Badawi vs Anwar Ibrahim, Personal Vendetta ?

Oleh : Robert Manurung

PEMILU Malaysia yang dilaksanakan hari ini sudah seperti personal vendetta atau pelampiasan dendam pribadi, antara Perdana Menteri Abdullah Ahmad Badawi dan pemimpin oposisi Anwar Ibrahim. Sebenarnya Anwar-lah yang harus balas dendam, lantaran dirampas kebebasannya, dihancurkan karir politiknya dan dirusak nama baiknya. Tapi, aneh bin ajaib, justru dialah yang lagi-lagi menjadi sasaran permainan politik kotor, dan pembunuhan karakter.

“Anwar bukan hal penting bagi saya. Anwar tidak mungkin kembali berkuasa,”kata Badawi dua hari lalu. Pernyataan ini merupakan bagian dari siasat Barisan Nasional, aliansi politik yang berkuasa di Malaysia, untuk mendiskreditkan Anwar yang kini kembali mencuat sebagai idola masyarakat.

“Sudah sangat mustahil Anwar akan kembali ke pemerintahan,”imbuh Badawi. Rupanya tak puas hanya mendiskreditkan sang penantang, PM Malaysia itu kemudian dengan kasar menyerang Anwar secara personal. Sesuatu yang tak mungkin terjadi di negara barat yang paling liberal sekali pun. Tapi ini toh terjadi, di sebuah negara yang membanggakan budaya Melayu sebagai budaya yang santun. “Jangan pilih Anwar Ibrahim,”kata Badawi sembari melecehkan integritas Anwar, dengan menyebutnya pemimpin yang egois.

Di negara-negara barat yang paling liberal sekali pun, kampanye seperti itu pasti dirasakan sudah terlalu kasar dan kotor. Bandingkan dengan kampanye yang sedang berlangsung di Amerika Serikat, Ketika Hilary Clinton menyerang Obama dengan meragukan kemampuannya mengatasi masalah politik internasional, itu saja sudah dianggap kampanye negatif. Tapi mustahil Obama mengatakan, “Jangan pilih Hilary,”. Begitu pula sebaliknya, tak mungkin Hilary mengucapkan hal semacam itu.

Sangat jelas, selain mengalami kepanikan yang luar biasa, Barisan Nasional yang dipimpin Badawi masih merasa bisa sewenang-senang, sehingga makin arogan dan otoriter untuk menggilas kubu oposisi. Sebenarnya cara-cara machiaveli tersebut sudah tidak cocok lagi dengan situasi psikologis masyarakat Malaysia, yang kini menuntut demokratisasi dan mendambakan budaya politik yang lebih elegan.

Sama-sama murid Mahathir

Rivalitas antara Badawi dan Anwar dalam pemilu kali ini adalah babak lanjutan dari drama politik Malaysia, yang dalam dua dekade terakhir berpusat pada aktor utama : Mahathir Mohammad. Badawi dan Anwar adalah anak-anak ideologisnya Mahathir, namun keduanya menikmati nasib yang bertolak belakang akibat politik “belah bambu” yang dimainkan Mahathir.

Anwar adalah putra mahkota paling cemerlang dan paling dibanggakan Mahathir. Seorang ahli ekonomi yang cakap, tokoh antikorupsi yang konsisten, putra Melayu yang amat mencintai negerinya dan puaknya, dan mengimpikan kebangkitan kembali ras Melayu untuk kelak mensejajarkan diri dengan barat.. Sebaliknya Badawi hanyalah politisi biasa, tapi disukai Mahathir karena kepatuhannya.

Adalah Mahathir sendiri menuntun jalan Anwar Ibrahim berkarir di pemerintahan dan menjadi politisi di UMNO, yaitu mulai 1982. Sejak itu karirnya langsung melejit seperti meteor. Tahun 1984 dia terpilih menjadi Ketua Pemuda UMNO, kemudian pada 1986 sudah menjadi Wakil Ketua UMNO di bawah Mahathir. Jabatan Menteri Pemuda dan Olahraga didudukinya pada 1983, lalu pada 1984 menjadi Menteri Pertanian, tahun 1986 Menteri Pendidikan, tahun 1991-1998 Menteri Ekonomi dan Deputy Perdana Menteri pada tahun 1993-1998.

Kemudian, seperti dalam kisah dongeng saja, dengan sangat mendadak matahari muda itu dipadamkan sinarnya. Hanya dengan sebuah manuver kecil dari sang Godfather Mahathir, karir politik dan reputasi Anwar pun hancur lebur, tahun 1998.From Hero to Zero. Padahal; setahun sebelumnya dia masih sempat mengorbit di pentas internasional, dan disebut-sebut sebagai bintang Kebangkitan Asia, setelah sukses membawa Malaysia keluar dari krisis ekonomi dan mengkampanyekan tindakan tegas untuk memberantas korupsi.

Popularitas Anwar yang kelewat cepat dan pengaruhnya yang terlalu kuat, rupanya malah menakutkan bagi Mahathir. “Macan” hasil didikannya itu dianggapnya sudah berbalik mengigit dan siap menerkam kekuasaannya. Lalu, dengan tuduhan yang sampai sekarang tidak dapat dibuktikan–melakukan pencabulan dan sodomi, Anwar pun dijebloskan ke penjara. Kedudukannya sebagai Deputy Perdana Menteri digantikan oleh Badawi, yang kemudian naik pangkat menjadi PM setelah Mahathir melengserkan diri.

Rebound of the Superstar

Kini Anwar sudah menikmati kembali udara kebebasan, namun dalam pemilu kali ini dia belum boleh ikut memilih, karena masih terkena larangan terlibat dalam politik hingga April mendatang. Anwar sungguh beruntung meliki isteri yang setia, cerdas dan tabah, Wan Azizah, yang menggalang kekuatan politik baginya selama dia di penjara. Wan Azizah kini masih menjabat Presiden Partai Keadilan Rakyat (PKR), namun sebentar lagi jabatan itu akan diserahkan kepada suami tercinta; setelah hak politik Anwar pulih.

“Saya hanya memberi jalan bagi Anwar, dan tugas saya sudah selesai,”kata Wan Azizah kepada kantor berita AFP. Perempuan berpembawaan lembut ini sungguh permata yang berharga bagi kebangkitan kembali Anwar Ibrahim di pentas politik Malaysia. Wan Azizah telah menghadirkan alternatif yang segar di dunia politik Malaysia–yang kental dengan watak konspirasi dan elitis, menjadi sesuatu yang terbuka dan mengakar.

Kalau diibaratkan superstar sepakbola yang lama tidak bermain lantaran cedera berkepanjangan, seperti halnya Ronaldo, maka rebound Anwar di panggung politik Malaysia tampaknya bakal lebih mudah. Pasalnya, selain organisasi dan networking politik yang dibangun isterinya sudah cukup kuat, pada saat yang sama aliansi yang berkuasa—yaitu Barisan Nasional, sedang memengalami kemunduran dan melemah karena konflik-konflik internal. Kemudian, bangkitnya kesadaran etnis India untuk menuntut keadilan, dan menguatnya aspirasi kaum muda menuntut demokratisasi, semuanya itu sangat menolong Anwar mendapatkan momentum politik yang tepat.

Kini, untuk pertama kalinya sejak Malaysia merdeka setengah abad silam, pemilu di negara yang menganut sistem parlementer itu bakal diwarnai persaingan ketat. Hal itu sudah bisa dibaca dari respon rezim berkuasa yang tampak sangat panik. Badawi, bertolak belakang dengan kata-katanya sendiri, tak mungkin menyepelekan Anwar begitu saja. Biar bagaimana pun, sejarah akan mencatat nama Anwar sebagai tokoh oposisi pertama di Malaysia yang layak diperhitungkan untuk menjadi PM.

Namun Wan Azizah sendiri lebih cenderung melihat pemilu kali ini sebagai warming up buat Anwar. Pertarungan sesungguhnya untuk merebut jabatan PM, menurut politisi yang lebih suka kembali menekuni pekerjaannya sebagai dokter itu, adalah pada pemilu sekali lagi. Tapi siapa yang tahu apa kata hati rakyat Malaysia ?

Tag: , , , , , , , , , , , , , , ,

10 Tanggapan to “Badawi vs Anwar Ibrahim, Personal Vendetta ?”

  1. Farul Azri Says:

    Inshaallah… Anwar Ibrahim akan kembali memerintah..!! REFORMASI..!!

  2. kefli Says:

    anwar bakal pm malaysia

  3. hariadhi Says:

    Badawi stress kali… kemarin baca di Sindo BN kalah di negara bagian Penang.😆 Hayo saudara melayu, berbuatlah sesuatu untuk masa depanmu.

  4. elwydamara Says:

    Kepemimpinan Badawi tlah mendzalimi banyak manusia, termasuk Indonesia.

  5. sonia 08 Says:

    apa kaitan indonesia dengan YAB Abdullahj badawi. Kamu keliru dong.

  6. salampan Says:

    doa anwar tidak sekali2 jadi PM . anwar pembohong, setiap apa yang dikata dan janji tidak ditepati. tTunggu dan lihat.

  7. Robert Manurung Says:

    @ Farul Azri

    Semoga demikian. Tapi bukankah lebih penting kalau Anwar berhasil memperjuangkan reformasi, dan kemudian dia menjadi guru bangsa ?

    Selamat buat anda semua pendukung Anwar Ibrahim. Menurutku dia itu salah satu tokoh Asia yang smart dan mencintai bangsa dan negaranya. Kalau tokoh-tokoh Asia lainnya kebanyakan sudah jadi penghianat terhadap bangsa dan negaranya, karena mengabdi pada kapitalis barat.

    Salam REFORMASI

    @ kefli

    Semoga.
    Salam kenal kawan, aku tinggal di Jakarta. terima kasih

    @ hariadhi

    Memang stress dia karena digebukin oleh kawan dan lawan. Belakangan ini mentornya sendiri, Mahathir, sangat aktif membuat pernyataan yang mencela dan mendiskreditkan Badawi. Sementara Anwar dengan tegas mengatakan kebijakan ekonominya Badawi itu NGAWUR.

    Terima kasih kawan. Ternyata anda tertarik juga dengan gejolak
    perubahan politilk di negara jiran kita.

    @ elwydamara

    Ternyata kita punya pandangan yang sama soal ini. Salam REFORMASI.

    @ sonia 08

    Maaf, aku kurang paham di mana letak kelirunya aku. Kemudian mengenai kaitan Indonsia dengan Badawi, ini juga pernyataan atau pertanyaan yang kurang jelas.

    Kalau yang anda maksud kenapa aku sebagai orang Indonsia ikut mengomentari Badawi atau politik malaysia, kayaknya anda sudah sangat ketinggalan zaman. Tahun 60-an Bung Karno sudah pidato di PBB dengan tema “Mankind is One”. Jadi, sebagai sesama manusia dan sebagai sesama rakyat, apa yang dialami rakyat malaysia tentu membuat kami bersimpati dan menaruh empati.

    Salam kenal dari Indonesia.

    @ salampan

    Ini pernyataan yang menarik. Cuba kasih beberapa contoh untuk mendukung pernyataan anda ini. Terus terang dalam beberapa hal ada yang kukagumi pada Anwar, tapi dalam mengagumi aku tak pernah membabibuta.

    salam hangat dari Indonesia.

  8. khalid Says:

    anwar ibrahim…semoga kamu sukses..kamulah pencinta bangsa..kamulah pelindung bangsa…hidup anwar

  9. Abdullah Maraleh Says:

    Semoga Anwar Ibrahim menjadi penyelamat Umat Melayu dan menjadi ahli UMNO semula seterusnya menjadi Perdana Menteri Malaysia

  10. adi isa Says:

    malaysia itu negara penakut, orang macam anwar cuma ada 1 di malaysiamaling.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: