Anak-anak Itu Naik Sampan Ke Sekolah

Inilah sekeping gambaran mengenai kegigihan anak-anak bangsa untuk meraih pendidikan. Direkam dari pelosok negeri tercinta ini yang tak pernah kita lihat di televisi; tak pernah disebut dalam pidato Presiden, dan tak pernah hinggap dalam ingatan Menteri Pendidikan.

Sebuah kisah yang sungguh menyentuh, mengharukan, dan bisa membuat kita menemukan alasan baru untuk mensyukuri kehidupan masing-masing. Tentang anak-anak Dusun Laihiding, Sumba Timur, yang saban pagi naik sampan ke sekolah…..

Salam Merdeka!

RM

==================================

Tak Lagi Berenang Menuju Sekolah

Oleh : ELOK DYAH MESSWATI/Kompas

HARI masih pagi. Matahari mulai menyinari punggung Gunung Waturumbing yang gundul. Air Sungai Kambaniru memantulkan bayangan punggung gunung itu. Di seberang sungai beberapa siswa SD dari Dusun Laihiding keluar dari jalan setapak menuju sungai.

Dari sana mereka kemudian menaiki sampan, menyeberangi sungai. Seorang anak yang duduk di belakang mengayuh dayung menyeberangi sungai selebar kira-kira 10 meter.

Setelah sampan tiba beberapa siswa turun. Seorang di antaranya tetap di atas sampan, ia mengayuh dayung kembali ke seberang sungai menjemput teman-temannya yang lain. Mereka naik perahu secara bergantian.

Begitu terus beberapa kali. Mereka bergantian menaiki sampan menuju sekolah mereka di Sekolah Dasar Negeri Bidi Praing, Desa Kiritana, Kecamatan Pandawai, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.

Mendayung perahu itu menjadi kegiatan rutin karena sekolah mereka berada di seberang sungai. Sekolah itu berada di pusat Desa Kiritana, sebuah desa yang wilayahnya terdiri atas tiga dusun : Laihiding, Kuhiwatu, dan Hanggaroru.

Laihiding adalah dusun yang terisolasi, Tak ada listrik, tidak ada motor, dan hanya ada jalan setapak berpasir untuk mencapainya. Rumah penduduknya terpencar-pencar, di bagian lereng gunung yang berbeda.

Murid-murid SDN Bidi Praing berjumlah 163 orang, 68 di antaranya dari Dusun Laihiding.

Sebelum dapat bantun sampan, mereka berenang ke sekolah

DULU, sebelum Desa Kiritana memiliki empat sampan dari dana Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Generasi yang didukung oleh Bank Dunia, anak-anak Dusun Laihiding terpaksa berenang dua kali menyeberangi Sungai kambaniru yang berkelok memotong dusun mereka.

Dari rumah mereka, dengan bertelanjang kaki mereka menyusuri jaln setapak berpasir, melintasi kebun jagung, ubi,labu,cabai, kacang panjang, hingga kebun terung. Jalan berbukit pun harus mereka daki.

Jika memotong garis lurus, jarak dusun mereka ke pusat desa sekitar 1 kilometer, tetapi karena kondisi jalan mendaki dan berkelok, perjalanan pun kian panjang hingga 3 kilometer. Dibutuhkan waktu sekitar satu jam untuk mencapai sekolah.

Jika musim kering, air sungai surut. Lebar sungai hanya 30-40 meter dengan tinggi air sepaha orang dewasa. Anak-anak kelas III sampai VI SD melepas pakaian mereka, menjinjing bukunya di atas kepala dan kemudian berenang menyeberang. Anak-anak kelas I sampai III Sddipanggul orangtuanya menyeberangi sungai.

“Tapi, kalau musim hujan November sampai Maret, air sungai meluap hingga ke atas tanggul jalan, menutup akar pohon di tepi sungai, dan sungai pun makin lebar hingga 200 meter. Kalau sungai banjir, anak-anak Dusun Laihiding tak masuk sekolah,”kata Koordinator Tim Pengelola Kegiatan Desa Kiritana, Martinus T. Ndjama.

Dengan segala keterbatasan itu, Sandiyanto (10) dan Aris Domuwulang (9) yang merupakan murid-murid SD Bidi Praing, tetap menyimpan harapan masa depan.

Sampan kayu meluaskan cakrawala

KEBERADAAN empat sampan PNPM Generasi tersebut, menurut fasilitator Kecamatan Pandawai, Esmy Langaih dan Stefanus Mbulu, sangat berguna. Sampan kayu tersebut dipesan dari warga Desa Kiritana seharga Rp 750.000 per sampan.

Sampan itu mulai dioperasikan Februari 2008 dan ditempatkan di empat titik penyeberangan di Sungai Kambaniru. Sejak itulah siswa-siswa dari Dusun Laihiding tak lagi harus berenang melintai sungai menuju sekolah.

Tidak hanya anak-anak Dusun Laihiding yang merasakan manfaat sampan tersebut, bidan Desa Kiritana, Voni Yo Mbali (32) pun merasa terbantu dalam menjalankan tugasnya.

Dulu bidan Voni tak bisa mendatangi Dusun Laihiding karena terkendala Sungai Kambaniru. Ia pernah nekat menaiki sampan kecil pada Maret 2007 saat akan menolong seorang ibu yang akan melahirkan di Dusun Laihiding, tetapi sampan yang dinaikinya terbalik.

Kini anak-anak Dusunu Laihiding bisa bernapas lega. Sampan untuk menyeberangi sungai sudah ada, tetapi tantangan lain masih ada di depan mata,

yakni panasnya pasir kala mereka pulang sekolah. Ketika Kompas mengantar bidan Voni menuju Dusun Laihiding untuk memeriksa ibu yang baru melahirkan, pasir yang panas menyusup ke jari dan telapak kaki.

Pasir di jalan setapak itu menjadi panas saat matahari terik di atas kepala. Itu adalah saat anak-anak pulang sekolah. Anak-anak yang tak bersepatu itu jelas merasakan panas pasir di telapak kaki mereka. Namun, mereka terus bertahan, terus melangkah, terus mendayung sampan, menggapai harapan…..

Sumber : Kompas, 6 September 2008.

About these ads

Tag: , , , , , , , , , ,

3 Tanggapan to “Anak-anak Itu Naik Sampan Ke Sekolah”

  1. italina89 Says:

    kisah anak bangsa yang patut jadi teladan bagi anak-anak yang malas..

  2. Sitorus Par Lobam Says:

    Sperti comment say di Blog Laskar Pelangi Dari Nusa Tandus,
    mereka ini adalah Lintang dan Stefanus yang baru…
    percaya deh, masih ada ribuan Lintang dan Stefanus yang lain.
    sekarang apa yang harus kita lakukan..??????

  3. radja nadeak Says:

    saya yakin mereka yang merasakan pahit dan kegetiran yang berjuang menuntut ilmu, tidak akan sia2, kelak mereka akan menjadi orang2 hebat dan menjadi pemimpin negara ini…kisah ini tidak jauh beda dengan anak2 disamosir yang saat ini masih banyak yang bertelanjang kaki kesekolah dan baju seragam hanya satu.. tunggu sobek2 dulu baru diganti.. karena kemiskinan..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: