Garudafood, Pabrik Kacang atau Sekte Agama ?

Penggemar filsafat yang bersahabat dengan Gus Dur ini membawa Garudafood terbang amat tinggi. Dari hanya punya 1 pabrik dengan 700 karyawan dan 5 item produk, Garudafood dikembangkannya menjadi 8 pabrik, 19.000 karyawan dan 200 item produk. Konon, Sudhamek AWS adalah CEO paling brilian di Indonesia sekarang ini. Dia mengubah perusahaan menjadi mirip sekte agama.

Oleh : Robert Manurung

SELAMANYA aku skeptis terhadap dunia bisnis, apalagi di Indonesia. Pebisnis adalah orang-orang oportunis, rent seeker, rakus, dan siap melakukan hal-hal kotor demi mendapat keuntungan sebesar-besarnya. Kunci sukses mereka cuma tiga : menjilat pemerintah, mengeksploitasi buruh, dan menipu konsumen. Pokoknya, I hate them all.

Tapi anehnya, aku selalu terseret ke dunia yang mendewakan profit itu. Dulu, ketika masih aktif sebagai wartawan, aku sempat antipati terhadap Presdir PT Multi Bintang Indonesia, Tanri Abeng. Tapi setelah mengenalnya dari dekat, aku berbalik kagum karena ternyata pria asal Selayar (Sulsel) ini pernah jadi pengantar pizza di AS. Aku merasa lebih akrab lagi setelah dikenalkan pada isterinya yang rendah hati, Ida boru Nasution.

Kendati terkesan oleh kepribadian Tanri—yang belanja sendiri bahan pakaiannya di Tanah Abang, lalu dikerjakan oleh tukang jahit biasa; namun sikapku terhadap dunia bisnis tidak berubah sedikit pun. Aku tetap antipati meski kemudian kenal dekat pentolan bisnis lainnya, Bob Hasan, Martina Wijaya, Probosutedjo, Sudwikatmono, Pontjo Sutowo. Aku makin skeptis setelah era Reformasi– yang memunculkan banyak petualang bisnis alias parasit ekonomi.

Namun ada satu pengecualian, yaitu Sudhamek AWS, Chief Excecutive Officer (CEO) PT.Garudafood.. Menurutku dia ini sangat brilian dan relatif bersih; karena mampu meraih sukses luar biasa tanpa privilese dari pemerintah; tidak terlibat kasus BLBI; tidak curang dalam bersaing; dan tanpa merugikan konsumen. Meski belum pernah bertemu dengannya, tapi aku banyak mendengar penilaian positif dari berbagai pihak terhadapnya.

Dari Gudang Garam ke Garudafood

SUDHAMEK AWS lahir di Rembang 20 Maret 1956. Anak paling bontot dari 11 bersaudara. Meskipun keluarganya memiliki bisnis pengolahan kacang kulit, dengan bendera perusahaan Garudafood, Sudhamek lebih senang mencari tantangan dan pengalaman di luar. Lulusan S1 ekonomi (1981) dan hukum (1982) dari Universitas Satya Wacana, Salatiga ini sempat bekerja selama 12 tahun di PT.Gudang Garam Tbk (GG). Jabatan terakhirnya Presdir PT Trias Santosa Tbk, anak perusahaan GG.

Kenapa tidak dari awal dia membangun karir di Garudafood ?

“Ada dua pertimbangan. Pertama, saya ingin mencari pengalaman di luar. Kedua, bisnis keluarga ini masih kecil. Kalau saya masuk, akan menambah beban orang tua karena harus mencarikan “mainan” (cabang bisnis) buat saya.”kata Sudhamek ketika diwawancarai majalah Warta Ekonomi.

Bagaimana ceritanya dia menjadi CEO Garudafood ?

“Seorang eksekutif Garudafood membujuk kakak-kakak saya supaya meminta saya bergabung. Waktu itu, orang tua saya sudah meninggal dunia. Rupanya mereka terbujuk, selain ada kebutuhan untuk mengubah bisnis keluarga. Kemudian mereka meminta saya memimpin Garudafood. Saya bersedia dengan satu syarat : hubungan kami adalah atasan-bawahan. Saya berpikir rasional, bagaimanapun saya anak bungsu. Kalau hubungannya masih senioritas, saya tak akan bisa berbuat banyak.”

Meskipun mengajukan persyaratan yang keras dan disetujui oleh kakak-kakaknya, namun dalam kenyataannya Sudhamek tidak pernah memakai “kartu truf” itu. Dia hanya ingin memastikan bahwa kepemimpinannya bakal berjalan efektif, tanpa harus ewuh pakewuh karena kedudukannya sebagai anak paling bontot di antara kakak-kakaknya yang ikut mengelola Garudafood.

“Mungkin mereka sudah membayangkan akan diperintah adik terkecilnya, ternyata tidak…hahaha. Saya lebih suka memimpin by heart,”tuturnya sembari menjelaskan,”Pengalaman kerja di luar selama 12 tahun membuat saya yakin perusahaan tak bisa berjalan tanpa dukungan penuh dari share-holder. Jadi, keberhasilan saya membangun perusahaan ini juga karena dukungan total kakak-kakak saya.”

Menjadi konglomerasi yang ekspansif

Di BAWAH kendali Sudhamek, Garudafood berkembang pesat dan menjelma jadi konglomerasi. Sebelum dia bergabung, perusahaan keluarga ini hanya memiliki 1 pabrik dengan 700 karyawan dan 5 item produk. Dalam waktu singkat, Garudafood dikembangkannya menjadi 8 pabrik, 19.000 karyawan dan 200 item produk.

Berkat kemajuan yang luar biasa itu, Garudafood berhasil menggusur Dua Kelinci sebagai pemimpin pasar kacang kulit. Tapi Sudhamek belum puas. Lalu dia merambah ke bisnis biskuit, minuman, snack dan distribusi; dan ternyata sukses pula. Selanjutnya dia ingin membangun imperium bisnis yang merajai food industries, sambil melebarkan sayap ke bidang bisnis yang dianggapnya sangat strategis, yaitu CPO dan farmasi.

Apa rahasia suksesnya mengalahkan Dua Kelinci ?

“Pertama,benahi distribusi. Indonesia ini negara kepulauan. Kunci di bisnis consumer goods adalah distribusi yang bisa menjangkau seluruh lokasi. Sekuat apa pun marketing kita, kalau produk belum ada di pasar, tak ada artinya. Merata dulu baru beriklan.”ujar Sudhamek.

“Kedua, membangun brand. Ketiga, inovasi. Sekarang, posisinya, apa pun produk kami, ditiru Dua Kelinci. Kami buat Katom (kacang atom), mereka juga bikin Sukro. Kami buat Pilus, mereka bikin Tik Tak. Satu-satunya yang tidak mereka ikuti di biskuit. Mungkin masih ngeri karena ada Danone, Arnotts, dan Nabisco. Belum lagi pemain kuat lokal seperti Mayora dan Khong Guan.”imbuhnya.

Sekarang, produk yang menjadi kontributor utama pendapatan Garudafood ternyata bukan kacang kulit, melainkan biskuit. Kacang kulit bahkan sudah harus bersaing di urutan kedua dengan produk minuman. Menurut Sudhamek item kacang kulit Garudafood yang paling laris adalah kemasan eceran Rp 500.

“Orang sering salah persepsi jika bicara Garudafood, yang ada di benaknya pasti kacang. Ini problem bagi saya. Sebab, Garudafood ini corporate brand, bukan product brand lagi. Ini otokritik untuk divisi marketing kami,”katanya.

Pabrik kacang atau sekte agama ?

BISNIS sekarang ini sudah jauh berubah dibanding masa ayah Sudhamek membangun Garudafood, puluhan tahun silam. Ketika itu tuntutan konsumen kacang kulit masih sangat sederhana, yaitu rasanya gurih, garing dan kulit kacangnya terlihat bersih. Kemasan masih dianggap sekadar pembungkus; belum ada yang mempersoalkan standar keamanan buat kesehatan, apalagi estetika, itu urusan kesekian. Soal bagaimana perusahaan pembuatnya juga belum dikaitkan dengan produk.

Sekarang, setiap pembeli kacang kulit Garudafood, biarpun harganya cuma Rp 500, yang ada di benaknya bukan lagi sekadar rasa gurih, garing, higienis dan kemasan yang artistik, tapi sudah memperhitungkan image produk itu sendiri. Dan ini terkait erat dengan industri pencitraan,yaitu iklan dan reputasi perusahaan..

Nike, merek sepatu dan peralatan olahraga global yang dipopulerkan pebasket legendaris Michael Jordan itu, kini sudah menjadi brand yang jelek di Indonesia. Pasalnya, perusahaan outsourcing yang memproduksi sepatu dan apparel Nike di Indonesia banyak yang mengemplang hak-hak buruh, sehingga sering terjadi demo, terutama di Tangerang.

Bagaimana Sudhamek menyikapi fenomena ini ?

“Sejak 17 tahun lalu, jauh sebelum konsep Spiritual Company (SC) menjadi sangat populer, Garudafood sudah mempraktekkan itu. Kenaikan pangkat dan bonus karyawan tidak hanya ditentukan secara kuantitatif dengan KPI (Key Performance Indicator), tetapi juga kualitatif, yaitu attitude atau perilaku,”ucap Ketua Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) ini sembari menjelaskan,”Contoh lain, sebelum dan setelah rapat, kami selalu berdoa bersama. Mungkin saya CEO yang paling sering berdoa…hahaha.”

Bagaimana praktek SC di Garudafood ?

“Analoginya seperti pohon bambu. Pada tiga-empat tahun awal, bambu tumbuh ke bawah, memperkuat akar, dan baru ke atas. Makanya diterjang angin sekuat apa pun bambu tidak rubuh. Artinya, kalau perusahaan mau kukuh, kita perkuat akarnya dulu. Di Garudafood, akarnya adalah nilai-nilai spiritual, filosofi, dan misi perusahaan. Nilai-nilai ini kami buatkan kurikulum, modul-modul, metode sosialisasi, organisasi, sistem, bujet, maupun infrastrukurnya.”

“Jika dilakukan secara konsisten, kultur akan terbentuk. Memang ini jangka panjang, karena kami membangun habit,”tutur Sudhamek yang bersahabat dengan banyak orang dari berbagai latar belakang. Sebelum Nurcholis Madjid meninggal dunia, tokoh yang populer dengan panggilan Cak Nur ini sempat membangun sekolah plus bersama Sudhamek; yaitu Seville Nation Plus Schools.

“Kami ingin membangun pendidikan yang menyeimbangkan prestasi akademik dan pembentukan watak.Ini agar anak-anak kita tak hanya pintar, tetapi juga memiliki hati yang hangat,”ujar pengikut Budha ini mengenai sekolah yang dibangunnya bersama Cak Nur.

Apa yang dilakukan Garudafood kalau ada karyawan menyimpang dari nilai-nilai perusahaan ?

“Ini ajaran Budha. Suatu ketika Budha ditanya bagaimana caranya mendidik murid. Lantas, Budha bertanya kepada Keshi, salah satu muridnya yang pawang kuda, bagaimana cara dia mendidik kuda. Keshi menjawab,” Pertama, kuda akan saya didik dengan lembut. Kalau tidak berhasil, akan saya kombinasikan dengan cara keras. Kalau gagal juga, kuda itu saya bunuh.” Lantas, Budha berkata,”Begitu juga yang saya lakukan dalam mendidik. Cuma bedanya, saya tidak membunuh, tetapi akan saya keluarkan dia dari komunitas ini.”

“Artinya, seorang nabi pun memiliki sikap tegas. Begitu juga dengan mengurus perusahaan, kita harus tegas. Kita tak bisa mengambil resiko kapal ini tenggelam karena mempertahankan 1-2 orang yang buruk,”ujar Sudhamek.

Calon presiden ?

MENARIK bukan ? Itulah Sudhamek, pemimpin visioner yang telah “menyulap” Garudafood dari perusahaan keluarga yang relatif kecil menjadi konglomerasi–dengan manajemen profesional yang berbasis nilai-nilai spiritual. Ruang kerjanya di Wisma Garudafood di Jl.Bintaro Raya No.10 Jakarta Selatan, dihiasi dua lukisan yaitu merpati dan kuda. Katanya, merpati melambangkan kedamaian dan kuda adalah simbol dinamika. Orang awam mungkin akan melihatnya sebagai gabungan yang kontras atau paradoksal, tapi bagi Sudhamek itu adalah sintesis.

Kenapa ya tidak ada partai atau tokoh-tokoh daerah meminta pengusaha muda yang hebat ini untuk jadi calon gubernur atau presiden ? Apakah karena dia keturunan Cina dan beragama Budha ?

(http://www.ayomerdeka.wordpress.com)

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

21 Tanggapan to “Garudafood, Pabrik Kacang atau Sekte Agama ?”

  1. danalingga Says:

    Cara bisnis yang mengagumkan. Ini nih orang yang bisa menerapkan agama dalam tindakan sehari hari. Jadi nggak cuma teori aja.

  2. Guh Says:

    Ya, karena bermata pipit dan bukan islam:-P

    Eh, komen saya rasis (sara bin najis) ga ya? hehe.

    Btw, tolong tanyakan bagaimana sikap beliau terhadap invasi cina terhadap tibet. Dari tanggapan itu bisa diketahui kepantasan beliau untuk dipasang jadi presiden. *mode sok tahu pol*

  3. Sawali Tuhusetya Says:

    sudhamek? nama itu sungguh baru saya kenal, bung robert. melihat kiprahnya, kayaknya bisa menjadi teladan bagi pengusaha2 muda bagaimana menggeluti bisnis tanpa harus mencium pantat penguasa. selama ini kita selalu dininabobokan oleh sukses yang diraih para pengeruk untung itu karena dirangkul penguasa. selalu yang terus menjadi pertanyaan adalah mampukah para pengusaha terbebas dari bayang2 penguasa sehingga mampu menjalankan bisnisnya secara merdeka?

  4. Panabi Duhut Says:

    Mungkin karena dunia bisnis berbeda dengan dunia politik. Mungkin lho…

    Mengelola dunia bisnis mungkin berbeda dengan mengelola dunia politik…apalagi dunia politik indonesia :)

  5. erander Says:

    Kenapa ya tidak ada partai atau tokoh-tokoh daerah meminta pengusaha muda yang hebat ini untuk jadi calon gubernur atau presiden ?

    Boleh jadi … kalo pun dicalonkan, beliau ogah. Karena seorang entrepreneur sejati menyadari bahwa mengurus negara berbeda dengan mengurus perusahaan. Kita sudah ada contohnya bukan??

    Dan pertanyaan Guh cukup dapat mewakili pandangan Sudhamek tentang invasi tersebut tentang kebebasan.

  6. maximuss Says:

    cape deee

  7. Giyanto Says:

    Tambahan Bang Robert, di Pati, karyawan pabrik garuda yang tiap sore sama pagi lewat depan rumahku, orang kampung nyebutnya pegawai garuda. wah, kan berarti dianggap sekelas Pragawati,ha2..

    Sekedar info, tidak bermaksud narsis lho, Pabrik Garudafood itu dekat ama rumahku,ha2. Kalau di Pati ndak ada Pabrik kacang Garuda ama dua kelinci, bisa jadi banyak penduduk yang jadi garong sama penjual “botok”,ha2.

  8. Robert Manurung Says:

    @ danalingga
    @ Guh
    @ Sawali Tuhusetya
    @ Panabi Duhut
    @ erander
    @ maximus
    @ Giyanto

    Sudhamek pasti bukan kandidat terbaik kalau kita harus memilih presiden baru hari ini. Lagipula, dengan tidak adanya kebebasan politik dan kemunduran ahlak bangsa dalam empat dekade terakhir, kita sudah harus girang mendapatkan sosok pemimpin seperti bos Garudafood ini. Bisa dihitung dengan jari tokoh bisnis Indonesia yang fasih bicara mengenai spiritualitas. Kalau yang jago ngomong tentang agama sih banyak banget, termasuk yang menjadi kaya-raya dengan menjual ayat-ayat suci.

    Jangan heran, memimpin perusahaan sebesar Garudafood, apalagi milik keluarga sendiri; bisa lebih berat dibanding memimpin negara dan bangsa Indonesia. Soalnya, kalau perusahaan bangkrut si bos akan ikut jadi gembel. Sedangkan kalau Indonesia yang bangkrut, belum ada ceritanya sang pemimpin ikut melarat bersama rakyat; tapi justru makin makmur.

    Dengan menampilkan Sudhamek, aku ingin mengajak kawan-kawan untuk membuka diri dan mau menerima kenyataan; bahwa meskipun sipit bisa jadi justru dia yang lebih jeli melihat jalan keluar buat bangsa kita. Dan selaku warga negara dan bangsa Indonesia; Sudhamek memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan kita semua–tanpa membedakan agama atau etnis–untuk memimpin bangsa ini keluar dari kegelapan.

    Informasi dari Mas Giyanto sangat menarik, dan membuka wawasan kita mengenai peran sosial-ekonomi Garudafood dan Dua Kelinci di Pati. Thanks God.

  9. infoGue Says:

    Artikel di blog Anda sangat menarik dan berguna sekali. Anda bisa lebih mempopulerkannya lagi di infoGue.com dan promosikan Artikel Anda menjadi topik yang terbaik bagi semua pembaca di seluruh Indonesia. telah tersedia plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam!

    http://www.infogue.com
    http://www.infogue.com/bisnis_keuangan/garudafood_pabrik_kacang_atau_sekte_agama_/

  10. LaLaa Says:

    wuaaah.. bener2 mengagumkan… jarang perusahaan yang mengangkat nilai agama, ya berdoa gitu.. mungkin kelihatan sepele tapi dalem banget..
    sukses dee.. bisa dijadikan contoh yang baik buat penguasa muda Indonesia

    http://www.lintasberita.com/Bisnis/Garudafood_Pabrik_Kacang_atau_Sekte_Agama_/

  11. syafriadi Says:

    keren.. emg jiwa bisnis itu ada didarah jg kali ya

  12. mangode Says:

    bagus, yang bagusnya ambil.

  13. stenlymandagi Says:

    hebat…!!!
    mencerahkan banget!!

  14. stenlymandagi Says:

    …itulah bedanya CEO yang pernah jadi anak buah dgn yang tau2nya dijadikan CEO oleh ortu dalam perusahaan keluarga. Dengan pengalaman pribadi pernah merasakan bagaimana menjadi bawahan, maka saat menjadi CEO pasti memperlakukan bawahannya lebih manusiawi…
    kira2 demikian adanya…

  15. Ram-Ram Muhammad Says:

    Assalaamu alaikum Bung Robert.
    Luar biasa sekali… saya mbacanya sampai dua kali, dan biar bisa saya baca ulang… saya kopi untuk diprint. :D

    Hmmm… saya kira, sekalipun ada partai yang mencoba “menariknya”, belum tentu beliau mau, apalagi beliau adalah seorang Budhis yang taat… :D

    Semoga bangsa ini memiliki lebih banyak Sudhamek-Sudhamek lainnya… Salam Merdeka!

  16. Menggugat Mualaf Says:

    keren bung,
    saya sendiri chineese muslim,
    saya mengerti etos mereka..
    lebih kurangnya, ambil baiknya..
    dan mereka itu jelas indonesia punya..
    maka mari belajar bersama siapa saja!

  17. bagus Says:

    seorang budhist bisa mengamalkan ajaran agamnya, kenapa yang lain nggak bisa ya ? (udah gitu banyak banget alasannya)

  18. nindityo Says:

    top ya..
    saya selalu memandang kagum pemimpin perusahaan yg membesarkan perusahaannya di indonesia. keuletannya, keramahannya, mimpi-mimpinya. punya perusahaan di indonesia itu bang.. ampun deh punglinya.
    makanya saya kagum kalo perusahaan mereka bisa tumbuh dan berkembang.

  19. dedy kebot Says:

    sayangnya masih ada bbrp komentar yg ga merdeka,
    masih terbelenggu gembok SARA…..

    meskipun sy tau komen ‘itu’ tdk bermaksud begitu, tapi….

    yuk, berpikir merdeka….
    tanpa otak ini tersekat oleh ras, suku dan agama…

  20. Einstein Cina Says:

    Bpk Sudhamek adalah salah satu contoh nyata bahwa beliau adalah salah satu orang cina sejati yang patut diacungi jempol. Seharusnya dalam pemilu tahun depan nanti ada tokoh seperti beliau menjadi calon presiden.

    – No SARA –
    Thanks

  21. adhi Says:

    thanks pak sudhamek telah memperkerjakan saya di Garuda food…. maaf saya 4 hari ini gak masuk krn sakit.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: