg di berikan uang social. jadi bila kaya atau kaya tdk di pandang karena manusia di sini hidup utk senang.bukan hidup utk korupsi dan menumpuk harta dan tanah seperti batak heaNG.
trimakasih. kujilat heang mu kalau kau berani menunjukkan tulisan ku ini ke public,berani bertaruh. delete it .at least you read already. you mother fucker. I love batak.but I felt so sorry for the poor one.