Chairil Anwar, Jiwa Merdeka dan Patriotisme

KRAWANG-BEKASI

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

* Chairil Anwar, 1948

DALAM acara diskusi “Mengenang Kepergian Chairil Anwar, 59 Tahun” di Gedung Habibie Centre, Jakarta Selatan, pertengahan bulan lalu, penyair Taufiq Ismail menuturkan,”Sejak SMA saya sudah membaca semua puisi Chairil. Saya baca berulang kali. Dan yang paling disenangi adalah Senja di Pelabuhan Kecil.”

Senja di Pelabuhan Kecil

Ini kali tidak ada yang mencari cinta/Di antara gedung, rumah tua, pada cerita/Tiang serta temali, kapal, perahu tidak berlaut/Menghembus diri dalam mempercaya maut berpaut/Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kepak elang/Menyinggung muram, desir hari lari berenang/Menemu bujuk pangkal akanan.Tidak bergerak /Dan kini tanah dan air tidur hilang ombak/Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan/Menyisir semenanjung, masih pengap harap/Sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan/Dari pantai ke empat, sedu penghabisan bisa terdekap.

Diskusi tersebut, dengan tajuk Membangkitkan Semangat Kebangsaan dengan Puisi-puisi Charil Anwar, merupakan bagian dari agenda Seri Tokoh Sejarah Berbicara.

Selain Taufiq Ismail (sastrawan), tampil sebagai pembicara Maman S Mahayana (akademisi) dan Evawani Alissa, putri tunggal Charil Anwar, dari perkawinan dengan Hapsah Wiriaredja (asal Karawang, Jawa Barat).

Begitu senangnya dengan puisi di atas, Taufiq pernah meninjau pelabuhan Tanjung Priuk dan Pasar Ikan, namun tidak ditemukan suasana senja di pelabuhan seperti yang digambarkan dalam puisi Charil Anwar. Namun diakui penyair kondang itu, puisi cinta yang ditulis Chairil Anwar itu sebuah percintaan yang paling indah.

“Luar biasa energi yang dikeluarkan dari puisi – puisi Chairil Anwar dan bertahan terus sampai sekarang,” papar Taufiq.

Dipandu Andi Makmur Makka, pengamat sastra Maman S Mahayana menilai sikap hidup Chairil Anwar yang paling banyak disoroti para pengamat sastra adalah hasrat mencipta yang didasari oleh semangat kebebasan, tanpa sekat isme, konvensi dan segala bentuk pemasungan kreatif.

Gagasan Charil Anwar, baik yang diwujudkan dalam sejumlah puisi, maupun dalam esai-esainya yang menegaskan sikap hidup dan pandangannya tentang kesusasteraan dan kebudayaan Indonesia, ternyata begitu inspirating. Tidak hanya mempengaruhi teman-teman sesama sastrawan, tetapi juga sesama seniman. Chairil Anwar yang begitu reputasional tidak hanya menjadi salah satu ikon kesusasteraan Indonesia, melainkan telah menanamkan tonggak penting dalam sastra Indonesia .

Nostalgia Chairil

Chairil Anwar lahir 26 Juli 1922 di Medan dan meninggal 28 April 1949 di CBZ (RSCM) Jakarta. Ia mulai menulis sajak ketika menapak usia 21 tahun hingga akhir hayatnya menjelang usia 27 tahun.

Sajak-sajaknya antara lain “Aku”, dibukukan dalam antologi puisi Deru Campur Debu, Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus, dan Tiga Menguak Takdir (antologi bersama Asrul Sani dan Rivai Apin).

Awal diskusi diputar video biografi singkat Chairil Anwar dan kutipan wawancara sekitar tahun 1970 dengan Hapsah di media cetak tahun 1970-an. Juga tampil slide foto Sri Ayati waktu muda yang cantik mengenakan kebaya Di samping itu rekaman wawancara dengan mantan kekasih Chairil – Sri Ayati (83 tahun) yang bermukim di Serang, Banten.

Menurut Evawani yang berprofesi sebagai notaris, Dewan Kesenian Jakarta menyelenggarakan diskusi tentang Chairil sekitar tahun 1970-an. Waktu itu dihadirkan sejumlah wanita yang disebut-sebut dalam puisi Chairil seperti Nur Syamsu, Sri Ayati, dan Gadis Rasid. “Saya waktu itu hadir, tetapi ibu saya enggan hadir,” papar Eva.

Eva bercerita awalnya ia tidak tahu bahwa ayah kandungnya Chairil Anwar, tetapi. para tetangga sering mengatakan kepada si kecil Eva, nama kecilnya I-ip, wajahnya mirip Chairil. Ketika ia bertanya kepada ibunya, ia dibohongi bahwa Chairil itu tetangga yang sangat sayang pada I-ip.

Ketika usia 8 tahun (kelas 3 SD, dulu SRL Manggarai), Eva mengetahui Chairil itu ayahnya dari buku Charil Anwar Pelopor Angkatan 45, karangan HB Jassin dari gurunya. Dalam buku itu terpampang foto si kecil Eva dan Chairil Anwar dan tertulis bahwa dia anak Chairil Anwar. Eva kecil sempat protes, Chairil bukan ayahnya, tetapi Achmad Natakusuma sebagai ayahnya yang menikah dengan ibunya.

Dari cerita pamannya, Eva baru mengetahui, ayahnya adalah Chairil Anwar yang meninggal dunia ketika ia berusia sekitar 2 tahun. “Saya bangga dan kagum kepada Charil Anwar sebagai ayah saya,” ujar Eva.

Melalui makalah Chairil Anwar Ayahku, Kebanggaanku si Binatang Jalang, Eva bercerita banyak mendengar tentang Chariil dari ibunya, HB Jassin, Asrul Sani, seniman Senen, teman – teman Chairil dan buku tentang Charil. Salah satu kebiasaan Chairil ia memanggil teman-temannya untuk mendengarkan pembacaan sajak yang baru ditulisnya untuk minta komentar. Juga kepada istrinya panggilan kesayangan Gajah, walaupun istrinya tidak paham tentang puisi. *** (Susianna)

==================================================================

Dikutip dari situs suarakarya-online.com. Judul asli : In Memoriam, Chairil Anwar di Mata Evawani, Maman, dan Taufiq

==================================================================

http://www.ayomerdeka.wordpress.com

About these ads

Tag: , , , , , , , ,

9 Tanggapan to “Chairil Anwar, Jiwa Merdeka dan Patriotisme”

  1. nesia Says:

    Kalo aku Lae, paling terpesona dgn Derai-derai Cemara.

    Cemara menderai sampai jauh
    terasa hari akan jadi malam
    ada beberapa dahan di tingkap merapuh
    dipukul angin yang terpendam

    Aku sekarang orangnya bisa tahan
    sudah berapa waktu bukan kanak lagi
    tapi dulu memang ada suatu bahan
    yang bukan dasar perhitungan kini

    Hidup hanya menunda kekalahan
    tambah terasing dari cinta sekolah rendah
    dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
    sebelum pada akhirnya kita menyerah.

    Buatku, puisi ini sudah seperti ayat di kitab suci.

  2. Robert Manurung Says:

    @ nesia

    Sekadar sharing nih Lae, sampai sekarang aku masih terpesona atas kemampuan Chairil Anwar menuturkan kesadarannya yang perih tentang absurditas kehidupan, namun pada saat yang sama gairah hidup dalam jiwanya tetap menggelegak; bagaimana dia mengejek cinta yang sentimentil dan sekadar pelarian dari sunyi, namun pada saat yang sama dia begitu mendamba rangkulan kekasih…dst, dst.

    Chairil Anwar mampu menganyam paradoks-paradoks menjadi sebuah kredo yang matang, namun tetap memperlihatkan bahan aslinya. Itu yang membuatnya istimewa dan belum tertandingi dalam jagat puisi/sastra Indonesia.

    WS Rendra dan Gunawan Muhammad memang cukup berhasil menggambarkan cinta yang manis pada kepang rambut gadis muda dan filsafat eksistensi pada lumut dan lokan di pantai; tapi mereka mentok sampai tahap naratif dan simbolik.

    Dengan memamerkan pengetahuanku yang tak seberapa ini, Lae, aku ingin mengundang para peminat sastra untuk berdiskusi di sini. Terima kasih Lae sudah duluan memberikan “sum” hehehe…

  3. aku suka Says:

    eh mas blognya bagus lho..tapi kok ga bisa di copy

  4. economatic Says:

    Aku ini binatang jalang,
    Dari kumpulannya terbuang,
    …………………………..

    Cuplikan puisi beliau berjudul “AKU” tersebut telah mengilhami saya untuk menulis banyak puisi pada masa SMP-SMA namun hanya dibaca teman2 sendiri dan sudah lenyap catatan2nya entah kemana. Trims berat atas dimuatnya artikel tentang Chairil Anwar ini.
    Salam http://economatic.wordpress.com/

  5. Robert Manurung Says:

    @ aku suka

    Wah, aku juga nggak paham kalau ada masalah seperti itu. Aku sama sekali tidak keberatan kalau ada yang ingin meng-copy isi blog ini; dan tidak ada proteksi apapun untuk mencegah hal itu.

    Terima kasih.

    @ economatic

    Kalau gitu tos dulu kawan. Aku juga sangat tergila-gila pada puisi “Aku”. Menurutku puisi itu luar biasa dahsyat. Lebih mirip filsafat eksistensi daripada sekadar puisi.

    Aku yakin, puisi tersebut telah menumbuhkan kesadaran eksistensial dalam diri banyak manusia Indonesia, meski mungkin hanya sedikit yang menyadarinya.

    Kapan-kapan aku akan memposting artikel yang mengupas tuntas manusia bernama Chairil. Tokoh ini salah satu yang aku kagumi disamping Tan Malaka dan Bung Karno.

    Salam Merdeka

  6. blalang_kupukupu Says:

    kalimat yang paling berani dari chairil menurut saya, ya ini,

    aku suka kepada mereka yang berani memasuki malam

  7. fetiana Says:

    tampilkan puisi deru campur debu donk

  8. novi Says:

    arti dari puisi Chairil Anwar yang berjudul “AKU” itu apa sich!

  9. Syahrul Hanafi Simanjuntak S.15 Says:

    @ novi

    katanya sich: ‘lebih mirip eksistensi daripada sekadar puisi’.
    Kalo aku juga sependapat dengannya.
    Akh….sayang dia mati muda! kalo tidak aku udah tanya dia hehehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: