Kau ! Sudah Batak, Kristen Pula ! Mana Mungkin Jadi Presiden ?

Pendek kata, biar pun UUD 45 menjamin hak warga negara untuk menjadi calon presiden, namun setiap anak Batak yang beragama Kristen harus menghapus cita-cita itu sejak kecil. Sepintar apapun mereka, jangan pernah mimpi sekadar mencalonkan diri jadi presiden di negara berdasarkan Pancasila ini.

Oleh : Robert Manurung

DIJAMIN tidak banyak orang Indonesia yang tahu atau menyadari, bahwa negara kepulauan ini pernah dipimpin oleh orang Batak. Amir Sjarifuddin Harahap, namanya, beragama Kristen; menjadi Perdana Menteri Indonesia pada periode singkat tahun 1947-1948.

Kemudian, kebanyakan orang Indonesia juga tidak tahu atau tak menyadari, bahwa Adam Malik yang pernah menjabat Wakil Presiden di era Orde Baru adalah orang Batak, marganya Batubara.

Fakta sejarah ini aku kemukakan sehubungan dengan kartun di atas. Judulnya datar-datar saja, Kriteria Presiden, namun ternyata mampu menusuk ke dasar alam batin sebagian besar etnis Batak. Orang Batak boleh saja bercita-cita selangit, kecuali satu : jangan pernah mimpi jadi presiden Indonesia!

Kartun yang memperolok-olok diri sendiri itu, atau yang menyindir pihak lain karena diskriminatif terhadap orang Batak, aku comot dari blog Kartun Batak.

Kartun ini adalah gugatan terhadap realitas sosial-politik kita, yang membuat kebanyakan orang Batak diposisikan sebagai persona non grata di Tanah Airnya sendiri; merasa dikucilkan secara sosial, dan menjadi korban diskriminasi dalam persaingan karir dan politik.

Kalaupun saat ini ada segelintir orang Batak yang menduduki jabatan penting di negeri ini, itu adalah hasil perjuangan yang dua kali lipat lebih berat dibandingkan dengan perjuangan etnis lain. Ada semacam patokan yang diyakini oleh orang Batak, bahwa dalam penentuan personil untuk menduduki jabatan penting orang Batak harus punya kelebihan yang mencolok, baru terpilih. Kalau kualifikasinya seimbang, si orang Batak akan dicoret.

Pendek kata, biar pun UUD 45 menjamin hak warga negara untuk menjadi calon presiden, namun setiap anak Batak yang beragama Kristen harus menghapus cita-cita itu sejak kecil. Sepintar apapun mereka, jangan mimpi sekadar mencalonkan diri jadi presiden di negara berdasarkan Pancasila ini.

Adanya anggapan-anggapan fenomena seperti ini di tengah-tengah bangsa kita adalah satu masalah yang tak boleh diabaikan, karena dalam jangka panjang pasti akan menimbulkan persoalan. Seyogyanya gugatan yang disampaikan lewat sindiran tajam kartun di atas dapat menjadi bahan renungan bagi kita semua selaku anak bangsa, demi menjaga kekompakan dan keutuhan Bangsa Indonesia..

Merdeka!

Tag: , , , , , , , , , , , , , ,

48 Tanggapan to “Kau ! Sudah Batak, Kristen Pula ! Mana Mungkin Jadi Presiden ?”

  1. nirwan Says:

    Sebagai orang merdeka dan menghasut setiap orang untuk berpikiran merdeka, seharusnya Anda membuang pemikiran itu jauh-jauh dari backmind Anda. keep ‘n fight! :)

  2. dana Says:

    Untuk kondisi sekarang ini memang agak susah lae. Sebab isu beragama apa masih sangat didengar masyarakat. Mungkin semakin ke depan nantinya, isu agama sudah tidak penting lagi karena masyarakat sudah semakin dewasa.

    Kalo isu bataknya sih masih bisalah diatasi dengan prestasi. Agama ini yang susah.

  3. hanggadamai Says:

    benar jangan samapai perbedaan ini jadi memecahbelahkan persatuan dan kesatuan bangsa

  4. dobelden Says:

    Chauvinisme masih lekat erat ya disini

  5. Robert Manurung Says:

    @ nirwan

    Kartun di atas aku ambil dari blog orang lain, yang juga pernah Lae kunjungi. Aku mencomot dari sana dan menampilkan di sini karena menurut penilaianku apa yang disuarakan oleh kartun itu adalah suara mayoritas orang Batak, khususnya yang beragama Kristen. Itu suara suatu kaum yang ikut mendirikan republik ini.

    Kita semua harus melatih diri untuk bisa menerima adanya kenyataan diskriminatif seperti diartikulasikan oleh kartun itu. Bangsa ini harus belajar terbuka dan jujur terhadap realitas yang ada, termasuk dalam memandang sejarah, kemudian dari situ kita perkuat ikatan kebangsaan kita yang sudah mulai lapuk dan membusuk itu .

    Konsepsi SARA yang diciptakan rezim Soeharto telah meninggalkan banyak masalah, bahkan bom waktu. Kita harus berani mengurai dan menyembuhkannya satu per satu.

    Sebagai seorang nasionalis aku melihat Indonesia adalah kumpulan suku-suku, bukan agama-agama. Dan sejarah perjuangan Indonesia adalah sejarah suku-suku–sejarah laskar petani, bukan sejarah militer, apalagi sejarah perjuangan agama tertentu.

    Apakah tidak janggal buat Lae, orang Batak Kristen yang ikut membentuk bangsa ini dan mendirikan negara ini kok dihalang-halangi secara sosio-politis untuk ikut mengemban tanggung jawab tertinggi yaitu mengemudikan bangsa ini ?

    Apa bukan sebuah anomali jika suatu saat kelak orang-orang keturunan Arab, yang leluhurnya berasal dari Yaman merasa lebih berhak memimpin bangsa ini daripada orang Batak ?

    Aku tidak keberatan jika para keturunan imigran dari Hadratulmaut atau Cina atau India suatu saat kelak memimpin Indonesia, tapi janganlah mengingkari apalagi menghapus hak asasi orang Batak (apapun agamanya) yang nota bene adalah pribumi Indonesia.

    Lae Nirwan, secara pribadi aku hidup di lingkungan multikultur, terutama Betawi, Jawa, Arab, Sunda, Cina, dan Ambon. Aku makan dan tidur di rumah mereka. Itu secara sosial.

    Aku juga pernah sebagai satu-satunya wartawan non-Jawa di koran Suara Merdeka.

    Tapi secara politik, aku melihat ada diskriminasi yang sistemik terhadap orang Batak, Menado, Dayak, Ambon, dan Papua; hanya lantaran mereka memuliakan nama Tuhan dengan cara yang berbeda.

    Politik diskriminasi ini tidak punya dasar historis maupun kewilayahan, karena etnis-etnis tersebut adalah pendiri negara ini dan pemilik sebagian besar tanah air di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

    Ayo berpikir Merdeka, kemudian menyuarakannya secara Merdeka, untuk membebaskan bangsa ini dari kerukunan semu dan perkembangan sosial-politik yang ahistoris dan inkonstitusional.

  6. Toga Says:

    jawaban klasiknya mungkin, semua butuh waktu. amerika serikat pun butuh 200 tahun, sampe punya presiden dari daerah selatan. baru saat ini mereka mengetes nasibnya untuk punya presiden (agak) itam.

    tp emang tak ada pula alasan untuk selalu berkiblat pada amerika, sehebat apapun dia.

    ah, merdeka lae!

  7. esai foto Says:

    Salom, Tuhan memberkati

    saya setuju dengan artikel anda dan artikel anda membuat saya makin terinspirasi untuk berjuang memerdekan kampunku, menjadi sebuah negara baru lepas dari cengraman NKRI,
    MAAF PERNYATAAN SAYA BUKAN SARA TAPI FAKTA……….

    selama orang jawa masih meyakini ramalan joyoboyo dengan ratu adilnya/ notonogoro dan membaMbangkan kerajaan majapahit dan mataram, mimpi buruk bagi orang di luar pulau jawa tak bakalan, orang di luar jawa jadi presiden dan panglima militer, ingat pernyataan wakil presiden JK waktu di tawari menjadi calon presiden jawabnya “SAYA BUKAN ORANG JAWA”

    orang jawa di negeri ini terlalu dominan mulai dari presiden sampai panglima militer mereka kuasi, padahal dalam sejarah orang jawa hanya dua kali berperang melawan belanda pertama, perang di penogoro kedua perang kemerdekaan tahun 45 ( dan itu pun mereka berperang di bantu orang yang di luar jawa) jadi jangan heran kalau bangsa jawa beranak pinak di negeri ini karana kurang yang mati melawan belanda dan jangan lupa orang jawa di jajah belanda 350 tahun karena rajanya kompromi dengan penjajah.

    apakah itu strategi politik agar rakyatnya tidak banyak di bunuh belanda dan kelak bisa menjadi dominan karena mayoritas ?

    yang celakanya, bangsa bugis dan aceh terus berperang belawan belanda hingga tahun 1900, dan dijaman kemerdekaan masih berperang melawan tentara jawa (maaf itu kata kakek saya di kampung beliau selalu bilang TNI itu tentara jawa) akhirnya rakyatnya habis terbantai dan nasibnya dianggap pemberontak

    keuntungan bangsa jawa adalah pusat pemerintahan koloni belanda berpusat di jawa, denga menerapkan sistem sentralisasi dalam mengusai para raja-raja. dan yang di maksud indonesia menurut perjanjian meja bundar adalah bekas koloni belanda (itu perjanjian yang paling sial alias mimpi buruk bagi bangsa papua, padahal bangsa papua bukan ras melayu, dan orang papua tidak ada pahlawan nasionalnya)

    menurut penerawangan ku ( maaf meminjam istilah si joko bodo ) indonesia tidak sampai 100 tahun akan bubar, lihat yogoslavia karana bangsa serbia terlalu dominan akhirnya bubar. dan apa pedulinya Tuhan mempertahankan NKRI dimana pejabatnya korup dan sarang portitusi, (dan saya setuju kalau para koruptor di hukum mati kalau perlu di mutilasi)

    dan selama indonesia merdeka 6 presiden orang jawa tidak becus memimpin negeri ini, jadi kalau yang menjadi calon presiden masih orang jawa ” SAYA GOLPUT ”

    saya bukan seorang nasionalis tapi saya hanya seorang ibu mudah yang sadar bahwa indonesia ini bukan lagi sebuah lembaga yang nyaman untuk di naungi, cuma itu, kalau kelak cita-citaku tidak kesampaian untuk memperjuangkan kampungku untuk menjadi negara baru, saya yakin anakku akan menjadi penerus, mereka boleh boleh menyalib ragaku tapi jiwaku tidak.

    INGAT nkri BUKAN MILIK SATU GOLONGAN (dan bukan cuma orang jawa dan agama tertentu yang berjuang melawan belanda )…………

  8. teguhtimur Says:

    salah satu hal yang saya syukuri adalah lahir dan besar di medan, di tengah keluarga batak pula!

    kota itu memberi kesempatan kepada saya untuk mengalami dan mempelajari hidup di tengah kemajemukan; sesuatu yang amat berguna di zaman edan ini.

    bung RM, saya tak sedang menafikkan stereotyping di tengah masyarakat. di masyarakat manapun di muka bumi ini saya kira–setidaknya di negara-negara yang pernah saya kunjungi–stereotyping, apalagi yang berkaitan dengan SARA, sungguh ada. dan ia jadi bagian dari realita sosial.

    nah, tugas orang-orang seperti kita lah memerangi stereotyping itu, apalagi bila ia menjurus ke arah diskriminasi, baik politik maupun ekonomi.

    saya ingin melihat persoalan batak plus kristen dan kursi presiden yang bung sampaikan pada posting di atas, dari sudut yang berbeda. bukan dari sudut stereotyping dan diskriminasi. menurut hemat saya, hal ini adalah “konsekuensi formal” dari sistem politik yang memang menggunakan “jumlah suara” sebagai dasar pengambilan keputusan terutama yang berkaitan dengan jabatan-jabatan politik.

    dengan jalan pikiran ini, saya dapat memahami kekhawatiran yang disiratkan oleh bung nirwan.

    saya kira, untuk sementara itu dulu.

    saya sedang mempersiapkan kata pengantar untuk buku ann dunham, ibu obama, yang akan terbit bulan oktober nanti. dan salah satu bagian yang ingin saya tulis di pengantar itu adalah mengenai pelajaran berharga yang dipetik obama dari kemajemukan indonesia–terlepas bahwa selama masa soeharto kemajemukan dan, mengutip bung RM, kerukunan itu hanya sekadar dipajang di etalase.

    saya tak pernah berbicara dengan obama. adalah maya soetoro, adik tirinya, yang mengatakan betapa obama belajar banyak dari kemajemukan kita.

  9. Robert Manurung Says:

    @ teguhtimur

    Terima kasih Bung Teguh sudah ikut meramaikan tukar pikiran mengenai topik yang dianggap sensitif dan bahkan tabu ini. Aku yakin Bung bisa mengerti tujuanku mengangkat isu ini, dan sebagian sudah kena sasaran dilihat dari pertukaran pendapat yang terjadi.

    Soal adanya stereotip seperti yang Bung sebutkan, itu memang gejala universal. Aku tak mempersoalkan itu, apalagi karena orang Batak pada umumnya sangat cerdik dan terbukti berhasil mengatasi masalah semacam itu.

    Yang kusayangkan adalah statement kalangan politisi Islam setiap kali mau pemilihan presiden. Mereka selalu menekankan bahwa salah satu kriteria calon presiden Indonesia : harus beragama Islam. Konyol kan ?

    Kalau saja tidak digembar gemborkan, sebenarnya tidaklah jadi soal kalaupun negara ini selama-lamanya dipimpin oleh presiden beragama Islam. Tapi dengan selalu didengung-dengungkan, mereka seperti membuat sendiri dengan semena-mena pasal-pasal tambahan di UUD kita, lalu mendiktekannya secara paksa.

    Ini masalah psiko-politik Bung, yang kemudian merembet ke dalam kehidupan sosial; gara-gara ulah para politisi yang menjual agama itu.

    Jika dibandingkan dengan tahun-tahun awal kemerdekaan, kita mundur sangat jauh, Bung. Politisi negarawan seperti Natsir tidak ada lagi di kalangan politisi Islam sekarang ini.

    Akhir kata, selamat buat Bung Teguh untuk proyek bukunya. Mainkan kawan, supaya aku punya alasan untuk sedikit hormat pada dunia pers Indonesia yang dulu kutinggalkan karena sudah terlalu hipokrit dan nihilis.

    Salam Merdeka

  10. Robert Manurung Says:

    @ dana
    @ hanggadamai
    @ toga

    Yang kita minta adalah merrit system atau MERITOKRASI . Biarkan cina beragama budha atau papua beragama katolik memimpin republik ini, jika jejak rekam, integritas dan program yang ditawarkan lebih baik dari kandidat lain.

    Politik diskriminasi akan menghalangi tampilnya pemimpin yang lebih baik, hanya lantaran dia tidak mengenakan kopiah dan simbol-simbol Islam lainnya.

    Terima kasih kawan-kawan. Salam Merdeka!

  11. FraterTelo Says:

    Sebagai orang Jawa, saya tak pernah peduli dengan Batak, Jawa, Sunda, Arab boleh juga, untuk jadi pemimpin di negeri ini. Siapapun mangga, silakan. Dalam kamus saya, tak ada kriteria suku tertentu untuk jadi presiden di negeri ini. Kalau saya tak setuju dengan calon-calon yang maju, ya saya GOLPUT. (dan kemungkinan besar 2009, akan begitu…sehingga GOLPUT lagi-lagi akan menang).
    Benarlah apa yang abang tuliskan, bahwa jangan pernah bermimpi jadi presiden negeri ini kalau kau bukan orang Jawa dan Muslim. Tak apalah, bagiku, kalau waktu belum jua berpihak. Serba salah, menurutku, ketika menyinggung masalah SARA dalam ranah publik nanti dikira memprovokasi yang tidak-tidak, namun ketika tidak diangkat, yah dianggapnyalah kita ini gambar mati. Benarlah, kata sobat yang menulis ini waktunya belum tiba. Maka, ketika peran sebagai orang Batak dan non Muslim belum “diperbolehkan” untuk jadi presiden, marilah kita jadi presiden untuk diri kita sendiri dan lingkungan terdekat. Kalaupun tak boleh lagi jadi presiden, ya marilah jadi sindhen … he he he. Maksud saya marilah kita tetap berperan sebagai seorang nasionalis sejati.

    Salam Pembebasan!
    pesen: artikel Fernando Lugo dah ada belum bang?
    Tks

  12. Emanuel Setio Dewo Says:

    Teruslah berjuang.

  13. batuhapur Says:

    @esai foto

    salut dan kita sepemikiran…. secara pribadi tidak ada gunanya negara ini dipertahankan bila melihat smua ketidak adilan yang terjadi. dan maaf bagi pembaca yang lain , saya bukan seorang provokator, mohon di maklumi.
    lihat aceh… kandungan harta di bumi Aceh…yang hasilnya di angkut bulat pemerintah pusat dan tidak ada pembanunnan yang memadai. jgn salahkan rakyat aceh yang minta dan memberontak untuk membentuk negera sendiri…rakyat aceh adalah keturunan orang hebat.. bukan seperrti jawa yang nota bene di jajah sampai 350 tahun… jadilah karakter budak..

    masih banyak ketidak adlilan yang kita tidak tahu. terutama pembangunan Gereja yang dihalang-halangi…negara apa ini..??????
    untuk mengoimentari diatas jadi presiden, terlalu jauh iotu bagi orang batak… kenapa??? itu tadi… AGAMA..
    Bila negara ini tidak becus dan masih sebelah pihak ke satu ras atau golongan… mari kita bentuk negara sumatera atau tapanuli merdeka…

    dan saya yakin karena orang batak hebat2 di segala bidang, dalam 20 tahun kedepan, sudah menyamai kemajuan negara eropa.

    Merdeka…

  14. Giyanto Says:

    Nama saya “GIYANTO”, jawa banget kan? dan alhamdullilah kebetulan beragama “ISLAM”.

    Tapi kalau saya disuruh memilih presiden antara Amien Rais dengan Pak Robert Manurung, maka saya akan memilih Pak Robert.

    Karena, pandangan Amien Rais lebih “berbahaya” dalam bidang kebijakan ekonomi daripada Pak Robert Manurung.

    Gimana? Mau nyalon nggak. Tapi Pak Robert harus belajar Ilmu Ekonomi dulu,he2..

    Salam

  15. Robert Manurung Says:

    @ Giyanto

    Nuwun sewu Mas Giyanto. Aku senang menemukan kenyataan mengenai sikap Anda, yang sebenarnya sudah kuduga memang seperti itu. Memilih Robert Manurung daripada Amien Rais, itu sudah menjawab semuanya. Aku bangga pada sikapmu, dan senang karena kita masih punya modal untuk masa depan bangsa ini.

    Aku jadi calon presiden ? Kenapa tidak ? Tapi untuk saat ini, aku masih ingin melanjutkan peranku sebagai provokator di blog ini, siapa tahu bisa merangsang tumbuhnya pemikiran-pemikiran terbuka, merdeka dan kritis.

    Selama ini aku merasa kesepian di tengah-tengah arus besar pemikiran yang pragmatis, kompromistis, fixed, final logic, dan serba kebendaan. Namun dengan ngeblog aku bertemu (dan mendapat pencerahan dari) orang-orang Indonesia yang berpikir merdeka seperti Giyanto, Toga, Frater Telo, dana, Hanggadamai, batuhapur, esaifoto, sawali tuhusetya, mualaf menggugat, dan banyak lagi.

    Relevan dengan topik ini, aku hanya menginginkan supaya anakku yang sekarang masih kecil tidak merasa numpang atau indekos di rumah bangsa bernama Indonesia ini. Aku ingin dia enjoy, at home, dan mencintai negeri ini dengan suku-sukunya yang beragam, alamnya yang elok, dan cara memuja Tuhan yang beraneka.

    Aku ingin anakku berani bercita-cita menjadi Presiden RI, meski nantinya dia hanya menjadi pegawai kecil di kaki gunung Merapi atau nelayan di perairan Papua. Dan jika kelak umpamanya republik ini berperang dengan Filipina, aku ingin anakku menjadi martir untuk Merah-Putih, meski musuhnya sesama Kristen.

    Salam Merdeka!

  16. nancy Says:

    Dulu kamu minoritas hanya bisa bermimpi menjadi presiden, namun sekarang telah terbuka jalan bahwa diskriminasi itu mulai hilang. Pemimpin yang andal adalah bukan hanya mereka yang mempunyai vision and passion tapi juga yang memiliki divine direction.

    Tetap merdeka Pak

  17. Singal Says:

    Bhineka Tunggal Ika, Satu Nusa Satu Bangsa, hehehe…

  18. Liber Manurung Says:

    BHINEKA TUNGGAL IKA,,,,,,,, itu slogan waktu SD,SMP di kampung halaman, saya paham artinya, akan tetapi sejak SMA sampai kuliah di Jakarta, saya malah bingung arti sebenarnya. Demikian juga dengan slogan PANCASILA dan UUD 1945 pasal demi pasal sangat baik tulisannya akan tetapi membingungkan dalam mencari arti yang sebenar-benarnya. TETAPI mungkin itulah Indonesia, negara yang kita cintai bersama ( …apakah betul,,,??? ). Ada satu percontohan yang akan saya kemukakan bahwa…. AIR ITU AWALNYA BENING……, namun dalam kondisi tertentu bisa/akan berubah menjadi keruh,,,coklat,,,hitam,,,kuning,,,,beku,,,,butak,,,,dll. ARTINYA,,,, negara kita ini juga awalnya dibuat dengan tujuan yang baik dan mulia yaitu untuk kesejahteran dan kemakmuran seluruh rakyat Indonesia TANPA memandang SARA,,,,itulah awalnya. Akan tetapi dalam perjalanan waktu apa yang terjadi adalah sebagaimana yang kita lihat bersama,,,, yaitu adanya pengelompokan berdasarkan agama, suku, asal usul, kepentingan, paham dll. Dalam konteks diatas ( kartun lucu,,,, ) itulah yang nyata/masih nyata sampai sekarang sebagai akibat dari pengelompokan termaksud. Kita tidak perlu berbantah-bantahan untuk hal yang nyata, namun juga tidak perlu menyudutkan seseorang karena topik diatas, apalagi kalau kita bicara sebagai GENERASI MUDA MANURUNG yang masih punya kesempatan dalam merubah sesuatu yang kurang baik menjadi baik. Mari kita saling bersatu untuk tujuan yang baik dan mulia, tanpa harus berdebat tentang suatu kenyataan dengan suatu teori/slogan. Untuk saat ini barangkali kita yang punya label tertentu belum punya kesempatan untuk menjadi PRESIDEN ( walaupun secara uu dan peraturan memungkinkan,,,, ), mungkin suatu saat nanti dan setelah situasi, kondisi berubah, kesempatan itu akan muncul, secara bertahap dan melalui bukti yang nyata kita beri contoh bahwa kita bisa dan mampu untuk duduk sebagai Presiden,,,,harapan harus selalu ada,,,!!!! HORAS MA DI HITA SASUDENA, ANGGIAT MA TUHAN MEMBERKATI SUDE BANGSA INDONESIA, AMIN.

  19. Liber Manurung Says:

    AIR ITU AWALNYA BENING,,,,,,,,,,,,,,,,,,DAN AKAN KEMBALI KENING.

    Sattabi adong na hurang,,,( lanjutan )

    Ada satu contoh yang akan saya kemukakan disini.

    Mari kita coba berfikir sejenak,,,, bahwa 10 tahun lalu,,,,20 tahun lalu,,,,,30 tahun lalu,,,, Apakah mungkin seseorang BATAK dan KRISTEN pula akan dipilih menjadi seorang Ketua Rukun Tetangga, Ketua Rukun Warga di daerah Jatirasa, jatiasih, Bekasi, yang notabene termasuk daerah yang serba serbinya dipertanyakan. Tetapi sekarang apa yang terjadi disana ? Puji Tuhan sejak 4 tahunan yang lalu sudah banyak BATAK KRISTEN yang dipilih warga sebagai ketua RW/RT( ,,,, terutama yang tinggal di Kompleks perumahan, salah satunya KRISTEN,BATAK dan MANURUNG pula,,,,, termasik saya sebagai salah seorang ketua RT di kelurahan Jatirasa, sekitar 1 tahun yang lalu terpilih melalui cara yang sangat rahasia sesuai dengan hati nurani masing-masing warga ( ,,,, pilihan ditentukan dalam ampelop yang dibagikan pada setiap warga lalu 2 hari kemudian dikembalikan pada pengurus ). Waktu itu saya, istri dan anak anak saya tidak menyangka akan terpilih jadi ketua RT. Komposisi warga sebanyak 32 KK,,,,, Muslim 26 KK,,,,,Nasrani 6 KK ( diantaranya Batak 3 KK ). Kemenangan saya waktu itu adalah dengan suara 23 KK ). HAHAHAHAH,,,,,, walaupun hanya sebatas ketua RT,,,, dan tidak bergaju pula , tapi saya dan keluarga serta saudara saya yang Manurung dan sesama batak/ Kristen bangga bisa terpilih. Ini adalah suatu contoh perubahan kondisi sesuai dengan perjalanan waktu ( rasanya 20 tahun yang lalu,,,hal seperti ini tidaklah mungkin atau sangat kecil kemungkinannya ).
    Demikian juga untuk jabatan sebagai PRESIDEN,,,tidak tertutup kemungkinan akan dapat dijabat oleh BATAK dan KRISTEN pula. Marilah kita memberi bukti yang baik dan terpuji kepada lingkungan hidup kita masing-masing melalui perilaku, tindakan dan perbuatan sehari-hari. MAULIATE.

  20. inang gabe Says:

    sudah batak kristen pulak… so whattt ???

    sudah batak masih ngaku islam… so whatt ???

    trus kalo batak … harus apa ????

  21. togarsilaban Says:

    “Kalaupun saat ini ada segelintir orang Batak yang menduduki jabatan penting di negeri ini, itu adalah hasil perjuangan yang dua kali lipat lebih berat dibandingkan dengan perjuangan etnis lain. Ada semacam patokan yang diyakini oleh orang Batak, bahwa dalam penentuan personil untuk menduduki jabatan penting orang Batak harus punya kelebihan yang mencolok, baru terpilih. Kalau kualifikasinya seimbang, si orang Batak akan dicoret.”

    Statement diatas, sulit dipungkiri, meski tidak mudah dibuktikan. Tidak akan ada aturan yang membenarkan itu. Tapi tanyalah putra-putra Batak yang sempat diangkat untuk suatu posisi strategis diberbagai tingkatan. Saya yakin mereka akan menjawab bahwa statement diatas benar.

    Berapa banyak putra Batak yang prestasinya bagus, ketika saatnya tiba akan dipromosi di posisi strategis, maka dia akan disalip oleh orang lain. Tanyalah jenderal Sintong Panjaitan, dan putra-putra Batak lainnya. Track rekord Sintong Panjaitan, nyaris tidak tertandingi pada waktu itu. Tetapi secara sistematis dia “digergaji”. Kasus di Dilli oleh “satuan tidak dikenal” itulah kemudian yang menenggelamkan Sintong, yang kala itu menjabat Pangdam.

    Contoh yang mungkin masih kental adalah Jaksa Agung Muda yang baru diangkat sekarang menggantikan JAM yang kena kasus. Secara teoritis, putra Batak itu sudah menjabat Sekretaris JAM DATUN, karirnya lengkap, tapi ketika JAM DATUN yang sebelumnya pensiun, secara teoritis, si Batak itu yang mestinya naik. Tapi buru-buru ia digeser ke tempat lain, maka Pak Untung yang jadi JAM, yang ternyata kemudian buntung.
    Kalau saja Jaksa Agung bukan Hendarman Supanji, jangan harap ada putra Batak itu ditarik lagi ke Kejakgung, dan menjadi JAM.

    Tentu, kalau beliau (JAM yang sekarang) ditanya wartawan, jawabannya mestilah normatif. Tapi kalau dia bisik-bisik sama lae Robert Manurung, pastilah diceritakan semua.

  22. Marudut Pasaribu Says:

    Selama NKRI belum berubah jadi negara sekuler maka “kecenderungan” ini masih akan tetap ada. Rakyat Indonesia yang mayoritas Islam pasti tidak akan membiarkan orang di luar Islam untuk menjadi pemimpin karena pemimpin negara adalah juga seorang Imam. Tak mungkin Imam agama Islam dijabat oleh Non Islam. Jangan tanyakan ke aku ayat-ayat yang mendukung pernyataan di atas, karena memang aku tidak tahu tapi…semua itu kualami pada saat kuliah. Usaha penjegalan terhadap calon-calon ketua senat Non Islam akan dilakukan dengan segala macam cara. Dari menyampaikan kelemahan sang calon sampai membacakan ayat-ayat agama yang mendukung penjegalan tersebut. Bahkan sampai mengganti kertas suara juga dilakukan.

  23. Giy Says:

    @Marudut Pasaribu:
    “Usaha penjegalan terhadap calon-calon ketua senat Non Islam akan dilakukan dengan segala macam cara”

    Giy:
    Ya itulah politik! “kejahatanya” tiada tara. Dia tidak memandang tuhan sebagai tujuannya, tetapi memandang Tuhan sebagai caranya”.

    Apabila tidak demikian, maka dia tidak disebut manusia.

  24. antoni manullang Says:

    Orang Batak jadi presidan? memang kalau dilihat saat ini itu tidak memungkinkan,kenapa?? Sebab Jumlah orang2 batak pada saat ini masih sangat minim,sedangkan anda tau sendiri sistem pemilihan presiden saat ini melalui banyaknya sura.Kalau dibandingkan dengan orang2 Jawa jumlah orang Batak itu tak sampai seper empatnya orang Jawa, jadi bagaimana orang Batak akan terpilih jadi Presiden? Perlu juga anda sadari orang yang paling merasakan pahitnya penjajahan itukan orang jawa….jadi anda harus maklum atas hal itu.Saya sendiri sebagai orang Batak tulen kalau dipilih jadi Presiden Indonesia ogah(ga’ mau ah).Saya akan menderita memimpin indonesia ini,bagaimana mungkin saya kuat melihat orang2 pada korupsi,kita ikut korupsi kita berdosa… ,kita tak ikut kita rugi dong… jadi yang ada akan jadi serba salah jadinya.Jadi untuk itu saya berpendapat biarkanlah dulu mereka yang berkuasa untuk jaman yang edan ini nanti kalau jaman sudah berubah lebih baik baru kita ambil bagian kita,bukankah begitu lae…? aku percaya bila TUHAN MENGHENDAKI apapun yang kita minta Pasti akan dikabulkan percayalah,TUHAN berkata dalam kelemahanmulah kutunjukkan kuasaku,jadi jangan takut kalau saat ini kita dalam keadan lemah dantak berdaya karna disitulah kita temukan kuasa TUHAN itu memang benar-benar terbukti.AMIN
    HORAS UNTUK SEMUA ORANG BATAK DIMANA PUN BERADA,BANGGALAH JADI ORANG BATAK.MOLO HOLONGDO ROHAM TU BONA NI PASOGITMU PATUREMA HUTAM.MARTABE(MASSIPATURE HUTANA BE).HORAS……!!!!

  25. Adang Says:

    Lae ikut urun rembuk, resistensi golongan mayoritas terhadap minoritas untuk berkuasa akan selalu ada dimanapun termasuk di negara yang mendewakan demokrasi seperti Amerika, disana jangan harap bakal ada Presiden yang muslim, Menurut saya jika perbedaannya hanya etnis tapi satu keyakinan agama terkadang komunitas mayoritas masih ada sedikit toleransi, tapi kalau sudah ke perbedaan keyakinan (agama, faham sosial)ini sangat sulit Sama halnya dengan saya yang bekerja di perusahaan yang mayoritas non muslim dan dari etnis Tionghoa adalah sulit buat saya yang urang sunda untuk bermimpi jadi kepala seksi sekalipun. Mereka akan lebih memilih Koh Lie … yang walaupun rada ndablek yang penting satu etnis dan Agama.

    Walaupun kita berteriak teriak bahwa kita tidak bisa memilih untuk dilahirkan sebagai Islam, Kristen, Budha, bahkan atheis, tapi mungkin masih perlu waktu puluhan tahun untuk mengubah hal ini, tidak hanya di Indonesia tapi di seluruh Jagat raya

    Mungkin John Lenon benar .. saat ini kita hanya bisa bermimimpi ” Imagine.. No Coutry, No Border, No Religion …… bisa hidup berdampingan dengan damai tanpa syak wasangka.

  26. Robert Manurung Says:

    @ antoni manullang
    @ Adang

    Kalau artikelnya dibaca dengan cermat, Anda berdua akan tahu bedanya antara kalah berkompetisi dengan mayoritas dan TIDAK BOLEH IKUT KOMPETISI.

    Inti artikel ini adalah: jangan halang-halangi orang Batak-Kristen ikut berkompetisi, baik lewat pernyataan verbal atau penghadangan yang sistemik seperti terjadi di tubuh birokrasi dan lembaga-lembaga negara.

    Mungkin solusi paling baik untuk mengatasi diskriminasi politik soal pencalonan presiden adalah memperjuangkan UU yang memungkinkan calon presiden independen; dengan persyaratan yang reasonable.

    Mengenai diskriminasi terhadap Batak-Kristen di tubuh birokrasi dan lembaga-lembaga negara : itu butuh waktu, harus diluruskan dulu bahwa unsur utama yang membentuk Indonesia bukan agama-agama, tetapi suku-suku.

    Tidak ada sejarahnya ikrar agama-agama di masa perjuangan kemerdekaan. Tapi ikrar suku-suku ada, yaitu Sumpah Pemuda.

  27. Sitorus Par Lobam Says:

    Sekarang yang jadi pertanyaan saya..
    kalau seandainya ada orang batak mencalonkan diri jadi presiden, apakah semua orang batak mau mendukungnya ???,
    jujur saya tak optimis……..
    gimana suku yang lain mau mendukung, kalau yang satu suku juga saling menjatuhkan..

  28. Robert Manurung Says:

    @ Sitorus Par Lobam

    Demokrasi menghormati pilihan setiap orang. Tidak jadi soal kalau pun orang Batak tidak mendukung calon presiden dari etnis Batak. Terserah masing-masing saja menggunakan hak pilihnya. Tidak menggunakan pun boleh.

    Aku sendiri belum punya figur favorit calon presiden dari etnis Batak. Untuk sementara ini aku menilai Fadel Mohammad sebagai kandidat yang lebih baik dibanding capres-capres yang ada.

    Salam Merdeka

  29. Sitorus Par Lobam Says:

    Saya setuju dengan uda…
    jadi jangan disangkut pautkan suku, agama, ras/etnis dengan calon presiden. yang jelas pilih dengan hati nurani (tidak ada sangkut pautnya dengan HANURA lho)

  30. jephman Says:

    Woow!
    Singkat – padat – mengena menerjemahkan kartun yg jelek gitu!!! hehehe

    Salut buat lae! HORAS!

  31. jephman Says:

    Sedikit tambahan : (sengaja saya pisah biar lae bisa memutuskan ditampilkan/tidak)

    Sebenarnya itu bukan stereotype, psiko-politik saja.

    Itu adalah perintah Allah dalam Islam yang melarang Muslim membiarkan Non Muslim menjadi pemimpin :

    [9:23] Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

    [3:28] Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali192 dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).

    Jadi sehebat-sebaik apapun kelebihan dan akhlak nonmuslim tetap tak boleh karena itu perintah Tuhannya.

    Setiap muslim yg membiarkan hal itu terjadi ya melanggar perintah Tuhannya. Apa artinya? >>>masuk neraka.

    Kita yg nonmuslim ini kaget ya ada Tuhan semesta alam dan agama yg katanya rahmatan al amin kok firmannya berbau diskiriminasi SARA gitu.

    Tak taulah…pusing aku

  32. lohot simanjuntak Says:

    @ jeph
    saya pikir lae akan membiarkan kami mencari ,kenapa hal itu ter jadi
    ternyata dengan gamblang anda sebutkan
    thank a lot-Horas

  33. Robert Manurung Says:

    @ jephman

    Terima kasih, Lae sudah ikut nimbrung berkomentar. Sorry ya aku tidak minta izin dulu sebelum mengambil kartun yang keren ini dari blog Lae.

    Singkat-padat-mengena; dan bersinergi dengan kartun yang keren; menyuarakan protes yang terpendam dalam batin mayoritas orang Batak beragama Kristen.

    Menyuarakan protes yang terpendam seperti ini akan membawa kebaikan bagi masyarakat Batak-Kristen, dan bangsa Indonesia secara keseluruhan. Kita semua akan menjadi dewasa dan arif, karena berani mengakui adanya ketidakadilan, melakukan otokritik, dan memperbaiki diri.

    Teruslah berkarya Lae, dengan nurani merdeka
    GBU

  34. mas no Says:

    orang batak tak cocok jd presiden. kalau mau sukses jadi aja lentenir atau lintah darat…bisa cepat kaya.
    banyak orang batak jadi lentenir dan cepat kaya.

  35. Pandapotan MT Siallagan Says:

    agak oot, adakah yang tahu Haroan Bolon?

  36. lohot simanjuntak Says:

    @ mas no
    saya setuju dengan anda,semoga ada BATAK yang jadi presiden,sehingga indonesia bisa bebas dari hutang,malah orang luar yang berhutang ke indonesia,terima kasih untuk saran mu
    saya sendiri mris dengan hutang negara ini;apakah anda begitu juga ?
    hidup BAKRI= BATAK KRIDIT

  37. Sitorus Par Lobam Says:

    @ mas no.

    tak usah memperkeruh suasana deh…
    ente seharusnya kasih comment yang berbobot dikitlah..’
    malu aku sebagai orang indonesia punya saudara seperti ente.
    itupun kalau ente mau dianggap sebagai saudara.
    kalau kami orang batak, semua manusia ciptaan tuhan kami anggap sebagai saudara, tapi kalau ciptaan setan, itu adalah musuh dan harus dibumi hanguskan.

  38. Yo Says:

    Thanks bang robet, udah ngangkt hal ini ke permukaan. Tetap semangat dan terus berjuang.. Merdeka..

  39. Parsamosir Says:

    Bukannya kita udah merdeka! Tapanuli kalau merdeka emang pasti akan lebih baik? kalau Tapanuli merdeka udah bisa menampung kembali sekitar 8 juta orang batak diseluruh Indonesia? cara2 berpikiran sempit seperti inilah yg membuat malatapetaka, emang ga ide kreatif selain teriak Merdeka!! Saya juga sadar, dengan kondisi Indonesia yg plural dan adanya dikotomis masyarakat antara Mayoritas dan Minoritas, bisa menjadi lebih susah untuk meraih kesempatan, dengan berdasarkan objek, karena mayoritas pasti akan lebih berkesempatan, konteks kesempatan yg sama buat segala warga negara memang patut kita perjuangkan, tapi bukan berarti kalau dalam satu sisi tidak bisa, kita langsung kesal dan merengek minta merdeka, itu adalah sikap yg kurang dewasa! bukankah ada banyak hal lain yg patut kita banggakan selain menjadi presiden, jadi anjuran saya lae.. yg penting bukan presidennya tapi adalah sampai dimana kita berjuang untuk menjadi yg terbaik, chauvinisme sempit jangan sampai membawa kita kehal yg lebih buruk… lae harus tahu banyak org Batak sukses bukan dari tanah batak tapi di daerah orang: tulang saya kaya raya dengan sumberminyak Kalimantan lae!! karena dia bekerja di Kalimantan, coba kalau dia tetap di tapanuli ga jamin saya dia bisa seperti sekarang, bisa menjadi tulang punggung di keluarga kami, jangan2 kalau dia ngandalin tanah tapanulinya justru melarat, memang lae bisa balik bertanya kenapa tidak membangun Tapanulinya bisa menjadi daerah makmur! kalau itu marilah kita sama2 menjawab!
    saya setuju dengan ide2 brilyan! mari kita beride, tetapi ide yg patut dan realistiss!!

  40. Robert Manurung Says:

    @ Parsamosir

    Kalau boleh aku sarankan tolong lae pelajari dulu sejarah Bangso Batak, sejarah Nusantara, dan sejarah Indonesia. Kalau sudah, bolehlah kita diskusi.

    Komentar Anda yang beralun seperti ombak dan “meol-eol songon tolong” hanya menyarankan sikap inferior, kompromi, dan takluk.

    Sedihnya, semua sikap yang bertentangan dengan sifat asli manusia Batak itu lae sarankan cuma demi kekayaan. Itu PROSTITUSI ! Maaf, orang Batak lebih baik jadi pencopet atau perampok daripada jadi PELACUR.

    Kompromi yang lae sarankan itulah yang merusak Bangso Batak. Dulu, orang-orang Batak yang jadi menteri di zaman Soeharto ngapurancang (melipat tangan di depan perut) dan merunduk di hadapan diktator itu. Jadi penjilat semua, dan itu bukan sifat manusia Batak!

    Tokoh-tokoh Batak sontoloyo itulah yang kemudian menjadi komprador untuk kepentingan kapitalisme di Tapanuli, yang hanya membawa kesengsaraan buat rakyat, menimbulkan segregasi sosial, merusak alam dan mencemari lingkungan hidup. Ingat Indorayon!

    Perlu aku ingatkan, paradigma MAYORITAS dan MINORITAS itu ahistoris, inskonstitusional, dan tidak realistis dari aspek kewilayahan. Orang Batak boleh sedikit jumlahnya, demikian pula Papua, Flores, Aceh, dan suku-suku lain; tapi merekalah pemilik tanah, air dan udara paling luas di republik ini. MAYORITAS itu hanya menempati pulau Jawa yang relatif kecil (penduduk 129 juta jiwa), tak sampai 10 persen dari luas wilayah Indonesia.

    Karena itulah aku sarankan lae pelajari dulu sejarah, supaya jangan ikut-ikutan mengidap skizoprenia politik : terbuai oleh angan-angan sendiri sehingga lama-lama tak mampu lagi membedakan ilusi dengan kenyataan.

    Sekarang, siapa sebenarnya yang tidak realistis ?

    Horas.

  41. warman Says:

    saya sudah baca semua tulisan diatas dan menjadi sangat terkejut atas komentar2 yang ada, semuanya menjadi ahli ( tapi maaf hanya ahli menulis dan merangkai kata2). Sebenarnya apa seh yang diperdebatkan, semuanya yang ditulis itu benar adanya, dan untuk apa kita harus menjadi presiden dan sesuatu yang tak mungkin karena pasti kalah suara, bukan berarti menyerah, jadi maksud saya ya pintar2lah hidup dilingkungan yang pluralis seperti di Indonesia ini tunjukkan melalui perbuatan bahwa Batak Kristen itu berkualitas, contoh lae RM yang pernah jadi RT,lae terpilih karena jabatan itu tidak ada menghasilkan uang dan maaf lae orang yang mau jadi RT di daerah Bekasi itu adalah orang yang dianggap ga punya kerjaan dari pada ga ada yang jadi RT, ya sudah siapa yang mau aja…. saya pun pernah jadi RT karena terpaksa aja…dianggap halaki ulaon siloja-loja…untuk apa diperebutkan … he..he.. songoni majo..

  42. markus Says:

    matilah kau batak.

  43. penulis Says:

    Tetaplah berjuang,

    martin luther king berkata: i have a dream, one day our children will play with the other without thinks about color.
    maaf kalau salah kutip ;)

    mimpi dan strategi pencapaian mimpi akan menuntun. selamat berjuang

    salam perjuangan
    NB: apa strategi dan taktik dari kawan Robert Manurung?

  44. ujangaja Says:

    wuih.,.,.,.,lucu banget.,.,.,sangat menggkritik UUD kita. emng sih klo ilihat dari masa kanak2 kita semuany kelihatan gampang, api setelah ewasa cita2 itu kini perlahan2 mulai hilang dan ditepi dari lubuk hati yang paling dalam. kita nantikan aja perkembangan selanjutnya. mudah2an suatu hari kelak didepan akan terbuka kesempatan bagi keta yang non islam n beda suku, seperti yang sekarang terjadi di AS yang presidennya adalah BArak Obama, warga kulit hitam yang pertama.

  45. Nasution Says:

    anda terlalu naif….., presiden adalah pilihan rakyat.., jika anda mampu berbuat sesuatu yang sangat di hargai rakyat dan selalu berbuat adil untuk semua ras dan agama.., tentu anda akan di pilih rakyat, buktikan .., jng hanya pandai nulis doank, berbuatlah sesuatu…,

  46. Abdul Says:

    Kartun ini adalah gugatan terhadap realitas sosial-politik kita, yang membuat kebanyakan
    “orang Batak diposisikan sebagai persona non grata di Tanah Airnya sendiri; merasa dikucilkan secara sosial, dan menjadi korban diskriminasi dalam persaingan karir dan politik”

    Walaupun seperti itu bentuknya, saya sudah senang bung, sebab dari hal tersebut bahwa orang batak itulah yang terpintar di Negara ini.

    Diwajarkan jika seseorang kalah saingan tanpa dukungan politik orang BATAK yang penuh semangat untuk berjuang.

    Semoga suatu saat nanti Suku Batak Kristen bisa menduduki Kursi nomor satu di Negeri ini. Ada baiknya jika Agama Kristen mendudukinya agar perhatian Orang luar Negri tertuju ke Indonesia. Tapi sepertinya Harapan seperti itu Mustahil bagi saya.
    MERDEKA

  47. alvin Says:

    jangan terlalu pesimistis dulu.siapa bilang orang batak tidak bisa jadi presiden.suatu saat pemimpin yg berasal dari Tano Batak pasti akan hadir.

  48. Maridup Hutauruk Says:

    Telmi juga pak guru yang ada di kartun itu! Masya katanya orang Batak tak mungkin jadi presiden? Kalau orang batak bikin negara? Presidennya pasti batak. Hei orang Batak,,, yuk bikin negara yuk….

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: