Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘pendidikan’

Anak-anak Itu Naik Sampan Ke Sekolah

11 September, 2008

Inilah sekeping gambaran mengenai kegigihan anak-anak bangsa untuk meraih pendidikan. Direkam dari pelosok negeri tercinta ini yang tak pernah kita lihat di televisi; tak pernah disebut dalam pidato Presiden, dan tak pernah hinggap dalam ingatan Menteri Pendidikan.

Sebuah kisah yang sungguh menyentuh, mengharukan, dan bisa membuat kita menemukan alasan baru untuk mensyukuri kehidupan masing-masing. Tentang anak-anak Dusun Laihiding, Sumba Timur, yang saban pagi naik sampan ke sekolah….. (more…)

Laskar Pelangi dari Nusa Tandus

2 September, 2008

Anak-anak itu bersekolah tanpa alas kaki, tanpa seragam, dan tanpa tas sekolah. Ke sekolah dengan mengenakan seragam dan sepatu merupakan suatu kemewahan dan bahkan cuma mimpi. (more…)

Totto-chan, Pendidikan Berbasis Kepribadian (3)

3 April, 2008

Aku mencoba menjelaskan metode pendidikan Mr.Kobayashi di buku ini. Dia yakin, setiap anak dilahirkan dengan watak baik, yang dengan mudah bisa rusak oleh karena lingkungan mereka atau karena pengaruh buruk orang dewasa. Mr.Kobayashi berusaha menemukan “watak baik” setiap anak dan mengembangkannya, agar tumbuh menjadi orang dewasa dengan kepribadian yang khas.

Banyak sekali yang masih bisa kutulis tentang Tomoe. Tapi aku cukup puas jika bisa membuat orang sadar bahwa seorang gadis cilik seperti Totto-chan, jika diberi pengaruh yang tepat oleh orang dewasa, akan bisa menjadi pribadi yang pandai menyesuaikan diri dengan orang lain.

Oleh : Robert Manurung

BIASANYA Mama kesulitan membangunkan Totto-chan di pagi hari. Tapi hari itu, dia sudah bangun sebelum yang lain terjaga, sudah rapi berpakaian, dan menunggu dengan tas sekolah tersandang di bahunya.

Mata Mama berkaca-kaca ketika memandang Totto-chan pergi. Rasanya sulit untuk mempercayai bahwa gadis cilik yang santun, yang dengan riang serta penuh semangat berangkat ke sekolah itu, adalah anak yang kemarin dikeluarkan dari sekolah dengan cap “pembuat onar”. (more…)

Totto-chan, Pendidikan Berbasis Kepribadian (2)

3 April, 2008

TOTTO-chan tidak pernah tahu kalau dirinya dikeluarkan dari sekolah itu. Mama hanya berkata,”Bagaimana kalau kau pindah ke sekolah baru ? Mama dengar ada sekolah yang sangat bagus.”

Mama baru memberitahu Totto-chan mengenai peristiwa “memalukan” itu 14 tahun kemudian, setelah usianya genap 20 tahun. Saat itulah dia merasa bersyukur karena memiliki seorang ibu yang sangat bijaksana. (more…)

Totto-chan, Pendidikan Berbasis Kepribadian (1)

27 Maret, 2008

Aku yakin jika sekarang ada sekolah-sekolah seperti Tomoe, kejahatan dan kekerasan yang begitu sering kita dengar sekarang dan banyaknya anak putus sekolah akan jauh berkurang. Di Tomoe tak ada anak yang ingin pulang ke rumah setelah jam pelajaran selesai. Dan di pagi hari, kami tak sabar ingin segera sampai ke sana.

Dalam kasusku sendiri, sulit bagiku untuk mengukur betapa aku sangat tertolong oleh caranya mengatakan padaku, berulang-ulang,”Kau anak yang benar-benar baik, kau tahu itu kan ?”

Seandainya aku tidak bersekolah di Tomoe dan tidak pernah bertemu Mr.Kobayashi, mungkin aku akan dicap anak nakal, tumbuh tanpa rasa percaya diri, menderita kelainan jiwa dan bingung. (more…)

12 Juta Anak Indonesia Putus Sekolah

22 Maret, 2008

155.965 anak berkeliaran di jalan. Sekitar 2,1 juta menjadi pekerja di bawah umur. Mereka sasaran empuk perdagangan anak.

Oleh : Robert Manurung

SETELAH membaca artikel ini, Anda pasti merasa sangat beruntung, dan mendapat alasan baru untuk mensyukuri kemujuran hidup Anda. Tapi sebaliknya Anda pun bisa dihinggapi rasa bersalah; prihatin dan cemas. (more…)

Ibu Segala Zaman, Ny.Tiara Simandjuntak (4)

4 Maret, 2008

Berhentilah makan kalau sudah kenyang!

BUKAN rahasia lagi, di balik hampir semua kasus korupsi di negeri ini selalu ada perempuan-perempuan yang menjadi “kompor” dan provokator. Tidak hanya ibu yang suami atau anaknya menjadi pejabat tinggi, yang suami/anaknya pegawai tingkat kecamatan pun sangat kencang membujuk, mendorong dan bahkan mendesak anak/suaminya melakukan korupsi. (more…)

Ibu Segala Zaman : Ny.Tiara Simandjuntak (2)

27 Februari, 2008

Ingin Punya Menantu Perempuan Thailand

PERJALANAN hidup perempuan yang istimewa ini seluruhnya berkisar dalam perubahan-perubahan besar, belajar beradaptasi, lalu terseret lagi ke dalam gelombang perubahan yang lain, kemudian adaptasi lagi. Seluruh perjalanan dan perubahan-perubahan besar itulah sekolahnya universitasnya! (more…)

Ibu Segala Zaman : Ny Tiara Simandjuntak (1)

25 Februari, 2008

4 Anaknya Lulusan Jerman, 4 Lagi Alumni UI

TERPAKSA menikah di usia remaja lantaran desakan orang tua, ternyata tidak menjadi kendala baginya untuk membina rumah tangga yang harmonis. Dan meski tak bisa lagi melanjutkan pendidikan setelah menikah, semangat belajarnya tidak lantas mati. Dengan belajar secara otodidak, dia fasih dua bahasa asing, Belanda dan Inggris. Lalu ketika terpaksa hidup nomaden mengikuti suaminya yang berprofesi guru, dia segera beradaptasi, dan mendorong seisi rumahnya menjadi keluarga yang multi-kultur.

Siapakah perempuan yang luar biasa lentur itu, yang mengalir seperti air mengikuti liku-liku nasibnya ? Bakat, hasil pendidikan dan kepribadian seperti apa yang dimilikinya, sehingga mampu menyesuaikan diri dengan zaman yang terus berubah; dari era kolonial Belanda, Jepang, Demokrasi Terpimpinnya Bung Karno, Stablitas Otoriternya Soeharto sampai Reformasi yang sarat anomali ?

Dan hebatnya, gejolak-gejolak perubahan zaman yang revolusioner itu tak mampu mengikis prinsip-prinsip luhur yang dianut perempuan yang liat dan tangguh ini. Dia senantiasa down on earth. Selalu membumi dan tidak neko-neko. Dan senantiasa merasa bangga dan bersyukur terlahir sebagai orang Batak.

Dengan sikap seperti itulah ibundanya Marsillam Simanjuntak ini mendukung kemajuan karir suaminya dan mengasuh serta membimbing kedelapan anaknya, 6 laki-laki dan 2 perempuan. Suaminya, Dr.I.P Simandjuntak kemudian menjadi tokoh nasional pemberantasan buta huruf. Sedangkan kedelapan anaknya semuanya menjadi sarjana, empat di antaranya menyelesaikan studi di Jerman, 4 lagi lulusan Universitas Indonesia. Semuanya berhasil mengukir prestasi cemerlang di bidang karir dan profesi masing-masing.

Anaknya yang pertama, Edward Christian Simandjuntak (75), cukup lama menduduki jabatan puncak di PT Tjipta Niaga. Putrinya, Aurora boru Simandjuntak (73), bertahun-tahun sebagai sekretaris Ketua MPR, dari Daryatmo, Amir Machmud sampai Kharis Suhud. Aurora juga pernah menjabat Sekjen Asosiasi Perpustakaan Parlemen Asia-Pasifik.

Anaknya yang paling bontot, Parulian Simandjuntak (63) sudah bertahun-tahun menjadi orang nomor satu di perusahaan farmasi Jerman, PT Schering. Dan di antara mereka semua, yang paling populer dan termasuk tokoh yang disegani di negeri ini adalah Marsillam Simandjuntak (64). Pemikir sosial-politik yang semprat praktek dokter selama 14 tahun ini, dikenal sebagai sosok idealis yang sangat anti-korupsi. Dia menjabat Menteri Sekretaris Kabinet dan Menteri Kejaksaan di dalam kabinet Presiden Abdurachman Wahid.

Ibu segala zaman

Nah, siapakah perempuan hebat itu, yang telah melahirkan, mengasuh dan mendidik manusia-manusia cerdas, punya integritas tinggi dan sukses di bidangnya– sekaliber Marsillam Simanjuntak ? Kok bisa, ibu yang pendidikannya cuma setara kelas lima SD itu membentuk anak-anaknya menjadi manusia-manusia yang berpikir terbuka, berwawasan global, tapi tetap nasionalis dan tetap bangga sebagai orang Batak ?

Ny.Tiara Simandjuntak boru Siahaan, namanya, sudah berusia 91 tahun; tapi masih sehat, bugar dan aktif. Dia menjalani hari tua yang bahagia di rumah peninggalan zaman Belanda–yang terawat baik dan asri, di Jl Dempo kawasan Matraman, Jakarta Timur. Dia tetap mempertahankan cara hidup yang teratur dan berhemat, serta sepenuhnya independen dalam urusan keuangan, tanpa pernah meminta kepada anak-anaknya.

Perempuan Batak yang fasih bahasa Jawa ini menikmati betul masa “pensiun” sebagai isteri dan ibu, setelah suaminya berpulang dan 8 anaknya sudah mentas. Kini dia banyak mengisi hari-harinya dengan membaca di perpustakaan pribadinya.

Salah satu kesenangannya adalah membaca majalah berbahasa Inggris, Reader’s Digest, sumber pengetahuan umumnya sejak masih muda. Dia berlangganan langsung ke Amerika, karena edisi Asia majalah tersebut tidak menyediakan versi khusus dengan ukuran huruf lebih besar.

Dipaksa menikah

Tiara lahir di Pematangsiantar 20 Maret 1916. Ayahnya hanya pegawai kecil di perusahaan perkebunan setempat, namun cukup cerdik membaca arah perubahan zaman. Ketika di kota itu berdiri sekolah-sekolah Belanda partikelir, pegawai kecil itu dengan nekad menyekolahkan Tiara di HIS, kendati uang sekolahnya sangat mahal. Harapannya, dengan memiliki bekal pendidikan, putrinya bakal dapat dijodohkan dengan pemuda yang memiliki pekerjaan bagus.

Demikianlah yang terjadi selang berapa tahun kemudian, ketika Tiara duduk di kelas dua sekolah lanjutan—setara dengan kelas lima SD sekarang. Setahun lagi Tiara akan menyelesaikan program pendidikan lanjutan tiga tahun itu, dan dia mulai merajut angan meneruskan pendidikan ke Jawa. Saat itulah Tiara diajak bicara oleh orang tuanya, yang ternyata membelokkan arah perjalanan hidupnya.

“Kawinlah kamu,”kata ayahnya.

“Nggak Pak. Saya ingin sekolah di Salatiga,”jawab Tiara, lemas.

“Ah, buat apa perempuan sekolah tinggi-tinggi, toh akhirnya ke dapur juga,”jawab ayahnya.

Desakan agar Tiara segera menikah kemudian menjadi arus deras yang tak bisa dilawan. Semua kerabat dekat, bapak tua, bapak uda, inang uda, ramai-ramai membujuk dan mendesak gadis belia yang masih bau kencur itu. Apa boleh buat, daripada durhaka, Tiara pun menyerah.

Tidak menyesal dijodohkan

Di usia 15 tahun—yang sudah dianggap siap nikah pada masa itu, Tiara dilamar oleh seorang guru muda, Iskandar Poltak Simanjuntak. Pemberkatan nikah diadakan di Gereja HKBP Jalan Gereja, Pematang Siantar, pada tahun 1931. Pupus sudah impiannya untuk merantau ke Salatiga, guna menempuh pendidikan sekolah guru perempuan.

“Zaman dulu tidak ada yang bisa memprotes orang tua. Harus turut orang tua. Tapi, menurut saya bagus itu. Bagus sekali efeknya walaupun waktu itu kita kesakitan.”ujar Tiara, 77 tahun kemudian.

“Sebelumnya pernah saya dengar dari seorang kerabat yang menyarankan kepada bapak saya supaya kami anak-anaknya yang perempuan dimasukkan di sekolah Belanda. Tujuannya, supaya kami laku. Jadi, saya bisa mengerti mengapa saya disekolahkan di HIS, meski uang sekolah sangat tinggi waktu itu.Pendek cerita, datanglah pangoli (pria melamar) ini. Kami menikah dan saya dibawa ke Sipirok, sebab suami saya yang lulus dari HKS di Jawa ditugaskan di Sipirok,”kenang Ny.Tiara Simandjuntak boru Siahaan. (Bersambung)

Butet Manurung : Sekolah Untuk Kehidupan

23 Februari, 2008

Butet Manurung April 2004, ketika ANTEVE memberi penghargaan “Women of the Year“ kepada perempuan bernama asli Saur Marlina boru Manurung ini, ia mulai santer dibicarakan. Apalagi ketika Oktober kemudian majalah TIME Asia menobatkannya sebagai salah satu “TIME Asia’s Heroes”, mata Indonesia pun terbuka. (more…)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.