Krisis Susu & Pemerintah yang Bebal

Oleh : Robert Manurung

GEGER bakteri dalam susu formula membuktikan satu hal : pemerintah kita benar-benar bebal dan tidak punya hati nurani. Sudah satu minggu, rakyat dibiarkan bingung dan terteror.

Pemerintah apaan ini, kok tidak memiliki sense of crisis dalam situasi yang begitu mencekam batin masyarakat ?

Buat apa ada pemerintah kalau tidak bisa berfungsi semestinya : bertindak cepat untuk memetakan permasalahan, melokalisir sumber masalah, melakukan pemeriksaan dan pengujian, mengungkapkan secara terbuka dan jujur kepada masyarakat mengenai keadaan yang sebenarnya, dan membuka Crisis Centre untuk menampung pengaduan dari masyarakat ?

Terlalu mulukkah untuk mengharapkan hal-hal yang standar seperti itu dari pemerintah sebuah negara yang sudah 62 tahun merdeka ?

Apakah Susilo Bambang Yudhoyono begitu cepatnya melupakan bahwa yang mengantar dia ke jabatan yang mulia, Presiden Republik Indonesia, adalah kaum perempuan dan terutama para ibu rumah tangga ?

Tak mampukah Presiden SBY menyelami kerisauan batin puluhan juta kaum ibu di negeri ini, yang setiap kali akan memberikan susu formula kepada anaknya senantiasa diteror oleh keraguan dan ketakutan : jangan-jangan aku sedang meminumkan racun kepada anakku yang tercinta ? Jangan-jangan aku sedang membunuh anakku sendiri ?

MENGAPA pemerintah tidak segera menyatakan situasi awas, siaga dan semacamnya; sebagaimana halnya jika ada gejala bakal terjadi letusan gunung berapi ?

Mengapa pemerintah malah menyodorkan alasan : bahwa sampai sekarang belum ada laporan mengenai bayi yang sakit karena minum susu formula ? Apakah pemerintah menunggu korban berjatuhan lebih dulu, seperti pada kasus flu burung, dimana tindakan preventif dilakukan terkesan karena panik, sehingga berlebihan dan overacting ?

Apakah pemerintah menganggap masyarakat begitu bodoh, bisa ditenangkan dengan sebuah pernyataan dari menteri kesehatan, bahwa semua susu formula aman untuk dikonsumsi ? Bukankah geger bakteri dalam susu formula ini dipicu oleh sebuah hasil penelitian, sehingga sudah sewajarnya bukan kalau “lagu nina bobo” dari menteri kesehatan itu mesti berdasarkan hasil penelitian pula ?

Kira-kira bagaimana perasaan menteri kesehatan dan presiden melihat 50 ibu-ibu beserta bayi mereka, seperti dilaporkan harian Kompas edisi Minggu (2/3), melakukan unjuk rasa di bundaran HI dan menuntut pemerintah mengusut tuntas tercemarnya susu formula oleh bakteri Enterobacter sakazaki, padahal pemerintah sudah menyatakan semua susu formula aman dikonsumsi ?

Bukankah itu satu bukti bahwa rakyat, lebih tepatnya para ibu yang cemas dengan keselamatan bayinya, ternyata tidak percaya pada apa yang dikatakan pemerintah?

Apakah ada satu orang saja di dalam pemerintahan SBY-JK yang mampu dan mau melihat aksi unjuk rasa itu sebagai cermin keadaan batin masyarakat yang sejujurnya ketimbang sebuah aksi politik ?

Apakah Presiden SBY beserta seluruh jajarannya tidak merasa malu dengan adanya aksi unjuk rasa para ibu dan bayinya itu ? Bukankah aksi unjuk rasa itu sejatinya adalah gugatan moral yang disampaikan dengan lembut, namun menikam ke dasar semua ajaran moral yang kita anut dan membuat kita masih bangga menyebut diri manusia ?

Bukankah aksi unjuk rasa para ibu dan bayinya itu sejatinya adalah sebuah permohonan dan jeritan dari dasar hati yang paling dalam, agar pemerintah jangan mempertaruhkan dan mengorbankan kesehatan serta keselamatan puluhan juta tunas-tunas muda bangsa, cuma untuk melindungi kepentingan bisnis segelintir pengusaha ?

Apakah tidak lebih bijaksana demi kebaikan semua pihak; demi memulihkan kepercayaan masyarakat—dan demi kepentingan industri susu nasional, kalau pemerintah membenarkan hasil penelitian IPB dan kemudian mengumumkan merek susu apa saja yang tercemar bakteri ES ? Atau pilihan lainnya, jika memang hasil penelitian IPB tidak valid secara ilmiah, bukankah lebih baik jika pemerintah (didukung lembaga ilmiah yang terpercaya) menetapkan bahwa hasil penelitian IPB itu tidak layak dipercaya ?

Apakah opsi satu-satunya yang dipunyai pemerintah hanya melindungi kepentingan bisnis perusahaan susu yang memproduksi susu formula yang tercemar bakteri ES tersebut ?

JIKA memang demikian, Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhono, Bapak Wakil Presiden Jusuf Kalla, para menteri dan seluruh jajaran birokrasi; kalian semua sudah kehilangan dasar moral dan kepercayaan rakyat untuk memimpin Bangsa Indonesia dan Negara Republik Indonesia.

Kalian tidak layak lagi menyandang simbol-simbol kenegaraan itu, karena kalian sudah menghianati aspirasi rakyat, pemegang kedaulatan tertinggi, pemberi mandat dan kumpulan majikan yang seharusnya kalian layani dengan dedikasi yang tulus dan kerja sebaik-baiknya.

Kalian sudah dipecat di hati takyat, terutama di hati puluhan juta ibu di negeri yang malang ini.

(ayomerdeka.wordpress.com)

Iklan

Tag: , , , , ,

6 Tanggapan to “Krisis Susu & Pemerintah yang Bebal”

  1. Advokat Listiana Says:

    Kan masih banyak ASI (air susu ibu)!!!

  2. rizapratama Says:

    susu apa aja yang masih banyak

  3. parbutaran Says:

    jangan mau ketipu apa media

  4. padma Says:

    Cari dulu informasi yang lebih lengkap tentang penelitian IPB tersebut, baru kasih komentar yang layak. Jangan asal emosi..

  5. Robert Manurung Says:

    @ Advokat Listiana
    @rizapratama

    Masalahnya bukan krisis distribusi, tapi krisis kepercayaan masyarakat lantaran situasi yang tak jelas.

    Soal masih banyak ASI, bagaimana dengan anak usia 4 tahun yang sudah lama disapih, apa disuruh “kembali ke habitatnya” ?

  6. Robert Manurung Says:

    @ parbutaran
    @ padma

    Gampang saja sih bilang jangan percaya media atau cari informasi lebih lengkap tetang penelitian IPB. Lalu, buat apa ada pemerintah dan negara kalau masyarakat suruh cari sendiri informasi yang layak dipercaya, kemudian suruh meneliti pula apakah hasil penelitian IPB valid…kasihan dong masyarakat kita, sudah hidup susah, sekarang ditambah dengan situasi tak pasti.

    Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: