Kopi Medan Berjaya di Jakarta (2-Tamat)

Selain Daniel, Opal Coffee memiliki Maria Gorehty, 45 tahun. Sejak berumur 17 tahun, istri Suryo ini sudah belajar dengan ahli-ahli kopi kelas dunia dari Amerika dan Italia. Maria pernah bekerja di Seattle Based Coffee yang sekarang menjadi salah satu anak perusahaan Starbucks.

DUNIA kopi memang bukan hal asing bagi Suryo. Sejak 1973, ia sudah mengekspor kopi ke mancanegara seperti Amerika, Jepang, Eropa, dan Timur Tengah. Jenis kopi robusta dan arabica yang diekspornya terkenal bagus. Tak heran bila kedai kopi kelas atas seperti Starbucks (Amerika) juga memakai kopi Medan ini.

Lantaran ekspor kopi mentah cenderung stagnan, pada 1997 Suryo melakukan diversifikasi dengan memproduksi kopi siap konsumsi. Maka, selama setahun ia mengunjungi sentra-sentra kopi, terutama di Eropa, untuk melakukan riset dan mempelajari karakteristik kopi. Maklum, setiap daerah berbeda karakteristik dan kebiasaan masyarakatnya dalam minum kopi.Untuk berdagang kopi siap konsumsi, ia harus memiliki kemampuan dalam meracik kopi dan mempunyai jurus jitu dalam memasarkannya.

Karena itu, Suryo merekrut ahli di bidang kopi dan marketing, Daniel Vianco, 38 tahun, untuk menjadi Business Development Manager & Personal Assistance to Director Opal Coffee. Daniel memang akrab dengan dunia kopi. Mantan staf marketing di Hotel Tiara Medan yang bergabung dengan Opal Coffee pada 2000 ini mendapat pengetahuan soal kopi dari kakeknya yang pernah menjadi penggoreng kopi di Malaysia. Dia punya 80 batang kopi yang diolah untuk konsumsi keluarga kami kata pria berkulit putih kelahiran Batu Pahat, Johor Baru, Malaysia, itu.

Ketika kuliah di Cornell University, AS, Daniel pernah menjadi barista (pembuat kopi) freelancer di Train Coffee House, kafe milik pengusaha Yahudi di Ithaca, AS. Di tempat ini pengetahuan Daniel soal kopi semakin terasah, apalagi kemudian dia dipercaya menjadi kepala bagian quality control.

Selain Daniel, Opal Coffee memiliki Maria Gorehty, 45 tahun. Sejak berumur 17 tahun, istri Suryo ini sudah belajar dengan ahli-ahli kopi kelas dunia dari Amerika dan Italia. Maria pernah bekerja di Seattle Based Coffee yang sekarang menjadi salah satu anak perusahaan Starbucks. Di Opal Coffee, Maria sering menjadi last quality control fase. Hanya dengan melihat, dia tahu kualitas kopi. Tak jarang Maria menolak kopi yang sudah siap olah karena kualitasnya jelek, meski kopi tersebut sudah lolos sortir super-automatic machine.

* * *

Tak salah kalau Suryo mengandalkan kedua tenaga ahli perkopian itu. Soalnya, bisnis kopi siap konsumsi sangat tergantung pada rasa. Untuk ini Opal Coffee memiliki 150 karakter kopi yang berbeda. Kami menyebut Opal Coffee sebagai personalized product (sesuai selera). Rasa, warna, dan aromanya disesuaikan dengan pesanan pelanggan, kata Daniel sembari menyebutkan asal nama opal itu dari batu mulia yang ada di Australia.

Maklum, selera konsumen setiap negara berbeda. Contohnya di Indonesia, iklimnya tidak cocok dengan roasted coffee (kopi yang digoreng/panggang sebelum digiling). Biasanya orang Indonesia lebih melihat warna kopi daripada aroma atau rasa, meskipun orang Sumatra lebih suka pada kopi yang hitam pekat, tidak terlalu pahit, dan beraroma.

Orang Jepang lebih suka kopi yang digoreng saat masih sangat muda dan digiling tak terlalu halus. Orang Eropa lain lagi. Mereka senang kopi yang berkarakter seperti French Roasted Blend. Kopi seperti ini, saat dihirup terasa lebih halus, tidak meninggalkan rasa kopi di tenggorokan.

Untuk memperoleh biji kopi berkualitas, hampir 60% bahan bakunya dipasok petani kopi dari Tapanuli Utara, Dairi, Simalungun, dan Tapanuli Selatan. Sisanya dari PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII, Bali, Flores, dan Pulau Jawa.

* * *

SEJAK awal Suryo menekankan, agar Daniel yang juga mengurus marketing itu tak gencar beriklan. Cara ini tak gampang, harus dipilih kiat berpromosi yang efektif. Misalnya, menjadi sponsor suatu event yang cocok dengan produknya, yaitu dengan mensponsori kedatangan Miss Universe 2002, Oxana Fedorova, tahun lalu.

Selain itu, Opal Coffee langsung memasarkan produknya ke hotel-hotel, resto, dan bistro di kota Medan. Orientasinya pada tamu yang banyak mengunjungi tempat tersebut.Bila banyak tamu Jepang, mereka menawarkan kopi yang disukai orang Jepang, begitu pula kalau tamunya orang Eropa. Benar saja.

Dengan cara itu akhirnya Opal Coffee diterima konsumen. Kini hampir 100% hotel di Medan menggunakan produk tersebut. Pada 2000, mereka meluaskan pemasaran dengan membuka cabang di Jakarta, Batam (2001), dan Surabaya (2002).

Mereka juga jadi pemasok kopi melalui pihak ketiga pada beberapa airline, di antaranya Singapore Airlines dan Cathay Pacific. Opal Coffee memang lebih banyak menjaring pasar corporate ketimbang eceran. Untuk itu, mereka menyediakan mesin pembuat kopi dengan merek Carimali asal Italia. Pesaing terbesarnya adalah kopi Excelso asal Surabaya.

Namun, Opal Coffee punya kiat menarik simpati pelanggan dengan cara menyediakan fasilitas after sales service selama 24 jam. Jadi jika mesin klien mendapat gangguan, kami segera mengirim teknisi, kata Daniel. Agar lebih memasyarakat lagi, bulan ini mereka bakal meluncurkan produk Mochas Gourmet Coffee dan instant coffee yang dijual dalam kemasan sachet dengan harga terjangkau. Aromanya, kacang hazel dan cokelat. Distribusinya pun sampai ke warung-warung.

Dengan semua keunggulan yang dimiliki, Opal Coffee optimistis pada perkembangan usahanya. Tapi tentu akan lebih hebat lagi kalau kopi Medan ini dikembangkan menjadi brand internasional, untuk mendapatkan nilai tambah dan memperluas pasar. (http://www.ayomerdeka.wordpress.com)

Catatan : artikel ini dikutip dari website Humbang Hasundutan, namun telah diubah di sana-sini sebelum ditampilkan.

Iklan

Tag: , , , , , , , , ,

6 Tanggapan to “Kopi Medan Berjaya di Jakarta (2-Tamat)”

  1. anastasia rajagukguk Says:

    Great Post, ito! 🙂
    Membaca bagian yang pertama, aku bertanya-tanya, kho bisa? Apa dan bagaimana rahasia si opal coffee ini? Di bagian kedua, pertanyaan2 itu terjawab.

    Seandainya ada beberapa perusahaan spt opal coffee, maka petani kopi di dairi ga perlu rame-rame membabat kebun kopinya. What a tragic moment, termasuk orang tua ku yg membabat kopi nya sambil nangis. Beberapa tahun yg lalu, harga kopi sempat jatuh sampai Rp 3500/kg dan ini bertahan hingga berbulan-bulan, bahkan hampir 1 tahun. Biaya untuk merawat dan menuainya aja lebih dari Rp 4500/kg!

    Akhirnya para petani memilih untuk tidak memanen kopi nya yg sedang berbuah. kata mereka, rugi! Mending waktu nya dipake untuk mengerjakan yg lain, padahal kopi berbuah yg tidak dipanen akan merusak pohon. Dalam beberapa bulan kemudian, pohon-pohon kopi tersebut akhirnya rusak, dan mereka harus membabatnya. Padahal untuk membesarkannya aja butuh biaya yg tidak sedikit dan waktu minimal 2 tahun! Really, what a tragic moment….. Aku hanya bisa memandang sambil ikutan nangis 😦
    Yang membuatnya lebih tragis adalah bahwa modal kebanyakan petani untuk menanam kopi adalah utang –> utang dalam bentuk bibit, utang dalam bentuk pupuk, dsb. Akhirnya karena ga bisa panen, mereka ngutang ke rentenir dengan bunga bervariasi dari 4% – 7% per bulan. Dan untuk modal selanjutnya, mereka ngutang lg lebih banyak ke rentenir tersebut…. 😦

    Harapanku dengan bertumbuhnya usaha spt opal coffee ini, harga kopi akan stabil dan dapat memberikan “income” bagi petani.

    Lagi ito, it’s a great post!

  2. BARRY Says:

    Salut mendengar hasil perkebunan kopi Indonesia yang memasuki pasaran International. Tahun lalu, saat pertama kali saya melihat produk kopi siborong-borong di Starbucks samping kantor saya kira salah tulis, padahal baru beberapa bulan sebelumnya mampir ke siborong-borong. Semoga bisa membawa kesejahteraan bagi petani kopi di sana.

  3. Roy sandry Says:

    bisa ngak kopi dari medan masuk ke hotel hotel dibatam saya lagi cari dis tributor 08566511147

  4. Siska Says:

    aku lagi cari yang jual kopi medan di madiun atau surabaya.adanya cmn kopi medan punya kapal api..kalau ada yang tau infonya hubungi 081703206111

  5. manatar pane Says:

    haiiiii bang,,,
    saya lagi nyari distributor kopi di medan,,, kalo tau tolong di kabarin di 081356427154. tolong ya bangg
    makasih sebelumnya

  6. Boran Says:

    Bukannya ingin membandingkan tapi Anda belum mencoba Kopi Luwak. Saya punya pengalaman tidak terlupakan. Saya pernah minum Rollaas KOPI LUWAK di Surabaya. Di cafe itu saya bisa mendapatkan kopi luwak asli. Kenapa asli, mereka mempunyai bukti2 yang dapat dipertanggung jawabkan.

    Kalau soal rasa, no 1 dech. Dari segi harga pastinya sekarang kopi paling mahal di dunia. Anda bisa coba dech di Rollaas Cafe City of tomorrow Surabaya. Disana saya mendapatkan banyak sekali pengalaman yang menarik. Di Rollaas saya di ajari bagaimana cara menikmati kopi, diajari tentang ilmu2 atau tetek bengek kopi. Baristanya?
    Bisa diadu dech. MEreka ramah2 dan baik2. Saya ini sangat senang kopi dan lumayan tahu tentang rasa kopi. Di Rollaas saya bisa share juga sama mereka, tapi lebih banyak mereka sih yang share. Hehehehe!!!! Kopi Luwak di rollaas disajikan dengan coffee syphon. Tapi penyajiannya menarik sekali. Berbeda dengan cafe2 lain yang saya tahu menggunakan juga coffee syphon. Di Rollaas… Ehmmm…. Unik dech. Coffee syphon yang istimewa di buat semakin atraktif lagi. Gila dan salut dech buat Baristanya Rollaas.

    Saran saya buat yang baca ini, cobain dech. Harganya cuman Rp.100.000 per cup. But it’s really worthed..!!! Banget!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: