“Kami menyusuri pesisir Anyer yang tenang dan pantainya dipenuhi pohon kelapa,”tulis Forbes. “Kemudian muncullah pemandangan yang menakjubkan itu, Krakatau yang perkasa bersaput awan. Aku tak pernah bisa melupakan pemandangan itu, apalagi sebulan kemudian Krakatau meletus.”
Peta Krakatau Sebelum dan Setelah Meletus, Agustus 1883
Oleh : Robert Manurung
ANAK KRAKATAU, boleh jadi, memang tidak segalak “emaknya” yang meletus 26 Agustus 1883– menimbulkan tsunami yang menewaskan 36.000 orang, dan abu vulkaniknya menutupi matahari selama berbulan-bulan. Buktinya, biar pun Anak Krakatau mulai sering batuk-batuk; masyarakat tetap berpakansi dengan santai di Pantai Anyer, Banten, akhir pekan lalu.
Memang, peristiwa meletusnya Krakatau sudah jauh di belakang kita. Selama kurun waktu 125 tahun, telah terjadi sedikitnya lima kali pergantian generasi, dihitung dari bayi yang lahir pada tahun meletusnya gunung di Selat Sunda itu. Tidak ada lagi cerita lisan yang dituturkan dari kakek ke cucunya; barangkali karena setiap generasi memiliki “letusan dahsyat” tersendiri.
Ya, takluknya Belanda yang sudah menjajah selama 3,5 abad, dan tampilnya orang-orang kate sebagai penjajah baru; gegap gempita kemerdekaan;dan kemudian banjir darah pada akhir tahun 60-an; bukankah itu rentetan “letusan” yang amat dahsyat ? Wajarlah jika rakyat di sekitar Selat Sunda, yang memisahkan Banten dengan Lampung, tidak lagi tertarik dengan kisah usang Krakatau. Apalagi bangsa kita kan terkenal sebagai penderita amnesia sejarah. Ingatan bangsa kita pendek sekali.
Nah, supaya kita tidak ikut-ikutan menderita amnesia sejarah; mari kita lihat dua peta berikut ini yang menggambarkan keadaan Krakatau sebelum meletus dan setelahnya. Peta ini adalah koleksi Cornell University, Amerika Serikat; dibuat pada Agustus 1883 oleh Henry O Forbes; hanya beberapa minggu setelah gunung itu meletus.
Forbes, naturalist Inggris, mengunjungi Pulau Jawa pada bulan Juli 1883–setelah berkelana di Asia sejak tahun 1878. Dalam perjalanan pulang ke Eropa, kapal yang ditumpanginya menempuh rute lewat India. Kapal bertolak dari Batavia pada 9 Juli 1883, kemudian melewati Selat Sunda menuju India.
“Kami menyusuri pesisir Anyer yang tenang dan pantainya dipenuhi pohon kelapa,”tulis Forbes. “Kemudian muncullah pemandangan yang menakjubkan itu, Krakatau yang perkasa bersaput awan. Aku tak pernah bisa melupakan pemandangan itu, apalagi sebulan kemudian Krakatau meletus.”
Forbes inilah yang kemudian membuat peta Krakatau sebelum dan sesudah letusan dahsyat itu, sehingga kita bisa membandingkannya dan kemudian membayangkan betapa hebatnya letusan tersebut. Silakan lihat dan simpulkan sendiri :
Peta Krakatau Sebelum Meletus
Peta Krakatau Setelah Meletus

Catatan :
Krakatau meletus 26 Agustus 1883. Letusannya sangat dahsyat dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Sampai tanggal 26 Desember 2004, tsunami ini adalah yang terdahsyat.
Suara letusan Gunung Krakatau sampai terdengar di Alice Springs, Australia dan pulau Rodrigues dekat Afrika, 4.653 kilometer. Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali dari bom atom yang meledak di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II.
Letusan Krakatau menyebabkan perubahan iklim global. Dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga New York. (sumber : Wikipedia)
http://www.ayomerdeka.wordpress.com
Kaitkata: banten, catatan perjalanan, henry o forbes, jawa, krakatau, lampung, pantai anyer, peta, sejarah, selat sunda, sumatera, tsunami


3 Mei, 2008 pada 12:36 pm
bila dibandingkan dengan sekarang, pasti dagh banyak mengalami perubahan diantaranya pengikisan, dll
btw, wartawan ya lae ??
3 Mei, 2008 pada 2:17 pm
luar biasa..
4 Mei, 2008 pada 6:45 pm
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
KALO MAU BIKIN BLOG, JANGAN LUPA MASUK SITUS “Leoxa.com”
(Themenya Keren Abiss & Bisa Pake Adsense)
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
5 Mei, 2008 pada 7:32 am
tremendum et fascinatum
5 Mei, 2008 pada 8:47 pm
entah, mungkin ke depannya ledakan para praktektual (praktisi yang intelektual) Indonesia yang menerangi dunia untuk menebus dosa dulu menggelapkan bumi selama dua hari.GO!Pak Robert!
6 Mei, 2008 pada 8:26 pm
wuah…gak bisa kebayang deh dahsyatnya letusan krakatau waktu itu, gimana ama kiamat ya…?? hi….pastinya lebih serem
o ya..tentang bangsa kita yang amnesia sejarah….apa hal tersebut terjadi karena kesalahan cara pengajaran/penyampain pelajaran Sejarah pas jaman sekolah dulu yang terkesan amat sangat membosankan dengan apalan yang super banyak…???
7 Mei, 2008 pada 9:24 am
Yang tak kalah hebatnya adalah letusan Gunung Tambora. Katanya, letusan gunung yang satu ini ikut berandil dalam kekalahan Sang Napoleon itu.
7 Mei, 2008 pada 2:18 pm
Wah, baru ngerti ceritanya gunung krakatau nich.
9 Mei, 2008 pada 10:00 pm
@ Okta Sihotang
dulu lae, aku pernah nyasar ke dunia kewartawanan hehehe…
sekarang aku hanya sebagai pembaca yang rajin–dan kadang-kadang merasa sebal melihat kebebasan pers kita ternyata tidak produktif menghidupkan demokrasi dan law enforcement.
@ hanggadamai
memang, ruarrr biasa; tapi sayang kita sendiri harus mengetahuinya dari kisah orang asing.
@ tomy
komentar yang sangat jitu
@ ikhwanabd
gracias muchas
@ nuha
betul, cara pengajaran sejarah di sekolah kita memang membosankan karena siswa hanya disuruh menghapal. Seandainya sejarah diajarkan sebagai kisah kehidupan, dan memahami kaitan peristiwa-peristiwa di seluruh dunia, pasti pelajaran sejarah akan jadi favorit bagi para siswa.
@ Frater Telo
Trims untuk infonya Frater.
@ Edi Psw
Banyak peristiwa di sekitar kita yang tidak sungguh-sungguh kita ketahui dan pahami, lantaran bahan tidak tersedia atau bahan yang ada kurang menarik.
11 Mei, 2008 pada 9:03 am
Kalau kita perhatikan peta di atas, bagian gunung yang tersisa setelah letusan itu adalah bagian yang terluas dan tertinggi. Mengapa bagian yang tersisa it disebut sebagai anak Krakatau?
11 Mei, 2008 pada 10:10 pm
@ hh
Peta setelah letusan yang dimuat dalam artikel ini dibuat pada 1883, hanya beberapa minggu setelah letusan dahsyat itu. Sedangkan Anak Krakatau adalah kaldera atau daratan yang timbul dari dasar laut dalam beberapa puluh tahun terakhir.
Mudah-mudahan penjelasan ini memadai. Kita tentu akan menyambut dengan gembira kalau ada di antara pembaca yang dapat memberiklan penjelasan lebih lengkap dan ilmiah.
4 September, 2008 pada 10:01 pm
Eh baru nemu blog ini, salam kenal aje,
Mana ni koment yang lain
@hh
Di peta itu belum nongol yang namanya “anak krakatau”, nongolnya kemudian setelah aktivitas kaldera di dalam laut (antara 3-pulau), barulah metungul pucuknya anak krakatau sedikit demi dikit. Dan sekarang anak krakatau tu dah ABG lho. ntar puluhan tahun lagi dah jadi dewasa dan siap njeblug lagi mungkin lebih hebat dari emaknya. Barangkali.
Yang jadi pertanyaankoe, benarkah jaman pra sejarah doeloe ada “kakek krakatau” yang mletus – memisahkan Jawa-Sumatera, yang konon dulu selat sunda itu belumlah ada. Mohon yang tau informasinya bisa memaparkan. Trims
6 Oktober, 2008 pada 7:16 am
itu kehendak allah swt dan bukti nyata adaNYA sang pencipta alam ini
18 Januari, 2009 pada 8:04 pm
Waduh, begitu dahsyatnya kita tidak dapat membayangkan betapa kacaunya saat itu, makanya marilah kita senantiasa memohon kepada Allah agar kejadian seperti itu tak terulang lagi, amin ya robbal alamin