Asvi menambahkan, dalam sejumlah arsip bahkan disebutkan Soeharto juga menolak rencana nasionalisasi terhadap PT Caltex. Rencana nasionalisas itu sendiri dibahas dalam pertemuan pada 15 Desember 1965. Pemerintah Indonesia saat itu dipimpin oleh wakil perdana menteri (waperdam) ekonomi Chaerul Saleh.
Namun, ketika pertemuan masih berlangsung, Soeharto datang menggunakan helikopter. “AD tidak setuju Caltex dinasionalisasi,” ujarnya.
DOKUMENTASI film hitam putih milik arsip nasional yang terpampang di jasa layanan internet itu terbuka pelan-pelan. Sepenggal pesan politik dari Bung Karno pun kemudian tampak dengan gamblang, berwarna putih dengan latar belakang hitam. Bunyinya, “jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”.
Film itu berdurasi 4.46 menit. Isinya, pidato Presiden Soekarno pada peringatan hari kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1967. Sebuah pidato yang dilakukan setelah terjadinya peristiwa Gerakan 30 September 1965 dan setelahnya Soeharto mendapat kekuasaan. Periode ini oleh sejumlah sejarawan disebut keberhasilan Soeharto melakukan kudeta merangkak (kreep coup).
Dalam pidatonya itu, Soekarno menaruh kecewa dengan tindakan berlebihan yang diambil pasca keluarnya Surat Perintah (SP) 11 Maret. Tindakan itu telah mengubah haluan revolusi bangsa ini. Padahal, menurut Soekarno, SP 11 Maret bukanlah penyerahan kewenangan. Surat itu sejatinya hanya berisi perintah untuk pengamanan jalannya pemerintahan, pengamanan pribadi presiden, wibawa presiden, ajaran presiden dan pengamanan terhadap beberapa hal.
“Gestok kita kutuk. Saya mengutuk pula. Berulang kali saya katakan yang bersalah harus dihukum. Untuk itu saya bangunkan Mahmilub (mahkamah militer luar biasa), tapi mengapa setelah Gestok kita berubah haluan dan melempar hal yang nyata-nyata sudah baik?,” kata Soekarno.
Bagi Soekarno, Pancasila sejati seharusnya dipertahankan karena ia merupakan dasar negara sesuai dengan kepibadian bangsa. Bagi Soekarno, di dalam Pancasila itulah ada karakter bangsa (national character). Pembangunan karakter ini sendiri merupakan sebuah cara untuk mengubah Indonesia, dari sebuah bangsa bekas kolonial menjadi sebuah bangsa yang memiliki wibawa pada abad 20. Sebuah cita-cita yang juga dilontarkan oleh para pendiri Republik Rakyat Tiongkok (RRT).
“Sesungguhnya membangun negara, ekonomi, teknik dan pertahanan adalah pertama-tama membangun jiwa bangsa. Keahlian perlu, tapi tanpa jiwa yang besar itu menjadi tak berarti. Inilah mutlak perlunya national character building,” katanya.
AS Menguasai
Kegelisahan Soekarno tersebut pada akhirnya memang terbukti. Indonesia sejak saat itu menjadi bangsa yang tak mandiri. Semangat berdikari pun berubah menjadi semangat ketergantungan pada bantuan luar negeri. Oleh wartawan senior Jusuf Ishak, peristiwa itu disebut sebagai awal mula “penunggangan” Pancasila untuk mengabdi pada ketergantungan.”Buat saya peristiwa 65 itu bukan kesaktian Pancasila, tapi justru awal mula Pancasila ditunggangi,” katanya.
Menurut sejarawan Asvi Warman Adam, pasca peristiwa berdarah 1965, Indonesia di bawah kepemimpinan Soeharto mulai berteman akrab dengan Amerika Serikat. Sejurus dengan itu, AS pun mulai menguasai perekonomian di Indonesia. Bermula dengan penempatan ekonom yang menjadi bagian dari mafia Barkley, segala peraturan kemudian dibuat untuk kepentingan asing yang liberal. Salah satunya adalah lahirnya Undang Undang (UU) Penanaman Modal Asing (PMA). UU itu dibuat berdasarkan konsultasi dengan Amerika Serikat. “Dari semula ada sumber yang mengatakan, Indonesia memang sudah dikapling sejak Orba dalam pertemuan yang berlangsung di Eropa,” katanya.
Asvi menambahkan, dalam sejumlah arsip bahkan disebutkan Soeharto juga menolak rencana nasionalisasi terhadap PT Caltex. Rencana nasionalisas itu sendiri dibahas dalam pertemuan pada 15 Desember 1965. Pemerintah Indonesia saat itu dipimpin oleh wakil perdana menteri (waperdam) ekonomi Chaerul Saleh.
Namun, ketika pertemuan masih berlangsung, Soeharto datang menggunakan helikopter. “AD tidak setuju Caltex dinasionalisasi,” ujarnya.
Bagi Asvi, perintah Soeharto itu tidak mengandung keanehan. Hubungan antara Soekarno dan Soeharto pada saat itu memang sudah tidak baik. Ada dualisme. Atas nama Soekarno dan Pangkopkamtib (Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban), Soeharto mengeluarkan perintah atas namanya sendiri.
“AS melakukan penekanan terhadap Soeharto. Ini juga sudah disebutkan dalam desertasi Brad Simpson dan memoar Marshal Green. Menurut Brad, pertemuan itu di Jakarta, tetapi saya percaya di Cipanas karena pakai heli. Dan, sekarang makin terbuka peran AS atas politik dan ekonomi Indonesia,” katanya.
Ketergantungan Indonesia bahkan semakin menjadi-jadi. Pada masa Orba, kedekatan Indonesia dengan Amerika Serikat dan sekutunya malah menjerumuskan negeri ini dalam pusaran utang yang menggunung. Munculah kapitalisme kroni di sekeliling Soeharto. Dalam buku George Soros berjudul Open Society, kapitalisme kroni itulah yang membuat Indonesia sulit untuk bangkit dari krisis ekonomi di Asia.
Kini setelah 43 tahun Kesaktian Pancasila, pasal keadilan sosial, sebuah pasal yang menjadi penutup dasar negara itu boleh dikatakan pelaksanaannya jauh panggang dari api. Kaum kapital, seperti yang ditakutkan Soekarno saat menggali Pancasila, justru merajalela. Di bawah era reformasi, aset-aset negara banyak dijual pada asing. Salah satunya, divestasi Indosat. Impor kebutuhan pokok seperti gula dan beras menjadi hal yang jamak tanpa ada strategi khusus untuk mengangkat petani dalam negeri.
Baru-baru ini bahkan muncul berita adanya dana asing dalam pembuatan UU Minyak dan Gas (Migas) serta sejumlah UU lain di bidang ekonomi. Donaturnya jelas, Bank Dunia (World Bank), lembaga donor AS (USAID), Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Pembangunan Asia (ADB). Dan hasilnya, UU yang memuluskan pasar bebas sesuai dengan dikte asing. (tutut herlina)
Sumber : situs Sinar Harapan
Judul asli : Tragedi Yang Mengubah Revolusi
Kaitkata: asvi warman adam, bank dunia, bung karno, caltex, dominasi as di indonesia, george soros, imf, indosat, mafia barkley, pancasila, sejarah indonesia, sinar harapan, soeharto, supersemar, usaid
5 Oktober, 2008 pada 12:53 pm
hmmm JASMERAH, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Tetapi sejarah selalu milik penguasa, maka ahli sejarah adalah…cape deh…
5 Oktober, 2008 pada 7:33 pm
Dan karakter bangsa kita kayaknya memang sedang dalam proses yang entahlah… Kita lebih senang segala sesuatu yang instant.. Kita lebih senang melihat sesuatu dari kemasannya… Kita semakin egois… dsb.. Bisakah kita berubah…? Adakah pemimpin yang berjiwa luhur, yang mampu membawa kita keluar dari keterpurukan…?
6 Oktober, 2008 pada 12:58 am
Saya rasa perekonomian pemerintah hingga sekarang masih dikuasai mafia Barkley, tapi yang lolos hanya masa pemerintahan Gus Dur, namun pada masa itu mafia masih berkeliaran sebagai pemantau setiap kegiatan atau rapat2 di bidang ekonomi ….. hhhhh cengkraman fasisme dan kapitalis
6 Oktober, 2008 pada 7:24 pm
kira-kira sekarang masalahnya sama kali
7 Oktober, 2008 pada 10:59 am
Jadi, sekarang harus bagaimana ?
7 Oktober, 2008 pada 5:01 pm
NO COMMENT…
7 Oktober, 2008 pada 8:00 pm
mhn ijin menduplikasi bagus skli utk studi sejarah
8 Oktober, 2008 pada 12:40 am
[...] http://ayomerdeka.wordpress.com/2008/10/04/mengapa-soeharto-menolak-nasionalisasi-caltex [...]
22 Oktober, 2008 pada 11:18 am
Indonesia perlu melakukan Revolusi untuk yang kedua kalinya,
Reformasi telah dianggap gagal dlm melakukan fungsinya,
masih banyak terjadi penyimpangan-penyimpangan yang belum sesuai dgn UUD 45 dan Pancasila