Jas Merah Bung Karno Untuk Soeharto

Salut buat anda semua orang Indonesia.Aku bangga pada kalian. Terutama mereka yang pernah disakiti oleh Soeharto, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kalian sudah menunjukkan kebesaran jiwa dan moral yang sangat tinggi, dengan tidak mengusik sedikit pun prosesi yang berjalan, sejak kematian diktator itu sampai pemakamannya. Kalau saja rohnya menyaksikan toleransi yang sangat indah itu, mungkin Soeharto akan menyesal pernah menyakiti kalian, biar pun memang sudah sangat terlambat.

Justru yang mengecewakan–dan bahkan menimbulkan rasa mual, adalah pencitraan yang sangat gencar dilakukan oleh media massa kita. Apalagi stasiun televisi swasta, dari jam ke jam, dari pagi sampai malam, kita dibanjiri, dibombardir dan didoktrin dengan pujian dan sanjungan yang teramat vulgar terhadap Soeharto. Mungkin bagi mereka yang menghormati jasa-jasa Soeharto pun, pencitraan bergaya propaganda itu akan terkesan terlalu bagus, terlalu banyak dan berlebihan.

Benar-benar keterlaluan, kita seperti dikepung oleh serbuan citra Soeharto. Dimana-mana Soeharto. Biar pun sudah pindah channel, dari SCTV ke RCTI, Trans, Anteve, Trans7, Indosiar, TPI,Global, O Channel, Metro TV, tetap saja yang nongol disana Soeharto. Sebenarnya banjir informasi ini tidak akan kita persoalkan, bahkan mungkin pemirsa bakal merasa beruntung kalau sajiannya tidak melulu puja-puji, dan kalau penyajiannya tidak seragam serta monoton.

Dari sudut pandang ilmu komunikasi, pencitraan yang berlebihan dan berbau propaganda seperti itu biasanya akan kontraproduktif. Sebab begitu masyarakat sadar sedang dijadikan sekadar obyek, penonton yang pasif atau kambing congek, maka akan timbul reaksi penolakan. Apalagi tokoh yang sedang direkayasa citranya adalah orang yang pernah sangat berkuasa, yang salah satu kebijakannya atau perkataannya pasti pernah menimbulkan kekecewaan, bahkan pada orang-orang yang menjadi pendukungnya sekali pun.

Lebih tidak sedap lagi karena dalam beberapa hari ini mulai santer terdengar isu bahwa sirkus media itu didanai oleh Cendana. Isu ini memang baru beredar di kalangan sangat terbatas di ibukota, yang memiliki akses dengan lingkungan politik tingkat tinggi di Jakarta. Menurut isu tersebut, pihak Cendana membayar puluhan milyar kepada masing-masing stasiun televisi swasta, dan sekian milyar kepada ratusan media cetak. Dan kabarnya hal tersebut sudah diatur sebelum Soeharto meninggal dunia. Konon dari semua media massa mainstream di negara ini hanya Kompas dan Tempo yang menolak sogokan tersebut.

Aku sendiri masih ragu akan kebenaran isu tersebut. Begitu pentingkah pencitraan dengan cara instan seperti itu bagi keluarga Soeharto? Apakah mereka tidak menyadari, demam memuji Soeharto yang sedang marak sekarang ini adalah keadaan sementara, dan kebanyakan bersifat basa-basi serta semu? Apakah mereka lupa, ada ratusan juta silent majority di negeri ini, yang menahan diri dan bungkam lantaran menjunjung tinggi ajaran moral : kalau orang sudah mati, jangan membicarakan kejelekannya.

Nah kalau yang ini yakin betul. Tunggu saja. Kita akan menyaksikan arus balik dari trend yang sangat deras di media massa kita sekarang ini. Media massa tidak mungkin melawan arus umum selamanya. Mungkin minggu depan, kita akan mendapat suguhan yang berbeda dari media massa kita. Dan ini akan menjadi kebalikan dari peristiwa ketika Bung Karno wafat, dimana hanya sedikit media massa yang berani menulis jasa-jasanya bagi bangsa ini. Namun secara perlahan dan pasti, bertahun-tahun kemudian, reputasi Bung Karno sebagai patriot bangsa terus dipulihkan dan menjadi abadi. Soeharto akan mengalami kebalikannya, percayalah.

Jangan melupakan sejarah (Jas Merah), kata Bung Karno, dan itulah yang akan dilakukan rakyat Indonesia terkait dengan Soeharto. Segala peristiwa penting selama 32 tahun Soeharto berkuasa, terutama pembantaian jutaan orang pasca Tragedi G 30 S, akan mulai dibongkar satu per satu. Apakah itu melanggar aturan moral tadi, yaitu jangan membicarakan kejelekan orang yang sudah mati ? Tidak. Itu tidak melanggar aturan moral manapun, karena yang akan dikorek dan dinilai adalah peran dan kebijakan-kebijakan Soeharto semasa berkuasa, bukan seluk-beluk kehidupan pribadinya.

Memang tidak mungkin lagi meminta pertanggung jawaban Soeharto, tapi tetap penting dan berguna menempatkan Soeharto pada kedudukan yang proporsional dan benar dalam sejarah bangsa ini. Banyak manfaat yang akan kita dapat jika sejarah sudah diluruskan, termasuk kepastian sejarah bagi keluarga para korban, dan pelajaran bagi generasi bangsa ini selanjutnya.

Jas Merah itu menjadi lebih penting dan mendesak untuk segera kita “pakai” sekarang juga, setelah semua yang kita saksikan di layar televisi dan media cetak, yang pada hakekatnya adalah pengingkaran, penyangkalan dan penggelapan kebenaran sejarah. Inti paling dalam dari penggelapan sejarah yang sedang berlangsung adalah membenarkan perampasan nyawa jutaan orang saudara-saudara kita selepas G 30 S.

Dengan kata lain, kalau kau sebut Soeharto pahlawan maka pada hakekatnya kau setuju dan kagum atas kekejamannya yang luar biasa itu. Coba dulu renungkan sejenak saudara-saudara: apakah anda memang memiliki jiwa yang tega dan kejam seperti Soeharto?

Tag: , , , , , , ,

28 Tanggapan to “Jas Merah Bung Karno Untuk Soeharto”

  1. nesia Says:

    Dari sudut pandang ilmu komunikasi, pencitraan yang berlebihan dan berbau propaganda seperti itu biasanya akan kontraproduktif. Sebab begitu masyarakat sadar sedang dijadikan sekadar obyek, penonton yang pasif atau kambing congek, maka akan timbul reaksi penolakan.

    itu kalau rakyatnya punya otak, lae… suharto sukses mereduksi kemampuan dan kapasitas otak bangsa ini, entah sampai berapa generasi lagi, sehingga tak bisa mengingat apalagi memikirkan derita yang diterimanya.

    mungkin agak terlalu berlebihan kalau disebut kita bangsa budak, tp memang banyak yang bangga dan bahagia jika sudah diperbudak.

  2. ika Says:

    negeri ini boleh disebut negeri halal bihalal, sukanya maaf2in doang tanpa memperhatikan apa yang sudah dibengkokkan dari masa lalu… ;p
    menurut saya yang stuju dia dapat gelar pahlawan ya bisa disebut sebagai Backstabber’s Slaves

    atau budak2na seorang Backstabber karena buat saya Soeharto itu backstabber, apalagi dengan caranya menelantarkan dan mengisolasi Bunk Karno semasa sakit sehingga tidak mendapat perawatan yang semestinya. Padahal surat perintah dari Bunk Karno lah yang sudah membuatnya berhasil jadi penguasa negeri ini. Soeharto memang seorang backstabber sejati.

  3. Adhirock Says:

    Sebuah postingan yang sangat bagus. Saya setuju, pemberitaan tentang Pak Harto dari masa pengobatan intensif hingga meninggal sangat sesak.. menyesaki channel2 TV nasional. Terutama Metro TV, yg sangat disayangkan.. rasa2nya berita2 tentang Pak Harto lebih menarik perhatian para pemasang iklan ketimbang jerit tangis korban bencana di Jawa Tengah dan Jawa Timur atau deru tangis Mbok Sarmijah krn beliau tak lagi mampu memproduksi tempe. Kalopun diberitakan ya mbok yg proporsional yg sewajarnya saja.

    Kembali ke masalah Soeharto, IMHO: saya kurang sependapat dengan Bang Robert. To be honest with you Bang.. saya sangat mengidolakan Pak Harto minus Korupsi. Pak Harto telah berjasa membangun negeri ini dalam segala bidang: terutama perekonomian. Alhasil para tetangga berdumun-dumun datang ke Indonesia untuk nyantri sama Pak Harto.. dan salah satu santri terbaiknya kemarin datang dengan isak tangis sesegukan: Mahatir Moehammad.

    Mengenai masalah PKI, ah cobalah bang Robert flashback ke tahun 60’an.. aku memang belum lahir bang tapi aku punya kakek, nenek, bapak dan ibuku yg bisa menceritakan detil kekejaman dan arogansi PKI pada waktu itu tanpa editing dr badan sensor nasional maupun tambahan cerita2 bohong ala sinetron. Setiap pagi dan sore mereka berbaris, berlari mengelilingi kampung.. merusak rumah yg tak mau ditempeli stiker palu arit, memukuli anak2 muda yg baru pulang dari masjid, memukuli anak muda yg tdk mengakui bahwa komunis adl ideologi palin benar. Pakde ku pernah ngungsi ke gunung bukan krn Tsunami bang.. tp krn jadi target pembunuhan kader PKI. Kenapa? krn Pakde saya orang muhammdiyah nyalon jadi lurah. Jadi ketika G 30 S PKI meletus kemudian tentara dan pemerintah menyatakan habisi PKI… rakyat melakukannya bukan krn intimidasi tentara tapi krn sukarela. kenapa? krn mereka merasakan betul kekejaman dan arogansi PKI. Jika waktu PKI tdk melakukan perbuatan2 keji.. mana mau rakyat suruh membunuh PKI.

    Saya tak akan bilang beruntung ada Pak Harto.. tapi saya akan bilang alhamdulillah PKI pada jaman itu telah diberedel.. jika tidak.. maka mimpi bung karno dan aidit untuk membentuk angkatan V – mirip pasukan SS nya Nazi.. bisa jadi kenyataan… dan sudah bisa dipastikan kita akan hidup seperti jaman Hitler, atau mungkin jaman Stalin? Only God Knows.. yg aku tau teori kekuasaan aidit adl: Kekuasaan lahir dari ujung bedil.

    Secara umum saya tdk membenci ideologi PKI dan secara sudut pandang wong cilik.. negeri ini butuh pemimpin sperti pak Harto minus korupsi… “leadership is not being nice, leadership is being right and strong..”

  4. ari Says:

    @ ika

    Ah, mbak Ika jangan sok tau dong. Dari mana tau kalo pak Karno ditelantarkan waktu sakit? Kalo Pak Karno tidak mendapatkan perawatan sebaik yang didapatkan Pak Harto sekarang ya kita lihat lagi deh masalahnya, th 1965 yang namanya dokter kan nggak sebanyak dan seahli sekarang, obat juga nggak segampang sekarang nyarinya, rumah sakit dan peralatan medis nggak secanggih sekarang, sikon sekarang dengan dulu kan beda banget. Ini bukan saya yang ngomong lho… saya tau dari tv, salah seorang saksi hidup yang dekat dengan beliau berdua yang bilang ( acara go-spot di RCTI, tgl 31 jan ). Lihatlah permasalahan dengan objektif dan proporsional, jangan cuma emosi aja. Mbak ika sendiri slave-nya suKARNO bukan…?

  5. Marudut p-1000 Says:

    @ ika

    Aku sangat setuju dengan anda. Kalau kita lihat fenomena kematian soeharto ini sepertinya rakyat negeri ini adalah orang yang saleh dan bertaqwa. Begitu banyak himbauan untuk memaafkan,melupakan dan mendoakan soeharto. Sementara disisi lain kebarbaran masih terus berlangsung seperti : pengrusakan rumah ibadah,korupsi,korban banjir yang tidak mendapatkan pertolongan,orang sakit yang tidak mampu membayar rumah sakit,anak-anak dibawah umur yang terpaksa harus bekerja untuk membantu ekonomi keluarganya.

    Manipulasi sejarah terus berlangsung di negara ini, kita tidak pernah diajari tentang kebenaran,tetapi akan sangat marah kalau dibilang tidak benar. Negara ini tidak akan pernah bisa berdiri kokoh karena dibangun di atas fondasi yang rapuh. Kebohongan adalah bak rayap yang menggerogoti kayu, dipermukaan terlihat bagus tetapi di dalam sudah kopong.

    Kalau memang soeharto sangat berjasa terhadap bangsa ini kenapa sekarang kita begitu terpuruk ke jurang yang sangat dalam. Mana fondasi yang telah dibangun oleh soeharto? Habibi yang merupakan anak emas soeharto sekarang kebanyakan tinggal di jerman. Dia bersama habibilah yang telah memporakporandakan struktur fondasi bangsa ini. Semua kekacauan ini ditinggal begitu saja dan dia bisa tetap hidup nyaman di jerman.

  6. mahma mahendra Says:

    wah baru tau klo media disogok buat ngatur ini semua… .

    dan denger2 lagi soeharto mo dijadiin phlawan nasional. tambah parah aja ni negara.

    mungkin memang saatnya potong generasi. sudah saatnya anak muda yang memegang tampuk kepemimpinan. yang tua2 tidur aja dah. banyak2 doa biar gak dihujat kayak pak harto… .

  7. mists Says:

    G30S 1965 adalah sejarah terkelam dari bangsa ini, saat jutaan orang diambil secara paksa dari tengah keluarganya, dibunuh dan disembelih dengan cara binatang dan jasadnya dibuang di gua,jurang,pantai,sungai dan hutan.
    Siapakah pemimpin pembantaian ini? pahlawankah dia?
    Terlalu banyak warga bangsa ini yang bebal dan bodoh tak punya otak! Sebagian lagi tangannya atau tangan orang tuanya ikut berlumuran darah korban 1965. Sebagian lagi rongga otaknya telah dijejali dengan uang akibat indoktrinasi sejak 1965!
    Media? Televisi? semua adalah bagian di atas, bebal, berlumuran darah atau berotak uang!
    Mungkin butuh beberapa generasi lagi agar bangsa ini tahu dan sadar apa yang sebenarnya terjadi dalam episode kelam 1965!

    Salam Buat yang tidak bebal! tidak berlumuran darah dan tidak menyembah uang!

  8. dobelden Says:

    heheh… tunggu sampe selesai tujuh hari lae… ephoria akan segera lenyap… dan berganti harga2 yg semakin membumbung😦

  9. perdanaeddy Says:

    menurut saya pak Hatta memang seorang pemimpin yang idealis dimasanya dan seharusnya para pemimpin sekarang harus melihat bagaimana cara pak Hatta memimpin rakyatnya kalau bukan karena pak Hatta mungkin negri ini tidak akan jadi seperti ini. memang politik pak Hatta Kejam tapi di balik itu semua ia menginginkan negara ini makmur di masa pemerintahan pak Hatta negara lain tidak berani menggangu negara kita di karenakan politiknya. Vivala Pak Harto

  10. ranywaisya Says:

    Akan saya renungkan…
    saya memang ingin sekali melihat dan mengetahui bagaimanakah jalan sejarah kita yg sebenarnya.

  11. hildalexander Says:

    Salah Bung seh, kenapa setel TV-nya TV lokal, coba kalo TV-nya TV Kabel berlangganan, gak bakal ada tuh upacara tabur bunga, mengenang Soeharto, wawancara khusus kroni-kroninya atau yang terkait dengannya.

    Saya nonton CNN yang disinggung justru tentang Soeharto Incorporationnya. Saya nonton AP justru foto-foto pembantaian PKI oleh (diduga) Soeharto. Saya nonton ABC yang ada justru pertanyaan tentang, bagaimana tanggung jawab keluarga Soeharto tentang kasus korupsi?, saya nonton Starworld yang ada justru Suharto, Indonesia’s Pol Pot (mengutip kuotasi Dewi Soekarno)…….

    Oom masih banyak kok media yang gak mau disogok, gak cuma Kompas or Tempo……

  12. Robert Manurung Says:

    @ Adhirock

    Aku respek padamu kawan, karena penuturanmu yang lugas dan apa adanya, serta sikapmu yang terbuka terhadap sudut pandang yang berbeda. Sedap betul rasanya, kata orang Medan.

    Yang beginilah yang kucari makanya aku ngeblog. Rasanya terbayar sudah seluruh pengorbanan mengelola blog ini, yang setiap hari aku update sedikitnya dua kali– dan makan waktu berjam-jam.

    Ceritamu yang bersumber dari tangan pertama, mengenai intimidasi dan agitasi PKI, sangat bermanfaat untuk menumbuhkan cara pandang yang lebih berimbang. Sangat kuhargai, karena kunilai tidak ada pretensi disitu. Sebelum ini aku lebih banyak mendapat keterangan mengenai hal itu dari buku-buku, antara lain Prahara Budaya karya Taufik Ismail dan Kumpulan Surat-surat Iwan Simatupang.

    Dari semua tulisanku di blog ini, kurasa cukup jelas buatmu mengenai stand point aku. Keprihatinanku mengenai pembantaian besar-besaran pasca Peristiwa G 30 S adalah dari dimensi kemanusiaan atau humanisme. Itulah pemihakanku, bukan ideologi atau sentimen terhadap tokoh maupun kelompok tertentu.

    Terima kasih kawan.

    Merdeka!

  13. Robert Manurung Says:

    @ mahma mahendra

    Mempahlawankan Soeharto sangat penting bagi orang-orang Orba, bukan demi kebenaran atau demi Soehato, tapi demi memberikan legitimasi bagi rezim yang pernah mereka dukung dan manfaatkan. Itu perlu untuk melindungi kepentigan-kepentingan dan eksistensi mereka.

    Salam

    @ mists

    Dalam situasi seperti sekarang ini, maunya Leo Kristi tampil lagi, menyanyikan balada rakyat yang berpeluh, yang lugu dan tertipu.

    @ dobelden

    Kita tunggu sama-sama, kawan. So pasti jo.

    @ perdanaeddy

    Kok bukan Viva Pak Hatta sih?

    @ranywaisya

    Kita renungkan bersama, kita semua…

  14. Robert Manurung Says:

    @ hildalexander

    Hehehe…iye deh gw saleh, abis nggak berlangganan TV kabel sih.

    Thx untuk infonya, hilda.

    Bukan hanya Kompas dan Tempo ? Wah, sorry buat yang lupa disebut. Malah aku senang kalau ternyata ada lebih banyak lagi media massa kita yang nggak mempan disogok. Bravo.

  15. nawa Says:

    pada dasarnya ini situs ama artikelnya emang saya nilai udah nggak obyektif dalam menilai sesuatu. karena semuanya udah nggak obyektif maka penilaiannya nggak falid.
    kita mulai aja:
    1. pada dasarnya zaman dulu ama zaman sekarang fasilitas udah beda. dulu media komunikasi paling hanya radio. kalo sekarang kan udah banyak. tentang nggak adanya fasilitas pada zaman pak karno itu dikarenakan zaman iyu emang masa yang sulit beda ama sekarang.
    2. terlalu mengidolakan tokoh yang lain dan melakukan perbandingan dengan bobot yang tidak proposional. (pada dasarnya manusia tak luput dari kesalahan) kalo pak harto dianggap kesalahannya korupsi maka pak soekarnopun banyak salah satunya pengangkatan presiden seumur hidup. ingat bagaimanapun mereka berdua adalah tokoh yang berjasa pada negara kita dan memimpin pada era masa zaman yang berbeda.
    3. paling penting nih

    negara yang maju adalah negara yang menghormati jasa para pahlawan dan pendahulunya. hormatilah pendahulu kita baru hormati yang sekarang karena pemimpin yangh sekarang pun nggak lebih baik dari yang dulu.

    banyak para politisi sekarang hanya pintar ngomong . pintar menjelek-jelekkan orang lain tetepi tidak bisa apa2 ketika menjabat. ada yang piknik jalan2 keliling dunia. ada yang ketika menjabat hanya diam saja kalo disuruh debat waktu pemilu malah nggak dateng (katanya diam itu emas ( padahal nggak bisa ngomong payah)).

    kalo bicara soal PKI jangan asal banyak bicara soalnya saya yakin kalian pada belum lahir pada zaman itu. Maka saya harap jangan sok tau. dan saya yakin lagi klo jaman sma paling nilai sejarah kalian pas-pasan

    ingat sebelum menuduh orang perlihatkanlah bukti yang valid. jangan ngomong doang (itu fitnah namanya). klo udah ada bukti baru oke.
    anda bicara soal propaganda. tapi anda sendiri juga memberikan propaganda dalam artikel ini. karena artikel ini tidak obyektif.

    akhir kata . PAYAH…..

  16. danalingga Says:

    Memaafkan soeharto saya melakukannya, karena saya berhak memaafkannya bukan?

    Nah kalo soal pencitraan dia, ndak ikut ikutan saya. Apalagi soal pengangkatan jadi pahlawan, toh pahlawan bukan dari gelar, tapi dari tindakan kepahlawanan itu sendiri.

  17. Robert Manurung Says:

    @ nawa

    Silakan menilai blog ini secara bebas. Cuma satu yang kuminta : mari adu argumentasi, mari berdebat tanpa harus menjadi kasar.

    Kau bilang blog ini dan penulisnya tidak obyektif, tidak falid (koreksi : valid) dan terakhir kau bilang blog ini PAYAH.

    Jawabku : Monggo kerso. Go ahead!

  18. Robert Manurung Says:

    @ danalingga

    setuju. kepahlawanan itu akan bicara sendiri melalui suara nurani rakyat. Tak perlu direkayasa.

    Merdeka!

  19. sammy Says:

    biasa aja men..

    jangankan di indonesia di amerika sendiri yg namanya perang informasi itu biasa, bagaimana canggihnya yahudi menguasai informasi di sana bs membuat citra yg sama sekali beda antara kenyataan dg apa yg dikehendaki zionis dr situlah mereka bs menguasai dunia

    maslah soharto : no commment, ALLAH lbh tau segalanya

  20. KAUMREFORMIS Says:

    Sekarang saya baru merasakan kebebasan yang sesungguhnya kalo jaman orba saya tidak bisa bebas MERAMPOK ,MEMBUNUH, MEMPERKOSA, MENGHASUT ,KORUPSI SEKARANG AKU B E B A S ………………………….

  21. sitijenang Says:

    @nawa
    kalo mau mengkritik kebenaran data pemilik blog, kenapa gak mengajukan bukti sanggahan? kalo perlu buat artikel tandingan dengan dukungan data yang menurut Anda valid. salam jumpa lagi bung Robert…:mrgreen:

  22. nawa Says:

    Kepada Robert Manurung
    maafkan saya atas komentar saya yang terdahulu mungkin saya terlalu terpengaruh dari beberapa komentar yang saya baca dari blog ini.

    mari kita bersama 2 memajukan negara indonesia menjadi lebih baik

  23. SALNGAM Says:

    Kita sebagai rakyat juga harus melakukan otokritik. Rakyat biasa, Mahasiswa, Wartawan, Intelektual dll. Dalam jargon demokrasi sekarang kalau toh itu kita mau pinjam baik Sukarno, Suharto, PKI, Orde baru orde Reformasi adalah rakyat. Dari rakyat untuk rakyat oleh rakyat.
    Bagi saya semua kejadian baik yang dianggap sejarah ataupun masa lalu adalah proses kita menjadi sebuah bangsa atau menjadi tidak sebuah bangsa. Siapakah kira-kira yang boleh menepuk dada bahwasanya pihaknyalah yang paling benar mengurus negeri ini?. Let me know!. Jawaban saya belum satu pihakpun!!!.
    Apakah Suharto yang membantai PKI?. Menurut saya rakyatlah yang membantai PKI termasuk Suharto.
    Problem kita sekarang dan tampaknya ini masih terus berlanjut adalah klaim masih adanya kelompok masyarakat yang merasa lebih berhak atas republik ini , dan masyarakat lainnya dianggap nompang alias bukan pemegang saham!!!!.

  24. Freddy Hernawan Says:

    Tulisannya bagus🙂 saya suka membacanya.

  25. Robert Manurung Says:

    @ sammy

    Betul kawan, semua jaringan media massa utama di barat adalah milik kaum Yahudi. Tidak ada yang salah dengan itu, karena setiap orang boleh bikin media.

    Aku harap Bung sammy cukup peka untuk membedakan, bahwa perang informasi dalam konteks ini dicoba dimenangkan dengan MENYUAP. Itu beda dengan membuat media atau memasang iklan. Ada dua aspek negatif disini, yaitu SUAP dan MANIPULASI informasi.

    Salam

    @ KAUMREFORMIS

    rasanya anda seperti melancarkan tembakan liar di pasar, bisa-bisa orang yang lugu jadi korban peluru nyasar. Salam.

    @ sitijenang

    Trims. salam jumpa lagi, Mas.

    @ nawa

    Dengan setulus hati aku terima permintaan maafmu kawan, sambil merasa kagum atas jiwa besar anda. Terimalah rasa hormatku atas kebesaran hati mu kawan. Salut!

    @ SALNGAM

    Anda sudah melakukan usaha yang bagus untuk otokritik. Tidak ada yang gampang dan semuanya perlu proses dan waktu.

    @ Freddy Hernawan

    terima kasih bung Hernawan. Aku pun sangat menikmati tulisan-tulisan anda di blog anda. Salam.

  26. ahyar Says:

    terima kasih atas perjuangan bung karno untuk memimpin kemerdekaan

  27. ORA USAH KAKEAN CANGKEM Says:

    Yang kita rasakan hanyalah kerusakan tatanan negara oleh para REFORMIS ,para REFORMIS hanya merusak , mana ada para reformis itu yang mampu membawa negara ini dalam kejayaan yang ada hanya kemunduran 30 tahun, jangan kau tulikan telingamu, jangan kau butakan matamu, bahwa kenyataannya bahwa Bpk SUHARTO lah yang benar2 membawa kesejahteraan dan kemakmuran,bahkan kejayaannya yang di akui oleh negara tetangga kita, sekarang kita di sepelekan oleh negara tetangga kita,bahkan kita di tantang untuk perangpun tidak berani, kita lihat di jaman Bpk SUHARTO, kita adalah negara besar di asia,bahkan Amerika pun segan terhadap bangsa kita tercinta,tapi apa yang terjadi sekarang negara kita sangat terpuruk persis pada jaman kepemimpinan SOEKARNO,bahwa negara kita hanya berani dengan rakyatnya sendiri, para wakil kita dan pejabat kita sekarang,raja nya korupsi,kita sudah benar2 hancur di mata dunia, Mana tanggung jawabmu hai para REFORMIS atau kau hanya mau merusak negara ini seperti KOMUNIS ! JANCOK

  28. Syahrul Hanafi Simanjuntak S.15 Says:

    Nah ini dia si Pak Cangkem yang “Kemane Aje Mas?, tidur ya?”
    Kondisi negeri ini sekarang adalah hasil dari 30 tahun Suharto memerintah, Pak Cangkem selama 30 tahun disejahterakan dan dimakmurkan oleh Suharto dengan dengan UTANG dan utang, jadi jangan kau tulikan telingamu, jangan kau butakan matamu (kecuali emang kau tak sekolah).
    Amerika BUKAN segan sama kita selama 30 tahun TETAPI ngapain dia urusin negara wong lagi “disejahterakan&dimakmurkan dengan utang”…cuma engkau aja yang ter-ilusi.
    Oya kamu berani berkata seperti ini karena setelah bukan Suharto aja yang jadi penguasa kan???
    Akh…ada2 aje lu ah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: