Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘solilokui’

Atas Nama Tuhan…..

14 November, 2008

TAK SEORANG PUN yang berhak mengklaim sebagai wakil Tuhan di dunia ini.

Oleh : Robert Manurung

KITA semua hanya tukang kutip, yang membaca dari sumber-sumber terbuka—dari kitab-kitab tua dan fenomena alam; lalu meyakini dan kemudian mempengaruhi, bahkan tak jarang memaksa orang lain, untuk meyakini Tuhan versi kita.

Lembaga-lembaga agama membuat klaim sepihak bahwa kehadirannya berdasarkan mandat dari Tuhan, untuk menyebarkan ajaranNya, untuk mengelola persembahan serta sedekah, dan untuk menghukum orang-orang yang didakwa melanggar ajaranNya.

Sejak zaman purba manusia telah menyalahgunakan nama Tuhan dan ajaranNya– bahkan mengkudeta sebagian kekuasaanNya; demi menguasai dan mengeskploitasi sesama manusia, serta segenap sumber daya. Juga untuk memuaskan nafsu serta ambisi pribadi para ulama dan pendeta; yang bersifat profan, sekuler dan politis.

Dan sejauh ini, agama-agama telah berhasil menjadikan perannya teramat penting, menentukan, dan seolah-olah bersifat sakral. Bahkan terkadang, agama sudah menjema menjadi Tuhan itu sendiri. (more…)

Cinta itu Pemborosan dan Merusak…

16 Oktober, 2008


…mengguritanya bisnis yang mengeksploitasi cinta adalah lantaran hampir seluruh penduduk bumi telah diposisikan menjadi KONSUMEN cinta, padahal seharusnya kan sebagai PRODUSEN ?

Oleh : Robert Manurung

PERNAHKAH Anda iseng-iseng menghitung, berapa sih pengeluaran Anda per bulan untuk, demi, dan karena cinta ?

Jangan kaget, hampir dua pertiga dari penghasilan bersih Anda dibelanjakan untuk, demi, dan karena cinta! Tidak percaya ? Cobalah mencatat pengeluaran Anda bulan lalu, kemudian pilah-pilah dan kelompokkan; Anda pasti akan manggut-manggut. (more…)

Pemerintah Menyerah, Kita Semua Pengecut, Maka Biarlah Sidoarjo Tenggelam…

15 September, 2008

Ironisnya, rakyat kita gampang sekali dihasut dan diadu domba untuk saling menyakiti : FPI menyerang AKKBB, pendukung dua kandidat gubernur Maluku Utara saling gebuk, dan banyak lagi kasus semacam itu. Sebagian di antara kita bahkan begitu getol melakukan demo membela Palestina. Tapi, kenapa kita diam saja ketika saudara-saudara kita di Sidoarjo ditelantarkan, dipermainkan, dan dihianati ? (more…)

Negara Tidak Berhak Membubarkan Ahmadiyah

23 April, 2008

Tidak ada yang lebih sinting di dunia ini daripada mengadili keyakinan atau sumber keyakinan seseorang maupun kelompok. Belum terlambat bagi kita semua untuk menyadari bahwa sesungguhnya Ahmadiyah berhak hidup di negara beradab ini

Oleh : Robert Manurung

BOLEHKAH menganalogikan bangsa Indonesia sebagai sebuah keluarga besar ? Kalau boleh, berarti para pengikut Ahmadiyah adalah anggota keluarga kita. Tentunya mereka memiki hak dan kewajiban yang sama dengan kita sebagai sesama anak bangsa. Salah satu hak kita sebagai anak bangsa, berdasarkan pasal 28 UUD 45, adalah kebebasan memeluk suatu agama dan menjalankan ibadahnya.

Bersediakah kita mengakui dan menghormati eksistensi Ahmadiyah ? (more…)

Flash Disk Hilang, Cinta Menjelang…..

22 Maret, 2008

Oleh : Robert Manurung

DALAM seminggu ini aku membuat dua rekor sekaligus. Untuk pertama kalinya, aku absen ngeblog sampai satu minggu. Dan untuk pertama kalinya pula, aku tidak meng-update blog ini sepekan lebih. Rasanya ada yang hilang dari hidupku; semacam kegairahan yang tak tergantikan; meskipun selama seminggu ini aku menikmati pengalaman lain yang sangat merasuk sukma. (more…)

Siapa Butuh Akademi Cinta ? (1)

27 Februari, 2008

Oleh : Robert Manurung

Seharusnya kita merasa heran, mengapa di dunia ini tidak ada kursus, sekolah, akademi, fakultas atau universitas cinta  ?

SEJAK awal sejarah peradaban, manusia selalu menghabiskan usianya untuk mempelajari dan merenungkan segala hal yang ada (juga yang tidak ada) di dunia ini. Di zaman moderen,   bangsa-bangsa yang maju mengirimkan tim ekspedisi ke dasar samudra yang gelap dan ke angkasa luar yang liar, dengan ongkos sangat mahal dan mempertaruhkan nyawa; demi menyingkap secuil dari misteri besar tentang  keberadaan kita di bumi ini.

Tapi ironisnya, umat manusia tidak pernah melakukan studi dan ekspedisi yang serius ke pusat eksistensinya yang paling utama dan intim, yaitu CINTA. (more…)

Hutan Tele, Tumbal Pemimpin Berpikiran Instan

20 Februari, 2008

BUDAYA instan kini sedang menggempur berbagai aspek kehidupan kita. Setelah urusan perut–dimana mie instan sudah menjadi makanan pokok, tahapan berikutnya yang digarap serba instan adalah apa yang kita sebut : pembangunan. Tumbalnya tidak tanggung-tanggung : kekayaan alam yang terbentuk melalui proses ribuan dan bahkan jutaan tahun; misalnya hutan alam Tele, Samosir, kini sedang dibabat oleh ratusan gergaji mesin. (more…)

Indonesia Dilanda Wabah Stockholm Syndrome

12 Februari, 2008

LUPAKAN dulu wabah DBD atau flu burung. Ada satu jenis penyakit baru yang lebih mengerikan, dan kini sudah menjangkiti sebagian besar warga Indonesia. STOCKHOLM SYNDROME, nama wabah tersebut, adalah semacam penyakit mental yang bisa membuat pnderita mengalami distorsi, dislokasi dan disorientasi.Pendeknya, orang yang terjangkit wabah tersebut bakal kehilangan jadi diri, kehormatan dan akal sehat. (more…)

Jas Merah Bung Karno Untuk Soeharto

31 Januari, 2008

Salut buat anda semua orang Indonesia.Aku bangga pada kalian. Terutama mereka yang pernah disakiti oleh Soeharto, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kalian sudah menunjukkan kebesaran jiwa dan moral yang sangat tinggi, dengan tidak mengusik sedikit pun prosesi yang berjalan, sejak kematian diktator itu sampai pemakamannya. Kalau saja rohnya menyaksikan toleransi yang sangat indah itu, mungkin Soeharto akan menyesal pernah menyakiti kalian, biar pun memang sudah sangat terlambat.

Justru yang mengecewakan–dan bahkan menimbulkan rasa mual, adalah pencitraan yang sangat gencar dilakukan oleh media massa kita. Apalagi stasiun televisi swasta, dari jam ke jam, dari pagi sampai malam, kita dibanjiri, dibombardir dan didoktrin dengan pujian dan sanjungan yang teramat vulgar terhadap Soeharto. Mungkin bagi mereka yang menghormati jasa-jasa Soeharto pun, pencitraan bergaya propaganda itu akan terkesan terlalu bagus, terlalu banyak dan berlebihan. (more…)

Gesang, Bengawan Solo dan Tragedi Sosial

25 Januari, 2008

Apa boleh buat, keroncong dianggap tidak cocok lagi dengan semangat zaman yang resah, yang selalu ingin berlari dan berkelahi. Mungkin karena itulah Gesang tidak mencipta lagi, karena Solo yang amat dicintainya sudah selingkuh dengan kapitalisme, westernisasi dan hedonisme yang garing.

ENTAH bagaimana kabar Gesang sekarang ini. Lama sekali tidak ada berita di media masa mengenai pencipta lagu Bengawan Solo ini. Rasa ingin tahu dipicu peristiwa itu, ketika bengawan yang dipujanya murka, merendam wilayah amat luas dari Solo sampai Lamongan. Ikutkah Gesang di antara puluhan ribu orang yang menderita akibat bencana itu ?

Gesang sudah tua, namun bengawan yang perkasa itu tidak ikut renta bersamanya. Kehidupan di sekitarnya berubah dan mungkin cuma sedikit yang dia mengerti. Tuan-tuan Belanda– dengan cara hidupnya yang hedonis, sudah lama sekali pergi. Muncul tuan-tuan baru berpeci hitam, perayaan-perayaan kemerdekaan yang bising, baju loreng dan Pancasila, ribuan mayat bergelimpangan di bengawan itu—dari Solo sampai Surabaya, tampil the smiling general, lalu reformasi, pilkada di mana-mana, kemudian banjir, banjir,banjiiiiiiiiiir……

Bengawan Solo selalu menimbulkan banjir di sepanjang daerah yang dilewatinya. Itu peristiwa rutin yang disyukuri oleh penduduk di tepiannya, sebab membawa berkah dan kemakmuran.

Selepas banjir surut, sawah-sawah menjadi lebih subur. Selalu begitu sejak zaman kerajaan sampai masa kolonial, ketika the javanese princes dan kemudian para nona Londo bersampan-ria disana. Senantiasa begitu sepanjang masa, selalu banjir dan membawa sukacita, namun Orba telah mengubah makna banjir menjadi : bencana! (more…)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.