Alienasi Abu Dzar

Adalah sahabat nabi, Abdullah ibnu Mas’ud yang kemudian menemukannya di sebuah gurun, terbaring sendirian, wafat. “Engkau datang sendirian, berjalan sendirian dan meninggalpun sendirian,” ujar Al-Musthafa, Muhammad SAW, suatu hari kepadanya.

Oleh : Nirwansyah Putra Panjaitan

Kata Emile Durkheim, alienasi atau keterasingan dari kehidupan sosial menjadi salah satu faktor terjadinya bunuh diri. Teori ini tak bisa disangkal ada benarnya. Penelitian yang dilakukan Durkheim merupakan salah satu masterpiece dalam khasanah ilmu-ilmu sosial.

Tapi, ini tak berlaku bagi salah seorang sahabat yang terkenal sangat concern dengan kaum musthadha’afin, Abu Dzar Al-Ghifari.

Abu Dzar merupakan orang yang penyayang terhadap orang-orang lemah, faqir dan miskin.

“Telah berwasiat kepadaku orang yang amat aku cintai (Rasulullah) dengan tujuh perkara:

Beliau memerintahkan aku untuk mencintai orang-orang miskin dan mendekati mereka. Beliau memerintahkan aku untuk selalu melihat keadaan orang yang lebih menderita dariku. Beliau memerintahkan kepadaku juga untuk aku tidak meminta kepada seseorangpun untuk mendapatkan keperluanku sedikitpun. Aku diperintahkan untuk tetap menyambung silaturrahmi walaupun karib kerabatku itu memboikot aku.

Aku diperintahkan untuk mengucapkan kebenaran walaupun serasa pahit untuk diucapkan. Aku tidak boleh takut cercaan siapapun dalam menjalankan kebenaran. Aku dibimbing olehnya untuk selalu mengucapkan la haula wala quwwata illa billah, karena kalimat ini adalah simpanan perbendaharaan yang diletakkan di bawah Arsy Allah”.

Karena sikapnya ini, ia diasingkan dari kekuasaan yang waktu itu sudah tak ambil peduli lagi pada orang-orang lemah, faqir dan miskin dalam kebijakan dan pemerintahan.

Adalah sahabat nabi, Abdullah ibnu Mas’ud yang kemudian menemukannya di sebuah gurun, terbaring sendirian, wafat. “Engkau datang sendirian, berjalan sendirian dan meninggalpun sendirian,” ujar Al-Musthafa, Muhammad SAW, suatu hari kepadanya. (*)

———————————————————————————–

Artikel ini dikutip utuh dari blog nirwansyahputra. Pemilik blog ini, Nirwan, adalah wartawan muda yang cerdas dan kritis, tinggal di Medan; bekerja di surat kabar Medan Bisnis.

http://www.ayomerdeka.wordpress.com

Tag: , , , , , , ,

4 Tanggapan to “Alienasi Abu Dzar”

  1. Ram-Ram Muhammad Says:

    Assalaamu ‘alaikum Bang…
    Bukankah lebih mulia terasing dari hingar bingar kesesatan?
    Alienasi, bahasa lainnya adalah Uzlah. yaitu mengasingkan diri dengan tujuan melindungi diri agar tidak ikut terseret dalam arus besar kejahilan.

    Salam merdeka bang…
    Salam kangen juga dari saya…🙂

  2. esensi Says:

    Saya jadi teringat ucapan seorang kawan, bahwa lebih baik dikenal Allah dan para kekasihnya saja di dunia ini, ketimbang familiar di mata semua insan.

    Salam,.

  3. jenderal Says:

    buat mas Ram….

    tapi ketika kita mengasingkan diri dari dunia, pasti kita (jelas) tidak akan bisa terseret ke arus kejahilan…. (siapa yang menyeret??? karna hanya ada kita sendiri..)

    dan orang2 yang berada di tengah kejahilan dan dia tidak ikut terseret dalam kejahilan bahkan berusaha untuk mengubah kejahilan itu menjadi kebenaran adalah hal yang lebih sangat baik… benar begitu bukan ???

    hal itu berlaku jika pengasingan dilakukan atas kemauan diri sendiri…

    beda kasus jika pengasingan dilakukan oleh pihak ketiga (penguasa atau orang yang berkuasa)…..

    salam dari saya…

  4. nirwan Says:

    😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: