Apa boleh buat, keroncong dianggap tidak cocok lagi dengan semangat zaman yang resah, yang selalu ingin berlari dan berkelahi. Mungkin karena itulah Gesang tidak mencipta lagi, karena Solo yang amat dicintainya sudah selingkuh dengan kapitalisme, westernisasi dan hedonisme yang garing.
ENTAH bagaimana kabar Gesang sekarang ini. Lama sekali tidak ada berita di media masa mengenai pencipta lagu Bengawan Solo ini. Rasa ingin tahu dipicu peristiwa itu, ketika bengawan yang dipujanya murka, merendam wilayah amat luas dari Solo sampai Lamongan. Ikutkah Gesang di antara puluhan ribu orang yang menderita akibat bencana itu ?
Gesang sudah tua, namun bengawan yang perkasa itu tidak ikut renta bersamanya. Kehidupan di sekitarnya berubah dan mungkin cuma sedikit yang dia mengerti. Tuan-tuan Belanda– dengan cara hidupnya yang hedonis, sudah lama sekali pergi. Muncul tuan-tuan baru berpeci hitam, perayaan-perayaan kemerdekaan yang bising, baju loreng dan Pancasila, ribuan mayat bergelimpangan di bengawan itu—dari Solo sampai Surabaya, tampil the smiling general, lalu reformasi, pilkada di mana-mana, kemudian banjir, banjir,banjiiiiiiiiiir……
Bengawan Solo selalu menimbulkan banjir di sepanjang daerah yang dilewatinya. Itu peristiwa rutin yang disyukuri oleh penduduk di tepiannya, sebab membawa berkah dan kemakmuran.
Selepas banjir surut, sawah-sawah menjadi lebih subur. Selalu begitu sejak zaman kerajaan sampai masa kolonial, ketika the javanese princes dan kemudian para nona Londo bersampan-ria disana. Senantiasa begitu sepanjang masa, selalu banjir dan membawa sukacita, namun Orba telah mengubah makna banjir menjadi : bencana! (lagi…)