Qaisra Shahraz, Jembatan Peradaban Islam-Barat

Bertepatan dengan perayaan Hari Kartini, mari kita berkenalan dengan sosok yang sangat menarik : Qaisra Shahraz, penulis buku The Holy Woman. Tokoh feminist Islam ini selalu merasa terpanggil untuk membangun “jembatan” antara peradaban Islam dan Dunia Barat. Dia sendiri adalah “anak kandung” dari dua peradaban yang saling curiga dan cenderung bermusuhan itu.

Karena berbagai kesibukan, aku baru sempat menerjemahkan empat alinea dari artikel yang aku comot dari www.planetmole.org ini. Tentunya ini bukan masalah, karena semua kwan-kawan blogger dan pengunjung blog ini pasti hebat-hebat bahasa Inggrisnya.

=========================== Robert Manurung =============

Oleh : Anne Lin

BERTEMU dengan Qaisra Shahraz tak ubahnya bersua dengan seorang guru tua, yang sudah ditempa oleh pahit getirnya kehidupan. Shahraz bersikap anggun dan berkomunikasi dengan suara lembut, mengingatkan pada perannya sebagai pendidik.

Tidaklah mengejutkan, di antara minatnya yang sangat luas termasuk mempromosikan nilai-nilai pendidikan bermutu, pengajaran dan menulis. Shahraz berada di indonesia untuk membicarakan buku terbarunya Typhoon (Perempuan Terluka), lanjutan buku The Holy Woman (perempuan suci). Misinya sederhana saja, menggunakan bukunya untuk memperkenalkan Islam ke dunia barat.

“Tujuan utamaku menulis The Holy Woman adalah memperkenalkan Dunia Islam. Aku menulis buku ini ketika Salman Rushdie menerbitkan Satanic Verses.Aku marah sekali,. aku sangat terpukul, dan aku pikir barat tidak akan pernah mengerti itu; mereka pikir itu cuma sebuah buku; anda harus menjadi seorang muslim untuk bisa mengerti keperihannya.”

“You have to be Muslim to understand the pain, “katanya.

“Aku seorang penulis dan mencintai literatur…jadi apa yang kuinginkan lewat bukuku adalah membuka Dunia Islam dan menunjukkan segi positifnya. Melalui tokoh perempuan dalam bukuku mereka belajar mengenai Dunia Islam. Setiap hari ada jutaan yang seperti kita.”

I am a feminist within Muslim framework

Her aspiration to become a writer developed in her early teens but Shahraz says she writes mainly to entertain and explore women’s issues.

“I always felt strongly about women’s lives, because I’m always comparing my life to other women’s lives, and I think I’m so lucky because I live in the West, I have an education, I have a career and opportunity and I want other women to have the same. I am not a Western feminist; (I am) a feminist within a Muslim framework. I must be a feminist because I feel strongly about women’s lives and women’s issues.”

Jilbab is just a fashion modesty

She is quite vocal about the fascination and arguments over the wearing of the hijab, the Muslim headscarf, and introduces a character within her book that pleads to the readers to not look upon Muslims as “freaks” but just women who like to dress modestly.

“What I am telling people in the West is to get out of their little box, don’t assess us through your box, and because that box is the Western box and that box won’t fit everybody. Some people are 100 percent covered, some are 90 percent, some are 80 percent but somehow or another covering is important.

“In Indonesia most people cover (themselves) with a scarf; in Pakistan you wear these dubatas; in Egypt, they cover their hair but not (their) legs and you go to Saudi Arabia and they cover their entire face. We should dress according to our own modesties. It is cultural modesty, fashion modesty. So every society has its own culture of dressing.”

To build bridges

Using her role as a writer, Shahraz is on a mission to raise awareness about other cultures and build bridges. “We desperately need (to build bridges) because life can be difficult for us Muslims in the West. People say that as a writer, people listen to you so use your influence well. Luckily I can talk, I am confident, I am proud of my faith. I feel I am using that to raise awareness and above all bring the world together.”

Her journey to Bali last year for the Ubud Writers and Readers Festival helped open her eyes to the vastness of the world and made her see the arrogance of the West.

“They’re full of themselves; the West thinks the whole world is about them. There are people living across the other side of the world, who also matter, who also have another faith and belief. We’ve got to learn about them just as they learn about you because we live on one planet and these days the borders are very close. I think there’s a lot of arrogance, in America and Europe, they think everything they view is right. They need to get beyond that way of thinking of arrogance,” she said.

A British Muslim with Pakistani origins

Shahraz describes herself as a British Muslim with Pakistani origins and is acutely aware of her identity. She is at ease with the different influences in her life and finds them all extremely positive.

But despite being comfortable with her identity, there are also moments when she feels displaced.

“I feel displaced when I go to southern England, it’s all white and sometimes they’ve never seen a brown face or a Muslim. The other moment, when I am going to Pakistan, I am a stranger, superficially I am there but really I am a stranger. I am not a product of that society. Mentally I don’t fit in, because it’s the way people think and behave. There’s a class society, there are big houses, cars, servants, in England we treat everybody the same. I don’t care about cars; I don’t have servants so it’s a big change.”

Shahraz was eight years old when her family migrated to England. She strived to do well at school. Her philosophy and emphasis on quality education remains as strong today. Her father was a university graduate and encouraged his children to excel academically.

“I was a bright girl, I wanted to work very hard, I wanted to please my father. I would go on my stairs and say I want to come top, I feel if you are determined and aim high you get there,” she says.

I feel as a Muslim woman

Shahraz’s motivation to help other women rise above their adversities comes from a real sense of self-awareness and acknowledgement of the privileges she had growing up in the West. Shahraz recounted the time she was with a tour group driving up a mountain in Pakistan and her struggle with reality when she saw a woman living in a house on a hill.

“I hated myself. I am the pampered privileged women from the West on a holiday, sitting in a car, there’s a woman out there, who probably doesn’t even have water, has no hospital to take her baby, let alone an education, that is her life and what a hard life it is.

“We are lucky by where we are. We are unlucky by where we are. That woman was unlucky that was her little world. And that made her. I became a writer because I had all of this,” she says.

“A woman who can not write her name, when she writes her name it’s like a degree to her. Because it made a difference to her life. One woman’s degree is equal to that woman writing her name for her first time. It’s about achievement, personal achievement and I think all people should have that opportunity.”

The mother of three grown sons shows no signs of slowing down as she speaks excitedly about her latest project to document the way Muslim women from around the world live.

“I feel as a Muslim woman, because of migration you go through a big process. And I am sure your lives are different to your parents’ lives, so it’s interesting to document it.”

http://www.ayomerdeka.wordpress.com

Iklan

Tag: , , , , , , , , , , ,

2 Tanggapan to “Qaisra Shahraz, Jembatan Peradaban Islam-Barat”

  1. Marudut p-1000 Says:

    Pada saat Paus Benediktus XVI menerima kunjungan Raja Arab Saudi di Vatikan, ada satu permintaan Paus yaitu: agar negara-negara timur tengah juga membuka diri atau memberikan kesempatan kepada agama Kristen untuk dikenal oleh negara-negara Islam, seperti terbukanya pintu negara-negara barat bagi agama Islam untuk diperkenalkan kepada warganya. Bahkan memberikan kesempatan membangun rumah ibadah atau Islamic centre di negara mereka.

    Tuduhan Kristenisasi sering kali dimateraikan kepada orang-orang atau lembaga-lembaga yang datang ke daerah-daerah mayoritas Islam di indonesia. Saling mengenal adalah suatu keharusan untuk terciptanya kesadaran akan pentingnya toleransi, seperti yang dilakukan oleh shahraz.

    Kepincangan inilah yang digugat film ” fitna” kepada penganut agama Islam, seperti halnya shahraz dia tidak dikejar-kejar karena aktivitasnya di negara-negara barat.

  2. yanto Says:

    Saudara Marudut, saya sangat menghargai sekali pendapat anda sebagai sesama manusia. Namun ada beberapa hal yang , mohon maaf, saya harus berbeda pandangan dengan anda. Pertama, masalah keterbukaan antara islam dan kristen, saya rasa anda perlu melihat keterbukaan itu dalam tataran yang lebih global. Islam bukanlah agama yang tertutup, dan tidak menerima keterbukaan dari agama lain, terutama kristen. Bukannya justru ada yang ‘tertutup’ di agama kristen sendiri, sebagaimana tersirat dalam film the davinci code? Ketidakterbukaan yang selama ini anda lihat bisa disebabkan oleh beberapa faktor, salah satu diantaranya adalah mulai adanya ‘hidden impact will’ dr salah st sisi. Oleh karenanya wajar jika sisi yang mulai terusik oleh keberadaan isu itu melakukan hal hal yang defensif. Saya bisa memberikan beberapa bukti untuk itu. Selama kedua belah pihak bisa benar2 berposisi netral, saya juga setuju dengan adanya keterbukaan itu.
    Kedua, Mengenai tuduhan kristenisasi, saya kira anda juga perlu berfikir lebih cermat lagi, dan melihat permasalahan secara komprehensif. Kenapa mereka sampai melancarkan tuduhan itu? anda coba dengarkanlah alasan2 dan bukti2 yang ada pada mereka daripada hanya sekedar berkutat soal tuduhan tanpa harus saya harus mempertanyakan posisi anda terhadap tuduhan itu.
    Ketiga, Film ‘fitna’ bukanlah untuk menggugat kepincangan sebagaimana anda maksudkan. Tapi justru sebaliknya, ia berusaha menciptakan da mempertebal sentimen buruk dari kalangan non islam terhadap islam. Disamping itu, secara rasional, justru kebenaran dari bagian2 dalam film fitna itulah yang harus dipertanyakan secara empiris. Kalo anda benci terhadap sesuatu, pikiran negatif anda akan senantiasa melingkupi dari berbagai sisi terhadap sesuatu itu. Apakah orang yang berpakaian islam yang melakukan penyiksaan dan penyembelihan itu benar2 orang islam? Apakah bagian 2 dari ayat alquran yang diambil alquran itu benar? Apakah isinya sudah diterjemahkan dengan benar? Anda lihatlah, apa yang dilakukan oleh orang orang ‘itu’ di penjara Guantanamo. Saya kira anda perlu melihatnya lebih dalam lagi untuk sampai pada kesimpulan yang benar termasuk dalam film fitna. Anda tentu setuju, untuk mengetahui seberapa baik pasangan anda, tidak cukup hanya dengan kabar dari luar pasangan anda. Tapi anda perlu mencarinya dari pasangan anda sendiri, bergaul dengannya, menyelami karakternya, bahkan anda perlu bersama sama dengannya untuk beberapa waktu sehingga sampailah anda pada kesimpulan baik ato buruknya pasangan anda.

    Untuk masalah perbedaan prinsipil antar dua agama tersebut, sebagaimana tersirat dalam tulisan anda, saya yakin kalo anda akan setuju bahwa kita harus sama2 dalam kerangka pikir global, bukan glokal, berfikir komprehensif, bukan parsial.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: