Soeharto Sakit, Bung Karno Ngetop Lagi (2)

Walaupun Bung Karno mati dalam sengsara, dia meninggalkan dunia dengan bahagia. BK yang sebenarnya ingin dikubur di Bogor itu diantar oleh ratusan ribu atau bisa jadi jutaan orang yang mencintainya. Begitu banyak rakyat yang ingin mengucapkan selamat jalan kepada “Penyambung Lidah Rakyat” ini sehingga panjang pengantar jenazahnya mencapai 11 kilometer dari TMP Sentul, Blitar, tempat liang lahat Bung Karno disiapkan. Mereka ini mengikuti ambulans sejak Malang.

Oleh : Hendry Ch Bangun

Di dunia maya, tulisan yang pro-Soeharto dan pro-Bung Karno memberikan banyak hal bagi pembacanya. Terutama kisah-kisah dari masa lalu, semacam pelajaran sejarah, yang mungkin tidak bisa didapat di buku, menurut versi si penulis yang tentu mewakili pandangan dan sikap mereka.

Generasi muda, yang lahir dan besar sejak Soeharto berkuasa tahun 1968-1998, dapat membandingkan isi tulisan itu dengan apa yang ada di benak mereka selama ini. Khususnya materi pelajaran yang diperoleh di bangku sekolah.

Bahannya melimpah, tidak ada batas halaman dan gratis. Yang penting, ada waktu untuk membaca. Inilah hikmah dari kemajuan teknologi dan kebebasan mengaksesnya. Daya tarik lain, tulisan umumnya disampaikan dalam bahasa yang enak dibaca, ditulis dengan antusias, dan independensi tinggi karena tidak takut dimarahi siapa pun termasuk penguasa.

Bila pengagum BK mengatakan Orde Lama lebih baik dari Orde Baru, maka pendukung Soeharto mengatakan itu tidak benar. Buktinya waktu itu rakyat susah, beli baju antre, beli beras antre, inflasi 600 persen, dsb.

Kasturi Sukiadi membela BK sesuai pengalamannya yang masa itu masih mahasiswa :

Saya mengalami benar Zaman Inflasi yang didengung-dengungkan sebagai “bagian utama legitimasi Orba” untuk menjatuhkan Bung Karno. Inflasi 600 %. Kami masih makan nasi dengan lauk utama tahu tempe alias hupe. Impor bahan makanan “sangat negligible”, Terms of Trade petani sangat tinggi. Kalau anda harus in de kost di Surabaya di daerah Darmo cukup “membayar Rp 1.500 plus 15 kg beras. Kehidupan para keluarga petani jauh lebih baik dari para pegawai negeri.

Kami yang anak “priyayi/pegawai negeri” kalau berlibur seringkali menginap di rumah kawan-kawan di desa yang putra carik, jogoboyo, kamituwo atau lurah (kades).Di sana kami bisa makan beras baru, disembelihkan ayam dan sangat nyaman sekali. Jauh lebih baik dari konsumsi dirumah kami (yang tinggal di kota) setiap hari.

Uang kuliah hampir-hampir gratis. Taripnya tidak berubah sejak tahun 1950-an yakni Rp 240. Pada tahun 1965 uang Rp 240 hanya dapat dua gelas sirup. Mahasiswa setiap bulan mendapat jatah beras 25 kg/orang. Yang 10 kg dijual dan sisanya untuk bayar kos. Untuk kesehatan kebetulan Unair punya kartu kesehatan dengan dokter yang telah ditunjuk dan tidak perlu bayar alias gratis.

Bagaimana bila dibandingkan dengan kondisi sekarang ? Kayaknya kok malah lebih baik keadaan di zaman itu.

Walaupun BK mati dalam sengsara, dia meninggalkan dunia dengan bahagia. BK yang sebenarnya ingin dikubur di Bogor itu diantar oleh ratusan ribu atau bisa jadi jutaan orang yang mencintainya. Begitu banyak rakyat yang ingin mengucapkan selamat jalan kepada “Penyambung Lidah Rakyat” ini sehingga panjang pengantar jenazahnya mencapai 11 kilometer dari TMP Sentul, Blitar, tempat liang lahat Bung Karno disiapkan. Mereka ini mengikuti ambulans sejak Malang.

Kesaksian dari Anwar Arnowo, yang ayahnya pernah menjadi Walikota Surabaya, memberi gambaran yang mungkin tidak pernah diketahui generasi muda kita ;

….Kebetulan saya berdiri berdesak-desakan di samping bapak Hoegeng Iman Santosa, yang sibuk bicara dengan suara ditahan agar frekuensinya tidak mengganggu aba-aba yang sudah diteriak-teriakkan. Saya berbisik kepada beliau, ujung paling belakang rombongan ini berada dimana? Beliau menjawab singkat : di kota Wingi. Huh?? Sebelas kilometer panjangnnya iring-iringan rombongan ini dari sejak dari lapangan terbang Abdulrachman Saleh di Singosari, di sebelah utara Malang.

Tanpa terencana kisah-kisah tentang BK kini tampil ke permukaan, memperkaya pengetahuan masyarakat Indonesia, yang mungkin semula tidak perduli, tidak tahu dan malas mencari tahu.

Sejarah seperti berkisah sendiri. (Tamat)

Artikel ini ditulis oleh sahabatku Henry Ch Bangun, Wakil Pemimpin Redaksi Harian Warta Kota.Tulisan ini sudah dimuat di Warta Kota edisi 24 Januari 2008. Aku tertarik mengutip tulisan ini secara utuh karena, selain aktual, cukup obyektif dan berimbang. Ini adalah bagian terakhir artikel ini. Selamat menikmati. (Robert Manurung)

Iklan

Tag: , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: