TAK SEORANG PUN yang berhak mengklaim sebagai wakil Tuhan di dunia ini.
Oleh : Robert Manurung
KITA semua hanya tukang kutip, yang membaca dari sumber-sumber terbuka—dari kitab-kitab tua dan fenomena alam; lalu meyakini dan kemudian mempengaruhi, bahkan tak jarang memaksa orang lain, untuk meyakini Tuhan versi kita.
Lembaga-lembaga agama membuat klaim sepihak bahwa kehadirannya berdasarkan mandat dari Tuhan, untuk menyebarkan ajaranNya, untuk mengelola persembahan serta sedekah, dan untuk menghukum orang-orang yang didakwa melanggar ajaranNya.
Sejak zaman purba manusia telah menyalahgunakan nama Tuhan dan ajaranNya– bahkan mengkudeta sebagian kekuasaanNya; demi menguasai dan mengeskploitasi sesama manusia, serta segenap sumber daya. Juga untuk memuaskan nafsu serta ambisi pribadi para ulama dan pendeta; yang bersifat profan, sekuler dan politis.
Dan sejauh ini, agama-agama telah berhasil menjadikan perannya teramat penting, menentukan, dan seolah-olah bersifat sakral. Bahkan terkadang, agama sudah menjema menjadi Tuhan itu sendiri.
* * *
SESUNGGUHNYA, kita bisa hidup di jalan Tuhan, dan berharap masuk sorga kelak, tanpa harus “mengimani” agama. Sejak awal peradaban, sudah ribuan agama runtuh dan terkubur di bawah debu sejarah, namun, manusia selalu dipandu oleh kerinduannya untuk menemukan jalan menuju Tuhan.
* * *
PENYELEWENGAN agama pada abad-abad yang silam, sebenarnya lebih dari cukup untuk menjadi pelajaran bagi kita, bahwa agama adalah kreasi manusia dan sesungguhnya bersifat terpisah dari keyakinan kepada Tuhan.
Namun kenyataannya, lembaga-lembaga agama telah menjelma menjadi seolah-olah bayangan Tuhan atau bagian dari kesucian Tuhan. Padahal sebenarnya, tak satu pun lembaga agama yang bersifat transedental; melainkan profan, sekuler dan politis.
Adapun Hukum Tuhan, dengan ganjaran tertinggi sorga dan neraka, sebenarnya tidak bersifat sekarang dan di dunia, tetapi nanti dan di akhirat. Namun, lembaga-lembaga agama telah “mengamandemen” hukum Tuhan, memodifikasi sifatnya yang “nanti dan di sana ” menjadi “sekarang dan di sini”.
* * *
ATAS NAMA TUHAN…..lembaga-lembaga agama pun mengatur dan mengendalikan kehidupan para pengikutnya; menguasai sumber-sumber ekonomi, dan senantiasa berambisi mengontrol negara.
Atas Nama Tuhan…..tak sedikit lembaga agama yang membius para pengikutnya dengan nafsu berperang, membunuh dan memusnahkan sesama insan ciptaan Tuhaan, dengan dalih demi memperjuangkan eksistensi Tuhan di dunia–menurut jalan pikiran mereka sendiri.
Tuhan pun dikerdilkan menjadi sekadar simbol-simbol; cap kambing, cap domba, cap sapi, cap matahari, dan lain-lain; lalu mereka mendaulat diri sendiri sebagai laskar suci yang siap berperang, membunuh dan memusnahkan sesamanya, demi mempertahankan eksistensi Tuhan masing-masing.
* * *
ATAS NAMA TUHAN…..mari kita yakini : Tak seorang pun di dunia ini yang berhak menjadi wakil Tuhan; dan Tuhan sendiri adalah Maha Kuasa, sehingga tak membutuhkan pengorbanan dan jasa manusia untuk mempertahankan eksistensiNya.
* * *
ATAS NAMA TUHAN…..mari kita bersujud dan mengakui dengan rendah hati : Kita semua hanyalah manusia lemah dan sama-sama berdosa di hadapanNya. Dan, beragamnya agama atau cara memuliakan nama Tuhan, adalah lantaran Tuhan sendiri membiarkan demikian. Maka, orang-orang beriman harus menerima kenyataan itu sebagai kehendak dan sekaligus hak prerogatif Tuhan .
ayomerdeka!
Kaitkata: agama, renungan, solilokui, spiritualisme, theokrasi
14 November, 2008 pada 5:28 pm
Atas nama Tuhan, marilah kita saling menghormati dan menghargai keyakinan setiap manusia terhadap Tuhannya. Yakinilah dan jalankan secara benar apa yang menjadi agamamu dan janganlah kita sebagai sesama manusia menilai keyakinan orang lain terhadap Tuhan dan agamanya, karena itu semua sebenarnya adalah kuasa Tuhan.
15 November, 2008 pada 12:14 am
NEGARA & AGAMA ADALAH BERHALA YANG DAPAT MENJAUHKAN MANUSIA DARI TUHANNYA. ATAS NAMA TUHAN. MANUSIA DAPAT MEMBUNUH TUHANNYA. ATAS NAMA TUHAN MANUSIA ADALAH BUDAK MANUSIA LAINNYA.
KEMAHATAHUAN HANYA MILIK TUHAN. SEDANGKAN HIDUP TIDAK AKAN MENJADI MAHA TAHU. DENGAN DEMIKIAN, BAGI MANUSIA YANG MENGANGGAP DIRINYA MAHA TAHU, BERARTI DIRINYA MENCOBA MENGGANTIKAN TUHAN. MAKA YANG DEMIKIAN ADALAH MUSUH DARI TUHAN.
SIAPAKAH YANG MASIH INGIN MENGATASNAMAKAN TUHAN?
15 November, 2008 pada 12:31 am
mmm…. satu sisi Tuhan dipuja dan dijunjung tinggi namun disisi lain tanpa sadar Tuhan diposisikan pada tempat yang rendah disaat ada orang yang merasa menjadi wakil Tuhan di muka bumi kemudian menipu ummat dengan kepentingan pribadi.
15 November, 2008 pada 12:45 am
Artikel-artikel di blog ini bagus-bagus. Coba lebih dipopulerkan lagi di Lintasberita.com akan lebih berguna buat pembaca di seluruh tanah air. Dan kami juga telah memiliki plugin untuk WordPress dengan installasi mudah.
Kami berharap bisa meningkatkan kerjasama dengan memasangkan WIDGET Lintas Berita di website Anda sehingga akan lebih mudah mempopulerkan artikel Anda untuk seluruh pembaca di seluruh nusantara dan menambah incoming traffic di website Anda. Salam!
17 November, 2008 pada 12:44 pm
Dalam banget maknanya… mudah2an semua orang dapat membaca ini, terutama mereka yang merasa dirinya sebagai wakil TUHAN…Mauliate.
17 November, 2008 pada 1:04 pm
Agama berfungsi sebagai “koridor’, bukan sebagai “kedok”. Merdeka lae!
18 November, 2008 pada 3:09 pm
kita bisa menjadi wakil Tuhan untuk :
* menciptakan perdamaian
* mempedulikan sesama
* memberantas ketidakadilan
* memelihara alam
dan lakukan itu dalam nama Tuhan
18 November, 2008 pada 6:04 pm
@novita
“kita bisa menjadi wakil Tuhan”…
“untuk :
* menciptakan perdamaian
* mempedulikan sesama
* memberantas ketidakadilan
* memelihara alam”
Giyanto:
Saya ingin bertanya untuk Mbk Novita. Kalau Tuhan bisa diwakilkan, siapakan orang/lembaga yang berhak mewakilinya?
Kalau berdasarkan kriteria anda saya bisa menyimpulkan:
* menciptakan perdamaian : PBB, mungkinkah?
* mempedulikan sesama : dermawan/atau bisa jadi pemerintah yang sering bagi-bagi BLT
* memberantas ketidakadilan : Pak Polisi dan Pengadilan
* memelihara alam” : Greenpeace kali yah…
Apakah yang anda maksud bener itu?
23 November, 2008 pada 11:23 am
” ATAS NAMA TUHAN ”
dan bumi Indonesia pun mulai di obok-obok …….
28 November, 2008 pada 12:58 pm
kita ini adalah Ciptaan-Nya dan kita pun tidak memiliki hak apapun bahkan atas sehelai rambut kita.
5 Januari, 2009 pada 12:25 pm
Tuhan yang disembah sekarang adalah tuhan yang vested interest, sekedar tuhan sejarah bukan tuhan sejati, tuhan sejati seperti kata Nietzche sudah kita bunuh & kuburkan dalam helai2 kertas yang disebut kitab suci, dalam tugu-tugu batu nun di manca sana. agamapun menjadi penyebar kebencian
6 Januari, 2009 pada 8:14 pm
makanya agak menggelikan bila ada orang-orang yang berperang membela “tuhannya”, memangnya Yang Maha Kuasa diatas sana perlu untuk membela diri???
19 Januari, 2009 pada 5:32 pm
horas…
sattabi nami tulang nami
sungguh kita emang udah jauh dari kemuliaan Tuhan Yang Maha Kuasa (Debata Mulajad Nabolon)..tidak kecuali diri ku sendiri.
namun jika kita mengahayati firman Tuhan dengan rendah hati…kita akan menemukan firman Tuhan itu dengan sederhana saja..seperti:
RENDAH HATI
SABAR
JUJUR
TULUS
SEHAT
dll
kayaknya kita manusia membutuhkan teladan untuk mengenal Tuhan..pribadi seseorang bernama Jesus.amin
horas
butima
7 Agustus, 2009 pada 11:20 pm
apalah arti sebuah nama…
kalau nama itu tidak hidup dan bardiam dalam hati sanubari yg dalam.
nama Tuhan atau Pencipta alam semesta, Maha suci. setiap manusia yg mengucapkan haruslah jadi terang di dunia. dalam dirinya Hidup dan bercahaya.
jalinlah hubungan dengan yg membuat hidup dan yg menghidupi…..
semua sudah dipenuhi dan ada disetiap renik kehidupan dan yg hidup di alam semesta ini. CINTA KASIH SAYANG
horas
BATAK CENTER