“Rumah Hantu” Disulap Jadi Galeri

 

tondi.jpg

 

CERITAKAN pada kami tentang keindahan dan harmoni, maka dalam seketika kami akan memberimu sebuah miniatur PBB yang lebih kompak dan damai.

Foto ini diabadikan oleh perupa Grace Siregar di sebuah rumah tua yang dengan nekad dia sebut galeri. Pemandangan istimewa seperti ini adalah peristiwa sehari-hari di Galeri Tondi, di mana orang-orang dari berbagai bangsa datang dan membaur untuk menikmati berbagai karya seni yang dipamerkan.

Biarpun terletak di sebuah gang kecil, galeri dengan alamat resmi Jl.Keladi Buntu No.2 Medan, Sumatera Utara ini sangat bersifat internasional. Meski para pengunjung belum datang, saat Grace hanya bersama suami, putri mereka dan perempuan tua yang sehari-hari menjaga di sana, galeri berdinding kayu dan lantai semen ini sudah bersifat internasional. Suami Grace, Alexander Davey adalah orang bule dari Inggris, sedangkan Bibi Kasoothi–pengurus galeri itu–keturunan Tamil (India) yang sudah tergolong pribumi di Medan.

Rumah semua bangsa

KETIKA aku berkunjung ke Galeri Tondi pada Desember 2007, kebetulan di sana sedang pameran lukisan anak-anak jalanan. Aku sempat berkenalan dengan puluhan ekspatriat dari berbagai bangsa. Salah seorang diantaranya, Agathe, penari asal Perancis. Perempuan kece itu diutus oleh pemerintahnya untuk menjajaki kelayakan membangun Pusat Kebudayaan Perancis di Medan.

“Sekarang, sudah semakin banyak sekolah-sekolah Cina yang membawa siswanya ke sini untuk program ekstra kurikuler,”ujar Grace Siregar, perupa papan atas Indonesia yang sempat 8 tahun malang-melintang di Eropa. “Awalnya anak-anak Cina itu tidak tertarik sama sekali pada kegiatan seni di sini, tapi sekarang puluhan lagi sekolah Cina sudah antri untuk berkunjung ke sini,”kata perempuan yang sempat meraih gelar sarjana hukum itu.

Memang luar biasa Grace ini. Dengan reputasi internasional yang dimilikinya, perempuan yang bersahabat dengan novelis Ayu Utami dan arranger Viky Sianipar ini sebenarnya gampang saja kalau mau memburu kekayaan di Jakarta. Tapi dia malah memutuskan tinggal di Medan, dan menceburkan diri dalam proyek idealis, demi menghidupkan kesenian di kota serba dagang itu.

Bekas rumah hantu

DAN SEDIHNYA, Grace malah diejek oleh berbagai pihak di kota itu. Orang pikir dia sudah gila membangun galeri di sebuah “rumah hantu” yang tak berpenghuni selama 15 tahun– sebelum Grace menyewanya. “Sudah numbuh pohon di ruang tengah,”ujar Grace terkekeh-kekeh menceritakan saat pertama melihat rumah tua itu. Tapi justru aura rumah tua itulah yang membuatnya jatuh hati. Tapi Grace sendiri tidak pernah menyadari bahwa rumah tua itu adalah simbol revitalisasi budaya tradisional yang terlanjur dianggap usang dan dipinggirkan.

Kini, “rumah hantu” itu sudah menjelma menjadi pusat kesenian terbaik di Sumatera, tempat kesenian tradisional Batak, Melayu, Minang, Aceh, Tamil dan Cina menemukan gairah baru untuk “bangkit dari kubur”. Hebatnya, Grace membiayai sendiri semua ongkos menjalankan galeri yang sudah berusia 2 tahun itu, yang setiap bulan menggelar sedikitnya satu kegiatan pameran.

Setiap kali ada kegiatan pameran di sana, Grace mengedarkan kotak sumbangan kepada hadirin. Uang yang terkumpul diserahkan kepada seniman yang sedang tampil, misalnya kelompok opera tradisional Batak dari Pematang Siantar yang tampil di sana akhir tahun lalu. Banyak seniman tenar di Indonesia ingin tampil di Tondi (bahasa Batak artinya Jiwa) karena pasti diliput oleh media-media internasional seperti BBC, Reuters, CNN, Kompas, Jakarta Post, dll.

Lewat Tondi, Grace telah membuktikan bahwa kesenian bisa tumbuh mandiri tanpa harus “netek” pada pemerintah atau konglomerat, yang ujungnya-ujungnya pasti mengkooptasi kesenian tersebut untuk kepentingan mereka. Setiap mengadakan kegiatan di Tondi, Grace tak pernah mengundang pejabat, tapi justru para seniman yang diundangnya untuk “membuka secara resmi”, misalnya para musisi indi seperti rapper Ucok Munthe yang sangat ngetop di Medan, namun tak pernah mendapat kesempatan rekaman di major label.

Sangat sering Grace menggelar pertunjukan seni, misalnya tarian Minang atau tonil Melayu, di halaman galerinya yang sempit. Penonton bisa jadi hanya sekitar 20 orang, namun tidak masalah baginya, sebab prinsip Grace berkesenian memang tidak mengekor pada trend yang mengejar penciptaan pasar sebesar-besarnya. Justru “mentalitas pasar” seperti itulah yang ingin dilawannya , meski bukan berarti dia anti komersialisasi seni secara wajar. Bravo sista. (Robert Manurung)

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

10 Tanggapan to ““Rumah Hantu” Disulap Jadi Galeri”

  1. Shasya Says:

    harusnya lebih banyak orang seperti Grace ya biar kesenian Indonesia akan abadi…

    http://www.lintasberita.com/Hiburan/ldquoRumah_Hanturdquo_Disulap_Jadi_Galeri/

  2. Marudut p-1000 Says:

    Tak salah kalau Lae Robert memuji Grace Siregar ,dengan Galeri Tondinya, setinggi langit karena dia memang pantas mendapatkannya.

    Satu hal yang aku kurang sependapat dengan artikel di atas yaitu: “netek” pada pemerintah. Apakah pemerintah masih punya tetek???? Setahuku, tetek pemerintah sudah diangkat karena kanker stadium 4, yang disebabkan virus korupsi yang merajalela.

  3. Febra Says:

    salut deh dengan mereka..seharusnya orang indonesia bisa belajar dari mereka😉

  4. Robert Manurung Says:

    @ Shasya

    Betul. Terima kasih untuk Anda dan lintasberita.com yang telah menyebarluaskan kabar baik ini.

    @ Marudut p-1000

    Hehehe…zangan dibuka dong aib pemerintah kita yang tercinta itu Lae. Kasihan Mr JK yang saban hari berkoar bahwa tidak ada masalah di negara yang sudah mau karam ini.

    @ Febra

    terima kasih febra. Grace pasti senang mendapat apresiasi dan dukungan dari kawan-kawan semua.

  5. tomy Says:

    saya seorang PNS yg coba minta tolong ke teman saya yang punya akses Dana Hibah untuk UKM, eh di malah bilang ” kerjasama dg pemerintah? emang mau buang uang ke selokan? ”
    sialan jelek bener nih citra pemerintah kita😥

  6. deZmOnTh Says:

    ahh..

    lucu bgt..

    pdahal galerinya bgtu bagus

    gw knal ma bg ucok…

  7. PEREMPUAN BATAK MEMECAHKAN KEBISUAN « Says:

    […] Grace Siregar. Yang memecahkan kebisuan dengan menyediakan galeri seni kepada para seniman yang tidak dipandang berarti oleh publik. Dia menyediakan rumah dengan dana sendiri untuk ruang ekspresi bagi para seniman. Baca disini […]

  8. WilL Says:

    Salut bwat mba grace.. Kegigihan n membawa angin segar di medan yang uda sekarat butuh sentuhan seni..

  9. andy saragih Says:

    terimakasih buat grace siregar yg sudah mendirikan tondi galery.saya kelahiran berastagi lulusan ISI yogya jurusan keramik sekarang berada dibali dan menekuni lukis sebagai profesi. sesudah saya lulus kuliah ada ketakutan untuk balik ke medan dan berkesenian disana sebagai profesi.maklum saya tidak punya koneksi ke kampung sendiri.ingin sekali bisa berpameran dimedan namun tidak mengerti cara mengakses dari bali.mohon beri bantuan info.

  10. franky Says:

    apa yang dimaksud dengan sekolah Cina?apa ada juga sekolah india, sekolah inggris, sekolah batak…???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: