Hutan Tele, Tumbal Pemimpin Berpikiran Instan

BUDAYA instan kini sedang menggempur berbagai aspek kehidupan kita. Setelah urusan perut–dimana mie instan sudah menjadi makanan pokok, tahapan berikutnya yang digarap serba instan adalah apa yang kita sebut : pembangunan. Tumbalnya tidak tanggung-tanggung : kekayaan alam yang terbentuk melalui proses ribuan dan bahkan jutaan tahun; misalnya hutan alam Tele, Samosir, kini sedang dibabat oleh ratusan gergaji mesin.

Bupati Samosir Mangindar Simbolon pasti bisa menyodorkan sejumlah alasan, sambil tentunya ditambah rasionalisasi di sana sini; mengenai kebijakannya mengeluarkan izin pembabatan hutan Tele. Menurut informasi yang diperoleh dari lingkungan terdekat Bupati, alasannya mengeluarkan izin itu adalah untuk memperbesar PAD (Pendapatan Asli Daerah). Ini alasan yang jujur dan dapat dimaklumi, karena Kabupaten Samosir memang terbilang daerah minus, bahkan konon merupakan kabupaten termiskin di Indonesia.

Tapi apakah untuk menambah PAD harus membabat hutan, yang terbentuk secara alami dan tak tergantikan itu ? Apa tidak ada jalan lain ? Apakah kebutuhan PAD itu sangat mendesak, sehingga pengambilan keputusan untuk membabat hutan pusaka itu tidak perlu melalui pertimbangan yang mendalam dan visi yang jauh ?

Konon, Bupati Samosir menyatakan bahwa dia tidak melanggar aturan apapun dalam perkara pembabatan hutan Tele. Dia berdalih, itu adalah hutan negara, jadi suka-suka pemda Samosir-lah mau diapakan.

Yang lebih menyayat hati para pecinta lingkungan, Mangindar Simbolon masih berani berkata, bahwa dengan dibabatnya hutan tersebut dan nantinya dijadikan kebun bunga, akan mendatangkan manfaat yang nyata ketimbang dibiarkan tetap sebagai hutan. Dengan kata lain, dalam pandangan bupati kita ini, apa-apa yang penting dan berharga hanyalah yang bisa menghasilkan uang secara instan. Katan kuncinya adalah UANG dan INSTAN.

Sungguh memalukan, kualitas berpikir seorang bupati ternyata begitu “cetek”. Tapi apa mau dikata, begitulah kenyataannya, dan ini merupakan keadaan umum di negeri tercinta ini. Kita sedang krisis pemimpin visioner yang mampu menjangkau jauh ke masa depan. Jangkauan pikiran para pemimpin kita sekarang pendek sekali, hanya sebatas periode jabatannya yang lima tahunan itu, dan kebanyakan diwarnai kepentingan diri sendiri serta kelompok politiknya.

* * *

SAMOSIR, pulau di tengah Danau Toba yang berwujud deretan memanjang perbukitan berbatu dan tandus, sedari dulu memang sudah akrab dengan kemiskinan. Saking geramnya dengan kondisi kampung halaman yang amat dicintainya itu, dalam novelnya Sordam, Suhunan Situmorang sampai melukiskan Samosir seperti perempuan jelita tanpa rahim kesuburan. Panoramanya memang luar biasa indah, namun sangat sedikit sumber kehidupan di sana.

Namun sebagaimana umumnya masyarakat Batak, penduduk Samosir dibekali otak cerdas dan semangat juang yang tinggi untuk mengubah nasib.Tingkat pendidikan rata-rata petani di kabupaten ini cukup tinggi, yaitu setingkat SMA, namun mereka tidak cukup cerdik untuk menyiasati alam yang tandus. Mereka masih mempertahankan pola pertanian tradisional meskipun hasilnya selalu minim.

Kualitas SDM yang begitu tinggi dan semangat mengubah nasib yang menyala-nyala, seharusnya bisa didorong oleh bupati Samosir untuk memakmurkan daerah itu. Karena pertanian cara tradisional tak mungkin dipertahankan lagi, mestinya Mangindar Simbolon bisa membimbing penduduk Samosir untuk berpaling ke industri pariwisata; termasuk menggalakkan industri kerajinan.

Dalam diskusi dengan Komunitas TobaDream di Jakarta, sekitar empat bulan lalu, Bupati Samosir mengeluh mengenai ketidaksiapan masyarakat setempat untuk diajak mengembangkan industri pariwisata. Dia juga mengeluhkan minimnya infrastruktur, termasuk sarana jalan yang memungkinkan turis menjelajahi pulau itu dengan nyaman. Sebenarnya hal ini sudah dibantah oleh sesepuh Komunitas TobaDream, Monang Sianipar, dengan menceritakan pengalaman pribadinya bersafari di Afrika.

“Aku bayar mahal-mahal di sana adalah untuk menikmati wisata alam liar yang asli. Jalannya jelek dan menginap di dalam tenda. Kenapa Samosir tidak bisa menjual obyek wisata seperti itu?”, ujar Monang ketika itu sambil mengingatkan, daya tarik utama industri pariwisata adalah adanya atraksi, bukan infrastruktur kelas satu. “Kegiatan menenun adalah atraksi wisata yang memikat. Bisa juga ditawarkan kegiatan memancing di Danau Toba. Tapi mana ada yang melakukan itu,”ujar Monang.

Waktu itu Mangindar Simbolon tampak antusias, apalagi Monang kemudian mengungkapkan rencana Komunitas TobaDream menanam pohon di Samosir. Namun ternyata sikapnya itu hanya untuk menyenangkan hati para perantau. Rupanya dia sendiri tidak berminat dengan cara membangun yang membutuhkan proses panjang seperti itu. Pak Bupati menginginkan proses instan yang cepat, dan mungkin saat itu pun dia sudah menggagas untuk membabat hutan Tele.

***

TANPA harus menjadi jenius seperti Einstein, mestinya Bupati Samosir sudah tahu dan mengerti sendiri betapa keseimbangan serta kualitas lingkungan di Samosir dan Danau Toba sekitarnya sudah pincang dan merosot sekali. Sejak tahun 80-an, para pakar lingkungan telah berulang kali mengingatkan hal itu. Dan belakangan ini diingatkan lagi, bahwa kondisi lingkungan di sana sudah kritis.

Mangindar Simbolon adalah seorang sarjana—bahkan dia pernah menjabat kepala dinas kehutanan, tapi sebenarnya petani buta huruf di pelosok Samosir pun pasti tahu apa artinya kondisi kritis tersebut. Secara kasat mata saja sudah terlihat, hutan di seputar Danau Toba kini sudah sangat “tipis”. Dampaknya pun sudah mulai terasa, secara fisik bisa dilihat ratusan sungai menjadi kering, air semakin sulit didapat dan halimun yang biasanya menggelayut di Pusuk Buhit sudah sering menghilang.

Sebagai orang yang lahir di Samosir, mestinya Mangindar tahu sejarah evolusi hutan Tele. Penduduk di sekitar itu sampai sekarang masih suka menceritakan, bahwa hingga tahun 70-an di hutan pusaka itu masih terdapat rusa, orang utan dan harimau sumatera. Malahan ada kabar yang tak pernah dipublikasikan, ternyata pada akhir tahun lalu harimau muncul lagi di kawasan itu; memangsa ternak penduduk.

Hutan Tele, dahulu kala, memang sangat melimpah dengan kekayaan hayati. Selain rusa,orang utan dan harimau; kawasan hutan di perbukitan tepian Danau Toba itu juga dihuni oleh trenggiling, musang, aneka jenis monyet dan babi hutan. Sedangkan kekayaan floranya meliputi ratusan jenis pohon, tanaman perdu, semak, rumput dan lumut.

Kini, karunia Tuhan yang sangat vital bagi kelangsungan peradaban manusia itu sudah punah sebagian besar. Maka tak usahlah bicara mengenai penyelamatan fauna dan flora, karena riwayat mereka sudah tamat. Tinggal satu misi yang bisa dan harus dilakukan, yaitu menyelamatkan hutan alam di seputar Danau Toba yang merupakan sisa-sisa Hutan Tano Batak. Lebih bagus lagi kalau sejumput hutan di hamparan luas perbukitan gundul dan tandus itu ditambah, dengan cara melakukan penghutanan kembali, yang biayanya pasti sangat besar dan bakal memakan waktu lebih dari satu generasi.

Kalau itu tidak dilakukan; atau yang paling aktual jika pembabatan hutan Tele yang diprakarsai Mangindar Simbolon tidak dihentikan, maka tidak usah menunggu lama lagi, bencana demi bencana akan menimpa Samosir serta daerah amat luas di sekitar Danau Toba. Banyak teori mengenai bentuk bencana yang bakal terjadi kalau kerusakan lingkungan di seputar Danau Toba berlanjut; antara lain kemungkinan berulangnya letusan mega volcano seperti pada 70.000 tahun silam; mengingat di dasar danau itu terdapat aktivitas magma yang potensi daya ledaknya diperkirakan sangat besar.Namun yang sudah pasti, air akan semakin sulit didapat dan kehidupan jutaan manusia disana bakal semakin sukar, sampai akhirnya nanti daerah itu tak layak lagi untuk dihuni.

Pendek kata, apa yang dilakukan Bupati Samosir, yang dengan jabatan dan kekuasaannya mengizinkan pembabatan hutan Tele, sesungguhnya adalah mempercepat proses tibanya waktu–dimana Samosir dan Danau Toba sekitarnya akan menjadi tempat kematian paling indah di dunia. Dan pada saat itu tiba nanti, nama Mangindar Simbolon akan selalu disebut dengan disertai sumpah serapah serta kutukan, dan kelahirannya bakal disesali. (Robert Manurung)

Iklan

Tag: , , , , , , , ,

15 Tanggapan to “Hutan Tele, Tumbal Pemimpin Berpikiran Instan”

  1. Sawali Tuhusetya Says:

    Bung Robert, Samosir, nama pulau di tengah danau Toba itu sudah sangat akrab di tenga saya waktu duduk di bangku SD. Tapi, hati saya jadio sedih dan prihatin mendengar pernyataan bupati Mangindar Simbolo yang kini tengah berada dalam lingaran kekuasaan. sungguh tidak bisa saya mengerti kenapa hutan Tele yang yang mampu menjadi ikon Samosir lengkap dengan segala kemegahan habitatnya dengan gampangnya akan digilas dan dimusnahkan. waduh, kenapa kearifan lokal mesti dikebiri dengan dalih demi PAD. Ini makin menjadi bukti betapa nilai-nilai kapitalisme telah demikian jauh merasuk ke dalam ceruk2 pikiran para elite kita dan menggurita dalam mindset penguasa. Pemikiran2 ala machiavelli demikian gampangnya dilakukan hanya utk menuruti selera kebuasan hati. Oh, Samosir sayang, kenapa kini nasibmu begitu malang?
    *Maju terus bung robert, Tobadream harus merapatkan barisan* Tolak pembabatan hutan tele. Merdeka!

  2. juliach Says:

    Aduh, Bupati Mangindar Simbolon itu bego sekali. Tuh hutan kan jadi paru-parunya dunia. Koq ya dibabat habis. Coba paru-paru dia dipotong dikit, udah napasnya ngos-engosan.

    Memang betul lebih baik mengalakan pariwisata. Aku dulu (sebelum anakku wajib sekolah) sering bawa bule masuk hutan. Asyik juga, jalan-jalan dapet duit, yang lumayan lagi.

    Bukannya aku memyanjung-nyanjung orang bule, orang indonesia itu juga ngak mau ngelihat yang aneh-aneh dan ngliatnya susah. Aku sendiri dibilang orang gila, karena ngelihat harimau pakai masuk hutan : Way Kanan, Bukit Barisan, G. Leuser; ngelihat komodo sampai pulau rinca, dll. Mereka pikir lebih baik ngeliat di kebon binatang saja, ngak susah dan ngak mahal.

    Aku setuju, kau demo saja itu Bupati.

  3. didats Says:

    bang, tulisannya copy paste dari word yak? formatnya belum ilang, jadinya tulisannya kelihatan lebih kecil, dan saya kesusahan bacanya… terlalu dempet-dempet.

  4. yetty Says:

    gimana caranya menggagalkan semua penebangan liar di hutan Tele ini dengan sebuah blog? apa mereka penebang-penebang liar itu mbaca blog ini, lae?

  5. mita Says:

    kok gak pernah baca issue ini di kompas ya?
    ada yang bisa kita lakukan?

  6. Robert Manurung Says:

    @ Sawali Tuhusetya

    Hutan Tele adanya di punggung Bukit Barisan, jadi bukan di Pulau Samosir. Seperti kita tahu Bukit Barisan adalah pusat dari segala sumber kehidupan di Sumatera. Tapi sayangnya di hampir semua propinsi, terutama di Riau, Sumatera Utara dan Aceh, hutan alam yang menyelimuti Bukit Barisan sudah luluh lantak.

    Keseimbangan ekosistem di sepanjang Bukit Barisan penting tidak hanya buat penduduk setempat, tapi juga bagi kehidupan seluruh penduduk bumi.

    Oleh karena itulah Uni Eropa mau membiayai Taman Nasional Leuser, di perbatasan provinsi Sumatera Utara dan Aceh, sebab menurut hasil penelitian para pakar di Eropa, kawasan Leuser berpengaruh langsung terhadap iklim di Eropa. Kalau daerah Leuser (mencakup sebagian Danau Toba) digunduli hutannya, maka iklim di Eropa akan berubah panas.

    Eropa saja sangat peduli, bahkan mau membiayai konservasi di Leuser, kenapa kita malah membinasakan sejumput hutan pusaka yang masih tersisa ?

    Terima kasih atas dukungannya Pak Guru. Tolong sebarkan berita duka dari Tele ini ke rekan-rekan Pak Sawali di seluruh Indonesia. Ini adalah the moment of truth buat kita untuk membangun cikal bakal civil society di negeri tercinta ini, sebab lingkungan adalah isu yang paling netral; dan merupakan kepentingan semua orang yang mencintai kehidupan.

    MERDEKA !

  7. Robert Manurung Says:

    @ juliach

    Betul Mbak, pada tingkat pertama kita menilai Bupati Samosir sebagai orang yang kurang bijak, kurang arif, berpikiran pendek, maunya instan. Kita geram karena begitu gampangnya Mangindar Simbolon diakali oleh investor kadal dari Korsel itu.

    Pasti, tujuan investor Korea itu adalah menyikat kayu dari Tele, soal investasi bunga itu cuma kedok doang…

    @ didats

    Betul Kang, aku copy paste dari word karena aku sedang berusaha mengurangi pemakaian waktuku untuk ngeblog, terutama urusan admin. Ternyata fontnya jadi kecil-kecil ya Kang. Untunglah Akang mengingatkan, maka kemarin aku undang kawanku yang jago IT, aku minta diberikan kursus kilat. Lumayanlah ada kemajuan dikit, tapi masih tergolong gaptek juga hehehe…

    Bagi pengunjung yang lain, mohon dimaklumi bahwa pengelola blog ini masih gaptek, namun akan terus belajar . Jadi akan butuh waktu supaya blog yang amat sederhana ini bisa tampil agak sedikit mendekati tongkrongan blognya Kang Didats dan Pak Sawali yang sangat keren.

    @ yetty
    @ mita

    Sebenarnya tidak ada bedanya blog dengan segala macam bentuk komunikasi yang sudah kita kenal, termasuk bisik-bisik antar ibu-ibu ketika jumpa di pasar. Intinya ada pesan yang disampaikan, lalu ada auidiens yang menerima dan merespon pesan tersebut.

    Memang, blog belum menyamai kredibilitas dan pengaruh media mainstream seperti Kompas. Namun, sekalian menjawab pertanyaan mita, bukankah semua berita dan artikel yang aku tulis mengenai pembabatan hutan Tele telah membuktikan bagaimana blog bisa mengalahkan media sekelas Kompas sekali pun. Aku tidak tahu mengapa Kompas belum memberitakan, namun kuat dugaanku Kompas belum tahu.

    Kembali ke pertanyaan kunci, apakah blog bisa jadi alat perjuangan ? Bisa banget, bahkan lebih dahsyat dibanding surat kabar, karena blog bisa mempublikasikan berita dalam hitungan detik, sedangkan koran harus menunggu puluhan jam kemudian.

    Mbak yetty, dampak pemberitaan blog mengenai hutan Tele sangat dahsyat, apalagi media mainstream tampaknya sudah disuap. Saat ini isu pembabatan Tele sudah menyebar ke para perantau Batak di seluruh dunia. Di email pribadiku ada puluhan respon dari Amerika Utara dan Eropa, yang mengajak untuk menggalang perlawanan. Selain itu beberapa tokoh Batak di tingkat pusat, seperti Wakasad Letjen Cornel Simbolon dan Dirjen Pemerintahan Umum Depdagri Sodjuangon Situmorang kini sudah ikut memikirkan cara meyakinkan Bupati Samosir untuk menyetop penebangan di Tele. Mereka tidak bisa diam karena dikontak saudara-saudara mereka, yang mendapat info dari blog kita yang sederhana ini.

  8. ABIT KV8 Pro Says:

    Terimakasih sekali atas pemberitaan ini, saya sebagai orang batak sangat prihatin membacanya. Masih segar diingatan saya ketika masa pemerintahan Pj. Bupati Wilmar Simandjorang ada 2 investor kalau saya tidak salah saat itu ingin mendirikan pabrik Nanas atau sejenisnya di Tele, dengan senang beliau menerima proposal tersebut. Namun setelah dipelajari lebih lanjut ternyata proposal itu juga menyangkut pembabatan hutan Tele untuk kepentingan investor dan pendirian lokasi pabrik sehingga proposal itu ditolak mentah-mentah oleh beliau. Segala jenis “usaha” dilakukan investor, namun saya ingat beliau waktu itu mengatakan tidak.

    Tidak disangka, di saat masa pemerintahan baru ini Bupati Mangindar Simbolon malah memberikan lampu hijau. Dan lebih parahnya 2.250 hektar? Fantastis, namun dengan menjunjung tinggi asas praduga tidak bersalah saya kembali menanyakan beberapa hal, mohon informasi dari rekan-rekan sekalian.
    1. Siapa investor Korea yang dimaksud?
    2. Apakah sudah memiliki AMDAL? Maksud saya apakah izin penebangan ini benar-benar sudah diteliti dengan memakai masukan ahli lingkungan atau hanya AMDAL2an saja?
    3. 2.250 hektar untuk apa saja ya?
    4. Kalo memang sudah memiliki AMDAL dan berkekuatan hukum tetap, pertanyaan kemudian akan dikemanakan kayu yang ditebang tersebut?

    Harusnya di era manajemen pemerintahan yang baru ini Mangindar Simbolon lebih peka dan menggunakan teknologi, e-gov bukan barang baru. Diskusi terbuka lewat situs pemerintahan Samosir dapat dengan mudah dilaksanakan, polling kebijakan ini harusnya dibuka sebelum kebijakan dilaksanakan untuk akuntabilitas dan transparansi.

    Sekian & terima kasih..
    Horas

  9. Robert Manurung Says:

    @ ABIT KV8 Pro

    Mauliate (terima kasih). Komentarmu sangat berharga, karena memberikan perspektif mengenai masa sebelum Mangindar Simbolon menjadi Bupati Samosir.

    Tentang hal-hal yang Anda tanyakan, jawabanku sementara ini begini :

    1. Investor Korea itu namanya PT EJS. Baru itu data yang aku dapat. Mudah-mudahan hari ini akan diperoleh data lebih jelas dan lengkap.

    2. Masalah AMDAL masih merupakan tekan-teki, namun network yang aku punya saat ini sedang menghimpun semua informasi yang diperlukan, termasuk masalah AMDAL. Sabar ya.

    3. Areal hutan 2.250 hektar itu akan dibuat kebun bunga untuk komoditas ekspor.

    4. Justru, menurut sinyalemen sahabatku Johnson Panjaitan, yang juga Ketua Dewan Nasional Walhi, target utama investor Korea itu adalah menyikat kayu yang ada di hutan itu. Menurut analisis bisnis yang dilakukan Walhi, nilai ekonomi kayu yang ada di hutan itu sekitar Rp 400 milyar. Jadi investasi kebun bunga cuma kedok belaka.

    Sorry belum bisa memberikan jawaban yang memuaskan.

    Mauliate
    Horas.

  10. asianti Says:

    Pak Manurung,

    Saya baru baca sepintas, tapi hati sudah lemes duluan..Masak hutan segitu luasnya cuma mau dijadikan kebun bunga…Apa gak ada tempat lain untuk bikin kebun bunga…Apa gak kapok dengan bencana banjir dan longsor yang sudah terjadi di mana mana di Ind? Kenapa ya pemimpin kita hanya mikir cara cepat cari duittt ..Pikir sebaliknya, apa gak mikir ruginya “waktu yang berpuluh tahun untuk jadi hutan”, mau langsung dibabat cuma dijadikan kebun bunga, ktnya untuk ekspor.. Berarti mengurangi paru2 dunia, khususnya daerah tsb dong….Ya ampuunnn, kasian amat pemimpin kita, gak tahan godaan duit…Mau cepat kaya jangan jadi pemimpin, jadilah pengusaha.. Tugas pemimpin adalah mengatur daerah sebaik baiknya untuk rakyat seterus-terusnya..gak mumpung…(gak klise yakh, tapi emang mesti begitu…). Horas bah…! Dari: Ibu RT pemerhati lingkungan..

  11. yetty Says:

    Wah, benarkah? Kalo gt, teruskan perjuangan, lae. Bisa difoto ga aktivitas2 mereka pas nebang. Lalu posting.

  12. ABIT KV8 Pro Says:

    Mauliate godang bang Manurung, tetap pantau dan berikan gambaran perkembangannya kebijakan kontroversial ini. Karena saya cari pemberitaannya di situs harian2 Medan sepertinya tidak ada sama sekali, pas saya ketik keyword Bupati Samosir di Google sangat kaget melihat menemukan dan membaca artikel ini. Susah bagi para perantau untuk mengetahui berita kampung halaman Samosir kalau pemberitaannya saja minim. Kenapa ya? 😦

    Tuhan memberkati.

  13. Robert Manurung Says:

    @ asianti
    @ yetty
    @ ABIT KV8 Pro

    Wah sorry ya aku telat menanggapi. Kita patut bersyukur sebab kabarnya pembabatan hutan Tele sudah dihentikan. Mudah-mudahan untuk seterusnya. Nanti akan kubuat postingan tersendiri kalau sudah konfirm. Dan akan kucoba semampuku memberitakan perkembangan terbaru di TANO BATAK.

    Terima kasih atas solidaritas dan dukungannya.

    SAVE OUR NATURE

  14. Nema Simbolon Says:

    Horas! Terima kasih untuk Artikelnya Bang Manurung!
    Saya baru kembali dari Samosir, yg memang saya tidak lewatkan tiap tahunnya berlibur sambil Ziarah kemakam Ibu saya di Simbolon, yg kali ini saya ektra membawa suami dan anak kami yg berumur 3 Thn, begitu sedih saat melewati dan melihat keadaan hutannya yg hampir habis, dan bisa di bilang Botak.
    Sampai malu sendiri, sebagaimana bangganya saya menceritakan keindahan alam pulau Samosir ke suami rekan dan kerabat, yg akhirnya bisa dia lihat dengan mata kepala sendiri bahwa hutan tersebut tanpa pohon.
    So, katanya banyak orang di LN membantu organisasi2 untuk melestarikan Hutan yg ada di Indonesia, koq yg dia lihat sangat berbeda, tak terkecuali kita yg ikut ambil bagian dari organisasi itu merasa di bohongi?
    Jadi kemana kita mesti mengadu, sedangan para aparat pemerintah di sana bisa berbuat semaunya mereka menebanggi Hutan dengan banyak dalih!
    Save Our Forests

  15. Anonim Says:

    dasar kamu ya ! bupati mangindar dibilang begok

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: