Ibu Segala Zaman, Ny.Tiara Simandjuntak (4)

Berhentilah makan kalau sudah kenyang!

BUKAN rahasia lagi, di balik hampir semua kasus korupsi di negeri ini selalu ada perempuan-perempuan yang menjadi “kompor” dan provokator. Tidak hanya ibu yang suami atau anaknya menjadi pejabat tinggi, yang suami/anaknya pegawai tingkat kecamatan pun sangat kencang membujuk, mendorong dan bahkan mendesak anak/suaminya melakukan korupsi.

Dan titik lemah itulah yang paling banyak dimanfaatkan oleh para petualang ekonomi, rent seeker, calo dan komprador, untuk memenangkan proyek-proyek pemerintah atau menghisap darah rakyat dengan restu pemerintah. Dimulai dari ruang tamu, niat korupsi dimantapkan di tempat tidur.

Bagaimana dengan Ny.Tiara Simandjuntak boru Siahaan ? Dapat proyek atau komisi apa dia ketika anaknya menjadi Menteri Sekretaris Kabinet dan Jaksa Agung dalam kabinet Presiden Abdurrahman Wahid ? Siapa saja di antara para pengusaha dan koruptor kelas kakap yang berusaha menyuap dan memanfaatkannya, agar Marsillam melindungi bisnis mereka ?

“Dua sampai tiga bulan setelah Sillam jadi Sekkab, ada beberapa orang yang datang di sini. Anak saya (Marsillam) begini, dan seterusnya, begitulah yang mereka sampaikan. Tolong dibantu,”tutur perempuan berusia 91 tahun itu. Tapi, dia tidak mau mengungkapkan identitas orang-orang itu.

So, apa jawaban ibu ? “Saya bilang, Sillam memang anak saya, tapi tentang kerja, saya tidak pernah antoi (ikut campur).Kalau kalian mau ketemu dengan dia, pergilah ke kantornya.”

Yang mengagetkan, meskipun reputasi Marsillam sebagai tokoh anti-korupsi sudah santer sampai ke manca negara, ternyata dia masih dinasehati oleh sang ibu, agar tidak neko-neko dan ikut-ikutan korupsi. Hal itu kembali diingatkan Ny.Tiara Simandjuntak, ketika Marsillam ditunjuk menjadi Sekkab oleh Presiden Gus Dur.

“Saya bilang, kita selama ini tidak kaya, tapi kita bisa makan enak. Jangan morot (bergeser) dari pendirian kita, Nak. Jangan ikut yang masa-masa ( yang sedang trend) sekarang. Ingat itu dari Mama,”tutur Ny.Tiara Simandjuntak.

Dimarahi suami, dikatain rakus

Apa yang dinasehatkan sang ibu kepada Marsillam sesungguhnya adalah nilai-nilai dasar yang sekarang sudah dilupakan orang. Kesediaan hati menerima apa adanya, menurut istilah Ny.Tiara Simandjuntak, itulah nilai-nilai utama dalam keluarganya. Adapun peletak dasar nilai-nilai tersebut adalah suaminya, Prof.Dr.Iskandar Poltak Simandjuntak, pelopor pemberantasan buta huruf di Indonesia. Karya dan jasa mantan guru besar IKIP Jakarta ini oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan telah diabadikan dalam buku “Prof. Dr IP Simandjuntak; Hasil Karya dan Pengabdiannya”, yang disusun oleh Suprapti dkk (1984).

Kesediaan hati menerima apa adanya, kata Ny.Tiara Simandjuntak, bukan berarti nerimo atau tidak berusaha supaya lebih maju. Soal ini menjadi gamblang dengan menyimak kiatnya menjaga kondisi tubuh, yang tetap langsing dan proporsional sejak remaja. “Sebetulnya dari muda tidak dijaga. Makan saja apa maunya, tapi tidak rakus. Kalau sudah kenyang, berhenti,”katanya.

Itulah soalnya. Banyak sekali orang Indonesia sekarang yang selalu merasa lapar, masih ingin melahap dan memangsa apa saja, meski sebenarnya sudah kenyang. Itu rakus, kata nenek dengan 18 cucu ini. Mungkin lebih tepat disebut : tamak! Itulah penyakit manusia modern, kredo atau “iman” para pengikut agama utama di dunia sekarang ini, yaitu kapitalisme.

Ibu ini sendiri ternyata pernah didamprat oleh suaminya, dan dikatain rakus. Padahal, menurut dia, apa yang dia inginkan sebenarnya wajar-wajar saja dan tidak melanggar hukum. Tidak layak dibilang rakus. Tapi toh, sebagai isteri yang baik, dia akhirnya mengalah.

“Waktu pindah dari Yogya ke Jakarta pada tahun 1950, kami belilah rumah ini. Jauh di kemudian hari ada pembagian rumah di IKIP. Saya dengar berita itu, tapi bukan dari Bapak (suami). Saya bilang kepada dia, ba pangido di hita sada (mintalah satu buat kita) karena kamu punya hak. Bapak bilang : rakus ma ho (rakus sekali kau),”tuturnya.

Tentu saja dia tidak terima pendapat dan celaan suaminya. Dia merasa sepenuhnya benar dalam hal itu, karena pembagian rumah dari pemerintah itu tidak membedakan apakah sudah punya rumah atau belum. Lantas dengan emosi dia bilang pada suaminya,”Tapi, pernyataan saya itu bukan menyuruh kamu korupsi. Itu kan layak.”

Suaminya menjawab dengan tegas,”Tidak, rakus amat kamu. Sudah punya punya rumah kamu.”

Kemudian dia menangkis,”Lo, saya bilang, ini kan rumah belian kita. Yang dari IKIP dapat dari pemerintah, itu tempat kita kita tinggal, rumah kita yang ini dikontrakkan. Pantas kan?”

“Dia bilang : Tidak. Masih banyak yang belum punya rumah.”

Biar pun sangat kecewa dan kesal terhadap suaminya, Ny.Tiara Simandjuntak mengakui dalam hati kebenaran ucapan suaminya. “Saya diam, tapi tidak marungut-ungut (merepet atau bersungut-ungut). Dalam hati saya, memang benar dia. Itulah yang saya maksud kesediaan hati menerima apa adanya. Dan mengalah.”

Suami pun mau mengalah dan berkorban

Soal mengalah, Ny.Tiara Simandjuntak tidak menghayatinya sebagai pengalaman yang menyakitkan, sebab suaminya pun acap kali mengalah. Pengorbanannya pun tidak tanggung-tanggung, yaitu melepaskan kesempatan berharga yang sudah di depan mata untuk meraih gelar Ph.D di Universitas Columbia.

“Ini kejadiannya waktu Bapak ambil MA di Universitas Columbia, New York tahun 1953 sampai 1955. Setelah satu setengah tahun di sana, dia bilang mau ambil Ph.D, tapi harus tinggal di sana dua tahun lagi. Pada waktu Bapak di sana, kebetulan si Sillam berkelahi di sekolah dengan temannya. Umurnya sekitar 11 tahun waktu itu. Sampai di rumah, dia nangis, dia lempar sepatunya. Mengapa kau nangis, Nak. Dia bilang, si Anu tadi begini, begitu. Kenapa tidak kau lawan ? Dia bilang bapaknya ada di sini, Bapak kita tidak ada disini.”

“Mendengar itu, kayak ditusuk saya rasa. Ini persoalan jiwa. Terus saya tulis surat. Waktu itu tidak ada telepon,”kenang Ny.Tiara Simandjuntak.

“Saya tulis : Pak tidak usahlah kamu ambil doktor itu karena si Sillam begini begini. Buat apa itu semua kalau anak kita jadi minderwaardigheids complex (merasa minder). Habis jiwanya. Cukup itu. Saya sudah merasa cukup dengan apa yang saya dapat sekarang,”lanjutnya sambil menjelaskan dengan senang,”Bapak menjawab : OKE.”

Marsillam, kutu buku yang tegas

Marsillam Simandjuntak, diakui oleh orang-orang dekatnya, memang sangat pintar. Seorang wartawan senior bahkan menyebut pemikir sosial-politik, yang pernah praktek dokter itu, termasuk satu dari lima orang Indonesia dengan IQ tertinggi. Marsillam juga dinilai keras terhadap diri sendiri, untuk tidak terperangkap jatuh ke dalam praktek korupsi. Bahkan teman-temannya dekatnya ada yang merasa ngeri dan menganggapnya kelewat lurus.

“Itu dari dirinya sendiri,”ucap Ny.Tiara Simandjuntak mengenai sikap dan pendirian anaknya yang amat idealis itu. “Kalau saya bilang ditanamkan, ya juga. Semua anak-anak mendapat hal yang sama dari kami orang tua mereka, tapi mereka satu sama lain akhirnya berbeda-beda.”

“Sillam sejak SR (SD zaman dulu) baca melulu. Sekali waktu pernah kami mau makan—kami makan di rumah selalu bersama-sama—dan Sillam tidak kelihatan. Saya cari. Dia diam, baca buku di balik pintu. Makan, Nak, makan. Sudah waktunya. Ya, Ma. Ya, Ma.”

Mengenai sikap tegas Marsillam, sang ibu menuturkan sebuah kejadian yang mungkin bisa menimbulkan kesan : tega. “Waktu mau wisuda (lulus kedokteran) dia bilang tidak boleh ikut siap pun mendampinginya, kecuali orangtua. Dia sudah pacaran dengan Krisni. Krisni minta ikut menghadiri acara wisuda. Tidak boleh, katanya. Cuma mami dan papi.”

Kemudian,”Prakteklah Sillam sebagai dokter selama 14 tahun. Di antara itu dia kerjainlah politik-politiknya itu. Sekali waktu dia bilang pindah ke Amerika selama dua tahun. Semula saya tak tahu dia ngapain di sana sebab waktu saya tanya untuk apa, dia bilang : Ada deh. Saya berpikir dia sudah dewasa, sudah berkeluarga, sudah punya dua anak, tentu dia bisa mengambil apa yang baik untuk dirinya. Sesudah dia dan keluarganya di sana, baru kami dengar bahwa dia ambil studi politik.”

Tidak tahu anaknya jadi menteri

Hal seperti itu terulang lagi ketika Marsillam menjadi Sekkab. Tak seorang pun memberi tahu Ny.Tiara Simandjuntak bahwa anaknya bakal jadi orang penting dalam kabinet Presiden Abdurrahman Wahid. Dia tahu secara tak sengaja, seperti dituturkannya berikut ini

“Tadinya saya tidak tahu. Dia (Marsillam) kan tidak mau cerita-cerita. Sekali waktu saya pergi ke rumah inang uda (tante) saya. Eh, katanya, kamu dengar si Sillam jadi Sekkab ? Nggak, saya bilang.”

“Saya pulang ke rumah. Anak-anak sudah ramai membicarakan penujukan itu dan mencandai saya : Eh, ini ibunya Menteri.”

“Suatu hari sebelum dilantik, dia datang ke rumah ini. Dia tidak bilang apa-apa. Saya ajak dia ke kamar saya. Kami berdua di sana. Terus saya ngomong : Nak, saya dengar kamu jadi Sekkab. Saya bangga, las rohangku (senang hatiku).”

Lalu apa jawaban Marsillam ?

“Dia bilang : Ah, apalah itu? Kerja itu.”

(Tamat)

———————————————————————————————————

Catatan :

Artikel panjang yang disajikan dalam empat seri ini, bahan-bahannya kuambil dari wawancara tanya-jawab majalah budaya batak TATAP edisi No.4. Semua ucapan Ny.Tiara Simandjuntak boru Siahaan yang aku tampilkan di antara tanda kutip, aku salin seadanya seperti disajikan TATAP. Sedangkan keterangan dalam kurung semuanya dari aku, demikian pula struktur tulisan, judul dan narasi yang merangkai artikel panjang ini.

Dengan ini aku mengucapkan terima kasih kepada Abang Jansen Sinamo, Pemred TATAP yang telah memberi izin untuk mengutip isi majalahnya yang keren itu. Semoga makin sukses. Dan kepada semua pembaca, terima kasih atas apresiasinya terhadap figur perempuan dan ibu yang luar biasa : Ny.Tiara Simandjuntak boru Siahaan. Mudah-mudahan Anda semua terinspirasi.

Robert Manurung

 

 

 

Tag: , , , ,

Satu Tanggapan to “Ibu Segala Zaman, Ny.Tiara Simandjuntak (4)”

  1. ingkan tiara manik simanjuntak Says:

    terima kasih sudah memuat profil ompung saya :)
    she is indeed an inspiration..

    horas!

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: