Melihat Indonesia dari Korea Selatan

Mungkin tidak banyak di antara kita yang masih ingat, bahwa Indonesia dan Korea Selatan sama-sama memulai pembangunan ekonomi pada akhir tahun 60-an. Situasi dan kondisi kedua negara pada waktu itu banyak sekali kesamaannya; antara lain sama-sama negara agraris, situasi ekonomi morat-marit, sedang transisi politik, menjadi satelit Barat, dipimpin oleh rezim militer dan tidak ada kepastian hukum.

SAMPAI tahun 60-an, Korea hanyalah sepenggal daratan di benua Asia dan sebuah bangsa yang keberadaannya “terlupakan” sepanjang sejarah dunia. Selama ribuan tahun eksistensi mereka tenggelam di balik bayang-bayang kebesaran ras Cina dan new kid on the block bernama Jepang yang budayanya menggetarkan dunia barat.

Keberadaan bangsa Korea baru menarik perhatian setelah pecahnya Perang Korea. Sejatinya itu sebuah perang saudara “jadi-jadian”, namun tetap amat tragis, lantaran wilayah negara itu menjadi episentrum perebuatan hegemoni di Asia antara dua super power, yaitu Amerika Serikat (BlokBarat) dan Uni Soviet (Blok Timur).

Pada saat yang sama, dunia barat sedang terpesona oleh cahaya yang menyilaukan dari sebuah kepulauan di Asia Tenggara. Disana, di kaki benua Asia itu, sebuah negara muda, sebuah bangsa baru dari gabungan ratusan suku, sedang sibuk berdebat mengenai ideologi dan sistem kenegaraan yang ideal. Presidennya bernama Soekarno alias Bung Karno.

Waktu itu Korea tidak punya tokoh sekaliber Bung Karno, yang dengan kelihaiannya memainkan diplomasi internasional berhasil memaksa Belanda mengakui kedaulatan Indonesia atas Papua. Bung Karno juga menjadi tokoh panutan bangsa-bangsa di Asia, Afrika dan Amerika Latin; yang kemudian satu per satu mengikuti jejak Indonesia menyatakan kemerdekaan negara mereka.

Singkat cerita, Indonesia memiliki satu keunggulan kecil dibanding Korea Selatan, ketika kedua negara sama-sama memulai pembangunan ekonomi pada akhir tahun 60-an. Di luar itu, situasi dan kondisi kedua negara banyak kesamaan di segala bidang.

Indonesia ketika itu dipimpin oleh Jenderal Soeharto, sedangkan Korsel dipimpin Jenderal Park Chung-hee. Soeharto tampil sebagai diktator setelah berhasil menjatuhkan Bung Karno, dimana proses “kudeta yang cantik” itu mendapat bantuan dan dukungan dari dunia barat. Sedangkan Park tampil sebagai pemimpin setelah Perang Korea reda, bisa dikatakan karena mendapat mandat dari Blok Barat, kendati secara formal Korsel diakui sebagai negara berdaulat.

Garis start

Korsel memulai pembangunan ekonominya dalam keadaan perang baru saja reda. Kontak senjata kecil-kecilan masih sering terjadi di Pamunjom, daerah demarkasi militer yang membelah Korsel dan Korea Utara. Pamunjom hanya berjarak 45 kilometer dari ibukota Seoul. Jadi bisa kita bayangkan, andaikata pasukan Utara menyerbu, mereka hanya membutuhkan waktu kurang dari satu jam untuk mencapai Seoul.

Dalam kaitannya dengan bahaya komunis tersebut, yang merupakan isu utama di dunia barat dan negara-negara satelitnya pada dekade 60-an sampai 80-an, posisi Korsel dan Indonesia bisa dibilang sama dan sejajar. Kedua negara adalah sekutu utama Blok Barat di kawasan masing-masing, Korsel di Asia Timur jauh dan Indonesia di Asia Tenggara.

Memang ada sedikit bedanya, yaitu Korsel menjadi pion penting dan sekaligus kancah pertarungan frontal Blok Barat dengan Blok Timur. Sedangkan Indonesia nilai strategisnya sebagai sekutu Barat tidaklah sepenting itu, karena kekuatan komunis di Asia Tenggara relatif kecil dan terpecah dua, ada yang berkiblat ke Cina dan ada yang berinduk ke Uni Soviet. Indonesia cuma sekadar sebagai “bendungan”, agar ideologi komunis yang mengalir dari Indocina tidak meluber sampai ke Australia. Dalam rangka inilah rezim Soeharto mencaplok Timor Timur pada tahun 1975, sesuai instruksi Gedung Putih.(Lihat buku Nation In Waiting karya Adam Schwarz)

Adanya bahaya komunis yang nyata membawa dua keuntungan bagi Korsel. Pertama, negara itu mendapat dana bantuan militer bernilai milyaran dolar dari barat. Kedua, negara itu memiliki legitimasi yang kuat untuk memberlakukan wajib militer bagi semua warga negaranya, yang kemudian menumbuhkan disiplin dan etos kerja yang tinggi secara nasional.

Pembangunan ekonomi vs Indoktrinasi

Kalau dibandingkan masa-masa permulaan pembangunan ekonomi di Korsel dan Indonesia, yang membedakan hanya masalah prioritas dan kemudian strategi yang dipilih. Rezim militer Korsel langsung fokus pada pembangunan ekonomi dengan prioritas modernisasi pertanian, sambil membangun pondasi industri. Pada waktu itu hampir 85 % penduduk Korsel bekerja di sektor pertanian.

Pada saat yang sama dan berlanjut hingga pertengahan tahun 80-an, konsentrasi rezim Soeharto terpecah antara pembangunan ekonomi dan upaya memantapkan kekuasaan rezimnya. Sebenarnya tidak ada resistensi yang berarti waktu itu, namun Soeharto selalu merasa tidak aman sebelum pemujaan rakyat terhadap Bung Karno terkikis habis. Hampir dua dekade Soeharto menghabiskan masa kekuasaannya untuk melakukan de-sukarnoisasi, dilanjutkan program indoktrinasi yang sangat masif dan intensif; termasuk penataran P4 dan kooptasi semua unsur masyarakat.

Faktor paranoid inilah yang membuat Soeharto lebih percaya pada pengusaha keturunan Cina, yang nota bene hanya jago berdagang, sehingga bisnis di Indonesia sangat bergantung pada proyek-proyek pemerintah dan berwatak rent seeker. Di sisi lain, modernisasi pertanian tidak bisa berjalan karena sebagian besar petani di Jawa tidak memiliki lahan, sehingga Soeharto terpaksa meniru program transmigrasi peninggalan kolonial. Proyek ini banyak menghabiskan anggaran, sebagian besar dikorupsi oleh kalangan birokrat dan kaki tangan militer yang “mendadak dangdut” jadi pengusaha.

Kembali ke Korea Selatan, dengan adanya wajib militer secara nasional, negara itu tidak mengalami kesulitan mengerahkan rakyatnya melakukan modernisasi pertanian. Roda perekonomian pun segera berputar karena semua orang bekerja dan punya penghasilan. Dengan sistem rodi berbasis patriotisme ini, didukung penguasaan ilmu dan teknologi pertanian, dalam waktu singkat agrobisnis mengalami booming di Korsel. Padahal sebagian besar wilayahnya merupakan perbukitan yang tandus, kecuali daerah sepanjang aliran sungai Han-gang yang memang sangat subur.

Kemajuan pertanian yang luar biasa itu menjadi pijakan kokoh untuk memulai industrialisasi. Dengan menyisihkan sebagian dana bantuan militer dari barat, Korsel memberikan modal kepada sejumlah pengusaha untuk membangun industri manufaktur. Merekalah yang menjadi cikal bakal Chaebol, konglomerasi khas Korsel yang kini muncul sebagai pemain global dengan daya saing yang amat tangguh, antara lain Samsung, Hyundai, Daewoo dan Lucky Goldstar (LG).

Kini, kendati Korsel sudah menjelma menjadi negara industri raksasa, sektor pertanian masih memainkan peran penting dan ikut menyumbang devisa yang signifikan. Penduduk yang bekerja di sektor pertanian, dewasa ini, hanya sekitar 10 %. Namun produk pertanian mereka justru meningkat enam kali lipat dibanding akhir tahun 60-an.

Korsel kini menguasai pasar dunia untuk produk farmasi dan ekstrak ginseng, serta memonopoli pasar Amerika untuk komoditi kim-chi, sejenis sawi yang difermentasi. Sedangkan para petani palawija di Tanah Karo masih tetap mengekspor sayuran segar ke Hongkong dan Singapura, sama seperti 40 tahu silam, namun dengan keuntungan yang makin kecil lantaran tata niaga pupuk dan pestisida sudah menjelma menjadi instrumen penghisapan.

Korupsi vs kolusi

Membandingkan Indonesia dengan Korsel memang sangat menarik, terutama karena perbedaan “nasib” kedua negara yang sangat kontras 40 tahun kemudian. Sepintas tidak banyak perbedaan perilaku rezim di kedua negara itu, sehingga tidak terlalu gampang menjelaskan secara singkat mengapa kemajuan kedua negara bisa begitu “jomplang”.

Selain dua faktor yang telah disebutkan tadi, yaitu wajib militer yang berlaku secara nasional dan pembangunan ekonomi yang fokus, konsekwen dan konsisten; tampaknya faktor penting lainnya lantaran pemegang kekuasaan di Korsel bersifat kolektif, sebaliknya Soeharto kemudian menjelma menjadi penguasa tunggal atau diktator yang untouchable.

Orang sering bilang Indonesia menjadi amburadul seperti sekarang ini akibat korupsi. Korsel pun setali tiga uang. Perilaku korupsi di negara itu tidak kalah parah dibanding di Indonesia. Perbedaannya hanya dua : Korsel sudah menghukum tiga presidennya (Chun Doo-hwan, Roh Tae-woo, Kim Young-sam) lantaran terlibat korupsi dan disana tidak ada praktek kolusi seperti di Indonesia. Sedangkan di negara tercinta ini, hanya koruptor kelas teri yang berhasil diproses secara hukum, sementara praktek merampok kekayaan negara sudah semakin canggih melalui kolusi.

Kolusi lebih mematikan dibanding korupsi. Ibarat mencuri, korupsi adalah mengambil sebagian uang dari brankas, sedangkan kolusi mengambil semua brankasnya tanpa harus menggotongnya. Cukup dengan memainkan aturan hukum, brankas tadi sudah berpindah hak tanpa yang bersangkutan harus mengotori tangannya atau berkeringat menggotongnya. Praktek inilah yang dilakukan Soeharto dan kroni-kroninya, dengan menciptakan berbagai tataniaga, penguasaan sumber daya alam, pemerasan secara legal dengan memperdaya konsumen, praktek monopoli dan oligopoli, dst, dst.

Sebenarnya sampai pertengahan tahun 70-an, Soeharto masih relatif bersih, namun memang sudah menjadi rahasia umum bagaimana isterinya berperan sebagai makelar proyek. Meningkat ke tahun 80-an praktek kolusi yang amat canggih itu mulai mereka praktekkan, diawali dengan liberalisasi ekonomi dan privatisasi usaha yang berkaitan dengan kepentingan umum. Dalam hal ini para pemimpin Korsel tidak ada apa-apanya dibanding Soehartodan kroni-kroninya. Suruh orang-orang Korea itu belajar ke Cendana!

Olimpiade, Piala Dunia, Sekjen PBB

Bagaimana dengan demokratisasi dan kepastian hukum ? Sampai sekarang Korsel masih kalah dari Indonesia dalam dua hal itu. Maksudku, secara prosedural demokratisasi dan kepastian hukum di Indonesia jauh lebih maju dibanding Negeri Ginseng itu. Sayang, cuma prosedural.

Perlawanan mahasiswa dan pejuang HAM di Korsel kurang lebih sama saja dengan di Indonesia. Banyak peristiwa kekerasan, berdarah-darah dan pembunuhan aktivis. Dan sampai sekarang cengkeraman politik militer masih sangat kuat di negara itu, sehingga proses demokratisasi berjalan sangat lambat. Namun bedanya dengan di Indonesia, setiap kemajuan kecil yang dicapai dalam proses demokratisasi di Korsel selalu menimbulkan perubahan yang nyata alias down on earth. Sedangkan disini semuanya berujung pada tataran prosedural formal alias bersifat seolah-olah.

Kini kita menyaksikan Korsel tampil sebagai negara maju yang sangat disegani di dunia. Pencapaian itu mereka rayakan bukan dengan membuat klaim-klaim sepihak gaya Indonesia, tapi dengan mengibarkan bendera mereka di panggung internasional dengan megahnya. Dimulai dengan menjadi penyelenggara Olimpiade, yang menempatkan Korsel sebagai negara kedua di Asia yang mendapat kepercayaan menjadi tuan rumah pesta olahraga sejagat itu, kemudian menjadi tuan rumah bersama Jepang menyelenggarakan Piala Dunia, lalu disempurnakan dengan terpilihnya orang Korsel menjadi Sekjen PBB.

Kemajuan yang gemilang itu diraih Korsel hanya dalam kurun waktu 40 tahun. Pada kurun waktu yang sama, Indonesia dengan gemilang berhasil menghapus reputasi internasional yang dahulu dibangun Soekarno. Kita juga berhasil menyulap sawah-sawah produktif menjadi kota moderen, serta membuat dataran tinggi seperti kota Bandung menjadi langganan banjir saban tahun.

Anyong Haseo

Merdeka!

Iklan

Tag: , , , , , , , ,

34 Tanggapan to “Melihat Indonesia dari Korea Selatan”

  1. Arif Budiman Says:

    Wah, kalau Indonesia diwajib-militerkan, belum tentu Indonesia bisa maju jua. Yang namanya Indonesia sih sebenarnya hanya butuh figur pemimpin yang tegas, adil, jujur, dan karismatik.
    Saya teringat pada zaman Kerajaan Daha saat dipegang oleh Ratu Sima, pada saat itu masyarakatnya tenteram dan damai. Karena, Ratu Sima sendiri sangat jujur dan tegas dalam menegakkan peraturan yang ada, bahkan adiknya sendiripun dipotong jempol kakinya hanya gara-gara sengaja menyenggol bungkusan berisi kepingan emas milik orang lain yang jatuh di tengah jalan. Kalau sekarang?

  2. Robert Manurung Says:

    @ Arif Budiman

    Sekarang ? Kalau melapor kehilangan kambing, bisa-bisa kehilangan sapi!

  3. Ferry ZK Says:

    bedanya adalah korea bukan negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia sehingga negara adikuasa tidak menganggap sebagai ancaman dan tidak membiayai lsm – lsm atau ormas – ormas atau sekte – sekte untuk menambah carut – marut negara tersebut, paling hanya sekedar mengimbangi kekuatan komunis di sebelahnya. Apalagi ketika komunis turun tingkat menjadi nomer 2 dalam hal ancaman bagi si adidaya dan menempatkan ISLAM sebagai ancaman no. 1 jadi jangan heran kalau mata si adidaya tak pernah lepas dari negri indon ini, bukan untuk kemajuan tapi untuk menguasai dan mengangkangi…

    walau jujur harus di akui orang indon sendiri masih banyak juga yang korup dan kapasitas kepala dengan benak jauh dari sebanding…

  4. FraterTelo Says:

    Dear RM,
    Sebuah analisis faktual yang menarik. Sayang tampak tampilan tulisan di komputer saya agak acak-acakan, entah komputer saya yang bermasalah atau settingan tulisan Anda yang kacau.

    Tapi saya sependapat dengan suara Anda itu. Rekomendasi apakah yang Anda berikan untuk saya berpikir bagaimana bangsa ini bisa kembali mengejar kemajuan Korea itu. Kalau ide nakal saya pertama harus kita bunuh semua orang yang berusia 20th ke atas di negara ini, baru kita pikir langkah selanjutnya. Sebenarnya ini adalah suatu kegelisahan, bahwa mentalitas warga negera kitalah yang bermasalah.

  5. andiku Says:

    bangsa indonesia sekarang menjadi bangsa yang kurang memiliki negeri ini dibanding negara lainnya

    Robert Manurung :

    Betul kawan. Negeri yang kita cintai ini sudah tergadai.
    Tapi kita tak boleh menyerah, demi anak cucu.

    Merdeka ! ! !

  6. Robert Manurung Says:

    @ Ferry ZK

    Terima kasih sudah memberikan komentar atas artikel ini.

    Tapi menurut aku komentarmu tidak relevan atau out of context. Kalau engkau baca artikelku dengan teliti, posisi Indonesia di dunia internasional sama saja dengan Korsel, yaitu sebagai “keponakan yang manis” terhadap Uncle Sam. Pada saat itu AS dan sekutunya membagi-bagikan dolar untuk merayu negara-negara strategis seperti Indonesia dan Korsel agar menjadi sekutunya.

    Kalau mau disederhanakan, dalam kaitan dengan dunia barat, Soeharto malah kurang cerdik memanfaatkan situasi itu. Padahal sebelumnya Bung Karno telah membuktikan kehebatannya memainkan trik tersebut. Buktinya masih ada sampai sekarang, yaitu Stadion Utama Senayan dan jalan By Pass –keduanya di Jakarta; masing-masing merupakan hadiah dari AS dan Uni Soviet.

    Marcos kemudian meniru jurus Bung Karno dengan hasil yang lebih cemerlang. Selama masa kekuasaannya, Filipina mendapat ratusan milyar dolar dari AS, sebagai pembayaran sewa pangkalan militer Subic. Dari tahun ke tahun Marcos terus menggertak Amerika — dengan ancaman akan menutup pangkalan militer tersebut, dan selalu berhasil menaikkan nilai sewanya.

    Sebaliknya Soeharto sudah senang luar biasa “diaku” teman oleh AS dan sekutunya. Kalaupun ada manfaat yang didapatnya adalah dukungan dan payung psikologis untuk melanggengkan kekuasaannya. Di luar itu, Soeharto sudah merasa girang bisa membeli pesawat tempur F 16 dari AS dan dijamini untuk menambah hutang dari dunia barat.

    Dalam konteks ini, aku tidak menemukan fakta yang mendukung komentarmu terkait dengan sikap dunia barat yang memusuhi Islam. Itu adalah fenomena terbaru setelah serangan teroris terhadap WTC di New York. Dengan kata lain, yang membuat Indonesia “kalah” dari Korsel adalah sepenuhnya persoalan internal kita, bukan karena dimusuhi dunia barat.

  7. Ferry ZK Says:

    @ Robert Manurung,

    wah sayang Pak, bagi – bagi dollar nya gak gratis, bisa tengok dari hasil bumi kita yang malah memakmurkan mereka, coba tengok berapa banyak emas yang dibawa dari papua berapa banyak migas yang diangkut dari aceh dan sumatra dan berapa besar yang dilaporkan ke pemerintah RI ?

    barangkali sisi obyektif kita berlainan Pak, dan itu sah – sah saja akan tetapi untuk mencerdaskan bangsa ini tentu kita harus membuka semua selubung subyektif kita.

    saya tidak mengangkat masalah ISLAM disini, yang saya angkat adalah dampak dari rasa antipati adidaya terhadap ISLAM dan pengaruhnya kepada kehidupan indon sebagai negara terbesar berpenduduk muslim.

    Jika kita hendak merdeka, kita harus belajar memandang dari dua sisi yang bertentangan.

    Salam Merdeka.

  8. Robert Manurung Says:

    @ Frater Telo

    Wah, untuk saat ini mendingan kita lupakan Korsel. Level kompetisi kita sekarang bukan lagi Asia, tapi sudah menciut sebatas Asia Tenggara saja. Sedihnya, pesaing kita sekarang adalah bangsa yang bangkit dari puing-puing perang yang berlangsung puluhan tahun, yaitu Vietnam. Malahan sebentar lagi kelas kita akan turun, tinggal bersaing dengan Kamboja, Laos dan Myanmar.

    Sorry Frater, aku benar-benar bergidik membayangkan gagasanmu untuk membasmi semua penduduk Indonesia yang berusia 20 thn ke atas, meski kuakui itu memang masuk akal.

    Menurut aku momentum Indonesia untuk bangkit lewat revolusi sudah lewat, yaitu pada saat Soeharto lengser. Salahnya, pilihan yang kita ambil waktu itu adalah jalan kompromi, sehingga momentum itu tidak menghasilkan energi perubahan yang besar baik di bidang politik, ekonomi dan sosial-budaya.

  9. Ferry ZK Says:

    satu lagi Pak, bagi – bagi dollar sepertinya indah dan hanya beresiko pada si pembagi alias hanya masalah peredaran dollar yang luas yang diperkirakan menurunkan nilai dollar, tapi si adidaya punya banyak cara sehingga negara lainpun takut akan turunya nilai dollar (* sama dengan takutnya akan kenaikan dollar *) dan yang terjadi adalah bagi – bagi dollar justru mencengkram si penerima akan ketergantungan dollar sehingga si adidaya makin mencengkram kekuatan ekonominya dan justru memperkuat posisi dollar di bursa mata uang. Hanya US$ yang bisa digunakan di luar negaranya tanpa perlu menukarkannya hebat bukan, anda mau beli apapun harga selalu disandingkan dengan US$ bukan dengan poundsterling apalagi dengan ringgit barangkali yang sudah terbabas baru negara – negara uni eropa…

    Salam Merdeka.

  10. Robert Manurung Says:

    @ Ferry ZK

    Aku sangat sependapat soal perlunya kita melihat dari sisi berlawanan, serta melengkapi diri dengan mentalitas yang baik supaya bisa sepakat untuk tidak sepakat. Terima kasih sudah mempertegas soal ini, supaya interaksi kita lebih lugas dan membumi.

    Aku juga setuju dengan yang engkau tulis mengenai korelasi bagi-bagi dolar dengan eksploitasi kekayaan alam kita oleh kapitalis barat. Kenapa hal itu tidak terjadi di Korsel atau Filipina ? Karena para pemimpin rezim dan diktator di kedua negara itu tidak punya sindrom rendah diri terhadap orang bule seperti yang diidap oleh Soeharto dan kroni-kroninya.

    Soeharto tidak sanggup mengatakan TIDAK kalau bule yang minta. Itulah yang terjadi pada tahun 1975, ketika Henry Kissinger berkunjung ke Cendana dengan membawa pesan dari Gedung Putih. Soeharto langsung menjawab SIAP BOS.

    Ujung ceritanya kita sudah sama-sama tahu : entah berapa banyak tentara kita tewas dan entah berapa ratus triliun rupiah terbuang percuma selama 25 tahun Indonesia menduduki dan membangun Timor Timur.

    Salam

  11. Ferry ZK Says:

    betul Pak, dan ketika eyang berani mengatakan tidak dan mengusik kedigdayaan si adi daya di PBB via kepesertaan indon di DK PBB maka dirancanglah seperti yang telah terjadi mei 1998…

    Politik tidak hanya hitam dan putih, kadang abu – abu justru lebih berbahaya…

  12. Ferry ZK Says:

    sayangnya kita baru menjadi obyek politik asing dan bukan menjadi subyek, pendidikan demokrasi yang adidaya ajarkan hanya kian mempermudah mereka dalam infiltrasi kekehidupan indon.

    adidaya sangat tidak suka cina, apakah karena cina komunis yang berujung atheis ? tidak, sama sekali tidak di sana lebih banyak lagi yang atheis, adi daya tidak suka komunis karena dengan komunis yang berkuasa tidak ada peluang demokrasi yang berujung tidak ada peluang untuk infiltrasi dan menggoyang penguasa, akibatnya jelas cina menjadi raksasa yang terbangun dari tidurnya tanpa bantuan asing berbeda dengan korea yang gamang jika dilepas sang adidaya…

  13. bsw Says:

    Seneng juga baca tulisan ini, jadi lebih tahu banyak tentang “kenapa”.
    kalo boleh saya tambahkan, selain faktor utama “keadilan” ada faktor lain yaitu soal jumlah penduduk yg “banyak sekali” dengan “suku-ismenya yg tinggi”. Trus ada lagi soal “budaya barat” versus “budaya timur” yg ndak jelas itu……
    Sebetulnya sikap ramah tamah, suka menolong dsb2nya itu menurut saya adalah sikap universal yg kita bisa temui dimana2, nggak cuma di Indonesia. Tapi memang kita selalu sombong untuk mengatakan budaya kita lebih baik dari “mereka”….
    Ah, itu sekedar pemikiran saya saja, siapa tahu bisa dibahas…
    Salam

  14. Robert Manurung Says:

    @ bsw

    Betul Bung, Korsel memang homogen dan relatif kurang rumit dibanding Indonesia. Selain faktor-faktor yang Bung sebutkan, Indonesia juga menghadapi kendala tersendiri dengan keadaan geografisnya yang berupa kepulauan, sedangkan Korsel adalah bagian dari benua. Untuk transportasi dan komunikasi, misalnya, Indonesia harus mengeluarkan biaya lebih besar dan waktunya lebih lama dibanding Korsel.

    Dengan sadar aku mengabaikan faktor-faktor itu, karena Korsel juga menghadapi kendala tersendiri, yaitu gangguan keamanan dan situasi siaga perang yang terus-menerus. Selain itu, karena tingkat kemajuan kedua negara begitu jomplang, aku pikir cukuplah hanya mengulas faktor-faktor determinan.

    Terima kasih untuk informasinya yang melengkapi bahasan kita, sehingga menjadi lebih lengkap.

    PEACE

  15. Toga Says:

    Indonesia kan mmg bangsa kemarin… Hari ini dia bukan apa-apa. Besok? Ntahlah.

    Selamat menghasut ya Lae… :))

    Robert Manurung :

    Bah, itu pula yang Lae berikan selamat ya : selamat menghasut hehehe…

    Nah kalau untuk Lae ini yang cocok adalah ucapan selamat kembali ngeblog,
    kembali menyapa dan memberikan asupan rohani kepada ladies and girls yang
    menjadi fans berat blog Lae yang keren itu.

    PEACE

  16. Ram-Ram Muhammad Says:

    Salam merdeka Bung Robert….
    *ngepal tangan ke atas*

    Startnya sama, finishnya gak bareng. Kita malah ngoyo di belakang sambil ngos-ngosan.

    Saya kira semua sepakat bahwa membenahi bangsa ini bukan hal mudah, tapi tetap harus dilakukan. Alam demokrasi kita sekarang jauh lebih baik, bahkan kalau boleh narsis, demokrasi kita melesat meninggalkan negara-negara di Asia, bahkan pengakuan dari negara-negara Eropa dan Amerika semakin membuktikan bahwa demokrasi sudah jauh lebih baik.

    Semoga, demokrasi pancasila dapat menjadi pijakan kuat bagi kita untuk membenahi persoalan-persoalan bangsa yang lainnya. Hukum kita juga masih carut marut, terbukti dengan masih banyak hantu dan mafia peradilan, mentalitas penegak hukum yang masih militeristik, dan pengadilan yang kerapkali tidak dapat memberikan rasa keadilan.

    Kiblat dan kebijakan ekonomi kita juga sepertinya masih tidak jelas. Terbukti, pemerintah sepertinya sangat kesulitan meningkatkan daya beli masyarakat. Ketahanan pangan nasional juga masih sangat rapuh. Kasus membumbungnya harga kedelai, beras, minyak kelapa, minyak tanah dan lain sebagainya menjadi bukti ketahanan pangan dan daya beli masyarakat kita belum berada di titik aman (apalagi ideal).

    Jadi, sepertinya kita perlu belajar banyak dari negeri gingseng ya Bang…
    Merdeka!

  17. Ram-Ram Muhammad Says:

    Saya kena spam ya Bang?

  18. panabiduhut Says:

    Pada tahun 1997, aku pernah berceritera dengan seorang yang berkebangsaan Jepang yang sedang ditugaskan di perusahaan pabriknya di Indonesia, tepatnya di LIPPO Cikarang, tempatku dulu pernah bekerja.

    Dia bercerita kepadaku kenapa buruh Indonesia dihargai dengan gaji rendah adalah bukan karena rendah kemampuan (bodoh).

    Bangsa ini sangat lemah dalam hal mental pemeliharaan dan displin. Bangsa ini berhasil membangun banyak hal (kita bicara infrastruktur saja dulu), ada jembatan, rumah sakit, angkutan umum, dll. namun hanya bertahan dalam hitungan bulan akibat pemeliharaan yang tidak baik.
    Mereka (investor Jepang) juga berpikir sama, alat-alat produksi mereka sangat rentan terhadap biaya operasi tinggi akibat displin (bukan kemampuan) pemeliharaan alat produksi yang sangat rendah. Tentunya, para investor tersebut sudah memperhitungkan resiko tersebut dengan mengambil biaya dari yang seharusnya untuk alokasi gaji karyawan.

    Disamping itu juga, tumbuh suburnya pungutan-pungutan liar, yang oleh para pengusaha, akan dianggap sebagai biaya produksi. Biaya produksi (pungutan liar) ini, bahkan katanya bisa sampai 40% dari biaya produksi.
    Biaya produksi di sini tentunya sudah termasuk gaji karyawan. Mungkin, gaji karyawan bisa menjadi lebih baik jika pungutan liar sangat kecil, katanya menambahkan.

    M A R D E K A bukan berarti GURUDOKKU,
    tetapi sebaliknya M A R D E K A berarti menjadi lebih BERTANGGUNGJAWAB dan DISPLIN.

    Terima kasih,

    Panabi Duhut

  19. Robert Manurung Says:

    @ Kang Ram-Ram Muhammad

    Bukan kena spam akang, tapi komentar disini memang pakai moderasi. Mungkin dalam waktu dekat “sensor” bernama moderasi ini akan aku hentikan, biar benar-benar Merdeka!

    terima kasih akang atas komentarnya yang mengena betul.

  20. Robert Manurung Says:

    @ panabiduhut

    Selamat datang Lae di blog MARDEKA ini. Aku menyambut penuh harapan kehadiran Lae di blog ini, untuk menyodorkan pandangan-pandangan terbuka, menajam dan meluas.

    Cerita kawan Lae berkebangsaan Jepang ini baru mengungkapkan secuil seja fakta di lapangan mengenai kelemahan bangsa kita. Dan itu kita sambut sebagai masukan berharga bukanlah karena berpaham ultra kritis atau kurang mencintai bangsa dan negara ini, tapi justru sebaliknya karena kita mendambakan perubahan dan perbaikan.

    Terima kasih lae telah mengingatkan aku mengenai hakekat merdeka. That’s what a friend are for.

    PEACE

  21. Robert Manurung Says:

    @ panabiduhut

    Selamat datang Lae di blog MARDEKA ini. Aku menyambut penuh harapan kehadiran Lae di blog ini, untuk menyodorkan pandangan-pandangan terbuka, menajam dan meluas.

    Cerita kawan Lae berkebangsaan Jepang itu baru mengungkapkan secuil saja fakta di lapangan mengenai kelemahan-kelemahan bangsa kita. Dan itu kita sambut sebagai masukan berharga bukanlah karena berpaham ultra kritis atau kurang mencintai bangsa dan negara ini, tapi justru sebaliknya karena kita mendambakan perubahan dan perbaikan.

    Terima kasih Lae telah mengingatkan aku mengenai hakekat merdeka. That’s what a friend are for. Aku sangat menghargainya.

    PEACE

  22. Sawali Tuhusetya Says:

    Bung Robert, sungguh menarik komparasi antara Indonesia dan Korea selatan yang bung paparkan. menarik karena dua negara ini memiliki sejarah pembangunan yang secara kronologis memiliki kemiripan. namun, dalam perkembangannya, negeri kita justru terus berkutat di balik semak2, sementara korsel justru telah jauh melesat di pusat “jalan tol” peradaban dunia. kalo tidak salah, soekarno dulu juga pernah memiliki basis pembangunan karakter dengan tujuan akhir utk membentuk watak bangsa yang kuat dan tangguh sehingga tak gampang kena “virus” korup. namun pada era soeharto, pembangunan karakter dipinggirkan dan lebih mengembangkan pertumbuhan ekonomi sebagai panglima yang semu. ampun deh, akhirnya slogan2 kosong itu hanya menghasilkan manusia2 dan pejabat2 bermental korup dan mau menang sendiri. untuk itu, pada hemat saya, pendidikan budi pekerti dan karakter mesti dibangun kembali dengan basis yang tangguh melalui dunia pendidikan. indonesia tak cukup hanya dibangun dengan slogan2 ekonomi, tetapi juga perlu diperkukuh dg. pembangunan karakter yang kuat.
    Merdeka!

  23. Robert Manurung Says:

    @ Sawali Tuhusetya
    @Frater Telo

    “…pendidikan budi pekerti dan karakter mesti dibangun kembali dengan basis yang tangguh melalui dunia pendidikan.”

    Kutipan komentar Pak Sawali ini aku “pinjam” untuk menjawab pertanyaan Frater Telo, mungkin juga sebagian besar pembaca, mengenai solusi terhadap persoalan bangsa ini.

    Kita jangan mengharapkan solusi yang tokcer dan instan. Tidak ada itu.

    Kita harus berproses, menempa diri dengan disiplin, etos kerja, daya juang , kreativitas, kerjasama, budi pekerti dan harga diri yang tinggi; karena masalahnya adalah kita semua.

    Terima kasih Sawali Tuhusetya. Terima kasih Pak Guru.

  24. hildalexander Says:

    Merdeka!!!!!!

    Salam kenal Pak Robert…..

    Setelah membaca tulisan Bapak, saya jadi ingin flash back ke tahun 1997. Ketika dolar sudah menyentuh angka 17.000/1 rupiah. Sejatinya krisis multidimensi di Indonesia sudah bisa diprediksi ketika kita pernah mencetak prestasi swasembada pangan pada tahun 1983-1984 lalu. Waktu itu kita pernah dijadikan sebagai pilot project sentra pangan dunia oleh FAO. Sayangnya, setelah puas mencapai prestasi itu, kita lantas terlena. Tidak memperbaiki infrastruktur dan tata niaga pangan yang compete sehingga bisa bersaing dengan negara lain. Katakanlah Thailand, Vietnam atau Malaysia. Tidak ada desentralisasi kebijakan pangan yang bisa menarik potensi-potensi kelokalan pangan untuk dapat tampil sejajar dengan sentra-sentra pangan yang secara tradisi memang sudah mapan.

    Kenapa kita hanya mengandalkan beras sebagai makanan pokok, kenapa kita tidak mengeksplorasi bahan pokok alternatif lain seperti Jagung, Sagu, Ketela atau lainnya? kenapa beras yang dipolitikkan harus menjadi makanan pokok negeri ini. Dus, teknologi pangan, khususnya perberasan, masih ketinggalan jauh dibanding Thailand.

    Kondisi obyektif tersebut masih dianggap sebagai hal yang urgensinya tidak dipandang oleh pemerintah. Setelah kedigdayaan pangan dibiarkan tergerus secara alamiah, pemerintah kita mulai berpaling pada instrumen pendatang devisa yakni investasi keuangan. Maka keluarlah Pakto 88. Hanya dengan ‘modal awal’ Rp1 miliar (Rp100 juta, lupa saya), pribadi, maupun institusi sudah bisa mendapatkan permit untuk mendirikan bank. Sudah begitu regulasinya abu-abu pula. Tidak ada satu act-pun yang melarang pemilik bank untuk mengeksploitasi dana masyarakat yang terhimpun guna membiayai proyek-proyek mereka. Yang ada hanya title Batas Maksimal Penggunaan Kredit (BMPK). Inilah grey area yang dimanfaatkan sebesar-besarnya oleh pemilik bank untuk mengemplang dana masyarakat. Masih ingat kan beberapa bank akhirnya rontok akibat non performing loannya tinggi sekali. Bank Summa, Bank Duta, Bank Bira, Bank Majapahit, Bank Ciputra de el el.

    Klimaksnya pada 1996, Menteri Keuangan Mar’ie Muhammad kemudian melakukan likuidasi besar-besaran terhadap 16 bank yang tidak menunjukkan kinerja memuaskan. Sudahlah CAR-nya rendah, NPLnya tinggi, asetnya pun tidak memadai. Akrobat dan manuver keuangan yang dilakukan oleh pemilik modal sayangnya justru mendapat legitimate dari pemerintah berupa ampunan dalam bentuk BLBI….

    Cerita selanjutnya sudah tau kan? BLBI itu ternyata banyak yang salah sasaran…….Pak bersambung ya….

    Anyway, saya harus belajar banyak dari Pak Robert………..

  25. hadi arr Says:

    Beda geograpis, beda ideologie bukan halangan untuk memajukan suatu negara atau bangsa, namun kesibukan mengamankan kedudukan dan ketakutan rongrongan wibawa inilah yang menyebabkan bangsa kita jadi tertinggal jauh dari kore selatan. Saat pemimpin bangsa-bangsa lain berbenah menuju arah yang lebih baik buat negaranya, pemimpin kita juga sibuk berbenah untuk mempertahankan kekuasaannya.
    Mental BERDIKARI dari Soekarno hilang lenyap tanpa bekas, pemimpin kita seolah takut ditinggalkan negara-negara lain bukan takut ketinggalan. Proyek Mercusuar tetap diusung namun beda dalam aktualisasinya, bagi Soekarno Mercusuar agar bangsa kita dihargai oleh bangsa lain, sementara oleh penerusnya mercusuar hanya sebagai tontonan buat warganya sendiri agar dikatakan berhasil.
    Bung Robert, kelihatan bahwa mental pemimpinlah yang menyebabkan suatu bangsa maju atau tidak, paling tidak itulah yang saya tangkap dari tulisan kali ini.

  26. Robert Manurung Says:

    @ hildalexander

    Salam kenal dan terima kasih atas komentarnya yang bernas dan mencerahkan. Tadinya sempat muncul niatku menampilkan komentar anda ke halaman depan, menjadi artikel tersendiri. Tapi karena kutunggu sambungannya tidak muncul juga, ya sudah kutampilkan disini saja.

    Tapi tetap aku berharap anda mau menulis topik itu atau topik apa saja, lebih padat dan tajam. Pasti akan kutampilkan sebagai artikel.

    Benarkah anda perlu banyak belajar padaku ? Sebelum kita deal, baiklah aku beritahu dulu, jangan kaget, pendidikan formalku cuma sampai SMA. Sedangkan anda mungkin telah menyelesaikan jenjang S2, ya kan?

    Tapi yang lebih elok kalau kita sama-sama belajar, berbagi, berdiskusi dan berdebat; mudah-mudahan akan muncul buah pikiran yang lebih jernih, menajam dan meluas. Sudah terlalu lama dunia intelektual kita cuma menjadi footnoter alias tukang catut hasil pemikiran para sarjana dan pakar dari dunia barat.

    Emangnya kita nggak bisa mikir sendiri?

    MERDEKA!!!

  27. Robert Manurung Says:

    @ hadi arr

    Apa kabar bos? Aku sangat menghargai semangat dan konsistensi Bung Hadi ngeblog.

    btw aku minta izin memasang link Bung Hadi di blog ini. Terima kasih.

    Salam.

  28. Cak Arif Says:

    Ketika itu saya di jalan-jalan di negeri jepang, terutama jalan desa gak terlalu besar hanya cukup untuk satu mobil tapi jalan tersebut lancar saja karena memang di atur tanpa simpangan dan gak tahu mengapa bis yang saya tumpangi gak pernah nyalip walau bisa. Apakah ini suatu keteraturan disana atau mental warga jepang memang seperti itu.

    Dan kita bisa lihat perbandingannya ketika kita melewati perempatan walau ada lampu pengatur jalan raya masih ada yang serobot sehingga saking kagetnya sering ada kecelakaan.

    Ketika di Jepang jalan desa telah berakhir ada perempatan maka disana ada Michinoiki yang merupakan minimarket disana yang dikelola warga, dan bahan-bahannya dari warga dan kalau kita memandang bagian atas minimarket tersebut kita dapati foto2 UKM sana yang memasok minimarket tersebut sehingga yang beli bahan bisa tahu bahan makanan ini di pasok oleh siapa, dan ini merupakan media yang baik untuk komplain kalau ada masalah.

    Lha kalau di Indonesia bagaimana kalau kita komplain. !!!!

    Salam,
    Cak Arif

  29. Robert Manurung Says:

    @ Cak Arif

    Jepang hampir sama dengan Korea Selatan. Disiplin masyarakatnya sangat tinggi.

    Inilah PR buat kita semua, untuk memulai dari diri sendiri dan lingkungan keluarga. Menurut pengalamanku, sekadar menyadarkan lingkungan terdekat untuk menghargai privasi –misalnya kerahasiaan surat dan sifat privat telepon genggam, luar biasa sulitnya.

    Tapi kita harus usahakan terus, seperti prinsip Kaizen : small continuous improvement.

    Terima kasih Cak Arif untuk ceritanya yang inspiratif dan mencerahkan. Salam kenal.

    Merdeka!

  30. hildalexander Says:

    Merdeka!!!

    I’m back pak robert, maaf kemarin malam saya menunaikan deadline tulisan yang menjadi tugas saya terlebih dahulu. Jadi baru kali ini saya mencoba menulis koment sambungannya. Akan tetapi, saya menulis koment ini tidak dimaksudkan untuk mendapat posisi khusus dalam blog Pak Robert. Di sini saja sudah cukup.

    Oke, balik lagi ke topik. kenapa BLBI salah sasaran? karena bantuan dana tersebut justru disalahgunakan oleh beberapa oknum konglomerat pemilik bank-bank yang dilikuidasi. Mereka yang mendapat durian runtuh itu kemudian melakukan aksi buy back (membeli kembali) aset-aset perbankan yang sempat disita BPPN dengan harga yang jauh lebih murah.

    Contohnya Bank Modern yang dimiliki Samadikun Hartono (kini masih buron kejaksaan agung). Dia ini menyalurkan kredit bank berupa kredit konstruksi untuk proyek properti yang juga dimilikinya. Nilai kredit konstruksi ini jauh melebihi BMPK. Atas nama PT Modernland, dia mengakuisisi sejumlah lahan berdimensi skala kota untuk dikembangkan menjadi perumahan elit. Celakanya, ketika krisis moneter terjadi, kredit konstruksi yang ‘dipinjamkan’ kepada PT Modernland tidak bisa dikembalikan kepada Bank Modern alias macet. Dana masyarakat yang terhimpun bisa dipastikan raib bersama aset PT Modernland yang menjadi idle. Kenapa bisa macet? karena perumahan elit yang dibangun PT Modernland tidak terserap pasar dengan baik. Sehingga mereka tidak mendapat perolehan dari penjualan properti-propertinya. Sebagian besar lahan-lahan yang tak kunjung terbangun itu kemudian diambil alih BPPN.

    Dasar pedagang, Samadikun kemudian menempuh berbagai cara untuk mendapatkan dana ‘murah’ BLBI. Simsalabim, ia kemudian sukses menggenggam dana sebesar Rp1,7 triliun. Dengan segepok uang itu, ia bisa melenggang, mengangkangi pejabat BPPN untuk mendapatkan kembali aset-aset propertinya dengan harga yang jauh lebih murah.

    Semestinya uang Rp1,7 triliun itu dimanfaatkan untuk menalangi dana nasabah Bank Modern yang hilang diendapkan oleh unit bisnis Grup Modern lainnya. Alih-alih Samadikun menjadikannya sebagai injeksi dana segar yang bida digunakan seenak udel.

    Ilustrasi di atas menunjukkan bahwa, kita tidak memiliki sistem pengelolaan negara dan pemerintahan yang baik. Negara dikangkangi oleh hanya seorang Samadikun yang kini akhirnya kabur entah ke mana.

    Jadi, kenapa Indonesia bisa tertinggal dari Korea, padahal startnya sama yakni krisis moneter 1997, ya karena ketiadaan sistem yang proper dalam mengelola negara dan pemerintahan. Kedua, tidak ada law enforcement, ketiga ethos kerja yang rendah, keempat kultur cepat puas diri, kelima ya karena tidak memiliki pemimpin sekaliber Fidel Castro, Hugo Chavez or Bung Karno sekalipun……….

  31. Joe Di Says:

    Oh! Great job!
    Very interesting and helpful post.
    Thx, your blog in my RSS reader now
    We’ll expect many new interesting posts from you 😉

  32. Jonathan Haryanto Says:

    Seperti Jepang, Korea adalah negara yang memiliki tradisi dan sejarah yang panjang. Proses modernisasi dan pembangunan yang pesat tidak menghilangkan sosial budaya dan adat istiadat yang diwarisinya secara turun temurun. Malah, orang Korea masih mempertahankan dan menerapkan nilai dan cara hidup lama. Meski begitu, mereka tidak menolak cara hidup modern dan pembaharuan yang terjadi di dunia.

  33. Syahrul Hanafi Simanjuntak S.15 Says:

    Aku sering “sedikit kecewa” dengan media-media yang ada di negeri ini (cetak & elektronik) karena belum pernah aku membaca dan saksikan ada program/topik yang mengangkat secara mendalam APA AKIBAT dari Sistim recruitmen/Penerimaan para ABDI NEGARA/CPNS selama ini (apalagi di daerah-daerah) yang hanya menghasilkan para abdi negara yang bengong, kenapa? karena mereka masuk jadi PNS sudah mengeluarkan uang puluhan juta bahkan ratusan juta rupiah (coba iseng tanya berapa upeti kalo mau masuk AKABRI (Akmil&Akpol) atau berasal dari keluarga pejabat, nah jika mereka sudah jadi Abdi Negara sudah barang tentu yang pertama mereka kejar adalah MENGEMBALIKAN MODAL atau paling tidak BEP lah, padahal inilah salah satu sebetulnya yang membuat negeri ini seperti berjalan di tempat karena dijalankan oleh Abdi Negara-Abdi Negara hasil recruitmen yang terjadi seperti selama ini (apalagi dengan adanya Otonomi Daerah wah semakin “merdeka” lah para raja-raja kecil itu).Fakta bahwa penerimaan CPNS di daerah-daerah digunakan oleh Gubernur/Bupati/Walikota sebagai ajang politik BALAS BUDI bagi keluarga tim-tim sukses bukan lagi menjadi rahasia umum.
    Aku sering membayangkan suatu ketika nanti untuk Test Penerimaan CPNS (Sipil & Militer) di seluruh Indonesia diselenggarakan oleh suatu lembaga yang INDEPENDENT.(kayak KPK,KPPU,dll gitu deh) TAPI mesti ada support dari teman-teman media secara progresif.
    Jangan lupa sistim penerimaan CPNS yang ada sekarang ini SANGAT berpotensi untuk MENCABIK-CABIK habis Bhinneka Tunggal Ika di daerah-daerah !!! dan yang paling penting (menurutku) harus ada pressure dari semua pihak untuk ini, hal ini penting karena bagaimanapun PNS-PNS inilah yang menyelenggarakan pemerintahan negeri ini untuk rakyat. Jadi sebagus apapun kebijakan Pemerintah kalo yang menjalankannya “bengong” jadi TAK ADA GUNANYA! mubazir! dan teruslah PNS hasil menjadi katak dalam tempurung yang sejati.
    Dengan kata lain REVOLUSI SISTIM PENERIMAAN CPNS YANG BERLAKU SAAT INI.
    Indonesia sama-sama mulai dari NOL loh dengan negera Jepang. (Indonesia merdeka 1945 tetapi tidak hancur lebur…Jepang hancur-lebur 1945, dan kini kita sudah sama-sama lihat keberhasilan kedua negara ini).

    Maaf Bung RH kalo tulisannya tak beraturan maklum “kesal” melulu dari dulu karena tak pernah didengar hehehehe.

    Indonesia tanah Air Beta
    Pusaka Abadi nan Jaya….
    Disini Tempat lahir beta
    Tempat berlindung di hari tua
    Tempat akhir menutup mata

  34. Syahrul Hanafi Simanjuntak S.15 Says:

    Bagi saya semua kebijakan pemerintah di negeri ini akan menjadi omong kosong atau paling tidak hasilnya tidak akan maksimal, selama Sistim Recruitmen CPNS (sipil/militer/polisi) penyelenggaraannya masih saja seperti saat sekarang ini!
    SDM abdi negara ini dulu yang di Revolusi,Bung!

    Horas n mauliate da, Bung RH!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: