AS Menjajah Indonesia Lewat NAMRU 2

Kok bisa sih lembaga riset di bawah otoritas militer negara lain beroperasi di wilayah Indonesia ? NAMRU hadir di sini sejak 1968. Memang, awalnya Indonesia yang mengundang mereka, tapi kemudian ngotot bertahan di sini. Selama periode tahun 2.000-2005, lembaga ini tetap beroperasi, kendati izinnya sudah habis.

Apakah NAMRU menjalankan misi terselubung di Indonesia; misal melakukan riset dan percobaan senjata biologi ?

Oleh : Robert Manurung

PERNAHKAH Anda mendengar sesuatu mengenai NAMRU ? “Mahluk” aneh ini sangat mirip Kuda Troya dalam legenda Yunani. Ciri-cirinya : rambut pirang, tampang arogan, selalu membawa senjata api ke mana-mana, bebas berkeliaran di wilayah kedaulatan Indonesia; dan suka-sukanya saja kalau mau keluar masuk negeri yang kita cintai ini.

Diam-diam, dan benar-benar luput dari perhatian masyarakat Indonesia, ternyata NAMRU sudah 40 tahun bercokol di wilayah NKRI. Cobalah ingat-ingat, terutama bagi pembaca yang sudah berusia sekitar 40 tahun, pernahkah seumur hidup Anda mendengar sesuatu mengenai NAMRU ? Mungkin sekitar 99,9 % penduduk Indonesia tidak pernah tahu atau menyadari kehadiran lembaga yang misterius ini. Nama lengkapnya adalah Namru 2.

Kenapa NAMRU bisa bercokol begitu lama di Indonesia ? Apa yang mereka cari di negara kepulauan ini, dan apa manfaat kehadiran mereka bagi Indonesia ? Dan, kenapa lembaga dari Amerika Serikat ini terkesan begitu misterius ? Banyak sekali pertanyaan yang tak terjawab mengenai lembaga riset ini. Dan aku berani memastikan, tak satu pun wartawan di Indonesia memiliki akses ke lembaga ini; malahan mungkin mereka pun tak pernah tahu keberadaan NAMRU.

Nama NAMRU tercetak di surat kabar dan mulai dibicarakan di kalangan yang sangat terbatas, baru dalam beberapa bulan ini. Beritanya pun sangat tidak menarik, lebih tepat disebut membosankan; karena yang ditonjolkan adalah tuntutan pemerintah Idonesia agar para peneliti di lembaga itu mentaati peraturan yang berlaku di Indonesia; termasuk ihwal pencabutan kekebalan diplomatik mereka. Sebuah tuntutan yang aneh dan menyedihkan, oleh sebuah negara yang berdaulat. Kenapa bukan Indonesia sendiri yang menegakkan aturan dan menjatuhkan sanksi tegas jika dilanggar ?

Berita tentang NAMRU baru memiliki magnitude besar ketika Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mencak-mencak, baru-baru ini. Pasalnya, dia sempat diharuskan menunggu sekitar 10 menit sebelum diizinkan masuk; ketika mengunjungi laboratorium milik lembaga itu secara mendadak Rabu lalu (16/4).

“Saya disuruh menunggu 10 menit karena tidak melaporkan akan datang,”ujar Siti Fadilah kepada wartawan. Padahal, katanya dengan nada gemas,”Laboratorium mereka kan berada di tanah milik Departemen Kesehatan.”

Laboratorium NAMRU berada di komplek Balitbang Departemen Kesehatan di Jalan Percetakan Negara, Rawasari, Jakarta Pusat.

Laboratorium kuman, sejak tahun 1968

NAMRU 2 adalah singkatan dari The US Naval Medical Reseach Unit Two. Dari namanya saja sudah tercium aroma militer. Memang benar, lembaga riset ini berada di bawah otoritas Angkatan Laut Amerika Serikat. Wajar sekali kalau Anda bertanya : kok bisa sih lembaga riset di bawah otoritas militer negara lain beroperasi di wilayah Indonesia ?

Lembaga riset ini beroperasi di Indonesia sejak tahun 1968. Awalnya, Indonesia yang meminta mereka datang untuk meneliti wabah sampar di Jawa Tengah. Ternyata manjur. Berkat rekomendasi NAMRU, wabah sampar yang merajalela berhasil dijinakkan.

Dua tahun kemudian, terjadi wabah malaria di Papua. NAMRU kembali diminta bantuannya. Bahkan kali ini kehadiran mereka diikat dalam sebuah MOU, ditanda tangani oleh Menteri Kesehatan GA Siwabessy dan Duta Besar AS, Francis Galbraith.

MOU itulah yang menjadi landasan hukum laboratorium di bawah kendali Angkatan Laut AS itu terus bercokol di Indonesia, biar pun selama puluhan tahun tidak ada lagi wabah penyakit menular; dan biar pun tuan rumah tidak lagi membutuhkan bantuannya..

Dalam MOU itu dijelaskan, tujuan kerjasama adalah untuk pencegahan, pengawasan dan diagnosis berbagai penyakit menular di Indenesia. NAMRU diberikan banyak sekali kelonggaran, terutama fasilitas kekebalan diplomatik buat semua stafnya; dan izin untuk memasuki seluruh wilayah Indonesia.

Memang ada klausul dalam MOU itu, setiap 10 tahun kerjasama tersebut dapat ditinjau kembali. Belakangan, Indonesia memang merasa tertipu oleh perjanjian yang “amburadul” itu. Namun semua usaha yang dilakukan untuk mengontrol Namru 2 tidak satu pun yang berhasil. Buktinya, selama periode tahun 2.000-2005, lembaga riset ini tetap beroperasi, kendati izinnya sudah habis.

Kuda Troya di beranda rumah kita

Selama 40 tahun laboratorium kuman ini beroperasi di Indonesia, kehadirannya persis seperti siluman, dan pihak tuan rumah selalu merasa tak berdaya menghadapinya. Kalau semula NAMRU datang karena diundang untuk menolong, belakangan lembaga ini sendirilah yang ingin bertahan di sini, dan mulai bertindak semaunya.

Antara tahun 1980 dan 1985 pemerintah berusaha merevisi perjanjian dengan NAMRU. Namun selagi para pejabat kita memutar otak untuk membuat regulasi yang membatasi ruang gerak lembaga ini di Indonesia, NAMRU malah mendirikan laboratorium di Jayapura. Alasannya, untuk meneliti malaria di sana; padahal pada masa itu malaria bukan lagi masalah siginifikan di Irian Jaya.

Kemudian pada tahun 1991, AS menaikkan status NAMRU yang tadinya setingkat detasemen menjadi tingkat komando. Pada saat bersamaan status NAMRU di Filipina diturunkan, dan bahkan akhirnya ditutup pada 1994. NAMRU di Jakarta kemudian diberikan kedok sebagai lembaga riset kemanusiaan, dengan meminjam tangan WHO yang menetapkan NAMRU sebagai pusat kolaborasi untuk berbagai penyakit di Asia Tenggara.

Pada tahun 1998, Menteri Pertahanan/Panglima TNI, Wiranto mendesak pemerintah, agar kerjasama dengan NAMRU dihentikan. Wiranto menjelaskan di dalam rapat kabinet, kehadiran 23 peneliti lembaga AS itu—yang nota bene mendapat fasilitas kekebalan diplomatik, sangat tidak menguntungkan bagi kepentingan pertahanan dan keamanan Inonesia.

Kemudian pada 1999, Menteri Luar Negeri Ali Alatas menyurati Presiden BJ Habibie. Dijelaskannya, keberadaan NAMRU sangat berkaitan erat dengan Protokol Verifikasi Konvensi Senjata Biologi. Protokol itu akan membebani Indonesia, khususnya dalam hal deklarasi dan investigasi karena area investigasi yang ditetapkan harus seluas 500 kilometer persegi; sedangkan NAMRU ada di tengah kota Jakarta.

Selama ini, semua upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengontrol NAMRU tidak pernah dipublikasikan, sehingga rakyat Indonesia tidak tahu apa-apa. Penduduk Jakarta pun pasti tidak pernah bermimpi bahwa sebuah laboratorium kuman terbesar di Asia Tenggara ada di kota mereka. Lokasi laboratorium ini di Rawasari, Jakarta, adalah kawasan padat penduduk dan dekat dengan pasar tradisional. Bayangkan kalau ada kuman berbahaya terlepas, penduduk akan mati konyol tanpa pernah mengerti apa yang terjadi.

Sejarah berulang, dari Tjut Njak Dien ke Siti Fadilah

Barulah setelah Menkes menggebrak, keberadaan NAMRU terungkap ke masyarakat luas. Selain melakukan kunjungan mendadak ke laboratorium itu, Menkes juga mengeluarkan kebijakan melarang semua rumah sakit di Indonesia mengirimkan sampel ke NAMRU.

Kegagahan Siti Fadilah seperti sejarah yang berulang. Ketika bangsa ini merasa tak berdaya terhadap kekuatan asing, akhirnya kaum perempuanlah yang merepet, menggebrak dan melawan. Dulu dipimpin Tjut Njak Dien di masa lalu, sekarang dipelopori Siti Fadilah.

Gebrakan yang dilakukan Menkes ternyata segera menular. Senin pagi kemarin (21/4), Forum Pembela Tanah Air menggelar unjuk rasa di DPR, kantor Menkes dan Departemen Luar Negeri. Mereka mendesak agar NAMRU lebih transparan agar tidak muncul dugaan-dugaan yang tidak benar. Inilah pertama kalinya selama 40 tahun masyarakat Indonesia bereaksi terhadap kehadiran NAMRU..

“Selama ini saya tidak tahu apa-apa yang dilakukan NAMRU, hanya tahu sebagian kecil aktivitas mereka,”tutur Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari kepada Kompas. “Selama ini NAMRU jalan sendiri, mereka punya program sendiri. Ke depan mudah-mudahan lebih transparan. Kalau mau kerjasama, MOU harus saling menguntungkan, jelas untuk rakyat.”

Menkes mengakui, dalam pencegahan wabah flu burung pada tahun 2005 NAMRU yang mempekerjakan 60 peneliti dan staf, cukup berperan. Namun dari seluruh pernyataannya, tersirat betapa gemasnya Menkes karena kekuasaannya sebagai menteri ternyata tidak mempan untuk mengontrol lembaga riset itu. Betapa kedaulatan Indonesia diinjak-injak oleh lembaga milik negara adidaya AS itu.

NAMRU memang tak tersentuh.

(www.ayomerdeka.wordpress.com)

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

40 Tanggapan to “AS Menjajah Indonesia Lewat NAMRU 2”

  1. Giyanto Says:

    Anu Bang Robert,

    Barangkali AS mau menjadi penjual jamu/obat terbaik di Indonesia.

    kan orang Indonesia mudah sakit-sakitan,he2…
    walaupun itu dulu, pada tahun 1968.
    Tapi sekarang orang Indonesia sebarnya sudah sehat2 kok.

    Salam Giy

  2. Sri N Says:

    Kita perlu orang-orang seperti Menkes, yang maju terus pantang mundur sekalipun orang-orang di sekelilingnya menganggapnya aneh. Aneh karena yang lain belum ngeh…..ada apa di balik fenomena atau kejadian yang ada.

    Kesadaran politik dalam berbangsa sudah mulai luntur tertelan arus globalisasi dunia (baca: neo-kolonialisme), pemimpin-pemimpin bangsa kita gagal dalam memberikan contoh sikap pemimpin negara berdaulat (ssstttt….memang tidak berdaulat kali ya…, jadi takut) kecuali menkes. Terlihat kalau di tayngan-tayangan di TV, tak kurang presiden kita pun terlampau sopan yang tidak semestinya pemimpin bangsa merdeka melakukan itu. Ingat kunjungan Bush beberapa waktu yang lalu???

    Saya jadi bertanya, apakah mindset pemimpinn kita memang seperti itu, yaitu untuk melayani kepentingaan tuan besar, sampe-sampe kasus NAMRU pun gak kuasa untuk mengontrolnya….(huuhhh…..menyebalkan!!), serasa gak ada harga diri.

    Jalan terus B.Menkes, kita tunggu orang-oarng yang berikutnnya yang berpikiran dan berani seperti B.Menkes, yang siap mengganti para pemimpin yang tidak amanah dan meletakkan harga diri bangsanya di bawah bangsa lain.

    Sekarang B.Menkes melawan arus sendirian, tapi beberapa waktu yang akan datang pasti arus ini bak air bah yang akan menerjang apa saja yang ada di hadapannya termasuk para status quo. Saat ini pasti banyak yang mencaci B.Menkes, tapi dia akan dikenang ketika terjadi perubahan zaman. Benar kata Bang Robert, Tjut Nya Dien dulu tidak populer apalagi di mata para penjajah Belanda. Menkes pun saat ini pasti tidak populer di mata pelaku neo-kolonialisme di negerinya termasuk di mata para anteknya. Tapi setelahh zaman berubah, Tjut Nya Dien dikenang sebagai pahlawan, saya yakin …..demikian juga menkes.

    Memang harus menuruti kata hati, walau tidak populer saat ini.

  3. mif Says:

    namru harusnya lebih transparan, FYI: karyawan namru 80% adalah pribumi

  4. pangonjat Says:

    Tindakan menkes adalah tindakan politis, dg gaya populis mengangkat isu, yang in-signifikan.
    Sudah menjadi gaya órg-org gagal untuk memblow-up isu yang ‘panas’namun tidak relevan untuk menutup kinerjanya yang buruk.
    Tidak ada cerita baik ttg kinerja kesehatan di Indonesia.

    Isu Namru2 tidak relevan, di persona non grata saja sudah beres.
    Kalau dlm kewenangan Menkes, tinggal cabut saja izin, toh dilahan dep kes. Nunggu 10 menit, atas kunjungan dadakan kok marah? Feodal sekali.

    Di mata org yg mengerti sistem, ada tata cara, ada prosedur. Seseorang mamasuki fasilitas mandiri, tentu ada prosedur tetap yg sudah dibakukan, biarpun dia presiden, harus ada keyakinan bhw benar org itu presiden.

    Kalau menkes dipandang sbg pahlawan, tukang sampah di RT sy pun lebih pantas mendapat bintang jasa, jasanya jelas mengangkat sampah, tanpa keluar uang pajak dr APBN.

  5. Febi Cahyadi Says:

    Saya yakin bahwa NAMRU 2 adalah kedok intelijen AS meskipun sulit dibuktikan. Karena saya juga percaya bahwa virus flu burung juga merupakan virus yang dibuat oleh negara adidaya tersebut untuk kegiatan perang ekonomi dunia, terutama di Asia. AS semakin cemas dan berusaha untuk mendapatkan sampel virus tersebut dari Indonesia yang ternyata bahwa pada awalnya virus tersebut diciptakan hanya untuk memusnahkan unggas ternyata telah berubah/ mutasi menjadi virus jenis lain yang lebih mematikan dan penularannya langsung dari manusia ke manusia.

    Yah begitulah AS, mereka merasa yang memulai dan mereka pula lah yang merasa harus mengakhiri (come as a hero).

  6. sibermedik Says:

    NAMRU-2 memang kontroversi, bagaikan memasukkan serigala dalam kandang domba.
    http://sibermedik.wordpress.com/2008/04/23/tentang-namru-2/

  7. yonodigdo Says:

    Banyak orang kita yang kerja ke luar negeri untuk cari duit yang lebih banyak. Tak sedikit pula yang bekerja untuk perusahaan bangsa lain yang di negeri ini. NAMRU-2 tak sekedar sebuah perusahaan, tapi lebih ke agen militer yang pasti bertujuan cari tau soal militer negara lain. Nah, orang pribumi yang kerja di NAMRU-2, harus lulus LEMHANAS dulu! biar gak dititipi kepentingan negara paman sam itu. Pejabat negeri ini juga harus punya tangan untuk terus memonitor kegiatan riset ini. Jangan-jangan ada juga pejabat kita yang “nyambi” kerja untuk NAMRU, meski cuma “titip nama” sama fasilitas. Bu Mentri kan gak cuma cari sensasi, mendingan tutup saja itu NAMRU biar di negeri ini gha ada lagi penyakit flu burung. (kan kita ga tau jgua kalo H5N1 itu mungkin muncul dari riset juga). Kalo unggas kita dimusnahkan semua kan Paman Sam punya senjata buat ngomong ” Hayoo, kamu orang Indonesia, mau makan ayam apa? nih tak kasih Quarter Chicken Legs, harga dijamin murah, semurah kedelai transgenik-ku. hayo beli, apa sekalian tak bikinkan restoran di semua kampung di indonesia, biar orangmu tambah malas, gak usah masak, makan tu ayam meski cuma ceker doang!!!!!”
    ya sudah, moga-moga kit mnasih bisa berfikir jernih.

  8. Ada Aja Says:

    Weleh…. pangonjat dibayar berapa sama US? atau mau dapet undangan gratis makan malam di Gedung utih?.. Ngomong-ngomong, anda sdh kasih apa sama tukang sampah di rumah anda? atau betegur sapapun anda belum pernah… aq juga tetangga anda

  9. daeng limpo Says:

    Lha emangnya dulu yang ngasih ijin NAMRU siapa broer ?, truz kalau perjanjiannya memang merugikan Indonesia, bukankah salah satu kelemahan kita yang harus dibenahi adalah diplomasi ?. Karena diplomasi kita lemah maka pulau sipadan dan ligitan lepas. Karena diplomasi kita lemah para koruptor bisa ongkang-ongkang kaki di Singapura. Karena diplomasi kita lemah Timor-timor akhirnya lepas. Karena diplomasi kita lemah para TKI dan TKW banyak yang menunggu ditiang pancungan. karena diplomasi kita lemah mencari hasil jarahan korptor saja susahnya minta ampun.
    kata pepatah nenek moyang saya,” jangan karena buruk muka, cermin di bom”
    —-salam—

  10. daeng limpo Says:

    Karena diplomasi kita lemah, seluruh aset negara seperti Indosat dikuasai TEMASEK, kekayaan alam yang dikuasai asing seperti oleh FREEPORT di PAPUA dan CAltex (sekarang CHEVRON) di RIAU. Dengan porsi yang tidak menguntungkan.

  11. sunarti Says:

    cobalah berpikir dengan kepala dingin bu menkes, jangn hanya karna menunggu 10 menit di pintu gerbang kok sampai marah2. harus ada perjanjian dulu dong kalo mau datng ke rumah orang bu, jangn hanya karna seorang menteri mau seenaknya , itu sama saja menunjukan kalo kata sama saja dengn mereka …..kalo soal namru sebaik nya di bicarakn dengn orang2 yang mengerti saja , jangn melempar topik ke publik dan saya yakin rakyat indonesia tidak terlalu meperdulikan masalh ini , la wong cari makan saja sudah susah ,kami merindukan zaman suharto , tidak susah seperti sekarang.

  12. triesti Says:

    Saya ngga tau banyak, tapi pengalaman saya ketika meneliti nyamuk untuk tugas sekolah baik sekali dengan orang2 NAMRU. Saya bisa datang dan belajar banyak di lab mereka, juga dibantu memperoleh literatur dan nyamuk2 yg saya perlukan (Diantaranya telur aedes).

    Kalau hanya menunggu 10 menit marah2 ketika kunjungan mendadak, koq norak banget. mentang2 mentri.

    Saya beberapa kali ikut kunjungan ke institusi international dengan janji pun, begitu sampai harus menunggu, kadang lebih dari 10 menit.

  13. udin Says:

    😀

  14. udin Says:

    =))

  15. didi ganteng Says:

    Selain NAMRU, perusahaan-perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia khususnya dari amrik juga layak untuk dicurigai. Bisa saja yang punya lab semacam itu bukan cuma namru, kita ngga tau…

  16. nindityo Says:

    lucu juga orang indonesia ini .. bahas namru kok malah ngomongin bu menkes.
    liat persoalannya mas/mbak ..

    soal bahwa bu menkes itu banyak kurang ya biarin aja.. toh dia orang tertinggi dijajaran kesehatan sekarang.. dipilih dari (kemungkinan) yang terbaik.

    terus ulas soal namru bang, tulisan di atas belum nyinggung plus minusnya..
    jadi belum bisa kasih komen yang lengkap selain komen tentang bu menkes😀

  17. Safira Says:

    Memang seharusnya Namru tidak boleh ada di Indonesia, apa kontribusi Namru sejak tahun 1968? TIDAK ADA
    Tadi pagi lihat di TV one, masih banyak daerah endemik Malaria, ada demam berdarah, ada flu burung…. tak ada satupun obat yang ditemukan oleh mereka…
    Kenapa bisa selama itu bertahan di Indonesia? Tanya saja sama orang ORBA pasti tahu semua…

  18. rang_padang Says:

    @ pangonjat

    loe dibyr berapa ama gedung putih…..loe pasti antek2nya gedung putih ya… b.menkes teruskan perjuanganmu…..tutup saja namru2. masak mau masuk gedung dibawah naugan depkes harus menunggu sampai 10 menit. jangan2 memang ada apa2nya disana. coba sama2 dipikir dengan logika sendiri, masak konflik yang ada di NKRI orang luar pula yang tau lebih dulu, dari mana mereka dapat berita tersebut. tul ndak.

  19. Robert Manurung Says:

    @ Giyanto

    Hehehe…mungkin juga. Ngomong-ngomong, Giyanto tampaknya lagi sibuk nih ?

    @ Sri N

    Ternyata kita satu aspirasi. Soal populer, itu urusan terakhir. Harga diri sebagai bangsa teramat penting. Sudah terlalu lama kita jadi bangsa yang lembek. Sampai-sampai negara kerdil seperi Singapura pun sudah berani kurang ajar terhadap kita.

    Salam Merdeka.

    @ mif

    Betul, sebagian besar karyawannya orang Indonesia. Itu tidak berarti apa-apa karena hasil karya mereka untuk kepentingan asing. Masih lebih bagus orang kita yang kerja di peruasahaan asing seperti Freeport, jelek-jelek Freeport masih bayar pajak ke Indonesia.

    Seharusnya orang-orang kita yang kerja di NAMRU 2 keluar saja dari situ, daripada tanpa diniatkan tapi nyatanya membantu pihak penjajah.

    @ pangonjat

    Taruhlah Menkes mau cari popularitas, why not ?

    Insignifikan ? Oh, malah sebaliknya, soal Namru 2 ini sangat signifikan; bukan saja soal kedaulatan, tapi menyangkut keamanan dalam negeri kita. Kalau proses penelitian Namru 2 mengalami musibah, misalnya ada kuman berbahaya lepas; apa nggak mampu kita ramai-ramai ?

    Soal tata cara memasuki kantor atau areal kekuasaan orang, itu masalah etika saja. Mungkin Menkes Siti Fadila Supari ingin menunjukkan bahwa keberadaan Namru 2 di kompleks Litbang Depkes adalah satu keanehan dan kesalahan. Secara hukum, seharusnya Namru 2 bisa dimasuki dengan leluasa oleh Menkes; karena berada di bawah kekuasaannya.

    Yang aneh, Kedubes AS mengklaim bahwa Namru 2 adalah bagian dari Kedubes AS; artinya berada di wilayah yurisdiksi AS. Berarti hukum yang berlaku di laboratorium itu adalah hukum AS. Aneh kan ? Kalau kantor Konjen atau perwakilan dagang negara, itu sih sudah jamak; tapi sebuah laboratorium negara lain beroperasi di wilayah kita tapi tidak dapat kita awasi, apa nggak konyol ?

    @ Feby Cahyadi

    Yang paling masuk akal memang itu : Namru 2 adalah operasi intelijen berkedok lembaga riset. Kita aja yang bodoh.

    @ sibermedik

    Perumpamaan yang menarik : seperti memasukkan serigala ke kandang domba. Sangat kenal.

    @ yonodigdo

    Anda membuka kemungkinan baru : ada kemungkinan lembaga riset itu berfungsi juga merekrut orang-orang kita untuk dilatih memata-matai dan menghianati bangsanya sendiri. Terima kasih, Anda sangat jeli.

  20. anas syuhada Says:

    jangan sampai NAMRU yang menyebarkan Virus di Indonesia, Contohnya Flu Burung

  21. -sceptic But RealisTic- Says:

    Yah … ga komen deh buat NAMRUNYa

    buat daeng limpo …
    jangan asal bicara kalo ga punya data ,,,
    kalo diplomasi kita lemah
    gak akan pernah ada yang namanya lautan di tengah indonesia kita jadi milik indonesia,, bakal jadi laut bebas yang bisa dilalui siapa aja
    gak ada yang namanya Archipelagic state ,,,
    kalo diplomasi kita lemah
    gak bisa kita mengubah hukum laut internasional khusus unt Indonesia

    Buat semuanya realistis aja deh,,,
    pemerintah emang masih banyak kekurangan
    tapi apa yang pernah kalian buat untuk negara SELAIN NGOMONG DOANK?
    apa yang telah kalian berikan untuk memajukan negara?
    Kemajuan negara itu tanggung jawab semua pihak,,,
    Jangan termakan semua yang kalian baca,,,
    kalo ada waktu,, di cerna dulu ,,,

    Rasanya lucu melihat semua yang sok idealis dan berteriak2 memprotes
    menentang ,tapi yang dia kontribusikan pun apa?
    mencerca amerika, tapi masih melahap produk2nya ,,,
    konsisten skali ,,,,

    Kalau ga tau You Better Shut It Up ,,,

  22. pangonjat Says:

    Namru2 nggak relevan, mau diusir mau diperpanjang, terserah aja nggak usah ribut2 ngabisin energi. Lho baru sekarang kok ribut.

    Tapi mengatakan Siti Fad, menkes pahlawan, yach…keterlaluan. Prestasinya apa? Cuman ribut doang, apalagi terakhir ribut gara-gara disuruh nunggu 10mnt, karena sidak??. Tiap kantor itu ada yang namanya protololer. Kok susah bener sih. Menkes kalo mau masuk ruang bendaharawan di depkes juga nggak boleh sembarangan, ada tata caranya yg berjudul protokoler.

    Indon sbg bangsa yg nggak mampu bikin obat buat penyakit yg diderita rakyatnya (alias bangsa yg goblog gara-gara pemimpinya/menkes yg nggak becus), kalau mau minta tolong ke bangsa lain… tangannya di bawah. Itu risiko
    Kalo minta sambil tuding-tuding, itu preman.

    Harusnya kita mencontoh, amrik dg namru-nya, ngumpulin sampel penyakit negara lain, riset buat bikin obat-nya, jaga-jaga kalo nanti muncul wabah di negaranya sendiri. Itu namanya bijaksana -pre-caution-. Jangan cuman ngandalin Tuhan dg berdoa.

    Menkes banyak yg nganggap pahlawan gara-gara sampel flu burung. padahal tidak terlihat upaya riset yg cukup mengatasi masalah tsb.
    Masalah bayar askes ke RS aja nggak mampu nangani.
    Masalah pelayan kesehatan bagi msyarakat miskin makin nggak jelas.
    Pertumbuhan penduduk nggak karuan. Data-data nggak jelas, sehingga rakyat tidak tahu apa yg terjadi di sektor kesehatan.
    Yang pasti RS kelas atas menjamur di mana-mana

    Sudah jangan ribut, menkes teken saja surat pengosongan lahan dep-kes. Itu hak prerogatif dia, kalo berani.

    Klaim Amrik bahwa krn Namru bagian dari kedubes shg jadi merupakan yuridiksi Amrik. Harus diklarifikasi. Kalau benar, sbg bangsa beradab, kita harus menghormati perjanjian yg sudah diteken. Sudah jadi aturan internasional, kedubes adalah yuridiksi/wilayah negara ybs.
    Kalo kita nggak suka kondisi tsb, pejabat yang neken perjanjian itu yang kita ‘gantung’, Yang konyol kita sendiri.

    @sceptic But RealisTic, betul. Diplomasi kita jaman dahulu punya keberhasilan-keberhasilan yg kurang disadari banyak orang. Ruang antar pulau yg berhasil diakui internasional sbg negara kesatuan, itu spektakuler.

    Kalo @daeng limpo nggak ngerti, ya sudah.
    Sipadan-ligitan kemampuan menjaga kedaulatan itu, tugasnya ABRI
    Timor timur lepas, goblognya – Habibie, antek-anteknya Jerman, yang jadi presiden karena di usung golongan hijau.
    TKI itu bahasa indonesia -eufimisme- memperhalus kondisi sebenarnya. Bahasa internasionalnya -economic refugee-. TKI itu dimata dunia, adalah pengungsi krn masalah ekonomi. Krn kita nggak mampu ngasih makan mereka.

  23. Raden Mas Angki Says:

    Menurut saya yang aneh ya yang kasih MOU ituh. Yang ngetik MOU pasti dibawah todongan senjata.

    IMHO

  24. Yayan Sopyani al-Hadi Says:

    Jumat yang lalu: DPD IMM DKI, HMI, Gema Pembebasan mendemo NAMRu2 (lihat; detik.com, okezone.com dan jurna-ekonomi.com)

    Undangan:
    Kamis Depan MARI KITA DEMO lagi Namru 2!!

    Salam

  25. Yayan Sopyani al-Hadi Says:

    “Jangan dihinggapi penyakit”minderwaardigheidcomplex. Ini bangsa besar, bukan bangsa pendatang dan gerombolan yang mengungsi dari negerinya seperti Amerika!!!
    Amerika Kita Setrika, Inggris Kita linggis!!!
    “Janganlah kita gentar, zwarwiichtig!!!!

    Selamat Hari Kebangkitan Nasioanal
    Merdeka!!! Merdeka!!!

  26. ardhin Says:

    namru 2 adalah penjajah yang masih bernapas bebas dengan udara Indonesia, padahal Indonesia konon sudah merdeka, kok memelihara penjajah!
    kontemplasi sosial sangat dibutuhkan Indonesia untuk mendesain INdonesia yang betul-betul merdeka.

  27. rahmadian Says:

    Sebenarnya kapan Indonesia bisa merdeka seutuhnya??
    Aset2 strategis bangsa dikuasai asing, bank2 pun demikian, BUMN diprivatisasi, sekarang..masalh kesehatan pun Indonesia masih terjajah. Tapi yang lebih ironisnya adalah rakyat Indonesia sendiri tidak menyadari penjajaha2 itu dan terkesan acuh.
    Kesehatan memang bukan segalanya tapi tanpa kesehatan segalanya akan terhambat bahkan tdk tercipta; kemakmuran, kemerdekaan, dsb.
    Saya yakin Namru 2 hanya 1 contoh bentuk nyata penjajahan yang dilakukan AS pada kita.
    Ayo RAKYAT INDONESIA..BANGKIT!!
    Bangkit untuk mencerdaskan diri agar bisa melawan penjajahan, baik yang jelas maupun yang transparan

  28. prety Says:

    gmn yah ,bpk2 y brdasi &duduk manis disana lbh mentingin posisiny… pdhl klo dya sadar klo semu prbuatnnya bkl di hisab g bkl gitu jdny y kn….

  29. elyoomns Says:

    mari bersama kita beramal dan berdoa dengan keihklasan, semoga orang2 yang berjuang di jalan Allah diberi kemudahan dan kekuatan lahir maupun batin, dan semoga musuh2 Allah musnah oleh tangan2 mereka sendiri, seperti musnahnya bangsa ‘aad wa tsamud

  30. RI Tool Says:

    Bah …. kok meneliti nyamuk sampai 40 tahun ? sudah usir saja !

    Tapi kalau mau meneliti korupsi, yah mungkin masuk akal , biar 40 tahun lagi takkan bisa mereka niru Indonesia.

    hehehe .. hikhikhik , huuuuu !

  31. Lee Koper Says:

    Kalo menurut ane, yang bau2 asing dan ga jelas usir aja deh. Kalo ntar ternyata berguna buat rakyat ya bikin perjanjian baru yang mihak rakyat. Namru juga ga penting2 banget buat rakyat. Dibubarin juga ga bakal ngaruh ke kita. Paling yang punya aja -Amrik- yang bakal mencak2.
    Bukan Namru aja lho… buanyak.

    Politik adu domba penjajah masih ngga ketinggalan jaman neh. Sama2 orang RI brantem sendiri. Yang diributin masalah sepele. Yang diomongin masalah Namru, masalah pulau2, tim2, tki, soeharto segala dibawa-bawa.

    Fokus man!!

    Biarin aja Bu Siti kerja dulu. Nntar kalo sukses ya kita dukung. Kalo gagal kita turunin rame2. Toh mereka -para pejabat- kita2 juga yang milih, meskipun ga langsung.

  32. cha Says:

    Ya ampun… masih juga bahas NAMRU.

    Artikelnya ga kreatip, bang, yang beginian bisa di baca di web mana-mana n udah banyak. Terutama di web-web yang lebih banyak ngomongin politik, pembebasan bangsa, dan perserikatan kelompok tertentu. Sama sekali ga ada artikel yang ngebahas dari sisi scientificnya, dan saya yakin anda pasti belum pernah melihat sendiri pekerjaan NAMRU seperti apa.

    Tindakan politis seperti ini sungguh mengecewakan saya. Saya ga mau jadi bangsa yang gampang panas dan gampang takut cuma gara2 isu yang belom jelas dasarnya dan belom ada buktinya.

    Saya pengen Indo jadi bangsa yang bijak, yang ga gampang gentar, dan mau bertindak adil untuk semua pihak, termasuk musuh kita sendiri. Kalo semua orang pintar di Indo berpikiran seperti bapak, mendingan saya jadi orang bodoh aja deh….

    Bu menkes, sebaiknya ga usah lebih memperpanjang masalah ini. Kita yang ikutan mantau usah mual. Kalo emang takut sama AS ya putusin aja hubungan diplomatiknya sekalian. Liat ada berapa negara yang masih mau jadi backing kita kalo hal itu sampe terjadi….

  33. febri Says:

    Keberadaan NAMRU ga menguntungkan… KATA SIAPA?
    1. Kata Bu menkes seseorang?
    2. Kata para ABRI?
    3. Kata anggota partai politik?

    Namru adalah lembaga ILMIAH. Bermanfaat atau tidaknya lembaga ini harusnya dibicarakan di forum ILMIAH.. bukan kepada partai2 dan kelompok2 sosial.

    Kalo Bu menkes yakin dengan pendapatnya, KUMPULKAN PARA ILMUAN dan DOKTER (yang jelas ga berasal dari latar belakang agama dan politis yang sama) dan buatkan pernyataan resmi. Sejauh ini tindakan Bu Menkes masih terlihat sebagai tindakan politis yang untuk mencari dukungan massa.

    Sampe sakarang saya masih menunggu2 pernyataan resmi Ilmiah, karena terus terang saya ngga percaya sudut pandang orang2 politik. (Politik udah terkenal kotor… Ilmiah lebih baik). Berikan data dan fakta yang medukung, dan usirlah ancaman yang dianggap nyata ini.

    Mohon yang baca artikel ini juga pertimbangkan secara kritis. Siapa yang memutuskan hal2 tersebut? Apakah orang tersebut benar2 mengerti apa yang dibicarakannya? Apakah bidang orang tersebut berkaitan dengan topik yang dibicarakan?

  34. Silmy Says:

    satu kalimat saja……. LUMAT NAMRU !!!

  35. NAMRU 2: mata-mata Amerika di Rawasari? « Almaokay’s Weblog Says:

    […] Kalau belum tahu,sebagai pemanasan coba baca tulisan Bung Robert Manurung di sini. […]

  36. Dino Pasti Dajal Says:

    Kalo gitu coba dulu Febri buktikan secara ilmiah bahwa Namru-2 menguntungkan KEPENTINGAN NASIONAL

  37. Syahrul Hanafi Simanjuntak S.15 Says:

    Inilah AKIBAT dari para aparat-aparat yang kebanyakan BENGONG aje, tak tau dia ada kumpeni di kamar sebelah rumahnya sendiri, ga tanggung2 selama 40 tahun!

  38. andi Says:

    to Febri, lantas apa anda juga mengerti dengan apa yang anda omongkan??? jangan asal ngomong MPOK

  39. sulkhan Says:

    kini saatnya para putera-puteri terbaik Indonesia menunjukan eksistesinya untuk mengusir keberadaan NAMRU 2, saya siap jiwa dan raga saya untuk menjaga harkat dan martabat bangsa Indonesia tercinta

  40. PenCari Fakta Says:

    Ne Gw Nemu SiTus KebaEkan Namru….

    Gimana Menurut kalian?

    http://www.usembassyjakarta.org/bhs/siaran-pers/April08/FactSheetNamru2.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: