Para karyawan yang terdiri atas pilot, pramugari, teknisi, dan ground handling (tiketing atau kargo) terlihat kecewa karena nasib mereka masih gelap. Mereka menggelar berbagai spanduk, bunyinya antara lain “Anak Belum Bayar SPP”.
Oleh Robert Manurung
Gara-gara para pemegang saham Adam Air asyik bersengketa, 3.000 karyawannya sampai sekarang belum mendapat gaji. Masa depan karir mereka di perusahaan itu juga belum jelas, sementara izin semua rute maskapai penerbangan tersebut sudah resmi dicabut oleh Departemen Perhubungan, Rabu (9/4) kemarin.
Tampaknya Adam Air memang sedang menjalani fase rites of passage, namun sayang masih banyak kewajibannya yang belum diselesaikan. Melihat gelagat tidak adanya itikad baik para pemegang saham; seharusnya pemerintah tidak hanya menonton dari jauh dan mengeluarkan himbauan-himbauan.
Pemerintah harus menekan pemilik agar bertanggungjawab.Jangan sampai terulang lagi kejadian lama, di mana setiap kali perusahaan mau kolaps selalu karyawan dan masyarakat yang dirugikan.
Sampai sekarang, pihak Adam Air masih melontarkan alasan yang sama, yaitu makin keruhnya pertikaian internal, sehingga kewajiban-kewajiban perusahaan belum dapat dipenuhi. Selain harus membayar gaji 3.000 karyawannya, perusahaan penerbangan yang hampir bangkrut ini masih berkewajiban mengembalikan uang masyarakat yang sudah membeli tiket; namun tidak jadi diterbangkan.
Setelah itu perusahaan ini masih berkewajiban memberikan pesangon kepada segenap karyawan, atau uang tunggu jika Adam Air masih diniatkan berlanjut..
Gaji macet gara-gara pertikaian internal
Selasa kemarin (8/3), untuk kesekian kalinya upaya mediasi untuk mempertemukan keluarga Suherman dan Bhakti Investama; dua pemegang saham utama; kembali gagal. Seperti dilaporkan koran Jawa Pos, upaya mediasi yang ketiga kalinya itu atas inisiatif karyawan Adam Air.
Sejak pukul 11.00 WIB, hanya perwakilan keluarga Suherman yang hadir; sedangkan perwakilan Bhakti Investama tidak nampak batang hidungnya. Pihak keluarga Suherman diwakili Adam Suherman yang juga menjabat Direktur Utama Adam Air. Bhakti Investama sudah mendelegasikan penyelesaian sengketa ini kepada Gustiono Kustianto, Direktur Keuangan Adam Air.
Menurut Adam, uang untuk pembayaran gaji karyawan sebenarnya sudah tersedia; malah sudah di brankas perusahaan. Tapi belum dapat dibagikan karena Gustiono, selaku Direktur Keuangan, belum bersedia membayarkan.
“Kebutuhan untuk membayar gaji bukan ini kan sekitar Rp 10 milyar. Itu ada di kantor. Tapi dia (Gustiono) mungkin mendapat perintah langsung dari atasannya untuk tidak membayar,”ujar Adam Suherman.
Kemudian terungkap dari keterangan Adam, pihak Bhakti Investama mencurigai kebenaran daftar karyawan yang berhak mendapat gaji. Namun kecurigaan itu ditepis Adam Suherman,”Suratnya sudah saya tanda tangani. Jadi, seharusnya tidak ada permasalahan lagi untuk membayarkan gaji karyawan.”
Adam Suherman menambahkan,”Saya siap berdialog dengan mereka, tapi kalau nggak mau ketemu bagaimana ?.”
Pengembalian uang tiket
Dalam penjelasan terbaru Rabu kemarin, setelah Departemen Perhubungan resmi mencabut semua rute penerbangan maskapai itu, Adam Suherman mengakui, saat ini dana yang tersedia baru untuk pembayaran gaji karyawan. Sedangkan untuk pengembalian uang masyarakat yang sudah membeli tiket, belum tersedia.
Tidak disebutkan berapa banyak uang masyarakat yang kini “nyangkut” di Adam Air. Yang jelas, sekitar empat hari sebelum perusahaan penerbangan ini dibekukan izinnya, loket-loketnya di seluruh Indonesia masih aktif menjual tiket. Kenyataan ini sangat mengherankan dan jelas berbau penipuan; tapi anehnya pihak Departemen Perhubungan atau instansi lain yang berwenang tidak berusaha menghentikannya demi melindungi masyarakat.
Hal ini merupakan skandal besar yang seharusnya tidak perlu terjadi jika pemerintah berfungsi normal. Di negara-negara maju, pemerintah akan melakukan segala tindakan preventif jika ada tendensi perusahaan bakal wanprestasi atau curang terhadap masyarakat. Dalam kasus Adam Asir, seharusnya pemerintah sudah memerintahkan aparat hukum untuk menciduk para pemegang saham dan eksekutif Adam Air, ketika rute perusahaan itu menciut karena memenuhi persyaratan keselamatan penerbangan.
Entah berapa banyak calon penumpang yang sudah membeli tiket, namun tidak diterbangkan–karena memang saat itu Adam Air sudah tidak melayani rute itu. Kemarin-kemarin hampir semua televisi swasta menayangkan situasi di loket-loket Adam Air di berbagai bandara di seluruh Indonesia. Salah seorang calon penumpang di Denpasar hanya bisa bengong, ketika minta uangnya dikembalikan, malah disuruh mengurus sendiri ke Jakarta.
12 pilot Adam Air eksodus ke Sriwijaya Air
Dalam keadaan nasib tak menentu karena pemilik perusahaan tak bertanggungjawab, 60 pilot Adam Air ramai-ramai melamar ke Sriwijaya Air. Hanya 12 orang yang diterima dan langsung dikirim ke Afrika Selatan agar bisa menerbangkan pesawat besar seperti Boeing 737-300.
“Tadinya ada 60 orang yang mendaftar. Setelah diseleksi, 12 orang lolos. Mereka akan kami latih lagi agar bisa menerbangkan pesawat yang lebih besar,”ujar Presiden Direktur Sriwijaya Air Chandra Lie. (www.ayomerdeka.wordpress.com)
Tag: adam air, adam suherman, belum gajian, bhakti investama, departemen perhubungan, jawa pos, karyawan, keselamatan penerbangan, nasib karyawan, penerbangan, pengembalian tiket, pilot, rute pesawat, skandal, sriwijaya air, tanggungjawab pemerintah, tiket pesawat
11 April, 2008 pukul 6:26 am
Wah, pas lagi begini, skill memang baru kelihatan manfaatnya. Makanya, Bang Robert belajar terbang,he2…
Oh ya, memang sejak dulu sampai sekarang manusia itu aneh, pas lagi kenyang dia culas, pas lagi lapar, mereka rakus. Wah2!!! susah-susah….
11 April, 2008 pukul 8:06 am
Wah, repot juga kalau ada pertikaian internal, gaji ditahan seperti itu. Trus, bagaimana nasib karyawannya? Harus pake apa mereka mencari makan? Kasihan banget.
11 April, 2008 pukul 8:39 am
Di negeri ini nasib selalu berpihak pada mereka yang berduit dan pandai (menjilat!). Ada kalimat indah nan menusuk dari tulisan Anda Bung, “Hal ini merupakan skandal besar yang seharusnya tidak perlu terjadi jika pemerintah berfungsi normal.”
Jangan-jangan, apa yang terjadi di negara ini semua adalah “SKANDAL”?
11 April, 2008 pukul 9:28 am
wah repot banget nih
gaji blom dibayar, ada uangnya tapi juga gak dibayar2??
trus dinas perhubungan diem aj??
kapan mw maju indonesia kalo gini terus??
11 April, 2008 pukul 2:53 pm
apalagi ijiin terbngnya di cancel lagi…..
11 April, 2008 pukul 5:43 pm
berita selanjutnya:
3000 karyawan adam air dirumahkan
11 April, 2008 pukul 8:38 pm
sekali lagi kita disuguhi sebuah peristiwa di mana orang2 kecil selalu menjadi korban konflik dan pertikaian orang2 besar seperti pepatah” gajah berperang melawan gajah, pelanduk mati di tengah2″. wah, persoalan ini termasuk serius karena menyangkut hidup-matinya asap dapur dari karyawan adam air. semoga pemerintah tak hanya bertopang dagu dan duduk mangu2
11 April, 2008 pukul 10:44 pm
status karyawannya sekarang masih nggantung ato gak sih?
kan mereka karyawan kontrak…jadi kalo resign dr perusahaan sebelum masa kontrak abis, mereka harus bayar sejumlah tertentu sesuai kekurangan dari masa kontrak itu. cuma saya gak tau sekarang gimana,,apakah kalo karyawan itu mau resign mereka tetep harus bayar ato gak…
kasian karyawan itu..
12 April, 2008 pukul 5:24 pm
info yang saya dengar sih, katanya pengembalian uang tiket sebagian ada yang sudah dibayar. nasib karyawan yang belum dapat gaji sungguh memprihatinkan. mudah2an segera ada kebijaksanaan dari para pemegang saham Adam Air.
oh, ya, bagaimana dengan mereka, para agent yang menjual tiket adam air yang belum melunasi tunggakkan mereka kepada pihak adam, ya?
13 April, 2008 pukul 6:52 pm
Biasa, para pemilik perusahaan, main lempar-lemparan, lalu hilang atau pergi satu per satu. Ibarat beberapa orang bokek, makan dan minum kopi di restoran, selesai makan pergi satu persatu dengan setting waktu tertentu, dan yang terakhir marah-marah sama pemilik restoran, mengaku yang lainnya tidak dikenal he he he..
15 April, 2008 pukul 5:58 pm
konsekuensi dari longgarnya regulasi aviasi (transportasi) yang memafhumkan budget airlines…. keamanan dan keselamatan terbang dikangkangi, hak karyawan dikebiri, yang tinggal adalah kemungkinan mati berdiri kalo semua janji tak terpenuhi….
16 April, 2008 pukul 7:04 am
@ Giyanto
aku lebih suka bagian yang ngatur-ngatur penerbang, biar nggak salah milih “supir” hehehe…
@ Edi Psw
Kasihan memang. Kasihan…
@ FraterTelo
Selamat ngeblog lagi Frater.
Mungkin tidak semua, tapi hampir semua yang terjadi di negara ini yang terkait dengan kekuasaan pasti berbau skandal.
Sekarang para politisi getol bikin regulasi moral, emangnya itu bukan skandal atau lebih tepatnya menipu rakyat ? Harusnya mereka fokus pada upaya menyelamatkan orang miskin dari dekadsensi moral akibat kemiskinan itu sendiri.
@ hanggadamai
kapan Indonesia maju ? setelah kita semua berlalu. Pasti!
@ Okta Sihotang
Tampaknya akan ke sana. Dan lanjutan cerita bisa jadi : investornya raib…
@ alisyah
Satir yang pahir sekali, kawan. Salam.
@ Sawali Tuhusetya
Betul Pak Guru, itulah pemerintah kita yang hebat itu…