CIA Main di Belakang Panggung Ozomatli ?

Benarkah ada udang di balik batu ? Pertanyaan ini makin relevan karena baru saja Pemerintah AS mengeluarkan larangan berkunjung (travel warning) ke Indonesia; kok tiba-tiba berbalik ramah dan menghadirkan Ozomatli di sini. Kesannya jadi kontradiktif. Kebijakan yang menyimpang dari garis resmi begini cuma CIA (Dinas Intelijen Amerika) yang bisa.

Oleh : Robert Manurung

OZOMATLI tentu masih sangat asing bagi penggemar musik di Indonesia. Nama grup band asal Los Angeles ini baru kita dengar dalam beberapa hari ini, lantaran mereka bertandang dan menggelar konser di Jakarta, Surabaya dan Palembang. Mereka memang kalah tenar dibanding Santana atau Gypsy King; namun kehebatan mereka sudah dibuktikan dengan memenangkan Grammy Award pada 2005. 

Kamis malam (27/3) mereka beraksi untuk kedua kalinya di Ibukota, setelah penampilan perdana di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ)—yang berhasil merebut hati penonton dam mendapat pujian dari media massa. Kali ini mereka tampil dalam atmosfir sangat berbeda dibanding GKJ; yaitu lingkungan bisnis di Bellagio Complex Atrium, Kawasan Mega Kuningan.

Terus terang, aku merasa beruntung bisa menyaksikan Ozomatli on stage, karena mereka tampil sepenuh hati, total, enerjik dan sangat menghibur. Keberuntunganku makin bertambah karena aku nonton bareng dua seniman hebat. yaitu arranger Viky Sianipar dan novelis Suhunan Situmorang.

Kami datang dengan undangan dobel, satu dari Kedutaan Besar Amerika Serikat; satu lagi undangan pertemanan dari para personil Ozomatli buat Viky. Sehari sebelumnya mereka sudah bertandang ke markas Viky, yaitu TobaDream Café di bilangan Manggarai, Jakarta Selatan. Waktu itu Ozomatli sempat melakukan jam session selama dua jam dengan Viky.

Pada saat kami tiba, Ozomatli sudah tampil sekitar satu jam; dan suasana sudah benar-benar on fire.Sekitar 300 penonton berdiri berdempetan sambil bergoyang riang; hampir setengahnya adalah ekspatriat; namun semuanya membaur dengan luwes. Di salah satu sudut tampak mantan menteri Yusril Ihzamahendra, sedang mojok dengan isteri mudanya yang berparas oriental.

Totalitas dalam menghibur

Tampil dengan personil lengkap yang jumlahnya 9 orang, Ozomatli terlihat sangat mendominasi panggung– yang memang terlalu kecil untuk standar konser musik beraliran hip-hop dan latin rock. Mereka terpaksa menyiasati sempitnya ruang gerak  dengan lebih banyak berjingkrak-jingkrak di tempat; namun tidak mengurangi kesan dinamik sesuai semangat musik mereka yang sangat enerjik.

Sebagian besar penonton, kecuali orang-orang bule, tampaknya masih “gelap’ mengenai Ozomatli. Dari respon yang diperlihatkan di awal setiap lagu, bisa ditebak bahwa penonton Indonesia belum tahu koleksi lagu grup musik dari Los Angeles ini. Tapi memang, musik latin rock yang menghentak dan alunan irama reggae yang mendayu  tidak perlu diterjemahkan lagi; karena kaki sudah langsung merespon dan membuat kita bergoyang.

Para personil Ozomatli sendiri tampaknya sadar betul bahwa audiens Indonesia masih asing dengan musik mereka. Sengaja mereka lebih banyak memainkan musik instrumental dan melakukan jam session yang dibumbui humor lewat bahasa tubuh. Pemain saxophone Ulises Bella, misalnya, tidak hanya memamerkan kepiawaian musikalnya dalam meniti nada-nada sulit– yang menuntut napas yang panjang; tapi menyempatkan pula bercanda dengan “membelokkan” nada seenaknya dan bahasa tubuh yang “suka-sukaku dong”.

Uniknya lagi; tidak satu pun personilnya yang berperan sebagai “pemimpin”. Semua punya kemampuan sebagai vokalis, sehingga enak saja mereka bergantian menyanyi. Begitu pula genre musik yang mereka mainkan; mengalir seenaknya dari latin rock ke hip hop, reggae dan fusion.

Kalau boleh diutarakan dengan agak vulgar, Ozomatli memang tidak bersetia pada genre musik tertentu. Kesetiaan mereka hanyalah pada tanggungjawab profesional menghibur penonton. Dan mereka melakukannya dengan serius, sepenuh hati dan total; namun tanpa kehilangan semangat bermain dan menikmatinya. Itu yang membuat permainan mereka terlihat dan terasa rileks; dan lepas. 

Diversity Rocks 

Tadinya, sebelum berangkat menuju tempat konser, aku sempat terpikir bahwa pengamanannya bakal ketat. Soalnya, tour Ozomatli di Indonesia ini disponsori oleh Sekneg-nya Amerika Serikat. Tahu sendirilah, sejak peristiwa 11 September, negara adikuasa ini berubah menjadi sangat paranoid; serba curiga dan siap menggebuk.

Nyatanya, suasana konser pada malam Jumat itu jauh sekali dari kesan angker atau pengamanan super ketat. Tidak ada bodyguard berbadan gede dengan tatapan dingin dan senjata semi otomatik di pinggang. Pengamanan sangat longgar dan yang bertugas hanya satpam. Mengenai sniper, entahlah, aku tidak cukup ahli untuk menandainya.

Yang paling mengesankan, para awak Ozomatli sendiri terlihat sangat santai dan familiar, meskipun penonon berdesakan sampai ke bibir panggung. Tidak ada pihak manapun yang berusaha menghalau penonton agar menjauh dari panggung. Malahan para pegawai Kedubes AS, baik yang bule maupun orang Indonesia, tampak asyik bergoyang di tengah kerumunan penonton yang berdesakan dekat panggung.

Lebih edan lagi, Ozomatli sempat mendemonstrasikan wataknya yang merakyat, dengan atraksi yang spontan dan tidak lazim. Di tengah sebuah lagu, mendadak mereka mengundang Viky Sianipar untuk naik ke pentas, dan mengajaknya melakukan jam session. Tentu saja Viky kaget dan tidak siap, karena dia datang hanya mau nonton. Tapi, dasar orang Batak, tantangan itu tetap dijabanin dan jadilah dia “nge-jam” dengan beberapa personil Ozomatli; meski hanya sekitar lima menit.. Viky memainkan gitar listrik.

Puncak keedanan Ozomatli terjadi setelah jam session itu. Dua pemain yang menggebuk alat musik berbentuk drum berukuran mini turun dari panggung. Sambil tetap menggebuk alat musik itu secara ritmis, mereka menyeruak di tengah kerumunan penonton; lalu diikuti personil lainnya sambil memainkan terompet, saxophone dan gitar. Penonton sempat keheranan; namun setelah paham– bahwa atraksi mirip tanjidor itu adalah musik karnaval khas Amerika Latin—semua hadirin tampak seperti disengat sensasi hebat. Kaget bercampur  girang.

“Karnaval” di sela-sela kerumunan penonton itu berlangsung sekitar 20 menit dan menjadi nomor penutup mereka pada malam Jumat yang tak terlupakan itu. Memang pas tajuk “Diversity Rocks” yang diusung grup musik yang berdiri 12 tahun lalu ini. Bukan saja personilnya terdiri dari berbagai ras, tapi totalitas penampilan mereka sendiri cukup berhasil menghidupkan semangat “Bhinneka Tunggal Ika”.

Diplomasi AS yang mencurigakan        

Meskipun Ozomatli meninggalkan kesan yang sangat mendalam di hati orang Indonesia –yang menghadiri konser mereka tentunya, namun kehadiran grup musik ini yang disponsori oleh Pemerintah AS ternyata malah mengundang kecurigaan. Memang, inilah kali pertama AS mensponsori konser musik di Indonesia, dan anehnya yang ditampilkan malah grup musik komersil. Kalau saja yang ditampilkan pemusik rakyat, misalnya pemusik Indian, mungkin tidak akan menimbulkan spekulasi.

Apakah ada udang di balik batu ? Pertanyaan ini makin terasa relevan, sebab Pemerintah AS baru saja mengeluarka travel warning untuk Indonesia. Kok tiba-tiba ramah dan menghadirkan Ozomatli di sini ? Kesannya jadi kontradiktif. Kebijakan yang menyimpang dari jalur resmi begini biasanya adalah kerjaan CIA.    

Namun dilihat dari satu segi, Ozomatli sendiri sebenarnya tidaklah bisa diharapkan untuk  maksud neko-neko, karena grup band ini sama sekali tidak dikenal di Indonesia. Mungkin mereka sendiri akan heran dan tertawa kalau tahu dikaitkan dengan konspirasi tertentu, karena Ozomatli adalah band yang sinis terhadap politik.  

Aku sendiri juga heran kenapa sampai muncul teori konspirasi sehubungan dengan kedatangan Ozomatli. Bahwa jurus diplomasi yang dimainkan AS kali ini agak tidak biasa, memang ya, tapi apakah itu harus dicurigai ? Apakah anda punya sinyalemen ?

Sekadar tambahan informasi, sebelum ini Pemerintah AS sudah mensponsori tur Ozomatli di Mesir, Yordania, India, Nepal dan Argentina. Band ini sangat mengakar di AS, di mana mereka memiliki komunitas pendukung yang dinamakan Ozohead. Komunitas ini rutin mengadakan pertemuan tahunan secara nasional. (http://www.ayomerdeka.wordpress.com).                    

 

.  

 

 

 

 

Tag: , , , , , , , , , ,

9 Tanggapan to “CIA Main di Belakang Panggung Ozomatli ?”

  1. tasmerah Says:

    Jadi yang pertama nih,…..

    kayaknya kita terlalu paranoid deh,….
    kok apa-apa selalu dikaitkan dengan konspirasi,….

  2. kamal87 Says:

    halo mas robert. lama nih gak berkunjung. waduh font tuliasnnya gde2 amat. jadi kliatan gak rapih tuh

  3. nizaminz Says:

    Penjajahan Ekonomi yang dilakukan AS dengan menguras kekayaan alam Indonesia bisa anda lihat di:
    http://infoindonesia.wordpress.com

  4. Charly Silaban Says:

    Ehhhh… acci pulak bersambung.. Ah laekku ini pun…
    Lanjut lae.. penasaran ini bacanya !

  5. ochiemrock3r Says:

    YANG MAIN ITU BUKAN CIA TAPI SI CI’AH ANAKNYA MAK ACIH , CUCUNYA
    MBAH ICAH ,KEPONAKANNYA OCIH ADIKNYA ICIH KAKAKNYA ACAH SAUDARANYA OCOH ! INI YANG BENAR BANG MANURUNG !

  6. Robert Manurung Says:

    @ tasmerah

    Paranoid ya ? Di sisi lain, akibat masa reputasinya yang suka kasak-kusuk dan mengintervensi bangsa lain, AS memang selalu jadi sasaran kecurigaan.

    Sebenarnya aku tidak begitu yakin soal CIA itu, tapi karena yang melontarkan kecurigaan tergolong kawakan soal politik AS, itu sebabnya isu itu aku munculkan sambil mencari second opinion.

    @ kamal87

    apa kabar kawan? Terima kasih telah mengingatkan tentang ukuran font yang memang terlalu besar. that’s what a friend are for…

    @ nizaminz

    Terima kasih

    @ Charly Silaban

    Sorry Lae. Sekarang silakan lihat di mana CIA-nya ngumpet hehehe…

    @ ochiemrock3r

    Ooooh…gitu ya, hehehe…

  7. Marudut p-1000 Says:

    Konspirasi adalah sesuatu yang lumrah dan wajar, karena suatu aktivitas pastilah mempunyai suatu tujuan (tidak ada yang kebetulan). Begitu juga dengan performance ozomatli di indonesia yang dibiaya negara paman sam itu.

    Umpan telah dilemparkan, sekarang tinggal bagaimana indonesia meng-address diplomasi amerika ini. Mampukah indonesia menterjemahkan diplomasi ini dalam hubungan G to G ? Terus terang aku sedikit ragu dengan kemampuan para ahli luar negeri kita untuk membaca apalagi menterjemahkannya.

  8. Charly Silaban Says:

    @Marudut
    “Mampukah indonesia menterjemahkan diplomasi ini dalam hubungan G to G ?”

    Uhmmm.. pemerintahnya masih sibuk nyensor net porn tuh.. biar keliatan keren, youtube katanya ikutan dibredel..
    and mr presiden lagi sibuk merenungkan ayat ayat cinta.. so, sepertinya ngga ada waktu untuk itu hehehe…

  9. Marudut p-1000 Says:

    @Charly Silaban

    “sibuk nyensor net porn”, tapi ternyata gagal juga. Para netter ternyata lebih jago lagi…hihihi.

    Presiden nonton “ayat-ayat cinta”, presiden lagi studi banding. Siapa tau “ayat-ayat cinta” bisa menggantikan ayat-ayat yang ada dalam kitab hukum RI. Soalnya, ayat-ayat dalam kitab hukum RI banyak yang gak jelas. Ongkos studi bandingnya lebih murah dibanding ongkos studi banding anggota DPR ke luar negeri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: