Kopi Medan Berjaya di Jakarta (1)

BAGI Anda yang pernah menikmati kopi kelas premium di salah satu hotel di Medan, atau dalam penerbangan dengan Singapore Airlines dan Cathay Pacific; mungkin Anda tak pernah menyangka itu kopi buatan PT Sari Makmur, Medan. Diolah dari biji kopi Tapanuli, Opal Coffee mampu mengalahkan produk impor, dan kini menguasai Jakarta dengan pangsa pasar 45 %.

Sari Makmur adalah new kid on the block di kalangan produsen kopi. Merek Opal Coffee baru empat tahun lalu diluncurkan ke pasar, setelah hampir tujuh tahun melakukan riset, survey dan uji coba. Dan bertolak belakang dengan kecenderungan umum di industri consumer goods, kopi buatan Medan ini nyaris tidak pernah diiklankan.

Nah, apa rahasinya sebuah merek yang masih baru mampu menjadi pemenang dalam pasar yang ketat persaingannya ? Empat tahun adalah waktu yang terlalu singkat untuk memperkenalkan sebuah produk baru, melakukan penetrasi pasar, membangun jaringan distribusi dan menciptakan citra. Lalu, jurus rahasia apa gerangan yang dipunyai Opal Coffee, sehingga menjelma from zero to hero ?

Menurut penuturan pemilik Sari Makmur, Suryo Pranoto kepada situs Humbang Hasundutan, tidak ada “jurus ajaib” di balik sukses spektakuler Opal Coffee. Semuanya wajar-wajar saja, namun dikerjakan dengan standar paling tinggi. Mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan, dikerjakan dengan pengendalian mutu yang ketat. Begitu pula proses meracik dan mengemas.

Kalaupun ada yang layak disebut “rahasia” sukses adalah kuatnya kemauan dan usaha Sari Makmur untuk memahami selera konsumen. Saking loyalnya pada kepuasan konsumen, Opal Coffee sampai menciptakan fleksibilitas dalam menentukan ragam rasa kopi yang diproduksi. Mereka dengan bangga menyebutnya personalized product. Sangat sesuai dengan trend zaman yang serba personalized, yang dipelopori oleh komputer, ponsel dan produk gadget lainnya.

* * *

KETIKA dirintis empat tahun lalu, pabrik kopi Sari Makmur hanya memiliki tiga karyawan untuk menangani semuanya, mulai dari produksi hingga pemasaran. Sekarang, pabrik kopi asal Medan ini sudah memiliki 100 karyawan tetap dan 500 buruh harian lepas. Merek Opal Coffee pun sudah dikenal hingga mancanegara.

Kini pabrik seluas 4,2 hektare yang berlokasi di Desa Rujimulio, Kecamatan Sungai, Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara, itu mampu memproduksi kopi dengan kapasitas 60 kilogram setiap 23 menit. Berarti, Sari Makmur mampu memproduksi 25 ton per bulan. Total produksinya habis diserap pasar lokal 75%, sisanya ekspor. Dengan harga jual rata-rata Rp 55 ribu per kilogram, omzet perusahaan yang dimiliki pengusaha daerah Suryo Pranoto itu mencapai Rp 1,4 miliar per bulan.

Keberhasilan Opal Coffee menaklukkan pasar dalam waktu relatif singkat itu termasuk luar biasa. Untuk kalangan korporat lokal Sumatra Utara, mereka sudah menguasai pasar 100%. Sementara itu, untuk pasar Jakarta yang sudah dipadati kopi impor ataupun lokal seperti Zega Fredo (Italia), Bon Coffee (Swiss), dan Excelso (Indonesia) Opal Coffee tengah menggenjot target dari 45% menjadi 60%. (Bersambung)

Iklan

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: