TERIMA KASIH Piala Eropa. Kehadiranmu telah menyelamatkanku dari rasa jenuh dan suntuk. “Pertandingan” tanpa skedul, dan tanpa aturan main; yang kini sedang berlangsung sengit di Indonesia; memang membuat adrenalin terpacu deras. Tapi beda betul dengan ketegangan menonton aksi Cristiano Ronaldo, Ruud van Nistelrooy, Fernando Torres, dan megastar lainnya yang berlaga di Piala Eropa.
Apa boleh buat, memang sudah nasib kami lahir di tengah-tengah bangsa macam begini; yang senang rebutan pepesan kosong, diadu domba dan dijajah. Tapi kami hanya manusia biasa yang gampang bosan, dan merasa sesak menghirup udara yang dipenuhi aroma kemarahan, permusuhan dan kebencian. Kami memang senang epik yang megah dan kolosal, tapi perseteruan dengan sesama saudara sebangsa sangatlah menyakitkan.
Terima kasih CR7. Aksimu yang menawan, dan dedikasi sepenuh hati untuk kepentingan tim; patriotisme yang mengglegak; itu sungguh menghibur dan menimbulkan rasa hormat. Tadinya aku pikir permainanmu akan menurun, lantaran belum sempat istirahat yang cukup. Tampil reguler selama satu musim, hampir tiap pekan, pastilah sangat menguras fisik dan mentalmu.
Gelar pemain terbaik, juara liga, memimpin MU memenangkan Liga Champion; itu sungguh prestasi yang luar biasa. Dan, 42 gol dalam semusim, oleh seorang pemain sayap; itu benar-benar spektakuler. Namun, prestasi gemilang itu tak membuatmu terlena. Penampilanmu bersama tim Portugal ketika mengalahkan Turki 2-0, itu nasionalisme yang nyata. Salut.
Terima kasih Piala Eropa. Kehadiranmulah satu-satunya yang membuatku rindu menengok layar TV. Tadinya aku memang getol mengikuti berita-berita televisi lokal, breaking news dan semacam itu. Tapi hanya dua tiga hari saja, kemudian layar kaca sudah menjadi identik dengan segala yang menyebalkan. Malu. Pilu. Jemu.
Semuanya berlangsung dengan kecepatan tinggi, tapi temanya terlalu monoton, yaitu sikap ngotot tanpa toleransi; dan pertarungan tanpa estetika. Serba keras, dan zero sum game. Seperti adu tostosan, tapi tanpa aturan main, dan tanpa pengadil.
FPI memukuli peserta aksi damai AKKBB, Gus Dur berang, Rizieq Shihab membalas dengan komentar bernada melecehkan, massa pendukung Gus Dur marah, mendesak FPI dibubarkan, anggota FPI ditangkap, Munarman buron, SKB Ahmadiyah, Munarman nongol di Polda tampak nyengir di layar kaca, demo, demo, bubarkan, bubarkan….
Untuk sementara para supporter FPI bersorak paling keras, sementara orang-orang Ahmadiyah kelihatan lemas. Pendukung Gus Dur belum meninggalkan gelanggang, dan tampaknya pertandingan belum akan selesai. Bakal ada perpanjangan waktu, entah sampai kapan; dan injury time harus dicarikan padanan katanya yang tepat. Ini seperti kompetisi tanpa akhir….
Kalau masih begitu terus, mendingan nonton Piala Eropa. Biarpun perhelatan sepakbola di bumi biru itu nothing to do with us; meski kegembiraan dan kesedihan kita terkait prestasi tim kesayangan seperti sesuatu yang semu; namun kita boleh-boleh saja menjadikannya eskapisme yang menyegarkan. Pelarian sementara dari situasi bangsa kita yang sedang meriang.
Nah, biar lebih having fun, aku mau mengajak kawan-kawan semua untuk menyetor nama tim yang diunggulkan bakal jadi juara. Masing-masing boleh mengunggulkan maksimal dua tim. Nanti, di akhir Piala Eropa, kita akan lihat bagaimana nasib tim unggulan kita masing-masing. Iseng-iseng, tapi dijamin mengasyikkan.
Jagoanku adalah Portugal dan Belanda. Nah, yang mana jagoanmu ?
Tag: ahmadiyah, belanda, cristiano ronaldo, fernando torres, fpi, gus dur, munarman, piala eropa, portugal, psiko sosial, ruud van nistelrooy, situasi politik indonesia
11 Juni, 2008 pukul 12:37 am
hiks hiks
ga bisa nonton
11 Juni, 2008 pukul 12:46 am
salam
Bener Pa hiburan tersendiri, melihat permainan yang fair dan sportif, klo saya mlototin wajah2 guantengnya juga he..he.. *genit mode:ON*
11 Juni, 2008 pukul 12:08 pm
Ya kalo sebentar sih tidak masalah…
Tapi kalo seumur hidup nonton bola terus
itu namanya pelarian Bang….
Barangkali keyakinan (agama) adalah tempat pelarian jiwa yang paling enak….masalahnya manusia untuk masuk agama tertentu tidak perlu seleksi….
Apalagi kalau main kereyok, wah lebih ringan bebannya….
ya Allah…semoga Kau mau memaafkan hamba-Mu ini…..!
Yang sukanya main keroyok.
Surga itu menurut mereka yang main keroyok ada di alam “sana” tidak di “alam sini”
Jadi mereka memperjuangkannya mati-matian…sampe2 membuat korban di alam “sini”…
11 Juni, 2008 pukul 2:25 pm
Sementara dipingir lapangan tim SBY-JK berterimaksih kapada FPI, AKKBB, Rizieq Shihab, Munarman, Gus Dur, dan kesebelasan anarki lainnya di daerah-daerah yang turut serta memeriahkan pertandingan. “Allhamdulilah…, isu BBM telah bergeser..” begitulah kira-kira tim SBY-JK bergembira..
11 Juni, 2008 pukul 4:33 pm
tonton indonesia lawan vietnam donk!!!
11 Juni, 2008 pukul 8:13 pm
@ hanggadamai
Lho, kenapa nggak bisa nonton? Siara TV diacak atau alasan lain ?
@ nenyok
Salam. Wajah-wajah ganteng para pemain bola adalah hak istimewa buat penonton cewe, untuk mengaguminya hehehe…
@ Giyanto
Pelarian sebentar saja kawan, paling lama juga sampai akhir bulan. Soalnya kesal, sebal dan suntuk melihat pentas politik negara kita. Kebodohan, kedangkalan, kemunafikan dan kelicikan campur baur di sana. Akal sehat, ketulusan dan kasih sayang kalah total, untuk sementara.
Terima kasih kawan. Kita memang tidak boleh menyerah, apalagi sampai takut. Negeri ini kita yang punya.
Salam Merdeka!
@ Muji
Hehehe…Anda pengamat yang jeli juga ya. Asyik juga kan sesekali memparodikan trik-trik politik dengan gaya sepakbola.
Peace.
@ mahma mahendra
Siap. Aku sudah nonton, kawan. Indonesia vs Vietnam 1-0, penalti oleh Bambang Pamungkas. Di antara semua pemain kita yang tampil bagus hanya Aliyudin.
Hidup Tim Nasional PSSI.
Damailah suporter Indonesia.
12 Juni, 2008 pukul 6:58 am
mmm, gue sendiri males nonton
tim unggulannya ntar aja, kalau sudah lewat fase grup
26 Juni, 2008 pukul 8:33 pm
Semifinal antara Spanyol vs Rusia siapa yang menang yuk … kita nonton bareng di posko !!!
28 Agustus, 2008 pukul 3:31 pm
Indonesia…
klo trus2an bgini,,
99% dan tdk menutup kemungkinan, sebentar lagi Negara ini tinggal sejarah.