Apakah Anda Berkabung Untuk Soeharto ?

AKHIRNYA, setelah tiga pekan menjadi drama– yang menyita perhatian segenap warga bangsa ini, mantan presiden Soeharto meninggal dunia pada Minggu siang, 27 Januari 2008. Kabar itu disiarkan oleh semua stasiun televisi nasional, yang mendadak menghentikan semua program reguler masing-masing, kemarin siang. Dalam sekejap, berita itu sudah menyebar ke seluruh lapisan masyarakat.

Karena ini adalah peristiwa penting dan langka buat bangsa kita, saat matinya seorang mantan penguasa, mari kita sharing. Bagaimana reaksimu setelah mendengar kabar itu?

Tentunya setiap orang Indonesia, apakah dia benci, cinta atau masa bodoh terhadap Soeharto, pasti bereaksi dalam hati dan pikirannya setelah mendengar berita itu. Aku sendiri bersikap sangat tenang, dalam arti tidak kaget, tidak juga merasa senang dan tidak juga sedih..

Soal tidak kaget, aku rasa semua orang Indonesia pun begitu. Pemberitaan media massa yang begitu intens–dari jam ke jam, mengenai kondisi Soeharto yang kritis; telah mengkondisikan semua orang ke dalam situasi menunggu : kapan kira-kira Soeharto bakal meninggal. Jadi wajar saja jika berita kematian itu kita respon seperti datangnya kabar yang memang sudah kita tunggu-tunggu.

Kenapa aku tidak merasa senang atau bersorak mendengar kematian Soeharto ? Ini soal etika pribadi dan budaya. Betapa pun tidak sukanya aku pada seseorang, aku selalu tercenung setelah mendengar kabar kematian orang itu. Timbul penyesalan dalam hati, mengapa harus ada rasa tidak suka dan benci; dan mengapa perselisihan pribadi itu terus dipelihara sampai orangnya meninggal. Sedangkan dari aspek budaya, selaku orang Batak, aku dibentuk oleh tradisi yang sangat kuat, yang di dalamnya ada ritual meratapi kematian (mangandung) ; menghayatinya sebagai tragedi yang mengharu-biru.

Kenapa aku tidak merasa sedih ? Jujur saja, sejak kecil aku sudah tidak suka pada tokoh ini. Mungkin karena penampilannya di media massa terkesan sangat berkuasa, dominan, dan menurut hati kecilku dia tidak tulus. Ini memang sangat subyektif . Namun penilaian itu tidak berubah dan bahkan berkembang menjadi perasaan antipati, setelah aku “mengenal” diktator yang “merakyat” ini dengan dasar informasi dan pengetahuan yang lebih akurat dan obyektif.

Apalagi setelah aku menekuni profesi wartawan, aku merasakan langsung bagaimana dahsyatnya cengkeraman kekuasaan The Smiling General ini. Dia seorang diktator tulen dengan segala siasat dan kelicikannya!

Bagaimana dengan anda ? Apakah anda merasa sedih, senang atau cuek atas meninggalnya Soeharto ? Berikan komentarmu pada kotak di bawah. Terima kasih.

 

Tag: , , , , , , ,

10 Tanggapan to “Apakah Anda Berkabung Untuk Soeharto ?”

  1. kabarihari Says:

    Kalau saya juga biasa saja bang, bukankah hidup, tumbuh dan mati adalah kejadian yang paling alami? jadi saya pikir kalo memang sudah saatnya dipanggil pulang ya wajar-wajar saja.
    Saya komentar begitu bukan karena saya membenci Suharto, engga sama sekali, saya hanya kasian jika beliau berlama-lama dalam kondisi sakit, bukankah itu lebih seperti siksaan? jadi saat beliau wafat syukuri saja, karena otomatis penderitaan & siksaan selama sakit telah hilang, beliau sudah sembuh.

    Salam.

  2. Marudut p-1000 Says:

    Aku juga punya perasaan yang sama dengan anda-tidak senang dan juga tidak sedih apalagi berkabung tapi tetap menghormati kematian sebagai proses transisi dari kefanaan menuju kekekalan- aku kesal dengan tayangan telivisi yang kulihat. Televisi-televisi banyak menyiarkan pendapat dari banyak orang mengenai sosok sang jenderal namun tak satupun media elektronik itu meminta pendapat dari orang2 yang telah disakiti oleh penguasa orde baru itu,yaitu para korban pembantaian dan haknya dikekang karena dituduh merupakan bagian dari PKI, para korban penculikan karena sekedar mencoba berbeda pendapat dengan penguasa pada saat itu, keluarga para mahasiswa yang mati ditembak pada tahun 1998, keluarga2 yang tanahnya dirampas oleh keluarga dan kroni dll.

    Sampai detik ini aku masih bingung dengan istilah banyak orang bahwa soeharto bagaimanapun pernah berjasa terhadap bangsa dan negara ini. Bukankah segala apa yang baik yang pernah diperbuatnya sudah merupakan kewajibannya sebagai kepala negara? Bagiku, orang yang pantas mendapat penghargaan adalah orang yang melakukannya sesuatu dengan tanpa imbalan. Apakah soeharto tidak mendapatkan imbalan dari apa yang telah dilakukannya? Bukan saja tidak mendapatkan imbalan tetapi dia , keluarganya dan kroni2 nya juga mengambil imbalan tersebut seolah2 semua itu telah disediakan oleh nenek moyang mereka. Sangkin rakusnya bahkan sesama mereka juga akhirnya saling sikut satu sama lain untuk mendapatkan lebih banyak.

  3. RETORIKA-1000DS Says:

    Kalau saya jujur saja, Sejauh ini nggak ada pengganti yang sepadan dengan beliau.

    Mungkin kalau anda tinggal di luar negri (bolak bali) anda baru ngerasa banget bedanya – enaknya punya presiden soeharto, dibanding yang sekarang.

    Setiap orang pasti punya kesalahan, tetapi bagaimanapun juga nggak mungkin kesuksesan diraih tanpa adanya korban.

    Pake logika aja, kalau pemerintahan orba udah bobrok dari awal rasanya nggak mungkin baru rubuh 32 tahun kemudian.

    Oh ya, ini penyakit orang indonesia, termasuk saya 1000 jasa kadang hilang karena 10 dosa.

  4. Freddy Hernawan Says:

    kalau saya juga cuek alias biasa saja. nggak terlalu bagaimana bagaimana. saya lebih tertarik dengan meninggalnya tetangga sebelah, karena tetangga saya seorang yang baik dan mau bekerja keras untuk RT nya. kalau ingat soeharto, saya jadi ingat kampung saya dulu, Sambas. kebun jeruk habis semua. ah kalau soal ini saya malas untuk bercerita, org org pada tahu kok.

  5. paijan Says:

    Kematian soeharto bagiku tidak menimbulkan rasa sedih ataupun duka cita. Kesedihanku yang mendalam adalah ketika mendengar berita tentang saudara-saudaraku sebangsa yang tertimpa banyak bencana baik banjir, longsor, angin ribut, gempa, tsunami, kebakaran, kena lumpur lapindo dan bencana lainnya. Aku sedih karena aku tidak bisa membantu mereka, sebab keadaanku sendiri juga masih melarat.
    Kematian soeharto menurutku adalah kematian yang mewah dan wah serta menggemparkan banyak orang. Orang ramai berkomentar ini itu tentang soeharto, kebanyakan dari yang kudengar, mereka itu rata-rata mengatakan soeharto adalah seorang yang sangat berjasa bagi Indonesia, jadi perlu dihormati dan didoakan supaya arwahnya bisa masuk surga.
    Walaupun ayahku adalah PNS dan aku sekeluarga tidak pernah menjadi korban soeharto, aku merasa soeharto tidak layak untuk dipuja-puji, banyak sumber yang bisa kupercaya menyatakan bahwa soeharto adalah seorang diktator sekaligus koruptor. Jadi sekali lagi kukatakan aku tidak berkabung soeharto mati dan semoga dengan kematian soeharto Indonesia bisa membawa kebaikan bagi Indonesia.

  6. hamdisy Says:

    saya pribadi adalah seorang yang kagum terhadap Pak harto karena beliau punya style sendiri & planning yang bisa ‘membungkam’ para preman2 kecil. Jadinya semua kondisi ‘dalam kendali’. Sebuah proses ‘keberhasilan’ ‘pasti’ akan ada biaya yang harus dikorbankan (seperti yg Pak R.manurung bilang soal HAM,korupsi dll). Lihat dijaman sekarang dijaman report beras & nasi bin reformasi ‘banyak’ preman2 kecil yg berkuasa yg mengatur salah satu bidang. Misalkan mafia beras, mafia minyak tanah, mafia kedelai, ujung2-nya yah harga bahan pokok seenak ‘preman2 kecil itu lah’.
    Saya pribadi menilai Pak harto sangat berhasil membangun bangsa ini dengan cara nya sendiri (saya rasa jika anda/ortu keluarga anda yang lahir & besar dijaman orde baru dan tidak terkait atau menjadi korban ‘orde baru’ pasti sepakat dengan saya ^_^).Soal gelar pahlawan saya rasa beliau layak , sebab denifisi pahlawan ‘resmi’ negara adalah yang berjuang untuk kemerdekaan. terlepas segala kasus perdata yg terjadi.
    Kesimpulan sikap saya adalah berterima kasih atas jasa2nya dan berdoa untuk beliau yg terbaik sebagai sesama umat beragama, namun segala urusan perdata harus diselesaikan, soal pidana, secara hukum gugur namun ajudan2nya entah Beni Moerdani dll bisa di seret ke pengadilan.

    Salam.

  7. bujubune Says:

    dikutip dari Milis pribadi :

    Malam minggu. Hawa panas dan angin seolah diam tak berhembus. Malam ini saya bermalam di rumah ibu saya. Selain rindu masakan sambel goreng ati yang dijanjikan, saya juga ingin ia bercerita mengenai Presiden Soekarno. Ketika semua mata saat ini sibuk tertuju, seolah menunggu saat saat berpulangnya Soeharto, saya justru lebih tertarik mendengar penuturan saat berpulang Sang proklamator. Karena orang tua saya adalah salah satu orang yang pertama tama bisa melihat secara langsung jenasah Soekarno.
    Saat itu medio Juni 1970. Ibu yang baru pulang berbelanja, mendapatkan Bapak ( almarhum ) sedang menangis sesenggukan.
    “ Pak Karno seda “ ( meninggal )
    Dengan menumpang kendaraan militer mereka bisa sampai di Wisma Yaso. Suasana sungguh sepi. Tidak ada penjagaan dari kesatuan lain kecuali 3 truk berisi prajurit Marinir ( dulu KKO ). Saat itu memang Angkatan Laut, khususnya KKO sangat loyal terhadap Bung Karno. Jenderal KKO Hartono – Panglima KKO – pernah berkata ,
    “ Hitam kata Bung Karno, hitam kata KKO. Merah kata Bung Karno, merah kata KKO “
    Banyak prediksi memperkirakan seandainya saja Bung Karno menolak untuk turun, dia dengan mudah akan melibas Mahasiswa dan Pasukan Jendral Soeharto, karena dia masih didukung oleh KKO, Angkatan Udara, beberapa divisi Angkatan Darat seperti Brawijaya dan terutama Siliwangi dengan panglimanya May.Jend Ibrahim Ajie.

    Namun Bung Karno terlalu cinta terhadap negara ini. Sedikitpun ia tidak mau memilih opsi pertumpahan darah sebuah bangsa yang telah dipersatukan dengan susah payah. Ia memilih sukarela turun, dan membiarkan dirinya menjadi tumbal sejarah.
    The winner takes it all. Begitulah sang pemenang tak akan sedikitpun menyisakan ruang bagi mereka yang kalah. Soekarno harus meninggalkan istana pindah ke istana Bogor. Tak berapa lama datang surat dari Panglima Kodam Jaya – Mayjend Amir Mahmud – disampaikan jam 8 pagi yang meminta bahwa Istana Bogor harus sudah dikosongkan jam 11 siang. Buru buru Bu Hartini, istri Bung Karno mengumpulkan pakaian dan barang barang yang dibutuhkan serta membungkusnya dengan kain sprei. Barang barang lain semuanya ditinggalkan.
    “ Het is niet meer mijn huis “ – sudahlah, ini bukan rumah saya lagi , demikian Bung Karno menenangkan istrinya.
    Sejarah kemudian mencatat, Soekarno pindah ke Istana Batu Tulis sebelum akhirnya dimasukan kedalam karantina di Wisma Yaso.
    Beberapa panglima dan loyalis dipenjara. Jendral Ibrahim Adjie diasingkan menjadi dubes di London. Jendral KKO Hartono secara misterius mati terbunuh di rumahnya.

    Kembali ke kesaksian yang diceritakan ibu saya. Saat itu belum banyak yang datang, termasuk keluarga Bung Karno sendiri. Tak tahu apa mereka masih di RSPAD sebelumnya. Jenasah dibawa ke Wisma Yaso. Di ruangan kamar yang suram, terbaring sang proklamator yang separuh hidupnya dihabiskan di penjara dan pembuangan kolonial Belanda. Terbujur dan mengenaskan. Hanya ada Bung Hatta dan Ali Sadikin – Gubernur Jakarta – yang juga berasal dari KKO Marinir.
    Bung Karno meninggal masih mengenakan sarung lurik warna merah serta baju hem coklat. Wajahnya bengkak bengkak dan rambutnya sudah botak.
    Kita tidak membayangkan kamar yang bersih, dingin berAC dan penuh dengan alat alat medis disebelah tempat tidurnya. Yang ada hanya termos dengan gelas kotor, serta sesisir buah pisang yang sudah hitam dipenuhi jentik jentik seperti nyamuk. Kamar itu agak luas, dan jendelanya blong tidak ada gordennya. Dari dalam bisa terlihat halaman belakang yang ditumbuhi rumput alang alang setinggi dada manusia !.
    Setelah itu Bung Karno diangkat. Tubuhnya dipindahkan ke atas karpet di lantai di ruang tengah.
    Ibu dan Bapak saya serta beberapa orang disana sungkem kepada jenasah, sebelum akhirnya Guntur Soekarnoputra datang, dan juga orang orang lain.
    Namun Pemerintah orde baru juga kebingungan kemana hendak dimakamkan jenasah proklamator. Walau dalam Bung Karno berkeingan agar kelak dimakamkan di Istana Batu Tulis, Bogor. Pihak militer tetap tak mau mengambil resiko makam seorang Soekarno yang berdekatan dengan ibu kota.
    Maka dipilih Blitar, kota kelahirannya sebagai peristirahatan terakhir. Tentu saja Presiden Soeharto tidak menghadiri pemakaman ini.

    Dalam catatan Kolonel Saelan, bekas wakil komandan Cakrabirawa,
    “ Bung karno diinterogasi oleh Tim Pemeriksa Pusat di Wisma Yaso. Pemeriksaan dilakukan dengan cara cara yang amat kasar, dengan memukul mukul meja dan memaksakan jawaban. Akibat perlakuan kasar terhadap Bung Karno, penyakitnya makin parah karena memang tidak mendapatkan pengobatan yang seharusnya diberikan. “
    ( Dari Revolusi 1945 sampai Kudeta 1966 )

    dr. Kartono Mohamad yang pernah mempelajari catatan tiga perawat Bung Karno sejak 7 februari 1969 sampai 9 Juni 1970 serta mewancarai dokter Bung Karno berkesimpulan telah terjadi penelantaran. Obat yang diberikan hanya vitamin B, B12 dan duvadillan untuk mengatasi penyempitan darah. Padahal penyakitnya gangguan fungsi ginjal. Obat yang lebih baik dan mesin cuci darah tidak diberikan.
    ( Kompas 11 Mei 2006 )

    Rachmawati Soekarnoputri, menjelaskan lebih lanjut,
    “ Bung Karno justru dirawat oleh dokter hewan saat di Istana Batutulis. Salah satu perawatnya juga bukan perawat. Tetapi dari Kowad “
    ( Kompas 13 Januari 2008 )

    Sangat berbeda dengan dengan perlakuan terhadap mantan Presiden Soeharto, yang setiap hari tersedia dokter dokter dan peralatan canggih untuk memperpanjang hidupnya, dan masih didampingi tim pembela yang dengan sangat gigih membela kejahatan yang dituduhkan. Sekalipun Soeharto tidak pernah datang berhadapan dengan pemeriksanya, dan ketika tim kejaksaan harus datang ke rumahnya di Cendana. Mereka harus menyesuaikan dengan jadwal tidur siang sang Presiden ! Malam semakin panas. Tiba tiba saja udara dalam dada semakin bertambah sesak. Saya membayangkan sebuah bangsa yang menjadi kerdil dan munafik. Apakah jejak sejarah tak pernah mengajarkan kejujuran ketika justru manusia merasa bisa meniupkan roh roh kebenaran ? Kisah tragis ini tidak banyak diketahui orang. Kesaksian tidak pernah menjadi hakiki karena selalu ada tabir tabir di sekelilingnya yang diam membisu. Selalu saja ada korban dari mereka yang mempertentangkan benar atau salah.
    Butuh waktu bagi bangsa ini untuk menjadi arif.

    Kesadaran adalah Matahari
    Kesabaran adalah Bumi
    Keberanian menjadi cakrawala
    Perjuangan adalah pelaksanaan kata kata
    ( * WS Rendra )

    JAWA POS DOT COM, RADAR BALI.
    Sabtu, 26 Jan 2008
    http://www.jawapos. co.id/index. php?act=detail_ radar&id=192527&c=94
    Mantan Ajudan Bung Karno; Putu Sugianitri Buka Rahasia Soal Perlakuan Negara kepada Bung Karno
    ALI MUSTOFA, Denpasar

    Selama Soeharto berkuasa sekitar 32 tahun, gerakan anti Soekarno terus digelorakan. Buku-buku berbau revolusi dan kekirian dibredel dan ditarik dari pasaran. Namun, kondisi itu terbalik setelah Pak Harto lengser, Mei 1998. Bagaimana reaksi Sugianitri saat itu?

    LENGSERNYA Presiden diikuti berbagai hujatan dan cemoohan. Begitulah yang sering terjadi di negeri ini. Hal itu pula yang menyertai Soekarno saat turun tahta. Bahkan, dia mendapat hujatan sangat keji dari lawan politiknya. “Beliau (Soekarno) setiap bangun pagi selalu membaca koran yang terbit di Jakarta saat itu. Beliau saat itu membaca dengan jelas hujatan maupun cacian yang ditulis koran,” ujar Putu Sugianitri, mantan ajudan Bung Karno.

    Bagaimana ekspresinya? Menurut perempuan yang biasa disapa Nitri, ini saat itu Soekarno lebih banyak tersenyum bila ada berita bernada menghujat. Malah sering kali Soekarno menjawabnya dengan canda. Semisal ketika foto dirinya membelakangi Bung Karno dipajang menjadi headline (berita utama) di salah satu koran terkemuka di Jakarta. “Kayaknya fotografernya naksir kamu Tri,” canda Bung Karno kepada Nitri. Dia yang waktu itu menahan amarah, hanya bisa tersenyum. Maklum saja, judul foto yang dipajang cukup serem. Dibilang kalau dirinya lonte-nya Soekarno.

    Sikap Bung Karno yang terkadang cuek itu kerap membuatnya sering bertanya. Pasalnya hujatan dan cacian itu sudah sangat kasar. Sebagai bangsa beradab, Nitri ingin Bung Karno menghentikan cara-cara seperti itu. “Tapi, Bung Karno malah meledek saya, tahu apa katanya saya tentang politik,” lontarnya. Apa alasannya? Persisnya Nitri mengaku tak tahu. Namun, sebelum ajal menjemput Bung Karno sempat membisikinya. “Tahu kamu kalau aku ngomong blak-blakan. Aku yakin akan terjadi perang saudara. Kalau perang dengan bangsa lain, kita bisa membedakan fisiknya. Tapi dengan bangsa sendiri, itu sangat sulit. Lebih baik aku robek diriku sendiri, aku yang mati daripada rakyatku yang perang. Aku tidak sudi minta suaka ke negeri orang,” jelas Nitri mengutip kata-kata terakhir Bung Karno sebelum meninggal.

    Lantas, seperti apa sikapnya terhadap Soeharto yang kini mengalami nasib sama seperti Bung Karno? Menurut Nitri, sebaiknya pemerintah Indonesia punya prinsip tegas. Bagaimana pun Soeharto adalah mantan Presiden yang pernah mencatatkan keberhasilan selama memimpin Indonesia. Kalau pun meninggal, dia menyarankan ada upacara kenegaraan mengenang jasa-jasanya. Kendati perlakuan seperti itu tidak pernah diberikan kepada Bung Karno. “Bapak meninggal dalam kondisi tidak punya apa-apa. Tapi, saya lihat waktu itu keluarga besar dalam kondisi bahagia,” ucapnya.

    Menyangkut pengampunan, sebagai sesama manusia, menurut Nitri, wajib hukumnya memaafkan. Tapi, masalah hukum dan kerugian negara yang ditimbulkan Soeharto selama memimpin Indonesia, haruslah diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Dia ingin Indonesia tidak terjebak dalam paradigma sempit. Hanya atas nama kemanusian lantas mematikan arti kemanusian itu sendiri. “Saya setuju proses hukum Soeharto dilanjutkan. Menurut saya itu lebih bermartabat, ” tandasnya.

    Yang menarik, menurut Nitri, di zaman Orde Lama Presiden hampir tidak melakukan korupsi sehingga Bung Karno wafat tidak meninggalkan warisan banyak, kecuali meninggalkan banyak istri. “Hitung saja hartanya kalau sekiranya ada. Toh, Bung Karno tak punya apa-apa, selain istrinya yang banyak. Tapi, soal punya banyak istri, itu kan urusan pribadi,” ujarnya.

    Sebagai bukti, Nitri mengaku pernah melihat Bung Karno minta duit ke Frans Seda, mantan Menteri Keuangan era Soeharto awal 70-an. Frans Seda kemudian memberikan Bung Karno Rp 5.000. Menariknya, kendati tidak punya duit, uang itu dikembalikan lagi ke Frans. “Dipakai nggak, dibeliin apa-apa juga nggak. Justru gaji saya dipakai bareng-bareng keluarga Bung Karno,” imbuhnya.

    Ditanya apakah dirinya tidak takut mengungkap plus minus Bung Karno dan Pak Harto, Nitri hanya menggeleng. Justru dia mengaku sudah menghubungi Guntur Soekarnoputra sebelum diwawancara wartawan koran ini. “Waktu saya diwawancarai wartawan Tempo maupun Kompas, saya juga ngomong apa adanya ke Mas Guntur. Dan, tidak ada masalah. Saya hanya ingin meluruskan sejarah,” pungkasnya.( *)

  8. aburifqi Says:

    Kalau saya anggap kematian tersebut kematian yang biasa yang akan datang kepada seluruh manusia. Tapi juga harus kita renungi oleh kita yang masih hidup bahwa kita akan menysul orang tersebut nantinya kembali kepada sang Pencipta. Kita hargai jasanya dan kita jadikan pelajaran segala kesalahannya agar kita tidak termasuk orang yang akan meneruskan kesalahannya. Karena menjadi pemimpin juga tidak mudah karena sangat sulit untuk membuat ratusan juta orang bakal terpuaskan segala kepentingannya dari segala sisi. Yang jelas orangnya sudah meninggal jadi tidak boleh kita caci maki akan tetapi kita sebutkan kesalahannya dengan bijak tanpa fitnah sebagai pelajaran bagi orang yang masih hidup sesudahnya. Kewajiban Ahli warisnyalah untuk mengembalikan kepada negara atau kepada siapa yang berhak andai selama dia hidup ada sesuatu yang terambil atau terzalimi agar diringankan siksaanya di akhirat (sebagai bakti kepada ortu mereka). Karena sebagai pribadi saya tidak pernah merasa terZalimi secara langsung maka tidak ada maaf yang perlu saya berikan kepadanya. Biarkan dia di sana karena dia sekarang sedang sibuk mempertanggungjawabkan segala amalnya didunia dan itu sudah sangat menyibukkannya.

  9. jusuko Says:

    Bersedihkah saya akan kematian Soeharto ?
    Ya, saya sedih, seperti halnya saya juga sedih waktu Soekarno meninggal.
    Bagaimana bisa ? Untuk menjawabnya akan perlu sebuah buku atau lebih.
    Yang jelas, mereka berdua adalah presiden RI.

    Kalau saya membaca posting ini dan komentarnya, sepertinya ada sebuah benang yang menghubungkan, yaitu persoalan KEADILAN.

    Saya bukan agamawan, juga barangkali bahkan tidak bagus dalam menghayati agama, dan saya juga bukan politikus, tapi saya selalu mengatakan pada orang yg bersedia mendengar saya, bahwa TIDAK ADA KEADILAN YANG SEJATI DALAM DUNIA INI.

    Kepada anak saya, saya sampaikan bahwa yg namanya keadilan itu adalah hanya sebuah cita-cita. Dan kalau diibaratkan, keadilan itu adalah seperti sebuah titik bersinar yg jauh digaris cakrawala.
    Berapa lamapun dan berapa jauhpun kita berjalan menuju kearahnya, jarak itu tidaklah pernah berkurang, sampai kita meninggalkan dunia ini.
    Yang penting, adalah bahwa kita harus selalu “berjalan” kearah titik sinar “keadilan” itu, tanpa pernah mengetahui hakekat sebenar darinya. Dan janganlah kecil hati atau bertengkar dgn sesama, apabila ternyata kita pernah salah arah ataupun bahkan berhenti. Melainkan, lanjutkan lagi kearah yg dianggap benar.

    Baikkah Soeharto, atau baikkah Soekarno ? Keduanya sama baiknya dan sama tidak baiknya, tergantung dimana kita berada pada waktu keduanya masih bersama kita.
    Pahlawankah Soeharto, ataukah Soekarno yg pahlawan ? Saya tidak tahu.

    Bagi saya Soekarno adalah orang yg telah memproklamirkan keberadaan negara dan bangsa Indonesia secara berdaulat. Dan itu sangat penting.
    Sedangkan Soeharto adalah orang yg membawa negara dan bangsa Indonesia kedalam kancah internasional yg materialistis dan dipandang tinggi secara nyata.
    Soekarno lebih idealis, dan Soeharto lebih “pragmatis”.
    Soekarno lebih kearah Timur, dan Soeharto lebih kearah Barat.
    Bagi orang luar negeri, saya rasa, mereka berdua dipandang “sama Indonesianya”, positif ataupun negatif.

    Jadi mereka berdua telah menorehkan jejaknya. Bagaimana kita melanjutkannya ?

  10. Martabak Says:

    Saya berkabung, tapi bukan pada beliau. Saya berkabung karena banyak manipulasi dan kebohongan itu belum juga terungkap. Saya berkabung karena ternyata keadilan sejati memang sulit didapatkan di dunia ini, khususnya di negeri kita ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: