Totto-chan, Pendidikan Berbasis Kepribadian (2)

TOTTO-chan tidak pernah tahu kalau dirinya dikeluarkan dari sekolah itu. Mama hanya berkata,”Bagaimana kalau kau pindah ke sekolah baru ? Mama dengar ada sekolah yang sangat bagus.”

Mama baru memberitahu Totto-chan mengenai peristiwa “memalukan” itu 14 tahun kemudian, setelah usianya genap 20 tahun. Saat itulah dia merasa bersyukur karena memiliki seorang ibu yang sangat bijaksana.

Oleh : Robert Manurung

BERUNTUNGLAH Totto-chan punya seorang Mama yang sangat pengertian terhadap “kelainan” dirinya. Yang paling mengagumkan adalah ketika Totto-chan dikeluarkan dari sekolah. Mama tidak menunjukkan sedikit pun rasa jengkel terhadap putrinya yang sebentar berhayal ingin jadi mata-mata, tapi sebentar lagi impiannya sudah berubah menjadi penjual karcis kereta api itu.

”Putri Anda mengacaukan kelas saya,”kata wali kelas Totto-chan, tanpa basa-basi. Kekacauan apa gerangan yang bisa dilakukan anak sekecil itu ? “Kesabaran saya benar-benar sudah habis,”ucap ibu guru berwajah manis itu sambil menjatuhkan vonis,”Saya terpaksa meminta Anda memindahkannya ke sekolah lain.”

Anak kelas satu SD dikeluarkan dari sekolah! Itu jelas kasus yang luar biasa. Tapi itulah yang menimpa Totto-chan. Dari penuturan si wali kelas, Mama menyimpulkan bahwa keputusannya mengeluarkan Totto-chan dapat dimaklumi, karena si wali kelas sudah mengaku dengan jujur bahwa dia tak sanggup lagi mendidiknya. Mau apa lagi ?

Daftar dosa putrinya yang dibeberkan ibu guru itu cukup panjang, antara lain membuka dan menutup laci penyimpanan buku sampai ratusan kali setiap hari. Dan memanggil pengamen jalanan yang melintas dekat jendela, lalu meminta mereka memainkan sejumlah lagu. Tentu saja suasana kelas menjadi kacau, karena murid yang lain ikut merubung di jendela.

“Kemarin, Totto-chan berdiri di depan jendela seperti biasa.Saya terus mengajar, mengira dia menunggu para pemusik jalanan itu. Tiba-tiba dia berteriak : Hei, kau lagi ngapain ? Dari tempat saya berdiri tidak bisa terlihat siapa yang diajaknya bicara, jadi saya hanya bisa menebak-nebak apa yang sedang terjadi,”tutur si ibu guru dengan wajah gemas.

“Saya jadi penasaran dan mencoba mendengar jawaban, tapi tak ada yang menyahut. Meskipun demikian putri Anda terus berseru : Kau sedang apa ? Akhirnya saya pergi ke jendela untuk melihat siapa yang diajaknya bicara. Ketika menjulurkan kepala keluar jendela dan mendongak, saya melihat sepasang burung walet sedang membuat sarang di bawah atap teritisan. Totto-chan berbicara pada sepasang burung walet!”

* * *

TOTTO-chan tidak pernah tahu kalau dirinya dikeluarkan dari sekolah itu. Mama hanya berkata,”Bagaimana kalau kau pindah ke sekolah baru ? Mama dengar ada sekolah yang sangat bagus.”

“Baiklah,”kata Totto-chan setelah berpikir cukup lama. “Tapi…”

Apalagi nih ? pikir Mama. Apakah dia tahu bahwa dia dikeluarkan dari sekolah ?

Tapi sesaat kemudian Totto-chan hanya bertanya begini dengan ceria,”Menurut Mama, para pemusik jalanan akan melewati sekolah baruku, nggak?”

Mama baru memberitahu Totto-chan mengenai peristiwa “memalukan” itu 14 tahun kemudian, setelah usianya genap 20 tahun. Saat itulah dia merasa bersyukur karena memiliki seorang ibu yang sangat bijaksana.

“Waktu itu bisa saja dia berkata : apa jadinya kau nanti ? Kau sudah dikeluarkan dari satu sekolah. Kalau mereka mengeluarkanmu dari sekolah berikutnya, kau akan sekolah di mana ?” tulis Totto-chan setelah dia dewasa.

“Kalau ibuku berkata begitu padaku, aku pasti akan merasa gugup dan merasa diri tak berguna ketika masuk gerbang Tomoe Gakuen pada hari pertamaku di sana. Gerbang yang hidup, berdaun, dan berakar, dan kelas-kelas dalam gerbong kereta api takkan terlihat menyenangkan di mataku,”lanjut Totto-chan sambil menggaris-bawahi,”Betapa beruntungnya aku punya ibu seperti ibuku.”

Semua kesan-kesan itu, terutama hari-harinya yang menyenangkan di sekolah berbasis kepribadian itu dituangkan oleh Tetsuko Kuroyanagi—nama asli Totto-chan—dalam buku yang menjadi bestseller di Jepang dan kemudian diterjemahkan ke bahasa Inggris,”TOTTO-CHAN, THE LITTLE GIRL AT THE WINDOW”. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “TOTTO-CHAN, GADIS CILIK DI JENDELA”, diterbitkan oleh Gramedia, dan kini sedang mengedarkan cetakan ke-13.

Buku ini ditulis Totto-chan setelah dia sukses dan populer sebagai pembawa acara TV di Jepang. Dia kemudian menghubungi teman-teman sekolahnya dulu di Tomoe, dan ternyata semua lulusan sekolah eksperimen yang didirikan Sosaku Kuboyashi itu menjadi orang yang sukses dan sejahtera.

* * *

KUBOYASHI menarik kursi ke dekat Totto-chan lalu duduk berhadapan dengan gadis cilik itu. Ketika mereka sudah nyaman, dia berkata,”Sekarang, ceritakan semua tentang dirimu. Ceritakan semua dan apa saja yang ingin kau katakan.”

“Apa saja yang aku suka?” Totto-chan mengira Kepala Sekolah akan menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawabnya. Ketika dia berkata Totto-chan boleh menceritakan apa saja yang ingin diceritakannya, Totto-chan senang sekali dan langsung berbicara penuh semangat. Ceritanya kacau dan urutannya tidak karuan, tapi semua dikatakannya apa adanya.

Dia bercerita kepada Kuboyashi tentang betapa cepatnya kereta yang mereka tumpangi; tentang bagaimana dia minta diperbolehkan menyimpan satu karcis kereta kepada petugas pengumpul karcis, tapi tidak diizinkan; tentang sarang burung walet; tentang Rocky, anjingnya yang berbulu cokelat dan bisa melakukan berbagai keterampilan; tentang bagaimana dia suka memasukkan gunting ke dalam mulutnya waktu di TK dan gurunya melarangnya karena lidahnya bisa tergunting, tapi dia tetap saja melakukannya; tentang bagaimana dia membersit hidung karena Mama memarahinya kalau hidungnya beringus; tentang Papa yang sangat pintar berenang dan menyelam.

Totto-chan sempat terhenti beberapa kali karena kehabisan cerita, tapi dia berusaha terus untuk cerita apa saja. Terakhir dia bercerita mengenai baju-bajunya yang selalu robek, karena dia senang merayap di bawah kawat duri. “Mama tidak suka kerah ini,”kata Totto-chan, sambil menunjukkan kerah bajunya kepada Kepala Sekolah.

Setelah itu, Totto-chan benar-benar kehabisan cerita. Dia berpikir keras, tapi tak bisa menemukan bahan cerita lain. Hal ini membuatnya merasa agak sedih. Untungnya, tepat ketika itu Kepala Sekolah Kuboyashi berdiri, lalu meletakkan tangannya yang besar dan hangat di kepala Totto-chan sambil berkata,”Nah, sekarang kau murid sekolah ini.”

Totto-chan merasa dia telah bertemu dengan orang yang benar-benar disukainya. Belum pernah ada orang yang mau mendengarkan dia sampai berlangsung empat jam seperti Kepala Sekolah. Lebih dari itu, Kuboyashi sama sekali tidak menguap atau tampak bosan. Dia selalu tertarik pada apa yang diceritakan Totto-chan, sama seperti Totto-chan sendiri.

Tidak pernah sebelum atau sejak saat itu ada orang dewasa yang mau mendengarkan Totto-chan bercerita selama empat jam. Tentu saja ketika itu dia tidak tahu bahwa dia dikeluarkan dari sekolah karena gurunya sudah kehabisan akal menghadapinya. Wataknya yang periang dan terkadang suka melamun, membuat Totto-chan berpenampilan polos. Tapi, jauh di dalam hatinya, dia merasa dirinya dianggap aneh dan berbeda dari anak-anak lain. Kuboyashi telah membuatnya merasa aman, hangat dan senang. (Bersambung)

 

 

Tag: , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: