Totto-chan, Pendidikan Berbasis Kepribadian (1)

Aku yakin jika sekarang ada sekolah-sekolah seperti Tomoe, kejahatan dan kekerasan yang begitu sering kita dengar sekarang dan banyaknya anak putus sekolah akan jauh berkurang. Di Tomoe tak ada anak yang ingin pulang ke rumah setelah jam pelajaran selesai. Dan di pagi hari, kami tak sabar ingin segera sampai ke sana.

Dalam kasusku sendiri, sulit bagiku untuk mengukur betapa aku sangat tertolong oleh caranya mengatakan padaku, berulang-ulang,”Kau anak yang benar-benar baik, kau tahu itu kan ?”

Seandainya aku tidak bersekolah di Tomoe dan tidak pernah bertemu Mr.Kobayashi, mungkin aku akan dicap anak nakal, tumbuh tanpa rasa percaya diri, menderita kelainan jiwa dan bingung.

Oleh : Robert Manurung

PERNAHKAH Anda membaca kesan seseorang yang begitu tulus mengagumi dan merasa berhutang budi terhadap gurunya, serta mencintai sekolahnya di masa kecil, seperti diekspresikan Totto-chan di atas ? Mustahil! Apalagi di Indonesia, dimana sistem pendidikan yang ada justru “membonsai” anak-anak yang kaya imajinasi dan serba ingin tahu seperti Totto-chan–yang dengan gampang dicap “biang kerok di sekolah dan punya kelainan”.

Tentu ada juga murid atau mahasiswa di Indonesia yang membanggakan almamaternya. Tapi bisa dipastikan, apa yang mereka banggakan cuma hal-hal bersifat fisik dan kapitalistik; misalnya fasilitas serba wah yang dimiliki sekolah/kampusnya, status sebagai sekolah/perguruan tinggi unggulan; sekolah/kampusnya juara basket nasional, dan karena banyak anak orang kaya serta artis tenar di sekolah/kampusnya.

Semua itu tidak ada artinya dibanding Tomoe Gakuen yang dibanggakan Totto-chan, yang telah menyelamatkan dirinya dari ‘pembantaian” secara sistemik oleh sekolah konvensional. Didirikan oleh guru yang sungguh idealis, Sosaku Kobayashi, keunikan sekolah itu sudah tampak dan terasa sejak di pintu gerbang—berupa dua batang pohon, lengkap dengan ranting dan daun-daunnya. Sebuah pesan yang sangat jelas dan konkret bahwa proses pendidikan harus intim dengan alam.

Tomoe Gakuen didirikan oleh Kobayashi di Tokyo pada 1937, beberapa saat setelah ahli pendidikan yang sangat mencintai anak-anak ini pulang dari menimba ilmu di Eropa. Jelas, ini adalah sebuah sekolah eksperimen. Sebenarnya, pada waktu itu Jepang sudah menganut sistem pendidikan yang seragam secara nasional, tapi Tomoe Gakuen bisa tumbuh di luar sistem karena dijalankan secara sembunyi-sembunyi, dan lantaran Kobayashi sendiri adalah tokoh yang sangat dihormati di Departemen Pendidikan.

Kalau dikatakan bahwa Tomoe Gakuen adalah “sekolah buangan”, mungkin Anda yang telah membaca Laskar Pelangi akan segera teringat pada perjuangan anak-anak miskin di Belitung untuk bersekolah, yang dikisahkan dengan sangat mengharukan dalam novel karya Andrea Hirata itu. Tapi ada perbedaannya yang sangat mencolok, dimana problem utama Totto-chan dan para murid Tomoe Gakuen bukanlah kemiskinan, melainkan penolakan oleh sistem pendidikan konvensional yang mencap mereka sebagai “anak bandel, tidak bisa diatur, menyimpang dan biang kerok di sekolah.”

Tapi sebenarnya, keistimewaan Tomoe Gakuen bukan sekadar lantaran sekolah itu bersedia menampung anak-anak yang dikeluarkan dari sekolah lain, termasuk Totto-chan. Bukan pula karena ruang kelasnya yang lain dari pada yang lain, yaitu bekas gerbong kereta api, melainkan sistem pendidikannya yang berbasis kepribadian.

* * *

TOTTO-chan sebenarnya bukan anak yang nakal. Malah sebaliknya, dia anak kecil dengan perasaan yang sangat halus. Ketika anjing gembala Jerman yang sangat disayanginya, Rocky, menggigit telinganya sampai nyaris putus—saat mereka bermain”serigala” di kamarnya, yang dicemaskan Totto-chan bukan telinganya tapi kemungkinan Rocky diusir oleh Mama dan Papa.

Jangan marahi Rocky! Jangan marahi Rocky,”jerit Totto-chan sambil mendekap anjing kesayangannya itu, ketika Mama datang ke kamar karena terkejut mendengar jeritan anaknya.Roknya bersimbah darah dan telinganya yang menggantung terlihat sangat mengerikan. Rocky meringkuk di sudut kamar dengan ekor terkulai di sela kakinya, menatap sedih ke arah Totto-chan yang terus memeluknya.

 

Totto-chan memang sering melakukan perbuatan yang aneh, menjengkelkan dan mencemaskan bagi orang dewasa. Dia suka mengikuti imajinasinya dan bertindak impulsif karena dorongan keingintahuannya.

Anak perempuan kecil itu pernah terkubur semalaman dalam adukan semen. Celana dalamnya selalu sobek setiap pulang sekolah—karena kesenangannya menyuruk di bawah kawat duri dengan gerakan maju-mundur. Dan dia pernah menguras seluruh isi septic tank (bak pembuangan WC) di sekolah, cuma untuk mencari dompet cantiknya yang terjatuh ke tempat gelap yang sangat jorok dan bau itu. (Bersambung)


Iklan

Tag: , , , , , , , , , , ,

9 Tanggapan to “Totto-chan, Pendidikan Berbasis Kepribadian (1)”

  1. rajasimarmata Says:

    wah bukan hanya totochan yang bisa menhargai gurunya tulang. ada juga ko orang indonesia, lihat aja bukunya andrea hirata. udah diterjemahkan dalam beberapa bahasa. prinsipnya hampir sama dengan totocahan. malah menurt saya kisah andreahirata (sekolah sd di bangka) lebiiih bagus. soalnya ceritanya lebih “nyata kerasnya” dibanding totochan.

    tapi yang lebih dari totochan adalah buku tersebut dipromosikan oleh pemerintah jepang buat dibaca seluruh mahasiswa. bahkan dosen

    soalnya udah pernah baca buku andrea dan buku totchan (sekolah di gerbong kreta api)

  2. awaludin Says:

    Sebenarnya, dimana-mana ada sih yang kayak gitu. Tapi masalahnya, terekspos ga? Dan berapa besar pengaruhnya.

  3. papabonbon Says:

    suka totto chan juga yah. sama dong … btw, buat yg komen di atas, totto chan kan memang sekolah di sekolah berkurikulum khusus. lha jelas beda tekanannya dengan laskar pelangi.

    kalau jeli di totto chan disebutkan guru gurunya yang belajar aliran pendidikan yg berbeda dengan aliran mainstream. dan ini dilakukan sebelum jamannya perang dunia ke dua. heibat. jepang memang sudah mendahului kita jauh jauh hari.

  4. Sawali Tuhusetya Says:

    bisa jadi kehadiran Tomoe Gakuen di mana totochan menjadi salah satu muridnya, menjadi indikator bahwa pendidikan konvensional di jepang sudah sangat sarat dengan berbagai pola indoktrinasi yang membelenggu kreativitas anak-anak. bisa jadi Tomoe Gakuen akan diadopsi oleh homoschooling yang saat ini sudah marak di indonesia. potret seorang totochan yang mampu memerdekakan diri dari belenggu indoktirnasi lewat Tomoe Gakuen merupakan salah satu keluaran pendidikan yang benar-benar mampu menanamkan basis karakter dan kepribadian pada anak. ini fakta yang bisa diadopsi bagi pendidikan konvensional di indonesia sebelum anak2 negeri ini tereduksi oleh berbagai indoktrinasi yang sudah lama mewabah.

  5. Febra Says:

    hmm..anak yang ga pantang menyerah dan benar2 mengikuti imajinasinya 😎

  6. realylife Says:

    lagi menunggu sambungannya
    saya sudah mengirim email sama abang
    sudah dibaca belum ya ?

  7. Robert Manurung Says:

    @ raja simarmata
    @ awaludin
    @ papabonbon
    @ Sawali Tuhusetya
    @ Febra

    Aku sependapat dengan papabonbon, Tomoe bukan sekadar berbeda, tapi punya landasan pemikiran yang kuat dan dituangkan dalam sebuah kurikulum berbasis kepribadian. Bandingkan dengan kurikulum Indonesia yang berbasis kompetensi, tanpa mengindahkan aspek budi pekerti.

    Sebaliknya, aku tidak sependapat dengan rajasimarmata yang membandingkan Totto-chan dengan Laskar Pelangi. Itu bagaikan langit dan bumi. Makanya baca dulu dong dengan cermat. Laskar Pelangi memikat karena melukiskan keindahan persahabatan anak-anak Melayu miskin–murid-murid sekolah Muhammadiyah yang sama miskinnya; tapi sistem pendidikannya sama saja dengan sekolah lain.

    Bahwa ruang kelas di Tomoe Gakuen berupa bekas gerbong kereta, itu bukan karena kemiskinan, tapi karena sang guru Kuboyashi memahami jiwa anak-anak. Ketika sekolah Muhammadiyah di Belitong ditutup tidak ada yang merasa rugi. Sebaliknya, ketika sekolah Tomoe terbakar habis akibat dihajar bom B-29, semua orang yang menghargai eksperimen Kuboyashi merasa kehilangan untuk selama-lamanya.

    Mana ada lagi di dunia ini sistem pendidikan berbasis kepribadian seperti Tomoe? Inilah sangkalanku buat awaludin : tidak benar sekolah semacam Tomoe ada di mana-mana. Sampai sekarang yang masih bertahan dengan konsep sekolah alam hanya Shantiniketan di India, yang dulu didirikan Rabindranath Tagore.

    Buat Pak Sawali, Anda benar, saat itu Jepang sedang gencar-gencarnya mencekoki rakyatnya dengan ideologi militeristik. Sekolah-sekolah di Jepang saat itu tak ubahnya pabrik raksasa yang secara sistematis dan massal mencetak manusia-manusia pembunuh. Sedangkan di Tomoe, Totto-chan diajarkan mencintai ulat dan kupu-kupu.

  8. Desy Says:

    Baru baca juga sih, tapi buku Pop Corn (lupa pengarangnya siapa) juga ada menceritakan guru yang mengajar siswa dengan permasalahan yang sama. Asyik juga kalo ada sekolah kayak gitu, gurunya ‘involved’ dengan siswa, bukan hanya sekedar mengajar saja. Could it be posible to applied in Indonesia yang masalah pendidikannya ‘complicated’? Btw, pengen ketemu dengan guru/kepsek yang kayak di Totto chan…

  9. edratna Says:

    Saya pernah baca tentang Totto Chan ini…..
    Saat saya SD hampir semua guru selain mengajar juga mendidik, mengajari akhlak yang baik, bahkan juga mengajar menyayangi tanaman dan hewan (SDku ada kebun kecilnya yang dikelola tiap kelompok anak-anak).

    Sepanjang pengalamanku, yang sebulan sekali ketemu gurunya anak-anak, ternyata di Indonesia, bahkan di Jakarta, masih banyak guru yang baik dan berdedikasi. Dan kenyataan ini juga masih saya lihat sampai ke Perguruan Tinggi….dan guru-guru atau dosen seperti mereka, adalah orang-orang yang hatinya lembut, tapi disiplin untuk mendorong anak didiknya maju terus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: