Timtim, Monumen Abadi Kejeniusan Soeharto

Aneksasi Timor Timur yang dilakukan rezim Soeharto adalah petualangan yang dungu, mahal dan dan sia-sia. Pengorbanan nyawa ribuan putra-putra bangsa. Hasil keringat ratusan juta penduduk, dikorbankan untuk membangun dusun-dusun primitif di Timtim menjadi kota-kota dan desa-desa modern. Anak-anak mereka yang buta huruf dididik sampai menjadi sarjana. Tapi apa imbalannya bagi rakyat Indonesia ? Cuma satu kata : PENJAJAH.

ALANGKAH cepatnya bangsa ini lupa. Rasanya baru kemarin, anak-anak sekolah di seluruh negeri ini didoktrin mengenai propinsi ke-27. Mengenai saudara-saudara sebangsa yang kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Dan rasanya masih segar dalam ingatan, betapa Soeharto tampak bangga dan tersenyum sumringah, ketika meresmikan pabrik mobil nasional (mobnas) milik putra kandungnya, Tommy Hutomo Mandalaputra. Timor, itulah nama yang diberikan Soeharto untuk merek mobnas yang sejatinya buatan Korsel itu.

Pemberian nama itu sebenarnya mengherankan, karena menyimpang dari kecenderungan sang diktator pada masa itu. Kita tahu, Soeharto pada dekade terakhir kekuasaannya sudah semakin mirip seorang raja, dengan nuansa budaya Jawa Tengah yang kental—termasuk pakai Primbon saat mengambil kebijakan kenegaraan yang penting. Contohnya pesawat komuter CN-235, produk kebanggan industri pesawat terbang Nurtanio, oleh Soeharto diberi nama Tetuko. Nah, kenapa mobnas yang kontroversial itu diberinya nama Timor ?

Timor, maksudnya Timor Timur, memang sangat penting artinya bagi Soeharto pribadi dan rezimnya. Timor Timur adalah lambang kesetiaan Soeharto dan rezimnya terhadap negara super power Amerika Serikat. Dalam cakupan yang lebih sempit—sejarah nasional, Timor Timur adalah piala kebanggaan Soeharto untuk mengimbangi prestasi patriotis Bung Karno, yang berhasil menyatukan Papua ke dalam dekapan negara dan bangsa Indonesia.

Di sisi lain, Timor Timur seperti halnya Aceh adalah alat yang pas untuk siasat cerdik Soeharto, membuat tentara sibuk dalam jangka waktu cukup panjang, agar jangan terulang kembali kejadian moncong tank diarahkan ke Istana Negara—seperti dialami Bung Karno.

Namun bagi rakyat Indonesia, Timor Timur adalah bukti “kejeniusan” Soeharto yang tak terlupakan. Dia korbankan ratusan trilyun rupiah, hasil keringat bangsa ini, untuk petualangan yang dungu dan sia-sia, di wilayah tandus yang hanya cocok ditanami kopi itu.

Dan Soeharto hanya duduk manis seperti penonton, ketika puluhan ribu tentara kita terpaksa mundur dari wilayah Timor Timur, dengan label sebagai tentara pendudukan yang kalah. Soeharto tak mengatakan sepatah kata pun, sekadar untuk menghibur puluhan ribu tentara kita yang terpaksa keluar dari propinsi ke-27 itu dengan hati yang hancur dan harga diri terluka, karena tak diijinkan bertempur dan mati demi mempertahankan Merah Putih tetap berkibar di Timor Timur.

Puluhan ribu tentara kita terpaksa mundur dari tanah yang diyakininya sebagai bagian dari Tanah Tumpah Darahnya, bagian dari wilayah negaranya yang berdaulat seperti dinyatakan dalam Keputusan MPR. Bukankah itu pengalaman yang benar-benar menyakitkan bagi puluhan ribu laki-laki yang memang dilatih untuk tugas suci itu, untuk menjaga keutuhan wilayah NKRI ? Bukankah hari itu, sesungguhnya dan sejujurnya, adalah hari kekalahan kita sebagai sebuah bangsa ?

Bolehkah kita melupakannya begitu saja ?

* * *

PADA dekade 90-an kita menyaksikan perubahan situasi dunia yang dramatis. Negara super power Uni Soviet runtuh dari dalam, menyusul kemudian Tembok Berlin dirubuhkan. Itu menandai berakhirnya era Perang Dingin yang sudah berlangsung hampir 40 tahun, yaitu persaingan ideologis Blok Barat (AS dan sekutu-sekutunya) dengan Blok Timur (Uni Soviet).

Tetapi Soeharto, yang memang kurang cakap urusan politik dan diplomasi internasional, tidak mengantisipasi sama sekali dampak perubahan global tersebut. Anak petani asal Kemusuk itu masih juga menggertak rakyat mengenai ancaman kembalinya komunis. Masih tetap represif terhadap kelompok-kelompok yang kritis mengoreksi kepemimpinannya yang makin korup, nepotis dan menyakiti rakyat. Dan masih pula mengandalkan bedil dan penjara untuk mengendalikan Timor Timur.

Soeharto tidak mengantisipasi, bahwa konsekuensi logis dari perubahan situasi politik global adalah berubahnya strategi Amerika Serikat dalam mempertahankan hegemoninya di seluruh dunia. Pendek kata, AS tidak lagi menganggap komunis sebagai ancaman, sehingga para peminpin anti-komunis seperti Soeharto tidak dibutuhkan lagi sebagai sekutu.

Khusus mengenai Timor Timur, AS menunjukkan sinyal melepaskan dukungannya, melalui pemberlakuan embargo senjata terhadap Indonesia. Embargo tersebut adalah tamparan buat Soeharto, sekaligus menurunkan wibawanya di mata para jenderal ABRI. Sebagai pembanding, di kala perang merebut Irian Barat dari Belanda, Soekarno mampu mengatasi embargo semacam itu. Dengan kelihaiannya berdiplomasi, presiden pertama RI itu mendapatkan suplai persenjataan berat dari Uni Soviet.

Tapi sebenarnya, pesan paling penting yang disampaikan Pentagon melalui pemberlakukan embargo itu adalah menarik dukungan yang telah diberikan selama 30 tahun terhadap rezim Soeharto. Orang Medan menyebutnya pekong alias pecah kongsi. Dan sejarah membuktikan, setiap diktator yang tak didukung lagi oleh AS pasti jatuh. Contoh paling menonjol kejatuhan Shah Iran Reza Pahlevi dan diktator Filipina Ferdinand Marcos.

Perubahan sikap AS tentu menyakitkan bagi Soeharto, yang sejak hari pertama menjadi penguasa Indonesia selalu bersikap sebagai “keponakan” yang patuh terhadap Paman Sam. Tak terhitung banyaknya kebijakan Soeharto yang mencekik rakyat Indonesia, termasuk mengizinkan kaum kapitalis barat menguras habis kekayaan alam negeri ini, asalkan dia bisa menyenangkan AS. Krisis kedele yang terjadi baru-baru ini adalah akibat kepatuhan Soeharto kepada AS, lewat kebijakan yang menyebabkan Indonesia tergantung pada impor kedele dari negara koboi itu.

Pencaplokan Timor Timur juga merupakan servis Soeharto untuk Gedung Putih. Awalnya tahun 1974, Menlu AS Henry Kissinger diam-diam menemui Soeharto di Cendana, dengan sebuah perintah singkat : Indonesia harus kuasai Timor Timur sekarang juga. Pesan itu disertai peringatan QQC, agar Indonesia mencaplok Timor Timur dengan Quick, Quiet and Clear. Lakukan dengan cepat, jangan berisik dan beres. Ternyata rezim Soeharto mengerjakannya dengan LRS : Lama, Ribut dan Sadis; termasuk pembunuhan beberapa wartawan asing yang membuat dunia internasional marah.

Tekanan terhadap Soeharto makin bertambah, karena sejumlah jenderal Angkatan Darat mulai berani mengkritik perilaku anak-anak Soeharto yang terlalu tamak dalam mencari uang, dengan memanfaatkan kekuasaan bapaknya sebagai presiden. Para jenderal itu bahkan mulai menyarankan secara halus, agar demokratisasi mulai dijalankan, dan proses mundurnya Soeharto dari panggung kekuasaan harus segera dipersiapkan.

Soeharto merespon imbauan para jenderal itu sebagai tanda-tanda pembangkangan. Tapi karena tidak berani menindak para jenderal itu, dia berpaling mencari dukungan dari kalangan politik Islam, dengan mengangkat Habibie sebagai operator yang kemudian membentuk ICMI. Pertarungan politik inilah yang membuat kebijakan pemerintah mengenai Timor Timur diwarnai dualisme. Kalangan militer menghendaki kucuran dana untuk pembangunan propinsi itu ditingkatkan, sebaliknya kalangan sipil yang dipimpin Habibie lebih memprioritaskan proyek-proyek populis untuk memobilisasi dukungan rakyat miskin, dan juga prioritas industri pesawatnya yang terkenal boros itu.

Tapi inti persoalannya sebenarnya bukanlah kenapa Timor Timur lepas dari pangkuan Ibu Pertiwi, tapi justru sebaliknya : ngapain sih rezim Soeharto mencaplok wilayah dan bangsa lain ? Kenapa nggak konsentrasi aja untuk memakmurkan rakyat Indonesia sendiri ? Ngapain cari penyakit hanya untuk menyenangkan Amerika ?

* * *

ANEKSASI Timor Timur yang dilakukan rezim Soeharto adalah petualangan yang dungu, mahal dan dan sia-sia. Pengorbanan nyawa ribuan putra-putra bangsa. Hasil keringat ratusan juta penduduk, dikorbankan untuk membangun dusun-dusun primitif di Timtim menjadi kota-kota dan desa-desa modern. Anak-anak mereka yang buta huruf dididik sampai menjadi sarjana. Tapi apa imbalannya bagi rakyat Indonesia ? Cuma satu kata : PENJAJAH.

Suka atau tidak, itulah kenyataanya. Kita semua, Bangsa Indonesia, akan selalu dikenang oleh rakyat Timor Leste sebagai PENJAJAH. Sungguh ironis dan menyedihkan. Dengan semua yang telah dikorbankan oleh rakyat Indonesia demi kemajuan Timor Timur, dengan semua kata-kata agung dan indah “kemerdekaan adalah hak segala bangsa” yang tertulis dalam Mukadimah UUD 45; dengan segala keberanian dan kepioniran Bung Karno mendorong kemerdekaan bangsa-bangsa terjajah di Asia dan Afrika, dengan pidato Bung Karno “Mankind is One” yang sangat menggetarkan Sidang Umum PBB, ternyata kita adalah bangsa PENJAJAH.

Kita tidak menaruh dendam pada rakyat Timor Timur, hanya lantaran “saudara-saudara sebangsa” itu tak sudi hidup bersama dengan kita, di bawah panji Merah Putih. Sebaliknya kita harus memuji, dengan memilih merdeka mereka telah membebaskan diri dari sejarah kita yang gelap dan berlumur darah, dan dari beban utang luar negeri yang tidak bakal lunas sampai tujuh turunan.

MERDEKA!

(Robert Manurung)

***Artikel ini aku tulis untuk kelak dibaca anakku, Jo (4 tahun), yang baru-baru ini mengagetkanku dengan celotehnya,”Pak, Suharto kan mati. Kata Mama, Suharto itu orang baik. Benar ya Pak?”

 

 

Tag: , , , , , , ,

20 Tanggapan to “Timtim, Monumen Abadi Kejeniusan Soeharto”

  1. aRuL Says:

    trus bagaimana dong perjuangan orang2 yang menginginkan gabung di Indonesia? apakah dilupakan juga aspirasi2 mereka?

  2. Robert Manurung Says:

    @ aRul

    salam kenal kawan. trims sudah berkunjung dan memberikan komentar.

    Memang rumit jadinya, tapi itu kan ekses dari keputusan yang terlanjur diambil oleh rezim Soeharto. Namun sebagai tanggung jawab sejarah dan moral kemanusiaan, kita harus tetap mengakui mereka sebagai warga negara Indonesia, itupun jika mereka sendiri masih merasa satu bangsa dengan kita.

    Suka atau tidak, segala konsekuensi yang timbul akibat kebijakan-kebijakan rezim Soeharto harus kita terima sebagai tanggung jawab kita secagai bangsa dan negara Indonesia. Termasuk dalam hal ini mengenai orang-orang Timtim yang masih mengaku sebagai warga negara Indonesia, hutang-hutang ke negara-negara lain atau pihak-pihak swasta, dan kontrak-kontrak bisnis eksplorasi kekayaan alam Indonesia.

    Karena tanggung jawab yang berat itulah, kita perlu menulis sejarah Indonesia pada masa Orde Soeharto secara obyektif dan proporsional; tanpa ditambah-tambahi dan dikurang-kurangi. Dan karena itulah aku terus menulis berbagai hal yang relevan dengan itu, bukan karena rasa benci atau dendam terhadap Soeharto.

    Salam

  3. bsw Says:

    Setuju Pak Manurung – Saya kebetulan baru nonton TV Australia ttg Indonesia. Diantaranya mengenai Tim-tim ini.
    Soeharto memang terlalu terpengaruh dengan Amerika (termasuk Australia) ketika masuk Tim-tim dengan angkatan bersenjatanya. Kedunguan & kecongkakan yg luar biasa dari seorang Soeharto.
    Seorang presiden yg sudah mempersiapkan tempat pemakaman megah untuk dirinya semasa hidupnya adalah bukti presiden yg sombong (kalo nggak mau disamakan dgn Fira’un…..)🙂

  4. raddtuww tebbu Says:

    Jadi,, bapak jawab apa ke anaknya??:mrgreen:

  5. raddtuww tebbu Says:

    >>maksudnya,, sekarang ini gima nerangin ke anaknya??

  6. raddtuww tebbu Says:

    kok gima si?? gimana kamsudnya,, hehehehe:mrgreen:
    skalian hetrixx deh,, *piss ah!!*

  7. lil4ngel5ing Says:

    Halo Pak, swenang kenalan dengan Anda… eniwei, saya juga mo jadi wartawan… kira2 dimana buka lowongan? pengen pindah nih… hehehe… tapi terus terang saya masih kurang jago dalam menulis… selain saya baru lulus kuliah…hehe
    Kalau ngomongin era suharto, menurut saya ada untung dan ruginya. Memang memakan banyak nyawa, tapi stabilitas politik cukup bagus meskipun menggorogi akhirnya karena kebanyakan utang. Kemarin saya berdiskusi dengan kepala divisi saya mengenai banyak hal dari mulai supersemar sampai booming ‘kuning’nya asia timur. Seperti yang saya ketahui dari SK Kompas beberapa tahun lalu, KOmpas menyebutkan Cina menempatkan banyak mata2 di setiap negara. Di Indonesia saja terdapat 5ribu lebih intel. Itu mengapa suharto dahulu mencegah mengakarnya budaya cina yang banyak mengandung faham komunisme yang pernah di jalankan oleh sukarno dan sukarno sendiri dalam bukunya mengatakan komunisme memang tidak co2k dalam negara RI. Untuk masalah timTim. makan hati ya???… Suharto dengan keinginannya yang besar menguasai daerah sabang sampai merauke.. Ini karena portugis waktu itu sedang kacau balau maka menyusuplah pasukan sekutu AS dan Australia. Menurut saya, Indonesia itu seperti wanita yang rebuti banyak orang. Selain kaya, negeri ini indah dan seringkali mudah dipermainkan… Saya anggap ini takdir yang sudah ditentukan. Kalau berkaca dari sejarah Jepang yang suka berperang apalagi perang saudara era tiga serangkai Oda,Hideyoshi dan Leyasu… Saya harap kelak bangsa ini akan maju… salam kenal… add saya di link ya Pak…. TQ

  8. aRuL Says:

    Terima kasih komentar saya dijawab🙂
    Oia, kalo setelah mereka melepaskan diri ke Indonesia memang itu konsekuensi yang harus di hadapi oleh masyarakat Timor LEste yang masih ingin bergabung dengan Indonesia.
    Tapi yang saya maksudkan,ketika Tahun 1974 Timor Timur mau bergabung ke Indonesia itukan juga ada aspirasi masyarakat Timor Timur untuk bergabung ke Indonesia, walaupun pada jajak pendapat yang dilakukan oleh PBB tahun 1999 (kalo ndak salah tahun) dimenangkan oleh pro kemerdekaan, tapi suara yang pro Indonesia juga tetap tidak ditampikkan.

  9. Sawali Tuhusetya Says:

    rezim soeharto agaknya tak hanya berimbas pada diplomasi indonesia di mata dunia, tapi juga menyisakan derita bagi rakyat timor leste. andai saja soeharto saat itu tak menjadi antek barat (Amrik) bisa jadi komuintas rakyat timor leste sudah hidup merdeka. tapi, sekarang timor leste benar2 genting. pemberontakan dan dendam dari pihak2 yang merasa tidak puas akan terus menjadi ancaman bagi eksistensi timor leste. kapankah derita itu akan berakhir?

  10. anagustini Says:

    Era Suharto biarlah menjadi pelajaran dan menjadi tanggung jawab generasi berikutnya untuk membangun bangsa ini. Walaupun warisan ini sungguh memberatkan , hutang yang bejibun, krisis kedele akhirnya melanda kita juga, dan mental bangsa yang akhirnya rusak. Generasi sekarang sudah sangat terkontaminasi oleh produk2 dari luar, terutama produk amrik. Akhirnya Budaya konsumtif telah menggerayangi pula. produk-produk konsumtif Amerika yang kelihatannya begitu sangat membanggakan bagi orang-orang kita jika memakainya. Lupalah kita untuk berkreasi, lupalah kita mengejar ketinggalan karena semua sudah didapatkan secara instan, prestasi olahraga kita semakin mundur kalah oleh negara tetangga. Begitu juga prestasi-prestas lainnya yang semakin merosot. Kita juga lupa meningkatkan pendididkan, sekarang betapa mahal-nya kita tuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas dan bagus. Hanya segelintir manusia saja yang bisa maju karena mampu. Sadarkah kita akan hal ini? kepedulianpun semakin menurun. Jadi ntah siapa yang bisa memperbaiki ini semua?. Lebih baik kita semua memulai dari kesadaran diri masing-masing untuk melakukan yang lebih baik dari yang kemarin.

  11. danang margono Says:

    to anaagustini:

    setiap kesalahan itu bisa diperbaiki, meski menbutuhkan cukup banyak waktu dan tetap harus menerima konsekuensi dari tindakan2 kita yang dulunya salah. yah, bagaimanapun INA harus terus maju !, kenali potensi dan kembangkan, meski nantinya harus berhadapan dengan kepentingan eksternal yagn bisa jadi sangat berpengaruhm berjuang !!!

  12. devry Says:

    Patut jadi renungan anak bangsa sekarang😉

  13. mists Says:

    Sungguh! aku tertipu dengan judulnya! kukira ‘penghasut orang terjajah’ sudah menjadi bagian dari jutaan rakyat pemuja dewa suharto😉 !
    Tetapi menurut saya, sikap suharto yang menghamba pada amerika tidak salah, sebab beliau daripada suharto adalah orang yang tahu membalas budi, karena bagaimanapun juga, kekuasaan yg diperoleh suharto adalah ‘pemberian’ paman sam. Kudeta 1965 dengan pembunuhan terhadap Jenderal2 dan jutaan rakyat Indonesia yang lain, adalah bagian rencana amerika untuk menggulingkan Bung Karno, seorang Presiden Republik Indonesia yang sangat dibenci amerika karena tidak mau menjadi budak amerika!

    Salam! Tetap Bepikir Merdeka!

  14. zal Says:

    ::hallo komandan.., sebenarnya saya tidak terlalu tertarik cerita politik, namun saya tertarik dengan cerita ttg Pak Harto, terlepas dari pendapat miringnya ada satu hal yg saya kagumi, misalnya seperti kewibawaan kepemimpinannya yg entah bagaimana bisa disegani banyak kalangan termasuk para negarawan…, yg saya belum lihat hal seperti itu sesudahnya…, jika ketakutan itu muncul adanya ancaman kekerasan, mengapa 1997 berhasil.. dilengserkan…dan kenyataannya…beberapa kalimat yang saya cukup ingat ” apakah dengan turunnya saya akan menjamin kestabilitasan negeri…”…yang terjamin orang bisa seenaknya berbicara keras…, namun perubahannya apa…???
    dalam suatu organisasi skala kecil saja, jika semua orang ingin didengarkan pendapatnya dan keinginan lebih agar idenyalah yang digunakan maka hampir dapat dipastikan apapu itu akan stagnan, sebab hanya berupa trial & error…, terus begitu, dapat kita hitung berapa biaya & waktu harus dikorbankan…, tapi saya akan berada pada keadaan-keadaan sekarang…sebab saya masih disini…

  15. aRuL Says:

    Saya rasa semua presiden setelah Soeharto semua kiblatnya amerika juga…
    so sekarang protes aja juga presiden2 sesudah soeharto juga… (apalagi SBY juga masih menjabat) bisa diubah tuh kebijakan pro amrik.
    apa nunggu kesalahan besar mereka baru kita protes yah?

  16. Yari NK Says:

    Yah, menurut saya setiap bangsa mempunyai ‘petualangan’ yang ‘dungu’. Mungkin petualangan kita di Timtim adalah ‘dungu’, tapi negara2 superpowerpun juga mempunyai petualangan2 ‘dungu’ juga walaupun dalam nuansa lain. Seperti misalnya AS di Vietnam, Uni Soviet di Afghanistan, Jepang dan Jerman pada Perang Dunia II, bahkan mungkin Timor Leste-pun dengan merdekanya mereka dari Indonesia, mereka mungkin kini memasuki petualangan dungu mereka sendiri tanpa mereka sadari. Ya, seperti kita ketahui Papua Nugini tidak lebih makmur dari Papua Barat dan Timor Leste kini sangat dikerjain oleh Australia dalam kasus celah Timor yang kaya minyak. Yah, nampaknya dengan petualangan2 dungu tersebut, umat manusia belajar dari kesalahannya sendiri……..🙂

  17. Robert Manurung Says:

    @ bsw

    Terima kasih Mas.

    Walaupun pahit, kita harus terima kenyataan, konsekuensi berbagai kebijakan sang diktator harus menjadi tanggung jawab kita, bahkan sampai ke anak cucu. Dalam hal ini aku merasa iri kepada para pembela Soeharto : mereka bisa tega terhdap diri sendiri dan anak cucu. Bahkan tak sedikit yang “kesurupan”, sampai ngebet supaya Soeharto dijadikan pahlawan.

    @ raddtuw tebu

    Trims untuk hattrix-nya.

    Si bapak diam sejuta bahasa, sambil mendokan semoga Soeharto diterima di sisiNya. Dalam hati kecil : Tuhan, plisss, jangan ada lagi pemimpin yang error seperti dia, sampai selamanya!

    @ lil4ngel5ing

    Salam kenal juga Mbak. Trims sudah berkunjung.

    Aku hargai opinimu mengenai diktator itu. Tapi aku mau tanya, boleh nggak sih kita pakai neraca untung-rugi jika yang dikorbankan adalah keperluan hidup dan bahkan nyawa jutaan orang ? Bolehkah kita bersikap netral terhadap tokoh-tokoh yang luar biasa kejam seperti Hitler, Idi Amin, Pol Pot dan Soeharto ?

    Mengenai lowongan, aku tidak punya informasi Mbak, karena sudah 10 tahun aku menjauhi dunia pers. Baca koran dan nonton tivi pun sudah jarang sekali. Aku baru menulis lagi setelah tergoda membuat blog sendiri.

  18. Robert Manurung Says:

    @ aRul

    oh itu toh yang ditanya. Sorry kalo jawabanku kurang kena.

    Ibaratkanlah tetangga sebelah anda punya anak 8, lalu 3 di antaranya minta anda adopsi dan sekalian agar rumah mereka digabungkan dengan rumahmu, apakah engkau harus memenuhi permintaan mereka ?

    Sekadar mengingatkan, pada tahun 1975 ketika rezim Soeharto mencaplok Timor Timur, kebanyakan penduduk Irian masih pakai koteka; anak-anak SD di pedesaan Soematra belum pakai sepatu ke sekolah; dan bahkan sampai sekarang masih ada dusun-dusun terpencil di Banten yang belum menikmati listrik……..

    Soal kiblat ke amrik, itu memang masalah tersendiri dan pasti aku tulis suatu saat nanti. Tapi Soeharto bukan cuma berkiblat ke amrik, dia tunduk dan patuh. Bisa dibilang dia itu terlalu geer karena diperintahkan amrik untuk mencaplok Timtim. Mungkin Soeharto mengartikan perintah itu sebagai tanda kepercayaan amrik terhadapnya.

    @ Sawali Tuhusetya

    Betul Pak Guru. Akibat petualangan Soeharto di Timtim ternyata menjadi “kiri-kanan bokek” : rakyat Indonesia dirugikan, sebaliknya rakyat Timtim juga dirugikan. Itulah hebatnya Jenderal Besar alias Bapak Pembangunan itu.

    Salam

    @ anagustini

    Setuju non. Mari kita menatap ke depan saja, membangun dari titik minus dan bangkit dari keadaan yang luluh-lantak. Apakah Mbak Ana menyarankan, secara halus, supaya Orde Soeharto nggak usah dibahas lagi ?

    I’m on your service mum, hehehe…

    @ danang margono

    Akur. Setujuuuuuuuuuuu….

    @ devry

    Trims sudah berkunjung. Salam Merdeka!

    @ mists

    Standpoint aku mengenai apa yang engkau tulis : sama. Mari kita bangun tradisi berpikir merdeka dan kritis, supaya bangsa kita jangan lagi mudah diperdaya dan dijajah. Salam hangatku buatmu. Tetap semangat.

  19. martabak Says:

    Tulisan yang bagus. Saya hanya berharap semoga tidak ada Timor Timur kedua. Sangat disayangkan memang kalau membayangkan kita sampai pecah seperti Uni Sovyet. Sejauh ini saya masih merasa kalau kita masih sangat bergantung pada kehendak Amerika. Nyata maupun tidak kita masih seperti boneka yang lemah.

  20. Sibarani Says:

    Bagaimana pun aneksasi terhadap Timor Leste adalah satu kesalahan fatal dari pemerintahan Suharto, walau memang ada sejuta alasan yang bisa dijadikan pembenaran dari tindakan tersebut, yang salah satunya adalah menyenangkan hati tuan besar Paman Sam.

    Tidak kalah fatalnya adalah ‘kemurahan hati’ BJ Habibie dalam memberikan jajak pendapat demi menyenangkan hati dunia internasional yang dalam hal ini juga dimotori oleh PBB da di belakangnya sang ‘polisi dunia’, Paman Sam.

    Dua aksi yang bertolak belakang, tapi sejatinya dipromosikan oleh tuan besar yang sama: Paman Sam. Ini cuma menunjukkan bahwa siapa pun pemimpin bangsa ini, ada Paman Sam yang mengatur politik luar negeri kita. Jargon ‘politik luar negeri yang bebas dan aktif’ sesungguhnya cuma retorika belaka yang hanya untuk menyenang-nyenangkan rakyat jelata dan pemanis pelajaran PMP di bangku sekolah.

    Sudah waktunya bangsa ini bangkit, punya harga diri dan tidak bergantung kepada bangsa mana pun. Kalau negara-negara tetangga kita mampu, kenapa bangsa sebesar ini tidak? Adakah ini karena dominasi dari nilai-nilai satu kelompok etnis yang pernah sangat mendominasi ‘pikiran, ucapan dan tindakan’ kita bangsa Indonesia?

    Timor Leste sudah lepas dari ‘pelukan’ Ibu Pertiwi. Rengkuhan lembut yang dipaksakan dan triliunan rupiah yang digelontorkan untuk pembangunan ternyata tidak mampu membuat si ‘anak angkat’ menjadi bagian dari keluarga besar yang bernama NKRI. Ada akar pahit yang menjadi parut yang ternyata tidak lekang dimakan zaman dan kemudian berkembang menjadi kanker, sehingga harus diamputasi kalau tidak mau menyebar.

    Timor Leste pernah menjadi bagian keluarga kita. Secara fisik pun mereka tidak banyak perbedaan dengan saudara-saudara kita dari Timur. Saat berbincang dengan rekan-rekan dari Timor Leste, tidak terlalu kelihatan mereka orang asing dari negara lain. Dendam tidak lagi mengisi rongga dada mereka. Yang mereka inginkan adalah perdamaian sehingga mereka bisa mengisi hari-hari kemerdekaan dengan membangun negerinya. Bangsa ini pun, yang notabene sudah lebih lama merdeka, sudah seyogyanya mengubur kepahitan-kepahitan masa lalu dan menyongsong masa depan yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: