Negara Tidak Berhak Membubarkan Ahmadiyah

Tidak ada yang lebih sinting di dunia ini daripada mengadili keyakinan atau sumber keyakinan seseorang maupun kelompok. Belum terlambat bagi kita semua untuk menyadari bahwa sesungguhnya Ahmadiyah berhak hidup di negara beradab ini

Oleh : Robert Manurung

BOLEHKAH menganalogikan bangsa Indonesia sebagai sebuah keluarga besar ? Kalau boleh, berarti para pengikut Ahmadiyah adalah anggota keluarga kita. Tentunya mereka memiki hak dan kewajiban yang sama dengan kita sebagai sesama anak bangsa. Salah satu hak kita sebagai anak bangsa, berdasarkan pasal 28 UUD 45, adalah kebebasan memeluk suatu agama dan menjalankan ibadahnya.

Bersediakah kita mengakui dan menghormati eksistensi Ahmadiyah ?

Seharusnya pertanyaan itu akan langsung kita jawab : bersedia; kalau memang kita masih menjunjung tinggi konstitusi negara ini. Jika tidak, berarti kita tidak sungguh-sungguh mengakui UUD 45 sebagai dasar negara; sebagai sumber segala hukum yang mengatur perilaku negara dan semua warga negara Indonesia.

Lebih tegas lagi, kalau kita tidak mengakui dan menghormati hak hidup Ahmadiyah; sesungguhnya kita sudah melanggar dan bahkan menghianati konstitusi republik ini.

Apakah aku terlalu naif, sehingga tidak ikut arus besar dalam memandang persoalan Ahmadiyah ? Apakah aku terlalu utopis, sehingga masih percaya pada amanat konstitusi kita; sementara kebanyakan orang mudah sekali menyetujui pandangan “realistis”–yang mendasarkan kebenaran pada kehendak mayoritas ?

* * *

MUNGKIN pandanganku mengenai masalah ini memang terkesan naif bagi mereka yang “realistis”. Aku menghormati hak saudara-saudara kita yang beragama Islam untuk menyuarakan pandangannya mengenai apa yang mereka sebut sebagai “kesesatan” Ahmadiyah.

Dan siapa pun yang melihat massa yang marah dalam demonstrasi anti-Ahmadiyah di Jakarta akhir pekan kemarin, pasti bisa menebak apa yang akan terjadi kalau mereka sampai bertindak anarkis. Ahmadiyah pasti hancur-lebur. Dan gambaran itulah memang yang ingin diperlihatkan, supaya moril pengikut Ahmadiyah runtuh dan agar pemerintah selekasnya membubarkan kelompok sempalan itu.

Peragaan tekad dan kesanggupan menghancurkan itu membuat hatiku miris.Dunia ini sudah terlalu sarat dengan kekerasan. Dan kehidupan di negara ini sudah sangat berat; melemahkan semangat dan nyaris mematahkan harapan. Kenapa kita begitu cenderung menyakiti diri sendiri ?

* * *

AKU bukan seorang muslim dan bukan islamolog. Tapi dari teman-temanku yang beragama Islam aku mendapat gambaran yang sangat meyakinkan, bahwa agama ini sejatinya sangat toleran. Terhadap kaum Nasrani saja Islam mau bertenggang rasa, kenapa tidak buat Ahmadiyah yang mungkin bisa dibilang ¾ atau minimal ½ Islam ?. Ini logikaku saja dan harapan sepihak.

Sejak masalah Ahmadiyah marak dan berkembang menjadi isu yang sangat panas, diam-diam dalam hati; aku menunggu terjadinya keajaiban. Jalan dialog, menurut perhitunganku masih mungkin ditempuh; karena Ahmadiyah bukanlah kelompok biang kerok yang suka cari gara-gara. Mereka hanya sekelompok orang yang punya cara berbeda menyembah Tuhan. Mereka seperti “suku terasing” yang hidup sesuai tradisi leluhurnya; di lingkungan yang tertutup dan tidak mengganggu siapa-siapa.

Kalau kita analogikan Ahmadiyah sebagai suku terasing yang, misalnya, hidup secara nudis dan memakan daging hewan tanpa dimasak; lalu kita datang ke lingkungan mereka dan merasa terganggu; sejujurnya siapakah yang salah ? Haruskah kita memaksa mereka hidup dengan cara kita, dan kalau tidak mau mereka harus berhenti menyebut diri mereka sebagai orang Indonesia; atau sekalian saja mereka dilarang mengaku sebagai manusia ?

Aku sangat berharap akan ada dialog; karena main paksa dan bertindak keras adalah pilihan yang terlalu gampang bagi mayoritas yang sangat dominan. Aku akan mengikuti dengan antusias dan respek, seandainya para ahli-ahli Islam yang pintar dan bijaksana mau membujuk para pengikut Ahmadiyah untuk memahami ajaran Islam sesuai standar-standar yang lazim dan “resmi”.

Silakan bertukar pikiran, dan bahkan berdebat. Itu akan membuat bangsa kita lebih cendekia, tercerahkan dan makin dewasa dalam menjalani kehidupan berbangsa; sesuai prinsip BHINNEKA TUNGGAL IKA.

Tapi, aku sadari dengan sedih, harapan ini hanya ilusiku saja. Mustahil terjadi.

* * *

AHMADIYAH sudah dinyatakan sebagai kelompok keagamaan yang terlarang. Itu keputusan resmi pemerintah, sesuai rekomendasi Badan Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan.

Dan lihatlah, sejumlah anggota Ahmadiyah datang dengan ketakutan ke Mabes Polri. Memohon agar nyawa mereka dilindungi. Aku bertanya dalam hati : inikah negara yang dulu diproklamasikan kemerdekaannya oleh Bung Karno ?

Kemudian, pertemuan tingkat nasional Ahmadiyah yang hendak diadakan di Bali terpaksa dibatalkan. Tidak dapat izin dari Polda setempat. Pada saat bersamaan, di Jakarta, para demonstran melecehkan simbol-simbol keagamaan yang disakralkan oleh Ahmadiyah. Potret Mirza Ahmad Gulam, pendiri Ahmadiyah yang dihormati oleh para pengikutnya setara dengan nabi, dicoret dengan tanda X oleh para demonstran itu. Bagaimana kalau nabiku yang dilecehkan begitu ? Kenapa negara membiarkannya ?

Negara ini memiliki semua instrumen yang dibutuhkan untuk memastikan pasal 28 UUD 45 tidak dilanggar ole siapa pun. Negara ini memiliki konstitusi, perangkat hukum, polisi, jaksa, hakim, peluru, pentungan dan penjara; untuk menjamin kebebasan beragama bagi semua warga negara.

Tapi, tak satu pun instrumen itu pernah digunakan sesuai fungsi dan tujuannya yang mulia. Justru sebaliknya, semua instrumen negara beradab itu dipakai untuk melanggar konstitusi; menjalankan negara dengan politik belah bambu; dan merampas hak hidup Ahmadiyah .

Tidak ada yang lebih sinting di dunia ini daripada mengadili keyakinan atau sumber keyakinan seseorang maupun kelompok. Belum terlambat bagi kita semua untuk menyadari bahwa sesungguhnya Ahmadiyah berhak hidup di negara beradab ini. (http://www.ayomerdeka.wordpress.com)

Tag: , , , ,

149 Tanggapan to “Negara Tidak Berhak Membubarkan Ahmadiyah”

  1. danalingga Says:

    Sebenarnya Ahmadiyah ini bisa meraih simpati karena mereka sangat santun, tidak neko-noko dengan berbuat kriminil.

  2. cdsi Says:

    melarang Ahmadiyah sama dengan melarang seseorang untuk memiliki keyakinan, keyakinan seseorang tidak bisa dipaksakan, jika ada ketakutan akan merusak umat yang lain, itu adalah kewajiban seseorang untuk lebih menjaga umatnya sehingga tidak terusak. jika saat ini ahmadiyah dilarang bisa jadi kedepanya islam kejawen, dan islam2 lain pun akan turut dilarang pula, pertanyaan selanjutnya sejauh mana UUD 45 mampu dilaksanakan dinegeri ini?

  3. Yari NK Says:

    Setuju sekali! Saya adalah orang yang tidak pernah mengucapkan selamat Natal atau selamat2 lainnya dalam agama lain untuk alasan apapun dan juga saya tidak pernah mengharapkan selamat hari idul fitri dari umat2 lainnya. (Toh bagi mereka yang merayakan hari2 besar agama lain mereka juga nggak butuh ucapan selamat dari saya agar mereka selamat, betul nggak??)

    Namun…. saya adalah orang yang menentang keras pembubaran atau pemaksaan suatu kepercayaan. Karena kepercayaan selain masalah hak individu setiap orang juga kepercayaan itu yang dinilai oleh Tuhan/Allah adalah kepercayaan dalam hatinya bukan kepercayaan yang karena dipaksakan. Jadi percuma jikalau mereka dipaksa ‘berjalan lurus’ namun hatinya tetap Ahmadiyah maka semua itu tidak ada gunanya……

    Jadi saya setuju Ahmadiyah tidak boleh dibubarkan secara paksa karena memang tak ada satu fihakpun yang berhak membubarkan apa yang dipercayai seseorang.

    Tapi saya setuju kalau Ahmadiyah “dikucilkan” secara kelembagaan dan keagamaan oleh umat Islam, namun bukan “dikucilkan” secara sosial individu2 pengikutnya. Biarkanlah pengikut Ahmadiyah ini bergaul seperti biasa dengan kaum Muslimin seperti halnya dengan pengikut agama2 lain. Namun kita (umat Islam) sepantasnya tidak boleh mengikuti ritual mereka dan jangan sampai kelembagaan dan kepercayaan kita disusupi oleh mereka. Dan saya juga keberatan kalau mereka pakai embel2 nama “Islam” karena seperti halnya hak patent, nama Islam “sudah dipakai” sejak zaman nabi Muhammad saw. Jadi kepercayaan yang baru muncul abad ke-19 itu tidak pantas untuk ikut2an melebelkan diri dengan nama “Islam”. Itu saja keberatan saya. Got it?😉

  4. sharif adenan Says:

    tulisan yg sangat bagus sekali….
    saya hargai, semoga orang2 indonesia punya cara berpikir yg sama seperti anda
    salam, sharif

  5. daeng limpo Says:

    Betulkah keyakinan tidak dapat diadili ?, bagaimana jika keyakinan itu menyesatkan banyak orang hingga menyebabkan hilangnya nyawa pengikutnya..?, apakah pemerintah juga tinggal diam?. Jadi tidak dapat kita menggeneralisasi sebuah kasus. Untuk Kasus Ahmadiyah ini, pemerintah bisa bertindak sebagai mediator.
    Mengenai kasus Ahmadiyah……..sah-sah saja mereka memeluk kepercayaannya, tetapi jangan pakai embel-embel Islam dunk. Lha wong Islam cuman mengakui Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir, kok tiba-tiba muncul MGA yang mengaku sebagai nabi dengan kitab Al-Quran? dan mereka mengaku Islam. Ahmadiyah ini ada dua satu Ahmadiyah Qadi’an dan satu Ahmadiyah Lahore. Lha dibeberapa negara Ahmadiyah ini sudah dilarang kok……meresahkan Umat Islam.

  6. daeng limpo Says:

    Tetapi sebaiknya Pemerintah tetap berpegang kepada koridor hukum, selama “pasal-pasal” tentang penodaan agama masih ada dalam hukum kita, maka selama itu pula pasal-pasal itu bisa dipakai untuk menjerat orang-orang yang dianggap menodai agama yang sudah ada. Kalau JEMAAH EDEN, KEMUDIAN MOSADDEQ dengan Jamaah AL-QIYADAH, lalu MADI (kasus palu), JAMAAH SEKTE GEREJA KIAMAT (pendeta Mangapin Sibuea), CHILDREN OF GOD bisa di seret kepengadilan dengan pasal-pasal penodaan agama. Mengapa AHMADIYAH tidak bisa. Ini kan berarti sebuah pengecualian, dapatkah pengeculian ini berlaku untuk Ahmadiyah ?
    Kalau anda memang ingin “kebebasan” cabut dulu pasal-pasal itu. Apakah karena Ahmadiyah jamaahnya lebih besar, sehingga pemerintah tidak berani bertindak?………….silahkan menilainya sendiri.

  7. Robert Manurung Says:

    @ daeng limpo

    Keyakinan tidak pernah merugikan atau membunuh siapa pun. Yang bisa merugikan atau membunuh adalah tindakan; dan kalau ini kan sudah ada aturan hukumnya.

    Bahwa keyakinan mempengaruhi tindakan, itu benar; tapi apakah negara dan entah siapa saja berhak mengadili keyakinan seseorang dengan maksud untuk mengontrol tindakannya ?

    Tetap aku bilang : hanya orang sinting yang mengadili keyakinan dan sumbernya. Kalau daeng limpo punya pendapat lain, baiklah kita sepakat untuk berbeda pendapat hehehe…

    Salam Merdeka!

  8. daeng limpo Says:

    Hanya satu pesan saya, “JANGAN MELAKUKAN KEKERASAN TERHADAP PENGIKUT AHMADIYAH”, mari kita kembalikan kepada hukum yang berlaku di Indonesia. Bukankah kita di Indonesia?😀

  9. daeng limpo Says:

    @admin
    siapa bilang keyakinan tidak merugikan atau membunuh siapapun ? silahkan anda baca artikel saya http://independen69.wordpress.com/2007/10/28/nabi-palsu-dan-hari-kiamat/

  10. Menggugat Mualaf Says:

    jadi inget imagine-nya john lennon nih..
    bung robert tentu inget baitnya yang ini..
    “you may say i’m a dreamer..
    but i’m not the only one..”
    higs.. lagu itu sudah lama dan perdamaian masih sulit terwujud..
    mimpi panjangkah kita??

    ehmm, saya tadi ke dokter, sambil menunggu giliran melihat today on O channel tea. wah.. Ahmadyiah Indonesia sampai harus menemui dewan penasehat presiden hanya tuk menjelaskan keyakinan mereka. hanya tuk agar tidak di larang di negeri ini..
    aaargh, arogan sekali mereka yang bernama dewan penasehat itu, seolah menjelma menjadi tuhan yang berhak mengadili manusia. kenapa tega berbuat begitu tuk sebuah sistem belief dalam jiwa manusia?? bukankah, tubuhnya boleh dipenjara, kemanusiaannya boleh dikebiri, tapi hatinya tidak akan pernah tersentuh kefanaan ini? hatinya tidak akan pernah mati tuk tuhan yang diyakininya..

    hayo bung, jangan pernah berhenti bermimpi..
    karena semoga kelak.. kita menuai nyata..
    daripada kita menabur angin dan hanya menuai badai..
    tuhan tidak pernah tidur..

    tuk teman-teman pengikut Ahmadiyah
    (yang mungkin mampir ke sini)
    semoga diberi kesabaran dan jalan keluar terbaik..
    jika pemerintah saat ini bersikeras terhadap pelarangan itu, saran saya tuk sementara ini melunak dulu, dan coba dekati tokoh-tokoh agama islam yang lebih bisa berdialog dalam hal ini. bangun dialog positif dengan mereka. semoga akan ada jalan keluar yang lebih real untuk anda semua..

    kalau saya perhatikan, yang diingini “pemerintah” adalah ahmadiyah tidak menyebut dirinya islam. ya sudah, sebut cukup ahmadiyah saja. jangan bawa-bawa islam. walau dalam banyak hal, ahmadyah jelas bersarikan dari islam juga.
    tetap belajar islam lebih dalam dan lebih jernih lagi..
    semoga tulisan di blog saya bisa turut menjernihkan suasana anda semua..
    http://mualafmenggugat.wordpress.com/2008/04/21/berkah-itu-bernama-agama/
    http://mualafmenggugat.wordpress.com/2008/04/19/menyoal-ahmadyiah/

    merdeka!!

  11. daeng limpo Says:

    @Robert Manurung
    Salam Merdeka Bung !
    supaya gak usah ke blog saya berikut ini adalah keyakinan yang akhirnya membunuh para pengikutnya.

    “The Restoration of Ten Commandments (Pemulihan Sepuluh Perintah Tuhan)” di Uganda, pimpinannya pendeta Joseph Kibweteere mengunci semua jemaat beserta kapal suci (Gereja berbentuk Kapal), api lalu dinyalakan, dan berkobar cepat melahap jemaat beserta kapal suci itu. Sekitar 530 tengkorak ditemukan diantara reruntuhan gereja. Mereka adalah jemaat “The Restoration of Ten Commandments (Pemulihan Sepuluh Perintah Tuhan)”. Sekte ini juga menganggap kiamat akan tiba pada 31 Desember 1999.

    Anggota sekte People’s temple (Kuil Rakyat) pimpinan Jim Warren Jones (Jim Jones) meminum jus anggur yang telah dicampur racun. Ini terjadi di Jonestown, Guyana 39 tahun lalu. Sebanyak 912 mayat bergelatakan di sebuah kamp yang dibangun ditengah hutan di kawasan Amerika Selatan itu. Pemimpin Gereja Disciples of Christ itu mengajarkan mati bersama adalah keindahan, karena mereka akan dibawa ke alam lain yang begitu indah. Mereka Percaya Kiamat telah begitu dekat.

    Sekte Sons Of God yang dipimpin David Koresh, pada empat belas tahun yang lalu mengalami Armageddon (pertempuran dahsyat pamungkas). Vernon Howell (Koresh) membawa 80 pengikutnya untuk bertahan di kamp yang dia sebut “Ranch Apocalypse” di waco, Texas. Koresh berkeyakinan bahwa Armageddon akan berlangsung di Texas. Mereka mempersiapkan senjata untuk menghadapinya. Menganggap hal itu melanggar hukum, pemerintah menyuruh mereka menyerah, setalh dikepung beberapa minggu, koresh membakar diri dan pengikutnya.

    Pengikut The Order of Solar Temple (Kuil tata Surya) yang terdiri dari 53 warga Swiss dan Kanada beserta pimpinan mereka Luc Jouret membakar diri. Dia Juga Yakin kiamat akan tiba.

    Sekte Aum Shinrikyo (Sekte Kebenaran Tertinggi di Jepang), yang dipimpin Shoko Asahara. Dalam bukunya “Disaster Approaches the Land of the Rising Sun” Asahara menyatakan bahwa Kiamat akan datang lewat gas awan dari Amerika. Semua Manusia akan musnah kecuali pengikut Aum. Asahara menyuruh pengikutnya untuk menimbun senjata kimia. Oleh pengikutnya senjata kimia tersebut dipakai untuk menyerang jaringan kereta api bawah tanah di Tokyo. Setidaknya 12 Orang tewas dan lebih dari 5.000 lainnya sakit.

    Sekte Heaven’s Gate sepuluh tahun yang lalu juga menggemparkan dunia dengan 39 orang pengikutnya tewas bertebaran didalam sebuah bangunan. Hampir semua mayat ditemukan dengan balutan kain warna ungu di kepala dan pundak mereka. Mereka tewas akibat sesak napas. Ternyata mereka dibunuh atau bunuh diri dengan kepala dibekap plastik setelah sebelumnya meminum ramuan fenobarbital dan alkohol. Mereka termakan rayuan Marshall Herf Applewhite, yang mengaku dirinya dulu adalah Yesus. Mereka menunggu munculnya UFO, yang diyakini akan menjadi kiamatnya kehidupan bumi.

    Monte Kim Miller pemimpin sekte Concerned Christians, beserta sekitar 50 anggotanya meninggalkan Denver, Colorado. Mereka menjual seluruh harta benda seperti rumah, tanah atau barang-barang lain, mereka menuju Yerusalem. Menurut Miller, mereka akan mati disana pada Desember 1999 dan akan diangkat ke langit tiga hari sesudahnya.

  12. daeng limpo Says:

    @Robert Manurung
    Sori Lae…..Artikelmu terlalu menarik, sehingga saya juga tertarik untuk komen…ya mungkin kita bisa bertukar ide😀
    Salam Merdeka !

  13. Robert Manurung Says:

    @ daeng limpo

    Maaf daeng, aku juga tidak setuju dengan pembubaran sekte-sekte yang Anda sebutkan; karena tidak ada dasarnya pemerintah/negara menjadi hakim untuk menentukan mana agama yang benar dan mana pula yang sesat.

    Kalau memang sekte-sekte itu melakukan pelanggaran hukum, ya proses aja sesuai hukum yang berlaku; tapi jangan langsung divonis sebagai agama/sekte terlarang. Siapa yang memberikan kewenangan bagi negara/pemerintah untuk menjadi penentu kebenaran suatu agama ?

    Coba bayangkan daeng, bagaimana kalau jemaat sebuah gereja HKBP melanggar hukum atau melakukan kejahatan yang ekstrem; apakah HKBP langsung divonis sebagai agama/aliran terlarang ?

    Salam!

  14. abah oryza Says:

    ketika suatu penganut agama berniat memecah belah agamanya, maka ialah yang telah menyulut api.

    solusi untuk ahmadiyah sebenernya sudah jelas, persilahkan ahmadiyah membuat agama baru, karena sudah jelas tidak sesuai dengan pokok dasar ajaran islam.

    dan untuk agama baru silahkan silahkan saja dan saya rasa umat islam akan dengan senang hati bersikap toleran seperti terhadap kristen dan lain lain. namun untuk sebuah ajaran yang mengaku islam, tapi ajaran-ajarannya tidak sesuai dengan pokok yang digariskan qur’an dan hadist, bahkan membuat kitab tandingan?

    saya rasa sudah jelas, bahwa agama apapun tidak mau dicampur adukan dengan nilai-nilai dasar lain.

    kekerasan bisa diminimalisir jika pemerintah tegas, bukan masalah bubarkan, atau larang, tapi PISAHKAN! karena sudah jelas seperti sebuah rumah tangga yang sudah tidak cocok lagi, masak harus dipertahankan, tapi apabila ingin kembali dalam pangkuan islam, silahkan dong sesuaikan dengan ajaran pokok yang telah digariskan dalam qur’an dan hadist.

  15. hanyfa Says:

    Ahmadiyah dibubarkan? Why not. Emang sudah berpuluh2 tahun kelompok yang satu ini merusak keyakinan dasar umat Islam berkaitan dengan keimanan bahwa Nabi Muhammad sebagai nabi dan rasul terakhir yang diutus Allah. Ahmadiyah dengan keyakinannya bahwa MGA sebagai nabi terakhir jelas ini sangat bertentangan secara fundamental, baik dengan al-Qur’an maupun Hadits. Bagi kami, umat Islam, menjadi suatu kewajiban moral dan spiritual untuk menjaga kemurnian aqidah kami. Lha siapa lagi yang akan menjaga dan memelihara agama kami kalau bukan kami sendiri sebagai pemeluknya. Tidak mungkin khan penganut non-Islam menjaga dan memelihara agama Islam dari segala macam penyimpangan?
    Yang bikin heran adalah ketika ada satu kelompok dari non-Islam yang merasa ikut kebakaran jenggot ketika kami membela agama dari berbagai penodaan. Bukankah masalah Ahmadiyah adalah masalah internal umat Islam. Toh kami juga tidak pernah ikut2an terhadap masalah internal agama lain. Dan untuk menjadi catatan kita bersama, tidak bolehkah kami membela agama kami dari berbagai penodaan dan penyimpangan? Tidak bolehkah kami memperjuangkan kesucian dan kemurnian agama kami melalui lembaga yang namanya negara? Tidak bolehkah kami bereaksi ketika aqidah kami dirampas?
    Jadi saya sarankan kepada para pemeluk agama lain janganlah suka memancing di air yang keruh dengan berdiri di belakang mereka seolah2 ingin menajdi pahlawan2 kesiangan. Apa sebenarnya maksud pembelaan dari kelompok non-Islam yang diberikan kepada kelompok Ahmadiyah. Kalau berbicara tentang hak bahwa orang Ahmadiyah punya hak hidup di negara Indonesia ini sebagai bagian integral dari keluarga besar bangsa Indonesia itu tidak kami pungkiri, kami tidak akan merampas hak hidup mereka. Kami hanya ingin memperjuangkan aqidah kami yang telah dirampok dan dibajak oleh mereka. Kalau dulu nenek moyang (para Syuhada) kami dengan pekikan Allahu Akbar berjuang mengangkat senjata melawan penjajahan Kerajaan Protestan Belanda yang selama 3,5 abad mengeruk kekayaan negeri kami, sekaranglah saatnya bagi kami untuk berjuang membela agama kami dari berbagai penyimpangan dan penodaan yang dilakukan oleh sebuah skenario global yang tidak ingin melihat Islam dan umat Islam hidup aman sentausa.

  16. Salman Aljazuli Says:

    Yang punya blog sedang bingung………..

  17. Robert Manurung Says:

    @ hanyfa

    1. Dari perspektif berbangsa dan bernegara, masalah Ahmadiyah adalah masalah seluruh bangsa.

    2. Aku tidak tahu-menahu mengenai kelompok non-Islam yang mendukung Ahmadiyah. Tapi kalau aku pribadi, posisiku adalah sebagai warga negara Indonesia yang concern mengenai pasal 28 UUD 45 tentang kebebasan beragama.

    3. Yang berjuang memerdekakan negara ini adalah nenek moyang KITA, dan basisnya adalah suku-suku. Ini sekadar mengoreksi paradigmanya saja supaya sejarah tidak bias atau tereduksi. Ompung-ompung kami juga berjuang melawan Belanda yang Protestan itu, makanya ada lagu BUtet yang tersohor itu.

    Terima kasih atas komentarmu yang cukup jelas dan panjang. Aku menikmati tukar pikiran begini sebagai suatu kemewahan, karena di sekitar kita semakin jarang bisa terjadi dialog yang sehat. Salam.

  18. daeng limpo Says:

    @Robert Manurung
    Betul sekali memang keyakinan tidak bisa diadili, tetapi apabila keyakinan itu membahayakan pengikutnya dan juga orang lain seperti peristiwa-peristiwa yang sudah saya sebutkan pada komentar sebelumnya dan memakan korban , seperti kasus GUYANA bunuh diri bersama yang menewaskan 39 orang setelah meminum racun cyanida. Apakah tidak boleh dilarang ?.
    –salam–

  19. pangonjat Says:

    Yang bisa bilang “sesat atau tidak” adalah agamawan, dg tafsir atas ayat yang dilanggar.

    Yang bisa bilang “melanggar aturan atau tidak” adalah aparat, dg putusan atas ‘peraturan yg dilanggar’

  20. Robert Manurung Says:

    @ daeng limpo

    Pada tataran yang kasat mata dan ekstrim seperti itu, Daeng, sikap kita tentu sama. Tapi nanti kalau kujelaskan mengenai adanya “panggilan” menjadi martir pada agama-agama, aku jadi masuk ke ranah ajaran atau dogma agama.

    Ringkasnya, dalam semua kasus ekstrem yang berakhir fatal pada peristiwa-peristiwa yang Daeng sebutkan tadi, orangnyalah yang dihukum dan bukan keyakinannya.

    Baru-baru ini di Eldorado, Texas, AS, sebuah sekte Mormon (Kristen) digrebek oleh polisi AS karena ada laporan seorang gadis muda anggota seklte itu bahwa dia menjadi korban pelecehan seksual. Memang begitulah fakta yang ditemukan polisi, bahwa sekte itu menganut poligami dan gadis-gadis muda dipaksa menikah hanya dengan tujuan berketurunan.

    Pemerintah AS tidak membubarkan sekte itu, tapi para pelakunya diseret ke penjara. Salam hangat Daeng.

  21. Agunk Says:

    Saya tidak begitu mengerti soal islam, karena saya bukan penganut, namun selama umatnya tidak melakukan sesuatu yg merugikan masyrakat lain, seperti berbuat kriminal ataupun mencelakan umatnya sendiri, saya rasa kenapa harus diadili. Namun saya tidak heran, jangankan ahmadiyah, agama yang resmi diakui oleh pemerintah kitapun tetap mendapat diskriminasi dari agama mayoritas. Mungkin itu cuma ketakutan dari kelompok agama mayoritas akan berkembangnya agama minoritas menjadi lebih besar.

  22. RETORIKA Says:

    Yang mesti di bubarkan itu FPI dan Jemaat Islamiah, mereka lebih sesat daripada Ahmadiyah … kok tulalit amat sih …

    Tanggapan Robert Manurung :

    Sabar bro, sing eling hehehe…
    Aku tidak setuju FPI dan Jamiah Islamiah dibubarkan. Perbuatan orang-orangnyalah yang harus ditertibkan dan setiap pelanggaran yang mereka lakukan harus diproses secara hukum.

    Dua organisasi itu boleh dan sah dibubarkan jika platformnya bertentangan dengan Panca Sila dan UUD 45.

    Salam Merdeka!

  23. Pyrrho Says:

    Sebenarnya ini sebuah pertanyaan “konstitusional”🙂

    – Apakah negara berhak masuk dalam penafsiran internal sebuah agama, atau dengan kata lain, apakah negara [Indonesia] berhak menjadi hakim dalam perbedaan penafsiran yang ada dalam suatu agama ?

    – Apakah cap sesat yang diberikan oleh otoritas iman suatu agama bisa berhenti sampai disitu saja, tanpa perlu ada tindakan negara yang menjadi eksekutor cap sesat itu ?

    – Sebenarnya apa hubungan antara negara dan agama di Indonesia ?

    Saya sepakat dengan Lae kalau negara tidak berhak masuk dalam penafsiran, pengambil keputusan, dan eksekutor dari suatu perbedaan internal keagamaan. Itu yang terpenting.

    @ daeng limpo :

    Negara tidak menghakimi keyakinan, karena yang dihakimi adalah tindakan. Jika sebuah keyakinan mengajarkan kekerasan dan mempraktekkannya, maka tindakan kekerasan itulah yang dihukum. Keyakinan dibalik itu bisa dilarang kalau jelas-jelas mengajarkan suatu kekerasan. Tapi keyakinan tiap-tiap orang pada sebuah kepercayaan jelas-jelas tidak bisa dihakimi sepanjang dia tidak melanggar hukum.

    Ukurannya bukan lagi keyakinan itu sendiri tetapi apa perbuatan yang melanggar hukum dari sebuah keyakinan.

  24. hanyfa Says:

    @ Robert Manurung
    Nah bagaimana dengan pertanyaan kami, tidak bolehkah kami membela agama kami dari berbagai penodaan dan penyimpangan? Tidak bolehkah kami memperjuangkan kesucian dan kemurnian agama kami melalui lembaga yang namanya negara? Tidak bolehkah kami bereaksi ketika aqidah kami dirampas?
    Bukankah ketika kami membela agama dari berbagai penyimpangan dan penodaan adalah merupakan hak juga?
    Kalau seandainya anda begitu akomodatif terhadap hak orang2 Ahmadiyah mengapa terhadap hak2 kami untuk membela agama kami tidak begitu akomodatif?
    Kalau anda berbicara dalam perspektif berbangsa dan bernegara mestinya anda juga dengar dan rasakan bagaimana sakitnya perasaan religiusitas kami ketika aqidah dan keyakinan kami dirusak oleh orang2 Ahmadiyah.
    Supaya sejarah tidak bias dan tereduksi seperti yang anda katakan saya sarankan coba anda baca lagi sejarah perjuangan bangsa Indonesia dengan penuh kejujuran dan keikhlasan. Anda akan menemukan bahwa basis perjuangan mayoritas bangsa Indonesia adalah ISLAM. O ya pekikan takbir Allahu Akbar para Syuhada kami ketika berjuang melawan penjajah masih terdengar di telinga kami hingga saat ini dan untuk selamanya.

  25. Pyrrho Says:

    @ hanyfa :

    Tidak bolehkah kami memperjuangkan kesucian dan kemurnian agama kami melalui lembaga yang namanya negara?

    Sebelum pertanyaan bagaimana hubungan negara dan agama di Indonesia itu bisa dijawab dengan memuaskan, maka sepertinya pertanyaan ini akan terus terdengar. Karena konsep campur tangan negara ke dalam urusan agama itu bisa menentukan apakah sebuah kepercayaan/keyakinan dapat dihakimi oleh negara sebagai perpanjangan tangan agama.

    Lain lagi ceritanya kalau suatu negara berlandaskan pada suatu ajaran agama. Ini sudah sangat jelas.

  26. tanya Says:

    kenapa bisa begitu ya om, kan kalau misalnya agama kristen itu dulunya ada 2 aliran yaitu aliran unitarian dan aliran trinitas, melalui konsili nicea tahun 325 yang dihadiri oleh seluruh keuskupan bizantium timur memutuskan bahwa paham trinitas yang diakui, sedangkan paham unitarian yang mempertuhankan Allah tidak boleh beredar. Kenapa ahmadiyah dibela? aliran unitarian tidak?

  27. batuhapur Says:

    salam..
    topik diatas sangat bagus dan harusnya hal2 seperti ini perlu ditingkatkan ke ajang perdebatan supaya kita semua bisa saling koreksi dan saling menerima pendapat dan melihat dari sisi lain.

    kita sudah sama sama melihat tindakan pemerintah dalam menegakkan keadilan terutama dalam kebebasan beribadah. sebenarnya pemerintah itu tidak bodoh. mereka orang2 intelek. tp permaslahannya. mereka tidak mau kehhilangan jabatan demi membela suatu kepentingan yang menurutnya tidak ada hubungan dengannya. mereka takut ditekan oleh pihak2 tertent.
    nah daripada pusing lebih baik, mengabulkan permintaan pihak2 tersebut.

    jadi pemerintah kita ini seperti boneka… tidak bisa b erbuat apa2..

    apalagi aparatnya.. hanya bisa razia malam di jalan2 untuk cari uang lembur… tangkap dan damai ( salam tempel)

    maaf jadi ngelantur…

    salam merdeka.

  28. daeng limpo Says:

    Maksud saya begini Lae Manurung,
    Negara ini kan negara hukum ? (bener gak Lae?)
    Lha bagaimana bisa perlakuan terhadap Ahmadiyah berbeda dengan perlakuan terhadap aliran lain yang sudah divonis dan juga sedang disidangkan saat ini (MOSADDEQ).
    Jadi Kalau mau “merdeka” cabut dululah pasal-pasal dibawah ini, kalau tidak dicabut maka pengikut Ahmadiyah kan juga warga negara Indonesia, jadi mesti patuh terhadap hukum dunk.
    12. PENODAAN AGAMA DAN HUKUMNYA

    12.1 Pada Kitab Undang-undang Hukum Pidana diadakan pasal baru yang berbunyi sbb: PASAL 56 a:
    Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun, barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan: a. yang pokoknya bersifat permusuhan. Penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama di Indonesia.

    12.2 Surat edaran Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji Nomor D/BA.01/3099/84 tanggal 20 September 1984, a.l.:

    2. Pengkajian terhadap aliran Ahmadiyah menghasilkan bahwa Ahmadiyah-Qadiyan dianggap menyimpang dari Islam karena mempercayai Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi, sehingga mereka percaya bahwa Nabi Muhammad saw bukan nabi terakhir.

    dan juga keputusan BAKOR PAKEM dan juga SKB tiga menteri yang akan dikeluarkan (katanya ?).

    Harus fair dong, masak LIA EDEN divonis, Pendeta Mangapin Divonis, MaHDI divonis, lalu pemimpin Ahmadiyah yang sudah jelas – jleas ada putusan dan rekomendasinya tidak divonis ? adilkah ?

    Bisa dong LIA AMINUDDIN dan MOSADDEQ protes…….masak guwe dihukum…yang ini kagak? apa karena kami jamaahnya sedikit dan cuman di Indonesia? nih….ketidak tegasan yang bikin runyam…aturan sudah ada tapi pilih kasih. Seharusnya pimpinan Ahmadiyah juga harus disidang….Undang-undangnya kan belum dicabut.

    —-salam—-

  29. danalingga Says:

    Soal keyakinan itu maka:

    Dalam hal ini memang seperti buah simalakama, bahwasanya:

    1. empati kepada penganut ahmadiyah, mosok dipaksa melepas keyakinannya bahwa mereka itu tidak islam padahal mereka seyakin-yakinnya beranggapan bahwa mereka adalah Islam

    2. empati kepada penentang ahmadiyah, mosok dipaksa dilarang untuk menuntut orang/lembaga untuk tidak mengaku-ngaku Islam, padahal dia sangat yakin lembaga/orang tersebut sanga-sangat tidak Islam

    Jadi sungguh susah memang mengatur masalah keyakinan ini. Tapi saya heran kok kedua pihak bisa sangat yakin ya? Apa dah langsung diberitahu Allah?

  30. daeng limpo Says:

    @pyrrho
    betul…negara tidak menghakimi keyakinan, kalau dalam Undang-Undang negara itu tidak ada pasal yang bisa digunakan untuk “menghakimi”. Kalau ada dalam KUHAP kita, tentu pemerintah bisa menghakimi?.
    Selama pasal itu masih ada, maka Ahmadiyah harus diperlakukan sama dengan yang lain yang telah divonis dengan pasal itu. Itupun jika ada yang mengadukan….?(saya sendiri tidak berniat mengadukan)
    –salam—

  31. mybenjeng Says:

    sampai saat ini saya tidak meragukan MUI dalam memfatwakan ajaran ini.
    kumpulan ulama-ulama hebat se-indonesia, fatwanya tentu berdasar pemikiran hebat beliau-beliau.
    saya sangat menghargai pendapat anda, setidaknya memberi perspektif lain bagi saya. salam…

  32. bang toyib Says:

    Saya setuju dengan dialog seperti ini, dialog dengan kepala yang dingin dan tutur bahasa yang santun, tidak saling menjatuhkan, melainkan bertukar pendapat dengan pandangan masing-masing. Tetapi saling melengkapi.

    Mengenai Ahmadiah saya paling setuju dengan pendapat “abah oryza” Mengenai pemisahan Ahmadiyah dari tubuh islam.

  33. alim Says:

    saya dibesarkan dari keluarga ahmadiyah.

    jujur saya bingung…

    1. saya tidak pernah ataupun melihat kitab lain selain Al-quran. dan ketika saya kecil sampai besar saya ikut pengajian dengan teman-teman di komplek saya. Begitupun dengan orang tua saya mereka tidak pernah membaca kitab lain selain Al-quran.

    2. saya meyakini bahwa nabi terakhir adalah Nabi Muhamad, tidak ada nabi setelahnya.

    3. tentang MGA, setahu saya MGA adalah hanya seorang khalifah untuk membimbing umat islam dan bukan sebagai nabi. Apakah salah jika kita ada seorang pemimpin untuk membimbing. Mungkin sama halnya seperti umat kristen memilki paus…untuk membimbing umatnya.

    4. saya mungkin bukanlah islam yang fanatik…tiap hari saya selalu mencoba belajar menjadi lebih baik dan baik lagi.

    maaf, jika saya banyak salah kata…

  34. ressay Says:

    http://anditoaja.wordpress.com/2008/04/23/ahmadiyah/#more-79

  35. wiwi Says:

    Pertanyaan retorika anda menggelitik saya untuk berkomentar. “Bisakah kita mengakui dan menghormati keberadaan Ahmadiyah?”
    Sekarang saya balik, “Bisakah Ahmadiyah mengakui dan menghormati keberadaan Islam itu sendiri?”
    Karena seperti agama2 lain, dalam Islam pun ada hal2 yang prinsip yang menjadi pembeda dengan agama lainnya.
    Dalam Islam salah satu hal prinsip itu adalah mengakui Nabi Muhammad saw sebagai nabi terakhir.
    Dan Ahmadiyah mengimami Mirza Ghulam Ahmad yang jelas2 telah mengklaim dirinya sebagai Messiah (titisan Nabi Isa), Imam Mahdi dan nabi terakhir.
    Jelas Ahmadiyah telah keluar dari koridor Islam.
    Kalau saja mereka menamakan dirinya kelompok Ahmadiyah tanpa ada embel2 Islam, maka tidak akan ada yang merasa terhina. Walaupun perbuatan anarkis terhadap Ahmadiyah sangat disayangkan.
    Tapi mungkin setiap orang yang merasa agamanya dinistakan mempunyai perbedaan dalam menyalurkan amarahnya. Ada yang dengan cara menulis blog, berantem, yang mempunyai kekuasaan akan melarang dll.
    Salam.

  36. Nad Says:

    Saya terkesan dengan tulisan yang baik ini dan keyakinan yang telah mendasarinya. Terima kasih, saya tunggu postingan berikutnya!

  37. Sawali Tuhusetya Says:

    berdasarkan konstitusi memang idealnya setiap warga negara diberikan kebebasan utk menganut agama dan keyakinannya masing2, termasuk dalam hal ini muhammadaiyah. yang jadi persoalan adalah bahwa ahmadiyah itu bukan agama baru, melainkan salah satu aliran dalam islam yang dinilai kalangan tertentu telah menodai nama islam dengan cara dan syariatnya yang berbeda dengan silam pada umumnya. dalam konteks ini, kalau saja ahmadiyah melepaskan “jubah”-nya sebagai islam, bisa jadi ahmadiyah malah bisa mengembangkan ajaran2nya dan umat islam tdk akan pernah terusik. wah, ttg pelarangan ahmadiyah itu saya jadi speechless.:mrgreen:

  38. intelefone123 Says:

    Di Pakistan, pelarangan Ahmadiyah diambil langsung dari Interpretation Article 260(3) dari The Constitution of The Islamic Republic of Pakistan yang membuat definisi “muslem” dan “non-muslim.” Ironisnya, gerakan Ahmadiyah mempunyai andil besar dalam sejarah berdirinya Republik Islam Pakistan.

    http://thepersecution.org/50years/constatus.html

    Kemana arah pelarangan Ahmadiyah di Indonesia? Belajarlah dari sejarahmu sendiri! Apakah Qur’an tidak mengajarkan kesadaran sejarah?

    http://intelefone123.wordpress.com/

  39. syahrizal pulungan Says:

    Saya mengajak anda untuk melihat perkembangan
    silahkan kunjungi :

    http://isamujahid.wordpress.com/2008/01/15/konferensi-pers-amir-jemaat-ahmadiyah-indonesia-di-baitul-quran/

    http://www.menkokesra.go.id/content/view/7916/39/

  40. Robert Manurung Says:

    @ danalingga

    Terima kasih untuk komentar pertamax-nya. Setahu aku juga begitu, dalam hubungan sosial sehari-hari Ahmadiyah is very nice.

    @ cdsi

    Aku setuju banget dengan bagian komentar Anda yang ini :

    “…melarang Ahmadiyah sama dengan melarang seseorang untuk memiliki keyakinan, keyakinan seseorang tidak bisa dipaksakan, jika ada ketakutan akan merusak umat yang lain, itu adalah kewajiban seseorang untuk lebih menjaga umatnya sehingga tidak terusak..”

    Terima kasih. Merdeka!

    @ Yari NK

    Terima kasih. Aku sangat menghargai keterus-terangan Pak Yari mengenai “pola relasi” dengan pemeluk di luar agama Anda. Kita butuh dialog-dialog terbuka seperti ini, dengan pikiran jernih dan hati terbuka; agar hubungan antar iman bisa lebih cair dan toleran.

    Usulan “pengucilan” terhadap Ahmadiyah, ide ini lebih baik daripada langsung main bubarkan.

    Mengenai pemakaian atribut Islam oleh Ahmadiyah, akan lebih afdol kalau kalangan Ahmadiyah sendiri yang menjawab soal ini. Apakah di forum ini ada dari Ahmadiyah ?

    Salam Merdeka!

  41. adproindonesia Says:

    ..jujur..

    http://www.perpustakaan-islam.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=74

    http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20080119174201AAXzIg7&show=7

  42. mistercomel Says:

    Ahmadiyah sudah ada sejak jaman kemerdekaan bung!
    Sudah waktunya kita lebih beradab bukan lebih biadab………..

  43. Rajawalimuda Says:

    Saya sih melihat smua orang jaman sekarang jadi sok tahu, smua bisa bilang apa aja, baik bakor pakem, orang ahmadiyah, MUI, bisa keukeuh dengan interpretasinya masing masing. sayangnya dialog masih kurang. Sekarang penyakit lama orang indonesia yang reaktif mulai muncul lagi, mengutuk, membakar memprotes, hajar dulu baru mikir, menyesal kemudian. smua ini muncul gara gara penyakit generalisasi kita, mungkin ada keluarga yang ahmadiyah, dari turun temurun merasa tidak ada yang salah, dan ga ngakuin MGA, tapi dikejar kejar macem maling. ada kah orang orang yang anarkis ini bertanya sebelum mereka menganiyaya?

    Saya cuma bingung, kalau umat yang merasa lebih islam dari ahmadiyah, malah jadi anarkis. kalau boleh nebeng bertanya di blog ini, buat saudara saudara muslim yang panasan dan bakar-bakaran, Apa jawab kita pada nabi yang mulia muhammad putra abdullah nanti?, rasulullah dulu dilempari kotoran dan batu, hanya bilang ” maafkan mereka, karena mereka tidak tau”, Sedangkan kita, yang gak seujung jaripun dari level nabi, udah mau ngabisin nyawa orang, pencaharian orang, rumah orang? kata saya sih dialog nya masih kurang, gak mungkin mendebat keyakinan orang dalam beberapa bulan, terus minta mereka teken dan lain lain. Sudah lah berhenti bakar bakar-an, panas-panas-an, dialog lagi dialog lagi…plis…demi bangsa kita ini..

  44. yossyrahadian Says:

    ga masalah sih, asal Ahmadiyah jangan ngaku Islam. itu saja

    lha wong Indonesia itu negara agama bukan, negara sekuler bukan, yang katanya negara hukum (tapiii…). buktinya, yaah sudah banyak bukan???

    negara yang baru bisa merangkak…

    mungkin bisa dicermati lagi dan bisa di telaah lagi kenapa ada reaksi yang berbeda mengenai Ahmadiyah ini. Sudahkah kita tahu dan paham tentang Ahmadiyah ini, apa cuma melalui pemberitaan2 media saja.

    ???

  45. Yari NK Says:

    @Robert Manurung

    Terima kasih buat bang Robert untuk tanggapan baliknya.
    Menurut saya, memang apakah Ahmadiyah ingin menempelkan label Islam atau tidak atau merasa lebih Islam dari orang Islam sendiri ya itu hak mereka. Sayapun (dan juga orang2 yang berfikiran sama dengan saya) tentu juga berhak dong kalau merasa keberatan mereka menggunakan label Islam. Namun, itupun saya dan lainnya tentu saja juga tidak boleh main paksa begitu saja. Mungkin untuk menetapkannya kita butuh pengadilan untuk itu kalau kita adalah WN yang baik.

    Namun yang saya minta di sini tentu adalah sedikit ‘logika’ (andaikan kalau dicari dari sisi kepercayaan tidak pernah bertemu) dari pengikut Ahmadiyah, yang duluan ada itulah yang paling ‘berhak’ menggunakan label tersebut……

  46. Advokat Listiana Says:

    Dalam islam disebut kan …. agamaku untuk ku dan agamamu untuk mu … **bingung* … yg pasti saya tidak setuju kalau Ahmadiyah dibubarkan

  47. nuha Says:

    aku dah baca postingannya, tapi gak sempet baca komen2 di atasku. panjang2 bo…
    aku juga mau berpendapat. Ya, sepakat kalo Islam sejatinya sangat menjunjung toleransi antar umat beragama (pernyataan ini ada dalam salah satu surat dalam Al-Quran)
    Mungkin orang Islam bisa menerima kehadiran nasrani dan agama-agama lain yang ada karena emang keyakinan juga nama agama mereka jelas beda. Tapi masalahnya Ahmadiyah itu menyebut dia ISLAM padahal sarat utama ISLAM itu 2 kalimat syahadat yaitu mengakui adanya Allah Tuhan Yang Esa dan Nabi Muhammad sebagai Rasulnya, bukan nabi-nabi dan rasul yang lain. Entah lagi kalo pada Ahmadiayah tidak menyebut dirinya sebagai ISLAM, mungkin saja atau bisa dipastikan mereka juga akan diperlakukan layaknya orang beragama lain tersebut, TOLERANSI. Keyakinan Ahmadiayah bukan cuma sesat tapi merusak Akidah ISLAM.
    Sebenarnya, kalo menurutku yang perlu disoroti dalam tulisan Ahmadiyah atau penentangnya tapi sikap untuk bisa menyelesaikan masalah ini. “Kekerasan…..”, apa gak ada cara lain….
    Keyakinan itu kan dari hati, maka kalo mo ngotak-atik keyakinan seseorang ya pake hati juga, kalo maen fisik apalagi brutal bukannya mengubah keyakinan tapi malah menimbulkan kebencian atau malah dendam. Hah…kapan bisa merdeka dan tenang kalo gini terus….
    Merdeka juga !!!!

  48. nuha Says:

    ralat: paragraf ke tiga dari bawah
    “Sebenarnya, kalo menurutku, yang perlu disoroti dalam tulisan adalah sikap untuk bisa menyelesaikan masalah ini…. ”
    Hehe,,,gak penting yo…gpp, biar gak salah persepsi

  49. batubaranews Says:

    @Robert Manurung

    AKU bukan seorang muslim dan bukan islamolog. Tapi dari teman-temanku yang beragama Islam aku mendapat gambaran yang sangat meyakinkan, bahwa agama ini sejatinya sangat toleran. Terhadap kaum Nasrani saja Islam mau bertenggang rasa, kenapa tidak buat Ahmadiyah yang mungkin bisa dibilang ¾ atau minimal ½ Islam ?.

    Benar sekali, Islam sangat toleran pada agama lain. Karena sudah jelas wilayahnya, Putih dan Hitam. Abu-abu ini yang berbahaya…

    saya sependapat dengan Abah Oryza :

    solusi untuk ahmadiyah sebenernya sudah jelas, persilahkan ahmadiyah membuat agama baru, karena sudah jelas tidak sesuai dengan pokok dasar ajaran islam.

    Trim’s

  50. Jeng Tamu Says:

    Emang kaum penjajah (baca: nasrani), akan lebih senang bila Ahmadiyah tetap eksis dan membuat keyakinan orang islam amburadul. Tengok saja sejarah ebrdirinya Ahmadiyah di Lahore sana. yang ngangkat MGA sebagai nabi bukan Tuhan, melainkan sang kolonial (penjajah Inggris) di sana. si MGA itu tadinya khan anteknya penjadah.
    Sikap penjajah tengik itu terlihat dari surat yang diterima dari Inggris dan Amerika kepada Presiden RI agar Ahmadiyah di Indonesia tidak dibubarkan.

  51. atmo glendem Says:

    Tidak ada yang lebih sinting di dunia ini daripada mengadili keyakinan atau sumber keyakinan seseorang maupun kelompok. Belum terlambat bagi kita semua untuk menyadari bahwa sesungguhnya Ahmadiyah berhak hidup di negara beradab ini

    wah wah, isuk isuk kok wes mbahas ahmadiyah?

    ngene lho kisanak,
    nek kowe oleh nduwe panemu koyok iku, lan bener kanggomu,
    lan ugo ora bener kanggoku🙂
    (oleh to, wong jaman ngene, jaman demo demokrasi ngene bedo pendapat/panemu?)

    masalah iku tak padhak ke koyok ngene:

    Onok wong sing ngedekne organisasi : PKB, trus ketua syuro ne Gusdur, wes di daftarke neng Depkumham

    Lha iki onok meneh, wong sing ngedekne PKB,kabeh podho blejet, sing mbedakne, PKB sing anyar iki ketua Syuro ne dudu Gus Dur, tapi Guus Hiddink.

    Lha, jelas, wong wong PKB Gus dur ora trimo toh kisanak?
    lha nek masalah ngene iki negoro mung meneng wae, arepe dadi opo negoro iku? ora ono pengayoman blass neng babagan organisasi

    ANGGOTA AHMADIYAH BERHAK HIDUP DI NEGERI INI, TAPI
    AHMADIYAH SEBAGAI ORGANISASI LAH YANG DILARANG !!

    ORANG ORANG PKI BERHAK HIDUP DI SINI, TAPI ORGANISASI PKI DILARANG DI NEGERI INI…

    gitu aja kok repot to kisanak???

    atmo glendem

  52. mare Says:

    permisi ???
    numpang lewat boleh???

  53. mare Says:

    wah kayaknya makin seru aja nih,
    boleh ikutan komentar gak???

  54. newbie Says:

    Sebenarnya simpel saja, Ahmadiyah jangan bawa-bawa ajaran Islam dan mengatas namakan Islam dan memakai atribut-atribut, Berdiri saja sebagai agama yang baru,Itu kan lebih fair dan adil …!!!!

  55. mare Says:

    Saya kog gak suka dengan judul artikel anda yaitu negara tidak berhak melarang ahmadiyah.
    Kesan yang saya tangkap kemudian dari artikel anda dan kometar yang bertebaran bahwa memang rata – rata membenarkan apa yang ada di artikel anda. Bukannya saya “mencaci”ataupun gak “menghargai kebebasan “anda dalam mengungkapkan pendapat anda, bukan tapi saya hanya ingin memberi sedikit bantuan untuk artikel anda.
    Kata “Negara” dalam berbagai kitab yang berisi mengenai tata negara di dunia manapun (Indonesia misalnya kitab negara kertagama, Inggris misalnya codex status) memiliki makna yang hampir sama yaitu:
    1. Sebuah lembaga yang diberikan kepercayaan oleh sejumlah masyarakat (kumpulan manusia yang memiliki semangat yang sama dalam mewujudkan keamanan, kebersamaan dan keberlangsungan) untuk mengatur tindakan yang dianggap perlu untuk menyelamatkan kepentingan bersama(masyarakat).
    2. Lembaga bersama milik masyarakat yang dipercaya untuk melindungi kepentingan bersama yang karena demikian berhak untuk mengatur segala tindakan dan perilaku yang menyimpang dari apa yang sudah “diamanatkan” oleh masyarakat. Sehingga “negara”memiliki peraturan, alat penegak, serta alat birokrasi untuk mewujudkan keterlangsungan ‘kepentingan” masyarakat.

    Nah dari berbagai sumber tersebut saya menganalisis artikel anda ini adalah artikel yang amat-sangat tidak logis(maaf) karena anda tidak bisa memahami makna sebuah negara(atau sebelum menulis artikel ini anda mungkin memang gak pernah membaca berbagai macam buku mengenai “tatanegara”). Jika anda baca lagi artikel anda (sebagai posisi orang lain bukan sebagai penulis) mungkin anda akan menangkap kesan bahwa artikel itu merupakan artikel “pelampiasan” aja tanpa menganalisis, merenungkan dan mengkritisi sebuah kejadian kejadian tanpa disertai “penelitian” yang dapat dipertanggung jawabkan.
    maap saran saya ini mungkin terlalu banyak tapi saya yakin anda juga orang yang berpikiran “modern” yaitu orang yang memiliki “independensi”, tidak mudah ikut “arus”,bisa membaca sebuah masalah tidak hanya dari satu sisi/segi saja.

    Semoga tuhan membukakan mata hati anda

  56. yuari Says:

    menurut saya ahmadiyah harus tegas siapakah nabi terakhirnya? Muhammad atau Mirza Ghulam Ahmad?

    KEtika dialog di sebuah TV swasta beberapa minggu yang lalu, nyatanya Ahmadiyah memang tidak mengakui Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir kok?

    kalau di komen sebelumnya ada yang menyatakan bahwa ahmadiyah tidak jauh berbeda dengan Islam, apa benar? pada awalnya ketika seseorang direkrut masuk ahmadiyah memang tidak langsung menyatakan konsep nabi terakhir tetapi ketika sudah terdoktrin maka, muali deh substansi ajaran ahmadiyah itu ditularkan….

    ingat!!!! pintu gerbang masuk kedalam islam adalah syahadat. syahadat bicara tentang konsep ke-esaan Allah swt dan Rasulullah Muhammad, jadi ketika kita mengakui ada nabi setelah nabi muhammad itu sudah keluar dari konsep islam……..

    Jadi ketika kita shalat, bacaan syahadat dalam shalat diganti apa?Mirza Gulam Ahmad gitu……karena akar Ahmadiyah yang dari negara asalnyakan memang menyimpang…….

    kalau pake logika HAM, jelas Ahmadiyah yang menginjak-injak konsepsi Islam, bukan sebaliknya……

    bagi pengikut ahmadiyah saya sarankan buat agama baru saja…yaitu agama ahmadiyah…ga usah ngaku2 muslim, kecuali kalau memang tidak mengakui konsepsi syahadat….

  57. mare Says:

    oh yaa satu lagi
    klo anda sudah bersedia atau pun menemukan beragam buku mengenai makna sebuah negara, saya harap anda membacanya sampai tuntas dan dengan penuh “kerendahan hati” . Karena hanya dengan cara yang demikian anda akan menemukan sejumlah titik terang untuk menambah kekayaan pengetahuan anda .

  58. iman brotoseno Says:

    Ini khan urusan internal Islam, Pemerintah semestinya lebih bijak tidak memasuki area ini. Atau menjadi stempel sebuah kelompok untuk pembubaran kelompok lain.,

    Robert Manurung

    Inilah poin terpenting artikel ini. Pemerintah selaku penyelenggara negara jangan melakukan intervensi ke urusan internal agama; dan sebaliknya jangan diperalat oleh kelompok atau komponen bangsa untuk mengusik atau mematikan kelompok lain.

    Terima kasih Mas Iman.

  59. Supraptono Says:

    @ cdsi

    Aku setuju banget dengan bagian komentar Anda yang ini :

    “…melarang Ahmadiyah sama dengan melarang seseorang untuk memiliki keyakinan, keyakinan seseorang tidak bisa dipaksakan, jika ada ketakutan akan merusak umat yang lain, itu adalah kewajiban seseorang untuk lebih menjaga umatnya sehingga tidak terusak..”

    Klo dmkian SK 70 tentang pelarangan menyebarkan agama kepada orang yang sudah beragama yo hrs dicabut juga, krn tidak sejiwa dgn semangat UUD’45!
    Mengapa hrs ada “pelarangan menyebarkan agama segala”, mari kita ingat sejarah…. sebelum Islam masuk ke Indonesia (atau ketempat lain di dunia ini) bukan kah di sini sdh ada yg namanya kepercayaan Hindu dan Budha atau lainnya mungkin?
    Klo sekarang mayoritas orang Indonesia beragama Islam apakah tidak karena dahulu disebarkan (caranya?silahkan dipikir sendiri2 lho) juga kepada orang2 sudah memeluk kepercayaan “lain”…hayoo!!
    Klo sekarang jama moden ini misal, seseorang mendengar atau membaca khotbah atau renungan atau apapaun namanya dari media2 (radio,tv,telepon ato yg lebih canggih lagi adalah internet dsb..dsb), lalu ybs dgn kesadaran sendiri ataupun setelah mendpt bimbingan dr orang lain dan ybs “berpindah suatu keyakinan lamanya” kepada “keyakinan barunya” dianggap salah oleh negara atau yang menyebarkan atau media atao alat komunikasinya yang salah??
    Artinya para cendikiawan muslim Indonesia yg katanya merumuskan SK 70, oleh karena saking pinternya malah jadi keblinger, artinya mereka malah sudah tidak punya keyakinan lagi atas “pemeliharaan” TUHAN untuk umatnya (klo boleh pinjam kata yg dipakai mas cdsi..mereka “ketakutan”), lalu mereka “logikanya” membuat aturan sendiri…dengan dalih “kerukunan” umat beragama…..tetapi melanggar dan mengebiri hak orang lain…..he..he…!!
    Wah…maaf ngelantur menyimpang dari topiknya…tapi inilah uneg2ku.

    Untuk Ahmadiyah :
    Aku setuju banget dengan bagian komentar Anda yang ini :

    “…melarang Ahmadiyah sama dengan melarang seseorang untuk memiliki keyakinan, keyakinan seseorang tidak bisa dipaksakan, jika ada ketakutan akan merusak umat yang lain, itu adalah kewajiban seseorang untuk lebih menjaga umatnya sehingga tidak terusak..”

    Semoga seluruh elemen bangsa ini diberi pencerahan oleh “TUHAN YG MAHA ESA” (sila pertama dari Pancasila)………. Amin

  60. Panabi Duhut Says:

    Kristen Protestan terbentuk sebagai protes terhadap beberapa ajaran Kristen (katolik) pada jamannya.

    nama ‘Kristen’ kayaknya bukan sebuah patent. Sehingga tidak pernah diklaim sebagai hak milik kelompok kristen tertentu.

    Ndak tahu ya, apakah memang nama ‘Islam’ sudah di-patent-kan sehingga hanya dimiliki oleh kelompok islam tertentu?

    Yang Benang dor… eh yang benar dong…

    Mungkin yang jadi masalah buatku adalah jika sesuatu ajaran telah mencelakai diri sendiri dan atau orang lain bahkan sampai merenggut nyawa pengikutnya dan atau orang lain akibat ulah dari oknum yang menyebut dirinya sebagai perwakilan TUHAN. (atau lebih tepatnya sebagai perwakilan tuhan ? )

    Sori buat semua pemersa…bukan bermaksud mencampuri urusan ahmadiyah ya? Hanya sebagai analogi saja…

  61. tomy Says:

    Bila tembok Berlin yang memisahkan

    Jerman Barat dan Jerman Timur

    telah dapat diruntuhkan

    Lalu .. bilamanakah

    tembok Jordan

    yang angkuh

    terbuat dari baja kebengisan nafsu manusia

    yang telah memisahkan anak-anak Ibrahim

    dapat diruntuhkan?

    sungguh aku berduka untukmu

    wahai Ayahku

    di hari tuamu

    waktu istirahatmu dalam keabadian

    yang seharusnya terengkuh dalam kedamaian..

    anak-anakmu saling berbunuhan

    seharusnyalah bagi seorang putra

    mempersembahkan doa dan air pelepas dahaga

    bukan mempersembahkan api, darah dan air mata

    di haribaan ayahanda tercinta

    hanya demi pengakuan palsu

    pewaris berkah cinta ayahanda

    sungguh aku berduka untukmu

    wahai Ayahku

    tangis dan airmata

    mengeringkan kedua mata

    rintih kelu menyayat kalbu

    hanya itu..

    aku sudah tak mampu

    hanya itu..

    persembahan tanda cintaku

    maafkan aku Ayah..

    maafkan aku..

  62. Tyok Says:

    Itulah yang terjadi jika ranah yang bersifat personal dimasuki oleh ranah publik, saya tidak tahu apa fungsinya departemen agama selain menjadi sarang korupsi, bagi saya agama merupakan urusan personal dan tidak perlu dimasuki publik (pemerintah), jika ranah personal sudah dimasuki oleh ranah publik maka segala macam persoalan bakalan muncul dengan berbagai macam kepentingan, silakan analisa sendiri artinya.
    Ttg pembubaran agama, bagi siapa saja yang merasa suci dan tidak mempunyai dosa silakan paling duluan membubarkan ahmadiah😛

  63. Tyok Says:

    Itulah yang terjadi jika ranah yang bersifat personal dimasuki oleh ranah publik, saya tidak tahu apa fungsinya departemen agama selain menjadi sarang korupsi, bagi saya agama merupakan urusan personal dan tidak perlu dimasuki publik (pemerintah), jika ranah personal sudah dimasuki oleh ranah publik maka segala macam persoalan bakalan muncul dengan berbagai macam kepentingan, silakan analisa sendiri artinya.
    Ttg pembubaran ahmadiah, bagi siapa saja yang merasa suci dan tidak mempunyai dosa silakan paling duluan membubarkan ahmadiah😛

  64. ordeck Says:

    Kutipan Gus Dur ” Itu saja kok reepoot ”
    aku berpikir kita orang Indonesia adalah warga yang paling usil di bumi…….. .
    biarkan saja mereka merasa aman, bahagia dengan kepercayaannya. kok kami juga punya kepercayaan masing2 . Kita juga bahagia dengan apa yang ada pada kita. jadi biar biarkan mereka pun demikian…

    “itu saja kokk repot”

  65. nurlia Says:

    Islam adalah seperti ini
    Katolik adalah seperti itu
    Protestan adalah seperti begitu
    Ahamadiyah adalah seperti ini, itu dan begitu boleh enggak???? tapi namanya diganti Iskapro (Islam katolik protestan)

  66. Joe Says:

    Ini namanya membelokan opini. Larangan ahmadiyah bukan karena ajarannya dianggap sesat! Krn tiap agama pasti berkeyakinan bahwa agama lain adalah sesat. Bisa terima?

    Larangan thd ahmadiyah krn ahmadiyah melakukan ritual, kepercayaan dan segala aturan agama dg menempel pada agama Islam yg tidak dikenal/bertentangan dalam agama Islam. Disini pointnya. ahmadiyah dianggap parasit oleh mereka yg beragama Islam. ahmadiyah seolah penjajah. Jadi sangat wajar kl mayoritas umat Islam menghujat dan melarang.

    Maka disinilah ahmadiyah punya pilihan, mengaku Islam dan mengikuti kaidah agama Islam yg sudah dikenal umum sambil membuang ajarannya atau memakai ajaran yg sekarang tanpa mengaku Islam. Cukup adil khan?

    Kalau mengaku Islam tanpa keluar dari pakem dasar ya monggo. Islampun tak melarang. Kita mengenal Islam golongan Muhammadiyah, NU, Persis dll dan mereka tdk dicaci layaknya ahmadiyah khan?

    Diluar Islampun hal ini terjadi. Kita mengenal Kristen Katolik, Protestan, Advent dll dan mereka diakui.

    Jadi berpikirlah dg jernih dan rasional!!

  67. Robert Manurung Says:

    @ sharif adenan

    Terima kasih sharif. Salam/

    @ Menggugat Mualaf

    Terima kasih Ibu Anis. Seluruh komentar Ibu sangat menyejukkan, rendah hati dan jujur. Tanpa mengurangi respekku terhadap pemberi komentar yang lain, menurutku komentar Ibulah yang terbaik menyuarakan sikap beragama yang rendah hati, manusiawi dan toleran.

    Aku paling suka bagian komentar Ibu yang ini :

    “hayo bung, jangan pernah berhenti bermimpi..
    karena semoga kelak.. kita menuai nyata..
    daripada kita menabur angin dan hanya menuai badai..
    tuhan tidak pernah tidur..”

    Terima kasih
    Salam damai.

  68. rkp Says:

    Barangkali ada yang berpendapat bahwasanya suatu keanehan dan tidak wajar ketika jamaah ahmadiyah dilarang melakukan aktivitas di Indonesia hanya karena ideologi atau kepercayaan mereka padahal mereka tidak pernah melakukan kekerasan apapun. Jika anda menganggap tindakan pemerintah/negara melarang (pengikut) Ahmadiyah beraktivitas di Indonesia merupakan tindakan yang tidak benar (salah), maka ingatlah bahwasanya manusia itu tak ada yang tahu segalanya termasuk anda dan saya. Apakah anda merasa memiliki pengetahuan yang cukup mumpuni berkaitan dengan ajaran Islam sehingga berani menyatakan bahwasanya Ahmadiyah itu tidak layak dilarang?

    Bisakah kita jelaskan, kenapa MUI menyatakan Ahmadiyah sesat dan layak tuk dilarang, sementara tak ada pernyataan (MUI) seperti itu utk ajaran Protestan, Katholik, Hindu, Budha? padahal kalau dilihat pakai kacamata Islam jelas-jelas ajaran-ajaran itu ‘sesat/kafir’ sebagaimana halnya ajaran-ajaran tersebut pun menganggap Islam sebagai ajaran ‘sesat/kafir’.

    Bisakah kita jelaskan, kenapa ke 5 agama ‘resmi’ yang diakui negara ini tidak saling melarang?

    Kedua: seandainya kita memiliki anak perempuan dan anak perempuan kita itu melakukan seks bebas dengan berganti-ganti pasangan yang dilakukannya di rumah kita bahkan mungkin di depan kita dimana tak ada kekerasan sedikitpun (kan dilakukannya dengan sukarela, suka sama suka) kitapun sebagai orang tuanya boleh milih mau lihat setiap adegan atau pergi it’s up to us, nggak ada kekerasan tuk memaksa kita melihat sang buah hati berperilaku seperti ayam (hewan) dalam hal aktifitas seksual, Tak ada hak kah buat sang orangtua tuk melarang anaknya berperilaku seperti itu (hewan) dikarenakan tak ada kekerasan tapi sekedar ideologi/kepercayaan sang anak berkaitan dengan kehidupan seksual? Apa yang akan kita pertanggungjawabkan nanti dihadapan Sang Maha Kuasa atas amanah anak yang dititipkanNya kepada kita? Tentu saja pertanyaan terakhir tak perlu dijawab kalau kita tak percaya akan ada kehidupan berikutnya setelah kematian kita kelak.

    Jadi ingatlah bahwasanya pengetahuan kita itu cuma setitik air di antara luasnya samudra, oleh karena itu berusahalan untuk selalu berpikir (minimal) 2 sisi.

  69. daeng limpo Says:

    silahkan baca artikel tentang perjalanan spritual saya di
    http://daenglimpo.wordpress.com/2008/04/24/sayalah-nabi-ahmadiyah-setelah-mirza-ghulam-ahmad/
    –salam–

  70. norie Says:

    sebagai konsekuensi dari tidaknya larangnya beragama dan berkepercayaan apapun maka adalah hal yang sah bila tidak beragama dan bertuhan (atheisme) juga tidak dilarang. [tapi lihat nyata negeri ini melarang atheisme]
    kemudian juga kita seharusnya tidak berhak menghakimi pemikiran orang lain. bukan begitu. [tapi nyata kita sempat menyatakan komunis sebagai pemikiran yang terlarang]. kita seharusnya juga terbuka terhadap fasisme, komunisme, kapitalisme dan smua paham yang ada. [tapi nyatanya tidak, kita pilih-pilihkan].

  71. Robert Manurung Says:

    @ abah oryza

    Menarik juga kompromi yang Anda usulkan. Terserah saja pada pengikut Ahmadiyah dan umat Islam umumnya. Negara tidak usah ikut campur; paling-paling menjaga keamanan saja dan mencegah tindak anarkis.

    Terima kasih.

    @ Salman Aljazuli

    Hahahaahaa…mungkin ada benarnya juga yang Anda katakam bahwa yang punya blog sedang bingung….bingung karena semakin banyak orang yang linglung dan lupa bahwa Indonesia bukan negara agama hehehe….

    Salam!

  72. Ahmad Sahidin Says:

    hehehehe……………….

  73. daeng limpo Says:

    Kalau mau merdeka robohkan tuh “tembok berlin” alias undang-undang tentang penodaan agama. Kalau tidak, percuma dunk dan artinya para Pimpinan Ahmadiyah harusnya bernasib sama dengan MOSADDEQ yang divonis 4 tahun kurungan oleh pengadilan.
    Apa sih bedanya MOSADDEQ dengan MGA, apa karena MOSADDEQ tidak punya “dana” jadi harus mengalami nasib demikian, lalu dimana keadilan bung. Katanya negara hukum…..?
    —kabur—

  74. Panda Says:

    Lama tak singgah. Makin provokatif………

  75. intelefone123 Says:

    Mari kita tempatkan kasus yang masih aktual ini. Masalah tuntutan pembubaran Ahmadiyah yang disertai rangkaian tindakan kekerasan.

    Sekarang mari kita coba uraikan:

    Ahmadiyah adalah badan hukum, yang keberadaannya diakui ini negara sejak dulu sekali. Selama itu nggak ada yang bisa mempersoalkan keberadaannya, baik sebagai kelompok minoritas, maupun sebagai faham. Bukan nggak ada masalah, tapi tidak manifest. Mengapa? Ada payung idiologi negara Pancasila yang mengakomodasi keragaman dan menaungi kebhinekaan Indonesia, meski secara paksa. Jadi waktu itu negara kuat, otoriter, tapi demokrasinya terbelakang, masyarakat terpecah dan termarginalisasikan. Lalu terjadi krisis ekonomi, tuntutan reformasi, dan dimulai era demokrasi, dimana didefinisikan lagi fungsi negara. Peran kontrol negara sebagai polisi dihapus, dan dikembalikan ke masyarakat, yaitu dalam bentuk instrumen hukum, dan pemilihan berkala yang menjamin hak rakyat

    Diadakankanlah partai-partai politik, pemilu, pemilihan presiden, pilkada, untuk membentuk parlemen dan menjalankan fungsi pemerintahan dan pelayanan publik.

    Sekarang kita ada di sini, oke?

    Demokrasi itu hasil dari perjuangan kemanusiaan melawan tirani. Mahasiswa dan rakyat jatuhkan tiran. Ok. Semua yang berpotensi menjadi tirani akan merusak demokrasi. Tidak boleh ada tiran-tiran lain lagi. Dari mana tiran akan muncul? Penyalahgunaan kebebasan untuk tujuan anarki. Jadi, tantangan demokrasi adalah memelihara demokrasi itu sendiri, supaya tidak jatuh menjadi anarki, dan muncul lagi tiran baru. Artinya ada dua ancaman ancaman yang dihadapi : dari luar (tirani) dan dari dalam (anarki).

    Di Indonesia sekarang, dalam kasus Ahmadiyah, demokrasi sedang diuji, dipertaruhkan: apakah masyarakat kita akan bisa mengatasi godaan anarki atau tidak. Diperlukan tingkat kedewasaan dalam memikul tanggungjawab untuk tidak menyalahgunakan demokrasi. Jadi harus ada komitmen memelihara demokrasi, yang dinyatakan secara tertulis oleh semua organisasi yang ada di negri ini, khususnya yang telah mengangkat masalah Ahmadiyah itu kepermukaan. Kemudian mempelajari akar masalah yang dimunculkan oleh penolakan terhadap kehadiran Ahmadiyah sebagai bagian dari Islam, yang disertai rangkaian kekerasan. Itu baru mencari penyelesain dalam rangka memelihara demokrasi, penegakan hukum, pendidikan politik yang menyentuh masyarakat.

    Question is part of solution

  76. BKanigoro Says:

    kemana perginya muslim muslim yang masih waras??
    mengapa islam hardliners semakin mendominasi kehidupan berbangsa dan bernegara??
    kenapa iman kita sebagai muslim harus goyah gara gara ada sekelompok orang mempunyai tafsir lain terhadap islam??
    saya menduga ada hidden agenda dibalik beringasnya umat muslim indonesia. kalo diperhatikan, pelakunya golongan itu itu melulu….fpi, fui, hti..
    sepertinya banser ansor harus turun….

  77. kucingkeren Says:

    wahh seru juga diskusinya di sini… buat saya, urusan agama itu urusan individu dengan Tuhannya. Selama tidak mengganggu sekitarnya, urusan beragama itu bukan urusan orang lain. Adalah sifat manusia untuk mencari sesuatu yang lebih nyaman. Jadi biarlah ahmadiyah, atau apapun tiu berkembang dengan sendirinya, kalau mereka terbukti buruk, jamaahnya pun pasti tak bodoh kan? Waktu kok yang akan membuktikannya.

    Sekarang ini saya malah tertarik dengan berita tentang MUI yang mengharamkan membuang limbah ke sungai. Mengapa bisa keluar fatwa itu? Apakah mereka tdk berpikir untuk mencari alternatif agar si pembuang limbah tak membuang ke sungai?? Padahal sungai adalah satu-satunya jalan untuk membuang limbah, misalnya. Pernah gak pemerintah juga mencarikan alternatif lain, sebelum mengeluarkan undang-undang macam2…hhhhhh jd bingung dehhh

  78. wildcat Says:

    salam kenal bung…
    prespektif anda melihat persoalan ahmadiyah kalo bisa saya nilai adalah NOL BESAR…
    islam memang toleransi kepada kepada agama lain..tetapi kasus tentang ahmadiyah ini dikarenakan paham dasar islam yang dirubah yaitu kalimat syahadat (adanya nabi baru yaitu MGA setelah Rasullullah)..
    UUD 45 memang mengatur kebebasan beragama.. tapi apa boleh kebebasan tersebut menyakiti agama lain apalagi menjiplak ajaran agama lain terus menganti beberapa dasar agama tersebut?????
    TENTU TIDAK BOLEH DONG BANG..BEBAS SIH BEBAS TAPI BEBAS YANG BERTANGGUNG JAWAB DUNG…
    saya ANTI AMA KEKERASAN. JANGAN ADA PERUSAKAN DAN PENGANIYAAN WARGA ahmadiyah..malah harus dinasehati, disadarkan dana dibimbing keluar dari kesalahannya..wong SAMA-SAMA MUSLIM KOK, SAMA-SAMA ISLAM KOK.
    So, lain kali kalo buat wacana lebih mendalami persoalan dulu ya bang…
    Keep writing bang
    salam damai….

  79. Bernart Says:

    @Robert Parulian M

    hebat ya bang………….
    skrg memang salah jika kita menghina ahmadiyah terus 2 an
    mereka sama sprti kt merka jg manusia, punya HAM.
    Jadi kita harus menghormati keberadaan mereka….
    kalau sesat, itukan urusan mereka nantinya…..

    semua dosa pasti akan berbuah maut….

    “berjaga-jagalah karena Hari Tuhan semakin dekat”
    bertobatlah mereka yang merasa berdosa…..

    “carilah kerajaan Allah dan kebenaranNya maka semua itu akan ditambahkan kepadamu”

    salam damai

    B A M

  80. Bernart Says:

    sekarang jangan mengira agama ini, agama itu salah….
    kt jg harus koreksi diri, apakah kita sudah benar dalam perkataan, pikiran dan perbuatan….
    memang agama anda benar, tp apakah anda sudah benar?

    agama bukanlah jalan menuju surga, tetapi keyakinanlah yang membenarkan semuanya…..

  81. susiloharjo Says:

    Saya tidak setuju dengan kekerasan kepada ahmadiyah, tapi juga tidak setuju ahmadiyah merusak keyakinan yang sudah sejak jaman dulu ada dan sudah jelas ada ketetuannya, silahkan beropini tapi jgn menyudutkan yang sebenarnya anda tidak tau pangkal permasalhannya, sebagian orang mungkin sebel dengan ahmadiyah sehingga timbul kekerasan dan menurut dialog tadi malam di salah satu acara di TV bahwa permasalahan ahmadiyah ini sudah lama terjadi dari tahun 2005 dan sudah diberi kesempatan untuk memperbaikinya ternyata tidak ada perbuahan sama sekali, soal pembubaran suatu keyakinan sebenarnya kita memang tidak punya hak tapi karena bawa-bawa nama islam maka jadilah masalah MUI, oleh karenanya silahkan ahmadiyah kalau mau keluar dari islam dan buat keyakinan sendiri. begitu thank’s atas perhatiannya yang mendalam, semoga indonesia selalu menjadi bangsa yang rukun dan saling tenggang rasa.

  82. intelefone123 Says:

    http://intelefone123.wordpress.com

  83. realylife Says:

    semoga kita bisa selalu menjaga toleransi demi perdamaian
    setuju ?

  84. Robert Manurung Says:

    @ hanyfa

    1. Pertanyaan Anda bersifat retorik dan sudah terjawab dengan sendirinya. Tentu saja Anda boleh membela agama Anda dari penodaan dan penyimpangan, tapi lakukan itu dalam koridor hukum. Negara pun harus bereaksi dalam koridor konstitusi, bukan menerapkan politik belah bambu dan diskriminatif seperti selama ini.

    2. Aku akomodatif terhadap Ahmadiyah sehubungan dengan kebebasan beragama yang diatur dalam pasal 28 UUd 45. Aku pun pasti akomodatif terhadap siapa saja yang menjunjung tinggi amanat pasal 28 itu.

    3. Aku bersimpati terhadap umat Islam yang merasa terusik oleh kehadiran Ahmadiyah. Tapi jujur saja, sejak lahir aku sudah belajar menerima perbedaan-perbedaan Katolik dengan Protestan, tanpa merasa harus meniadakan eksistensi pihak lain.

    4.Basis perjuangan kemerdekaan Indonesia adalah suku-suku.
    Sangat tidak logis untuk sekadar berfantasi bahwa basis perjuangan Indonesia adalah Islam. Anda telah melakukan silogisme yang kentara dipaksakan.

    Anda tahu nggak, yang namanya perjuangan kemerdekaan nasional itu harus memenuhi dua elemen utama yaitu bangsa dan tanah air. Sekarang aku mau tanya pada Anda : yang manakah suku/bangsa Islam yang telah memperjuangkan kemerdekaan negara ini ? Dan yang manakah tanah air Islam di wilayah Nusantara pada masa kemerdekaan ?

    Soal teriakan Allahu Akbar oleh pejuang-pejuang yang beragama Islam, itu tidak bisa Anda jadikan pembenaran bahwa mereka pejuang Islam. Mereka adalah pejuang-pejuang Jawa, Batak, Aceh, Minang, Makassar, Ambon, Minahasa, dll. Mereka memuliakan nama Tuhan sesuai dengan keyakinan masing-masing, yaitu Islam, Kristen, Hindu, Budha, Kejawen, Parmalim, kahuripan, dll.

    Saranku buatmu kawan, kalau mempromosikan Islam lakukanlah dengan cerdas, apalagi di blog ini banyak sekali orang-orang yang lebih pandai dan bijaksana dibanding kita.

    Salam Damai.

  85. muslimin Says:

    Agama islam adalah agama terakhir dan merupakan agama penutup dan menyempurnakan agama sebelumnya; kristen ( protestan/ katolik), hindu., budha, etc….
    Jadi apabila ada agama setalah agama islam dan ada makhluk Tuhan yang mengaku dirinya sebagai Rasul dan Nabi setelah Nabi Terakhir ( Muhammad saw) maka “mereka adalah tergolong orang- orang kafir ,syirik.
    ” Jauhkanlah kalian semua ( umat Ahmadiyah) dari hasutan Setan yang berwujud manusia yang menyerupai Dhajal karena kalian akan terjerumus ke dalam Neraka Jahanam dan kembalilah ke jalan Allah yaitu dengan menganut kembali ajaran Islam dengan mengakui Nabi Muhammad sebagai rasul terkahir dan tiada Tuhan SElain Allah SWT.

  86. Febra Says:

    agamamu agamamu, agamaku agamaku…gitu aja kok repot. Yang penting ga saling ganggu.

    terus terang aku kecewa melihat sikap pemerintah dalam mengatasi masalh ahmadiyah ini.

  87. Robert Manurung Says:

    @ mare

    Kok repot-repot amat mendefinisikan negara kalau secara dangkal saja kita sudah otomatis mengerti siapa “oknum” negara itu. Sama saja anda merepotkan diri sendiri untuk mendefinisikan hakekat ibu Anda, sementara tanpa mikir pun Anda sudah paham “oknum” yang menjadi ibu Anda dengan segala maknanya.

    Jadi harus aku kataakan, maaf, ceramah Anda malah mengaburkan pokok masalahnya. Ini namanya mbulet atau sok filosofis, terlalu berambisi untuk terkesan intelek; tapi malah kehilangan fokus dan nihilis. Sorry, pren.

    Aku bisa jamin, bahwa semua pemberi komentar dan pembaca artikel ini; pasti sudah paham tenan apa itu Negara Indonesia. Nah, kenapa dimentahkan lagi dengan ceramah elementer yang tidak membuat kita lebih pandai.

    Biar pun kukatakan begitu, tetap kuhargai jerih payah dan niat baik Anda untuk memberikan koreksi. Mungkin dalam kesempatan lain penjelasan fundamental seperti itu memang kita butuhkan, tapi kali ini bisa dibilang tidak relevan atau out of context. Jangan kapok, kawan.

    Salam hangat.

  88. Supraptono Says:

    @muslimin

    Benar…benar…yang anda katakan, tetapi itu menurut hasil “pemikiran,pengertian, pemahaman dan penafsiran” anda. Dan anda berhak untuk “mengingatkan dan mengajak” mereka untuk kembali kepada keyakinan anda.
    Tetapi…anda tidak berhak “memaksakan” mereka atau kpd siapapun untuk bersesuaian apalagi mengikuti keyakinan anda.

    Bahkan, ektrimnya anda boleh meng”kafirkan” mereka. Tetapi sekali lagi anda tidak boleh dan tidak berhak “memaksa dengan cara apapun” apalagi “membunuh” mereka. Kalau pendapat kita “bersesuain atau klop” dengan pendapat mereka, tak usah mengajakpun mereka akan setuju dan akan dengan ikhlas bersama kita!

    Saya yakin Kristen Katholik dan Kristen Protestan, Hindu, Budha dengan sekte2nyapun ada perbedaan kaidah yang fundamental diantara mereka, tetapi secara umum kita bisa melihat bahwa mereka bisa saling menghargai dan menghormati.
    Kalau masalahnya hanya penyebutan nama “Islam” kaitannya dengan kaidah yang sudah baku dan Ahmadiyah dianggap menyimpang……ya…katakanlah saja bahwa mereka adalah “Islam Ahmadiyah”… (bukankah banyak juga sekte2 dalam Islam Suni,Syiah dsb..??).

    Mari kita berpikir jernih..bukankan pada kenyataannya ada banyak yang namanya “agama dan keyakinan” di dunia ini (Islam,Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Budha, dll..dsb)?

    Dan tentu kita sebagai orang yang ber”iman” boleh menyimpulkan bahwa itu semua pada kenyataannya ada dan tentu diciptakan oleh “TUHAN” (bahwa semua yg terjadi ada di dunia ini adalah dengan seijin-NYA …. bukan)?.

    Kalau kita saling membenarkan bahwa kita yang paliiiiiing “benar” dan kita melakukan tindakan2 yang menyimpang dari norma2 “universal” yang ada…. apa jadinya keadaan antara negara dgn negara, antara suku bangsa dan suku bangsa, antara suku2 yang ada dalam satu negara, antara satu kota dgn kota lainnya, antara desa dng desa lainnya …bahkan diantara sesama anggota keluarga yang oleh karena ke”tidak samaan” persepsi dan cara pandang mereka saling “MENYAKITI”?????.

    Mari kita renungkan !!!!
    Setulusnya tulisan ini hanya ingin mengajak untuk menyejukkan suasana dan mohon maaf yang se-besar2nya kalau ada tulisan, pemikiran dan pendapat yang tidak berkenan kepada para pembaca sekalian,
    Terima kasih, matur nuwun, tengkyu……

    “Janganlah engkau menghakimi, karena engkau akan di hakimi”.

    Semoga seluruh elemen bangsa ini diberi pencerahan oleh “TUHAN YG MAHA ESA” (sila pertama dari Pancasila)………. Amin.

    Jayalah INDONESIA …. bagi kedamaian, kesejahteraan dan kemakmuran seluruh rakyatnya. Semoga.

  89. Ardee'est Things in My life Says:

    Apa yang sebenarnya kusut di masalah ahmadiyah? Saya heran ketika bapak menulis tentang ahmadiyah (dan juga kebanyakan media) memblow-up seakan-akan umat muslim ingin ‘membredel’ atau membubarkan ahmadiyah. Padahal seperti juga ideologi, suatu kepercayaan tidak mungkin di bubarkan. Maaf pak, dalam pengamatan saya, yang umat muslim (kebanyakan) permasalahkan mengenai ahmadiyah sebenarnya bukan ada atau tidak adanya mereka, tetap kengototan mereka untuk tetap mengakui diri mereka sebagai bagian dari islam. Padahal dari segi dasar kepercayaan banyak aspek yang oleh umat islam secara umum dianggap melenceng. Yang menjadi masalah adalah aspek2 yang melenceng itu adalah aspek2 fundamental kepercayaan seorang muslim.
    Saya pikir akhir dari konflik ini sebenarnya jika mereka sudah bersedia untuk mengaitkan agama mereka itu dengan islam dan menyebut diri mereka bagian dari umat islam. Ini kurang lebih sama dengan perbedaan antara islam dan sikh… ada bagian dari agama sikh yang mengadaptasi dari islam, tetapi ada bagian yang mengambil dari hindu. jelas tidak dapat disamakan antara sikh, islam dan hindu.

    Ardian Perdana Putra
    10603012/Biologi 2003

  90. Ardee'est Things in My life Says:

    Apa yang sebenarnya kusut di masalah ahmadiyah? Saya heran ketika bapak menulis tentang ahmadiyah (dan juga kebanyakan media) memblow-up seakan-akan umat muslim ingin ‘membredel’ atau membubarkan ahmadiyah. Padahal seperti juga ideologi, suatu kepercayaan tidak mungkin di bubarkan. Maaf pak, dalam pengamatan saya, yang umat muslim (kebanyakan) permasalahkan mengenai ahmadiyah sebenarnya bukan ada atau tidak adanya mereka, tetap kengototan mereka untuk tetap mengakui diri mereka sebagai bagian dari islam. Padahal dari segi dasar kepercayaan banyak aspek yang oleh umat islam secara umum dianggap melenceng. Yang menjadi masalah adalah aspek2 yang melenceng itu adalah aspek2 fundamental kepercayaan seorang muslim.
    Saya pikir akhir dari konflik ini sebenarnya jika mereka sudah bersedia untuk tidak mengaitkan agama mereka itu dengan islam dan menyebut diri mereka bagian dari umat islam. Ini kurang lebih sama dengan perbedaan antara islam dan sikh… ada bagian dari agama sikh yang mengadaptasi dari islam, tetapi ada bagian yang mengambil dari hindu. jelas tidak dapat disamakan antara sikh, islam dan hindu.

    Ardian Perdana Putra
    10603012/Biologi 2003

  91. Ardee'est Things in My life Says:

    Apa yang sebenarnya kusut di masalah ahmadiyah? Saya heran ketika bapak menulis tentang ahmadiyah (dan juga kebanyakan media) memblow-up seakan-akan umat muslim ingin ‘membredel’ atau membubarkan ahmadiyah. Padahal seperti juga ideologi, suatu kepercayaan tidak mungkin di bubarkan. Maaf pak, dalam pengamatan saya, yang umat muslim (kebanyakan) permasalahkan mengenai ahmadiyah sebenarnya bukan ada atau tidak adanya mereka, tetap kengototan mereka untuk tetap mengakui diri mereka sebagai bagian dari islam. Padahal dari segi dasar kepercayaan banyak aspek yang oleh umat islam secara umum dianggap melenceng. Yang menjadi masalah adalah aspek2 yang melenceng itu adalah aspek2 fundamental kepercayaan seorang muslim.
    Saya pikir akhir dari konflik ini sebenarnya jika mereka sudah bersedia untuk mengaitkan agama mereka itu dengan islam dan menyebut diri mereka bagian dari umat islam. Ini kurang lebih sama dengan perbedaan antara islam dan sikh… ada bagian dari agama sikh yang mengadaptasi dari islam, tetapi ada bagian yang mengambil dari hindu. jelas tidak dapat disamakan antara sikh, islam dan hindu.

    Ardian Perdana Putra
    10603012/Biologi 2003

  92. legowo Says:

    yang mengerti tentang islam yang orang islam sendiri yang mengerti tentang katolik ya orang katolik sendiri.kalo di bilang mayoritas takut ama minoritas udah gak jamannya.di negara mbahnya demo krasi mayoritas bisa nekan minoritas .contohnya di perancis mau pake jilbab aja susahnya minta ampun.apa itu yang di sebut demokrasi apa democrazy.kalo ngaku islam masih mengakui nabi sesudah nabi muhammmad saw itu namanya bukan islam.seliberal liberalnya orang jil masih mengakui bahwa muhammmad saw itu nabi dan rasul terakhir.lha ini apa masih ada nabi lagi berarti bukan islam.syiah aja masih mengakui bahwa rosullullah saw itu nabi terakhir.kalo misalnya ada orang mengaku katolik tapi tidak menganggap yesus itu tuhan apa itu masih di sebut katolik tulen.kalo ada mengaku orang hindu tapi tidak mengakui trimurti apa itu masih bisa di sebut hindu.biasalah kalo orang berbeda ama orang lain pasti pergaulannya baik ama orang lain takut ketahuan belang nya.wassalam.

  93. zakky Says:

    begini niy klo non muslim ikut2 bicara ttg Islam. mending kalian diem deh. kita gak mau nyinggung kyakinan kalian jd sewajarnya dong jgn ikut-ikut mslh kami.
    tanpa mengurangi rasa hormat saya, saya punya pendapat yg berbeda dengan saudara.
    terhadap agama lain memang Islam sangat mengajarkan toleran. asalkan mereka tidak mulai memusuhi, kami haram untuk memulai memusuhi mereka. namun kelompok seperti ahmadiah ini, mereka mengatasnamakan :”islam”. kalo mereka mengtasnamakan diri sebagai muslim, tentu mereka harus mengikuti semua ajaran Islam dan siap diingatkan jika keliru (tawashou bil haq wa shobr).lha klo salah diingetin tetep keras kepala maka nabi dan shohabar pun akan bertindak keras kepada kelompok semacam ini. demi menjaga kemurnian islam. bukan dg sikap masa bodo kita pada usaha untuk menampakkan kebenaran dari Alloh.
    anda ingat dengan musailamah al kadzab, dan beberapa nabi palsu lainnya. lalu jika pendapat anda diatas benar, kenapa abu bakar mengirim pasukan kholid bin walid untuk memusnahkan mereka setelah mereka tetap tdk mau tobat?? salahkah abu bakar yg dengan terang terangan bersumpah akan memerangi siapapun yg tidah mau membayar zakat?? melanggar HAM kah ato pancasila kah beliau? bukankah beliau sahabar terbaik nabi dan telah dijamin masuk sorga?
    benar Alloh akan menegakkan Islam dan menampakkan kebenaran islam. tp melalui orang2 seperti abu Bakar, kholid bin walid. jangan sampai HAM dan Toleransi kita mengaburkan prinsip kita sebagai kholifatulloh. apa beda musailamah dg mirza ghulam ahmad?? sama kan?
    seandainya abu bakar masih hidup, pasti beliau akan mengajak ahmadiah tobat, kalau ga’ mau saya yakin kholid bin walid akan ditugaskan memerangi ahmadiah sampai kembali kepelukan islam.
    yg perlu dicatat, Islam sangat toleran terhadap non muslim selama mereka tidak memulai permusuhan, tapi Islam tidak akan pernah mentolerir segala kelompok yg akan menodai kemurnian Islam.
    semoga Alloh menjaga kita, amin. buat tmn2 yg mau membuat justifikasi ttg Islam, harap belajar ttg prinsip2 Islam dulu. o ya, satu lagi, Islam mengajarkan dlm berpendapat kita tdk sekedar pake otak, tp juga harus tau sumber yg Bs djdikan pgangan. kalo pake otak doang bahaya, ya klo otaknya pernah diisi dengan ilmu yg mau dsampekan. klo kosongan kn namanya ST (alias Sok Tau)

  94. BaNi MusTajaB Says:

    Komen-komennya mantap banget. aku baca aja dulu deh.

  95. lil4ngel5ing Says:

    wah, soal kebenaran… tanya hati nurani saja…. saya tak berani mengadili terlalu jauh… tapi menurut pendapat saya sebagai muslim, kalau memang ahmadiah mengaku islam ada baiknya mengkaji tentang nabi tambahannya-nya itu… terserah sih…. toh nanti di akhiratnya saya juga gak tau nantinya dia gimana….

  96. Supraptono Says:

    Apa yang sebenarnya kusut di masalah ahmadiyah? Saya heran ketika bapak menulis tentang ahmadiyah (dan juga kebanyakan media) memblow-up seakan-akan umat muslim ingin ‘membredel’ atau membubarkan ahmadiyah.

    -Maaf ya…karena sumber tulisan ini semua kan juga dari “media”. Maksud saya ternyata masih juga ada perbedaan antara sesama muslim dalam menyikapi Ahmadiyah.

    yang mengerti tentang islam yang orang islam sendiri yang mengerti tentang katolik ya orang katolik sendiri

    – Maaf klo menurut saya nggak juga, banyak orang Isalm yang mengerti persis tentang kekristenan atau sebaliknya orang Kristen banyak juga mengerti tentang keislaman (ini dpt dipelajari…koq) dan negara juga tidak melarang untuk mempelajarinyakan?!.

    anda ingat dengan musailamah al kadzab, dan beberapa nabi palsu lainnya. lalu jika pendapat anda diatas benar, kenapa abu bakar mengirim pasukan kholid bin walid untuk memusnahkan mereka setelah mereka tetap tdk mau tobat??

    – Maaf saya hanya ingin urun rembug dan saya tidak pernah mengatakan bahwa pendapat saya paliiiing “benar”. Itu klo urun rembug saya diterima ..klo nggak juga nggak apa2 koq.
    Ya..klo ahmadiyah nggak mau “bertobat” ..mungkin “kita” merasa sebagai pengganti abu bakar…kirimkan saja “pasukan” untuk “memusnahkannya”.

    salahkah abu bakar yg dengan terang terangan bersumpah akan memerangi siapapun yg tidah mau membayar zakat?? melanggar HAM kah ato pancasila kah beliau? bukankah beliau sahabar terbaik nabi dan telah dijamin masuk sorga?

    – Mohon maaf, sayapun tdk pernah mengatakan bahwa abu bakar salah atau benar, melanggar HAM apalagi pancasila (di jaman itu di indonesiapun belum ada pancasila kan..he..he..). Klo penyelesaiannya memang harus di”perangi” seperti yg di lakukan abu bakar itupun keyakinan anda kan?

    Sekali lagi mohon maaf….

    Semoga seluruh elemen bangsa ini diberi pencerahan oleh “TUHAN YG MAHA ESA” (sila pertama dari Pancasila)………. Amin.

    Jayalah INDONESIA …. bagi kedamaian, kesejahteraan dan kemakmuran seluruh rakyatnya. Semoga

  97. usamah Says:

    Bubarkan Ahmadiyah!!

  98. globalmalau Says:

    Ahmadiah sama jugak dengan AlQaeda…Jalan munuju Allah

  99. sufehmi Says:

    Aku bersimpati terhadap umat Islam yang merasa terusik oleh kehadiran Ahmadiyah. Tapi jujur saja, sejak lahir aku sudah belajar menerima perbedaan-perbedaan Katolik dengan Protestan,

    Kasusnya beda dengan Ahmadiyyah ini mas. Tidak bisa disamakan dengan contoh yang Anda berikan tersebut.

    Lebih jelasnya sudah saya paparkan di posting pak Wiryanto yang serupa juga dengan posting Anda ini.

    Seperti komentar Pyrrho di posting pak Wiryanto tsb, soal Ahmadiyah lebih mirip seperti kasus Children of God, yaitu kasus penistaan / pembajakan agama.
    Bukan soal freedom of choice / toleransi antar kepercayaan / dst.

    Saya tidak habis pikir kenapa nyaris semua pihak keliru menangkap inti masalah dari issue ini. Mohon bantuannya agar Anda juga bisa turut mengklarifikasi soal ini, terimakasih banyak.

  100. faisal malmsteen Says:

    kira-kira sampe kapan yah debatnya….????
    haa..haaa
    intinya sih sy ga mau ada kekerasan
    tapi saya juga ga mau ada penodaan

    monggo lanjutin lagi debatnya…
    huaa..haaa (ketawa dikit ah biar ga stress…)

  101. FraterTelo Says:

    Kalau inti dari teologi adalah Tuhan yang mencintai manusia maka tidak akan ada pertumpahan darah.

  102. End Says:

    Untuk semua manusia yang mengaku-ngaku beragama dan melalui agama atau kepercayaan atau keyakinannya itu menyembah Tuhannya, yaitu Tuhan yang sebenarnya yang menciptakan dan memberi nafas kehidupan pada manusia itu sendiri, saya pikir Tuhan sendiri memberi kehendak bebas pada setiap manusia untuk menentukan pilihannya bagaimana manusia itu hidup di bumi yang sebenarnya ciptaanNya juga, yaitu dibumi milik Tuhan tempat manusia ngontrak (hidup ini sementara teman dan bumi ini dengan segala isinya bukan milikmu atau milik nenek moyangmu). Apakah manusia itu mau jadi orang baik, orang jahat, orang munafik, ingin merusak dirinya sendiri, jadi penjahat, penjilat, koruptor, penipu, pembunuh, teroris, komunis, ateis bahkan yang menyembah setan sekalipun Tuhan beri kebebasan. Buktinya semua kelompok orang-orang ini ada di bumi dan oleh si Pencipta mereka sama-sama bisa menghirup udara yang Dia ciptakan, sama-sama bisa menikmati sinar matahari gratis lagi, sama-sama punya peluang untuk hidup di bumi ciptaanNya (tapi mungkin rejekinya beda-beda, ya…) tidak ada pembedaan untuk kuantitas dan kualitas oksigen yang boleh dihirup si A, si B, si C, si D, si E atau si F atau si Z.

    Tapi memang ada aturan main yang di buat-Nya yang mengatur hubungan Tuhan dengan manusia, manusia dengan manusia, itulah hukum Tuhan (FirmanNya). Manusia di era yang modern juga membuat hukum-hukumnya sendiri, tetapi untuk mengatur hubungan manusia dengan manusia itu, supaya tertib sehingga bisa hidup bersama-sama katanya.

    Sekarang saudara-saudara mau pake aturan/hukum yang mana? Kalo yang berhubungan dengan Tuhan nya, biarlah hukum Tuhan yang digunakan dan biarlah pribadi manusia itu sendiri dengan Tuhannya itu yang berperkara, melakukannya dan menerima konsekwensinya karna pribadi dia yang bermasalah dengan Tuhan yang disembahnya itu. Kalau saudara ikut campur berarti saudara yang beragama sudah mengambil otoritas si Penciptanya.

    Kalau mau pake hukum manusia karena dia masih hidup dalam suatu sistem bermasyarakat di suatu wilayah mari kita pake hukum manusia itu yang sudah disepakati bersama. Saya pikir secara hukum manusia dengan sedemikian banyak pasal-pasal yang dibuat sudah dapat menjerat pelaku yang melanggar hukum-hukum tersebut, yaitu orang-orang yang suka membuat keributan, keonaran, mengganggu ketertiban umum bahkan merusak hubungan manusia yang satu dengan manusia lainnya, merusak hubungan kelompok yang satu dengan kelompok yang lainnya, dan untuk manusia-manusia penjahat seperti ini untuk orang yang mengaku beragama bukankah Tuhan juga punya hukumannya.

    Kalau Pencipta manusia itu saja memberikan kebebasan kepada ciptaanNya untuk memilih bagaimana dia ingin hidup (walaupun setiap pilihan pasti ada konsekwensinya), kenapa manusia ciptaanya harus memaksakan kehendaknya dan tak tahu diri? Siapa Pencipta, siapa ciptaan?

  103. Marudut Pasaribu Says:

    Apakah ahmadiah mengancam keamanan negara, sehingga harus dibubarkan? Ahmadiah hanya suatu keyakinan dari sekelompok orang dan dalam perjalananya selama ini tidak pernah terlibat perencanaan makar maupun tindakan subversif lainnya. Bahkan dari beberapa teroris yang sudah tertangkap tak satu pun berasal dari jemaah ahmadiah.

    Bagi beberapa orang, ahmadiah dituduh telah melakukan penyimpangan terhadap kaidah islam dan mui merespon positif tuduhan tersebut dengan memberikan cap “sesat”. Atas pelabelan ini, gus dur mengatakan bahwa fungsi allah telah diserobot sekelompok orang yang dibentuk oleh negara.

    Manusia…oh… manusia, sejak bumi ada selalu saja saling menghakimi bahkan untuk sesuatu yang bukan otoritasnya. Nafsu berkuasa manusia selalu lebih besar ketimbang hasrat untuk saling menyanyangi. Ada saja alasan yang dicari sebagai pembenaran, dari yang masuk akal sampai di luar akal.

  104. globalmalau Says:

    yahudi dari dulu lagi memang mencari Team Islam yang kuat untuk dikucarkacirkan…
    adakah anda setuju…

  105. Supraptono Says:

    @sufehmi
    Seperti komentar Pyrrho di posting pak Wiryanto tsb, soal Ahmadiyah lebih mirip seperti kasus Children of God, yaitu kasus penistaan / pembajakan agama.
    Bukan soal freedom of choice / toleransi antar kepercayaan / dst.

    Jawaban :
    Pendapat saya Ahmadiyah tidak mirip sama sekali dgn Children Of God dan yg ini memang patut dilarang! Kenapa, ….. karena “akibat ajarannya” yg dapat memporak porandakan norma2 universal manusia….yaitu mengajarkan sex bebas dpt merusak sendi2 kehidupan manusia (sakit penyakit, dsb) inilah yg dilarang.
    Ada lagi lho yg terkini & pasti semua orang sdh tahu yaitu sekte Kristen poligami di Amrik. Ya..dilaranglah sama pemerintah Amrik krn penafsiran poligami yg mereka anut diejawantahkan dgn melakukan tidakan2 yg distruktif melanggar hukum(….menyekap dan anak2 yg jadi korban).
    Klo mereka melaksanakannya secara wajar berpoligami spt pd keyakinan muslim…..ya pasti nggak apa2kan..he..he……(paling dikecam)!

    Tetapi di Indonesia?? Apa yg terjadi…mereka yg merusak membakar, menyakiti.. kebanyakan malah didiamkan saja sama aparat (ada sih yag diproses…..tapi dikit ……he..he..).
    Kenapa hayo…barangkali aparat takut krn kalah banyak personilnya, takut ganti di kroyok balik ya……???? Maybe!!

    Mari kita ingat kembali apa tujuan utama agama diturunkan yakni antara lain dan yg paling fundamental adalah memperbaiki “akhlak” manusia.
    Dan kita pasti setuju bahwa semua hukum2 negara didunia ini secara “tersirat” dibuat mengacu pada hukum2 ilahi (terutama yg mengatur masalah moral).

    (Agama adalah seperangkat nilai yang mengatur kehidupan manusia secara individu dan sosial. Dengan demikian, menurut hemat penulis, hal tersebut dengan sendirinya akan menghasilkan dimensi-dimensi keagamaan dalam kehidupan manusia yang dapat ditampakkan dalam berbagai aspek kehidupan, baik berbangsa, bernegara, maupun bermasyarakat.
    Dalam pemahaman umat beragama, setiap fenomena sosial dan individual bisa dilacak akar permasalahannya dari sisi agama. Sehingga, pertanyaan yang muncul kemudian ialah sejauh mana peran agama dalam mengatur kehidupan bangsa kita ini, kini, esok, dan masa yang akan datang?
    Bila diyakini bersama bahwa agama telah menjadi sumber pandangan hidup bagi para pemeluknya, lalu mengapa fenomena sosial dan individual yang dijumpai pada saat ini tidak mencerminkan religiusitasnya sebagai orang yang taat terhadap agama? Fenomena kekerasan, budaya korupsi, kesewenang-wenangan, penindasan, ketidakadilan, pengonsumsian obat-obat terlarang, dan lain sebagainya kerap kita jumpai dalam keseharian bangsa kita. Kesemuanya masih mencerminkan perilaku tidak beradab dan tidak memiliki religiusitas sama sekali. Watak retak lebih ditampakkan daripada watak ramah dan toleran.
    Jum’at, 06 Juli 2007 09:02 WIB. – Ditulis oleh : Asrori, Peneliti pada Pusat Studi Islam dan kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta
    http://www.mediaindonesia.com/berita.asp?id=137391)

    Klo Children Of God tidak mengajarkan sex bebas dan mereka masih menyebut Kristen tapi tidak mengakui ketuhanan Yesus saja (misalnya) padahal orang Kristen yg sesungguhnya kan mengakui Yesus sebagai Tuhan….ya nggak apa2lah.
    Klo Chlidren Of God mau pakai Salib yang terbalik dlm simbolnya dan tidak mengakui Kristus sbgi Tuhan tetapi mereka tidak merusak sendi2 moral kemanusiaan ….ya biarlah…nggak apa2…itu tanggung jawabnya kepada TUHAN nanti.

    Sedangkan Ahmadiyah ??? Apakah sudah ada kejadian dan bukti mereka melanggar dan merusak norma2 universal yang ada? Setahu saya tidak ada (maaf klo keliru).…..bukankah mereka malah mempunyai motto LOVE FOR ALL, HATRED FOR NONE???

    Saya tidak habis pikir kenapa nyaris semua pihak keliru menangkap inti masalah dari issue ini. Mohon bantuannya agar Anda juga bisa turut mengklarifikasi soal ini, terimakasih banyak.

    Jawaban :
    Semoga pemikiran Anda yang paling tidak keliru menangkap inti masalah dari issue ini.
    Dan inilah klarifikasi saya, mohon maaf klo ada kesalahan dalam bertutur kata dan ini hanyalah urun rembug saya sebagai bagian dari anak bangsa!

    @Frater Telo

    Kalau inti dari teologi adalah Tuhan yang mencintai manusia maka tidak akan ada pertumpahan darah.

    Jawaban :
    Setuju…Mas FT…he…he….. Seperti yg disabdakan kanjeng nabi Isa A.S. :
    36 “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” 37 Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. 38 Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. 39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. 40 Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

    Semoga seluruh elemen bangsa ini diberi pencerahan oleh “TUHAN YG MAHA ESA” (sila pertama dari Pancasila)………. Amin.

    Jayalah INDONESIA …. bagi kedamaian, kesejahteraan dan kemakmuran seluruh rakyatnya. Semoga

    AyomerdekA

  106. wiwi Says:

    Bang sejak lahir sudah bisa menerima perbedaan katolik, protestan, advent itu wajar sekali.
    Karena pendeta-pendeta yang saya kenal pun (tetangga2 saya kebetulan bebeberapa diantaranya pendeta) menerima perbedaan2 itu. Dan itu terjadi karena mereka PAHAM sekali bahwa kitab suci yang menjelaskan pokok2/dasar agama kristen sudah tidak asli lagi. Sehingga sangat sulit untuk mewujudkan kristen yang satu aliran.
    Lain halnya dengan Islam, hak paten nama Islam ada dan harus diakui keberadaannya. Karena kitab suci Al Quran yang menerangkan pokok2 prinsip dalam Islam masih terjaga kemurniannya.
    Dan itulah sebabnya mengapa Ahmadiyah dicap sesat, karena prinsip dasar keIslamannya sudah tidak sama.
    Islam bisa menerima perbedaan2, sepanjang tidak menyangkut prinsip dasar. Kalau hanya beda merayakan hari raya Idul fitri (beda 1-2 hari) tidak masalah.
    Dan karena Islam adalah agama rahmatan lil alamin, maka ketika ada saudara semuslimnya yang sesat harus diingatkan.
    Persoalan masih adanya sikap anarkis, itu berpulang kepada seberapa tinggi taraf pendidikan orang yang melakukan anarkisme tersebut.
    Sayapun sangat tidak setuju dengan anarkisme terhadap golongan apapun.

  107. al-amin Says:

    ghulam ahmad kan lahir di india, jadi sebaiknya pengikut ahmadiyah tinggal di india saja, jadi ndak perlu repot2 tinggal di indonesia.

  108. SALNGAM Says:

    Ini adalah pengulangan sejarah primitif manusia. Kerajaan Indonesia yang katanya Republik dan Demokrasi mengalaminya dan kelihatan linglung dan kagok. Seolah-olah jarum jam berputar ke awal Abad ke 11 padahal sudah tahun 2008 dimana Amerika sudah dalam program menjelajahi tata surya. Marthin Luther menjadi Bidah itu sekitar tahun 1500-an, Copernikus dll itu adalah jaman baheula. Eh tahun 2008 MUI, FPI eh dll rupanya masih hidup pada tahun 1500-an dan kayaknya pemerintahnya yang konon katanya modern linglung..!!!????. Konon sekarang ini katanya malah sudah ada cosmic religion (mereka tidak terdaftar di Dep.Agama) tapi penganutnya di Dunia ini konon katanya cukup banyak dan memang mereka ini tidak perlu angka statistik karena umatnya bebas dan tidak perlu ada imam.
    Ketika Jahudi mau diperbaharui oleh Jesus taruhannya adalah mati diikuti kemudian oleh Martir Kristen. Ketika Islam mau mereformasi Jahudi dan Kristen korbannya adalah perang sabil. Ketika Islam mau direformasi Ahmadyah dll taruhannya adalah semua Ahmadyah harus mati!!!. Ketika kulit warna menganut Kristen, Kristen Kulit Putih mau membantai kulit berwarna (Ku Klux Clan) karena akan menodai Kristen itu sendiri karena menurut mereka Jesus itu kulit Putih. Ketika Hindu direformasi juga makan korban.
    Pertanyaannya apakah yang terjadi dengan orang beragama ini??. Bunuh-bunuhan itu apakah ajaran Tuhan, atau ajaran Iblis ( Tuhan dan Iblis meminjam istilah Agama Samawi).
    Hukum Taurat mengatakan “Jangan Membunuh”, tapi kelompok agama samawi yang percaya Hukum Taurat ini gemar kali membunuh. Perhatikan pernyataan berikut “..darah orang Ahmadyah itu halal untuk di minum” pada hal Daging Babi aja haram hukumnya, dan untuk sebagian besar agama samawi termasuk sebagian Kristen beranggapan “.. darah itu haram untuk dimakan, darah apapun itu !!!.
    Siapakah pengarang atau pembuat hukum agama?. Manusiakah atau Tuhan. Siapakah Hakim kalau hukum agama dilarang? manusiakah atau Tuhan atau Manusia yang mengaku-ngaku Tuhan atau human acting God?. Bagaimanakah caranya memperoleh Surat Kuasa dari Tuhan ?.
    Hai kalian para ahli hukum dan tata negara Indonesia, jika kalian masih pengen memiliki sebuah negara yang langgeng dan tototentram lohjinawi peraslah otak kalian, perbuatlah sesuatu jika masih mencintai manusia yang sebangsa kalau bisa seplanet atau setatasurya dengan kalian, sebelum seluruhnya di telan angin dan badai!. Tuhan kalian menyertai kalian!!

  109. Supraptono Says:

    al-amin Berkata:

    [ghulam ahmad kan lahir di india, jadi sebaiknya pengikut ahmadiyah ][tinggal di india saja, jadi ndak perlu repot2 tinggal di indonesia. ]

    Jawaban :
    Weleh, weleh, lho mas …..sampeyan iki mengimbau atawa memaksa?? Bgmna klo aku mengusulkan pengikut umat Nabi Muhammad SAW hijrah ke Arab Saudi dan sekitarnya saja kan disana negara kaya!?. Umat nabi Isa Almasih boyongan ke Yerusalem dan sekitarnya(wah… disini bahaya lho,banyak perang dan bom2 berani mati lho), trus umat Budha dan Hindu ke India (wouw nambahin penduduk kali ya..)?????. Supaya adil maksudnya…ha…ha..ha….. Trus….di Indonesia, sunyi dan suepi dong…he…he…he…he….

    Ya…..supaya nggak pusing…sing…sing…sing emang harus ada yg mbanyol (ngelawak) dikit…layouw….

    Semoga seluruh elemen bangsa ini diberi pencerahan oleh “TUHAN YG MAHA ESA” (sila pertama dari Pancasila)………. Amin.

    Jayalah INDONESIA …. bagi kedamaian, kesejahteraan dan kemakmuran seluruh rakyatnya. Semoga

    AyomerdekA

  110. Supraptono Says:

    @wiwi Berkata:

    Karena pendeta-pendeta yang saya kenal pun (tetangga2 saya kebetulan bebeberapa diantaranya pendeta) menerima perbedaan2 itu. Dan itu terjadi karena mereka PAHAM sekali bahwa kitab suci yang menjelaskan pokok2/dasar agama kristen sudah tidak asli lagi. Sehingga sangat sulit untuk mewujudkan kristen yang satu aliran.

    Jawab :
    Wah, Pendeta palsu itu Mas…. Pendeta yg drop out dari seminari kali ye….

    @wiwi Berkata:

    Lain halnya dengan Islam, hak paten nama Islam ada dan harus diakui keberadaannya. Karena kitab suci Al Quran yang menerangkan pokok2 prinsip dalam Islam masih terjaga kemurniannya.

    Jawab :
    Yah…semoga sampeyan yang paliiing benar Mas?!
    Mau nanya nih…trus nomor regristrasi hak patennya berapa, tanggal, bulan dan tahun berapa ya…?!

    Semoga seluruh elemen bangsa ini diberi pencerahan oleh “TUHAN YG MAHA ESA” (sila pertama dari Pancasila)………. Amin.

    Jayalah INDONESIA …. bagi kedamaian, kesejahteraan dan kemakmuran seluruh rakyatnya. Semoga

    AyomerdekA

  111. Hamdani Says:

    Orang yang membela Ahmadiyah berarti tidak mengerti Islam.
    Belajar dulu Islam baru mengerti kenapa Ahmadiyah itu dilarang.

  112. emmy Says:

    judul di atas “negara tidak berhak membubarkan ahmadiyah” sudah sangat jelas. bahwa jawabannya gak boleh. kenapa? karena negara ini bukan negara yang berdasarkan agama, kecuali NKRI ini menjadi NII.
    tetapi sebuah negara.. yang pluralisme seperti Indonesia.. tetap tidak bisa membubarkan sebuah keyakinan.
    @ mare : tatanegara yang anda maksud masih salah. tolong belajar lagi.
    minimal jangan gunakan diktat sebagai pembenaran pendapat pribadi kalo anda tidak paham kenapa ilmu itu harus diajarkan.

    ato MUI, jika bisa disejajarkan sebagai Vatikan nya Katolik, menyatakan Ahmadiyah sebagai terlarang, masuk neraka, halal darahnya, sudah itu saja. dan biarkan Ahmadiyah cari kebenaran Islam versi dia sendiri. masalahnya MUI juga bukan Vatikan nya Katolik. Masih ada PB NU ato PB Muhammadiyah ato yang lainnya. Kalo MUI bisa disejajarkan dengan Vatikan dan mungkin bisa mengeluarkan hukuman untuk anggotanya maka persoalan selesai.

    terakhir, jangan serang sosok penulis pendapat. jika mau berdebat, debat pendapatnya. pake argumen dan nama yang jelas, jika tidak ya syukur-syukur ada alamat yang bisa dihubungi. sehingga masih bisa saling diskusi. mengutip kata bung dana, salurkan energi positif dalam berdiskusi sehingga tidak energi negatif yang keluar yang ujung-ujungnya cuma emosi yang diumbar.

    oh ya jika saya setan, saya akan tertawa melihat emosi yang meletup disini. dan jika saya tuhan .. ah tentu anda tau jawabnya.. saya dah dibunuh di negeri ini.😆

  113. atmo glendem Says:

    @supraptono

    hahahaha… usaha yang hebat untuk sekedar membenarkan ahmadiyah….salut salut..

    tapi saya kok setuju dengan pendapatnya pak sufehmi, inti dasar permasalahan ini bukan pada tindak kekerasan yang dilakukan org orang kontra ahmadiyah, (sehingga seolah olah muncul pihak yang merasa didzalimi dan di”kuyo kuyo”, sehingga apapun masalahnya, muncullah ahmadiyah yg dibela habis habisan , bahkan oleh orang orang yang notabene diluar Islam), tetapi pada masalah ahmadiyah sendiri yang tidak mengakui dan menghilangkan salah satu rukun dalam Islam.

    Saya juga yakin, bila muncul sekte di kristen, dan tidak mengakui adanya Tuhan Yesus, pastilah diperangi, entah dengan model apa cara memeranginya. dan saya yakin, itu menjadi ranah kristen, dan bukan kompetensi saya/umat lain. Sehingga akan sangat lucu dan kurang SOPAN, ketika saya, yang (mungkin) mengerti tentang Kristen pun, akan ikut kutan cuap cuap menambah rame suasana.

    Tapi mungkin juga, nantinya bila (mungkin) muncul sekte Kristen, yang tidak mengakui azas dasar Kristen, anda akan diam saja dan mengannggap itu hal yang biasa, karena anda seorang yang sangat demokrat😀

    saluuut…

    intinya, bila kita mengomnetari terhadap sesuatu, kita harus tahu ilmunya, bukan hanya dari luar saja🙂
    bila anda bukan orang Islam, pastilah tak paham, beda ahmadiyah dan Islam, dan kami paham hal itu.

    sekian
    atmo glendem

  114. Supraptono Says:

    Buat Mas Atmo Glendem..salam kenal….
    Menarik tulisan Anda untuk saya, sedikit penjelasan atas pendapat Anda :

    [hahahaha… usaha yang hebat untuk sekedar membenarkan ahmadiyah….salut salut……………..]

    Jawab :
    Memang demikian kalau saya dianggap “membenarkan” Ahmadiyah, karena secara hukum mereka sudah mempunyai Badan Hukumnya (SK Menteri Kehakiman No. JA 5/23/13, tertanggal 13 Maret 1953, dan diakui sebagai organisasi kemasyarakatan melalui surat Direktorat Hubungan Kelembagaan Politik No. 75//D.I./VI/2003).
    Saya tdk pernah “membenarkan” dan mengatakan bahwa Islam benar dan Ahmadiyah salah, atau sebaliknya.
    Bagi saya setiap orang berhak menafsirkan sesatu yang diyakininya benar untuk dirinya sendiri, dan yang hasil akhirnya secara normatif orang akan menilai dari “buahnya” manis atau pahit, segar atau kecut……!

    [……tapi saya kok setuju dengan pendapatnya pak sufehmi, inti dasar permasalahan ini bukan pada tindak kekerasan yang dilakukan org orang kontra ahmadiyah, (sehingga seolah olah muncul pihak yang merasa didzalimi dan di”kuyo kuyo”,…..]

    Jawab :
    ** Justru inilah sebenarnya yang saya garis bawahi karena ada yg merasa di”dzalimi” dan di”kuyo kuyo”, yg pada akhirnya juga muncul dan mengakibatkan adanya kekerasan.

    [……sehingga apapun masalahnya, muncullah ahmadiyah yg dibela habis habisan , bahkan oleh orang orang yang notabene diluar Islam), tetapi pada masalah ahmadiyah sendiri yang tidak mengakui dan menghilangkan salah satu rukun dalam Islam.

    Jawab :
    Mungkin tokoh2 politik dan masyarakat tempo doeloe lebih toleran dari pda tokoh politik dan masyarakat sekarang???? Ataukah tokoh2 politik dan masyarakat tempo doeloe tidak secerdas tokoh2 politik dan masyarakat zaman sekarang, sehingga mereka memberikan ijin status badan hukum padahal ahmadiyah dianggap tdk mengakui dan menghilangkan salah satu rukun dalam Islam????

    [Saya juga yakin, bila muncul sekte di kristen, dan tidak mengakui adanya Tuhan Yesus, pastilah diperangi, entah dengan model apa cara memeranginya. dan saya yakin, itu menjadi ranah kristen, dan bukan kompetensi saya/umat lain. Sehingga akan sangat lucu dan kurang SOPAN, ketika saya, yang (mungkin) mengerti tentang Kristen pun, akan ikut kutan cuap cuap menambah rame suasana].

    Jawab :
    Maaf , saya menganalogikan negara ini (Indonesia khususnya) seperti dalam keluarga saya (Pancasila maksud saya). Dalam keluarga, saya boleh dan berhak urun rembug dan anggota keluarga lain tidak pernah menganggap saya “kurang SOPAN” dan ikut2 cuap2 menambah rame suasana, tetapi justru sebaliknya!
    Tetapi klo dlm hal ini Mas Atmo Glendem dan Suadaraku2 lain yg sependapat dgn Mas Atmo masih mempunyai anggapan demikian …. ya…saya mohon maaf.

    [intinya, bila kita mengomnetari terhadap sesuatu, kita harus tahu ilmunya, bukan hanya dari luar saja. bila anda bukan orang Islam, pastilah tak paham, beda ahmadiyah dan Islam, dan kami paham hal itu.]

    Jawab :
    Maaf Mas, jujur saja klo saya boleh pinjam istilah Anda, saya adalah seorang “mualaf”…..jadi saya udah ngerti perbedaan akidah yg sekarang lagi dibicarakan ini.

    Sekali lagi mohon maaf…klo ada tulisan yg tidak berkenan……
    Semoga Mas Atmo Glendem…..tidak suka bertidak glendam-glendem…he…he…he..(just joke mas !!!).

    Semoga seluruh elemen bangsa ini diberi pencerahan oleh “TUHAN YG MAHA ESA” (sila pertama dari Pancasila)………. Amin.

    Jayalah INDONESIA …. bagi kedamaian, kesejahteraan dan kemakmuran seluruh rakyatnya. Semoga

    AyomerdekA

  115. sufehmi Says:

    ato MUI, jika bisa disejajarkan sebagai Vatikan nya Katolik, menyatakan Ahmadiyah sebagai terlarang, masuk neraka, halal darahnya, sudah itu saja.

    Ini dia fitnah yang disebarkan oleh para pengacau di masalah ini.

    Faktanya :

    1. Tidak ada otoritas seperti Vatikan di dalam Islam

    Otoritas yang diakui secara global dalam Islam adalah khilafah, dan pada saat ini sedang tidak ada.

    Jadi kalau sampai dibilang MUI menghalalkan darah orang lain :

    1a. Buktinya mana ? Jangan cuma bisa memfitnah

    1b. Kalaupun ada ajakan demikian (yang sebenarnya tidak ada), seperti kata Anda sendiri selanjutnya (kontradiktif ya?) otoritas MUI tidak bersifat mengikat, dan masih banyak lagi organisasi2 Islam lainnya.

    Kentara sekali isu Ahmadiyyah ini juga ditunggangi untuk menembak dan menghancurkan MUI oleh pihak-pihak lainnya.

    sebuah negara.. yang pluralisme seperti Indonesia.. tetap tidak bisa membubarkan sebuah keyakinan.

    Lagi-lagi membelokkan masalah.

    Masalah Ahmadiyah bukan soal kebebasan beragama.

    Melainkan masalah pembajakan agama.
    (baca: agama Ahmadiyah mengaku agama Islam, padahal kontradiktif dengan definisi Islam itu sendiri)

  116. sufehmi Says:

    Kalau Pencipta manusia itu saja memberikan kebebasan kepada ciptaanNya untuk memilih bagaimana dia ingin hidup (walaupun setiap pilihan pasti ada konsekwensinya), kenapa manusia ciptaanya harus memaksakan kehendaknya dan tak tahu diri?

    Banyak sekali ya yang gagal menangkap inti masalahnya, tapi tetap saja berani sok tahu menyatakan dirinya yang benar dan menceramahi orang lain. Aneh.

    Masalah Ahmadiyah ini bukan masalah kebebasan beragama.
    Karena dalam agama Islam, kebebasan beragama itu dijamin langsung oleh Al-Quran (lakum dinukum waliyadin)

    Yang terjadi saat ini, agama Ahmadiyah telah membajak agama Islam.

    Masih bingung ?

    Jadi, agama Ahmadiyah mengaku sebagai agama Islam.

    Tentu saja penganut agama Islam jadi protes. (1)
    Karena agama Ahmadiyah berbeda dengan agama Islam.

    Tolong kalau agamanya berbeda (dan ini telah banyak bukti yang didapat baik oleh institusi Islam, pemerintah, dan bukti-bukti lainnya dari seluruh dunia), jangan mengaku-ngaku sebagai agama orang lain.

    Intinya itu saja.

    Tolong kalau tidak paham inti masalahnya, jangan berlagak seperti yang paling pintar, paling tahu, paling benar, dan/atau malah berceramah soal kebebasan beragama. Jadi jelas kelihatan bahwa sebenarnya Anda tidak tahu.

    Terimakasih.

    (1) protes disini kadang telah terjadi selama bertahun-tahun, namun para penganut agama Ahmadiyah di beberapa tempat terus memprovokasi.
    Akhirnya terjadilah ledakan kemarahan yang telah bertahun-tahun tertahan itu. Ini sangat disayangkan dan tetap tidak dibenarkan dalam Islam.

  117. Werene Says:

    Dibubarkan saja Ahmadiyah itu…. supaya mereka pindah ke agama lain. Kita lihat apakah orang2 /organisasi yang membubarkannya itu bersikap bagaimana, membiarkan untuk memeluk agama yang lain atau bersikap seperti kebarakan jengkot panjangnya.

  118. intelefone123 Says:

    As Indonesia mulls the fate of its Ahmadiyyas, its leaders ought to draw lessons from others’ mistakes. In 1974 the charismatic Zulfiqar Ali Bhutto sought to appease Pakistan’s strident Islamists by declaring the Ahmadiyyas to be non-Muslims. Bhutto’s placing of petty politics above principle is now generally regarded as a turning point in his country’s long slide toward obscurantism and lawlessness.

    Read more:

    http://online.wsj.com/article/SB120880837027832281.html

  119. atmo glendem Says:

    @ mas supraptono

    wah, matur nuwun tulisane sing panjang banget iku mas…

    Tapi gini, terlepas apakah anda mualaf atau tidaknya, saya ingin mengomentari orang orang yang mengaku merupakan “salah satu anggota keluarga yang berhak untuk urun rembug”, nah ini konteksnya bukan keluarga mas, tetapi keyakinan.

    Nah, untuk masalah ahmadiyah ini, saya kira hanya pihak Islam yang paham dan tau betul, apa itu rukun dan syarat syahnya menjadi seorag Islam, seperti halnya saudara saudara non Islam yang sangat paham teori teori tentang keyakinannya masing masing. Akan LUCU ketika saya mencoba melerai suatu sekte Kristen yang hanya mengakui SATU TUHAN dengan yang pro TRINITAS, padahal saya tak paham, apa itu TRINITAS yang sebenarnya…

    Sangatlah paradox, bilamana saya mengaku ngaku berbaju HAM dan DEMOKRASI menengahi konflik agama lain, tetapi saya sendiri tak paham apa dan bagaimana ajaran itu, karena “hanyalah orang luar saja”

    nah, kenapa untuk hal yang sama, MOSSADEQ yang juga berbeda pandangan dengan Umat Islam karena mengaku nabi, tidak diberi “PEMBELAAN” yang sama oleh para “pendekar HAM”

    yah, mungkin karena MOssadeq tidak tercatat organisasinya, dan bukanlah organisasi besar sebesar JAI (yang nantinya bisa digunakan setiap saat)🙂

    nuwun
    atmo glendem

    nuwun..

  120. zlyfly Says:

    Kemerdekaan ISLAM adalah bukan terletak pada negara ini tetapi terletakkepada kepercayaan Kepada Islam itu sendiri.
    banyak atau tidaknya umat Qadiyani, Islam yang dibawa oleh Rasullulah.saw.tetap lebih baik.
    jadi ngga perlu kita bahas Qadiyan selagi Al,Qur’an dan Itrahnya masih tetap bersama kita …
    Ilmu adalah guru kita …biarkan waktu yang berkata kata kepada
    kita.percayalah kepada janji ALLAH.
    mengapa kita UMAT ISLAM KETAKUTAN.
    Demi Masa ,berputar ibarat gilingan,kita hanya bisa menyelamatkan
    yang dekat pada kita ,semampu kita,jagalah sebaik baiknya
    lebih dari itu demi masa,berputar, ibarat gilingan.jangan anarkis,
    biarkan ilmu yang berbicara sebenarnya Qadiyani pun di Inggris telah menjadi momok .tanks
    kepada @hanyfah penilaian sejarah moe oke
    @ tuk robert manurung lu harus mengakui kalau sejarah Indonesia
    hasil dari perjuangan Umat Islam.
    hanya dibeberapa daerah aja kristenisasi terjadi
    terutama dikampung luh jadi luh harus jujur
    Portugis pertama yang membawa kristenisasi kesini
    dgn kekerasan tidak seperti Hindu ,Bhudha dan
    Islam sebelumnya. baca buku buku sejarah jangan
    retorika belaka.

  121. Robert Manurung Says:

    @ semua pemberi komentar & pembaca

    1. Terlepas dari adanya perbedaan paradigma dan pendapat yang cukup kontras, serta kurangnya sikap terbuka untuk menerima dan mengakui pendapat yang relatif lebih benar; selaku pengelola blog ini aku mengucapkan terima kasih dan salut buat Anda semua karena telah sama-sama menjaga kesantunan dalam berdiskusi dan berdebat.

    2. Secara khusus aku minta maaf kepada para pemberi komentar yang :

    a. komentarnya terkena sensor sebagian, terutama kata-kata keras dan makian. Sensor terpaksa kuterapkan, demi menjaga agar blog ini tidak menjadi sumber kekerasan baru dalam relasi antar anak bangsa yang sedang terpuruk ini.

    b. komentarnya tidak kutampilkan karena isinya melulu caci maki dan rasa bahasanya terlalu sarat dengan violance by language.

    3. Mengenai posisiku dalam isu yang cukup panas ini, sebenarnya sudah kujelaskan secara gamblang dalam tanggapanku di atas. Tapi, karena masih juga ada yang menanyakan “kenapa seorang non-muslim ikut campur urusan internal Islam”, baiklah aku jelaskan sekali lagi :

    a. Dalam artikel ini aku tidak membahas sedikitpun mengenai ajaran Islam atau ajaran agama lain. Fokus tulisan ini adalah peran dan fungsi negara terkait dengan pasal 28 UUD ’45 mengenai kebebasan beragama. Dan sebagai warga negara Indonesia, kita semua memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk bersuara dan berpendapat mengenai perilaku negara dan implementasi konstitusi.

    b. Tujuanku menulis artikel ini adalah Law Enforcement atau PENEGAKAN SUPREMASI HUKUM di negara tercinta ini.

    c. Buat aku, agama adalah urusan perorangan dengan Tuhan. Aku tidak pernah terlibat dalam perdebatan ajaran agama di forum mana pun. Minatku adalah sharing pengalaman spiritual dan implementasi ajaran agama dalam solidaritas sosial dan humanisme secara luas.

    4. Buat zlyfly : pertanyaan Anda sudah terjawab dalam tanggapanku buat hanyfa.

    5. Buat daenglimpo : aku ikut prihatin soal ketidakadilan negara atau pemerintah yang Bung kemukakan. Terhadap segala penyimpangan fungsi dan peran negara, kita berada dalam satu perahu, Bung.

    6. Buat sufehmi : Anda kurang menyimak sehingga jadi out of context. Yang Anda katakan mungkin benar dari perspektif pemeluk agama Islam , bahwa masalah Ahmadiyah adalah pembajakan agama . Tapi, dalam konteks ini yang kita bahas adalah bagaimana negara memerankan fungsinya dalam kasus Ahmadiyah, dilihat dari paradigma konstitusional.

    7. Dalam masalah yang lain, misalnya kelalaian negara menjaga keselamatan warga negara, Anda semua pasti setuju kalau aku menulis artikel yang menggugat negara.

    FYI : saat ini para pemegang saham Adam Air sedang bersengketa dan salah satu poinnya adalah pelanggaran standar keamanan penerbangan oleh manajemen maskapai itu, sehingga pesawat Adam Air jatuh di Majene dua tahun lalu.

    Semestinya pemerintah menjadikan itu entry point untuk memeriksa ketaatan Adam air dan maskapai lainnya dalam melaksanakan segala peraturan dan regulasi keamanan penerbangan.

    Salam damai dan persaudaraan buat Anda semua.

    AyomerdekA !

  122. hh Says:

    A_gama, artinya tidak_kacau. Kita memeluk agama, supaya semua aspek hidup & kehidupan kita tidak kacau, melainkan suci, agar berkenan di hadapan Tuhan. Tanpa kehidupan yang berkanan di hadapan Tuhan, tidak seorangpun yang akan melihat Tuhan. Itu harga mati, tidak ada tawar menawar.

    Seorang pekerja memberi usul kepada tuannya agar ilalang yang tumbuh bersama padinya di cabut saja. Tuannya menjawab jangan, sebab kalau ilalang itu di cabut, akan ikut tercabut padi yang sudah hampir menghasilkan itu.

    Ilalang tidak dapat merobah dirinya menjadi tanaman padi, tetapi manusia dapat memperbaiki kehidupannya yang salah.

    Kalau ada suatu agama yang ajarannya tidak sesuai dengan ajaran agama yang kita anut, kita tidak perlu berusaha untuk mencabutnya, tetap berilah mereka kesempatan. Ingat! Tugas agama yang merasa ajarannya lebih baik adalah untuk memberitahukan kebaikan itu. Tidak lelih dari itu.

    Kalau mereka tetap ngotot dengan ajarannya yang salah, itu adalah urusan Tuhan. Bila tindakan mereka sudah mengarah kepada tindakan kriminal, serahkan semuanya kepada pemerintah. Karena merekalah wakil Tuhan di bumi, yang mengatur tata kehidupan masyarakat.

  123. kuro2 Says:

    Ahmadiyah itu sendiri pun udah dilarang di pakistannya itu sendiri sejak pemerintahan Bhutto yang pertama…

    Jika anda menganggap ahmadiyah itu TIDAK SESAT, maka sebaiknya anda lebih memperdalam agama Islam…

    Banyak2 lah berguru kepada ulama2 besar…

    Jika anda melarang pemerintah atau menolak MUI untuk membubarkan ahmadiyah, maka anda hendaklah berfikir kembali..

    Apakah ilmu agama anda telah melebihi para ulama besar yang bernaung dalam MUI..?? Apakah anda menganggap orang2 yang ada di MUI itu bodoh..??Tentu tidak bukan..??

  124. sufehmi Says:

    Robert – Buat sufehmi : Anda kurang menyimak sehingga jadi out of context. Yang Anda katakan mungkin benarpemeluk agama Islam , bahwa masalah Ahmadiyah adalah pembajakan agama . Tapi, dalam konteks ini yang kita bahas adalah bagaimana negara memerankan fungsinya dalam kasus Ahmadiyah, dilihat dari paradigma konstitusional.
    .
    Hm, kok saya dibilang out of context ?
    Yang saya tulis sejauh ini tidak ada mengkomentari artikel Anda.
    .
    Saya mengkomentari komentar2 yang sudah ada, sesuai konteks masing-masing komentar tsb.
    .
    Coba dicek lagi.
    .
    Mengenai negara membubarkan Ahmadiyah, kalau kita cek definisi “pemerintah” serta otoritasnya (pemegang amanat rakyat), maka bisa saja. Seperti pemerintah juga bisa membubarkan Islam / agama lainnya.
    .
    Saya sendiri tidak setuju. Biarkan saja orang bebas menganut keyakinannya masing-masing.
    .
    Tetapi, kebebasan ini juga jangan melanggar batas; seperti malah jadi membajak agama orang lain.
    Ini yang terjadi disini.
    .
    7. Dalam masalah yang lain, misalnya kelalaian negara menjaga keselamatan warga negara, Anda semua pasti setuju kalau aku menulis artikel yang menggugat negara.
    .
    Ya, hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu. Itu harus.
    .
    Tapi, dalam artikel ini Anda sudah bias. Contohnya :
    .
    karena Ahmadiyah bukanlah kelompok biang kerok yang suka cari gara-gara
    .
    Datanya dari mana? Padahal fakta di lapangan tidak demikian :
    .
    Hasil rapat Badan Kordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakor Pakem) memutuskan untuk memberi perintah dan peringatan keras terhadap warga Ahmadiyah untuk menghentikan kegiatannya. Sebab Ahmadiyah sama sekali tidak melaksanakan 12 butir kesepakatan secara konsisten dan bertanggung jawab.
    .
    Ref: http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/04/tgl/16/time/142648/idnews/924410/idkanal/10
    .
    Ini baru satu contoh. Yang tidak terekspos media massa lebih banyak lagi.
    .
    Solusi masalah Ahmadiyah adalah dialog yang jujur dengan tujuan untuk mendapatkan solusi.
    .
    Saya sendiri geram dengan berbagai kekerasan yang ada di seputar kita. Tapi, menafikan fakta / realita bukanlah solusi. Ini cuma akan berputar-putar terus sementara masalahnya terus terjadi dan semakin bertumpuk dan berbelit-belit.
    .
    Fokus ke inti masalahnya, bukan ke akibat2 / symptom nya.

  125. intelefone123 Says:

    @ sufehmi

    Yang mengangkat isue Ahmadiyah kepermukaan agar dinyatakan sebagai non-muslim itu siapa ya? Kaum muslim Wahabiyah – yang sekarang menyaru sebagai Salafiah, menyaru sebagai Ahlu Sunnah! Kenapa baru sekarang? Karena munculnya Islam ekstrem yang dibiayai Arab Saudi merupakan fenomen global. Itu masalahnya.

    Jadi yang dimasalahkan bukanlah keyakinan kaum Ahmadi itu sendiri. Mengapa? Karena Ahmadiyah sudah ada di Indonesia sejak dulu sekali. Tidak ada yang berekasi dengan kekerasan semacam itu sebelumnya. Kenapa sekarang ada? Ahmadiyah menjadi sasaran tembak dari muslim Wahabiyah – yang digunakan sekaligus untuk mendikte forum dan organisasi Islam mulai dari Majelis Ulama sampai PKS, NU dan Muhammadiyah, dan ingin membuktikan bisa mendikte pemerintah RI.

    Apa yang membuat FUI, Mujahidin, FPI, HTI bisa satu posisi dengan Majelis Ulama dan PKS? Bahkan NU dan Muhammadiyah! Jadi serangan terhadap Ahmadiyah itu adalah gejala poltik yang menggunakan agama sebagai issue. Indonesia dijadikan medan pertarungan, menjadi perluasan dari Pakistan, Afghanistan. Di negri asalnya, Arabianya Saud, Wahabiyah membajak Islam Ahlu Sunnah dengan cara yang sama. Cara manipulasi dan kekerasan!

    Ketik wahabi, wahhabi atau wahhabism di browser anda, nanti Google akan mendaftar begitu banyak blog dan website yang menunjukkan kaitan antara kekerasan dan Islam Wahhabiyah.

    – salam-

    http://intelefone123.wordpress.com

  126. al-amin Says:

    pelarangan Wanita Ahmadiyah yang tidak Boleh menikah dengan Pria beragama Islam, merupakan suatu bukti bahwa AHMADIYAH BUKAN BAGIAN DARI ISLAM DAN SAMPAI KIAMAT PUN TIDAK AKAN MENJADI BAGIAN DARI ISLAM, MAKA JIKA ADA SESEORANG YG MENYATAKAN BAHWA AHMADIYAH BAGIAN DARI ISLAM ADALAH ORANG BEGO, TERMASUK ORANG2 AHMADIYAH SENDIRI YANG MENGAKU BERAGAMA ISLAM.

  127. mujahid cinta Says:

    mas kalo begitu sekalian aja PKI itu gak dilarang !!! biar dunia tau bahwa indonesia ini negara yang bebas sebebas bebasnya kayak dunia binatang!!! makanya indonesia ini gak maju2 habisnya banyak orang yang gak tau tapi sok tau sih!!! bukan ahlinya tapi sok bicara!!! udah jelas-jelas menyesatkan malah gak boleh dilarang,!!! aneh aneh…….

  128. adriansislam Says:

    Semoga artikel dibawah ini bermanfaat :

    ARTIKEL 1 :

    Kekuatan Asing di Belakang Ahmadiyah?

    Assalamu ‘alaikum, pak ustadz.

    Saya agak curiga bahwa gerakan Ahmadiyah yang sudah divonis sesat ini tidak kunjung dilarang di Indonesia. Jangan-jangan pemerintah kita ini memang diancam oleh kekuatan asing dan tidak punya nyali untuk melarangnya.

    Bagaimana kita memahami situasi seperti ini pak ustadz, mohon pencerahannya, syukran jazila

    Wassalam

    Sarif
    sarifhidayatullah@gmail.com
    Jawaban

    Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Sejak awal mula sejarah berdiri Ahmadiyah, keterlibatan pihak asing sudah sangat kentara. Penjajah Inggris memang telah memberikan dukungan sepenuhnya kepada gerakan ini di India, serta rela memberikan dana yang tidak terbatas demi tegaknya dakwah Ahmadiyah.

    Padahal seluruh ulama di dunia telah bersepakat untuk menyebut bahwa Ahmadiyah bukan bagian dari agama Islam, karena prinsip dasarnya bertentangan dengan akidah Islam. Yang utama karena menjadikan Mirza sebagai nabi dan menerima wahyu.

    Namun Ahmadiyah sangat bermanfaat buat penjajah Inggris saat itu, sebab Ahmadiyah akan membuat jihad dan perlawanan umat Islam terhadap Inggris akan mengendor. Dengan keberadaan Ahmadiyah, penjajah tidak perlu lagi capek-capek menghadapi rakyat, biar saja rakyat dilawan oleh rakyat juga.

    Inggris cukup mengadu domba sesama bangsa India, sambil memberikan dukungan penuh kepada aliran sesat Ahmadiyah.

    Di dalam buku Tabligh-i-risalat, vol. VII halaman 17, Mirza menulis:

    “Aku yakin bahwa setelah pengikut-pengikutku bertambah, maka mereka yang percaya pada doktrin jihad akan makin berkurang. Oleh karena menerima aku sebagai Messiah dan Mahdi maka sekaligus berarti taat pada perintahku, yaitu dilarang berjihad terhadap Inggris. Bahkan wajib atas mereka berterima-kasih dan berbakti pada kerajaan itu.”

    Jadi sejak awal Ahmadiyah memang alat yang digunakan oleh penjajah Inggris untuk meredam jihad dan perlawanan umat Islam India. Maka kalau sekarang ini Ahmadiyah terkesan dibackingi oleh negara-negara besar, rasanya memang ada benang merahnya.

    Sebab buat apa lagi pemerintah merasa takut untuk melarang gerakan Ahmadiyah, kalau bukan karena takut tekanan pihak asing. Pemerintah SBY sekarang ini sudah didukung oleh semua ulama, bahkan Badan Pengawasan Aliran Kepercayaan pun sudah menetapkan bahwa Ahmadiyah itu sesat. Bola sekarang berada di tangan pemerintah.

    Logikanya, apa sih susahnya mengeluarkan pengumuman sesatnya Ahmadiyah? Kenapa sebegitu loyo pemerintah untuk melindungi akidah bangsa ini dari paham sesat Ahmadiyah? Jangan-jangan ada apa-apanya.

    Maka kalau kita kaitkan dengan keterlibatan penjajah Inggris saat mendirikan Ahmadiyah di India dahulu, rasanya tidak aneh kalau keberadaan Ahmadiyah ini memang didukung oleh kekuatan asing, yang membuat pemerintah kita kelihataan jadi aras-arasan, takut melarang, atau berlagak pilon, atau entah kenapa, yang jelas sikap pemerintah yang plin-plan itu sangat menunjukkan bahwa ada tekanan international dari luar. Entah siapa mereka.

    Empat Negara Asing Menekan Indonesia

    Dan logika yang kami sebutkan di atas ternyata terbukti. Statemen dari pak Nasarudiin Umar yang menjawab sebagai Dirjen Bimas Islam Departemen Agama secara tegas telah membenarkan teori itu.

    “Memang ada empat negara yang mengimbau agar Ahmadiyah tak dibubarkan. Yaitu dari Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan satu lagi saya lupa. Suratnya ditujukan ke Menteri Agama dan ada tembusannya ke saya.” begitu ujar beliau beberapa waktu yang lalu.

    Apa yang diungkapkan oleh pak Nasarudin ini sebuah pernyataan jelas dan tanpa malu-malu. Dan semua ini menjelaskan dengan mudah, mengapa sampai hari ini pemerintah masih ’sakit gigi’ untuk melarang Ahmadiyah secara terbuka.

    Meski pak Nanasrudin mengatakan bahwa pemerintah tidak terpengaruh dengan tekanan itu, namun yang namanya ancaman tetap saja ada dampak psikologisnya. Semakin lama pemerintah bersikap plin-plan, maka semakin membutikan bahwa tekan asing itu memang ada dan berjalan dengan sangat efektif.

    Penjelasan Nasarudin kemudian dikuatka oleh ketua MPR-RI, Dr Hidayat Nur Wahid, MA. Dalam salah satu kesempatan beliau mengatakan bahwa manuver beragam yang dilakukan oleh pihak tertentu yang menggangap pembubaran Ahmadiyah sebagai pelangaran HAM dalam beragama perlu dicurigai, karena dikhawatikan itu salah satu cara-cara yang dilakukan pihak asing untuk merusak kedaulatan Indonesia.

    “Yang kita khawatirkan itu cara pihak asing untuk melakukan intervensi terhadap kedaulatan Indonesia, melalui pendanaan kepada LSM yang vokal terhadap isu HAM, “ujarnya.

    Pemerintah Wajib Melindungi Umat Islam

    Padahal seharusnya pemerintah memikirkan nasib 200 juta umat Islam di negeri ini yang agamanya dirusak, diobok-obok, dihina dan dilecehkan oleh kekuatan asing yang anti Islam itu.

    Atau jangan-jangan, memang ditunda-tundanya pelarangan itu disengaja untuk memancing terjadinya tindak anarkhi berikutnya. Tujuannya agar stigma bahwa di Indonesia ada Islam ekstrem semakin laku didagangkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan di dunia internasional.

    Mirza Ghulam Ahmad: Tipikal Kaki Tangan Penjajah

    Sosok Mira Ghulam Ahmad ternyata tipikal seorang yang menjilat kepada pemerintah penjajah Inggris. Kita bisa membuktikan dari tulisan-tulisannya yang menunjukkan kesetiaan, ketundukan serta penyerahan diri totalnya kepada sang penjajah.

    Padahal dunia tahu bahwa Inggris tidak lain hanyalah penjajah, yang datang ke India untuk merampas negeri, mengangkangi sekian banyak asset-asset negeri itu, melebarkan kekuasaan serta menjadikan kemuliaan penduduk India menjadi kehinaan.

    Namun seorang Mirza malah berpihak kepada penjajah dan tega mengkhianati saudara sebangsanya sendiri. Dia adalah seorang kaki tangan penjajah, yang merelakan dirinya dijadikan alat untuk merobohkan kemuliaan bangsa India. Dalam beberapa bukunya, kita bisa melihat bagaimana sesungguhnya sikapnya kepada Inggris.

    Sebagian besar perjalanan hidupku ialah mendukung dan membela pemerintah Inggris… Saya selalu menganjurkan agar setiap Muslim haruslah menjadi pengabdi pada pemerintah ini, dan sanubari mereka janganlah ada sedikitpun niat meniru-niru perbuatan menumpah- numpahkan darah oleh Imam Mahdi atau Messiah yang begitu fanatik memberi ajaran-ajaran bodoh dan sempit.” (Lihat Tiryacal-Qulub halaman 15 blirza)

    Di lain tulisan, dia juga mengatakan bahwa bangsa India seharusnya berterima kasih kepada penjajah Inggris

    “Sesungguhnya tidak menyempurnakan hak atau tidak berterima kasih kamu pada Inggris berarti tidak menyempurnakan hak atau tidak berterima-kasih kamu kepada ALLAH.” (Lihat At-Tabligh halaman 41)

    Maka sebaiknya pemerintah kita ini segara sadar dan tahu diri, tidak ada gunanya selalu mengikuti kemauan asing. Kenapa sih tidak sekali-sekali mandiri dan punya harga diri.

    Jangan mau hanya dijadikan hewan sirkus yang ditabuhi genderang, lalu berjoget mengikuti irama buatan penjajah. Kita sudah merdeka sejak tahun 1945, tapi kenapa mental terjajahnya masih saja melekat. Apakah karena kita terlalu lama dijajah Belanda?

    Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Ahmad Sarwat, Lc

    ARTIKEL 2 :

    Kekhalifahan JAI VS Kekhalifahan Rasullullah

    Assalamu’alaikum

    Ustadz ahmad

    Saya ingin mengetahui dengan pasti apakah sama kekhalifahan yang dilakukan oleh JAI dengan kekhalifahan yang dilakukan pada zaman rasullullah saw. karena pengikut JAI merasa bangga karena telah mendirikan kekhalifahan yanag mereka pikir sama dengan yang telah dilakukan oleh sahabat rasulullah di zaman terdahulu.

    Selain itu mengapa ahmadiyah diperbolehkan untuk berkembang sebelumnnya dan sekarang baru di usut persoalannya? Bila memang pemerintah akan membubarkan JAI mengapa tidak awal-awal kenapa baru sekarang? Dan inilah yang menjadi keyakinana para pengikut JAI bahwa JAI tidak akan pernah dibubarkan dan JAI bermaksud akan meminta bantuan LBH dan akan meminta bantuan kepada negara-negara lain yang tergabung dalam JAI, ini semua merupakan perkataan salah satu pengikut JAI yang menanyakan hal tearsebut kepada saya dan saya mohon penjelasannya agar saya dapat menjelaskan kepada mereka.

    Karena dilingkungan saya banyak sekali pengikut JAI bahkan saudara saya sendiri.

    Bila ini terjadi maka akan sulit untuk mengusut JAI dan ini akan menguatkan keyakinan pengikut JAI yang nantinya akan lebih sulit lagi untuk di beri pengertiannya,

    Saya mohon ustadz mau memberikan saran kepada saya dan memberikan wanti-wanti kepada Bakor pakem untuk tetap siaga dan jangan menyerah.

    Terimaksih ustadz

    Wasalamu’alaikum

    Nissa
    Jawaban

    Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Istilah khalifah adalah sebutan buat orang yang memimpin negara. Dan karena wilayah negara itu membentang di semua negeri yang berpenduduk Islam, mulai dari ujung Barat Maroko hingga ujung timur Marouke, maka tidak disebut dengan nama daerah atau wilayah. Nama negaranya malah disebut dengan isitlah khilafah, karena dipimpin oleh seorang khalifah.

    Sedang istilah kekhilafahan adalah campuran dari bahasa Arab dan mendapat imbuhan dalam bahasa Indonesia. Sebenarnya kalau mau yang baku, cukup dengan kata ‘khilafah’ saja, tidak perlu ditambahi dengan imbuhan ke- di awal dan -an di belakang.

    Sekedar untuk diketahui bahwa di zaman Rasulullah SAW masih hidup, tidak ada istilah khalifah, khilafah atau kekhalifahan. Karena kata ‘khalifah’ berarti pengganti.

    Karena Muhammad SAW adalah nabi dan rasul terakhir dan tidak ada nabi setelah beliau, maka begitu beliau wafat, para shahabat kemudian menggantikan posisi beliau. Tentu saja bukan sebagai nabi, melainkan sebagai kepala negara.

    Mereka kemudian disebut sebagai ‘penganti’ atau dalam bahasa Arab disebut dengan istilah ‘khalifah’. Awalnya, istilah yang lazim digunakan adalah khalifatu rasulillah, artinya pengganti Rasulullah SAW. Lama kelamaan hanya tinggal ‘khalifah’ saja.

    Sehingga kalau kita mau lebih teliti dan cermat, esensinya tidak terletak pada istilah khalifah atau khilafah. Namun terletak pada kepemimpinannya.

    Syarat Khilafah

    Banyak orang menduga bahwa khilafah itu ditentukan lewat pewarisan dari jalur nasab Rasulullah SAW. Dan tidak sedikit yang beranggapan bahwa khilafah itu didapat lewat titah dari Nabi Muhammad SAW sendiri, yang menurut anggapan mereka telah meninggalkan pesan agar yang menjadi penggantinya adalah si fulan dan si fulan.

    Sayang sekali semua anggapan ini keliru. Tidak pernah didapat data dan keterangan yang valid bahwa beliau SAW berpesan agar tampuk kepemimpinan tertinggi umat Islam diserahkan kepada seseorang.

    Bahkan ketika Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu diangkat menjadi khalifah, bukan semata-mata karena penunjukan dari Rasulullah SAW secara sharih. Melainkan karena ijma’ para shahabat untuk membai’at beliau.

    Jadi syarat untuk menjadi khalifah secara resmi adalah bai’at dari seluruh umat Islam. Sedangkan alasan untuk memilih Abu Bakar, hanya merupakan landasan ijtihad mereka yang kebetulan sama. Nabi SAW memang pernah meminta Abu Bakar menggantikan dirinya menjadi imam shalat, sehingga banyak shahabat yang merasa bahwa Abu Bakar sangat pantas menjadi khalifah.

    Akan tetapi, sah dan tidaknya Abu Bakar menjadi khalifah bukan semata-mata karena hal itu. Melainkan setelah semua shahabat Nabi SAW menyatakan kesetiaan, ketundukan dan kepatuhan kepada beliau. Pernyataan kesetiaan, ketundukan dan kepatuhan itu disebut dengan istilah: bai’at.

    Dan lafadz bai’at itu memang mencerminkan hal itu:

    Abayi’ukum ‘alas sam’i wath-tha’ah fi tha’atillahi wa rasulih

    Aku membai’at Anda untuk mendengar perintah Anda dan mentaati perintah itu, dalam rangka ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

    Khilafah Tidak Didapat Dari Hasil Klaim

    Dari sini kita tahu bahwa menjadi khalifah itu tidak berdasarkan klaim atau pengangkatan diri sendiri menjadi penguasa. Tetapi berdasarkan pernyataan ketundukan dari rakyat kepada seorang yang dipercaya untuk menjadi pemerintah.

    Sedangkan yang dilakukan oleh Ahmadiyah dan berbagai kelompok hanya sekedar klaim bahwa mereka mewarisi kekuasaan dari Rasulullah SAW. Dan sekedar mengklaim sih mudah saja. Tetapi yang jadi pertanyaan, umat Islam yang mana yang mau tunduk dan setia kepada tokoh mereka?

    Jawabnya tidak ada. Kalau pun ada yang berbai’at, jumlahnya hanya segelintir orang saja. Hanya mereka yang jadi anggota Ahmadiyah saja. Dan berapa sih jumlah anggota Ahmadiyah dibandingkan dengan umat Islam sedunia? Rasanya sih 1 persen pun tidak ada.

    Lalu apa artinya kekuasaan yang tidak didukung oleh rakyat, kecuali hanya di bawah 1 persen dari mereka?

    Artinya, tokoh Ahmadiyah itu memang benar jadi khalifah (pemimpin), tapi khusus hanya untuk kelompok mereka saja secara eksklsif dan internal. Sedangkan khilafah yang sesungguhnya harus mendapat pengakuan dari seluruh umat Islam sedunia, setidak-tidaknya dari mayoritas umat Islam.

    Khilafah Tidak Diwariskan dan Tidak Diwasiatkan

    Lembaga khilafah bukan perusahaan dagang, di mana owner bisa mewariskan atau menghibahkan hak kepemilikannya kepada anak cucunya.

    Khilafah juga bukan perguruan silat, di mana sang suhu mewariskan tampuk kepemimpinan padepokan silat kepada muridnya yang paling jago bertarung.

    Khilafah juga bukan lampu wasiat yang berisi jin, sehingga siapa saja yang menemukannya, sang jin akan mentaati semua permintaan orang yang menemukan lampu wasiat itu.

    Tapi…

    Khilafah adalah sebuah kepemimpinan tertinggi dalam urusan kenegaraan. Orang yang menjabat jabatan itu harus secara legitimate mendapatkan pengakuan dari rakyat yang dipimpinnya.

    Khilafah VS Demokrasi

    Kalau khilfah kita bandingkan dengan sistem demokrasi di zaman ini, memang sedikit ada beberapa persamaan, meski tetap banyak perbedaan yang esensial.

    Kesamaannya adalah pada aspek pilihan, di mana seorang khalifah tidak semata-mata menjabat jabatan itu karena keturunan. Namun harus lewat pemilihan, baik secara langsung oleh rakyat satu per satu, atau pun lewat ahlul hilli wal ‘aqdi.

    Kalau pun dalam sejarah Islam banyak khalifah yang seolah mewarisi kekuasaan dari orang tua mereka, sebenarnya tidak persis seperti kerajaan. Kadang seorang anak khalifah tidak lantas menjadi khalifah ketika sudah dewasa. Kadang kekuasaan itu diserahkan kepada orang yang lebih ahli di bidangnya.

    Sedangkan perbedaan khilafah dengan demokrasi cukup banyak, salah satunya adalah dari aspek legitimasi. Umumnya para khalifah, terutama empat khalifah pertama, mendapatkan suara 100% dari rakyat. Dalam alam demokrasi di zaman kita ini, nyaris tidak pernah tidak menemukan fenomena seorang penguasa didukung oleh 100% rakyat.

    Yang terjadi dalam sistem demokrasi adalah orang-orang rebutan kekuasaan. Karena kekuasaan dalam sistem demokrasi yang kita kenal sekarang ini memang sangat identik dengan hak untuk menangguk kekayaan. Kekuasaan adalah sebuah jabatan yang sangat terkait dengan uang. Mau jadi penguasa, harus pakai uang. Selama jadi penguasa, kerjaannya mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Setidaknya untuk bayar utang, selebihnya adalah keuntungannya.

    Nyaris tidak ada seorang penguasa naik tahta pada hari ini dengan sistem demokrasi, kecuali tujuan mereka adalah mengumpukan kekayaan.

    Dalam peradaban Islam, para khalifah tidak lain adalah pelayan umat dalam arti yang sesungguhnya. Lepas apakah mereka itu anak khalifah atau orang biasa yang diangkat rakyat menjadi khalifah.

    Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Ahmad Sarwat, Lc

    ARTIKEL 3 :

    M. Al-Khaththath: Ahmadiyah Itu Bagian dari Kolonialis Inggris

    Jemaat Ahmadiyah jelas bukan bagian dari umat Islam Indonesia alias non-Muslim. Jika mereka tetap ngotot minta dianggap Muslim, maka mereka harus membuang Mirza Ghulam Ahmad dan Kitab Tadzkirahnya. Ini harga mati.

    Forum Umat Islam (FUI) merupakan salah satu ormas garda depan yang berupaya memberi pencerahan pada umat Islam Indonesia dalam hal ini. Sebab itu, guna mengelaborasi masalah Ahmadiyah ini maka eramuslim mewawancarai Sekjen FUI Muhammad Al-Khaththath. Berikut petikannya:

    Bisa ustadz jelaskan di mana letak kesesatan Ahmadiyah?

    Orang yang pertama membuat pengakuan adalah Mirza Ghulam Ahmad, ia membuat pengakuan bahwa dirinya adalah seorang nabi. Dalam pandangan Islam jelas bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir, nah itu yang menimbulkan kekesalan di India, daerah asal Mirza Ghulam Ahmad. Pada waktu dalam penjajahan Inggris, Pakistan berusaha untuk memerdekakan negeri Islam di India. Sebenarnya di India itu negara Islam karena yang berkuasa kaum muslimin, meskipun penduduk aslinya beragama Hindu.

    Inggris masuk ke India, kekuasaan diambil-alih Inggris. Kemudian dari ajaran Mirza, yang membuat kita menduga kuat bahwa ajaran Ahmadiyah itu buatan Inggris, karena para pengikutnya dilarang untuk berjihad melawan pemerintahan Inggris. Dari sini kita bisa melihat, bahwa mereka adalah bagian dari kolonialis.

    Keberadaan Ahmadiyah di Pakistan ditentang rakyatnya sendiri sehingga mereka memindahkan markas besarnya ke London.

    Penyimpangannya seperti apa?

    Sudah tampak jelas sekali, tidak benar kalau ada yang mengatakan ini khilafiyah. Karena urusan nabi palsu ini adalah hal yang pokok, mendasar, dan sudah ada sejak dulu.

    Dari segi ajaran Islam, mereka sudah melanggar sesuatu yang sudah ada dalam Al- Quran Surat Al-Ahzab ayat 40 yang artinya, ‘tidaklah Muhammad itu bapak dari salah seorang laki-laki di antara kalian, tapi tiadalah dia merupakan rasulullah dan penutup para nabi’.

    Ahmadiyah itu mengarang-karang bahwa khatamuun nabiyiin di situ bukan penutup para nabi, tapi sebagai stempel kenabian atau cap kenabian, ini karangan mereka. Padahal dalam hadis sudah jelas, hadis Imam Ahmad At-Tawuud, Imam Turmudzi, maupun Imam Bukhori, menyebutkan ‘aku adalah penutup para nabi, dan tidak ada nabi sesudahku’. Jelas dalam hadis Bukhori, yang mengatakan, tidak ada nabi sesudahku, yang ada adalah para khalifah.

    Pada zaman Rasul bagaimana cara mengatasi persoalan nabi palsu. supaya saat ini umat Islam mempunyai refensi yang benar?

    Orang yang mengaku dirinya sebagai nabi adalah kesesatan, dan apabila dia menyampaikan kepada orang lain, statusnya menjadi penyesatan. Karena pada zaman Rasulullah itu sudah ada contohnya orang yang bernama Musailamah menulis surat kepada Rasulullah. Surat berbunyi, ’surat dari Musailamah rasulullah, kepada Muhammad rasulullah’, kemudian Muhammad SAW membalas dengan ‘Surat dari Rasulullah ditujukan kepada Musailamah sang pembohong’. Beberapa hadis lain menyatakan, ‘kalau sekiranya Muhammad memberikan pangkat kenabian padaku sesudahnya, maka aku akan mengikuti dia’. Artinya apa kalau Muhammad SAW tidak memberikan pangkat kenabian itu kepadanya, dia tidak akan mengikuti Nabi Muhammad berarti dia murtad. Nabi SAW pun berkata,

    ‘Andaikan kau meminta pelepah kurma ini aku tidak akan berikan’. Ya pelepah kurma saja tidak diberikan, apalagi pangkat kenabian, ‘karena pangkat kenabian itu tidak bisa diberikan atau diwariskan, tapi itu adalah kehendak Allah SWT’. Kemudian ada dua pengikut Musailamah dari daerah yang letaknya sangat jauh Madinah menyampaikan surat kepada Rasul, lalu Rasul bertanya,

    ‘Apakah kalian bersaksi aku adalah Rasulullah, lalu keduanya menjawab kami bersaksi Musailamahlah Rasulullah’ jadi mereka mengingkari kerasulan Nabi Muhammad SAW.

    Oleh karena itu, baik Musailamah dan pengikutnya yang berjumlah 41 ribu dari kalangan suku bani Hanifah, mereka murtad, padahal sebelumnya mereka muslim. Karena mereka murtad, maka Rasulullah mengatakan lagi kepada utusan itu ‘kalau seandainya aku adalah kepala negera yang membunuh utusan, pasti kalian berdua akan aku bunuh’, tapi ada kesepakatan saat yang mengatakan utusan tidak boleh dibunuh.

    Hadist ini dipahami oleh para oleh sahabat bahwa hukuman untuk para pengikut Musailamah dan termasuk dua utusan tidak pada posisi sebagai utusan adalah mereka dihukum mati. Ketika khalifah Abu Bakar, ketika kelompok Musailamah Al-Khalzab bersatu dengan kelompok murtadin, lalu kelompok murtadin ini bahu membahu untuk membangkang pemerintahan Abu Bakar As-Shiddiq, kemudian Abu Bakar mengangkat panglima untuk menyampaikan ultimatum dari khalifah kepada mereka, agar segera kembali kepada Islam.

    Kemudian keluar ayat terjemahan berbunyi “Tidaklah Muhammad itu melainkan hanya sekedar seorang rasul, telah berlalu rasul-rasul sebelum beliau, kalau sekiranya Muhammad itu wafat, maka kalian berpaling ke belakang (murtad).” Ayat ini yang dipakai khalifah Abu Bakar untuk mengembalikan kaum murtadin ke pangkuan Islam dan menjalankan syariat Islam yang diyakini sebelumnya, apabila mereka menolak bertobat tidak mau kembali kepada Islam maka hukumannya adalah hukuman mati, tanpa pandang bulu. Tapi bagi mereka bertobat, dan diterima kembali sebagai pemeluk Islam.

    Apakah pemerintah harus melakukan seperti contoh para sahabat zaman Rasulullah?

    Meskinya pemerintah muslim menangani dengan cara-cara seperti itu, contoh di atas memberikan gambaran bahwa nabi palsu bukan baru kemarin, bukan baru Mirza Ghulam Ahmad, di zaman Nabi Muhammad SAW sudah ada, di zaman khulafaurasyiddin sudah ada.

    Jangan dibiarkan ada, sebab kalau dibiarkan ada, mereka sangat membahayakan bagi umat Islam, karena mereka melakukan pemurtadan. Jadi contoh di atas, merupakan landasan syari’i yang harus diambil terhadap orang Ahmadiyah. Itu sudah jelas, itu sudah nyata jangan diplintir-plintir ke sana kemari.

    Kalau penyelesaian melalui jalan pengadilan seperti yang disarankan oleh Mahkamah Konstitusi?

    Kalau mau pengadilan ya pengadilan yang merujuk pada syariat, tapi yang mau diadili apanya. Kalau yang mau diadili sesat atau tidak sesat, mereka jelas sudah sesat, menurut syariat Islam, orang yang sesat harus diminta bertobat, mereka sudah murtad.

    Mereka diajak kembali kepada Islam, gampangnya itu saja. Kalau diadili, tapi tetap dalam kemurtadanya buat apa diadili,

    Apanya yang diadili. Jadi mereka diajak kembali masuk kepada Islam, kalau diajak tidak mau, ya menurut syariat Islam hukumnya dihukum mati. Kalau mau diadili harus ada Mahkamah Syariah seperti ini, baru bisa. Kalau pengadilannya tidak bisa menilai benar dan tidak sesuai syariah Islam ya susah. Janganlah merusak ajaran Islam dengan ketidakjelasan. Kita sudah pengalaman dalam kasus Playboy, dibawa ke pengadilan tapi keputusannya tidak jelas. Yang mengatakan tuntutan tidak bisa diterima karena KUHP tidak berlaku, harus mengikuti UU Pers, ya bagaimana kalau terulang seperti tidak akan ada penyelesaiannya. (novel)

    SEMOGA BERMANFAAT.

  129. al-amin Says:

    Supraptono Berkata:
    30 April, 2008 pukul 10:27 pm
    al-amin Berkata:

    [ghulam ahmad kan lahir di india, jadi sebaiknya pengikut ahmadiyah ][tinggal di india saja, jadi ndak perlu repot2 tinggal di indonesia. ]

    Jawaban :
    Weleh, weleh, lho mas …..sampeyan iki mengimbau atawa memaksa?? Bgmna klo aku mengusulkan pengikut umat Nabi Muhammad SAW hijrah ke Arab Saudi dan sekitarnya saja kan disana negara kaya!?. Umat nabi Isa Almasih boyongan ke Yerusalem dan sekitarnya(wah… disini bahaya lho,banyak perang dan bom2 berani mati lho), trus umat Budha dan Hindu ke India (wouw nambahin penduduk kali ya..)?????. Supaya adil maksudnya…ha…ha..ha….. Trus….di Indonesia, sunyi dan suepi dong…he…he…he…he….

    Ya…..supaya nggak pusing…sing…sing…sing emang harus ada yg mbanyol (ngelawak) dikit…layouw….

    Semoga seluruh elemen bangsa ini diberi pencerahan oleh “TUHAN YG MAHA ESA” (sila pertama dari Pancasila)………. Amin.

    Jayalah INDONESIA …. bagi kedamaian, kesejahteraan dan kemakmuran seluruh rakyatnya. Semoga

    AyomerdekA

    KOMENTAR:
    BEGO NAMANYA, JIKA ADA ORANG YG MENYAMAKAN NABI MUHAMMAD DAN NABI-NABI YANG LAIN DENGAN MIRZA GHULAM AHMD. NABI MUHAMMAD DAN NABI-NABI YANG LAIN ITU MERUPAKAN ORANG YG MULIA, SEDANGKAN MIRZA GHULAM AHMAD HANYALAH PEMBOHONG BESAR YG MATI TERKUTUK AKIBAT OMONGANNYA SENDIRI. MATINYA DI WC LAGI.

  130. Penilai Says:

    Robet… tajam juga nih tulisannya……

  131. Supraptono Says:

    Hmmmm…..kasihan mereka…..Ahmadiyah, Lia Eden, Ahmad Musadeg …… atau siapa lagi ya…. Biarlah aqidah kita lawan dengan aqidah bukan kekerasan, dan biarlah waktu TUHAN yang membuktikan…….

    Semoga seluruh elemen bangsa ini diberi pencerahan oleh “TUHAN YG MAHA ESA” (sila pertama dari Pancasila)………. Amin.

    Jayalah INDONESIA …. bagi kedamaian, kesejahteraan dan kemakmuran seluruh rakyatnya. Semoga

    AyomerdekA

  132. Robert Manurung Says:

    @ mujahid cinta

    Komentar Anda ini membuktikan keberhasilan Soeharto mendoktrin bangsa ini. Pelajari dong sejarahnya, terutama aspek konstitusionalnya. PKI dilarang kan karena dianggap melakukan makar, demikian pula kelompok radikal kanan.

    @ penilai

    Coba lihat dari arah berlawanan :

    dalam lingkungan yang biasa kritis dan bebas mengutarakan pendapat secara terbuka, tanpa rasa takut terhadap reaksi marah yang tak terkendali; sebenarnya tulisan ini datar-datar saja.

    Nah, bagaimana penilaian Anda sekarang ?

  133. al-amin Says:

    BEDA PKI DENGAN AHMADIYAH :

    PKI : MENGHANCURKAN ISLAM DARI LUAR

    AHMADIYAH : MENGHANCURKAN ISLAM DARI DALAM.

  134. cimeng13 Says:

    BEDA PKI DENGAN AHMADIYAH :

    PKI: MENGHANCURKAN ISLAM DARI LUAR

    AHMADIYAH : MENGHANCURKAN ISLAM DARI DALAM

    PERSAMAANNYA: SAMA2 MENGHANCURKAN ISLAM

  135. intelefone123 Says:

    Congratulations people of Indonesia that you still have some people who can critically think and identify their enemy.

    It’s “wahabism” that’s always behind, by funding and influence, declaring Ahmadi Muslims kafir. They rally people around on this issue for “political” gains. This formula is working so far. If you look at the history of Pakistan, their next step is your parliament.

    Mazhar

    read more:
    http://proggiemuslima.wordpress.com/2008/04/19/indonesia-seeking-to-officially-ban-the-ahmadiyya/
    http://intelefone123.wordpress.com

  136. laporanwarga Says:

    Saudaraku yang non-muslim. Semoga penelitian saudara ttg Ahmadiyah akan membawa manfaat untuk saudara, khususnya menambah keimanan kepada ajaran agama yang saudara anut.
    Sudikah saudara jika umat Islam mencampuri dan melegalkan gerakan Gereja Setan, dengan dalih HAM, kebebasan beragama, dijamin negara, dsb, dan mencap seluruh orang kristen di Indonesia sebagai kristen aliran keras? Tentu tidak.
    Jadi marilah kita menghargai masalah internal umat beragama. Sejak awal MUI, FUI, FPI, Muhammadiyah, NU, dsb bahkan muslim di dunia meletakkan masalah Ahmadiyah sebagai masalah internal suatu agama. Yang disayangkan kenapa pemerintah justru menyelesaikannya secara politik?
    Black Campaign media2 pun sudah keterlaluan dan berpotensi untuk disomasi. Di sangpresiden.blogspot.com ada polling ttg stasiun TV yang tendensius. Silakan ikuti pollingnya.

    Salam sejahtera

  137. Ismail Daru H. Says:

    Kesalahan persepsi pendukung Ahmadiyah

    Sebelum memulai penjelasan saya, perlu saya perjelas bahwa segala macam bentuk anarki yang dilakukan kelompok tertentu (salah satunya FPI & LPI) adalah salah.

    Menanggapi berbagai pernyataan yang dikemukakan oleh berbagai kelompok yang mendukung Ahmadiyah, menurut saya ada kesalahan persepsi. Mereka, yang mendukung Ahmadiyah, menyatakan demi keberagaman bangsa, demi kebebasan beragama dan berkeyakinan.

    Perlu diketahui bahwa apa yang diyakini oleh Ahmadiyah, setelah diteliti dan dipelajari, adalah sesat. Karena mereka mengatasnamakan Islam, maka seharusnya Ahmadiyah dipahami sebagai bentuk pelecehan atau penghinaan agama Islam. Bukan demi kebebasan beragama yang dikumandangkan oleh para pendukung Ahmadiyah. Bila Ahmadiyah merupakan agama tersendiri, umat muslim akan sangat tidak keberatan.

    Ahmadiyah bukan sekedar masalah berbeda pendapat dalam berkeyakinan. Bila saya berkeyakinan atau pemahaman tertentu saya yang berbeda dan menjurus sesat dari agama saya, maka itu hak saya. Itu dosa saya. Itu urusan saya dengan Tuhan saya. Tapi bila saya mengajarkan, berdakhwah, mengajak, berkumpul, berkelompok dan berorganisasi, maka kegiatan tersebut tidak bisa dibenarkan dan didiamkan.

    Keyakinan Ahmadiyah bukan sekedar perbedaan pendapat seperti mengenai perbedaan hari Idul Fitri, yang menurut saya bukan merupakan suatu prinsip dasar dalam Islam. Perbedaan pendapat Ahmadiyah sudah menyerang dan merusak dasar-dasar prinsip Islam.

    Kepada para pendukung Ahmadiyah atas dasar kebebasan beragama dan berkeyakinan, perlu di ketahui asal mula historis gerakan kebebasan beragama dan berkeyakinan. Menurut saya, semua itu bermula dari pertentangan dalam diri suatu agama di timur tengah sekitar abad ke 1 SM dan eropa sekitar abad ke 16, serta perbedaan pendapat di India sekitar abad ke 5 SM. Maka, jangan menyamakan (baik sadar ataupun tidak sadar) historis Islam dengan mereka. Setidaknya menjadi suatu rujukan dalam arti “kebebasan”.

    Bahkan perbedaan antara Sunni dan Syiah yang bermula dari awal sejarah Islam merupakan perbedaan politik. Bukan prinsip-prinsip dasar keagamaan. Bukankah setelah nabi wafat, muncul nabi-nabi baru yang dibubarkan oleh Abu Bakar?

    Saya bertanya kepada para pendukung Ahmadiyah, bila memang setelah diteliti dan dipelajari Ahmadiyah adalah sesat, dimanakah pemerintah dan hukum dalam membela suatu agama yang telah dilecehkan dan dihina? Dimanakah keadilan Pancasila dalam melindungi agama tertentu dari penghinaan dan pelecehan suatu kelompok yang menganggap dirinya bagian dari agama tersebut?

    Saya mencintai Indonesia dan keberagamannya. Saya mencintai Pancasila yang saya anggap sebagai pemersatu dan penengah keberagaman Indonesia. Tapi, bisakah sekarang Pancasila melindungi salah satu warganya dari kelompok yang menyerang keyakinan warganya tersebut. Bisakah Pancasila, hukum dan pemerintah melindungi warganya (umat muslim) dari penghinaan dan pelecehan Ahmadiyah?

    Ismail Daru H.
    dariusjabbar@hotmail.com

  138. johny Says:

    sebetulnya solusinya cukup sederhana. bukankah mereka sudah disebut sebagai kelompok ahmadiyah, so sebut saja mereka beragama ahmadiyah. kalau ini yang dilaksanakan saya rasa ke depan muslim juga akan turut serta menjaga keselamatan mereka….

  139. andre Says:

    islam itu indah,…

  140. BILIK LAMA « Ikatan Alumni Mahasiswa Kristen Bengkulu Says:

    […] https://ayomerdeka.wordpress.com/2008/04/23/negara-tidak-berhak-membubarkan-ahmadiyah/ […]

  141. gempur ahmadi Says:

    Jadi Yahudi urusanmu, jadi Nasrani,urusanmu, penyembah patung urusanmu, tapi kalo ngaku Islam ada keyakinan yang baku yang tak bisa di lecehkan dan dinistai oleh yang mengaku muslim, cukup jelas komentator, lepaskan antibut yang dipake Islam, you beri nama agama ahmadiyah, selesai. sebab apa tak marah kaum Nasrani, jiaka ada yanga ngaku Nasrani tapi tuhannya Sidarta Gautama, atau Hindu tuhannya Yesus, kalian pemilik agama tersebut gak marah ? yang gak marah ya gak waras,

  142. sufehmi Says:

    @intelefone123 – Yang mengangkat isue Ahmadiyah kepermukaan agar dinyatakan sebagai non-muslim itu siapa ya? Kaum muslim Wahabiyah
    .
    Hehe… ada datanya mas ?🙂

    Jangan cuma sok tahu saja. Nanti malah terjerumus jadi memfitnah.

    Faktanya, bahkan NU pun, yang dianggap sebagai ormas islam yang paling tolerir, sudah menganggap Ahmadiyyah sebagai agama tersendiri.

  143. yumi Says:

    yang jadi maslah sebenarnya sepele.

    kalau saja ahmadiyah tidak membawa – bawa nama islam sih g jadi masalah.

    dan bagi anda yang tidak merasa memiliki islam dan tidak mencintai islam dengan benar, anda tidak akan bisa merasakan perihnya perasaan umat islam dengan adanya penistaan islam oleh ahmadiyah.!!!!

    dan saya yakin anda yang memiliki agama yang pasti anda cintai, tidak rela bila mana prinsip dan ideologi agama kita dibuat amburadul begitu!!!

    seolah2 dimata orang lain bahwa islam kepercayaannya dan tuntunannya g jelas.

    coba renungkan siapa yang reeeelaa!!!!!!???

    ?????
    peringatan:::orang yang bukan islam dan orang islam yang tidak mengenali dan mencintai islam maka dia tidak akan pahaam selamanya tentang kasus ahmadiyah dengan umat islam ini.
    maka dari itu jgn berkomentar yang enggak2!!!!!

  144. evrian Says:

    untuk yg keukeuh ahmadiyah harus bubar :

    yg saya tau, dalam Islam itu ga da tuh bilang klo “Islam mayoritas adalah Islam yg peling benar”!!
    karena saya pikir sebenarnya ga da hubungannya antara mayoritas dengan kebenaran, jd ga bisa menentukan kebenaran berdasarkan suara terbanyak. maka dari itu ga bs jg menghukumi ahmadiyah sebagai ajaran sesat karena ahmadiyah merupakan kelompok minoritas di Indonesia.

    klo sebagian org Indonesia menganggap bahwa Ahmadiyah itu merupakan ajaran yg sesat dan argumentasinya “tidak sesuai” dengan ajaran Islam mayoritas yg ada di Indonesia atau yg sering diklaim sebagai ajaran Islam “yg palingh benar”, lalu apa argumentasi rasional & universal bahwa “ajaran Islam” mayoritas itu tidak sesat atau yg paling benar??

    adanya nabi palsu & agama palsu mengurangi kesucian & kemurnian nabi & agama yg sebenarnya ga??

    klo jawabannya tidak mengurangi, ngapain kita harus buang2 energi dengan menanggapinya??

    klo jawabannya mengurangi, ini yg bahaya, jgn2 justru nabi & agama lu yg palsu!!

  145. evrian Says:

    untuk robert manurung :

    coba anda jelaskan apa syarat2 dialog atau bagaimana mekanisme dialog beserta argumentasinya, supaya “dialog” yg terjadi tidak menjadi “seolah-olah dialog”!!

  146. evrian Says:

    untuk daeng limpo :

    saya sepakat dengan apa yg dikatakan robert manurung bahwa “Tidak ada yang lebih sinting di dunia ini daripada mengadili keyakinan atau sumber keyakinan seseorang maupun kelompok”.

    dari beberapa kisah yg daeng limpo beberkan diatas, saya ada pertanyaan :
    1. klo ada org yg memiliki trik bagaimana cara mencopet tp org tsb ga pernah mencopet, salah ga org itu??

    2. sumanto meyakini bahwa dengan memakan daging manusia bakal mendapatkan ilmu kebal, tp klo misalnya sumanto dengan keyakinannya tersebut tidak memakan daging manusia, bs diadili ga??

    karena saya percaya bahwa keyakinan / agama itu merupakan sumber pengetahuan, apapun agamanya, maka dari itu saya percaya bahwa tidak ada pengetahuan yg buruk!!

  147. bara Says:

    Untuk Manurung, saya yakin anda bukan muslim, sorry anda ngomong hanya dari logika otak saja.

    Semoga dari keturunanmu ada yang ikut Adam Weshaupt, sang penggagas Satanic Church

  148. iman Says:

    Hampir 3 jam saya baca semua komentar, tapi tidak satupun saya baca di komentar2 anda semua, mencantumkan rujukan atau patokan dari surah apa , ayat berapa dalam Alquran tentang kesesatan Ahmadiyah, atau penodaan agama oleh ahmadiyah. sedangkan kita semua tahu Islam itu berpedoman pada Alquran, bukan MUI, bukan FUI, bukan Injil, Bukan Bakorpakem. Yang saya baca cuma sesat, menyimpang kata si A, kata si B kata si C. Coba deh uraikan

  149. Ellygani Says:

    Jangan kebebasan beragama (psl 29 ayat (2) UUD’45), dijadikan alasan untuk beragama sekuka-sukanya, karena di Indonesia hanya ada 6 agama yang diakui, yaitu Islam, Katholik, Protestan, Hindu, Budha dan Konghucu, sehingga hanya keenam agama tsb saja yang boleh melakukan kegiatan keagamaan. Bagaimana dengan Ahmadiyah …? beragama apa mereka, jika mengaku Islam mengapa Akidah mereka (kerasulan Mirza Ghulam Ahmad dan Kitab Suci Tadzkirah) tidak sama dg apa yang diimani oleh umat Islam umumnya (Nabi Muhammad SAW adalah nabi yg terakhir dan Al-Qur’an adalah kitab suci yang telah disempurnakan Allah).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: