Indonesia Dilanda Wabah Stockholm Syndrome

LUPAKAN dulu wabah DBD atau flu burung. Ada satu jenis penyakit baru yang lebih mengerikan, dan kini sudah menjangkiti sebagian besar warga Indonesia. STOCKHOLM SYNDROME, nama wabah tersebut, adalah semacam penyakit mental yang bisa membuat pnderita mengalami distorsi, dislokasi dan disorientasi.Pendeknya, orang yang terjangkit wabah tersebut bakal kehilangan jadi diri, kehormatan dan akal sehat.

Sebenarnya, Stockholm Syndrome bukanlah jenis penyakit baru. Di ruang-ruang konsultasi dan perawatan psikologi di seluruh dunia, nama penyakit ini sudah populer sejak tahun 70-an. Namun di Indonesia, istilah ini hanya dikenal oleh kalangan terbatas, terutama dosen dan mahasiswa jurusan psikologi; jadi bagi publik masih merupakan hal baru.

Para penderita biasanya mengalami masalah dalam memandang eksistensinya, terkait dengan prinsip pribadinya dan norma-norma yang berlaku di sekitarnya. Menurut istilah psikologi, penderita mengalami distorsi, dislokasi dan disorientasi. Itulah gejala umum sindrom yang sedang melanda Indonesia ini. Jangan-jangan anda pun sudah kena…

Inilah definisi dan sekaligus sejarah sindrom yang satu ini menurut Wikipedia :

Stockholm syndrome is a psychological response sometimes seen in an abducted hostage, in which the hostage shows signs of loyalty to the hostage-taker, regardless of the danger (or at least risk) in which the hostage has been placed. Stockholm syndrome is also sometimes discussed in reference to other situations with similar tensions, such as battered person syndrome, rape cases, child abuse cases and bride kidnapping.

The syndrome is named after the Norrmalmstorg robbery of Kreditbanken at Norrmalmstorg, Stockholm, Sweden, in which the bank robbers held bank employees hostage from August 23 to August 28 in 1973. In this case, the victims became emotionally attached to their victimizers, and even defended their captors after they were freed from their six-day ordeal. The term Stockholm Syndrome was coined by the criminologist and psychiatrist Nils Bejerot, who assisted the police during the robbery, and referred to the syndrome in a news broadcast.

* * *
NAMUN yang membuat istilah ini menjadi tenar ke seluruh dunia adalah peristiwa penculikan dan penyanderaan Patricia Campbell Hearst , cucu pemilik kerajaan media Williams Randolps Hearts di Amerika Serikat. Masyarakat dunia menjadi gempar oleh perisriwa penyanderaan pada tahun 1974 itu. Soalnya, itulah kasus penculikan terbesar sepanjang sejarah dunia, dilihat dari status sosial keluarga korban. Menculik putri pemilik kerajaan media bukan saja perbuatan nekad, tapi bisa dibilang bunuh diri, sebab masyarakat Amerika sangat menghormati keluarga pemilik media.

Kasus itu lebih menggemparkan setelah kemudian diketahui, penculiknya adalah kelompok teroris, Symbionese Liberation Army (SLA).. Rasa panik pun segera menjalar di masyarakat. Banyak orang ikut-ikutan mencemaskan nasib Patty, gadis muda berambut pirang yang kebetulan berwajah cantik itu. Aduh, kasihan banget gadis muda seperti itu disekap oleh gerombolan teroris yang kejam. Bagaimana kalau sampai dia dibunuh? Bagaimana kalau nasib apes seperti itu menimpa anak gadisku ?

Setiap ibu dan bapak yang memiliki anak gadis seumuran si Patty, mendadak bertambah sayang pada anak gadis masing-masing, sambil menaruh simpati pada nasib malang yang menimpa putri pemilik kerajaan bisnis media itu. Kasihan Patty! Semoga Tuhan melindungi dan menyelamatkan gadis itu!.

Perasaan warga Amerika makin tersiksa setelah Presiden Nixon mengumumkan sikap pemerintah : tidak akan berunding dengan pihak teroris. Hati mereka makin dicekam teror setelah mengetahui sikap orang tua korban, yaitu sejalan dengan pemerintah alias tidak akan mengabulkan tuntutan tebusan sekian juta dolar yang diminta pihak teroris.

Bagi warga Amerika ketika itu, juga sebagian besar warga dunia, pernyataan sikap tegas pemerintah AS dan keluarga korban adalah gong kematian yang sangat kejam. Mereka tidak perduli dengan argumentasi pemeritah, yang mengatakan bangsa Amerika dan dunia harus berani menghadapi teroris dengan keteguhan hati, jangan mau digertak dan jangan mau didikte. Pokoknya tanpa kompromi. Tapi bagi orang banyak, nyawa gadis itulah yang paling penting untuk diselamatkan, tak perduli meskipun untuk itu harus berunding dan mememuhi tuntutan pihak teroris. Pokoknya selamatkan nyawa gadis itu!

Perasaan warga Amerika ketika itu sama persis dengan perasaan Patty, yang menunggu dengan hati berdebar-debar respon keluarganya terhadap tuntutan pihak teroris. Dan setelah mengetahui bahwa keluarganya menolak berunding, tiba-tiba gadis itu merasa muak dan benci terhadap orang tuanya. Ternyata orang tuanya tidak bersedia berkorban demi menyelamatkan nyawanya. Padahal keluarganya yang luar biasa kaya itu nggak bakalan miskin, kalaupun memenuhi uang tebusan yang diminta SLA.

Dalam detik-detik yang sangat krusial itu, Patty yang terbiasa hidup manja dan berfoya-foya, seperti dipaksa melihat kenyataan yang selama ini tak terbayangkan olehnya; bahwa ketika nyawanya menjadi taruhan, ternyata pilihan orang tuanya adalah mengorbankannya. Tak ada cinta untuknya. Tak ada pengorbanan, yang sebenarnya bisa dilakukan dengan mudah oleh orang tuanya.

Detik itu juga, koyak-moyak dan runtuhlah kepercayaannya terhadap semua norma luhur mengenai cinta suci orang tua terhadap anak; mengenai ikatan keluarga dan norma-norma sosial. Bullshit semuanya! Bullshit!

Detik itu pula, gadis borjuis itu mendadak bersimpati terhadap para teroris, penyanderanya; yang semula sangat dia benci dan dipandangnya sebagai kumpulan manusia parasit, kejam dan hina. Tiba-tiba saja dia merasa sederajat dan senasib sepenanggungan dengan para teroris itu. Mendadak sontak dia merasa mengerti dan mendukung apa yang mereka perjuangkan dengan jalan kekerasan. Tiba-tiba saja dia berubah pandangan, bahwa para teroris SLA itu adalah patriot-patriot kemanusiaan.

Detik itu pula, Patty merasa penyanderaan dirinya justu merupakan jalan pembebasan baginya. Pembebasan dari kehidupan yang tampak sempurna dan serba nyaman, namun sebenarnya semu dan penuh kepura-puraan. Pembebasan dari kemewahan dan kemanjaan hidup yang selfish, sementara sebagian warga dunia masih kelaparan dan kurang gizi. Pokoknya, pembebasan dari segala omong kosong kaum borjuis kapitalis, yang merasa berhak menikmati keuntungan atas keunggulan dunia barat daripada negara-negara miskin.

Detik itulah, tawanan berbalik menyintai penyanderanya.

* * *

STOCKHOLM Syndrom kemudian menjadi istilah yang sangat populer, dan masih bertahan sampai sekarang kendati kejadian itu sendiri sudah mulai terlupakan. Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan perubahan sikap seseorang yang secara drastis dan ektrim berbalik mendukung orang atau ideologi yang semula dia tentang. Untuk kasus di Indonesia, istilah ini cocok untuk menggambarkan perubahan sikap tokoh-tokoh “pembangkang” seperti Abdul Gaffur dan Akbar Tandjung, yang berbalik menjadi loyalis Soeharto.

Di dunia fiksi, entah kebetulan atau memang terinspirasi, kisah tokoh Karmila dalam novel berjudul sama, karya Marga T, kurang lebih adalah sebuah Stockholm Syndrom. Betapa Karmila membenci pria yang memperkosanya, namun terpaksa menikah dengan laki-laki jahanam itu lantaran dia hamil. Kemudian setelah anaknya lahir, Karmila bersiap-siap untuk menyusul kekasihnya di Australia. Namun pengarang membelokkan arah nasibnya : Karmila berbalik menyintai pria pemerkosanya!

Dua puluh tahun setelah terbitnya novel yang ngetop pada tahun 80-an itu, kita menyaksikan sindrom serupa menjangkiti banyak orang di negeri ini. Khususnya dalam sebulan terakhir ini, sejak Soeharto sekarat di RSPP sampai dimakamkan di Astana Giribangun, kita melihat sindrom itu mewabah.

Tiba-tiba saja, Soeharto yang gila kekuasaan dan paranoid itu menjadi pahlawan di mata orang-orang, yang sesungguhnya adalah korban dari rezim kedikatorannya yang korup, nepotis dan manipulatif. Mendadak saja, jenderal yang naik menjadi penguasa dengan tumbal nyawa jutaan warga negara Indonesia itu, digadang-gadang sebagai pahlawan.

Stockholhom Syndrome yang sedang mewabah ini lebih dahsyat dan sekaligus aneh sendiri dibanding kejadian mana pun, sebab melibatkan jutaan orang dan proses surrender-nya bersifat suka rela, tanpa ada tekanan psikologis yang ekstrim. Jutaan orang di negeri ini dengan SUKA RELA mengingkari segenap rasa sakit dan penderitaan mereka, baik di masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang–akibat perampokan kekayaan negara secara sistematis yang dilakukan Soeharto, keluarganya dan kroni-kroninya.

Ya, inilah stockholm syndrome ala Indonesia, yang sebentar lagi mungkin bakal dikaji oleh para sosiolog dan peneliti pskilogi massa dari barat. Sebuah fenomena yang aneh dan belum pernah terjadi sebelumnya pada bangsa-bangsa lain di kolong langit ini. Sebuah anomali yang barangkali hanya mungkin terjadi pada sebuah bangsa dengan pengalaman terus-menerus terjajah selama empat abad lebih; pada sebuah bangsa yang fatalis dan masokhis : Indonesia. (Robert Manurung)

Tag: , , , , , ,

9 Tanggapan to “Indonesia Dilanda Wabah Stockholm Syndrome”

  1. didats Says:

    Yang biasanya terkena sindrom itu, yang tidak merasa di kecewakan suharto bang…

    kalo yg punya hubungan kuat dengan pemerintahan suharto dulu, sebagai contoh, ya para korban (penculikan, pembunuhan sadis, atau penggusuran paksa) tentu saja tidak akan terkena sindrom ini.

    kalo saya sendiri, memang bukan korban secara langsung. tapi saya merasakan, bagaimana indonesia sekarang yang sudah hancur lebur karena pemerintahan suharto dulu.

  2. qzink666 Says:

    Kalo untuk kasus Soeharto, saya cenderung mengambil sikap fasif fatalistik..😀
    berarti saya (paling tidak kalo kasus Soeharto sebagai rujukan) belum terjangkit stockholm syndrome itu, he he he..

  3. kamal87 Says:

    itu karena media2 barat bisa mainin opini publik. kan media2 itu juga banyak yang masih terkait sama orba

  4. martabak Says:

    Begitulah politik, dan saya rasa beliau berhasil sebagai aktor politik yang tangguh. Permainan beliau yang memukau bahkan setelah turun panggung dunia (wafat). Bukankah itu keberhasilan besar bagi seorang politikus? Skak mat? Memang bukan orang sembarangan, langkah demi langkah telah diperhitungkan. Ataukah ini hanya kebetulan belaka?

  5. Robert Manurung Says:

    @ didats

    Aku sependapat denganmu. Sebenarnya, kalau kita telusuri sejarah Nusantara, sudah sejak zaman VOC sindrom seperti itu menjangkiti suku-suku di Indonesia. Artinya, sudah empat abad lebih!

    Dengan menyadari fakta itu, kita akan lebih menghargai pengorbanan dan perjuangan Bung Karno memerdekakan bangsa ini. Zaman sekarang aja masih banyak orang Indonesia yang bermental budak, apalagi 70 tahun yang silam.

    Ketika Bung Karno kampanye mengenai perlunya merebut kemerdekaan, pastilah dia dianggap orang gila. Merdeka itu apa, buat apa ? Emangnya kamu lebih hebat dari Belanda ? Bukankah kehidupan di bawah kekuasaan Belanda sudah berjalan normal selama 3,5 abad ? Bukankah Belanda sudah berbaik hati membangun jalan kereta api, membangun sekolah-sekolah dan menyediakan kapal untuk naik haji ?

    Salam Merdeka!

  6. Robert Manurung Says:

    @ qzink666

    Bersikap netral terhadap sesuatu yang negatif adalah bentuk pemihakan secara pasif kan ?

    @ kamal87

    Tampaknya buru-buru kali kau kawan, jadi nggak sempat baca artikelnya. Bukan apa-apa kawan, komentarmu kali ini out of context.

    @ martabak

    Setuju, menurutku Soeharto sangat mengenal watak manusia Indonesia, dan itulah yang dia manipulasi secara intens. Kunci keberhasilan Soeharto melanggengkan kekuasaanya memang disitu, yang dia mainkan dengan siasat politik belah bambu. Yang satu diangkat, satu lagi diinjak. Sangat tipikal orang kampung dan agraris.

  7. Marisa Says:

    Nice analogy.
    Reminds me of a great song from Muse, Stockholm Syndrome.

    this is the last time I’ll abandon you
    and this is the last time I’ll forget you
    I wish I could

    Anyways, excerpted from a post.

    In terms of serving, there’s also the slave-master concept; who’s the slave? Who’s the master? Eventhough being independent for over sixty years, the majority of Indonesians has been sociologically mutated to the idea of the slaves-and-masters hierarchy; without it, there shall be chaos. Blogging itself is one example of applying the ever-learning idea of “autonomy of morale”, where one governs his or her own device, action, creation, and companionship. Not all Indonesians are educated to become autonomy of his or her own morale, hence not all are educated to serve and become responsible of his or her own national identity.

    Read more here.

  8. Melissa Says:

    sindrom ini sangat menyebalkan!!!
    dan ga pernah disadari oleh masing-masing orang.
    dan sepertinya orang lain yang menuduh-nuduh orang lain yang terkena sindrom ini.
    sungguh mengherankan dan sangat dramatis!!!

  9. hgdlajdfg Says:

    STOCKHOLM SYNDROM…kayak lagunya Muse yow….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: