Diskusi The Second World Peace Forum diikuti oleh 110 tokoh dunia, dan 120 tokoh nasional. Bakal digelar di Hotel Sultan, Jakarta, 24-26 Juni ini; diskusi akan dihadiri para tokoh agama, politikus, ekonom, dan cendekiawan.
Oleh : Robert Manurung
Ada tiga langkah progresif yang dilakukan Muhammadiyah dalam waktu belakangan ini. Semuanya menunjukkan kecenderungan yang signifikan bahwa ormas Islam ini sekarang lebih membuka diri terhadap pluralisme, dan proaktif membangun dialog antaragama dan antarkebudayaan. Alhasil, kita seperti melihat sosok Gus Dur yang melembaga, dan lebih canggih, dalam organisasi Muhammadiyah.
Yang pertama, keterlibatan tokoh-tokoh senior Muhammadiyah dalam Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB). Dua mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, Amien Rais dan Sjafii Ma’arif, ikut mendirikan AKKBB.
Yang kedua, penolakan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin untuk menjamin penangguhan penahanan Muchdi Pr, tersangka kasus pembunuhan Munir. Permohonan jaminan itu diajukan Zaenal Ma’arif, juru bicara tim pembela Muchdi. Mayoritas anggota tim pembela Muchdi adalah unsur “tim pembela muslim” yang dimotori M.Luthfie Hakim dan Mahendradatta, yang nota bene sangat dekat dengan FPI.
Dengan melihat keterlibatan para tokoh tersebut, penolakan Muhammadiyah bisa saja disalahtafsirkan sebagai sikap kurang solider. Terlebih lagi karena Muchdi Pr adalah warga Muhammadiyah. Dia pernah memimpin perguruan silat yang merupakan onderbouw Muhammadiyah.
Namun demikian, Muhammadiyah tetap menolak memberikan jaminan buat Muchdi. Penolakan tersebut menunjukkan kearifan dan komitmen yang kuat terhadap supremasi hukum. Tidak asal bela walaupun anggota sendiri. Padahal kalau mau, bisa saja Muhammadiyah menjamin Muchdi dan mengerahkan massa ratusan ribu orang untuk menekan polisi agar Muchdi dibebaskan.
Yang ketiga, ini lebih hebat lagi, PP Muhammadiyah akan menggelar forum diskusi internasional, untuk mencari solusi memerangi kekerasan budaya dan agama. Menurut Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, diskusi The Second World Peace Forum akan merekomendasikan kepada lembaga intenasional, agar kekerasan dikurangi.
Diskusi The Second World Peace Forum diikuti oleh 110 tokoh dunia, dan 120 tokoh nasional. Bakal digelar di Hotel Sultan, Jakarta, 24-26 Juni ini; diskusi akan dihadiri para tokoh agama, politikus, ekonom, dan cendekiawan.
Forum diskusi akan didahului pesan perdamaian dari Perdana Menteri Selandia Baru, Australia, Belanda, Rusia, Thailand, dan wakil lembaga internasional. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan membuka perhelatan akbar ini, kemudian penutupannya oleh Wapres Jusuf Kalla.
==================================================================
www.ayomerdeka.wordpress.com
Tag: amien rais, din syamsuddin, diskusi antaragama sedunia, diskusi antarkebudayaan, forum antikekerasan agama, gus dur, muchdi pr, muhammadiyah, pluralisme, presiden sby, sjafii ma'arif, the second world peace forum, wapres jusuf kalla, zaenal ma'arif
24 Juni, 2008 pukul 7:30 am
di tunggu laporan selanjutnya mas…
menarik juga mengikuti perkembangan berita ini…
24 Juni, 2008 pukul 11:43 am
Suatu bukti nyata bahwa penggunaan kekerasan berselimutkan agama sudah tidak laku dan memang seharusnya tidak boleh.
24 Juni, 2008 pukul 3:43 pm
akhirnya Muhammadiyah bangun juga..
24 Juni, 2008 pukul 5:45 pm
Hebat !
Ikuti terus beritanya tulang , ini betul-betul menarik bagi generasi muda !
Salam !
25 Juni, 2008 pukul 4:34 am
Muhammadiyah memang ormas Islam di Indonesia yang paling “beres”, IMO
25 Juni, 2008 pukul 8:02 am
Usaha itu bagus … lebih bagus praktik; ini berantem melulu. Agama mana sih yang mengajarkan kekerasan? Ngak ada; yang ada di hati pemeluk (pemuka agama he he)
25 Juni, 2008 pukul 8:53 am
yup. rekomendasi yang baik : kekerasan harus dikurangi.
mudah-mudahan ampuh rekomendasinya
kasian saudara-saudaraku di Irak, Palestina, Irak, Kasmir, Afrika, dll…
25 Juni, 2008 pukul 9:23 pm
Saya dari dulu memang kagum sama muhamadiyah. Moderat gitu.
27 Juni, 2008 pukul 12:17 am
Walaaahh Virus Baru tho yaa… ASHOBIYAH ??
29 Juni, 2008 pukul 6:21 am
Bravo untuk Din Syamsudin