Don’t Cry For Me Hutan Tele…

Oleh : Raja Huta

BENCANA apa yang akan terjadi kalau pembabatan hutan Tele dilanjutkan, kemudian di areal bekas hutan seluas 2.250 hektar tersebut ditanami bunga untuk komoditas ekspor ? Tulisan ini akan mengupas kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, secara natural dan supranatural sekaligus.

Secara natural, hilangnya hutan alam seluas 2.250 hektar pasti bukan perkara kecil. Yang pasti segera dirugikan adalah segala jenis burung yang hidup di hutan pusaka itu. Mereka terpaksa mengungsi, dan kemungkinan bakal punah.

Soalnya, pengungsian aneka jenis burung dalam jumlah yang mungkin puluhan ribu ekor tidaklah segampang memindahkan penduduk Kedung Ombo, ketika kampung halaman dan makam-makam leluhur mereka ditenggelamkan menjadi waduk oleh Orde Soeharto. Buat kawanan burung eks hutan Tele masalahnya bukan persoalan ganti rugi, melainkan harus bertempur untuk merebut habitat kawanan burung lain yang mendiami pepohonan di luar areal 2.250 hektar tersebut. Pasti bakal ada kawanan burung yang menjadi tunawisma dan itu berarti kematian.

Korban berikutnya adalah aneka jenis ular yang bakal kehilangan atap raksasa, berupa jutaan batang pohon yang menutupi areal seluas 2.250 hektar. Kita tahu semua jenis ular sangat pemalu. Mereka enggan tinggal di daerah terbuka. Entah berapa banyak keluarga ular yang tinggal di sana, dan lebih tidak terbayangkan lagi bakal migrasi kemana mereka.

Kemudian korban berikutnya, segala jenis kodok yang turun-temurun selama ribuan tahun berdomisili di hutan pusaka tersebut. Kodok-kodok yang malang itu akan kehilangan nyamuk-nyamuk yang merupakan makanan utama mereka. Kemudian genangan-genangan air tempat mereka bertelur dan istirahat akan mengering. Mampukah kawanan kodok tersebut merayap turun dari pinggang bukit di ketinggian ribuan meter tersebut, untuk mencari perkampungan baru di tepian Danau Toba yang pantainya umumnya curam ?

Kawanan nyamuk mungkin tidak akan begitu sengsara seperti para penghuni tangga lebih tinggi dalam rantai makanan, yang telah disebutkan di atas. Mereka dengan gampang bisa mengungsi ke semak-semak di luar areal 2.250 hektar hutan yang digunduli itu; atau bisa juga pindah ke perkampungan penduduk di sekitar situ. Dengan kata lain, para nyamuk justru merasa berhutang budi kepada Bupati Samosir Mangindar Simbolon; sebab kebijakannya membabat hutan Tele akan menjadi blessing in disguise bagi masyarakat nyamuk disana. Mereka bisa berpesta pora, tinggal pilih saja sesuai selera, mau darah merek Situmorang, Sinaga, Naibaho atau merek Simbolon, semuanya ada dan gratis.

* * *

BAGAIMANA dampaknya terhadap manusia ? Yang ini kita lewatkan dulu, karena dampaknya terhadap manusia bisa bersifat natural dan supranatural sekaligus. Mari kita lihat apa yang akan terjadi secara supranatural. Lebih jelasnya, apakah berbagai jenis begu (hantu/lelembut) yang sudah ribuan tahun berdomisili di hutan Tele akan diam dan menerima begitu saja “kampung halaman” mereka dirusak oleh “musuh” utama mereka, yaitu manusia ?

Kemudian tak kalah menariknya, apakah para begu akan tetap bertahan disana dan berubah menjadi begu yang romantis saking luasnya kebun bunga tumbuh di bekas hutan pusaka itu ? Ataukah mereka akan mengungsi ramai-ramai dan kemudian membentuk perkampungan baru ?

Menurut kosmologi Batak, sebelum Bangso Batak beralih mengimani agama-agama “impor”–yaitu Kristen dan Islam; begu adalah roh manusia yang telah meninggal dunia. Begu tinggal di luar pemukiman manusia, umumnya di lembah-lembah, hutan dan perbukitan; yang disebut parbeguan atau kompleks perkampungan kaum begu.

Masih menurut kosmologi Batak, begu memiliki pengaruh dan kuasa terhadap kehidupan manusia. Oleh karena itulah ada tradisi memberikan sesaji, dengan maksud agar begu lelulur tidak murka dan sebaliknya supaya mau melindungi keturunannya dari gangguan begu yang jahat. Adapun begu jahat adalah roh manusia yang mati secara tidak wajar, misalnya bunuh diri, atau yang terkena tulah semasa hidup.

Kalau mengacu pada kepercayaan lama Batak, kemungkinan populasi begu di hutan Tele sudah mencapai ratusan ribu. Entah apa istilahnya untuk menyebut satuan begu, kalau dibilang ekor toh mereka bukan hewan, kalau dibilang jiwa itu kan istilah untuk manusia hidup. Tapi apa pun itu, bisa diduga bahwa hutan Tele termasuk padat populasi begunya; sebab sebagian besar sejarah Batak berlangsung di sekitar kawasan itu.

Terus terang, aku sangat awam ihwal begu ini, meskipun gelar Raja Huta yang sekarang kusandang adalah gelar asli ompungku—yang merupakan tabib nomor satu di daerah Uluan dan termashur sampai ke Samosir. Sedangkan ompungku boru adalah keturunan Datu Bolon bermarga Sirait di Sait Ni Huta. Tapi tak secuil pun kebajikan lokal yang mereka miliki diwariskan padaku. Bukan menyesali, tapi sekadar apologi bahwa prediksi mengenai dampak pembabatan hutan Tele terhadap kaum begu hanya bisa kujelaskan sampai disini.

Yang bisa kutambahkan, biasanya begu tidak senang kalau tempat tinggalnya diganggu. Apalagi para begu jahat, mereka pasti melakukan pembalasan. Hiii…seram juga ya…

* * *

SEBELUM membahas dampak pembabatan hutan Tele terhadap manusia., perlu sedikit aku singgung bahwa Mangindar Simbolon adalah manusia Batak pertama yang punya nyali besar membabat hutan sampai 2.250 hektar di kawasan Hutan Tano Batak .

Memang, pada dasarnya manusia Batak sangat takut pada hutan. Pengertian hutan bagi orang Batak sejak zaman dahulu adalah batas terluar pemukiman manusia. Tempat segala bahaya dan sumber mala petaka, mulai dari binatang buas, penyamun sampai aneka macam begu. Karena itulah manusia Batak senantiasa menghindari hutan, bahkan siang hari pun hutan tetap ditakuti. Hanya para dukun sakti yang pergi ke hutan untuk bertapa atau menebang pohon untuk tiang rumah, itupun selalu dengan memberi sesaji.

Nah sekarang mari kita lihat bencana apa gerangan yang akan dituai oleh manusia di seputar Danau Toba akibat pembabatan hutan Tele. Kita mulai dari yang natural, baru kemudian yang supranatural.

Akan terjadi polemik yang menjurus pada kekerasan, antara penentang pembabatan hutan pusaka itu dan Bupati Mangindar Simbolon beserta para pendukungnya. Untuk saat ini wilayah ketegangan masih sebatas kawasan Tele, namun nantinya akan merembet ke seluruh Samosir dan kabupaten-kabupaten tetangganya.

Kemudian, akan terjadi wabah sakit pusing kepala pada penduduk sekitar dan para pemerhati di seluruh dunia. Kenapa ? Karena biar pun dipikirkan sampai botak, tetap tidak akan ada penjelasan yang logis mengenai cara pengiriman bunga dalam kontainer dari hutan Tele ke bandara Polonia Medan. Bagaimana caranya kontainer yang panjangnya 25 meter akan bermanuver, menikung dan menanjak secara ekstrim dari Tele sampai ke Medan. Mungkin masih di sekitar Tele saja kontainer sudah jatuh ke jurang.

Lebih masuk akal kalau investor Korea itu fokus hanya menjarah kayu di sana, yang nilai ekonomisnya diperkirakan Rp 400 milyar. Kalau semua pohon sudah ditebang, kemudian kayunya diolah sampai bahan setengah jadi untuk mebel, lalu diekspor ke Korea, mungkin saja disana akan dibikin kebun bunga asal-asalan; setelah itu si Korea kabur. Cerdik bukan ?

Lalu bagaimana nasib bekas hutan yang sudah gundul itu ? Longsor akan sering terjadi, baik karena hujan atau akibat gempa. Jalan sempit disana akan sering tersumbat tanah longsor. Lebih gawat lagi, ruas jalan di pinggang-pinggang bukit itu akan longsor akibat tekanan tanah perbukitan di atasnya, yang kehilangan pengikat– akar jutaan pohon yang dimangsa oleh si Korea.

Bencana selanjutnya akan terjadi seperti tumpukan kartu domino rubuh. Bencana longsor mungkin hanya menyengsarakan penduduk setempat dan para pemakai jalan yang melintas. Tapi kalau sampai awan di daerah Tele raib, kemungkinan dampaknya akan dirasakan seluruh penduduk Tapanuli, berupa curah hujan berkurang, arah angin berubah, suhu menjadi panas dan jumlah sungai yang mati bakal bertambah.

Bagaimana dengan bencana bersifat supranatural ? Percaya atau tidak, Pusuk Buhit dan Danau Toba adalah tempat dengan pusaran energi paling kuat di dunia. Terserah mau melihat secara sains atau supranatural, yang pasti, jika keseimbangan alam di daerah ini terganggu secara signifikan maka pusaran energi tersebut bakal terganggu pula. Kemudian dalam proses mencari titik seimbang baru, kemungkinan bakal terjadi fenomena alam yang dahsyat, yang merupakan bencana bagi manusia

Apakah gunung di perut Danau Toba akan meletus dengan kekuatan mega volcano, atau cincin api sepanjang pulau Sumatera menjadi aktif, sehingga ramalan ilmiah bahwa Sumatera bakal patah dua akan terjadi ?

Kalau menyangkut Danau Toba, memang bisa saja sains dan supranatural saling melengkapi, karena itu bukan danau biasa. Dan bisa saja pemicu bencana yang dahsyat itu hanya hutan kecil, seperti kancing pemicu pada bom ukurannya selalu lebih kecil daripada bomnya sendiri. (http://www.ayomerdeka.wordpress.com)

**Artikel ini dikutip secara utuh dari blog tobadreams.wordpress.com

Tag: , , , , ,

Satu Tanggapan to “Don’t Cry For Me Hutan Tele…”

  1. joan Says:

    molo nisuan gadong—-ba gadong do natubu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: