Atas Nama Rakyat, SBY Memuji Soeharto Sebagai Putra Terbaik Bangsa

Akal sehat kita tentu tak bisa menerima itu dan jadi bertanya-tanya. Apakah SBY menganggap dirinya–mentang-mentang menjabat sebagai presiden– memiliki kewenangan dan kekuasaan sedemikian besar, untuk seenaknya menghapus semua dosa politik Soeharto, lalu dengan sekehendak hatinya “mengangkat” Soeharto sebagai pahlawan bangsa?

Apakah SBY menganggap seluruh rakyat Indonesia sebagai kumpulan orang-orang yang dungu, yang hanya melalui sebuah pidato dapat dibujuk untuk seketika memuja Soeharto sebagai pahlawan bangsa?

Hebat! Cuma dalam hitungan menit setelah Soeharto itu dikabarkan meninggal dunia, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono langsung tampil di layar televisi, menyatakan belasungkawa atas nama Negara, Rakyat, Pemerintah Indonesia dan dirinya sendiri. Tidak cuma itu, SBY juga memuji bekas penguasa bertangan besi itu sebagai pahlawan bangsa.

Beberapa menit kemudian SBY melayat jenazah di rumah duka di Cendana, setelah membatalkan keberangkatannya ke Bali untuk membuka Konferensi Antikorupsi. Pokoknya, SBY benar-benar memperlihatkan sikap hormat dan berbakti terhadap mantan bosnya itu.

“Atas nama Negara, Rakyat dan Pemerintah, dan saya selaku pribadi, mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya (atas meninggalnya Soeharto),”ujar Presiden SBY dengan nada sedih, dalam pidato yang disiarkan langsung oleh semua jaringan televisi nasional itu. Wajah SBY di layar kaca terlihat begitu sedih, demikian pula Wakil Presiden Jusuf Kalla yang berdiri hikmad di sebelah kirinya.

Yang mengejutkan adalah bagian akhir dari pidato belasungkawa yang diucapkan Presiden SBY. ”Dengan ini saya meminta kepada seluruh rakyat, untuk menghormati Bapak Haji Mohammad Soeharto sebagai salah satu putra terbaik bangsa,”katanya. Dengan kata lain, SBY meminta rakyat Indonesia untuk menghormati Soeharto—yang nota bene masih berstatus tersangka dalam perkara korupsi – sebagai pahlawan bangsa.

Skandal

Tampilnya Presiden SBY menyatakan belasungkawa atas meninggalnya Soeharto adalah sesuatu yang sudah bisa diduga, dan itu dapat dimaklumi, mengingat latar belakang SBY sendiri dan jalinan kepentingan politik yang mengikatnya. Namun dari segi penegakan hukum, integritas sebagai pemimpin dan situasi batin masyarakat; pujian terhadap Soeharto dengan mengatasnamakan Negara dan Rakyat itu adalah sebuah skandal yang serius; mengingat sampai menjelang meninggalnya Soeharto masih berstatus tersangka dalam perkara korupsi.

Akal sehat kita tentu tak bisa menerima itu dan jadi bertanya-tanya. Apakah SBY menganggap dirinya–mentang-mentang menjabat sebagai presiden– memiliki kewenangan dan kekuasaan sedemikian besar, untuk seenaknya menghapus semua dosa politik Soeharto, lalu dengan sekehendak hatinya “mengangkat” Soeharto sebagai pahlawan bangsa? Apakah SBY menganggap seluruh rakyat Indonesia sebagai kumpulan orang-orang yang dungu, yang hanya melalui sebuah pidato dapat dibujuk untuk seketika memuja Soeharto sebagai pahlawan bangsa?

Tak bisa dihindarkan, sambil mendengarkan pidato pujian dari mulut Presiden SBY terhadap mantan bosnya itu, lantas terbayang aneka tragedi yang ditimpakan rezim Soeharto terhadap berbagai kelompok maupun perorangan di negeri tercinta ini. Bagaimana kejinya dia memperlakukan musuh-musuh politiknya dan orang-orang yang berani berkata benar, termasuk Bung Karno, AH Nasution, Bung Hatta, Ali Sadikin, Hoegeng dan lain-lain. Bahkan sampai saat-saat menjelang lengser pun, Soeharto masih menjadi sumber bencana dan petaka yang fatal bagi warga negara ini, yaitu para mahasiswa yang tewas diterjang peluru aparat dalam Tragedi Semanggi dan Tragedi Trisakti.

Kalau saja Presiden SBY memiliki sedikit saja kepekaan terhadap tuntutan hati nurani rakyat, dan kalau saja dia memiliki kepedulian yang cukup dan tanggung jawab besar terhadap perjalanan bangsa ini ke depan; pidato belasungkawa itu bisa dibuat lebih arif dan pas. Pilihan terbaik baginya adalah mengucapkan pidato belasungkawa atas nama pemerintahannya dan pribadinya sendiri. Jangan memgatasnamakan Negara, apalagi Rakyat.

Kalau bicara dalam kapasitas pribadi dan selaku pimpinan pemerintahan, yang notabene hanya berkuasa dalam priode lima tahun, boleh-boleh saja SBY menyanjung Soeharto setinggi langit. Itu haknya dan tentu akan ada konsekuensi berupa penilaian masyarakat mengenai integritasnya sebagai politisi, yang diberikan mandat oleh rakyat untuk menjabat presiden. Tapi janganlah mengatasnamakan Negara dan Rakyat, karena itu menyesatkan, bisa menimbulkan salah paham di dunia internasional; seolah-olah seluruh rakyat Indonesia berkabung atas meninggalnya mantan penguasa itu.

Sebagai manusia beragama dan menjunjung tinggi nilai-nilai ketimuran, semua orang Indonesia pasti menunjukkan sikap yang pantas terhadap siapa pun yang meninggal dunia. Namun mengatakan seluruh rakyat Indonesia berkabung atas meninggalnya Soeharto, itu terlalu nekad dan ngawur.

Cuci otak

Mungkin sudah sejak beberapa minggu yang lalu, setelah Soeharto masuk RSPP, lingkungan paling dalam pemerintahan SBY-JK sudah mempersiapkan teks belasungkawa itu. Bisa dibayangkan betapa rumitnya kalkulasi yang dilakukan pemerintahan SBY-JK, termasuk mempertimbangkan laporan intelijen– mengenai dinamika politik dan reaksi masyarakat.

Dalam beberapa hari ini misalnya, ada isu kalangan mahasiswa akan melancarkan demonstrasi besar-besaran untuk mendesak pemerintah mengadili Soeharto. Di sisi lain para kroni Soeharto juga aktif melakukan berbagai manuver, termasuk mengkooptasi Amin Rais untuk merekayasa keadaan, agar segenap unsur bangsa ini memaafkan dosa-dosa politik Soeharto. Pada saat bersamaan persiapan pasukan keamanan juga meningkat sangat intens, dengan indikator disiagakannya sejumlah panser di titik-titik strategis.

Setelah mendengar pidato tersebut, kini kita menjadi maklum. Pemerintahan SBY-JK telah melakukan siasat yang berani dan bahkan nekad, yaitu memanfaatkan pidato belasungkawa Presiden untuk merehablitasi reputasi Soeharto, dan sekaligus menjejalkan ke kepala rakyat Indonesia bahwa Soeharto adalah seorang pahlawan. Siasat ini adalah gabungan dari cara kerja propaganda dan trik kehumasan. Sebuah indoktrinasi yang tak kentara atau “kudeta” terhadap akal sehat dan suara nurani masyarakat. Ini “brain washing” atau cuci otak, dimana obyeknya adalah rakyat, dengan memanfaatkan kekuatan media massa.

Melihat cara penyampaiannya yang bersifat imbauan, yaitu agar masyarakat menghormati Soeharto sebagai putra terbaik bangsa; ada kesan upaya “mempahlawankan” Soeharto melalui pidato tersebut adalah untuk menyenangkan hati keluarga Soeharto dan para kroninya. Mungkin ini semacam transaksi politik tingkat tinggi, dan bukan tidak mungkin melibatkan fulus pula.

Nah, para pembaca yang budiman, terserah pada anda semua. Apakah anda setuju dengan semua yang dikatakan Presiden SBY dalam pidato belasungkawa itu. Apakah anda sendiri menganggap Soeharto sebagai pahlawan bangsa ataukah seorang tiran yang tega mengorbankan rakyat demi memperkaya diri dan kelompoknya, serta menghilangkan nyawa banyak orang untuk kelanggengan kekuasaannya ? Berikan pendapatmu di kotak komentar yang ada di bawah.

M E R D E K A ! ! !

 

 

 

 


 

Tag: , , , , , , , ,

39 Tanggapan to “Atas Nama Rakyat, SBY Memuji Soeharto Sebagai Putra Terbaik Bangsa”

  1. adi sumitro Says:

    namanya juga manusia ada yang senang ada yang tidak tinggal dari sudut mana kita melihat

  2. adi sumitro Says:

    jadi orang itu tidak usah menjelek-jelekan orang lain cobalah koreksi diri sendiri apa yang ada perbuat sudah lebih baik dari yang di hujat apa beloon ???

  3. Robert Manurung Says:

    @ adi sumitro

    maaf kawan, aku cuma mau ngasih tau, sekarang sudah tahun 2008 dan Indonesia sudah memasuki era kebebasan. Ini kuingatkan, siapa tahu kau masih trauma dengan situasi serba terkekang di era Soeharto.

    Jadi kalau kau menulis komentar kawan. tulislah yang jelas, kalau bisa jangan prophetis, sehingga aku dan para pembaca blog ini bisa mengerti apa yang engkau tulis.

    kemudian perlu aku ingatkan, tolong kita bedakan mengatakan kebenaran dengan menjelek-jelekkan. Aku akan respek padamu kalau kau kritik aku dengan jelas, dengan menunjukkan apa yang aku langgar dan dimana aku salah. Kalau kau pembela Soeharto, belalah dengan menunjukkan kebenaran tentang dirinya, kalau tidak mending nggak usah komentar kawan.

    Merdeka

  4. renowild Says:

    sampeyan itu kok cek nemene, wong pak harto udah mangkat kok sik di utik utik.
    babano op’o SBY ngomong lek pak harto pahlawan, tak kandani yo mas..
    ta mbak…
    wong cilik koyo aku lan kanca kancaku wong tani podo nelangsa ndelok pak harto, wis salah tuwek, penyakiten, lha kok ono sing mentolo gawe kaco (koyo sampeyan sing sok nggatak iku).
    sampeyan iku ga duwe embah ta?, sampeyan tau dilarani pak harto ta?, jamane pak harto paling ga awak dewe jik iso mangan tempe pin telu sedino, ndang saiki?, wis lesu eeeh ketemu wong nggiapleki koyo sampeyan, gatel maaas maaas…
    mahasiswa iku wis salah mangan jik nyadong wong tuwane, gak gablek golek duwit, isone mung nyangap tok cangkeme.
    saiki pak harto wis mangkat, tak dungani sak kanca-kancaku mugo mugo amal ibadahe ditrimo marang gusti Allah.
    amin…..

  5. Marudut p-1000 Says:

    @Adi Sumitro

    Bung adi, masalah soeharto adalah masalah publik bukan masalah personal, jadi setiap orang di dunia ini bisa dan berhak mempermasalahkannya terlebih-lebih lagi bahwa soeharto meninggalkan bumi ini dengan status terdakwa.

  6. Harry Simbolon Says:

    Menurut pendapatku kasus pak harto ini seperti kedua sisi mata uang, disisi yang satu dia memerintah dengan cara otoriter sehingga disebut diktator, namun disisi lain banyak hal positif yang bangsa indonesia rasakan (terutama dari segi ekonomi dan stabilitas sosial politik). dan keduanya saya akui kebenarnnya. dan kedua hal ini tidak bisa dipisahkan. Sehebat apapun analisa seorang pengamat tidak akan mampu menyudutkan satu sisi saja. karena pasti pengamat yang lain akan mengupasnya dari sisi mata uang yang lain.

    Secara pribadi saya tidak pro dan kontra dengan Suharto. Dari kasus pak harto ini saya hanya mengambil segi positifnya saja. sedangkan kejahatannya selama ini biarlah Tuhan yang menghukum, saya tidak punya preferensi untuk menghujat dan mencaci maki dia. toh sekarang dia sudah mangkat.

    Gitu aja kok report.

    Salam perjuangan lae……. terus ajak orang Merdeka……

  7. Robert Manurung Says:

    Jauh panggang dari api, sangat Machiavelli dan mengalami moral hazards. Itu inti tanggapanku terhadap komentar Lae di atas.

    Komentar Lae, yang tadinya kuanggap sudah paham apa itu pencerahan, benar-benar meleset dari yang aku harapkan. Dalam tulisanmu di blogmu, kau menyebut Soeharto sebagai pahlawanmu, tapi disini Lae bilang bilang pula kasus pak hartomu itu seperti kedua sisi mata uang.

    Kemudian dengan still yakin Lae bilang,”Sehebat apapun analisa seorang pengamat tidak akan mampu menyudutkan satu sisi saja, karena pasti pengamat lain akan mengupas dari sisi mata uang yang lain.” Lho, kok Lae jadi berlindung pada aspek debatable itu?

    Mana keyakinanmu, yang dengan heroik menyebut Soeharto pahlawanmu? Dan apakah lantaran satu masalah bisa diperdebatkan, lalu boleh begitu saja kita simpulkan bahwa kebenarannya relatif? Wah!

    Dari satu segi, pendirian lae menampakkan watak Machiaveli yang lebih menakutkan daripada Niccolo Machiaveli sendiri. Namun di sisi lain aku jadi ragu apakah Lae punya pendirian sebagai penulis dan intelektual, terutama karena bilang,”Gitu aja kok repot.” Gile benar, kita sedang membahas sumber persoalan terbesar sepanjang sejarah Indonesia, tapi dengan entengnya lae bilang,”Gitu aja kok repot.” How come, my friend?

    Yang mengherankan lagi, Lae bilang tidak punya preferensi untuk menghujat dan mencaci maki Soeharto. Emangnya siapa yang mengharuskanmu melakukan itu? Tetaplah katakan diktator itu pahlawanmu, tapi siapkah kau membela dosa-dosa politik Soeharto ? Sanggupkah kau bersaksi bahwa kematian jutaan orang di negeri ini pada 1965 dan 1966 adalalah hal yang wajar, benar dan perlu ?

    Pilihan terakhir, kalau memang tidak siap untuk mempertanggung jawabkan apa yang kau tulis, lebih baiklah tak usah menulis.

    Aku memberi komentar di blogmu adalah karena tulisanmu sendiri yang pada satu bagian menyebut Soeharto sebagai pahlawanmu. Apakah sekarang Lae akan berdalih bahwa ode atau kata pujian itu cuma basa-basi, hanya ikut arus dan kebiasaan? Bukankah ini satu indikator moral hazards?

    M E R D E K A

  8. gurlinterrupted Says:

    agak ironis sih.. setelah beliau meninggal dunia, orang2 yang dulu anti terhadapnya sepertinya langsung menunjukkan simpati mendalam. bermuka dua? atau hanya sekedar menunjukkan sisi manusianya? mereka sendirilah yang tau jawabannya…

  9. progoharbowo Says:

    Ya terlihat sekali SBY tidak proporsional ….
    itulah kelemahannya presiden kita sekarang…..rapuh…
    ini juga bukti bahwa dia masih kroninya….
    bukti juga bahwa saat ini orba masih berkuasa

  10. mangoeni Says:

    Mungkin pidato SBY masih bisa saya sedikit maklumi, itu adalah ciri dari masyarakat timur, seorang muslim khususnya yang menghormati dan mendoakan orang yang telah meninggal dunia walaupun orang tersebut semasa hidup banyak memiliki kesalahan & dosa.

    Tapi dapatkah kematian pak harto ini dapat dijadikan momentum kedepan untuk lebih keras dan lebih intesif lagi mengusut kasus-kasus yang terjadi dimasa orde baru dan menyeret kroni2 bahkan keluarga pak harto sendiri yang terlibat diseret ke pengadilan untuk diadili karena toh bukan soeharto sendiri yang bertanggung jawab atas kejadian2 dan keterpurukan bangsa kita pada saat beliau berkuasa.

    Terima Kasih

  11. Robert Manurung Says:

    @gurlinterrupted

    Memang sungguh ironis, menggemaskan dan menyedihkan. Betapa bangsa besar ini terus-menerus mempermain-mainkan harkat, martabat dan sejarahnya sendiri.

    Itulah yang sedang kita saksikan sekarang. Bagaimana cepatnya bangsa ini berayun seperti pendulum, menyangkal pengalaman sejarah yang dijalaninya sendiri dan membangun harmoni semu dari kehampaan.

    Memang, untuk bisa menghargai harkat, martabat dan sejarah sendiri sebagai sebuah bangsa, dibutuhkan kualitas kecerdasan, integritas dan harga diri yang memadai. Dan itulah yang kita tidak punya.

    Permata-mata itu sudah lama kita campakkan, karena yang berlaku di negara ini adalah perhiasan imitasi. Indonesia adalah gabungan dari KOMPROMI dan SEOLAH-OLAH. Kalau dengan satu kata : HIPOKRISI.

    Salam kenal gurlinterrupted. Terimakasih sudah berkunjung dan memberikan komentar yang tidak sekadar latah. Tetaplah semangat.

    Merdeka

  12. Robert Manurung Says:

    @ progoharbowo
    @ mangoeni

    Pidato belasungkawa itu benar-benar tricky dan “tidak punya jenis kelamin”. Ada banyak kontradiksi disitu, juga moral hazards dan penggunaan simbol-simbol kebangsaan dan kenegaraan secara tidak formal dan sepatutnya.

    Di satu sisi seolah-olah menghormati Soeharto sebagai pahlawan bangsa, namun sebaliknya penghormatan itu justru diturunkan bobot dan derajatnya dengan tidak adanya keputusan resmi yang jelas dan tegas. Kemudian lebih aneh lagi, Presiden SBY malah tampil sebagai Inspektur Upacara dalam acara pemakaman di Astana Giribangun. Ingat, jabatan presiden itu simbol kenegaraan yang sangat tinggi.

    Apa susahnya sih bagi pemerintah dan lembaga-lembaga tinggi negara untuk membuat satu keputusan resmi yang tegas mengenai status almarhum Soeharto ? Kalau memang cukup alasannya, ya sudah, buatlah keputusan resmi yang jelas dan tegas menyatakan Soeharto sebagai pahlawan bangsa.

    Kalau tidak berani berbuat begitu, ya sudah, pidato belasungkawa itu cukuplah atas nama pemerintahan SBY-JK dan pribadi mereka. Jangan mengatasnamakan Negara dan Rakyat.

    Ini kok malah pakai taktik mengimbau masyarakat untuk menghormati Soeharto sebagai salah satu putra terbaik bangsa ?

    Kasihan dong Soeharto dan keluarganya. Kasihan dong Rakyat yang “diperalat” untuk menghormati Soeharto sebagai putra terbaik bangsa. Dan kasihan dong itu simbol-simbol kebangsaan dan kenegaraan, kok digunakannya tidak secara formal dan sepatutnya.

    Tapi, hari gini, siapa yang perduli urusan tetek bengek begini?

  13. maruria Says:

    Pak Harto itu memang pernah menjadi tiran di negeri ini. Begitu banyak korban yang jatuh saat beliau berkuasa. Dan itu salah dimata hukum. Mungkin juga dosa dimata Tuhan. Wallahu ‘alam. Karena yang menentukan dosa atau tidaknya bukan manusia.
    Tetapi diluar itu, juga janganlah menutup mata atas jasa-jasa beliau. Nobody’s perfect.
    Tentang proses hukum selanjutnya mengenai kasus korupsi almarhum, akan lebih bijak bila kita serahkan saja semua pada yang berwenang. Atau mungkin kita serahkan saja pada Yang Kuasa. Karena hanya Ia yang Maha Adil.

    Tapi siapalah saya. Hanya blogger biasa yang ga punya pengaruh apa-apa dan tak juga punya kemampuan mempengaruhi siapa-siapa.

    Hehe..salam kenal..🙂

  14. Robert Manurung Says:

    @ maruria

    Aku setuju semua yang Mbak maruria katakan. Kalau pun ada yang perlu kutambahkan : Soeharto dikritik atau dipuji di ruang publik bukanlah sebagai pribadi, tapi sebagai individu yang mengemban mandat dari rakyat/masyarakat. Itu resiko yang sudah seharusnya.

    Hmm…sikapmu yang sangat merendah itu, membuat kepongahanku merasa tersindir. Aku memang memerlukan itu, supaya tidak kebablasan. Nobody’s perfect!

    Sudah kukunjungi blogmu, keren euy…jadilah B I N T A N G !

    Salam kenal juga kawan. Terima kasih.

  15. vizon Says:

    Adalah “wajar” bila seseorang meninggal dunia, kita menyebut segala
    kebaikannya, dan menyingkirkan buat “sementara” segala keburukannya.
    Saya setuju dengan sikap media di Indonesia dalam beberapa hari ini;
    melepas kepergian Pak Harto dengan limpahan pujian. Bukankah ini sebuah etika yang baik?

    Namun, itu bukan berarti membuat kita “melupakan” dosa-dosa
    politiknya kepada bangsa dan negara ini. Ada saatnya ini dibahas,
    tapi bukan pada hari-hari ini. Soeharto boleh meninggalkan dunia ini,
    tapi “urusannya” dengan rakyat Indonesia tidak akan ikut “meninggal
    dunia”… I’m sure…

  16. Anak Sultan Says:

    Pak Robert Manurung kayak punya bukti dan fakta mengenai kejahatan soeharto, kenapa ngga dikasihkan ke jaksa agung aja pak supaya tuntutannya jadi kuat. kalau ngga punya bukti takutnya jadi fitnah lo.

  17. hermin Says:

    soeharto sudah mati biarlah gak perlu di ungkit-ungkit lagi baik buruk semasa hidupnya. Kini soeharto menghadap sang pencipta yang maha adil, Alloh akan mengAZAB semua kebathilan-kebathilan yg telah diperbuat dan masih memperhitungkan amal baik nya.

  18. trilogy Says:

    Berkata Adil , Tegak kan Hukum dan Berbuat Adil. Jika Hanya Kasus Mantan Presiden Soeharto Yng di Buka rasanya Kurang Adil , Bagaimana dengan Dana Revolusi Pada Zaman Pemerintahan Soekarno Apakah Juga Harus Di selesaikan Sekarang.

    Tegakkan Hukum dan Keadilan di Negeri Ini

  19. v-klose Says:

    Pak harto memang membawa perubahan besar bagi bangsa indonesia, khusunya dalam sektor perekonomian dan pertanian
    bukannya saya mempermasalahkan rakyat yang masih membenci pak harto karena itu sah – sah saja karena mereka juga punya perasaan masing – masing, tapi satu hal yang sangat saya ingat sesuai dengan cerita ayah saya bahwa beliau ( Soeharto) tanggal 9 juli 1999, beliau mengatakan siap diadili dan tidak takut diadili, tapi nyatanya sampai saat sekarang nampaknya pemerintahlah yang belum takut ( seperti diungkapkan bapak Rinakit di kompas 29 januari 2008 ). Saya setuju dengan beliau karena menurut saya gerak – gerik pemerintah untuk menanganiu masalah Soeharto itu kurang gesik atau bahasa Jawanya cak cek. Tapi bagaimanapun juga tidak bisa kita pungkiri bahwa jasa – jasa pak harto sangatlah besar bagi bangsa ini terlepas dari kebijakannya yang menurut sebagian orang membawa kesengsaraan.

    Selamat jalan pak harto!!

  20. crazynuxer Says:

    Pentingnya melakukan kajian sejarah Soeharto untuk menilai beliau🙂
    kita lihat saja apa yang dilakukan beliau yang membekas di rakyat dan international
    1. perebutan kembali kota jogja pada tahun1949(kalau ga salah)
    bayangkan jika perebutan ini gagal atau tidak terlaksana maka bangsa Indoneisa akan dikatakn mati atau tidak berdaulat karena pada tahun tersebut belanda sudah mengatakan bahwa TNI sudah tidak ada lagi
    dengan berhasil merebut kota Jogja maka kita membuktikan kepada dunia juga Belanda kalau TNI masih ada
    2 Masalah Irian Barat Soeharto juga berperan dan masalah G30S (walaupun kebenarannya ga atu gimana ? )
    3. Kesejahteraan yang didapat zaman pemerintahan Soeharto
    swasembada pangan ,PIR (Perkebunan Inti Rakyat) dan Pembangunan
    lihat keadaan sekarang😀 dan sesudah lengsernya Soeharto😀
    lalu apakah dengan hal2 diatas masih belum cukup untuk menjadi pahlwan negri ini
    Kesalahan Soeharto memang korupsi,kolusi dan nepotisme
    lalu bagaimana dengan jasa2 yang diatas apakah itu ga penting ?
    status tersangka dan menjadi terdakwa di pengadilan tidak berarti bisa menghapus jasa beliau😀
    sekian dulu😀 CMIIW

  21. Robert Manurung Says:

    @ vizon

    I hope so bro…

    @ Anak Sultan

    Awak ini apalah kawan ? Penegak hukum bukan, pelanggar hukum juga bukan. Tapi sebenarnya bukti-bukti yang anda minta itu bukan perkara sulit. Masalahnya bukan itu, tapi adanya political will untuk menegakkan keadilan tanpa pandang bulu. Ingat nggak waktu Soeharto belum meninggal, bukti-bukti yang ada d kejaksaaan cukup, tapi nggak bisa diperkarakan karena dokter bilang Soeharto tidak sehat, tapi nyatanya bisa jalan-jalan ke Solo.

    Ngomong-ngomong, bisa nggak anda buktikan bahwa tuliusanku ini fitnah? Kalau bisa, kenapa nggak laporkan saja aku ke Kejaksaan? jadikan saja semua artikelku dan komentarku di blog ini sebagai barang bukti.

    @ hermin

    Yang dibahas di ruang publik ini adalah hal-hal yang berkaitan dengan tanggung jawab Soeharto sebagai pejabat publik, bukan tetek-bengek kehidupan pribadinya. Dan sejarah tidak ikut mati dan dikubur bersama pelakunya, iya kan?

    @ trilogy

    Boleh juga tuh kapan-kapan kita bahas soal Dana Revolusi. Kesanku selama ini, Dana Revolusi itu seperti fiksi yang menarik tapi terlalu gelap. Btw kalau punya bahan, kirim dong, ntar aku muat.

    @ v-klose

    Lebih besar mana jasa-jasanya dibanding dosa-dosa politknya? Terus terang, sampai saat ini aku masih merasa heran kok ada yang nekad menyebut Soeharto berjasa bagi Indonesia. Tolong sebutkan jasnya!

    @ crazynuxer

    Sekali lagi aku mau bertanya : Apa aja sih jasa Soeharto?

  22. trilogy Says:

    Dana Revolusi. Banyak sumber tentang dana Revolusi. sama seperti Dana Soeharto di Luar. dan untuk mengungkapnya ya jelas pertama kali pendekatan pemerintah kepada bank bank internasional seperti swiss. yg sangat menyimpan privasi dari pemilik rekening.

    Skg lagi cross cek ma temen2 di salah satu LSM di Negeri ini. ya mas doain aja bisa terungkap maka terjawab sudah inflasi yg lebih dari 500 pada tahun 65 dan inflasi tahun 97 yg ampe level 7.4 . biar tahu bangrut negera uangnya kemana aja. khan sayang uangnya tuh duit pajak dari nenek, bapak ampe kita-kita ini

  23. camarmerah Says:

    Apa dasar logika dan alasan rasionalnya, bahwa orang yang baru saja mampus kita sebut hanya yang baik-baiknya saja?

    Kalau seseorang itu telah membuat keluargamu kelaparan, membunuh sepertiga anggota keluargamu, memperkosa adik perempuanmu, dan memperbudak sisanya, apakah kau akan tetap mengatakan yang baik-baik tentang seseorang?

    Dan memang begini inilah contoh dari cara berpikir dan mentalitas bangsa ini. Hipokrit dan demam positivisme yang tidak logis dan tidak rasional. Itu dilakukan di hadapan seonggok mayat yang telah membantai jutaan jiwa rakyat bangsa, dan memperkacung, mempertolol, menipu, memenjarakan, menculik, meneror, menyengsarakan ratusan juta sisanya.

    Di hadapan seonggok mayat penjahat kemanusiaan!

    Edan.

    camarmerah

  24. camarmerah Says:

    Apa dasar logika dan alasan rasionalnya, bahwa orang yang baru saja mampus kita sebut hanya yang baik-baiknya saja?

    Kalau seseorang itu telah membuat keluargamu kelaparan, membunuh sepertiga anggota keluargamu, memperkosa adik perempuanmu, dan memperbudak sisanya, apakah kau akan tetap mengatakan yang baik-baik tentang seseorang?

    Dan memang begini inilah contoh dari cara berpikir dan mentalitas bangsa ini. Hipokrit dan demam positivisme yang tidak logis dan tidak rasional. Itu dilakukan di hadapan seonggok mayat yang telah membantai jutaan jiwa rakyat bangsa, dan memperkacung, mempertolol, menipu, memenjarakan, menculik, meneror, menyengsarakan ratusan juta sisanya.

    Di hadapan seonggok mayat penjahat kemanusiaan!

    camarmerah

  25. RioZzZ_ Says:

    Maaf Robert,.,.,

    Saya belajar dari sejarah dan banyak reaksi masyarakat yang menyebutkan bahwa pak harto adalah seorang yang sangat kuat dan semua ada di dalam kendalinya,.,bukan tanpa alasan orang menjadi presiden 32 tahun jika beliau tidak ingin membangun bangsa ini.,.,

    Memang jika pro dan kontra mengalir deras,.,.,bahkan sekarang orang bebas menghina presidennya sendiri (seperti anda).,.menurut saya kebebasan yang telah kita raih ini hanya omong kosong jika kita tidak imbangi dengan hati nurani ,.,

    Yah pak harto memang pemimpin yang dikenal kuat baik di negeri maupun luar negeri,,.,tetapi bukan hanya itu yang menjadi keistimewaan beliau,.,Beliau mempunyai kharisma yang kuat,.,

    Kalo dari kalangan kontra banyak bisa dimaklumi,.,.karena demi mempertahankan keutuhan negara beliau menumpas G30/spKi,.,.,bahkan keturunan yang terlibat di blacklist,.,susahnya menjadi pemimpin adalah mengambil keputusan dan berani mengambil resiko,.,.,dan beliau mengambil resiko dengan dihujat (dalih HAM).,.,

    Jika kita berbicara politik tidak akan ada habisnya,,.,.tetapi jika kita sebagai generasi yg baik mari berbuat yg terbaik,.,.,tidak perlu mengeruhkan suasana.,,.,,Pro dan kontra dalam setiap hidup selalu ada,.,.tetapi pemimpin yang berkharisma kuat dan Dengan Prihatin yang sangat tinggi Belum tentu muncul dalam beberapa dekade ini,.,.

    Harapan,.,Jika ada Pemimpin seperti beliau yang sangat memperhatikan negaranya, dan berkarakter kuat,..,saya bersedia Loyal seumur Hidup demi membangun bangsa ini,.,

    Setelah membaca blog ini saya ada kesan:
    1. Anda seorang pembicara politik yg hebat
    2. Maaf nobody’s perfect tapi kalo bisa hargai dengan sebutan “Pak” bagi mendiang yang bahkan telah berjuang keras membangun indonesia sampai sekarang,.,.,
    3. Jangan terlalu kelewatan,.ada masanya bahwa bisa ada lagi,.,

  26. IAn Says:

    @renowild

    mbah ku secara tidak langsung di bunuh suharto. padahal dia eks wali kota jogja. gara2nya pada tahun 84 dia membeberkan di salah satu media kalo serangan umum 1 maret bukan ide dari suharto melainkan dari Sultan HB9.
    beliau meninggal 29 Februari 1988 (1 hari sebelum peringatan 1 maret pada tahun itu). setelah kematian beliau ada orang yang kerumah dan mengambil semua dokumen2 yang kakek saya punya.

    jadi boleh khan saya menganggap pak harto penjahat…

  27. noerdiensjah Says:

    Harus saya akui, kalau saya ikuti tulisan Bang Manurung hanya melihat satu sisi dari Pak Harto, dan menutup diri dari jasa-jasa beliau. Bagaimanapun, Bangsa kita patut berterima kasih pada Pak Harto, atas kepemimpinannya yang lugas dan tegas menjadikan bangsa ini lebih disegani dan secara ekonomi mengalami kemajuan. Dunia Internasional saja menghargai Pak Harto, mengapa kita sebagai bangsa Indonesia menutup diri bahkan paranoid terhadap keberhasilan era Soeharto. Lihatlah petani-petani dan masyarakat pedesaan begitu menghormati beliau dan merasakan kepedihan yang mendalam atas kepergiannya, karena semasa menjabat Pak Harto benar-benar memperhatikan kemajuan di bidang pertanian.sangat wajar Presiden SBY berpidato demikian karena sebagian besar masyarakat Indonesia adalah masyarakat petani. SBY pun ingin menjaga perasaan sebagian besar para pemilihnya yang notabene sebagian besar masyarakat Indonesia. Namun demikian SBY pun tidak menutup mata terhadap kasus hukum soeharto, dan tetap dilanjutkan karena ini melibatkan kroni-kroni soeharto dan sudah semestinya jika memang uang negara yg telah diselewengkan oleh kroni soeharto (termasuk anak-anaknya) dikembalikan kepada pemerintah. Janganlah kita bersikap mendendam dan menebar fitnah, belum tentu soeharto bersalah. Kalaupun ternyata bersalah, mungkin hanya karena kesalahkan kolektif karena statusnya sebagai Presiden pada saat itu. Tak ada manusia yang sempurna. Jika kita tilik perjalanan soeharto, kita sangat pantas menganggapnya pahlawan, Beliau telah mengangkat senjata bersama jenderal Besar Soedirman menghadapi desingan peluru tentara Belanda, bahkan berhasil merebut kembali kota Jogjakarta dari tentara Belanda atas kepemimpinannya dimana menjadi pembuktian bahwa Bangsa Indonesia masih ada. Misalkan saat itu Pak Harto meninggal, sudah sangat pantas kita sebut Pahlawan. Perjalanan beliau sangat panjang dan membawa Indonesia menuju era terbaik-nya selama ini. Harus diakui, suka ataupun tak suka Pak harto telah menorehkan kesuksesan pada bidang ekonomi dan politik, meskipun akhirnya digerogoti oleh anak-anak serta kroni-kroninya. Janganlah kita menganggap orang lain bersalah sebelum dia dinyatakan bersalah. Belum tentu diri kita dapat bersikap seperti soeharto muda dulu, yang berani memanggul senjata menghadapi penjajah. saya rasa itu saja cukup untuk menyebutnya pahlawan bangsa.
    Melihat sesuatu apalagi melepasnya ke publik haruslah dengan pandangan yang berimbang. sudahlah, saatnya kita ini menatap ke depan, anggaplah RI baru saja lahir. Lupakan sakit hati dan dendam masa lampau, dan bersikap memaafkan kesalahan-kesalahan di masa lalu. baik itu kesalahan soekarno, soeharto, gusdur, megawati, dan kita jadikan pelajaran untuk masa sekarang. Biarkan hukum di Indonesia sebisa mungkin mengusut serta mengadilinya, karena itu sudah tugas mereka. janganlah kita perdebatkan apalagi menghujat orang lain dan mengorek2 masa lalu. Kita perdebatkan bagaimana pertanian maju kembali, perekonomian di atas fundamental yang kuat. Inilah saat yang tepat untuk melakukan Rekonsiliasi Nasional dengan melupakan kejadian-kejadian buruk di masa lampau. Marilah kita bersatu menciptakan kawan dalam membangun bangsa ini, rasanya hal itu lebih indah dan membawa energi positif yang lebih baik.

  28. nopid Says:

    😦

  29. noerdiensjah Says:

    @renowild
    @camarmerah

    Itulah beratnya tanggung jawab sebagai pemimpin. Cicak mati-pun tak lepas dari pertanggungjawabannya kelak di akhirat. makanya, sebagai pemimpin Muslim para khalifah terdahulu merasakan duka dan kesedihan tatkala diamanahi sebagai pemimpin, mereka beristighfar pada Allah, merasa mendapat beban yang terlampau berat.
    Saya pun memiliki kerabat jauh, boleh dibilang kakak dari nenek saya, seorang pemimpin massa di daerah jawa, ketua perserikatan buruh di daerahnya, pejabat pada zaman soekarno. Seperti kita ketahui pada waktu itu PKI sangat menguasai pemerintahan (mirip Golkar pada Zaman Orba). Setelah peristiwa G30/SPKI kakek saya itu diuber-uber sampai lari ke pedalaman Kalimantan untuk menyelamatkan diri. Ketika balik ke Jawa dia ditangkap dan dipenjara di pulau buru sebagai Tapol sampai meninggal di sana. Banyak saudara-saudara kakek saya yang ditangkapi dan dipenjarakan pula disana. Tapi mereka tak menyalahkan pemerintah waktu itu, mereka menyesali kejadian pembantaian para Jendral yang terkenal itu. Dan kebiadaban para simpatisan komunis yang membunuhi para kyai dan ulama di kampung-kampung serta para warga yang tidak berdosa. Kakek saya pun korban akibat kejadian politik waktu itu. Akan tetapi mereka tidak mendendam meskipun anak-anak mereka tak bisa menjadi PNS, serba sulit dan serba terbatas. Mendapatkan pekerjaan pun sulit.
    Kini saatnya bukan untuk mendendam, apalagi memperkeruh suasana dengan mengungkit-ungkit kembali kejadian kelam masa lalu. Toh, mereka yang terlibat sejarah waktu itu sebagian besar sudah meninggal semua, hanya akan membuat luka dan dendam membara jika kita umbar dan perdebatkan.
    Marilah kita semua, anak-anak bangsa besar ini bersatu, membangun serta memelihara kebersamaan sebagai sahabat, memikirkan bagaimana seharusnya kita mengisi pembangunan dengan baik. Lupakan masa lalu, suka atupun tak suka. Jangan sampai orang tua kita ribut, kita sebagai anak-anak mereka ikut-ikutan ribut.
    Tak akan selesai membahas masa lalu. Saatnya kita melakukan rekonsiliasi nasional. Bukankah, mereka, putra-putri dari para pemeran sejarah masa lalu telah sepakat melupakan masa kelam itu? anak-anak Bung Karno, Bung Hatta, Aidit, GusDur, Soeharto telah bersatu dan menjalin persahabatan baru untuk menyongsong masa depan Bangsa ini yang lebih baik, karena saat inilah masa depan bangsa ditentukan.
    Lebih baik kita saling bergandengan tangan memulai kehidupan berbangsa dan bernegara yang baik dengan mengambil hikmah dari kejadian di masa lalu.🙂
    BTW, Thanks Pak Manurung atas kesediaannya memuat komentar ini, saya pribadi sangat kagum dengan gaya tulisan Anda yang sangat lugas dan tegas. Oh ya, saya rasa Anda pun orang yang sangat bersahabat, terlihat dari tanggapan Pak Robert Manurung terhadap komentar-komentar yang masuk.
    Salam Persahabatan. M A R D E K A !!!

  30. noerdiensjah Says:

    @camarmerah
    Oh iya mohon maaf, anda hanya melihat dari sisi anda, sebagai korban salah satu pihak. Baiklah, saya pun memiliki keluarga yang merupakan bagian kelam dari masa lalu. Kebetulan dari pihak bapak, merupakan aktivis dan pejabat di masa orla, berada pada pihak yang berkuasa saat itu. setelah peristiwa G30/SPKI ditangkapi dan dipenjara di pulau buru. Sedangkan dari pihak ibu berada di pihak tentara republik setelah peristiwa G30/SPKI. seperti kita ketahui pada saat itu pemerintahan bung karno sangat ‘dikuasai’ partai komunis. entahlah kerunyaman sejarah perpolitikan waktu itu saya tak ingin bercerita lebih jauh, karena memang tak tahu pasti. kita bercerita pada akar bawah, yaitu kenyataan yang terjadi di masyarakat. Pada waktu itu uwak ibu saya (kakak dari kakek saya) seorang tentara republik (TNI yang loyal terhadap AD) ditangkap beserta teman-temannya dan disekap oleh tentara komunis. di depan mata kepalanya sendiri dia menyaksikan kawan-kawannya digorok dan dipenggal kepalanya oleh tentara komunis tersebut tanpa rasa kemanusiaan sama sekali kemudian kepala mereka dikubur dalam satu lubang. uwak ibu waktu itu menunggu giliran dipenggal, namun akhirnya beliau dapat melarikan diri. Tapi hingga wafatnya beliau stress dan setengah gila, yang ada di kepalanya adalah cuma ingin ‘membunuhi tentara komunis sebanyak mungkin’..hingga beliau benar-benar menjadi gila. Inilah sebenarnya titik permasalahannya, para korban setelah peristiwa kelam G30/SPKI merasa pemerintah Orde Baru pimpinan Presiden Soeharto tak adil dan bertindak jahat atau biadab, sementara para tentara republik waktu itu didukung oleh sebagian besar masyarakat pun merasa dendam atas perbuatan para simpatisan komunis (PKI) terhadap rekan-rekan serta saudara-saudara mereka yang tak terhitung juga jumlahnya telah dibunuhi oleh tentara komunis pimpinan Aidit, baik sebelum maupun setelah peristiwa G30/SPKI. Perlu diketahui juga, sebelum G30/SPKI kejahatan tentara komunis telah sangat meresahkan warga, terutama para pemuka agama waktu itu. Siapapun pemimpin RI waktu itu akan sulit mengendalikan amarah massa terhadap para simpatisan komunis. Itulah kenyataannya. Inilah yang sekarang para korban waktu itu tuntut dari mantan presiden soeharto, yang merupakan diluar kendali beliau.
    Bagaimana jika para korban komunis waktu itu pun menuntut hal serupa terhadap Pemimpin yang bertanggung jawab terhadap perbuatan komunis tersebut? Sebenarnya semua tindakan itu merupakan aksi massa yang merasa marah terhadap komunis yang telah membantai sebagian warga masyarakat serta tokoh-tokoh agama pada saat itu. Bayangkan pula, mereka (komunis) membantai saat sedang beribadah, mengotori masjid-masjid dengan darah, bahkan dikencingi, menangkapi para ulama, dan itu kenyataan yang tak bisa dipungkiri. Dan bisa dipastikan jika anda menghujat soeharto atas tuduhan membantai warga dan merasa menjadi korban waktu itu, berarti anda (orang tua/kakek/uyut) merupakan bagian dari para pembantai masyarakat pada waktu itu, dimana partai komunis berkuasa. Dan jika para tokoh LSM ribut-ribut soal HAM tentang kejahatan Pak harto, siapakah yang menyuarakan tuntutan para korban komunis waktu itu?sebelum peristiwa G30/SPKI maupun sebelum itu?mereka yang dibantai para tentara komunis dan siapa yang bertanggung jawab atas pelanggaran HAM saat itu? Masyarakat pada masa pemerintahan soeharto tak menuntut macam-macam, seperti tuntutan HAM dan sebagainya terhadap tokoh yang bertanggung jawab pada masa itu, karena selain pemerintah mengucilkan siapapun yang terlibat pada pembantaian massa waktu itu (simpatisan komunis) juga mereka telah mendapatkan sanksi sosial dalam masyarakat. Sebagian besar masyarakat kita merasa cukup ‘menghukum’ para komunis dengan mengucilkannya. Tanpa menuntut macam-macam lagi.
    Jika kita terus menerus mempermasalahkan masa kelam itu, kita akan terus terjerumus dalam lingkar setan. Beruntunglah kita memiliki pemimpin seperti Bung Karno dan Pak Harto yang lebih mengedepankan kesejahteraan masyarakat banyak daripada terjadi pertumpahan darah. Para pemimpin kita bukanlah orang bodoh dan tidak berperikemanusiaan, tapi mereka tegas dan berani mengambil sikap. Bung Karno dengan perjuangannya memimpin bangsa meraih kemerdekaannya, mengangkat derajat Bangsa di dunia internasional, dan Pak Harto dengan kelugasan dan ketegasannya memimpin bangsa selama 32 tahun dengan prestasi-prestasinya yang membanggakan. Semua itu demi masyarakat dan bangsa atas dukungan masyarakat. Apapun keputusan mereka waktu itu, kita anggap yang terbaik. perkara benar atau salah hanya Allah yang mampu menilainya.
    Wassalam.

  31. jusuko Says:

    Hi, saya senang membaca tulisan-tulisan anda.
    Dan meskipun belum menjelajahi seluruh blog anda ini, saya sangat bersimpati dengan pandangan-pandangan yang lugas yang telah saya baca.

    Komentar saya mungkin tidak terlalu berharga, karena saya bukan politikus, bukan pula wartawan, juga bukan negarawan.
    Tapi, saya suka jika anda punya wawasan yang lebih luas, lebih kaya nuansa.
    Kalau anda menjadi lebih matang lagi, pastilah akan menyumbang lebih banyak untuk bangsa tercinta ini. Dan, itu sungguh saya harapkan.

    Kalau tidak ada keberatan, saya ingin copy n paste tulisan (sebagian saja dari keseluruhannya) yg saya pikir akan berguna bagi wawasan semua orang, seperti dibawah ini :

    Bangkok’s Independent Newspaper

    EDITORIAL
    The paradox of Suharto’s legacy
    Former Indonesian dictator will be remembered for massive corruption as well as boosting regional stability

    Published on January 30, 2008

    Former Indonesian president Suharto died on Sunday, aged 86. It was the end of an era in Southeast Asia, where Suharto stood as a symbol of authoritarian power. He was and remained a unifying force for his country and Southeast Asia as a whole. Former Singapore prime minister Lee Kuan Yew and former Malaysian prime minister Mahathir Mohamad were at his hospital bedside before he died. These leaders went through turmoil four decades ago but were able to work together and build a stronger regional community in the form of the Association of Southeast Asian Nations.

    Suharto’s fate was eventually determined by political circumstances. He was purged by a people’s power uprising in a dramatic turnaround of events in 1998. As he was grew old, entering the fourth decade of power, he began to lose touch with the harsh realities of modern Indonesian society.

    Both Lee and Mahathir relinquished control in their respective countries, but the transition of power was smooth, and both former leaders remained forces to be reckoned with. Suharto, who ruled the Indonesian archipelago with an iron fist, could have left a great legacy. But he was foolish enough to allow his family members, especially his wife and children, to take advantage of his power and connections.

    The outcome was obvious: unparalleled corruption, nepotism and cronyism were all part and parcel of the regime he headed. Under Suharto, huge construction projects and government concessions were not possible without the involvement of his family members or cronies. As a result, Indonesia has constantly been labelled one of the most corrupt countries in the world because of the bribery that went on as normal practice.

    ………………………………………………….

    MERDEKA !!!

  32. jusuko Says:

    Sorry, sepertinya link untuk tulisan diatas “dipenggal” oleh WP.

    Link untuk editorial diatas :
    www[dot]nationmultimedia[dot]com/2008/01/30/opinion/opinion_30063853[dot]php

  33. keket Says:

    klo Soeharto itu Pahlawan Bangsa kenapa harus dilengserkan?

  34. camarmerah Says:

    @noerdiensjah

    “tentara komunis” itu apa siih?!

    Peristiwa 30 September itu, kan tentang pembantaian tanpa pengadilan terhadap orang-orang yang dicurigai komunis? Ada logika yang bego luar biasa yang tersembunyi di sini: Bahwa satu, pembantaian itu dilakukan tanpa pengadilan. Kedua, bahwa pembantaian itu dilakukan atas nama ‘dugaan’. Dan ketiga ‘dugaan’ itu berisi bahwa ‘yang dibantai adalah komunis’.

    Lah memang kenapa kalau komunis?? Apa iya lantas mesti dibantai?

    Si komunis-komunis itu memang banyak mengacak-acak ulama-ulama dan lain-lain di pedesaan. Ya. Mereka menjarah.

    Tapi siapa yang dijarah? Apakah sekadar ‘ulama’? Atau mereka itu para tuan tanah??

    ***

    Selanjutnya, apa sih jasa Soeharto itu? Ya, memang perekonomian Indonesia maju. Ya, memang Indonesia “dipandang” secara politik baik lingkup nasional maupun internasional, juga teknologi, juga swasembada pangan, juga dan lain-lain.

    Tapi kan itu dibiayai oleh darah-darah saudara sendiri?! Oleh darah ribuan orang Papua, oleh darah ribuan orang Acheh, oleh darah ribuan orang Timor Leste, oleh darah ribuan rakyat Sumatera??

    Juga dibiayai oleh hutang-hutang yang hingga hari kematian setan satu itu ternyata masih belum juga lunas??

    Jadi di mana sudut pandang yang tetap menunjukkan bahwa Soeharto itu berjasa? Yah, bisa saja memang, dan cukup mudah, yaitu “BERJASA BUAT AKU”, atau buat kaumku, atau buat golonganku, minimal buat enyak-babeku. Dan peduli setan dengan jutaan nyawa yang lenyap sebagai harga jasa-jasa itu.

    Betapa agungnya jiwa dan kepribadianmu itu! Sungguh seperti Bapak kita bersama Haji Muhammad Soeharto.

    ***

    Terakhir, kalau kau pikir aku ini salah satu korban atau keturunan dari “jasa-jasa” Soeharto dulu itu; TIDAK, aku atau leluhurku sama sekali bukan korban kebiadaban Soeharto. Justru keluarga kakekku korban landreform di daratan Cina sana. Ya, berbeda denganku, kakekku setengah mati anti komunis.

    camarmerah

  35. Malaikat Maut Says:

    @camarmerah
    Ga usah ikutan dong, anda hanya memperkeruh suasana dengan komentar-komentar anda yang sangat penuh emosional dan dendam,terkesan mengompori, sementara anda membanggakan diri berasal dari daratan cina sana.

    Jangan mengadu-domba Bangsa Indonesia !!!

  36. Baharudin Says:

    Untuk camar merah, pikirin deh masalah leluhur kamu sendiri. Tragedi tiannament, kejahatan mao zedong, etc. ngapain kamu ngurusin kejadian di Indonesia. Urusin dulu masalah kakekmu yang jadi korban landreform itu..gak usah menjelek-jelekkan orang. piss…deh, cong!!!

    Ngeri aku, sekarang indonesia udah kayak negeri-nya orang Cina saja..

  37. Robert Manurung Says:

    @ Malaikat Maut
    @ Baharudin

    Aku menghormati hak Anda berdua untuk bersuara dan didengarkan. Itu sudah aku buktikan dengan memuat komentar Anda apa adanya.

    Namun aku juga punya hak dan sekaligus kewajiban untuk mengingatkan kita semua, terutama pembaca blog ini yang memberikan komentar : mari adu argumentasi dan berdebat secara santun dan beradab!

    Silakan menyerang dan menghantam opini orang lain. Silakan menunjukkan secara lugas kelemahan argumentasi atau kerancuan cara berpikir orang lain. Tapi janganlah menyerang pribadi, latar belakang dan martabat siapapun. Dan jangan RASIS.

    Aku sangat menyesalkan kenapa Anda berdua (?) sampai menyerang kecinaan pemberi komentar dengan nickname camar merah. Kalian bilang camar merah jangan ikut campur; bahkan Malaikat Maut mengatakan pada camar merah : Jangan mengadu domba Bangsa Indonesia. Alamakkk…

    Apa salahnya lahir sebagai keturunan Cina?
    Jika camar merah sudah WNI, apakah ikut campur namanya kalau dia menggunakan haknya yang dijamin oleh UUD 45 , yaitu kebebasan berekspresi dan mempublikasikan aspirasinya sebagai anak bangsa ? Bahkan seandainya pun dia orang asing, boleh-boleh saja dia mengemukakan opini mengenai para pemimpin Indonesia, seperti kita bebas beropini mengenai presiden Amerika, mengenai Hitler, Polpot dll. Kan sudah globalisasi bos ?

    Jangan ah, jangan diskriminatif dan RASIS. Itu norak banget, kuno dan termasuk violance by language.

    Mari kita bebaskan diri kita dari virus dikriminasi dan sikap rasis, supaya kita berhak merasa berbeda dengan Hitler.

    Terima kasih.

    M E R D E K A !

  38. camarmerah Says:

    Terimakasih Robert.

    Aneh memang.

    Kalau aku hanya bisa dagang, dikatakan aku ini Cina bangsat yang cuma tau cari duit.

    Kalau aku buka suara, dikatakan jangan ikut campur.

    Kalau aku lembek, dikatakan tipikal Cina oportunis.

    Kalau aku keras, dikatakan sok tau dan lainnya.

    Jadi memang benar kata anda bung, sepertinya yang menjadi masalah bukanlah “apa yang ditulis”, melainkan “KENAPA DITULIS?!”

    Dan sekarang ada tambahan baru: “siapa yang menulis.”

    DAN TETAP kukatakan, bangsa ini, bangsaku sendiri, masih bodoh dan goblok. Dan sangat perlu menyadari kegoblokannya itu sebelum dapat beranjak ke manapun juga.

    camarmerah

  39. camarmerah Says:

    Maaf, ada tambahan.

    @Malaikat Maut
    Tolong sebutkan, dan tolong dikutip dengan sangat jelas, bagian mana dari tulisanku yang berkesan “membanggakan diri berasal dari daratan cina sana”.

    @Baharudin
    Tolong jelaskan, dan tolong buat dengan bukti yang nyata, tentang pernyataan “indonesia udah kayak negeri-nya orang Cina saja”.

    Terimakasih.

    camarmerah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: