PDIP Punya Tujuh Gubernur, Golkar Panik

Kekalahan di Jawa Tengah melengkapi kegagalan menyakitkan yang diderita Golkar sebelumnya di Sulawesi Selatan. Di daerah kelahiran ketua umumnya, Jusuf Kalla, partai “saudagar” ini dipermalukan oleh gabungan empat partai yang dipimpin PDIP. Tiga partai mitra PDIP dalam kemenangan yang mengejutkan di Sulsel ialah PAN, PDK, PDS.

Oleh : Robert Manurung

IBARAT playboy, yang dulu gampang sekali menggombali dan menggaet cewek; Golkar sekarang mulai merasa nggak laku, minder dan panik; karena ditolak di mana-mana. Penderitaan partai berlambang beringin ini makin bertambah, lantaran didera rasa iri melihat saingan utamanya, PDIP, sukses di di berbagai daerah.

Kepanikan di pucuk pimpinan Golkar memuncak setelah kandidatnya kalah dalam Pilkada Jawa Tengah, beberapa hari lalu. Ketua Umum Jusuf Kalla langsung mengadakan pertemuan darurat di rumahnya di Jakarta, Selasa malam. Gampang ditebak, agenda pertemuan mendadak itu pastilah mengevaluasi kekalahan di Jateng dan sebelumnya di daerah lain; serta konsolidasi menghadapi pilkada yang akan berlangsung di enam daerah.

Kepanikan Golkar merespon kegagalan di Jateng, kontras betul dengan sikap santai saat kandidatnya kalah beruntun di Sumatera Utara, dan Jawa Barat. Waktu itu Golkar malah mengatakan, sudah menduga sebelumnya bakal kalah di dua propinsi itu.

Memang, kekalahan pasangan Bambang Sadono dan M Adnan di Jawa Tengah adalah tamparan keras dan menciutkan nyali bagi Golkar, karena dua alasan. Pertama, Jawa Tengah adalah basis tradisional dan landmark bagi partai yang pondasinya dibangun dari campuran pragmatisme dan feodalisme itu. Kedua, PDIP adalah saingan utama Golkar dalam percaturan politik di Indonesia.

Kalau boleh diungkapkan dengan agak vulgar : Golkar boleh saja kalah dari partai lain, asalkan jangan kalah dari PDIP.

Kekalahan di Jawa Tengah melengkapi kegagalan menyakitkan yang diderita Golkar sebelumnya di Sulawesi Selatan. Di daerah kelahiran ketua umumnya, Jusuf Kalla, partai “saudagar” ini dipermalukan oleh gabungan empat partai yang dipimpin PDIP. Tiga partai mitra PDIP dalam kemenangan spektakuler di Sulsel ialah PAN, PDK, PDS.

PDIP punya tujuh gubernur

DENGAN kemenangan duet Bibit Waluyo dan Rustriningsih dalam Pilkada Jateng, PDIP kini menjadi satu-satunya partai yang sukses di lebih dari satu propinsi, tanpa berkoalisi dengan partai lain. Dari 18 propinsi yang telah menggelar pilkada, PDIP sekarang punya tujuh gubernur dan wakilnya, yang dimenangkan dengan mengandalkan kekuatan sendiri.

Inilah tujuh propinsi itu, yang dimenangkan PDIP tanpa koalisi dengan partai lain :

  • Jawa Tengah (Bibit Waluyo & Rustriningsih)
  • NTT (Frans Lebu Raya & Esthon Foenay)
  • Irian Jaya Barat (Abraham Atururi & Rahimin Katjong)
  • Papua (Barnabas Suebu & Alex Hasegem)
  • Sulawesi Utara (Sinyo H Sarundayang & Freddy Harry Sialang)
  • Kalimantan Tengah (Agustin Teras Nerang & Ahmad Diran)
  • Kalimantan Barat (Cornelis & Christiandy Sanjaya).

Selain PDIP, di antara semua partai yang ada di Indonesia sekarang ini, hanya Golkar yang mampu memenangkan pemilihan gubernur tanpa koalisi dengan partai lain; yaitu di Propinsi Gorontalo (Fadel Muhammad & Gusnar Ismail). Dengan demikian untuk sementara PDIP mengungguli Golkar 7 : 1.

Sementara itu untuk kemenangan yang diraih lewat kerjasama dengan satu partai lain, kedudukan PDIP dan Golkar adalah 1 : 1. PDIP berduet dengan PBB menggolkan pasangan gubernur/wakil gubernur Gamawan Fauzi & Marlis Rahman di Sumatera Barat. Golkar bermitra dengan PAN memenangkan Zulkifli Nurdin & Antony ZA jadi gubernur/wakil di Jambi.

Rustriningsih, kader yang naik dari bawah

KEMENANGAN pasangan Bibit Waluyo dan Rustriningsih, dengan tidak melupakan tingginya persentase golput, adalah indikator yang meyakinkan mengenai keberhasilan konsolidasi internasl PDIP. Partai berlambang banteng gendut ini pernah ditinggalkan para pendukung fanatiknya di Jateng, karena sakit hati dan merasa dihianati. Pasalnya, dalam pemilihan gubernur beberapa tahun lalu, Megawati malah mendukung tokoh militer dan mengorbankan kader PDIP sendiri. Tampaknya sekarang para banteng di Jateng sudah pulang kandang.

Direstuinya Rustriningsih sebagai calon wakil gubernur, menunjukkan makin menguatnya kultur meritokrasi di dalam organisasi PDIP. Rustriningsih adalah kader partai yang naik dari bawah. Merangkak dari tingkat ranting, kemudian menanjak setahap demi setahap. Dia dinilai sukses saat menjabat Bupati Kebumen dua periode. Dan kini , perempuan yang akrab dengan kehidupan kalangan bawah itu terpilih jadi wakil gubernur. Sangat langka “politisi karir” seperti dia di Indonesia..

Pemberian prioritas bagi kader yang loyal dan kompeten seperti itu, merupakan kunci keberhasilan PDIP memenangkan Pilkada Kalbar, Kalteng, NTT, dan Sulawesi Utara. Mungkin prestasi organisasi PDIP seperti inilah yang lebih “ditakuti” Golkar daripada sekadar kemenangan kandidat partai saingannya itu di berbagai daerah. Artinya, PDIP kini semakin kuat akarnya, sebaliknya Golkar kian mirip koloni eceng gondok yang mengambang dan tak mengakar.

6 propinsi yang segera menggelar pilkada

DALAM waktu dekat ada enam propinsi yang akan menggelar pemilihan gubernur :

  • Nusa Tenggara Barat, 27 Juni 2008
  • Bali, 9 Juli 2008
  • Maluku, 9 Juli 2008
  • Jawa Timur, 23 Juli 2008
  • Sumatera Selatan, 4 September 2008
  • Lampung, 28 Oktober 2008

Kalau tidak terjadi hal-hal yang luar biasa, kemungkinan PDIP bakal menang dengan kekuatan sendiri di Bali. Sedangkan di lima propinsi lain bisa diperkirakan PDIP masih unggul atas Golkar, namun bakal bersaing ketat dengan partai-partai Islam (Jatim, Sumsel, Lampung, NTB). PDIP bisa mengambil keuntungan dari perpecahan di tubuh PKB, dengan mengandeng salah satu kubu untuk memenangkan Pilkada Jatim. Sedangkan di Sumsel, duet PDIP & PBB akan meraih kemenangan yang mantap seperti di Sumbar.

Kemenangan demi kemenangan yang diraih PDIP di sejumlah daerah adalah fenomena yang sangat menarik, apalagi belakangan ini partai tersebut tidak banyak melakukan manuver politik di ranah publik. Bahkan sebaliknya, PDIP belakangan ini terkesan sangat low profile dan hati-hati.

Tidak ada lagi gejolak internal. Dan tidak ada konflik terbuka dengan kekuatan politik yang lain. Dalam perayaan harlah Pancasila pada 1 Juni lalu, misalnya, PDIP bikin kegiatan sendiri dan tidak ikut apel akbar yang diprakarsai AKKBB. Alhasil, ketika “barisan nasional” yang dimotori Gus Dur dan Amien Rais bentrok dengan FPI , partainya Megawati itu memilih jadi penonton yang sopan.

===================================================================================

http://www.ayomerdeka.wordprss.com

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

15 Tanggapan to “PDIP Punya Tujuh Gubernur, Golkar Panik”

  1. Santrov Says:

    Saya senang baca ulasan ini, tetapi saya tidak tahu komentar apa, karena kurang suka politik heheh. Horas Lae.. salam kenal…

  2. petak Says:

    Ok ulasannya bang :)
    Pilkada jatim 23 Juli depan jadi pertaruhan besar buat Golkar
    Jika Soenarjo kalah reputasi golkar di jawa bisa hancur hancuran.
    riwayatnya Kalo Golkar sama PDIP berkoalisi, Calon mereka pasti kuat :)

  3. fiantoni Says:

    Ralat Zulkifli Nurdin dan Antoni Zeidra Abidin dari Jambi bukan Bengkulu.

    Yang saya sesalkan kenapa PDIP masih sering menjagokan calon dari militer sperti Tritamtomo dan Bibit Waluyo? Lebih baik gubernur dari sipil yang berjiwa militeris daripada gubernur dari militer yang berjiwa sipilis.

    Tentara menurut saya sudah selesai tugasnya. 32 tahun membelenggu kita. PDIP terus lah menjadi penyeimbang Golkar. Asalkan Megawati memberi kesempatan kepada tokoh-tokoh muda berintegritas seperti Budiman Sudjatmiko, Usman Hamid, Anies Baswedan dan Rizal Mallarangeng…prospek PDIP di 2009 bakal menjanjikan.

  4. Robert Manurung Says:

    @ Santrov

    Salam kenal Lae.

    Lae tak suka poltik ya. Tapi biar bagaimanapun tak mungkin kita lepas dari politik, karena kehidupan kita banyak tergantung keadaan politik. Umpanya saja perusakan lingkungan, itu kan keputusan politik, jadi harus kita pahami dan kemudian dilawan secara politik juga.

    Horas.

    @ petak

    Terimakasih.

    Betul, Jawa Timur akan jadi ujian terakhir apakah Golkar masih punya basis dukungan yang kuat di Jawa. Memang sih, hasil pilkada tidak otomatis bakal sama dengan hasil pemilu legislatif. Tapi biar bagaimanapun dengan banyaknya kader partai sebagai gubernur dan bupati/walikota pasti bermanfaat langsung untuk menaikkan dukungan masyarakat.

    Selain itu masih ada satu faktor yang akan membuat Golkar makin babak belur, yaitu faktor Akbar Tanjung. Apapun manuver yang akan dilakukan oleh Akbar pasti akan merugikan Golkar, kecuali JK mundur.

    @ flantoni

    Terima kasih ya untuk ralatnya.

  5. marte Says:

    Menurut saya tidak penting pemimpin di negara ini berasal dari partai apa/aliran apa,”yang penting mereka bekerja untuk rakyat dan berlaku adil untuk semua golongan dari pada hanya mengutak-atik kepentingan partai semata”

  6. Marte Says:

    Kemenagan PDIP di daerah tidak lepas dari tokoh politik daerah dan kejujuran dari tokoh-tokoh tersebut dimata masyarakatnya, misalkan saja Gubernur Kalbar,kl saya amati beliau pantas jadi Gubernur kalbar,kr selain jujur dan berwibawa ditangan beliau dengan bantuan rakyat kalbar, kalbar akan jauh lebih maju,contoh yang dapat dimabil sekarang sudah terjadi pengurangan angka pengangguran dikalbar,ini bukti kinerja beliau dan contoh-contoh lain akan menyusul,karena pd prinsipnya rakyat butuh pemimpin yang berhati rakyat bukan hanya memberikan janji-jani.

  7. rio Says:

    hati-hati dengan gerakan provokasi antara golkar dengan pdi perjuangan, karena bisa-bisa kecolongan kaum”sontoloyo”yang menjadi kuda hitam, seperti di pilgub jabar..
    dua partai besar dikentutin PARTAI KAUM SONTOLOYO
    apa kata dunia bung!!!!!!

  8. Dea Purnomo Says:

    Kemenangan PDIP sebagai wujud kekecewaan terhadap pemerintah SBY-JK. Selamat Mbak Mega, kami rakyat Jateng siap menghantarkan jadi presiden dalam pemilu 2009

  9. Robert Manurung Says:

    @ Marte

    Pernyataan Anda setengahnya benar, yaitu bahwa yang paling utama adalah kualitas, komitmen dan integritas si pemimpin. Tapi ibarat buah yang lezat, segar dan menyehatkan; pasti berasal dari pohon/tumbuhan dong. Itulah setengah kebenaran lagi yang Anda anggap tidak penting, namun mustahil bisa diingkari atau ditiadakan dalam sistem demokrasi.

    Hati-hati dengan pemikiran yang anti terhadap keberadaan partai politik. Tanpa partai politik, kekuasaan yang muncul adalah premanisme, raja absolut, atau tokoh yang mendapat mandat dari persekongkolan di politbiro seperti di Uni Soviet dulu.

    Salam Merdeka!

    @ rio

    Cobalah “menguliti” kuda hitam yang Anda bilang sontoloyo itu, siapa tahu di baliknya Anda akan melihat seragam loreng seperti kuda zebra. Dan kalau memang begitu nyatanya, apakah terlalu aneh kalau “kuda zebra” itu bergaul dengan banteng ?

    @ Dea Purnomo

    Aku setuju. Tapi apa ya tidak ada faktor positif pada PDIP yang membuat rakyat bersimpati dan mendukungnya ?

  10. dedet Says:

    HIDUP PKS…JAYALAH PARTAI ISLAM
    ALLAHU AKBAR

  11. fajar Says:

    ketika rakyat sudah mulai cenderung memilih kembali PDIP diberbagai ajang Pilkada, sayang sekali PDIP malah terjebak pada irama politik yang dimainkan oleh Golkar minggu ini. menurut hemat saya tidak semestinya Bapak Taufik kemas melayani tawaran koalisi dari Golkar pada acara Silaturahmi Dewan penasehat Golkar…. Karena tawaran Koalisi dari Golkar tersebut sebenarnya adalah jalan dari Golkar menyelamatkan Partainya dari kekalahan telak pada pemilu 2009 nanti, karena rakyat pada saat ini sudah semakin menjauh dari Golkar.Mereka mencoba mencari selamat dengan cara mengedepankan kembali sisi ideolgi Nasionali…mereka mencoba untuk mensejajarkan diri kembali dengan tokoh..tokoh PDIP dan Partai PDIP dan ketika irama ini dimaiinkan dan ternyata PDIP ikut terjebak, maka Golkar akan mendapat keuntungan Politik yaitu Rakyat akan merasa Bahwa GOLKAR dan PDIP adalah sederat…sama cita-cita, sama program dan sama VISi…dan rakyat melihat bahwa Politisi Golkar sangat dihargai oleh Politisi PDIP….sebagai Referesentative Rakyat. Dan pada gilirannya akan membuat rakyat lupa bahwa kebobrokan indonesia selama ini sebagian besar adalah hasil dari kontribusi Golkar…dan akibatnya rakyat akan tdk akan mengambil sikap tegas terhadap Golkar. dan Golkar akan selamat. Seharusnya elit PDIP menyadari bahwa mereka lebih baik berkosentrasi sendiri meyakinkan rakyat bahwa NKRI, IDeolgi Pancasila, Keadilan dan kesejahteraan Rakyat akan lebih terjamin jika PDIP dipilih Rakyat.

    trims.
    0811547248

  12. lawan tempur Says:

    ulasannya bagus lae, saya salut, lae terus berjuang karena partai adalah pribadi manusia yang terprogarm jadi suatu sistem yang akan mensejahterakn rakyat dan menjaga harga diri tentu harapan kita itulh PDIP nantinya, memang patut pdip untuk menang karena pdip adalah partai yang merelasikan kesejahteraan rakyat,HIDUP PDIP ALWAYS FOREVER, HIDUP IBU TERCINTA MEGAWATI SUKARNO PUTRI,SELAMAT BERJUANG ,,,,,,,,MERRRRRRRRRDEEEEEEEEKAAAAAAA,REBUT INDONESIA DEMI KESEJAHTERAAN RAKYAT KEMBALIKAN BAJU NASIONALISME KITA

  13. muhjamil Says:

    Salam Hormat, Salam Senyum Kanggo Sedulur Kabeh
    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Perkenalkan, Saya H.M.Jamil,SQ,MPd ingin meminta dukungan Saudara dalam pemilihan Caleg DPR RI PPP 2009 Dapil Kebumen, Banjarnegara & Purbalingga.
    Semoga bermanfaat bagi kita semua.
    Salam Hangat buat Keluarga Anda
    Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

  14. nurjannah Says:

    Insya Allah PDIP nggak menang dalam pemilu 2009…..Amiin

  15. AKI MARHAEN Says:

    Di 7 Provinsi PDIP menang (Selamat!!!) di Jabar PDIP kalah oleh bukan politisi tapi oleh Da’i (asal PKS, dan dukungan kuat sebenarnya untuk PAN DEDE BODREX)
    Alasannya ; Tim kampanye PDIP di daerah tidak eksis kepada komitmen, tetapi berkaitan dengan PEREBUTAN ALAS, masyarakat pemilih dibiarkan secara naturalis.
    Kepada Bapak Gubernur Jabar, urus pemerintahan dengan serius, tinggalkan khutbah, khutbah jatah MUI atau yang terkait, percayakan khutbah kepada mereka secara penuh walau Bapak bergelar Lc (Da’wah) sekarang Bapak Gubernur bukan lagi Da’i (walau sebenarnya seorang Gubernur bisa, hanya jangan keterusan dan kebiasaan).
    Kepada Bu Mega, kekalahan Ibu di 2004 harus jadi pembelajaran utama di Pilpres sekarang, jangan terlalu percaya kepada struktur partai di daerah ( terutama di Jabar),

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: