Siapa Butuh Akademi Cinta ? (1)

Oleh : Robert Manurung

Seharusnya kita merasa heran, mengapa di dunia ini tidak ada kursus, sekolah, akademi, fakultas atau universitas cinta  ?

SEJAK awal sejarah peradaban, manusia selalu menghabiskan usianya untuk mempelajari dan merenungkan segala hal yang ada (juga yang tidak ada) di dunia ini. Di zaman moderen,   bangsa-bangsa yang maju mengirimkan tim ekspedisi ke dasar samudra yang gelap dan ke angkasa luar yang liar, dengan ongkos sangat mahal dan mempertaruhkan nyawa; demi menyingkap secuil dari misteri besar tentang  keberadaan kita di bumi ini.

Tapi ironisnya, umat manusia tidak pernah melakukan studi dan ekspedisi yang serius ke pusat eksistensinya yang paling utama dan intim, yaitu CINTA.

Manusia memang mahluk yang rumit, ironis dan tragis. Dalam usahanya memahami dirinya dan eksistensinya, manusia justru keluar dan menjauh dari dirinya sendiri. Hasilnya, manusia sudah mampu memanipulasi mahluk lain–dan sedang berusaha melakukannya terhadap alam,  demi memperkokoh landasan eksistensinya di alam semesta ini.

Ribuan jenis flora dan fauna telah punah, dikorbankan, demi memastikan bahwa kelangsungan eksistensi manusia di alam raya ini harus berlanjut. Lebih berani dan ambisius lagi, manusia telah berkali-kali memodifikasi dan memanipulasi cara-caranya sendiri dalam meyakini keberadaan Tuhan dan kuasaNya terhadap manusia.

Namun manusia telah mengabaikan hal yang paling penting, dan justru merupakan alasan  utama kalau bukan satu-satunya–dalam perjuangan yang berlangsung dari generasi ke generasi– untuk menghindar dari resiko kepunahan; yaitu cinta. Ya, cinta adalah elemen utama di dalam pusat eksistensi kita. Cinta adalah alasan dan sekaligus tujuan manusia mengembara di alam raya ini.

Dalam hubungan dengan sesama manusia pun, cinta adalah ikatan tertinggi dan sekaligus sumber perpisahan. Cinta adalah alasan utama untuk membangun dan mencipta. Demikian pula sebaliknya, cinta adalah alasan utama untuk menghancurkan dan membunuh.

Pendek kata, manusia tidak bisa hidup tanpa cinta. Namun alangkah ironis dan tragisnya, kebanyakan manusia tidak mampu memahami hakikat cinta, dan menjadi menderita karenanya.

Mengapa tidak ada kursus, sekolah, akademi, fakultas dan universitas cinta di dunia ini ?  

 * * *       

COBALAH renungkan apa saja yang telah terjadi dengan hidupmu. Pada saat kecil engkau disekolahkan untuk mempelajari seni dan teknik yang memang sangat engkau butuhkan untuk hidup. Pada masa yang sama engkau diajarkan secara sekilas mengenai cinta  terhadap sesama manusia, bangsa dan negara,  juga terhadap hewan dan mahluk ciptaan Tuhan yang lain. Dan biasanya, para orang tua akan memasukkan anak-anaknya ke kelas khusus untuk mempelajari cinta terhadap Tuhan; yaitu sekolah minggu (Kristen) dan belajar mengaji (Islam). Tentu program sejenis terdapat pula dalam agama  lain.

Setelah lulus SMA, bisalah diandaikan bahwa engkau sudah memiliki bekal dasar untuk sekadar bertahan hidup. Engkau telah menguasai beberapa keterampilan yang memadai mengenai cara mendapat makanan, cara menjaga diri dan menghindar dari bahaya, cara membangun hubungan dan menjadikan orang lain sebagai sekutu, mengerti norma-norma sosial, hukum dan etika dasar; dan mulai bisa memahami apa yang diharapkan darimu sebagai anggota keluarga, masyarakat, bangsa dan negara, serta sebagai warga dunia. Mungkin juga engkau telah merasa mantap mengenai persoalan-persoalan yang lebih rumit, yaitu makna eksistensimu, hubunganmu dengan Tuhan dan kehidupan setelah mati.

Beres ? Kelihatannya begitu, namun sebenarnya masih ada yang kurang, dan justru itulah yang terpenting. Apa itu ? Masalah cinta diri (Self Love) dan cinta erotis. Ini perangkap besar yang selalu direspon secara keliru oleh umat manusia. Hal ini akan menjelaskan mengapa begitu banyak orang merasa sengsara di bumi ini, tak terkecuali mereka yang makmur, hidup mewah, populer dan menikmati banyak perlakuan istimewa dalam kehidupan sosial.

Kekeliruan pertama : jangankan diajar, dilatih dan diberikan pencerahan perihal cinta diri;  hampir semua peradaban manusia melakukan tindakan sebaliknya, yaitu mengajar, melatih dan bahkan memaksa individu-individu untuk tidak mencintai diri sendiri. Dan itu dianggap sebagai kebajikan. Sumber kekeliruan ini, kenapa orang-orang yang mencintai dirinya dicap narsis dan anti-sosial, adalah kerancuan dalam membedakan cinta diri dengan mementingkan diri. Itu dua hal yang berbeda, namun dalam kehidupan sosial dianggap sama.

Kekeliruan kedua : adanya anggapan bahwa cinta erotis tidak perlu dipelajari atau malah tidak mungkin bisa dipelajari. Dalihnya, seiring datangnya kematangan seksual dan kedewasaan berpikir maka kemampuan memahami dan melakoni cinta erotis akan datang dengan sendirinya, dan bakal mapan bersama berjalannya waktu.

Ironisnya, anggapan ini masih tetap dipertahankan, kendati sudah terbukti bahwa prosentase kegagalan manusia dalam urusan cinta erotis ini lebih besar dibandingkan segelintir saja yang berhasil atau kebetulan beruntung.   

Apakah engkau termasuk yang beruntung, kawan  ? (Bersambung)

Iklan

Tag: , , ,

15 Tanggapan to “Siapa Butuh Akademi Cinta ? (1)”

  1. Sawali Tuhusetya Says:

    wew… tumben, bung robert ngomongin masalah cinta. tapi yang saya salut pendekatan yang digunakan bung robert dalam tulisan ini. tak terjebak dalam perangkap kata2 romantis dan sentimentil. namun, memberikan pencerahan bagaimana seseorang seharusnya mendapatkan cinta yang hakiki,

  2. Faradina Says:

    Sependapat dgn pak Sawali. Gak ada angin, gak ada hujan, tiba2 pak Robert mengulas tentang cinta. Tapi masih seperti biasa, tetap dgn gaya provokatornya. Itu pasti.

  3. tasmerah Says:

    Bung, numpang lewat…
    kayaknya kita butuh akademi cinta ya,…termasuk temen-temen yang pakai baju coklat, ijo, yang tiap hari apel pagi, absen, duduk, diem, sarapan, ngobrol, trus pulang…

  4. Robert Manurung Says:

    @ Sawali Tuhusetya

    Memang tumben Pak. Tapi aku juga surprise karena Pak Sawali mengangap artikel ini sesuatu yang serius. Sebenarnya isinya sudah klasik; kecuali koreksi mengenai cinta diri dan cinta erotis.

    Jujur, tulisan ini memang sengaja aku beri kemasan yang luks, sehingga cinta yang sangat sehari-hari itu nampak seperti satu paket pengetahuan yang mewah. Aku nyolong trik pemasaran mutakhir hehehe….

    Btw, apakah benar baru ini aku menulis tentang cinta ? Rasanya setiap postinganku di blog ini adalah melulu tentang cinta dan terlahir dari cinta, termasuk tulisan-tulisanku yang mungkin dianggap terlalu pedas atau terlalu pahit. Iya kan Pak Guru ?

  5. Robert Manurung Says:

    @ tasmerah

    Silakan Mas kalau mau numpang lewat. Tapi kita kenalan dulu dong. Aku provokator, yang tiap hari ngomporin orang hehehe….

    Kalau mengenai orang-orang di balik seragam coklat dan ijo itu, aku setuju, memang sudah saatnya mereka mendapat mata kuliah khusus mengenai cinta. Mudah-mudahan mereka bisa disadarkan, bahwa kadar cinta bisa diukur dari cara mengarahkan moncong meriam. Kalau arahnya ke dalam, itu pertanda kurang cinta pada rakyat; sebaliknya kalau moncong meriam mengarah ke luar itu tanda patriotisme dan siap bela negara. Tapi kalau sudah pulang ke rumah, mereka harus diingatkan untuk berpikir terbalik hehehe….

  6. indra1082 Says:

    Wah Sekolah Cinta?? boleh juga tuh

  7. manusiasuper Says:

    Cinta itu bukannya memang ada dari sononya pak? Siapa pula yang bisa mengajarkan cinta?

  8. Robert Manurung Says:

    @ Faradina

    Aku merasa geer banget membaca bagian akhir komentarmu, yang ini,”Tapi masih seperti biasa, tetap dengan gaya provokatornya. Itu pasti.”

    Trims ya Faradina. Itu sanjungan yang aku terima di awal tahun ini hehehe…

    btw, blogmu sekarang makin keren euy. Maju terus!

    @ indra

    Yup…sekolah cinta. Mau mendaftar nggak ?

    @ manusia super

    Cinta sama saja dengan kemampuan-kemampuan kita yang lain, bisa dilatih, ditingkatkan dan dikembangkan. Yang bisa mengajarkan cinta tentu saja yang ahli meengenai cinta.

    Untuk gampangnya bandingkan aja dengan latihan seni. Pada dasarnya semua orang adalah pemusik pasif, tapi kalau mau trampil ya harus latihan dan latihan terus, terutama olahrasa.

  9. rumahkayubekas Says:

    Wah wah… berat- berat ni mah…
    Tapi rasanya ngga perlu lagi koq ah…
    Sejak kita lahir, kita dah dibekali dengan kepekaan akan cinta. Cinta akan diri- sendiri, dan cinta kepada yang lain.
    hanya dengan berjalannya waktu, kita sering sengaja atau tidak sengaja berpaling ke hal- hal lain yang kita kira lebih baik.
    Bukannya semakin mengasah kepekaan kita akan cinta, tetapi barangkali jadinya semakin mengaburkannya.
    Dan barangkali juga ini adalah sebagian dari penyebab terjadinya hal2 yg tidak baik, atau keburukan disekitar kita.

  10. togarsilaban Says:

    Ya, mudah-mudahan tidak keterusan memprovokatori cinta yang cengeng. Dan tidak pula bergeser focus provokatornya.
    Tapi “theme”nya juga berubah kok (apa komputer saya yang lagi dolll).

    Selamat ber cinta ria.

  11. Robert Manurung Says:

    @ rumahkayubekas

    Memang, itu anggapan terbesar yang ada di dunia ini, bahwa cinta akan bekerja sendiri dan membereskan segalanya. Benarkah begitu ?

    Dengan postingan ini aku pengen memprovokasi (benar faradina) pembaca untuk mikir ulang mengenai apa yang sudah terlanjur dianggap aksioma. Apa iya sih cara pandang kita mengenai cinta sudah begitu baku dan membeku ?

    Yang paling menggoda adalah mengenai cinta erotis, probablitasnya yang tak teramalkan dan sifat pertaruhan di dalamnya. Coba bayangkan, seseorang yang selama puluhan tahun merasa hidup bahagia, sejahtera dan mapan tiba-tiba hidupnya gonjang-ganjing cuma lantaran jatuh cinta. Bagaimana kalau dia sudah berumah tangga ?

    Trims untuk komentarnya, Kang. Itu feedback yang sangat bergarga.
    Salam Merdeka!

  12. Robert Manurung Says:

    @ togarsilaban

    Hahaha…bisa saja Laeku ini. Tak mungkinlah awak ini ngebahas soal cinta yang cengeng, meskipun aku bisa menghargai hal-hal semacam itu di tempat lain, bukan di blog ini donk.

    Theme blog ini memang berubah, jadi hitam pekat. Itu tanda berkabung atas pengrusakan alam dan lingkungan hidup di negeri tercinta ini, terutama di Tano Batak. Secara khusus itu tanda dukunganku bagi perjuangan menyelamatkan hutan Tele. Kalau hutan itu berhasil diselamatkan, barulah theme blog ini kunormalkan. sekarang sedang abnolmal nih Lae.

    M E R D E K A !

  13. up2uCallMe Says:

    Kalau ada yang namanya akademi cinta, kira – kira yang dibahas apa aja tuh?
    Apakah cuma eksistensi cinta semata?dan mencari permasalahan sampai keakar-akarnya?
    Kira – kira yang mampu jadi gurunya siapa ya?
    Kalau ada yang bisa jadi gurunya, tentu saja yang ahli dalam hal ini.

    Satu pertanyaan lagi,
    Provokator VS Rebellion…Bedanya???

  14. arum_sept Says:

    Cinta itu seperti spirtus, sejuknya sesaat lalu dia menguap tanpa bekas.

  15. SIALLAGAN Says:

    Seseorang yang kupilih dan memilihku, selalu berkata, “Ga usah ngomel soal cinta. Rasakan saja, dan bersetialah untuk setiap kebenaran yang menghidupkan dalam rasa itu.” Hehe. Ini bukan kataku loh….!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: