Membandingkan Soekarno dengan Soeharto

Aku tidak sepenuhnya sependapat dengan substansi tulisan ini, yang pada intinya memandang plus-minus Soekarno dan Soeharto relatif sama. Namun karena menghargai kejernihan berpikir penulis, kemampuan mengambil jarak dan adanya kemauan untuk menilai secara obyektif, maka kuputuskan memindahkan artikel ini dari kolom komentar ke halaman muka.

Tulisan ini adalah artikel (dengan judul asli “Soekarno dan Soeharto“) yang dikirim oleh noerdiensjah untuk memperkuat komentarnya pada artikel “Atas Nama Rakyat, SBY Memuji Soeharto Sebagai Putra Terbaik Bangsa” (RM)

Oleh Junarto Imam Prakoso**

Soekarno dan Soeharto, adalah dua pemimpin yang menggores catatan sejarah. Mungkin mereka memang harus hadir tatkala zaman membutuhkan. Soekarno memandu rakyat menuju kemerdekaan. Soeharto meletakkan dasar-dasar ekonomi modern.

Soekarno menjadikan Indonesia sebagai kekuatan regional yang dihormati, Soeharto menjadikan Indonesia negara yang dipandang secara ekonomi. Soekarno mengajak negara-negara terjajah menggalang kekuatan perlawanan. Soeharto meredakan ketegangan Asia Tenggara yang saling bertikai menjadi akur dalam ASEAN.

Ada keberhasilan, ada kegagalan. Ada perbedaan, tapi ada juga kemiripan sejarah. Karier politik Soekarno, umpamanya, berawal dari kegerahan dirinya menyaksikan imperialisme Hindia Belanda. Soekarno berjuang secara intelektual dan membangun pondasi bangsa. Dia semakin populer pada saat pemerintahan Jepang memanfaatkan kepiawaiannya berpidato sebagai propagandis yang mengampanyekan Asia Raya. Soekarno berjaya membangun konsep keindonesiaan yang pada era Hindia Belanda kedengaran absurd, dan berhasil mengejawantahkannya pada saat-saat terakhir pendudukan Jepang.

Adapun karier Soeharto berawal di militer. Soeharto bergabung dengan barisan laskar Peta (Pembela Tanah Air), terlibat dalam serangkaian operasi militer penting melawan agresi Belanda dan perebutan Irian Barat (sekarang Papua). Soeharto menceburkan diri ke dunia politik dengan bermodalkan pengetahuan militernya.

Soekarno kecewa dengan demokrasi liberal yang menguatkan ego partisan. Baginya, ego partisan adalah ancaman bagi revolusi. Lantas, ia bubarkan Dewan Konstituante dan menunjuk dirinya sebagai sang pemandu demokrasi yang bergotong royong, meskipun faktanya sistem yang ia ciptakan adalah sebuah kediktatoran. Dia, misalnya, meminggirkan faksi-faksi yang menentangnya, dan menempatkan orang-orang yang menyokongnya di parlemen.

Sebaliknya, pada saat kekuasaan Soekarno melemah, giliran Soeharto membersihkan parlemen dari para pendukung Soekarno. Soeharto juga melenyapkan unsur-unsur perbedaan yang berpotensi menimbulkan konflik dengan garis politiknya. Dengan begitu Soeharto berjaya mengekalkan dirinya sebagai penafsir tunggal demokrasi Pancasila secara legal. Tidak jarang perannya bak dewa, sedangkan perkataanya adalah sabda politik yang tegas dan keras. Perbedaan berarti pembangkangan.

Soekarno ketika membubarkan Dewan Konstituante pada tahun 1959 beranggapan “revolusi belum usai”. Kemudian Soekarno mengidentifikasi musuh-musuhnya sebagai kelompok kontrarevolusi, nekolim (neo kolonialis dan imperialis baru), antek asing, dan subversif. Adapun Indonesia adalah pemimpin negara-negara baru melawan para musuh itu.

Untuk menunjukkan supremasi Indonesia, Soekarno membangun persenjataan militer yang tangguh, memerangi Belanda di Irian Barat, dan melakukan konfrontasi dengan Malaysia. Soekarno juga memerintahkan pembangunan simpang susun Semanggi, stadion Senayan, TVRI, dan Monumen Nasional (Monas). Lantas diselenggarakanlah Pesta Olahraga Negara-negara Kekuatan Baru (Ganefo/Games for new emerging forces) sebagai tandingan Olimpiade. Semua dilakukan ketika ekonomi nasional morat-marit, sedangkan infrastruktur rusak berat.

Meskipun begitu, garis politik mercusuar ini berhasil memasukkan Irian Barat dalam peta nasional dan menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara kuat secara militer di Asia Timur. Sampai-sampai Federasi Malaysia dan Singapura– karena cemas –kemudian menjalin kerja sama pertahanan dengan Selandia Baru, Australia, dan Inggris (Five power defense agreement).

Sebaliknya, Soeharto yang cara berpikirnya strategis-realis melihat retorika Soekarno tidak membumi, tidak sesuai dengan kondisi nyata rakyat yang melarat. Soeharto memilih bekerja sama dengan kaum teknokrat yang berorientasi kapitalistis. Lantas ia meminta bantuan keuangan kepada negara-negara yang dalam pandangan Soekarno imperialis-kolonialis baru. Slogan baru pada era Soeharto adalah pembangunan lepas landas. Sedangkan musuh baru yang diciptakan Soeharto untuk mengidentifikasi elemen-elemen pembangkangan adalah organisasi tanpa bentuk (OTB), gerakan pengacau keamanan (GPK), subversi, mbalelo dan kiri baru. Dengan kendali media massa yang ketat, slogan-slogan ini berhasil meredam simpati massa terhadap gerakan-gerakan kritis, kedaerahan, atau sektarian.

Modal asing pun mengalir deras dengan nyaman pada era Soeharto. Meskipun eksploitatif dan memberikan keuntungan luar biasa kepada segelintir kroni (kapitalisme kroni), perbaikan ekonomi berlangsung. Kelas menengah baru tumbuh dan berkembang pada awal era ini seiring dengan tampilnya konglomerasi yang dekat dengan Istana.

Soekarno ingin mengelola kemajemukan secara ideologis sambil membubarkan Partai Murba dan PSI. Soeharto mengelola pluralisme politik dengan asas tunggal dan melebur puluhan partai menjadi dua.

Kelemahan Soekarno secara politik adalah ia tidak mengendalikan militer secara penuh. Faksi militer yang menang dalam perebutan kekuasaan bukanlah kelompok yang setia kepadanya sehingga ia terguling. Sebaliknya, Soeharto berhasil menyingkirkan lawan-lawannya di tubuh angkatan bersenjata dan menguasai kepolisian. Dengan demikian, Soeharto mampu mengendalikan aparat yang mampu mengendalikan semua bentuk penolakan dan mengekalkan posisi penguasa tertinggi.

Dengan mengendalikan militer secara opresif, Soeharto berhasil menciptakan periode stabilitas sosial-ekonomi-politik yang panjang. Sebuah kondisi yang tidak berhasil dicapai Soekarno dalam masa 7 tahun kekuasaannya yang singkat (1959-1966). Namun, Soeharto bertanggung jawab atas kebrutalan aparat terhadap simpatisan Soekarno pada awal kekuasannya. Juga terhadap tokoh-tokoh kritis dan pembungkaman keras terhadap aksi ketidakpuasan warga di pelbagai pelosok negeri.

Soekarno akhirnya jatuh karena kemelaratan rakyat yang kurang pangan, sandang, papan. Soeharto jatuh karena harga-harga kebutuhan pokok membumbung tinggi tak terkendali. Soekarno terjungkal oleh orang-orang yang ia percaya. Soeharto dijatuhkan oleh kelas menengah yang dibangunnya.

Keduanya dipuji, tapi juga dicaci-maki. Keduanya tidak sempurna, tetapi mereka sangat berjasa bagi eksistensi bangsa Indonesia sampai saat ini dan perjalanan selanjutnya. Soekarno dan Soeharto, suka atau tidak, adalah bagian dari sejarah kita.

**Penulis adalah sivitas akademika pada Departemen Ilmu Komunikasi
FISIP UI

***Informasi lain mengenai penulis lihat di junarto.wordpress.com

Iklan

Tag: , , , , ,

9 Tanggapan to “Membandingkan Soekarno dengan Soeharto”

  1. sawali Says:

    setiap pemimpin dilahirkan oleh zamannya. pada setiap zaman akan muncul peimpin “par exellence” yang akan membawa membawa sebuah perubahan. soekarno dan soeharto adalah pemimpin yang dikehendaki oleh zamannya. saya tidak terlalu tertarik untuk membandi-bandingkan. tapi yang pasti, dua tokoh itu kini telah tiada. semoga bangsa ini ke depan bisa mengambil nilai-nilai positif yang telah diwariskan kedua tokoh itu sekaligus meninggalkan karakter kepempinannya yang dinilai kurang layak.

  2. att315 Says:

    Inilah tragedi bangsa kita, dua orang presidennya, yg diakui dunia mempunyai pengaruh besar terhadap bangsanya, yg berjuang keras untuk kesatuan dan kemajuan bangsanya, pada akhirnya terperosok kedalam dilema kehidupan kebangsaannya, dijatuhkan oleh “rakyatnya” sendiri.

    Kita, sepertinya, tidak ingin tahu apa-apa lainnya kecuali “kecukupan ekonomi”. Buktinya, setiap pergantian pemimpin negara kita, selalu disertai kesulitan ekonomi dan selalu ditandai dengan besarnya hutang negeri ini terhadap pihak luar.

    Belum pernah terjadi, satu kalipun, pemerintahan baru tegak dengan tanpa hutang luar negeri yang sangat membebani.

    Disatu sisi, kita segan mengakui, bahwa kemampuan kita membina keuangan sendiri adalah bersifat reaktif dan berjangka sangat pendek. Menunjukkan dengan sangat jelas bahwa kita tidak pernah mampu mengelola sumber-sumber kemakmuran kita sendiri secara efektif dan efisien.
    Disisi lain, kita selalu menunjuk kepada pihak luar negeri, sebagai yang berusaha memanfaatkan “kebaikan” (atau kebodohan?) kita.

    Walhasil, kita selalu menuding negara maju yang “dianggap bertanggung jawab” terhadap kemelaratan kita, sebagai “setan dunia” yang materialistik, kapitalistik, dan bahkan imperialis dan kolonianis model baru.

    Kita tidak pernah ingat, bahwa dalam memutuskan segala sesuatu yang berkenaan dengan bangsa ini, nuansa yang dipilih adalah selalu “enak” dan “tidak enak”. Tapi kita selalu menolak disebut “hedonis”.
    Kita hanya ber-baik-baik-an atau bersatu kalau mendapat janji-janji bakal mendapat yang “enak”, atau “sama sama enak”.
    Dan kitapun sudah melihat, sampai saat ini, bagaimana wakil-wakil kita berbagi “yang enak-enak”
    Dan kita pun bahkan senang bila mendapat seorang pemimpin yang “kuat” dan seolah “menjanjikan”, sambil berkhayal akan mendapat bagian ‘yang enak-enak’ itu kemudian.
    Tidak akan bergema seruan yang berbunyi ‘ayo kerja keras’ atau ‘ayo kita bersatu melawan kemiskinan dan kebodohan”.
    Dan begitu terjadi yang tidak enak, kita pun mulai mencakar dan menggigit teman kita sendiri, sambil berkata “kok disitunya enak, masa saya jatuh sendirian”.

    Jadi jangan heran, apabila kemudian, Bung Karno jadi seorang diktator yang oratoris. Dan Pak Harto jadi diktator yang materialistik.

    KITALAH YANG TELAH IKUT MENCIPTAKAN MEREKA.

  3. Panda Says:

    apa keduanya pantas dibandingkan? hehe

  4. SALNGAM Says:

    Satu hal yang tidak perlu ditiru dari rakyat Indonesia yang pengecut, yaitu mereka yang memaki-maki orang yang sakit. Itu adalah pahlawan kesiangan. Beraninya sama orang sekarat. Sukarno lagi sekarat masih dimaki-maki. Suharto juga demikian.
    One more thing, ternyata masih banyak yang mengaku pakar di Republik ini asal. Mudah-mudahan mereka lebih bisa melakukan analisa dengan “dynamic analysis” bukan statis. Artinya Indonesia ditengah-tengah dunia (among nations) bukan dalam keadaan sendirian. Disamping itu para pakar tersebut bukan juga karena pesanan. Merdeka

  5. WIMPY Says:

    anak-anak mereka juga sama-sama ingin mewarisi kekuasaan orang tuanya… padahal kekuasaan bukan untuk diwariskan……
    tukeran blog yuk… blog ini sudah aku link di blogku… oke… trims

  6. Robert Manurung Says:

    @ att315

    Kita perlu lebih sering melakukan otokritik seperti ini. Aku sependapat denganmu kawan. Salam kenal.

    Merdeka!

    @ panda

    apa soeharto pantas dibandingkan dengan BUNG KARNO ?

    @ SALNGAM

    M E R D E K A !

    @WIMPY

    oke setuju. segera kulaksanakan hehehe…Terima kasih kawan.

  7. Junarto Imam Prakoso Says:

    Wah boz… dipersilakan ngutip artikel ku sampai utuh gitu, tapi jangan lupa URL nya boz… 🙂

  8. Robert Manurung Says:

    @ Junarto Imam Prakoso

    Terima kasih atas kunjungannya dan langsung memberikan teguran terbuka. Aku memang tidak tahu URL-mu Mas, karena dalam komentar noerdiensjah yang melampirkan artikelmu disebutkan bahwa itu dikutip dari milis.

    btw aku minta maaf atas kekurangan itu, karena tidak berusaha menyisir dulu blosphere Indonesia seluruhnya,,baru mengutipnya secara pantas.

    Aku senang atas teguran terbuka sepert ini dan merasa berterima kasih karena telah diingatkan. Nah sekalian permintan Mas telah aku penuhi. Dan bonusnya buat aku, setelah ini aku akan langsung mengunjungi blogmu.

    Salam

  9. satya sembiring Says:

    wahh tele di babat, jangan sampai lah.. mengenang masa ku masih umur 16 tahun dari tele aku melihat keindahan danau toba, dari tele aku lihat birunya air danau toba… dari danau toba ketika sore hari aku melihat ke bukit tele…
    udara yang sejuk di tele akan hilang jika pembabatan terjadi…
    apa alasan pembabatan itu..kenapa investor sampai masuk dan melakukan itu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: