STOP Pembabatan Hutan Tele !!!

Artikel ini sejatinya adalah komentar Suhunan Situmorang, pengacara dan novelis, di blog Partungkuon Tano Batak, pada postingan Refleksi Lima Tahun Kabupaten Samosir. Aku putuskan menampilkan disini karena merupakan sumber informasi penting terkait dengan pembabatan hutan alam Tele, yang kabarnya sudah berjalan sejak dua hari lalu. (RM)

TANGGAL 6 Februari lalu, saya dan lima teman (Viky Sianipar, Bismark Sianipar, Charlie Sianipar, Ganda Simanjuntak (Medan), dan satu orang bule Perancis, Laurent), atas nama Komunitas TobaDream Jakarta, pulang ke Samosir untuk menyiapkan ‘TobaDream Conservation Program’ (TCP).

Di Desa Martoba, Simanindo, kami menyiapkan perjanjian dengan pemilik tanah yang sukarela menyerahkan 2 HA tanahnya untuk ditanami pohon, mengadakan pertemuan dengan teman-teman peneliti voluntir dari Badan Penelitian Kehutanan (BPK) Aek Nauli, Parapat. Juga melakukan sosialisasi dengan orang-orang setempat (termasuk politisi-politisi lokal) dan Pemda (Bupati Samosir).

Kami juga menjelajah dataran tinggi Samosir (Sidihoni, Ronggur Nihuta, Parmonangan) dan mengelilingi Samosir hingga daerah Lagundi-Onanrunggu untuk memetakan lahan kritis, dan, atas nama pribadi, mencari anak-anak asuh yang secara ekonomis kesusahan meneruskan sekolah.

Untuk sementara, kami menyerahkan ke pastor Bernardus Sijabat dari gereja Katolik Paroki Pangururan. Beliaulah yang kami putuskan menyalurkan ‘aek santetek’ (bantuan alakadarnya) ke saudara-saudara kita, anak-anak di desa Sijambur, Salaon Dolok, Sidihoni, Ronggur Nihuta, Parmonangan, yang sangat memerlukan bantuan biaya sekolah.

Kami juga menemui seorang perajin eceng gondok di Pangururan (Gurning) dan membuat kerjasama untuk membantu penjualan produknya di Jakarta sekalian membantu disain yang lebih menarik agar diminati kaum muda Jakarta. Pertemuan dengan Bupati Samosir di rumah dinasnya dilakukan Viky dan Charlie, sementara saya dan Bismark menjelajahi Urat-Sipinggan dan melakukan pemotretan.

* * *

SEBAGAIMANA pertemuan kami di Jakarta tiga bulan lalu dengan Bupati Samosir (Mangindar Simbolon), keinginan dan maksud kami menggugah warga (terutama para perantau) agar menggiatkan penghutanan kembali daerah Samosir dan sekitar Danau Toba melalui TC~P, mendapat dukungan. Kami senang dan tak lupa menekankan bahwa program TCP murni swadaya, tak akan membebani keuangan Pemda. Kami hanya mengandalkan partisipasi pribadi-pribadi yang tergerak hatinya untuk membantu membeli bibit pohon dan biaya perawatan (menggaji tenaga lokal), dan tiap rupiah yang kami terima harus bisa dipertanggungjawabkan.

Tak dinyana, malam sebelum kembali ke Jakarta (9 Feb), kami bertemu dengan seorang parnamboruon (tante) yang membuka kedai makan di Pangururan. Tanpa bicara panjang lebar, namboruku ini (Ny. Siregar br Situmorang) menyampaikan sebuah berita yang mengejutkan, yakni: Bupati sudah memberi izin ke sebuah perusahaan Korea untuk membabat 2000 HA hutan Tele untuk dijadikan kebun bunga! Warga Tele dan pemegang hak ulayat (marga Situmorang dari Harianboho, Baniara, Tele, mayoritas keluarga dekat sastrawan Sitor Situmorang) sudah mengajukan protes dan melakukan perlawanan.

Namboruku (tanteku) ini pun lantas memintaku agar turut jadi pengacara pemegang hak ulayat (ditambah pengacara lain) untuk menggugat Bupati Samosir. Mendengar berita tersebut, saya dan kawan-kawan langsung lemas!

Terjadi semacam antiklimaks atas rencana penanaman pohon di Samosir yang dijadwalkan mulai 3 Maret 2008. Berulang-ulang saya tanya kebenaran berita tersebut, namboruku itu kemudian memberi dua no.hp paramangudaon (pak le) di Jakarta agar saya hubungi. Malam itu pun langsung kami hubungi teman-teman di Pangururan untuk verifikasi karena tak mungkin lagi berangkat ke lokasi (Tele). Ternyata mereka sudah tahu, bahkan pengakuan mereka sudah beberapa kali dimuat di koran-koran terbitan Sumut.

“Bah! Ngeri nai puang namasaon! (Alamak ngeri sekali kejadian ini).” ucapku spontan.

Jelas, kami SANGAT KECEWA. Rencana melakukan penanaman pohon di atas lahan 2 HA, yang kami harapkan akan menjadi semacam “virus” positif bagi seluruh warga dan perantau Samosir dan wilayah-wilayah di Tano Batak untuk melakukan hal yg sama, jadi sesuatu yang absurd, dilecehkan, dan “si parengkelon” (bahan tertawaan).

Minggu siang (10 Februari), kami ketemu Alvin Nasution (wartawan Metro Tapanuli/Metro Siantar) dan Andi Siahaan (wartawan dan kontributor Trans TV) di kedai kopi Koktong dan menanyakan kebenaran berita tersebut. Mereka membenarkan berita tersebut dan sudah pernah ditulis sebagian pers Sumut. Tanpa sempat berpikir panjang, spontan saya kirim SMS ke lae Monang Naipospos (pemilik blog Partungkoan Tano batak), mengungkapkan kekecewaan dan kesedihan saya dan kawan-kawan.

* * *

MALAMNYA di Medan, di rumah Grace Siregar (Tondi), kami mengungkapkan berita tersebut pada teman-teman yang sudah kumpul di sana (Thomson Hs, Alister Nainggolan, Miduk Hutabarat, dll). Mereka pun mengaku sudah mendengar berita tersebut.

Setiba di Jakarta, dari bandara, saya kirim SMS ke Batara Situmorang (salah satu pewaris hak ulayat) untuk menanyakan masalah tersebut sekalian langkah-langkah yang sudah mereka tempuh. Jawabannya, mereka sudah menyurati Bupati, beberapa Menteri, dan tengah mengumpulkan beberapa dokumen sebagai modal untuk tindakan hukum bilamana Bupati tidak menghentikan. Paramangudaon (pak le) ini pun meminta kesediaanku manakala diperlukan, dan saya jawab: siap amanguda (pak le)!

Kepada Anda semua, kami mohon dengan sangat, dukungan Anda untuk menggagalkan rencana Bupati Samosir untuk membabat hutan Tele seluas 2000 HA, apapun alasan dan tujuannya. (Alasan Bupati, kawasan tersebut masuk hutan produksi dan tujuan konversi ke kebun bunga adalah untuk meningkatkan pariwisata).

Tak usah pun dikaitkan ke persoalan Global Warming, kawasan hutan yang mengelilingi Danau Toba sudah tahap sekarat menurut kawan-kawan peneliti kehutanan! Kita tahu persis, hutan-hutan yang mengitari danau yang indah itu sudah terancam dan ekosistem di sekitarnya sudah rusak sejak perusahaan pulp di Sosor Ladang-Porsea beroperasi sejak tahun 90-an, ditambah tindakan para pencuri kayu.

Masa depan danau kebanggaan kita itu, asal-mula para leluhur manusia Batak itu, semakin terancam dan akan semakin hancur bila hutan-hutan yg mengitarinya dihabisi. Tegakah kita membiarkan danau, perbukitan, hutan, dan alam yang sudah berjasa memberangkatkan manusia-manusia Batak meraih kemajuan, dirusak oleh pihak-pihak yang hanya bertujuan meraup keuntungan bagi diri mereka? Saya yakin, tidak!

Untuk itu, saudara-saudaraku sekalian, Batak atau non-Batak yang cinta lingkungan, kami imbau agar:

MELAWAN SETIAP TINDAKAN YANG MERUSAK HUTAN DI SELURUH WILAYAH BATAK DAN YANG MENCEMARI DANAU TOBA!

Horas

(Suhunan Situmorang)

 

Tag: , , , , , , ,

3 Tanggapan to “STOP Pembabatan Hutan Tele !!!”

  1. att315 Says:

    sdr Suhunan Situmorang,

    kami sangat mendukung gagasan TobaDream.
    tapi sepertinya , you take the low road, and they take the high road, alias kalah cepat.
    rasanya tak ada ruang gerak yg cukup bagi kelompok yg idealis, dan selalu tercegat krn kalah cepat.
    Komunitas Toba Dream, sepertinya, hrs memperluas gerakannya. duh, beraat!

    dengar-dengar akan ada TOBA LAKE FESTIVAL pd pertengahan Juni 2008, ah masih jauh ya, kalau tidak, mungkin bisa cepat menginformasikan lebih luas dan mendasar, cita-cita TobaDream.
    Saya yakin semua orang yg punya sedikit pikiran waras dan tdk terkooptasi oleh kepentingan sempit, pasti setuju dgn idea TobaDream. dan pasti sukarela mendukung dgn daya apapun yg ada.

    sdr, hati kami ada pada ideamu yg mulia.
    harap berjuang terus untuk cita-cita yg mulia itu, aku akan selalu mendukung, meskipun secara fisik tidak mampu.

    SELAMATKAN LINGKUNGAN ANDA !

    BERJUANG TERUS, LAWAN !!!

    HORAS, MERDEKA !!!!!

  2. Caniaarma Says:

    dear kawan,
    saya sependapat denga kawan-kawan untuk ikut serta berjuang untuk mencegah hal ini terjadi. dan mendukung pergerakan kawan-kawan untuk hal ini. membangun pariwisata samosir tidak harus mengobankan pohon-pohon yang jumlahnya sudah sangat sedikit di samosir,
    salam

    arma

  3. tobadreams Says:

    Betul itu, Lae Suhunan; kalau untuk kepentingan menjaga kelestarian alam Tano Batak, kita tidak boleh ragu sedikit pun : L A W A N .

    Aku doakan mudah-mudahan Bupati Mangindar Simbolon tidak terkena tulah atau kutkan akibat perbuatannya merusak hutan pusaka Hutan Tano Batak.

    Amen.
    Raja Huta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: