Desy Nonjok Cowok di KRL

CEWEK cantik menghadiahkan bogem mentah ke wajah cowok usil, di atas KRL Jakarta-Bogor yang melaju kencang. Si cowok nggak terima. Cewek berhati macan itu pun diadukan ke polisi.

Ini true story. Boleh juga diberi judul Urban Sensation.

Kisah ini sudah pernah dimuat di blog berita dot com, ditulis sendiri oleh pelaku penonjokan itu : Desy Hutabarat. Pertama kali membacanya, aku benar-benar disengat perasaan sensasional yang luar biasa. Gile juga cewek ini, pikirku, kaget bercampur senang dan kagum atas keberaniannya. Mungkin dialah perempuan pertama di negeri ini yang nekad menonjok cowok bergajul di atas kendaraan umum.

Keberanian Desy menimbulkan pula perasaan cemas dalam hati. KRL atau kereta listrik, apalagi jurusan Jakarta-Bogor, bukanlah tempat ideal bagi cewek yang ingin memberi pelajaran kepada cowok yang tangannya “rajin belanja” di kendaraan umum. Bukan apa-apa, KRL Jakarta-Bogor adalah tempat paling kondusif bagi para pelaku kejahatan, mulai dari tukang copet sampai pemeras berkedok pengamen. KRL adalah daerah kekuasaan mereka.

Sebenarnya, Desy bukanlah tipe cewek yang ugal-ugalan atau senang cari perkara. Sarjana dari IPB yang bekerja di perusahaan advertising ini, sejatinya adalah cewek yang kalem, seperti wajahnya yang lembut dan keibuan. Kalau begitu, kenapa dia sampai nekad menonjok cowok di KRL itu ?

Tampaknya, tindakan Desy yang main hakim sendiri itu, yang nota bene bisa membahayakan jiwanya sendiri, adalah luapan rasa jengkel, terhina dan marah yang sudah lama terpendam dan terakumulasi; terhadap berbagai macam pelecehan seksual yang diderita oleh kaumnya di tempat-tempat umum dan pergaulan sosial. Tindakan impulsif yang dilakukan Desy adalah gambaran rasa frustrasi yang sudah sampai ke ubun-ubun, pemberontakan spontan kaum marjinal yang tertindas dan hopeless.

True story ini adalah sebuah pesan yang jelas. Sebuah pernyataan perang lewat tindakan–yang tadinya tak terbayangkan, bahwa pelecehan seksual terhadap perempuan, apakah itu di KRL atau di tempat-tempat umum lainnya, harus dihentikan. Kalau tidak, kaum perempuan yang sudah bangkit kesadaran, harga diri dan keberaniannya seperti Desy akan terus melakukan tindakan perlawanan seperti dituturkannya berikut ini :

===============================================================

BEBERAPA bulan yang lalu, salah seorang teman baikku berulang tahun, kebetulan dia berdomisili di Bogor. Pas di hari ulang tahunnya, aku pun bersiap-siap pergi ke Bogor untuk makan bersama dia, turut berbahagia bersamanya.

Aku keluar kantor jam 6 sore. Kuputuskan naik kereta api ekonomi, supaya tidak terkena macet dan bisa secepatnya kembali ke Jakarta. Aku naik dari Stasiun Pasar Minggu. Bisa dibayangkan bahwa kereta api ekonomi pada jam pulang kantor seperti itu, penuh sesak! Jangankan berharap dapat tempat duduk, untuk sekadar berpijak dengan enak pun sudah setengah mati.

Naiklah aku di gerbong kedua dari depan, penuh sesak dan sumpek sekali, karena kebetulan hujan, jadi makin sumpeklah di dalam kereta itu. Tadinya aku berniat naik ke gerbong ketiga, tapi karena aku lihat lampu di gerbong itu padam, kuurungkan niatku. Gerbong yang tak ada lampunya adalah “sorga” bagi orang-orang yang berniat jahat.

Mulailah perjalanan Pasar Minggu-Bogor, melewati kurang lebih 7 stasiun. Tadinya aku berdiri di dekat pintu, tapi lama kelamaan tergeser ke dalam– didorong orang-orang yang baru naik. Akhirnya aku berdiri tepat di sebelah perempuan bertubuh mungil. Aku lihat mukanya sangat sendu dan pucat. Dia mendekat ke arahku, dan kurasakan tangannya menyentuhku seperti tak sengaja, sampe akhirnya dia menggenggam tanganku. Langsung aku lihat mukanya : pucat dan ketakutan! Tapi dia tidak bicara, hanya wajahnya yang kian memelas..

Aku langsung mengedarkan pandangan ke sekitar kami, siapa tau ada yang mencurigakan. Nah itu dia : tangan seorang lelaki sedang bertengger di bokong si perempuan. Dia melakukannya secara terang-terangan, dan sangat menikmati perlakuan busuknya itu. Aku rasakan tangan si perempuan makin mencengkeram lenganku. Dia semakin ketakutan.

Saat itu kereta masih penuh sesak. Tanpa berkata apa-apa, aku langsung tarik perempuan yang ketakutan itu, menjauhkannya dari si lelaki bergajul. Dan jadilah aku bersebelahan dengan lelaki itu. Aku pelototi dia, eh malah nantangin. Dia coba mengusili tubuhku, dilakukan seperti gerakan tak sengaja. Kemudian aku perhatikan, ternyata dia sudah mulai kurang ajar lagi. Tangan kananya sedang menggerayangi perempuan di sebelahnya.

Aku colek punggungnya. Aku tegur dia baik-baik, “Mas, maaf sepertinya posisi tangan Mas buat saya kurang nyaman, bisa agak digeser?”

Eh bukannya digeser, dia malah sewot,“Emang lo gue apain? Emang lo gue gerayangin? Apa urusan lo?”

Bah, bodoh kali kawan ini pikirku. Sudah terbukti menggerayang, masih mau berkilah pula. Langsung emosilah aku. Tidak pake ngomong panjang lagi, langsung aku tonjok mukanya. Persis di hidungnya, dan keluarlah darah segar dari sana.

Dia kontan mencak-mencak. “Gue ga terima, lu harus gue bawa ke kantor Polisi, ini perbuatan tidak menyenangkan dan penganiayaan,”katanya.

Aku jawab, “Ok, dimana lu turun? Gue turun di Bogor.”

“Sama gue juga di Bogor,”katanya.

Itu terjadi di stasiun Depok Lama, berarti kurang lebih 3 stasiun lagi kereta akan sampai di Bogor. Aku tidak menjauh dari dia, takut dia kira aku mau kabur. Sampai di Bogor, dia berjalan di belakangku sambil bersungut-sungut. Kebetulan disitu ada Pos Keamanan, dan ada Polisi-nya biasanya. Benar saja, memang ada Polisinya. Langsung dengan semangat, dia mengadukan perbuatanku, dan aku hanya diam saja. Ternyata, tanpa sepengetahuanku, kedua perempuan yang jadi “korban” dia di kereta, ikut juga ke Pos Keamanan itu.

Begitu dia selesai menceritakan kronologis kejadian versi dia, Polisi pun menanyakan versiku. Langsung aku bilang aja,”Pak, saya nonjok muka dia, karena dia memegang bokong perempuan yang ada di kereta api tadi”, dan tiba-tiba perempuan itu nyeletuk, “Iya pak, saya dipegang bokongnya”. Perempuan yang satu lagi menimpali,“Saya dipegang bagian-bagian ininya Pak,”–sambil menunjuk ke arah dadanya, dengan malu-malu.

Tapi, si lelaki kurang ajar itu masih aja menyangkal. Emosi lagi aku jadinya. Kalau tidak mengingat itu Pos Polisi, aku sudah mau nonjok dia kedua kalinya. Dan perlu diketahui, bahwa laki-laki yang aku tonjok itu, berpakaian rapi, klimis dan ganteng, jadi bagi cewe-cewe jangan tertipu yah.

Dia masih menyangkal dan mencoba meyakinkan Polisi bahwa dia orang baik-baik, intelek dan kerja di salah satu kantor terkenal di kawasan Mega Kuningan. Sikapnya itu membuat marah dua perempuan yang menjadi korbannya. Kalau tadi di kereta mereka ketakutan, sekarang di Pos Polisi mereka jadi berani memaki laki-laki sontoloyo itu

Kemudian, saking kesalnya, salah seorang perempuan yang dia gerayangi itu– taksiranku berusia sekitar 40-an; tiba-tiba hendak menabok si lelaki bejat itu pakai tasnya. Tapi dihalangi oleh Pak Polisi. Mungkin karena ketakutan melihat para korbannya menjadi berani dan beringas, akhirnya tukang gerayang itu mengakui perbuatan bejatnya. Dia ditahan oleh Polisi.

Akhirnya aku diperbolehkan pulang setelah diberi wejangan oleh Pak Polisi, dan identitasku dicatat.

Catatan : Ini bukan yang pertama aku menonjok muka orang, yang pertama di bis 46 ketika aku masih di kantor lama, ada lelaki muda yang merokok di bis (sementara sudah ada Perda yang melarang untuk merokok di tempat umum). Aku sudah tegur baik-baik. Aku larang dia meniupkan dengan sengaja asap rokoknya ke ibu-ibu hamil di sebelahku. Karena dia tidak mengindahkan, dan si ibu aku lihat gelagapan menghirup asap rokoknya, apa boleh buat aku tonjoklah mukanya. Dia langsung matikan rokoknya, kemudian turun dari bis, mungkin tak tahan menanggung malu ditonjok oleh cewek. (Desy Hutabarat)

————————————————————————————————————

http://www.ayomerdeka.wordpress.com

 

Tag: , , , , , , , , ,

20 Tanggapan to “Desy Nonjok Cowok di KRL”

  1. Sawali Tuhusetya Says:

    wah, salut banget sama bung robert nih. kayaknya pelecehan seksual terhadap kaum perempuan di ruang-ruang publik semacam itu sudah mewabah di negeri ini. repotnya, kalau si korban tak punya keberanian utk mengadu, sementara orang lain yang menyaksikannya juga bersikap cuek. diperlukan sebuah “shock theraphy” melalui penyadaran diri individual.

  2. Sawali Tuhusetya Says:

    wah, salut banget sama bung robert nih. kayaknya pelecehan seksual terhadap kaum perempuan di ruang-ruang publik semacam itu sudah mewabah di negeri ini. repotnya, kalau si korban tak punya keberanian utk mengadu, sementara orang lain yang menyaksikannya juga bersikap cuek. diperlukan sebuah “shock theraphy” melalui penyadaran diri individual.

  3. quelopi Says:

    salutz abiz…

    tak disangka sangka, dan diluar perkiraan, kok nggak ada pic orang yang kena tonjok, apa mata nya terbenam atu biji ato gigi nya rontok semua, holoh

  4. Febra Says:

    mantap bang robert..cerita yang bagus dan penuh makna pembelajaran. Saya sangat setuju dengan apa yang dilakukan mbak desy. Itu suatu perlakuan ynag wajar dan laki-laki yang seperti itu patut mendapatkan ganjarannya :cool:

    salam

  5. hariadhi Says:

    hore….. \^0^/

    Hidup Cewe!!!!

  6. mega Says:

    mamposs dech..geram aku bacanya..harus dituntaskan sifat para lelaki yg kurang ajar itu..memalukan banget…

  7. bsw Says:

    kaya’nya harus lebih banyak perempuan yg bisa bersikap spt Desy ini.

  8. Yari NK Says:

    Nah, sekarang anggaplah anda yang ditonjok oleh seorang cewek. Entah itu oleh Desy Hutabarat ataupun Desy Ratnasari ataupun Desy-Desy lainnya ataupun mbak2 lainnya, lantas apa nih yang akan anda lakukan: Apakah membalas tonjokannya, atau menuntut dia ke pengadilan atau ke polisi (wah kalau ke polisi pasti diolok2 ya?? Moso kalah sama perempuan?? Hehehe….), atau anda akan diam saja sambil berkata, “ah… biarin aja deh, apalagi kalau yang nonjok artis macam Desy Ratnasari, kapan lagi nih ditonjok oleh artis kece??”?? Nah, sekiranya begitu apa tindakan anda nih??

  9. partalitoruan Says:

    Bah, ito tersonggot aku manjaha ini bah.
    Stop Pelecehan terhadap wanita!!!

  10. dewi Says:

    :-D :-D :-P :-P

    waaah, bung Robert, mbak Desi emang suka nonjok yach…

    akhirnya timbul pertanyaan, ketika tejadi keributan dan pelecehan seperti itu, apa yang dilakukan kaum lelaki ya?
    hanya diam saja, tak acuh dengan keadaan?

  11. yonoraharjo Says:

    bravo desy,mungkin kalo pada saat itu mbak desy juga mela[porkan ke LSM Pemberdayaan Perempuan mau jadi apa tuh orang?meman hal-hal seperti itu harus ada yang berani bertindak lanjut.sekalilagi BRAVO buat Mbak DESY.

  12. Robert Manurung Says:

    @ Sawali Tuhusetya
    @ quelopi
    @ Febra
    @ hariadhi
    @ mega
    @ bsw
    @ Yari NK

    Yang pantas mendapat apresiasi itu adalah Desy. Aku hanya menampilkan kembali kisah nyata ini, karena menurut aku cerita ini akan tetap aktual di masyarakat kita sampai satu abad yang akan datang…..

    Bagi yang ingin berkenalan dengan pelaku dan sekaligus penulis kisah yang menakjubkan ini, silakan datang ke blognya Desy Hutabarat (http://partalitoruan.wordpress.com). Dia ngasih komen di atas sana hehehe…

    Terima kasih atas komentar kawan-kawan semua. Aku senang karena niatku untuk menggugah perhatian terhadap masalah yang masih dianggap kenakalan biasa ini sudah mendapat respon yang positif.

  13. glorialimbong Says:

    Emang lak-laki sekarang banyak kali yang kurang ajar. Penampilan bisa menipu. Salut buat kak Desy.. Kapan yah aku seberani itu.. :-(

  14. partalitoruan Says:

    Bah, abang kau kestau pulak identitas pelaku itu.bahaya itokku ini bah

  15. Robert Manurung Says:

    @ dewi
    @ yonoraharjo
    @ gloria limbong
    @ partalitoruan

    Terima kasih atas responnya. Kita tunggu tanggapan dari Desy Hutabarat. Salam.

  16. partalitoruan Says:

    Desy Hutabarat,
    @Dewi, sedikitpun aku tak suka menonjok. Kalo bole jujur, abis nonjok itu, tanganku sakitnya minta ampun….Tapi karena kekesalan yang sudah memuncak dan terakumulasi, jadilah ada kenekadan sedemikian rupa.

    @Gloria Limbong
    Bah, harus berani kau.Jangan tertipu dengan penampilan yah Gloria, karena laki2 yang kutonjok itu, jangan kau tanya gantengnya kaya apa.Tapi kelakuannya itu berbanding terbalik dengan rupanya.

    @Yonoraharjo
    Terima kasih.Perlu ditularkan semangat dan cerita seperti ini untuk menginspirasi keberanian perempuan2 yang lain untuk membela dirinya

    @Robert Manurung
    Sudah kek mana kabarmu ito?Sudah ketemu FD itu?

    MERDEKA…

  17. Baron Says:

    Salut buat paribanku Desy Hutabarat,kebetulan omak saya boru hutabarat (sisunggulon).namun harus tetap hati-hati kalo hal seperti itu terjadi lagi dihadapan pariban..oke??

  18. Djandel Marbun Says:

    Hebat ito Desy..tapi jangan dilakukan dirumah ya Inang..ntar beneran ditangkap polisi.. KDRT lho..piss!

  19. v-jay Says:

    salut buat mba desy, dan tetap waspada …:)

  20. PEREMPUAN BATAK MEMECAHKAN KEBISUAN « Says:

    [...] Desy Hutabarat Yang memecahkan kebisuan, manakala perempuan itu dipandang eksklusif yang harus dibela. Pergaulannya yang luas, pandangannya dan tindakannya di ruang publik menjadi pertanda masih ada perempuan pemberani, srikandi. Baca disini [...]

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: