Bahasa Dusta, Sensor dan Feodalisme

SELAIN fungsi dasarnya sebagai sarana berkomunikasi, bahasa bisa juga dijadikan alat untuk mempengaruhi dan mengendalikan masyarakat. Bung Karno memanfaatkan bahasa Indonesia untuk mempercepat proses tumbuhnya nasionalisme. Sebaliknya Soeharto menyalahgunakan bahasa Indonesia untuk menutupi kebobrokan rezimnya, serta membangun neo-feodalisme dalam tatanan kedikatatoran versi militer-jawa.

Bung Karno memang tidak sendirian mengembangkan bahasa Indonesia menjadi bahasa yang egaliter. Chairil Anwar menempati urutan teratas di antara semua tokoh yang berjasa dan berpengaruh besar dalam pengembangan bahasa persatuan kita ini. Chairil membuat sempalan bahasa Melayu ini memiliki roh keindonesiaan yang lugas, egaliter dan moderen, menjadi berbeda betul dengan bahasa Melayu, sehingga semua suku di Indonesia merasa memilikinya.

Puluhan tahun sebelum menduduki jabatan presiden, Bung Karno sudah membuat banyak tulisan dalam bahasa Indonesia yang senapas dengan spirit kemerdekaan dan kesetaraan dalam syair-syair karya Chairil Anwar. Kemudian setelah menjadi pemimpin nomor satu, Bung Karno tetap mempertahankan spirit kesetaraan tersebut, sehingga kedudukan presiden tidak menjadi :”sangar”. Bayangkan, pada masa itu petani di dusun dan pelosok terpencil negeri ini menyapa presidennya cukup dengan sebutan bung yang artinya sama dengan saudara.

Memang, puluhan tahun kemudian Bung Karno berubah menjadi seorang megalomania dan sekaligus paranoid. Sang Proklamator menjadi ragu apakah rakyat masih tetap mencintai dan mendukungnya, sebaliknya dia selalu mencurigai tentara punya agenda tersembunyi untuk menjatuhkannya. Dia lantas menghias diri dengan gelar-gelar feodal yang angker, antara lain gelar “Paduka Yang Mulia”. Namun dalam kenyataannya Bung Karno tidak menjelma menjadi diktator dan tidak pernah menyalahgunakan bahasa Indonesia menjadi alat kekuasaan.

Soeharto-lah yang pertama kali menerapkan kontrol terhadap pemakaian bahasa di negeri ini, serta melakukan sensor terhadap berbagai bentuk ekspresi masyarakat. Jenderal yang selalu tersenyum inilah yang merampas kemerdekaan banyak seniman, termasuk Pramudya Ananta Toer yang disekap puluhan tahun di Pulau Buru; kemudian penyair Rendra dilarang membaca puisi di berbagai kota.

Sensor dan pembreidelan

Tak cukup hanya memenjarakan dan mematikan proses kreatif para seniman, Soeharto juga membreidel puluhan surat kabar dan majalah, serta melakukan sensor yang sistematis terhadap semua jenis media massa, termasuk buku, serta program “cuci otak” lewat doktrin-doktrin kosong namun terbukti efektif sebagai alat teror mental. Entah dimana Soeharto belajar cara-cara komunis dan fasis seperti itu.

Setelah berhasil melumpuhkan para seniman, wartawan dan pemikir, Soeharto kemudian mendiktekan pemakaian bahasa Indonesia yang sarat eufemisme, berbau militer dan berjiwa feodal Jawa. Melalui pidato-pidato resmi presiden dan pernyataan para menteri lewat media massa, mulailah rakyat dicekoki versi baru berbahasa Indonesia yang penuh kebohongan, penjelasan yang malah mengaburkan fakta dan ukuran-ukuran yang serba relatif dan bahkan direduksi.

Eufemisme

Orang ditangkap dan dipenjara dikatakan diamankan. Di Aceh, istilah untuk pemenjaraan orang-orang yang dicurigai sebagai separatis adalah disekolahkan. Ada kelaparan di Papua, jangan coba-coba wartawan menulis apa adanya, tapi harus ditulis kekurangan gizi. Kalau terjadi kerusuhan di sebuah kota, media massa harus menulis telah terjadi gangguan oleh pengacau keamanan namun sudah berhasil diatasi, sudah aman terkendali, meskipun dalam kenyataanya kerusuhan masih berlanjut.

Stabilitas nasional adalah segala-galanya. Harus selalu dijaga dan untuk itu kebebasan masyarakat boleh dirampas. Karena tanpa stabilitas nasional, kata Soeharto, kita tidak mungkin membangun dengan tenang dan akibatnya cita-cita nasional untuk tinggal landas dan membangun manusia Indonesia seutuhnya tidak akan tercapai. Oleh karena itu saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air, apabila keadaan mangkin sulit pemerintah akan terpaksa melakukan penyesuaian harga, diharapkan rakyat tetap tenang dan mau mengencangkan ikat pinggang. Maksudnya pemerintah terpaksa menaikkan harga dan rakyat harus siap menderita!

Katanya Indonesia sudah swasembada beras

Rezim Soeharto juga lihai “mengkorupsi” fakta dan membuat pemaparan yang optimistis dari data-data yang mengenaskan. Ketika terjadi Tragedi Priok, pihak keamanan membuat pernyataan melalui TVRI bahwa jumlah korban dalam peristiwa itu adalah sembilan orang. Rekan-rekan wartawan yang meliput di lokasi kejadian mencatat jumlah korban lebih dari 100 orang!

Dalam kejadian lain, ahli-ahli statistik kita berhasil mengelabui FAO (Badan Pangan Dunia),sehingga Indonesia dinyatakan telah berhasil swasembada beras dan Soeharto mendapat penghargaan dari lembaga itu. Faktanya : pada waktu itu Bulog secara diam-diam mengimpor beras dari Thailand melalui pihak ketiga!

Meminta petunjuk bapak presiden

Harmoko adalah tokoh sipil paling berpengaruh sepanjang sejarah rezim Soeharto. Rahasia sukses bekas tukang cuci mesin cetak di surat kabar Merdeka ini adalah kepandaiannya menjilat Soeharto. Orang inilah yang mempelopori pemakaian bahasa Indonesia dengan jiwa feodal jawa yang kental, yang kemudian dikembangkan oleh Soeharto menjadi bahasa standar jajaran birokrasi di seluruh Indonesia.

Salah satu “karya” Harmoko paling spektakuler adalah istilah meminta petunjuk bapak presiden , yang membuat posisi Soeharto menjadi seperti seorang raja. Harmoko juga yang merekayasa pemberian gelar “Bapak Pembangunan” buat Soeharto. Semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa Harmoko!

Bersih lingkungan

Bahaya komunis adalah momok yang selalu didengungkan oleh Soeharto dan para bawahannya. Banyak kejadian lucu terkait dengan sikap paranoid yang terkesan dibuat-buat ini. Sekelompok pemuda iseng dipenjarakan dan menjadi semacam tokoh perlawanan, padahal yang mereka lakukan cuma menyablon kaos dengan gambar palu arit. Fakta menggelikan lainnya, orang-orang yang lahir di Madiun tidak boleh menduduki jabatan tinggi di pemerintahan atau organisasi sosial. Apes betul, cuma gara-gara “salah lahir” di kota dimana kelompok komunis pernah melakukan pemberontakan…

Selama 32 tahun rakyat ditakut-takuti mengenai bahaya komunis, entah berapa ribu orang terhambat karir atau dimatikan usahanya lantaran dicurigai tidak bersih lingkungan , istilah khas Orde Baru untuk menyatakan orang itu ada kaitan dengan PKI. Padahal bisa dipastikan semua orang Indonesia pada masa itu ada kaitannya dengan PKI, entah pernah berteman dengan anggotanya atau salah satu sanak saudaranya menjadi anggota atau simpatisan PKI. Soeharto sendiri kenal akrab dengan tokoh G 30 S : Kolonel Untung. Soeharto memang jago bermain standar ganda : setelah mengganyang komunis, dia kemudian mempraktekkan taktik-taktik komunis dengan lebih lihai!

Militeristik

Perhatikanlah istilah G 30 S itu. Sepintas tidak ada yang salah atau aneh pada istilah tersebut, karena kita sudah terbiasa dengan istilah yang sebenarnya funky itu. Itu cuma satu dari puluhan ribu istilah berbau militer yang dicangkokkan Soeharto ke dalam kehidupan sipil. Masih ingat singkatan Pangkopkamtib ? Kemudian singkatan-singkatan berikut ini : BP7, Kelompencapir, masih ingatkah kepanjangannya ?

Mungkin tak satupun di antara kita yang menyadari fakta ini, yang merupakan bagian dari kehidupan kita sehari-hari, bahwa teks paling populer dan tersebar di semua unit pemukiman terkecil di Indonesia adalah : 1×24 Jam Tamu Harap Lapor. Teks seperti ini terdapat di semua RT di seluruh wilayah RI. Isinya yang sangat singkat dan bersifat instruksi menunjukkan dengan jelas teks itu produk militer. Nah, apakah ada yang berubah setelah Gerakan Reformasi yang amat bising itu menyelamatkan Orde Baru dari keruntuhannya secara alamiah?

Epilog

POLITIK pembodohan melalui “pemerkosaan” bahasa yang dilakukan rezim Soeharto berlangsung sekitar 20 tahun atau satu generasi. Inilah faktor utama, selain sensor dan pembreidelan, yang membuat bahasa Indonesia menjadi impoten, sehingga judul-judul film layar lebar dan novel Indonesia sekarang ini hampir semuanya pakai bahasa Inggris. Kenapa ? Karena orang-orang kreatif di bidang film dan penulisan Indonesia sekarang ini adalah orang-orang yang lahir akhir tahun 70-an atau awal 80-an, pada saat Soeharto di puncak “birahi” untuk “memperkosa” bahasa Indonesia.

Hal ini menjelaskan pula mengapa blogsphere Indonesia didominasi komentar-komentar pertamax, hahahihi, wakaka, *halah* dan semacam itu. Tidak ada tradisi diskusi yang serius dan kritis, sehingga ketika kita mencoba melakoninya kita menjadi malu sendiri dan merasa “nggak gaul”. Satu-satunya bidang yang kita dalami secara serius dan kritis adalah seputar sepakbola Eropa. Sisanya : hedonisme! (Robert Manurung)

http://www.ayomerdeka.wordpress.com

Iklan

Tag: , , , , , , ,

20 Tanggapan to “Bahasa Dusta, Sensor dan Feodalisme”

  1. Sawali Tuhusetya Says:

    Hahahahahaha, 😆 saya masih suka menggunakan kata *halah* dalam komen, loh. Ini sebuah feneomena kebahasaan yang menarik diungkap dalam bahasa blogosphere, Bung Robert. *halah* menurutku sih utk menjalin keluwesan dan komunikatif saja tanpa mengurangi esensi dan content-nya.
    Saya sepakat dg Bung Robert. Penggunaan bahasa pada masa rezim Orba sdh demikian jauhnya tereduksi oleh hegemoni kekuasaan. Di tengah masyarakat paternalistis semacam itu, payahnya, para pejabat di bawahnya justru melakukan bentuk “penghormatan” kepada atasan dg gaya bahasa imitasi, meniru2, baik itu dalam bentuk eufemisme maupun gejlasa krasis yang lain. Pengaruh rezim Orba pun tampaknya masih kuat di tingkat kelembagaan hingga sekarang. Bahkan, menurut rencana Pusat Bahasa akan segera meluncurkan UU Bahasa yang akan melakukan kontrol terhadap pemakaian bahasa di sektor publik, pers, dan dunia usaha (utk yang terakhir saya kira tak masalah). Agaknya ini tetep menarik utk didiskusikan Bung Robert.

  2. Iman Brotoseno Says:

    tiba tiba ephoria KEBEBASAN membuat kita menjadi bingung, hendak kemana ?
    apakah ini yang kita cari ?

    RM: Kayaknya yang salah bukan euphoria kebebasan, tapi perilaku ekstrim dan anarki.
    Yang kita cari adalah kebebasan dalam koridor moral dan hukum. Salam!

  3. Robert Manurung Says:

    @ Sawali Tuhusetya

    PERTAMAX

    Bung Sawali berhak menuliskan kata di atas, jika mengikuti trend di dunia blog Indonesia.

    Maaf, bukannya aku tidak punya rasa humor sehingga mengecam kebiasaan baru di blogsphere kita, yaitu menggunakan istilah-istilah yang sifatnya melucu seperti wakaka dan “halah”. Malah sebaliknya aku yakin betul bahwa refreshing yang mungkin bisa kita pungut dari komunikasi di dunia blog adalah rahmat tersendiri, ketika Indonesia tercinta ini serba memusingkan.

    Bisa kuterima penjelasan Bung Sawali, bahwa penggunaan ‘halah’ untuk menjalin keluwesan dan komunikatif saja. Kalau masih proporsional, malah bisa jadi pemanis juga kata ‘halah’ itu atau bentuk rendah hati supaya jangan terkesan arogan.

    Tapi perlukah kita menurunkan bobot keseriusan tulisan atau analisis kita mengenai hal yang memang perlu serius? Apa ini bukan bentuk kurang percaya diri, sehingga sebuah pemikiran yang bagus perlu diturunkan standarnya supaya jangan terkesan terlalu serius? Apa itu bukan bentuk meremehkan kecerdasan atau kesungguhan orang lain juga ?

    Intinya : apakah dunia blog Indonesia memang harus seperti yang kini menjadi trend ? Pertanyaan ini aku ajukan kepada orang-orang yang aku yakini motivasinya ngeblog memang serius dan mungkin tadinya ada semacam misi.

    Aku tidak menyalahkan para blogger yang dari semula niatnya memang cuma kepingin bermain-main di dunia blog ini karena itu sah-sah saja.

    Di sisi lain, jika keadaan yang sekarang ini harus kita maklumi sebagai proses sebelum datangnya kedewasaan, mana mungkin terjadi jika penulis dan pemikir serius malah ikut arus besar yang senangnya main pertamax sampai quatrick itu ?

    Oh ya, aku sependapat dengan Bung Sawali, penyalahgunaan bahasa menjadi instrumen kekuasaan memang tetap aktual dan menarik didiskusikan. Terima kasih untuk umpan balik yang pak Sawali berikan.

    Salam

  4. bedh Says:

    huhuhu saya sedikit ketakutan membaca blog ini dan cara penulis menanggapi komentar 😀
    bahkan saya sudah sedikit menyesal telah menancapkan kaki pada pondasi dasar dan mengucapkan sumpah pemuda segala.
    tapi toh akhirnya saya harus melawan rasa takut saya itu kan? melawan ketakutan saya yang berperan sebagai penjajah. karna saya tau ketakutan selalu timbul dari keadaan ketidak tahuan.

    kalau soekarno yang selama ini saya ketahui cuma seorang sosok pemimpin yang memimpin dengan penuh kharismatik. tapi kemudia hal itu hanya benar2 sampai di situ. bahkan beberapa pengalaman sejarah yang saya tangkap malah sang maesro malah siap mengorbankan kepentingan orang banyak hanya demi idealisme dan kharisma. beberapa langkah politiknya seperti “mercu suar” “ganyang malaysia” “nasakom” adalah bukti pelajaran yang tidak saya sukai darinya.
    soeharto yang saya kenal lewat pelajaran politik saya yang sangat2 minim adalah sosok yang sangat ahli dalam bidang strategis. mampu menyetir sebuah bangsa selama kurun waktu yang saya rasa sangat spektakuler itu telah mampu membuat saya terkagum-kagum dengan kecerdasan memimpinnya. seorang pemimpin yang sangat2 pintar menutupi kebusukannya dengan tampang polos sahabat orang kecil dengan menggerakan orang2 besar bersenjata di belakang layar. benar2 di belakang layar karna layar yang ada akan di bumi hanguskan jika sedikit saja tidak mau menjilat.

    saya tidak begitu suka dengan tentara dan militerisme. cuma karna alasan saya sangat tidak menyukai kekerasan. tokoh kemerdekaan idola saya adalah Boedi utomo dengan gagasannya *mendirikan perkumpulan yang nantinya dapat menyatukan berbagai suku bangsa di nusantara waktu itu untuk bersedia memikirkan serta berusaha memperbaiki nasib bangsa. perkumpulan yang bersifat ekslusif tapi terbuka untuk terbuka untuk siapa saja tanpa melihat kedudukan, kekayaan, atau pendidikannya. *sumber comment mbah wiki. 😀

    melihat apa yang dikatakan ternyata tidak seangker seperti kata2 yang di ucapkan. huhuhuhu

  5. hadi arr Says:

    Membaca postingan Abang ini masih adakah kata maaf buat Soeharto?!
    terbelenggu dan terkotak-kotak sehingga tidak ada Apresiasi kita buat penulis, budayawan, seniman pada masa itu.
    Beberapa peristiwa masih kita ingat pembredelan beberapa Majalah, Surat Kabar yang sedikit saja bersebrangan, pelarangan bicara kebenaran di depan umum sebut saja tokoh-tokoh petisi 50,Mantan ketua HMI Toni Ardi, AM Fatwa, bahkan sampai Bung Tomo.
    Terakhir yang paling menggelikan (setidaknya menurut saya) dilarangnya penggunaan nama-nama berbau asing seperti Mall menjadi mal, Taxi menjadi Taksi dan banyak lagi.
    Masih ingat pelarangan lagu-lagu melankolis yang disebut cengeng.
    Semua itu cocok benar dengan postingan Abang.
    MERDEKA

  6. anton saragih Says:

    “congratulation,!!”,blog baru semoga membawa visi dan semangat baru.
    mudah-mudahan kedepannya ada postingan yg “ringan” dan “renyah” sekedar untuk meneduhkan orang-orang yg masih terjajah.
    salam hormat dari anakmu.

  7. Robert Manurung Says:

    @ bedh

    Komentarmu memberiku inspirasi : musuh utama kita kalau mau merdeka adalah rasa takut. Itu yang membuat bangsa kita dijajah terus-menerus, oleh Belanda (350 tahun), Jepang (3,5 tahun), Demokrasi Terpimpin (?), Orde Baru (32 tahun) dan sekarang oleh korporasi multinasional beserta para kompradornya.

    Terima kasih, bedh. Tetaplah semangat kawan.

  8. Robert Manurung Says:

    @ Mas hadi arr

    Memang ada yang bilang bangsa kita menderita amnesia sejarah yang akut. Tapi aku yakin, siapapun yang peduli pada nasib bangsa ini tak mungkin lupa penjajahan atas nama stabilitas nasional yang dilakukan rezim Soeharto.

    Salam.

  9. Robert Manurung Says:

    @ anton saragih

    Terima kasih, Anton. Bagaimana keadaanmu di Jepang sana ?

  10. abah oryza Says:

    saya masih ada dalam ketakutan, dan saya belum merdeka … gabung bang …

  11. Robert Manurung Says:

    @ abah oryza

    selamat bergabung kawan. Mari kita berbagi pengalaman dan pengetahuan, serta saling mendukung, agar kemerdekaan kita sebagai warga negara dapat kita proklamasikan segera.

    Aku serius soal ini : kemerdekaan manusia Indonesia harus diproklamasikan, sebab ternyata kemerdekaan kita sebagai bangsa dan negara tidak otomatis menjamin kemerdekaan individu; malahan dalam banyak kasus justru negaralah yang menjadi penjajah atau penindas terhadap warganya sendiri.

    Merdeka!

  12. daustralala Says:

    Saya pikir Anda Robert Manurung dari ITB yang tempo hari mengembangkan tanaman jarak pagar untuk dikembangkan sebagai bahan bakar alternatif 🙂

    Ok Pak. Ada saatnya kita serius tapi kadang butuh waktu juga buat becanda 🙂

    Soal kemerdekaan, saya malah meragukan apakah kita sudah merdeka atau belum. Lha kan proklamasi itu klaim saja? Kita tidak benar-benar menang perang kok. Coba kalau Hiroshima dan Nagasaki nggak dibom, kita masih dijajah.

    Hehe. Btw, sekarang nguli di mana?

    Robert Manurung :

    Kebetulan saja namaku sama dengan pakar energi alternatif dari ITB itu. Selebihnya kami sangat berbeda. Dia ilmuwan benar, sedangkan aku cuma seorang pemulung di ranah ilmu pengetahuan : comot sana sini kemudian diekstrak dan bikin paradigma sendiri hehehe…

    Soal bercanda, apakah masih kurang bercanda bangsa ini ? Lihat acara televisi : Tukul jadi tontonan wajib pemulung sampai presiden. Kemudian hampir semua acara lainnya di seluruh stasiun TV diusahakan dan bahkan dipaksakan supaya lucu.

    Seminar-seminar yang sukses bukanlah yang membuat pesertanya tambah cerdas atau mendapat pencerahan, tapi yang pembicaranya pandai melawak, sehingga peserta tidak ngantuk atau tertidur.

    Uztad atau rohaniawan yang menjadi idola umat bukanlah yang mumpuni ilmu agama dan kadar keimanannya, tapi yang bisa menggelitik selera humor umat atau jemaat.

    Rasanya semua bidang kehidupan di negeri tercinta ini telah dirasuki canda. Tanpa terkecuali, yang namanya reformasi dan demokratisasi pun ujung-ujungnya cuma menghasilkan canda. Dan bercanda yang paling kelewatan adalah membiarkan lingkungan dirusak secara sistematis, namun kemudian ketika dilanda banjir dan longsor kita malah menyebutnya fenomena alam atau nasib!

    Yang serius di negara ini hanyalah orang-orang yang terjajah, tertindas dan teraniaya. Aku termasuk golongan ini. Bagaimana bisa bercanda kalau rumahnya dikubur lumpur seperti di Sidoarjo ?

    Oh ya, sudah sepuluh tahun aku berhenti nguli. Selama itu aku menjalani hibernasi seperti beruang kutub hehehe…
    Tapi sejak lima bulan yang lewat aku merintis usaha kecil-kecilan di bidang advertising. Hasilnya tak seberapa, tapi lumayan independen.

    Terima kasih!

  13. Arif Budiman Says:

    Wez… Bagus… bagus… 😀
    Saya juga miris nih… Melihat bahasa gaulnya anak-anak Indonesia… Sudah banyak yang menyimpang dari kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar (dan yang lebih aneh, mereka itu “BANGGA”!!! :O )
    Saya sebenarnya tidak mengerti sih, apa memang dengan bahasa bisa menjajah (memperkosa, atau apalah istilah Mas) rasa cinta terhadap negara. Yang saya tahu, kadar kecintaan anak negeri terhadap bahasa dan budaya mereka sendiri semakin berkurang. Itu saja… Mungkin itukah dampaknya?

    RM:

    Tentu saja, bahasa bisa menjajah pikiran. Orang Malaysia menyebut ibukota negaranya : ke-el, bukan Kuala Lumpur. Penyebutan itu mengakibatkan “jiwa” melayu kota itu mati pelan-pelan, lalu digantikan oleh “jiwa” western.

    Satu contoh lagi, belakangan ini para blogger kita suka memplesetkan nama Malaysia menjadi malingsia— sebuah stereotif baru berlatar belakang kebencian — yang kalau berlanjut akan membuat citra bangsa dan negara jiran itu selamanya akan jelek di mata orang Indonesia.

    Terima kasih
    Salam Merdeka!

  14. Martin Manurung Says:

    Horas Bung! Selamat datang di blogosphere.

  15. Robert Manurung Says:

    @ Martin Manurung

    Horas kawan. Terima kasih untuk sambutannya. Aku memang baru saja berkecimpung di blogsphere. Masih aklimatisasi.

  16. Advokat Listiana Says:

    Jadi lah dirimu sendiri, sebaik-baiknya dirimu. Dan salam kenal 🙂

  17. Alfin Anak ku Says:

    Salam kenal 🙂

  18. Robert Manurung Says:

    @ Advokat Listiana

    Terima kasih.

    Setuju, kita harus menjadi diri sendiri, menjadi yang yang terbaik dari potensi kita masing-masing, dengan satu syarat : menjadi manusia merdeka! Soalnya, maaf, menjadi diri sendiri dan mengembangkan diri secara optimum bagi seorang koruptor sama dengan membudayakan korupsi.

    PEACE

  19. Robert Manurung Says:

    @ Alfin Anak ku

    salam kenal juga kawan. selamat datang di blog ini.

    Salam Merdeka

  20. Bahasa Dusta, Sensor dan Feodalisme « Al Haqqi Batubara Says:

    […] dan di isikan dibawah bicara merdeka. Anda dapat meneruskan melihat respon dari tulisan ini melalui RSS 2.0 feed. Anda dapat merespon, or trackback dari website […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: