Wartawan Indonesia Diundang Melongok Laboratorium Namru 2

Dalam bangunan seluas 418 meter persegi di area Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI. Laboratorium biomedis ini mempekerjakan sebanyak 19 peneliti warga negara AS dan 175 warga negara Indonesia.

Berdasarkan keterangan Kepala Namru 2 Kapten Trevor James, Namru juga membuka pintu bagi mahasiswa kedokteran dari Universitas Atmajaya dan Universitas Indonesia untuk mempelajari lebih banyak tentang penyakit tropis.

SOROTAN terhadap Namru 2 rupanya mulai membuat gerah pengelola laboratorium milik Angkatan Laut Amerika Serikat itu. Jumat siang tadi (25/4), pengelola Namru 2 mengundang puluhan wartawan mengunjungi laboratorium yang dibangun tahun 1970 itu. Jelas sekali, tujuannya adalah untuk menepis berbagai tuduhan bahwa Namru 2 merupakan kedok intelijen militer. Apa yang ditemukan wartawan ?

Sementara itu Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan, seperti diberitakan metrotvnews.com dan BBC Indonesia.com; pemerintah akan meneliti ulang keberadaan Namru 2 (Naval Medical Research Unit). Menurut Jusuf Kalla, laboratorium AS di Jalan Percetakan Negara, Jakarta, itu bisa saja dipertahankan, asalkan dikelola secara profesional dan murni untuk kerja sama di bidang riset penyakit menular.

Dalam konferensi pers seusai salat Jumat, Kalla juga menyinggung soal warga AS pekerja Namru yang mendapat hak istimewa, yakni kekebalan diplomatik. “Kita cek lagi, kalau diplomatik biasanya yang begitu tidak punya kekebalan diplomatik. Mungkin perjanjiannya dulu begitu. Tapi sekarang dia [warga AS pekerja Namru] harus bekerja sebagai profesional,” jelas Kalla.

Wartawan diundang “menginspeksi” Namru 2

Di tempat lain, tadi siang, pengelola Namru 2 mengundang wartawan untuk melihat aktivitas penelitian yang telah berlangsung selama lebih dari 30 tahun. Tentu saja para wartawan kita hanya melihat kulit-kulitnya, tanpa mengerti apa yang sebenarnya dikerjakan di laboratorium itu. Bukan karena wartawan kita bodoh, tapi memang tidak satu pun wartawan di dunia ini yang mampu memahami dan melaporkan secara ilmiah mengenai apa yang dikerjakan di sebuah laboratorium penelitian.

Kalau pihak AS ingin menghapus kecurigaan tuan rumah Indonesia terhadap Namru 2, caranya bukan dengan mengundang wartawan untuk melihat-lihat ruang laboratorium yang misterius itu. Cara paling meyakinkan adalah melaporkan proses penelitian yang dikerjakan kepada Depkes; seperti yang dituntut oleh Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari.

Inilah laporan Metro TV dari “inspeksi tersebut :

Namru 2 dibangun 1970, terdiri dari belasan rungan penelitian, termasuk ruang ekstraksi bakteri, ruang penelitian penyakit dan ruang administrasi.

Dalam bangunan seluas 418 meter persegi di area Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI. Laboratorium biomedis ini mempekerjakan sebanyak 19 peneliti warga negara AS dan 175 warga negara Indonesia. Tak hanya itu. Berdasarkan keterangan Kepala Namru 2 Kapten Trevor James, Namru juga membuka pintu bagi mahasiswa kedokteran dari Universitas Atmajaya dan Universitas Indonesia untuk mempelajari lebih banyak tentang penyakit tropis.

Aktivitas Namru 2 terhenti

Saat ini aktivitas Namru terhenti karena sampel bakteri tidak dipasok lagi oleh Balitbangkes, terkait habisnya nota kesepakatan (MoU) antara pemerintah AS dan Depkes 2005 antara pemerintah AS dan Depkes. Selama beraktivitas, menurut James, Namru mengaku selalu berkonsolidasi dengan Balitbangkes terkait temuannya.

Namru 2 dibuka di Jakarta menyusul penutupan Namru 2 di Vietnam selatan yang telah beroperasi sejak 1966. Laboratorium ini merupakan salah satu dari lima Namru yang beroperasi di beberapa tempat belahan dunia lainnya. Namru 2 didirikan untuk mengantisipasi infeksi penyakit tropis, seperti malaria saat Perang Vietnam 70`an.

Kelanjutan keberadaan Namru 2 kini masih dibahas menyusul berakhirnya kerja sama Indonesia dengan lembaga riset Angkatan Laut AS tersebut 31 Desember 2005. Di tengah proses tersebut, timbul tudingan Namru tidak transparan dan mengambil keuntungan dari sampel virus yang dikirimkan negara berkembang.

Pihak Namru 2 membantah tudingan tersebut. Sejak mulai beroperasi di Indonesia, Namru 2 telah mengirimkan 50 sampel virus ke luar negeri. Tidak satu pun sampel-sampel tersebut yang dikomersialkan.

Namun hujatan terhadap Namru bukan cuma masalah transparansi. Status khusus 19 warga AS di laboratorium yang memiliki kekebalan diplomatik, juga dipersoalkan.

Laboratorium Namru juga pernah beroperasi di Jayapura, Papua. Namun, laboratorium kesehatan milik AL AS di Papua berhenti operasi sejak 2003. Gedung Namru 1 telah diubah menjadi Gedung Balitbangkes BPPK Jayapura. Ketika masih beroperasi, misi utama Namru 1 adalah meneliti penyakit malaria yang pernah mewabah di Papua.

Meski ditutup lima tahun lalu, peralatan laboratarium medis peninggalan Namru 1 hingga kini masih tersimpan. Salah satunya adalah peralatan di Laboratorium Hematologi yang digunakan untuk pemeriksaan darah. Alat di ruangan itu lengkap dengan peralatan sentrivirus yang berfungsi memisahkan berat darah berdasarkan berat partikel (http://www.ayomerdeka.wordpress.com)

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , ,

4 Tanggapan to “Wartawan Indonesia Diundang Melongok Laboratorium Namru 2”

  1. togarsilaban Says:

    Ada banyak kemungkinan kenapa keberadaan laboratorium ini disorot sekarang. Pertanyaanya, kenapa baru sekarang, mengapa tidak dari dulu. Pdahal laboratorium itu sudah sangat lama, bahkan sekarang kegiatannya semakin kecil.

    Ada banyak bantuan asing berupa laboratorium yang diperoleh Indonesia, selain Amerika, yang banyak membantu adalah Jepang. Lihat saja situs JICA dan akan ditemukan banyak laboratorium berbagai bidang yang dibantu Jepang. Banyak orang Jepang yang bekerja di sejumlah laboratorium itu.

    Bukan tidak mungkin, blow-up masalah Namru ini ada unsur politisasinya. Mungkin untuk menaikkan sentimen anti Amerika di Indonesia. Semua tau, sentimen anti Amerika bisa menaikkan popularitas di negeri ini. Karena Pemilu semakin dekat, banyak pihak yang sudah mulai memompa segala daya untuk menaikkan popularitas.

    Mengapa bukan laboratorium kerjasama Jepang yang di blow-up. Sentimen anti Jepang tidak bisa menaikkan popularitas disini. Jadi laboratorium Jepang tidak bisa digunakan sebagai “umpan” politisasi.

    Tapi itu cuma salah satu kemungkinan saja, kemungkinan lain??, tanya lah rumput yang bergoyang.

  2. benwae Says:

    Tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang benar. Meski kadang kita berkata dalam hati, kenap baru sekarang semuanya dimulai knp tidak dari dulu-dulu. Dan banyak pula opini yang berkembang. Mungkin sebaiknya kita tidak hanya berhenti dan berkomentar saja setelah membaca tulisan ini. Memulai dari diri sendiri untuk ikut mencari bukti atau fakta sekecil mungkin saya kira lebih membantu. Mari tumbuhkan semangat memajukan negeri dalam diri masing-masing dan berkontribusi sekecil apapun dan tidak hanya menimbang permasalah ini sebuah kebenaran atau rekayasa belaka. Selalu ada harapan untuk lebih baik….

  3. aisyah Says:

    “Mari tumbuhkan semangat memajukan negeri dalam diri masing-masing dan berkontribusi sekecil apapun dan tidak hanya menimbang permasalah ini sebuah kebenaran atau rekayasa belaka”

    siiiip….merdeka!
    untuk para peneliti Indonesia..jangan mau kalah sama asing..publikasi jurnal internasional sebanyak-banyaknya, karena dengan cara itulah riset Indonesia “dilihat” dan dihargai.
    Dana riset dari negara jangan dikorupsi..Gimana mau bikin vaksin kalo uang buat riset aja udah keburu abis dipotong sana-sini sama admin!!(padahal udah di-mark-up minimal 35% ya..hihihi)

  4. aye Says:

    Secara logika, 30 tahun ada di lingkungan Litbangkes kecil kemungkinan Depkes dalam hal ini Litbangkes tidak mengetahui keberadaan Namru atau tidak ada laporan Namru ke Litbangkes. Yang jadi masalah kenapa ibu menkes ‘tidak tau’ tentang namru.
    Mudah mengeceknya. browsing saja Litbangkes dan Namru.
    Didiklah rakyat dengan benar, jangan dengan emosi dan provokasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: