Memalukan, Pemindahan Jenazah Soeharto Kacau Balau

KACAU balau dan sangat bising. Itulah gambaran keadaan di RSPP yang terlihat di layar televisi, ketika jenazah Soeharto hendak dipindahkan ke rumah duka di Cendana. Orang-orang saling berdesakan dan terdengar teriakan-teriakan, campur-baur dengan bentakan-bentakan. Terlihat pula puluhan aparat bersikap siaga, dengan senjata laras panjang dalam keadaan terkokang.

Walaupun hanya melihat gambar yang ditayangkan televisi, namun para pemirsa di seantero Indonesia, dan mungkin pula di seluruh dunia, pasti bisa merasakan tingginya ketegangan pada jam-jam pertama setelah kematian mantan diktator itu. Keadaan di RSPP benar-benar semrawut, mirip situasi di stadion sepakbola. Pokoknya overheating!

Ketegangan terasa makin meningkat karena hampir semua stasiun televisi memberitahu pemirsa, bahwa akses wartawan untuk meliput momen-momen tersebut sangat dibatasi. Cara penyiar mengatakannya menimbulkan impresi yang kuat bahwa pihak pers diperlakukan tidak proporsional. Di sisi lain, keadaan secara umum terkesan tidak terorganisir. Tidak ada ketertiban dan sikap hikmad yang semestinya dalam situasi semacam itu.

Terlepas dari bagaimana penilaian dan sikap kita masing-masing terhadap Soeharto, seharusnya prosesi yang berjalan sejak kematiannya– hingga jenazahnya dimakamkan nanti, dapat berjalan secara patut. Dengan kata lain, janganlah kita pamerkan pada dunia ketidakbecusan bangsa ini dalam mengorganisir secara rapi, elegan dan patut. Jangan pula perlihatkan sikap kampungan itu–yang senang ngumpul-ngumpul dan merubung suatu kejadian, tanpa ada urusan yang jelas disitu.

Seharusnya pihak-pihak yang berwenang sudah bisa mengantisipasi keadaan pasca kematian Soeharto, sampai ke detil-detil paling subtil. Waktu untuk mempersiapkan itu sangat banyak, sebab dalam tiga pekan terakhir, bisa dikatakan, Soeharto sudah mati secara klinis.

Sayang sekali kesempatan itu tidak dimanfaatkan. Makanya, ketika akhir hayat mantan penguasa itu tiba, semua orang kelabakan, bingung dan saling tunggu. Tidak tahu apa yang harus dilakukan dan tidak ada koordinasi. Dan banyak orang yang overacting.

Apa boleh buat, suka atau tidak suka kita harus mengakui, bangsa kita memang sangat lemah dalam perkara mengantisipasi kejadian dan mengorganisir keadaan. Kita malas membuat perencanaan yang matang dan menyiapkan orang-orang untuk melaksanakannya. Mudah-mudahan saja, keadaan kacau balau pada menit-menit pertama sejak kematian Soeharto itu, tidak membuat bangsa Indonesia ditertawakan oleh masyarakat dunia.

Bisa saja mereka nyeletuk : Lihatlah, ngurus orang mati aja Indonesia nggak becus, apalagi ngurus orang hidup….

Robert Manurung
http://www.ayomerdeka.wordpress.com

Iklan

Tag: , , , , , , , ,

30 Tanggapan to “Memalukan, Pemindahan Jenazah Soeharto Kacau Balau”

  1. progoharbowo Says:

    ya.. benar itulah potret bangsa ini…
    kadang saya juga hipertensi kalu melihat betapa tidak profesional orang-orang warisan orba ini
    mari bersama-sama kita bahu-membahu memperbaikinya

  2. lccptc Says:

    saat ini kita bisa berkomentar dikarenakan kita saat ini hanya sebagai penonton saya,sekarang bagaimana kita jadi pemain yang baik yaitu dimulai dari sikap kita menyingkapi segala sesuatunya

  3. Gyl Says:

    Iya… saya sempat mikir juga pak.

    “Duh… kok gini ya ? Itu wes wafat rek… buka jalan biar ndang di kubur kenapa ?”

    Hmm… masalah warisan orba atau tidak. Indonesia ini warisan orba lo pak 😀

    Saya dari dulu setuju kalo perbaikan massal untuk Indonesia yang lebih baik

  4. vizon Says:

    kacau balau bukan sekedar karena penanganan yang tidak profesional, tapi juga karena banyak orang yg ingin “nampang”… 😦

  5. fikriana Says:

    Aduh Pak Kayak baru beberapa bulan saja tinggal di Indonesia. emang pernah Indonesia pecus dalam melakukan suatu kegiatan, Itulah negara kita TERCINTA, semoga kita bisa merubah kebiasaan jelek yang sudah mendarah daging ini.

  6. ikka Says:

    ^_^

    perbaikan dimulai dulu dari diri sendiri aja dulu…biar qta tidak selamanya tertindas….

    ^_^

  7. kamal87 Says:

    tau tuh… menurut saya, berita kematiannya suharto terlalu di gemabr gemborkan

  8. Robert Manurung Says:

    @ fikriana

    Anda heran ya, kok aku masih heran aja ? Seumur-umur aku di Indonesia, tapi memang aku masih bisa heran dan takjub– seperti anak kecil–melihat terlalu banyak keajaiban di negeri tercinta ini. Ya, semoga kita bisa merubah kebiasaaan jelek itu.

    @ ikka

    Setuju banget. Justru selama ini bangsa Indonesia cuma jago kalau mengkotbahi dan menganjurkan orang lain, tapi diri sendiri tidak berbuat, termasuklah itu soal pemberantasan korupsi. Ketika orang korupsi dituding-tuding dan dihujat, tapi sambil dalam hati berharap : kapan ya aku dapat kesempatan…

    @ kamal87

    Selain digembar-gemborkan, juga disetel nadanya, sehingga “nyanyian pujian” di semua media massa tidak stereo, tapi MONO. Ini mah udah kuno banget cing…BASI.

  9. Anak Sultan Says:

    emmm..tipe komentar penonton sepak bola…kalau yang nulis disuruh ngurus bisa rapi ngga ya??

  10. hamdisy Says:

    wah, saya baru tahu nih bang Manurung … soal pengurusan ‘orang mati’ thx infonya.
    tapi benar sih di media ampir 100% MONO & Right pula … walau ada yg MONO left he he he … alahhh jadi lari kesini.

  11. sakilik03 Says:

    Atas meninggalnya mantan presiden Soeharto, memang secara sosial kita berkabung, akan tetapi mungkinkah mantan presiden dan kroninya ini menyerahkan dana hasil penyimpangan selama ini (jika benar ada)..? Agar keterpurukan negara ini bisa sembuh. Sepertinya akan sulit karena ada banyak petugas yg mengusut ternyata juga menggerogoti. Jika berhasil mungkin rupiah akan menguat, tidak seperti sekarang dengan RM saja perbandingannya sudah jauh….! Kesulitan ini terjadi karena memang mental dan rasa bela negara ini sangat kurang. Lebih baik bersakit dahulu baru hasilnya ke generasi cucu kita akan bisa menikmati….Salam…!

  12. trilogy Says:

    biasa aja tuh , Jika anda Yg Juga Orang Terkenal dan Kemudian Di Panggil yng di atas pasti keadaan juga gtu. pa lagi yg meninggal mantan presiden jadi pasti banyak yg mau lihat.

    Ya pada saat Pemakaman org terkenal seperti Taufik Savalas juga sama. Jadi Biasa aja tuh. gk ada yg Istimewa.

    Gk Stereo wajar aja semua merely dari TVRI. Masa Gitu aja ngak tahu Pak .

  13. ika Says:

    laen soekarno laen soeharto ya, kalo pak karno meninggalnya dalam kesepian dan hanya keluarga dekat yang tau lalu makamnya ga boleh dikunjungi sejak taun 1971 sampe 1979,,waguuu pemerintahan soeharto memang penuh rekayasa dan sok militer,,

    sudah gitu soekarno minta dimakamin di kota batu eh kok malah di blitar, itu soeharto apa budek apa gimana to masa gak tau kalo pak karno maunya dimakamin di kota batu,,

    (maap emosi –> sukarnois.com)

  14. rea Says:

    saya tidak setuju kalau dibilang biasa saja bahwa kekacauan terjadi saat orang terkenal meninggal.., buktinya waktu Pope meninggal.., orang seluruh negara dari seluruh dunia pada layat, bisa diatur dengan baik kan.., solemn.., syahdu.., mengharukan.., sampai bisa membuat lagu Litani Para Kudus jadi terkenal dan ngetop, padahal tu lagu udah dari tahun kapan jaman kiprik juga udah ada.
    Intinya.., bisa kok diatur dengan baik. Diana.., Mother Teresa.., yang notabene peserta layatnya lebih banyak kan juga bisa gitu..
    Jadi sebenarnya Indonesia juga bisa, asal bisa ngaturnya.., atau.., memang bisa ngaturnya, tapi orang Indonesia yang ga bisa diatur?? Ga mau dong.. berpendapat seperti ini, jadi ya cuma satu jawabannya: Harusnya kita bisa ngatur dengan lebih baik.
    Karena sebenarnya kita kemarin juga pengen ikut layat.., ya.., regardless of everything, orang meninggal, layat itu baik, dan juga pengen liat2 juga sebenarnya.., bgmn jadi bagian dari ‘sejarah’ (bukan nampang). Tapi melihat kacau begitu.., ga jadi deh..
    tapi memang.., kalau mengingat pak karno.., ga adil banget yah..

  15. Robert Manurung Says:

    @ Anak Sultan

    Wah terima kasih atas sanjungannya. Aku selalu mengagumi komentator sepakbola di BBC atau Sky B, karena mereka sangat menguasai persoalan taktis dan historis, serta obyektif. Ah, rasanya aku nggak layak disamakan dengan mereka…

    Jujur saja kawan, aku malas menanggapi jenis komentar seperti komentarmu ini. Soalnya yang dikomentari bukan apa yang tertulis dalam artikel, tapi langsung menodong penulisnya dengan tuntutan yang tidak proporsional. Kalau anda terkait dengan kekacau-balauan di RSPP itu, komentarmu ini tergolong defensive mechanism.

    Kau tanya : kalau yang nulis disuruh ngurus bisa rapi nggak? Aku jawab, anda terlalu jauh berkalau-kalau, sedangkan yang faktual tidak anda bahas sama sekali. Tapi supaya pertanyaan anda terlayani , baiklah aku jawab : BISA. Silakan mengundang aku kalau ada yang harus dirapikan, I’ll do my best.

  16. Robert Manurung Says:

    @ hamdisy

    Begitulah. Tapi kita harus tetap semangat, tetap kritis & tetap CINTA INDONESIA

    @ sakilik 03

    bacalah komentar fikriana di atas. Merdeka!

    @ trilogy

    Silakan lihat komentar rea di atas, aku sependapat deengan dia.

    Oh ya, masih ingat nggak acara pemakaman Lady Diana ? Itu disebut upacara pemakaman abad ini. Jutaan orang dilanda histeria akibat terkejut dan merasa kehilangan, tapi toh nggak menjadi kacau-balau seperti di RSPP itu. Kenapa mereka bisa, kenapa kita nggak?

    @ ika

    sedih memang akhir hayat Bung Karno…nggak pantes banget seorang patriot bangsa dibegitukan.

    Merdeka!

    @ rea

    Trims untuk komentarmu. Itu sangat pas sebagai referensi buat kawan-kawan yang merasa keadaan kacau-balau di RSPP itu hal yang biasa. Kacau gitu kok dianggap biasa ya? HERANNNN….

  17. nesia Says:

    Lihatlah, ngurus orang mati aja Indonesia nggak becus, apalagi ngurus orang hidup….

    huehehehe, benar2 line penutup yg nuendang kali rasanya! Tapi memang benar itu, Lae, buktinya kuburan pun bisa digusur berkali-kali. Di Indonesia, sudah mati pun, belum tentu penderitaan yang disebabkan oleh pemerintah yang hau-hau akan berakhir…

  18. Robert Manurung Says:

    @ nesia

    Kalau Lae sudah bilang nuendang kali, tenanglah aku bah. Ngomong-ngomong Lae, musti kuakui “cabe di Medan lebih pedas daripada di Jakarta”, tapi yang inipun sudah dianggap terlalu pedas oleh rekan-rekan sejawat di dunia blog kita. Mauliate Lae, komentar-komentarmu membuatku sadar bahwa bumbu racikanku disini masih kurang hangat hehehe…

    H O R A S

  19. Hudriansyah Says:

    memang benar2 sibuk kikuk pemindahan jenazah soeharto padahal kita semua sama aja disisi tuhan…yaa engga

  20. trilogy Says:

    ya berbeda lady day. Inggris man. da merdeka da maju berabad abad sebelu m Indonesia. Jika kita bercermin kepada pola hidup di eropa dan kemodernan masyarakatnya kita jauh. Coba sama negara-negara di Asia saya rasa sama aja.

    Timur , Barat mempuyai perbedaan pola pikiran dalam masyarakatnya . Mudahkan . Gitu aja Kok Repot

  21. Robert Manurung Says:

    @ Hudriansyah

    Ya kawan, sekarang aku baru mengerti. Beberapa pemberi komentar yang ketus dan cenderung sinis ternyata bukan mempersoalkan apa yang aku tulis, atau bagaimana aku menulisnya. Keberatan mereka adalah KENAPA DITULIS.

    Mungkin saja mereka itu pegawai RSPP, polisi, staf di Istana Negara atau sanak saudaranya yang bekerja disitu. Menurut aku nggak usahlah terlalu kita pusingkan komentar-komentar mereka yang sudah melenceng dari topik.

    Fokus kita : Indonesia harus bisa mengorganisir peristiwa besar semacam itu. Jangan norak dan kampungan lagi seperti di RSPP kemarin. Setuju kan?

  22. Robert Manurung Says:

    @ trilogy

    Anda bilang : gitu aja kok repot.
    Jawabku : suka-sukamulah kalau mau terus jadi bangsa yang fatalis, nerimo, norak dan kampungan.

    Sebenarnya justru andalah yang terlalu repot mencari macam-macam dalih, padahal cuma untuk mengatakan bahwa kekacauan seperti di RSPP itu adalah hal yang wajar, biasa, normal dan TERIMA SAJALAH.

  23. Anak Sultan Says:

    oo,,gitu ya..kalau begitu maaf deh, saya terlalu lancang ngasih komen kepada orang yang sempurna, sekali lagi maafkan (tulus)

  24. WIMPY Says:

    Dan sangat memaulukan ketika para abdi dalem turin ke bawah untuk meratakan pasir untuk menutup liang kubur, semestinya karena bahan untuk menutupi adalah pasir tidak perlu dilakukan perataan pada saat upacara kenegraan berlangsung, abdi dalem apa memang dididik goblok….

  25. noerdiensjah Says:

    Ya..harusnya lebih baik lagi keadaan penyambutan Jenazah Pak Harto, jangan memalukan, seharusnya bikin ring 1 sampai ring 3 dekat Jenazah Beliau hingga merapat ke ambulans sampai dibawa ke cendana. dan para pers/wartawan berjajar di sepanjang jalan mengabadikan momen tersebut, begitu kan seharusnya, Bang? Bahkan harus lebih dramatis lagi, pakai tabuh-tabuhan atau iringan musik misalnya sesaat Jenazah Sang Jendral dibawa keluar RSPP, kalau perlu ada apel persada dan sambuatan-sambutan lainnya. Bagaimana seharusnya menurut Bang Manurung kejadian RSPP sesaat Pak Harto meninggal? Biar nanti kalau ada mantan Presiden RI meninggal bisa lebih baik lagi. Jangan-jangan bangsa kita cuma pandai mencela bangsa sendiri saja? Kalau prosesi dari RSPP ke cendana khidmat dan penuh perhatian, nanti juga akan ada komentar : Berlebihan..terlalu digembar-gemborkan !!! Halahhh..emang kita pandai komentar. Thanks ya bang atas ruang dan waktunya..Ayo Merdeka!! Kita ambil warisan terbaik dari para pendahulu kita, baik dari Bung Karno maupun Pak Harto. Gusdur maupun Megawati, dan kini SBY, biar bagaimanapun mereka adalah Putra-Putri terbaik bangsa yang patut kita hargai. Jika itu baik kita ambil, yang buruk kita buang jauh-jauh..Demi kemajuan Bangsa Besar Ini. NKRI

  26. jusuko Says:

    Hi, salam kenal.
    Kalau diperkenankan, saya akan sedikit mengkomentari apa yg anda tulis dalam post ini.

    Dalam pandangan saya, apa yg anda gambarkan itu adalah suatu kejadian ,yg dilingkupi, dan sarat dgn emosi orang yg sangat bervariasi baik magnitudenya maupun attitudenya.
    Sungguh tiada mudah, setidaknya menurut saya, mengkoordinasi manusia dgn pelbagai keadaan emosi semacam itu. Barangkali akan lebih mudah mengatur keadaan bilamana yg hadir itu semuanya marah-marah, atau semuanya menangis saja.
    Bagaimanapun, saya setuju akan apa yg anda gambarkan. Dan, juga akan akhiran post anda yg bagi saya sedikit “menonjok”.

    Sebenarnya, yg perlu diurusi itu kan “the crowds”, jadi yg hidup, disamping memfasilitasi keperluan lajur yg cukup untuk evakuasi jenazah.
    Mestinya, secara gampangan, itu dapat di-analogikan dgn “layanan publik” + “manipulasi massa”.

    Namun, sungguh tidak mudah, seperti yg saya katakan diatas, menangani kumpulan manusia dgn variasi emosi spt yg saya tulis diatas, karena mengenali “kelompok”-nya perlu latihan yg lama dan intens, supaya jangan salah penanganan yg lain lagi.
    Ketika itu, pada saat yg bersamaan, harus difasilitasi keperluan jenazah itu sendiri, kerabat dan keluarga dari yg meninggal, handai taulan, petugas untuk berbagai keperluan, pemburu berita, “penggembira”, “passers by” dan last but not lease, para copet (yg bukan difasilitasi tapi dipelototi).

    Anda boleh percaya, pengaturan semacam yg anda maksudkan itu perlu latihan tersendiri.

    Jangan patah hati, ya. Maksud anda itu kan demi kemajuan kita semua.
    Yang punya perhatian akan jadi pemukanya, gitu ‘kan.
    Jadi keep on writing, dan jangan marah-marah dikasih komentar miring.

  27. Robert Manurung Says:

    @ Anak Sultan

    Anda bilang maaf, tapi sebenarnya hanya untuk ngenyek, walaupun kuakui cara penyampaian anda sangat halus seolah-olah merendah. Sorry kawan, aku nggak mau ada semangat permusuhan dalam interaksi kita di dunia maya ini. Tapi aku juga nggak mau meng-copy paste sikap-sikap kurang baik yang ada di masyarakat kita, yaitu mengkritik atau bahkan memojokkan, tapi tidak memberikan argumentasi.

    Ya cara anda mengkritiklah yang aku kritik; dan sekarang aku makin yakin bahwa kritikku tepat sasaran. Kritik anda itu sifatnya membunuh budaya kritik yang masih perlu dibangun di masyarajkat kita. Karena tanpa kritik kita akan serba menerima apa adanya, itu akan membuat kita MANDEG. Bayangkanlah kalau tidak ada kritik atau ketidakpuasan terhadap TV hitam putih, maka TV berwarna tidak akan pernah ada.

    Aku sama sekali tidak sempurna kawan. Aku banyak kekurangan dan masih terus belajar, belajar dan belajar. Anda bisa lihat blog ini masih sangat sederhana, misalnya tanpa foto, karena aku masih bodoh soal seluk-beluk internet.

    Salam

  28. Robert Manurung Says:

    @ WIMPY

    Trims. Salam kenal

    @ noerdiansjah

    Yang paling elementerlah dulu : jangan kacau balau gitu! Judul tulisannya sendiri sudah menyarankan bagaimana seharusnya kan?

    Seharusnya bisa dong diatur itu orang-orang, supaya suasananya hikmad, solemn…kematian adalah sesuatu yang sangat kita hormati, siapapun yang meninggal dunia, tanpa terkecuali Soeharto.

    Soal bakal ada komentar lagi kalau suasananya suda tertib, hikmad dan solemn…ya ngapain dipikirin kalau orang berkomentar miring atau mengkritik hal yang baik?

    Aku nggak sependapat penilaian dan penghargaan terhadap tokoh publik hanya lantaran dia pernah menjadi presiden. Hitler dan Idi Amin juga pernah menjadi pemimpin nomor satu di Jerman dan Uganda, apakah mereka harus dihargai juga sebagai pemimpin bangsanya? Wah…

    Salam

    @ jusuko

    Masalah yang pokok : perencanaan dan pelaksanaan! Adakah dua unsur itu terlihat disana waktu itu? Padahal banyak waktu untuk menyiapkan itu. Sedangkan kematian mendadak seperti Lady Di saja bisa berlangsung “solemn”, termasuk jutaan warga biasa yang berdiri di sepanjang jalan. Kenapa kita nggak bisa ? Jawaban pertanyaan ini dan kesediaan untuk belajar serta kemauan untuk berubah, itu yang akan membuat kita bisa, kelak.

    btw terima kasih sudah mampir dan memberikan komentar.

  29. nawa Says:

    Bapak robert manurung pada zaman era reformasi ini berdemokrasi sangat diperbolehkan untuk kita memberikan kritikkan akan tetapi harus juga dilihat dulu dari sudut pandang yang obyektif.

    kali ini saya akan memberikan pendapat saya mengenai artikel anda yang ini. saya rasa kali ini saya harus bilang setuju untuk hampir sebagian dari artikel anda yaitu mengenai ketidak siapan para aparat dalam menangani pemindahan almarhum bapak soeharto dari rumah sakit pertamina ke cendana. dan saya rasa ini bagus untuk pembelajaran yang akan datang. sehingga apabila terjadi lagi seorang mantan kepala negara meninggal akan mendapatkan perlakuan yang lebih baik. dan kinerja para aparat menjadi lebih profesional.

    nah yang terakhir
    anda bilang begini : “Bisa saja mereka nyeletuk : Lihatlah, ngurus orang mati aja Indonesia nggak becus, apalagi ngurus orang hidup…”
    Saya rasa mungkin benar. tapi kaalo terlalu berpatokkan pada pendapat luar negeri tidak akan ada habisnya. lebih baik memperbaiki secara nyata dari pada mengurus pendapat luar negeri. kalo semuanya sudah stabil dan baik dengan sendirinya mereka akan DIAM.
    terimakasih

  30. Robert Manurung Says:

    @ nawa

    terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: