Totto-chan, Pendidikan Berbasis Kepribadian (3)

Aku mencoba menjelaskan metode pendidikan Mr.Kobayashi di buku ini. Dia yakin, setiap anak dilahirkan dengan watak baik, yang dengan mudah bisa rusak oleh karena lingkungan mereka atau karena pengaruh buruk orang dewasa. Mr.Kobayashi berusaha menemukan “watak baik” setiap anak dan mengembangkannya, agar tumbuh menjadi orang dewasa dengan kepribadian yang khas.

Banyak sekali yang masih bisa kutulis tentang Tomoe. Tapi aku cukup puas jika bisa membuat orang sadar bahwa seorang gadis cilik seperti Totto-chan, jika diberi pengaruh yang tepat oleh orang dewasa, akan bisa menjadi pribadi yang pandai menyesuaikan diri dengan orang lain.

Oleh : Robert Manurung

BIASANYA Mama kesulitan membangunkan Totto-chan di pagi hari. Tapi hari itu, dia sudah bangun sebelum yang lain terjaga, sudah rapi berpakaian, dan menunggu dengan tas sekolah tersandang di bahunya.

Mata Mama berkaca-kaca ketika memandang Totto-chan pergi. Rasanya sulit untuk mempercayai bahwa gadis cilik yang santun, yang dengan riang serta penuh semangat berangkat ke sekolah itu, adalah anak yang kemarin dikeluarkan dari sekolah dengan cap “pembuat onar”.

Itulah hari pertama Totto-chan bersekolah di Tomoe Gakuen, hari paling menggairahkan dalam hidupnya, yang kemudian disadarinya telah menyelamatkan hidupnya secara permanen. Totto-chan sangat senang dan amat menyukai sekolah yang “aneh” itu, yang ruang kelasnya dari bekas gerbong kereta api; sampai-sampai dia berjanji akan datang ke sekolah setiap hari dan takkan pernah libur.

* * *

BERSEKOLAH di gerbong kereta sudah cukup aneh, tapi ternyata pengaturan tempat duduk di sekolah itu lebih aneh lagi. Di sekolah lain setiap anak diberi satu bangku tetap. Tapi di sini mereka boleh duduk sesuka hati, di mana saja, kapan saja.

Yang paling aneh dari sekolah itu adalah pelajarannya. Di sekolah-sekolah lain, biasanya setiap jam pelajaran diisi dengan satu mata pelajaran tertentu, misalnya bahasa Jepang untuk jam pelajaran pertama. Semua murid fokus pada mata pelajaran tersebut. Tapi di Tomoe Gakuen sangat berbeda. Di awal jam pelajaran pertama, guru membuat daftar semua soal dan pertanyaan mengenai hal-hal yang akan diajarkan hari itu. Kemudian guru berkata,”Sekarang, mulailah dengan salah satu dari ini. Pilih yang kalian suka.”

Jadi tidak masalah apakah kita mulai dengan belajar bahasa Jepang atau berhitung atau yang lain. Murid yang suka mengarang langsung menulis sesuatu, sementara di belakangnya, anak yang suka fisika merebus sesuatu dalam tabung perobaan di atas api berbahan bakar spritus. Letupan-letupan kecil biasa terdengar di kelas-kelas itu, kapan saja.

Metode pengajaran ini membuat para guru bisa mengamati—sejalan dengan waktu ketika anak-anak melanjutkan ke kelas yang lebih tinggi—bidang apa yang diminati anak-anak, termasuk cara berpikir dan karakter mereka. Ini ara ideal bagi para guru untuk benar-benar mengenal murid-murid mereka.

Bagi murid, memulai hari dengan mempelajari sesuatu yang paling mereka sukai sungguh sangat menyenangkan. Jadi belajar di sekolah ini pada umumnya bebas dan mandiri. Murid bebas berkonsultasi dengan guru kapan saja dia merasa perlu. Guru akan mendatangi murid jika diminta dan menjelaskan setiap hal sampai anak itu benar-benar mengerti. Kemudian mereka diberi latihan-latihan untuk dikerjakan sendiri. Itulah belajar dalam arti yang sebenar-benarnya, dan itu berarti tak ada murid yang duduk menganggur dengan sikap tak peduli sementara guru sedang menjelaskan sesuatu.

Murid-murid kelas satu belum sampai ke tahap belajar secara mandiri penuh, tapi mereka sudah diizinkan untuk mulai dengan mempelajari materi yang paling mereka minati. Ada yang menyalin huruf-huruf alfabet, ada yang menggambar; membaca buku, bahkan ada yang bersenam.

“Keanehan” Tomoe tidak berhenti sampai di situ. Kuboyashi telah merancang sejumlah kegiatan belajar yang inkonvensional untuk mendekatkan murid-muridnya dengan alam, memotivasi murid-murid yang lemah agar bangkit rasa percaya dirinya dan membangun kebersamaan di antara murid-muridnya. Ada acara berkemah di sekolah; pelajaran berenang yang membebaskan para murid untuk telanjang; kegiatan belajar di alam bebas; mengundang petani untuk menjelaskan cara bercocok-tanam; melengkapi menu makanan dengan ikan, ada lomba keberanian yang membuat para murid tidak takut lagi pada hantu, dll.

* * *

MURID-MURID di sekolah itu juga punya keanehan masing-masing. Selain Totto-chan yang hampir selalu dirundung masalah karena rasa ingin tahunya yang besar, ada sekitar 50 murid di sekolah itu dengan keunikan dan keanehan masing-masing.

Yasuaki Yamamoto–salah seorang di antaranya, kakinya pincang dan jari-jari tangannya tertekuk dan seperti lengket; gara-gara terkena polio. Totto-chan kemudian bersahabat karib dengannya, dan pernah menyabung nyawa ketika memaksakan diri mengangangkat Yasuaki yang bertubuh lebih besar itu ke atas pohon. Itulah yang pertama dan terakhir kali Yasuaki naik ke atas pohon.

Satunya lagi adalah Akira Takashi yang cebol. Meskipun tidak menyeret kakinya seperti ketika Yasuaki berjalan, namun setiap yang melihat Takashi akan merasa iba melihat kaki dan tangannya yang pendek, sementara bahunya kekar dan matanya terlalu besar. Tapi jangan anggap remeh, Takashi adalah juara semua jenis lomba olahraga di Tomoe selama bertahun-tahun.

Puluhan tahun kemudian, dengan tubuh yang tetap cebol, Takahashi menjadi manajer personalia di sebuah perusahaan elektronik raksasa. Hasil didikan Tomoe membuatnya jadi manusia yang positif dan periang; tak pernah merasa minder, sehingga dengan mudah meraih gelar insinyur listrik dari Universitas Meiji.

* * *

TOMOE GAKUEN hanya bertahan sekitar delapan tahun. Pada 1945, sekolah itu terbakar habis akibat dihajar bom B-29 yang dijatuhkan TentaraSekutu; dan tak pernah dibangun kembali.Adapun penggagas dan sekaligus pelaksana sekolah itu, Sosaku Kuboyashi meninggal dunia pada 1963. Dia tak pernah lagi mendapat kesempatan untuk menerapkan gagasannya yang orisinil namun revolusioner, yaitu pendidikan berbasis kepribadian.

Sampai sekarang, Jepang dan semua negara di dunia tetap menganut sistem pendidikan yang lebih menekankan pada kata-kata tertulis dan cenderung menyempitkan persepsi indrawi anak-anak terhadap alam. Sistem itu juga menghilangkan kepekaan intuitif mereka akan suara Tuhan yang pelan dan menenangkan, yaitu inspirasi.

Hasil sistem pendidikan massal yang membentuk murid jadi “robot”– sesuai rancangan kurikulum itu, digambarkan Kuboyashi sebagai berikut,”Punya mata, tapi tidak melihat keindahan; punya telinga, tapi tidak mendengar musik; punya pikiran, tapi tidak memahami kebenaran; punya hati tapi hati itu tak pernah tergerak dan karena itu tidak pernah membara. Itulah hal-hal yang harus ditakuti.”

Totto-chan telah menghidupkan kembali semangat pendidikan yang membebaskan itu, lewat buku yang diterbitkannya pada 1981. Sekaligus pula dia merasa telah melaksanakan janjinya kepada Kobayashi, yang pernah berpesan agar kelak dia menjadi guru. Buku itu sangat mengejutkan Jepang, sebab hanya dalam waktu singkat terjual 4,5 juta eksemplar.

Banyak orang yang terinspirasi oleh kisah Totto-chan, tapi niat baik dan kerinduan banyak orang ternyata masih kalah kuat dibanding kekuasaan kapitalisme, sehingga sistem pendidikan yang berbasis kepribadian masih tetap hanya utopia.

Hal itu sudah lebih dulu disadari oleh guru-guru sekolah alam Santhiniketan di India, yang didirikan Rabindranath Tagore pada abad yang lalu; bahwa dunia pendidikan masih terjebak dalam paradigma Revolusi Industri yang tamak, dan merendahkan martabat manusia menjadi sekadar perkakas kapitalisme.

Kobayashi pun menyadari itu, namun hanya bisa berkata, “Serahkan anak-anak itu kepada alam. Jangan patahkan ambisi mereka. Cita-cita mereka lebih tinggi daripada cita-cita kalian.” (Tamat)

Tag: , , , , , , , , ,

5 Tanggapan to “Totto-chan, Pendidikan Berbasis Kepribadian (3)”

  1. Sawali Tuhusetya Says:

    wah, model pembelajaran TOMOE GAKUEN layak dicntoh nih. sayang kok hanya bisa bertahan 8 tahun. seharusnya memang begitu bung robert. anak2 perlu dijadikan sebagai subjek, bukan hanya sebatas objek yang dicekoki berbagai macam teori. ajak mereka utk berdiskusi dan membahas masalah yang mereka suka. sayangnya, pendidikan di negeri kita masih menganggap kurikulum sbg “kitab suci”.

  2. Ratna Says:

    Waktu ultah saya dikasih buku Totto-chan oleh adik saya. Menyentuh sekali dibalik kelucuan dan kepolosan yang ada. Saya suka dengan kepala sekolahnya…

  3. Robert Manurung Says:

    @ Sawali Tuhusetya

    Aku menjadi lega setelah membaca komentar Pak Sawali ini. Paling tidak murid-murid Bapak bakal bisa menikmati “kemewahan” yang sangat langka dalam proses belajar-mengajar di negara ini; di mana mereka akan didengar dan diberi kesempatan mengasah ketajaman pikiran dan kehalusan rasa.

    Terima kasih Pak Guru. Aku akan berusaha menulis lagi topik-topik seperti ini, yang memang sangat aku sukai karena menyangkut kepentingan bangsa yang sangat vital. Siapa tahu pelan-pelan Pak Sawali bisa merintis sekolah semacam itu.

    @ Ratna

    Terima kasih Ratna. Ternyata aku tidak sendirian mengagumi Pak Kuboyashi yang bersahaja dan mencintai anak-anak itu. Aku juga sangat tersentuh oleh “penderitaan” Totto-chan yang tersembunyi di balik sikapnya yang serba ingin tahu, lucu dan suka bertindak oleh dorongan hati sesaat.

  4. Iwan Awaludin Says:

    btw, pendidikan yang seragam itu jelas lebih murah. Makanya, masih perlu ada kurikulum untuk panduan pendidikan yang seragam itu. Coba bayangkan kalau kita harus mengakomodasi kepribadian yang berbeda dalam kelas yang kita ajarkan. Pasti kelimpungan dan biayanya juga besar. Siapa yang akan menanggung biayanya? Kalau mau seperti itu, ada koq di Indonesia juga. Sekolah alternatif berjamuran terutama di kota besar. Tapi, siapa yang mampu membiayainya? Hanya orang-orang kaya saja tentunya. Saya pernah dengar tentang pendidikan alternatif yang dijalankan juga oleh almarhum Romo Mangun, tapi apa yang seperti itu bisa dijalankan di banyak tempat di Indonesia?

  5. stopgoblog Says:

    Buku Totto-chan itu bagus banget. Saya baca hampir nangis, waktu bagian anjingnya mati.

    Kita harus memperjuangkan supaya pendidikan di Indonesia bisa seperti yang dijalankan Kobayashi. Kalo nggak diperjuangkan, sampai kiamat juga anak-anak didik dijajah dan tersiksa sejak dini.

    Tomy DG

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: