Soeharto Sakit, Bung Karno Ngetop Lagi (1)

Tapi, orang lalu bertanya apa Bung Karno mendapat perlakuan serupa? Ternyata nol besar. Dari berbagai artikel kita tahu, ketika sakit BK masih berstatus presiden namun sama sekali tidak dirawat dengan pantas. Pengawas sehari-harinya hanyalah perawat dan dokter hewan.

Oleh : Hendry Ch Bangun**

SELAMA Soeharto sakit, nama Bung Karno ikut ngetop. Padahal secara sistematis Soeharto dan aparatnya pernah berusaha menghapus nama BK dari ingatan bangsa Indonesia. Terutama di masa peralihan kepemimpinan negeri ini atau dalam istilah politik yang diciptakan Soeharto, dari Orde Lama ke Orde Baru. Segala hal buruk tentang BK dicoba dijejalkan ke isi kepala generasi muda dengan berbagai cara, setidaknya sejak tahun 1970-an, tetapi gagal.

De-Sukarno-isasi mengalami arus balik. Kini, bahkan mungkin orang semakin rindu untuk lebih mengenal sosok Bung Karno yang luar biasa. Sosok penggali Pancasila yang dikenal tidak minder saat berjajar dengan Presiden AS John F. Kennedy. Sosok yang berani keluar dari PBB karena soal prinsip, yang berani bilang go to hell with your aid. Sang penggagas Konferensi Asia-Afrika, yang bersahabat dengan Mao Tse Tung, Nehru, Gamal Abdul Nasser, Joseph Broz Tito, atau Ho Chi Minh.

Bung Karno adalah sosok insinyur yang merancang kota Palangkaraya dan monumen bersejarah di Jakarta; yang karismanya membuat bertekuk lutut para wanita, yang kerap disebut humanis, tahu membesarkan hati sehingga siapapun yang pernah diajak bicara langsung jatuh kagum.

Sang Proklamator yang biasanya hanya muncul di kala kampanye pemilu—terutama dari kubu PDIP—kini hampir setiap hari muncul di dunia maya. Ada saja topik yang dikaitkan dengan Presiden pertama RI itu. Mulai dari penderitaannya saat dikenai tahanan rumah, perlakuan tidak manusiawi saat dia sakit ditahun-tahun menjelang kematiannya, tanggal 21 Juni 1970, kehebatannya, karismanya, perjuangannya, dan juga kontroversi tentang kebijakan politiknya.

Soal BK muncul setelah media menghujani masyarakat dengan wacana sakitnya Soeharto tanpa henti. Satu dua hari sih oke. Tapi kalau tiap jam dan sampai minggu ketiga ini masih dihujani, mual juga. Liputan tentang sakitnya Soeharto membuat masyarakat tahu, seluruh peralatan terbaik yang ada di Tanah Air didatangkan ke RSPP untuk merawat Soeharto. Semua dokter di Jakarta turun tangan.

Presiden SBY mengatakan, apa yang terbaik akan digunakan untuk membantu penyembuhan presiden kedua itu. Kepala Negara dan bangsa memberi perlakuan semestinya menghormati mantan pemimpinnya . Itu baik.

Tapi, orang lalu bertanya apa Bung Karno mendapat perlakuan serupa?

Ternyata nol besar. Dari berbagai artikel kita tahu, ketika sakit BK masih berstatus presiden namun sama sekali tidak dirawat dengan pantas. Pengawas sehari-harinya hanyalah perawat dan dokter hewan.

Obat tidak dikasih, hanya vitamin dan madu. Bahkan ada pendapat dia diracuni, dibunuh pelan-pelan dengan asupan zat tertentu, dan dengan membiarkan penyakit ginjalnya tidak diobati. Boro-boro diberi peralatan terbaik dan dokter-dokter ahli. Tulisan mantan Ketua Dokter Indonesia Kartono Mohamad, dan wartawan Kompas Budiarto Shambazy, yang dikutip di milis, memberi gambaran apa yang dialami BK.

Perbincangan di milis menjadi makin memanas ketika Ismail Saleh,bekas pembantu Soeharto di masa jayanya, meminta masyarakat bersikap mikul duwur mendem jero lewat tulisan di sebuah surat kabar. Menurut mantan Jaksa Agung dan Menteri Kehakiman itu, Soeharto dulu bersikap menjunjung tinggi Bung Karno dengan tidak mengadilinya.

Padahal keputusan Soeharto itu, ketika dia telah diangkat menjadi pejabat presiden, diyakini diambil karena Soeharto takut BK terbukti tidak bersalah bila diadili di depan umum. Disamping juga pendukung dan pemuja BK masih sangat besar, bisa tercipta revolusi berujung pertumpahan darah. Jadi, Soeharto bukan mikul duwur mendem jero seperti ditulis dalam bukunya. (Bersambung)

**Artikel ini ditulis oleh sahabatku Henry Ch Bangun, Wakil Pemimpin Redaksi di Harian Warta Kota. Tulisan ini dimuat di Warta Kota edisi 24 Januari 2008. Aku tertarik mengutip tulisan ini secara utuh karena, selain aktual, cukup obyektif dan berimbang. Berhubung artikelnya panjang, kuputuskan menurunkannya dalam dua seri. Selamat menikmati. (Robert Manurung)

Iklan

Tag: , , , , , , ,

12 Tanggapan to “Soeharto Sakit, Bung Karno Ngetop Lagi (1)”

  1. sungai Says:

    sangat menarik angelnya. ketika semua orang, juga media, bahkan SBY berkali-kali mengadakan temu pers, tulisan ini seolah bilang: “Hei, ingat ga kalian, dulu Sokarno itu saat sakit ‘disiksa’ loh”

  2. Toga Nainggolan Says:

    kurasa bukan saja tidak dirawat dengan pantas Lae, tp BK memang dibunuh! BK dilarang mendapat informasi, membaca buku, berdiskusi, dsb, padahal itulah kehidupan dia.

    agak lebih tegas dikit Lae… BUNG KARNO DIBUNUH!

  3. RETORIKA-1000DS Says:

    @ Robert manurung

    Buat saya presiden yang cocok itu cuma Soeharto, kemudian Soekarno. Soeharto bisa membangun ekonomi yang kuat dan Soekarno bisa membuat harga diri bangsa menjulang.

    entah kapan kita punya presiden SOE-SOE seperti ini lagi 🙄
    mengharapakan presiden SoeKarto :mrgreen:

  4. dobelden Says:

    efek dari politik kejam itu ternyata selalu membekas ya 😦

  5. Bonar Siahaan Says:

    Bila kita membaca beberapa media paska kejatuhan Suharto, banyak yang bilang bahwa BK sengaja dibunuh oleh Suharto. Namun setelah Megawati pun menjadi Presiden kematian BK tak dapat terungkap dengan jelas. Ini membuktikan kekuatan rezim Suharto masih kuat dinegri ini, tidak seperti kejatuhan BK yang sangat tragis.
    Bila diamati bahwa mantan Presiden Suharto sangat dan sangat istimewa di Republik ini, Sebab apa? Suharto membesarkan banyak pengikutnya dan sebaliknya menghabisi siapa yang tidak sependapat dengan dia.
    Maka tidak heran bila Presiden SBY sangat memanjakan perawatan terhadap mantan Presiden Suharto sebab konon Presiden SBY termasuk pengikut Suharto.

  6. bisaku Says:

    Kalau mau diapapun juga sejarah telah terjadi. Kalau kita mau mundur lagi, maka yang terjadi adalah kekalutan karena sejarah yang dulu diumbar lagi ke publik. Bayangkan kalau sejarah terbuka, dan sejarah itu berbunyi Suharto membunuh Soekarno?

    Kalau itu yang terjadi saya bisa bayangkan apa nanti efek yang terjadi pada publik yang belum bisa menjadi dewasa seperti rakyat yang suka bertindak anarkis ini. Tapi bagi saya, pengungkapan akan sebuah fakta atas sejarah kelam memang harus dilakukan.

    Ayo adili Suharto …

  7. Robert Manurung Says:

    @ Toga Nainggolan

    Terima kasih Lae karena sudah menyuarakan apa yang akan aku katakan.

    MERDEKA ! ! !

  8. Robert Manurung Says:

    @ dobelden

    Yap, selalu begitu kawan. Dampak dari penindasan rezim Soeharto, kita kehilangan waktu sekitar 50 tahun, dalam arti potensi manusia yang mampet, layu dan mati. Berarti kita akan membutuhkan setidaknya 50 tahun lagi untuk “menyembuhkan” luka-luka sejarah dan mengkompensasi ketekoran intelektual dan jiwa merdeka yang dibonsai.

    @ RETORIKA

    Karena komentar ini datang dari seorang pakar retorika, aku harus mencernanya dengan pikiran terbalik.

    trims atas komentarmu kawan.

    Horas

  9. clouseth Says:

    Namanya juga politik…Kebusukan itu wajar 🙂

  10. Robert Manurung Says:

    @ clouseth

    Wajar ? Budaya dan etika politik Indonesia pada masa itu sebenarnya sangat elegan. Ingat, pecahnya dwitunggal Bung Karno-Bung Hatta tidak melalui proses yang kasar atau saling menghujat, melainkan dengan diplomasi yang cerdas, saling respek dan santun. Bung Hatta mundur secara jantan, kemudian bersikap konskuen dan fair, tidak merecoki atau mengecam Bung Karno.

    Pada masa itu ada kedewasaan dan sikap negarawan di kalangan politisi kita. Mereka bersaing keras dan bahkan berseberangan di panggung politik, namun dalam kehidupan sosial mereka tetap saling menyapa dan saling respek. Perkecualiannya hanyalah PKI, yang gencar melancarkan agitasi dan pembunuhan karakter terhadap lawan-lawan politiknya.

    Saling kunjung antara tokoh yang berlawanan politik adalah hal yang lumrah di masa itu. Bukan seperti sekarang ini, dimana komunikasi antar politisi yang berseberangan selalu bermuatan konspirasi, dan secara diam-diam menghianati konstituen atau pendukung partai.

    Soeharto-lah yang menanamkan kebusukan itu di dunia politik kita. Dimulai dengan sikap bermuka dua yang tak punya malu, yaitu berpura-pura hormat saat bertemu dengan Bung Karno, tapi sebaliknya di hadapan rakyat dia dengan sistematis menjatuhkan wibawa BK. Ini kejadian tahun 1966, setelah BK dipenjarakan secara halus, dengan dalih menjalani perawatan di rumah.

    Soeharto-lah yang merusak peradaban politik kita dengan memainkan standar ganda, pembunuhan karakter, mengadu domba, perampasan hak politik dan hak sipil. Setelah berhasil menerapkan taktik busuk itu pada Bung Karno, kemudian Soeharto melakukan hal yang sama terhadap AH Nasution, Bung Hatta, Ali Sadikin, Hoegeng dan tokoh-tokoh lain.

  11. syukriy Says:

    Sejarah memang seharusnya ditulis apa adanya. Namun, seperti dikatakan Asvi Warman Adam, manipulasi sejarah telah dilakukan secara sistematis oleh Soeharto dg lewat konsep orde barunya.
    Ke depan kita harus mengungkap semuanya, tapi semua tergantung siapa presidennya. Kalau masih pendukung Soeharto, kebenaran akan tetap tertutup rapat.

  12. Gde Semadi Putra Says:

    Wow… tulisan yang berani, tapi perlukah sejarah yang begitu kelam kita ungkap-ungkap kembali??? apa tidak sebaiknya kita menatap masa depan dan mencegah hal-hal seperti ini terjadi lagi??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: