Oleh : Robert Manurung
APA sih arti uang Rp 20.000 buat Anda ? Bagi 5.000 perempuan yang berebut zakat di sebuah mushala di Pasuruan, Jawa Timur, Senin kemarin (15/9), uang segitu itu “layak ditukar” dengan nyawa. Alhasil, 21 orang tewas lantaran terinjak-injak.
Kita mungkin merasa heran, tersentak, dan prihatin. Kenapa pembagian zakat itu sampai menimbulkan chaos dan berubah menjadi tragedi ? Kenapa para perempuan itu bisa begitu agresif dan egois ? Mereka saling dorong, saling sikut, dan tak tergerak untuk menolong sesamanya yang terjatuh, sehingga terinjak-injak dan tewas. Kenapa ?
Adalah Mushala Al-Roudhotul Jannah di Kelurahan Purutrejo, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan, yang sejak tahun 1990 membagikan zakat pada setiap bulan ramadhan. Pada tahun-tahun lalu mungkin lancar-lancar saja. Maka, bisa dibayangkan betapa shock-nya Haji Soikhon, warga setempat yang memprakarsai pembagian zakat ini, apalagi setelah kejadian pihak kepolisian menyalahkannya karena tidak koordinasi.
Yang jelas, peristiwa survival of the fittest ini–yang merenggut nyawa perempuan-perempuan paling lemah di dalam kerumunan kaum lemah itu; adalah gambar close up wajah kemiskinan di tengah-tengah kita. Kemiskinan dengan segala implikasinya yang mengerikan. Kemiskinan itu adalah anak kandung dari sistem survival of the fittest, yang dibidani oleh Soeharto sejak awal Orde Baru.
Berikut ini aku kutipkan buat Anda laporan Kompas mengenai tragedi sosial tersebut, yang ditempatkan sebagai headline pada edisi hari ini, Selasa, 16 September 2008 :
21 Tewas Saat Pembagian Zakat
Beban ekonomi yang semakin tidak tertanggungkan mendorong sekitar 5.000 perempuan berdesak-desakan untuk berebut zakat senilai Rp.20.000 di sebuah mushala di Kota Pasuruan, Jawa Timur, Senin (15/9). Akibatnya, 21 orang tewas terinjak-injak dan 13 orang lainnya luka-luka.
Massa yang semuanya perempuan itu mulai berdatangan sekitar pukul 06.00 di Mushala Al-Roudhotul Jannah, Kelurahan Purutrejo, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan. Pembagian zakat yang berlangsung tahunan sejak 1990-an itu diprakarsai Haji Soukhon, warga setempat.
Mereka berasal dari penjuru Kota Pasuruan dan Kabupaten Pasuruan. Sekitar pukul 08.00 massa menyesaki gang selebar 4 meter di depan mushala. Di bawah panas matahari, mereka menunggu pembagian zakat. Panitia sempat menyiramkan air kepada massa yang kepanasan itu.
Akhirnya, pada pukul 09.00 gerbang mushala dibuka dan satu per satu dari yang antre itu masuk ke halaman mushala untuk menerima zakat. Rencananya, Haji Soikhon akan membagikan zakat sebesar Rp.30.000 per orang dengan total Rp.50 juta. Melihat massa yang jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, panitia menetapkan zakat diturunkan menjadi Rp.20.000.
Sekitar setengah jam kemudian, insiden naas pun terjadi. Massa yang berebut untuk segera masuk ke gerbang semakin merangsek ke bagian depan. Akibatnya, sebagian di antara mereka terjatuh dan terinjak-injak. Sebagian tewas dan sebagian lainnya pingsan.
Sejumlah anggota panitia dan beberapa wartawan dengan susah payah berusaha mengangkat tubuh korban. Namun, malangnya, 21 orang ditemukan tewas. Sebanyak 21 jenazah dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah dr R.Soedarsono, Kota Pasuruan. Setelah mendapat visum luar, akhirnya satu per satu jenazah dibawa ke rumah duka oleh keluarga korban mulai pukul 15.00.
Prihatin dan menyayangkan
Menteri Agama Maftuh Basyuni menyatakan keprihatinannya atas tewasnya 21 mustahik (orang yang berhak menerima zakat) itu. Akan tetapi, menurut Maftuh, mayarakat masih banyak yang tak percaya kepada lembaga amil zakat. “Kami atas nama pemerintah menyampaikan belasungkawa yang mendalam ata peristiwa yang terjadi di Pasuruan,”ujar Maftuh di Jakarta, Senin.
Menurut Maftuh, peritiwa itu sebetulnya tidak perlu terjadi kalau saja Haji Soikhon mau menyerahkan zakatnya kepada amil zakat yang sudah ada, seperti Badan Amil Zakat Daerah (Bazda) atau amil zakat lain.
Adapun Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Abubakar Nataprawira mengatakan, pembagian zakat di Pasuruan itu tidak diinformasikan sebelumnya oleh penyelenggara acara kepada kepolisian setempat. Padahal, kegiatan itu melibatkan ribuan orang dengan potensi kerawanan yang sangat besar. Polisi siap membantu.
Murniati (50), salah seorang korban tewas, adalah janda beranak lima, yang harus menghidupi dua anak terakhirnya yang duduk di bangku SMP kela I dan SMA kelas III. Menurut Sulaiman (58), kakak Murniati, adiknya itu setiap hari bekerja sebagai penjahit di rumah.
Motif serupa dialami Wagina (50), korban yang kini kondisinya kritis. Menurut Su’udi tetangganya, Wagina adalah janda sebatang kara. Anak tunggal Wagina bekerja sebagai tenaga kerja Indonesia di Malaysia. Sehari-hari Wagina menjual kayu bakar.
Dalam jumpa pers Muspida Kota Pasuruan, Kepala Kepolisian Resor Kota Pasuruan Ajun Komisaris Besar Herry Sitompul menyatakan, polisi baru mendapatkan laporan kejadian pukul 10.30. Selanjutnya ia mengirmkan 60 polisi ke lokasi dan menghentikan kegiatan.
========================================================================
http://www.ayomerdeka.wordpress.com
Kaitkata: agama, islam, jawa timur, kemiskinan, kompas, menteri agama maftuh basyuni, mushala al-roudhotul jannah, pasuruan, tragedi pemburu zakat di pasuruan, tragedi sosial, zakat


16 September, 2008 pada 3:46 pm
it`s bad news…..
16 September, 2008 pada 7:17 pm
Awalnya saya tidak percaya ini terjadi. Tapi itu ternyata itu benar-benar terjadi! Beda dengan tsunami atau bom bali, dalam kasus ini saya tidak bisa berhenti berpikir; semestinya ini tidak perlu terjadi!
16 September, 2008 pada 8:15 pm
menyedihkan. mestinya untuk yg tua itu zakatnya diantarkan…
16 September, 2008 pada 8:31 pm
menyesakkan hati dan sangat memilukan…….
seharusnya pak haji soikhon lebih arif dan bijaksana dengan mengantarkan zakat tersebut kerumah masing2 para penerima zakat.kalo udah begini siapa yang menanggung hidup anak dan keluarga yang ditinggalkan……
16 September, 2008 pada 9:45 pm
apa yang bisa kita lakukan?
16 September, 2008 pada 10:36 pm
Sungguh menyedihkan. Apakah sistem pengagihannya lemah?
17 September, 2008 pada 1:40 am
Mereka adlh korban mental ‘tangan dibwah’ yg dibentuk pmerintah! Apa? BLT.
17 September, 2008 pada 6:27 am
ironis memang
17 September, 2008 pada 7:13 am
Inilah salah satu potret kemuraman negara ini, yaitu “KEMISKINAN”
dengan kejadian ini agar membuka seluruh “MATA BATHIN” penguasa negeri ini bahwa “BAHAYA LATEN KKN” sudah sepantasnya mendapatkan HUKUMAN MATI dan kebijakan Pemerintah Yang PRO KERAKYATAN, APARAT PENEGAK HUKUM yang Melacurkan diri merupakan bagian dari KKN pula dan ternyata Niat baik belum cukup……….Ahai sedih nian melihat BANGSAKU ini….entah sampai kapan……tak bisa ku menjawab……
17 September, 2008 pada 8:08 am
Tiga puluh ribu rupiah, sangat berarti bagi mereka yang miskin. Akan tetapi menjadi tidak bermakna ketika nyawa menjadi taruhannya. Banyak cara yang lebih manusiawi untuk membantu mereka yang lemah, miskin dan terpinggirkan, bukan hanya dengan memberi tiga puluh ribu yang hanya habis seketika, tetapi melalui pemberdayaan mereka agar mampu mandiri.
17 September, 2008 pada 9:38 am
Serba salah ya Bro. Mau sabar & antre, resikonya gak kebagian jatah. Mau merangsek maju, resikonya nyawa melayang. Niat Haji Soikhon baik, tapi dia rupanya tipikal leader yg nggak menginjak bumi. Gak tau atau gak mau tau kalo jumlah peminat dan penikmat zakat itu gak sedikit.
18 September, 2008 pada 9:44 am
pak Haji,Kapan-kapan kalu mau Zakat,cari cara yang laen,
Misalnya:Para Fakir miskin nya dikasi undangan atau kupon,
dijatah satu keluarga,satu.Aparat juga harus ada.
diundang kerumah secara baek-baek.
walaupun buanyak orang yang diundang khan gak masalah kalu kitanya ikhlas.
kalu kayak gini gak keliatan dermawan,malah nama baik keluarga tercoreng…
18 September, 2008 pada 11:07 am
jika hidup adl menunda kekalahan???,,,
…ya sedi,,ya marah…ya laper,,,,
kita bisa apa??
Huuffh,,,Tuhan….?!
18 September, 2008 pada 1:56 pm
mestinya zakat itu di berikan ke rt.setempat agar tdk terjadi yg tdk di inginkan
20 September, 2008 pada 8:59 pm
turut berduka cita yg sedalam2nya ats tragedi tersbt,smga tdk akn prnh trulang kmbli.
22 September, 2008 pada 8:59 am
semua yang terjadi biarlah terjadi jng saling menyalahkan,
24 September, 2008 pada 9:25 am
saya asli orang pasuruan
sangat2 prihatin tragedi yang menimpa saudara2 saya yang tidak mampu
tidakkah ada kepedulian thd pemerintah setempat ato pusat
24 September, 2008 pada 9:30 am
tragedi ini, bagi kita semua tidak boleh di pandang sebelah mata
para politikus, para pecandu2 partai yang selalu membawa orang miskin, apakah mereka semua tersentuh hatinya, apakah justru kesempatan ada proyek baru utk di buat mengangkat partainya
astagfirlulha haladzim kalo anda berpikir demikian
berpikirlah yg jernih, + tingking dan tulus amalkan segala kemampuan utk bantu org2 yang kurang mampu
15 Desember, 2008 pada 10:16 am
ini adalah bukti nyata tidak berhasilnya para penggurus negra untuk mensejahterakan rakyatnya
semoga dengan kejadian ini hati mereka bisa tergerak
aaamin