Water Is Life

AIR adalah kehidupan. Kita tidak mungkin hidup tanpa air. Tapi mengapa kita masih terus membinasakan pohon-pohon, yang membendung air di saat melimpah, dan membagikannya di saat kita butuh ?

tobadream-conservation-program1.jpg

Water is Life, itu memang slogan. Tapi juga kegelisahan, kemarahan, kecemasan, tekad dan harapan. Semuanya dirangkum sobatku Bismark Sianipar (Bonni) ke dalam paduan garis, warna dan aksara; maka jadilah logo di atas. Rasa-rasanya sih cukup “nonjok” itu logo.

Lalu kenapa kami gelisah, marah dan cemas ? Karena kondisi alam di seputar Danau Toba sudah babak belur. Tingkat kehancuran hutan di sana sudah hampir 80 %. Pokoknya, kiamat sudah dekat!

Dan bagaimana kami tidak marah ? Saat ini, ratusan ribuan unit gergaji mesin milik PT Toba Pulp Lestari (TPL) masih terus membabat hutan di tiga kabupaten : Simalungun, Samosir dan Humbang Hasundutan. TPL memang sakti, tak mungkin dihentikan, meski pernah berhasil disegel penduduk Porsea yang memang sangat militan. Tapi toh sudah kembali beroperasi, kembali melahap hutan dan menyebarkan bau busuk dari pabrik pulpnya.

Lalu tiba-tiba terdengar kabar busuk itu, bahwa Bupati Samosir Mangindar Simbolon telah mengeluarkan izin prinsip, untuk pembabatan hutan di daerah Tele. Luasnya 2.000 2.250 hektar dan akan dijadikan kebun bunga oleh investor Korea.

Itu kebijakan yang benar-benar edan tenan. Dan membuat kami menjadi sangat cemas. Kenapa ? Kalau hutan kian menyusut dan akhirnya habis-tandas, maka permukaan Danau Toba akan turun dan terus turun. Dan jika kelak airnya tak cukup lagi untuk mendinginkan magma di dasar danau yang elok itu, maka letusan mega volcano di tempat itu sekitar 70 ribu tahun silam–konon menyebabkan dinosaurus punah– bakal terulang lagi.

Kesadaran akan potential danger itulah salah satu energi pendorong yang “memaksa” kami untuk segera action. Siapakah kami ? Kumpulan individu-individu yang independen, yang tidak bermimpi menjadi orang kaya, tapi berharap bahagia. Satu perkecualian yang sudah terlanjur kaya raya adalah Monang Sianipar, pengusaha kargo terkemuka dengan bendera MSA Cargo, yang secara aklamasi kami daulat sebagai suhu atau Chairman.

Kami tidak terhimpun dalam organisasi formal, hanya berupa komunitas. Kami namakan Komunitas TobaDream, mengikuti nama TobaDream Cafe milik Pak Monang–dimana kami awalnya berkenalan. Kebetulan, sebagian besar anggota komunitas memang para blogger yang kopdar di kafe tersebut. Latar belakangnya sangat beragam, pekerja bidang IT, ahli keuangan, fotografer profesional, aktivis LSM, wartawan, penyanyi, pengacara, arranger/musisi, praktisi periklanan, perupa.

Anggota komunitas kami yang memiliki blog adalah Viky Sianipar (arranger/musisi), Robert Manurung (praktisi periklanan/LSM), Charly Silaban (pekerja IT), Desy Hutabarat (praktisi periklanan).

Sedangkan anggota komunitas yang aktif sebagai blogger tapi tidak membuat blog adalah Suhunan Situmorang (pengacara/novelis), Charlie Sianipar (fotografer/pedagang komputer), Marudut Pasaribu (finance), Grace Siregar (perupa), Zulkarnaen Siregar (wartawan), Antoni Sinaga (wartawan), Tongam Sirait (penyanyi/pencipta lagu).

Biarpun berupa OTB (Organisasi Tanpa Bentuk), Komunitas TobaDream sudah menyelenggarakan satu acara yang lumayan besar, yaitu diskusi yang menghadirkan Wakasad Letjen Cornel Simbolon, Komjen (Purn) Togar Sianipar (mantan kepala BNN) dan Trimedya Panjaitan (Ketua Komisi III DPR) sebagai pembicara.

What Next ? Mohon dukungan dan doa kawan-kawan semua, Komunitas TobaDream akan mengadakan penanaman sekitar 1.000 batang pohon di Samosir, Sumatera Utara, tanggal 3 Maret 2008. Program ini kami rancang dan laksanakan bersifat sustainable atau berkelanjutan. Setelah pohon ditanam, perawatan bibit pohon-pohon tersebut sampai usia 5 tahun akan menjadi tanggung jawab pekerja yang diupah, diambil dari penduduk desa setempat.

Untuk meningkatkan penetrasi dan intensitas kampanye ke masyarakat, kami telah mendaulat arranger Viky Sianipar menjadi ikon gerakan penghijauan yang mengandalkan swadaya dan partisipasi masyarakat ini. Dan kami sangat senang atas bergabungnya tiga anggota baru yang sangat berbobot, yaitu Johnson Panjaitan (Ketua Dewan Nasional Walhi), Arbain Rambey (Editor foto Harian Kompas) dan Grace Siregar (Perupa kaliber internasional, tinggal di Medan).

Bagaimana dengan pendanaan ? Mulailah dari kantong sendiri, baru mengharap dari orang lain, itu prinsip kami. Dan tentu saja, andalan kami yang utama adalah “kepala suku” Monang Sianipar. Pokoknya, dalam merancang program, kami selalu berpatokan pada prinsip Keep Moving, Keep Spining. Mulailah dari apa yang mungkin, jangan melulu apa yang kita inginkan.

Apakah komunitas ini eksklusif untuk orang Batak saja ? Tentu saja tidak, kawan. Ini terbuka kok bagi siapa saja yang peduli terhadap penyelamatan budaya dan lingkungan hidup. Kata kuncinya adalah PEDULI.

Nah, pedulikah Anda ?

(Robert Manurung)

Tag: , , , , , ,

12 Tanggapan to “Water Is Life”

  1. Sawali Tuhusetya Says:

    entah apa yang akan terjadi dengan negeri ini kalau saja eksploitasi dan perambahan hutan terus terjadi. entah apa juga yang terjadi kalau kepala para pengambil kebijakan itu tidak peduli lagi terhadap dampak lingkungan. entah apalagi yang terjadi kalau kaum kapitalis tak meyisakan sedikit hati nurani untuk berpihak kepada rakyat. Krisis ari, itu jelas. sudah jelas2 manajemen lingkungan selama ini salah urus, tapi agaknya pengalaman tak juga dijadikan sebagai kguru terbaik.
    Bung Robert, salut atas gerakan yang dilakukan oleh TobaDream, semoga langkah semacam itu bisa bermakna dan bermanfaat buat mempertahankan sumber2 air yang selama ini sudah tersedot oleh tangan2 kapitalis yang sudah tak punya kepekaan lagi terhadap atmosfer lingkungan yang makin parah.

  2. Robert Manurung Says:

    @ Sawali Tuhusetya

    Terima kasih atas dukungan moril dari Pak Sawali. sebaliknya, mudah-mudahan ikhtiar kecil namun konkret yang kami rintis ini bisa memantik inspirasi banyak orang di negeri tercinta ini.

    Bisa dibilang kami-kami ini sudah lelah mengkaji secara kritis berbagai kebijakan pemerintah, serta perilaku masyarakat. Kesimpulan kami : nggak ada yang bisa diharapkan, karena itu ngapain nunggu? Kenapa tidak kita coba apa yang bisa dan apa yang mungkin kita lakukan?

    Kami semua menyadari, sejak awal sekali, penghambat kami untuk menyatu seperti sapu lidi adalah ego, ambisi dan tingkat kecurigaan masing-masing. Apalagi yang namanya etnis Batak, lebih gampang mencari orang yang berani maju menjadi calon presiden, daripada yang rela hanya jadi rakyat biasa hehehe…

    Singkat cerita, disepakatilah paguyuban itu harus selalu OTB, jangan sampai formal. Kalau sudah formal, lalu harus pilih ketua, pasti bakal terjadi keretakan. Nantinya si ketua bisa menjual organisasi ke parpol-parpol dan macam-macam ekses lainnya.

    Mengenai program, dari semula kami sepakat mementingkan penyelamatan budaya dan lingkungan hidup. Namun untuk membangun link ke generasi yang lebih muda, serta merintis semacam par excellence
    atau pusat pencerdasan, maka Komunitas TobaDream mengadakan diskusi bulanan setiap sabtu pertama.

    Demikianlah Pak Sawali, kami baru saja merintis. Dan sangat mengharukan bahwa seorang supir taksi telah menyumbang sebatang pohon untuk program penanaman tanggal 3 Maret. Ceritanya pas menumpang di taksinya aku ceritakan program kami, dia langsung minta diundang pada rapat kami pekan depan. Dia orang Jawa dan tahu bahwa komunitas kami mayoritas Batak. Nggak masalah, kata bapak itu.

    Dengan spontan, dia menyumbang biaya penanaman dan perawatan satu batang pohon = Rp 30.000. Sempat mau kutolak, tapi aku langsung sadar, pak supir itu pun punya hak dan kewajiban yang sama untuk memelihara kelestarian lingkungan di negeri tercinta ini.

    Salam

  3. sitijenang Says:

    wah, mantap bung. saya turut mendukung. dulu kalo gak salah di gunung lawu kan ada juga yang nanam seribu cemara itu… sendirian pula, sampek dapet kalpataru. kalo saya mulai dari halaman rumah dan lingkungan sekitar dulu deh. biar tetangga pada sadar pentingnya menjaga kelestarian dan keseimbangan alam. mudah-mudahan upaya komunitas TobaDream dapat mengilhami komunitas-komunitas lain untuk berbuat yang serupa. jangan lupa undang media seperti majalah Trubus dan sebangsanya, bung. sukses!

  4. manda Says:

    wah mantap, biar semakin lestari Indonesia kita ini

  5. Ersis W. Abbas Says:

    Wah … wah … tubuh kita yang lebih separoh disusun dari elem air ini akan ‘huancur’ kalo sumber air ‘termusnakan’. Postingan tepat posisi. Bravo Mas. Salam dari Borneo.

  6. Robert Manurung Says:

    @ sitijenang

    Terima kasih Mas. Aku baru tahu cerita penanam seribu cemara di Gunung Lawu itu. Mudah-mudahanlah semakin banyak perorangan maupun kelompok yang berinisiatif untuk pelestarian lingkungan, karena keadaan umum di Indonesia sudah masuk taraf gawat darurat.

    Mengenai media, tampaknya justru disinilah salah satu strong point gerakan pelestarian lingkungan yang akan kami rintis. Rencana jangka menengah dan jangka panjang kami memang akan memposisikan Komunitas TobaDream semacam “Crisis Centre”, sedangkan pemeran utama untuk aksi pelestarian lingkungan nantinya adalah perorangan dan kelompok-kelompok di masyakat. Tapi sebelumnya kami harus menjalankan dulu proyek percontohan dan harus membuktikan dulu bakti kami sendiri. Kami yakini dengan cara ini masyarakat lebih mudah untuk diajak peduli.

    @ manda

    Terima kasih manda. Satu baris kalimat yang engkau kirimkan sangat besar artinya buat kami, membuat kami lebih bersemangat.

  7. Robert Manurung Says:

    @ Ersis W Abbas

    Terima kasih Bang. Kami doakan semoga gerakan sosial untuk pelestarian lingkungan di Borneo segera bergulir. Alangkah bagusnya kalau di seluruh daerah semakin banyak tumbuh komunitas yang membaktikan diri untuk pelestarian lingkungan dan budaya. Dan betapa eloknya kalau berbagai komunitas sejenis di Tanah air dapat membangun komunikasi dan networking.

    Salam.
    Lestarilah alam negeri kita.

  8. togarsilaban Says:

    Kalau mau besar, TobaDreams tidak bisa jadi OTB terus. Sebab biar gimana juga, mesti dibesarkan gerakan melestarikan danau Toba itu. Jadi perlu ada “manajemen” nya.

    Sudah pula harus dipikirkan ada transparansi, kalau ada donasi, kan mesti dilaporkan secara transparan. Karena tidak semua bisa ikut rame-rame tanam pohon ke Toba sana. Sebagian ada yang memberi donasi saja. Nah itu semua perlu “manajemen”, alias tidak bisa OTB. Saya yakin kalau netters melihat ada “manajemen yang bertanggung jawab”, maka donasi akan datang. Pertanggungjawaban profesional perlu.

    Tapi kalau OTB terus, nanti orang cuma prihatin, tapi tidak membantu.
    Ecek-eceknya, niru Obama menghimpun dana untuk kampanye Pilpres.

    Semangat menggebu memang mutlak, tapi cuma semangat aja enggak cukup.

    Horas.

  9. tongginghill Says:

    @togarsilaban

    Horas lae. Betul sekali. Kalau mau serius gak bisa OTB terus. Terutama dalam menangani Donasi. Justru itu, kami sudah membentuk badannya Lembaga TobaDream dengan NPWP dan no. Rek yang jelas. Pelaporan akan dilakukan secara transparan dan selalu di publish dalam website yg sedang dipersiapkan, http://www.tobadream.org . Semua keuangan langsung akan dipantau dan ditata oleh pembina kami, Bpk. Monang Sianipar.

    Mengapa kami senang dengan istilah OTB, dengan demikian ibarat Begu (Hantu), gak bisa dibunuh, gak bisa didomplengi pihak dan partai politik manapun. Karena komunitas ini terjadi karena kesamaan visi orang-orang didalamnya. Gerakan2 TobaDream tidak memiliki kepentingan pribadi apapun. Murni kemanusiaan dan peduli lingkungan dan budaya Batak dengan moto Save the Music, Save the Lake, Save the Culture

    Mauliate
    VIKY SIANIPAR

  10. Sibarani Says:

    Perlu gerakan moral untuk menghijaukan kembali kawasan Danau Toba yang selama ini sudah dijarah oleh industrialis-industrialis tak bertanggung jawab, yang bisanya cuma membuat tandus bukit-bukit yang mengelilingi danau ini.

    Aksi penanaman juga harus disertai dengan edukasi bangsoi, terutama yang berdiam di kawasan yang ditanami agar mereka turut menjaga tanaman-tanaman muda tersebut dari tangan-tangan jahil dan ternak. Pengalaman menunjukkan bahwa kalau rakyat setempat tidak dilibatkan, program sebagus apa pun tidak akan berhasil, even if the programs are meant for their own sake!

  11. TobaDream » Blog Archive » Water is Life Says:

    […] Ayo Merdeka : Water is Life […]

  12. santos Says:

    moga2 lancar kegiatannya..tak dukung lo…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: