Macan Pun Terpaksa “Ikut Program KB”

Keadaan Gembira Loka yang menyedihkan itu akhirnya merembet juga ke jatah makan dan kehidupan asmara para penghuninya. Tidak cukup hanya menjalani “diet”, para hewan di sana terpaksa hidup “selibat” alias berpantang hubungan seks.

Oleh : Robert Manurung

KRISIS pangan yang tengah melanda dunia telah menimbulkan banyak kejadian yang tadinya “tak mungkin terjadi”. Satu contoh saja, di negara tetangga kita yang super makmur, Singapura; tepatnya di sebuah rumah ibadah, belakangan ini sudah menjadi pemandangan rutin, saban sore, ribuan orang ante beras gratis. How come ?

Pokoknya, ratusan juta orang di seluruh dunia kini mendadak merasa miskin, meski sebenarnya kekayaannya tidak berkurang. Biang keroknya adalah kenaikan harga beras dan bahan pangan lainnya, yang memang gila-gilaan, rata-rata tiga kali lipat dari harga normal. Parahnya, persediaan pangan di pasar juga terlalu sedikit—mungkin sudah diborong oleh orang-orang kaya—sehingga ibu-ibu di Haiti harus berkelahi dengan calon pembeli lainnya, cuma untuk membeli lima kilogram beras.

Cerita tentang macan ini pun berkaitan dengan kemiskinan atau krisis pangan dengan versi berbeda. Lokasi kejadian : Kebun Binatang Gembira Loka, Yogyakarta. Bintang utama : 6 ekor macan. Figuran : singa, komodo, buaya, gorila, dan gajah. Penutur kisah : Hari Palguna, Konsultan Biologi KB Gembira Loka.

Inilah kisahnya :

GEMBIRA LOKA adalah salah satu—kalau bukan satu-satunya—kebun binatang di Indonesia yang sepenuhnya mandiri alias tidak mendapat bantuan dari pemerintah dan pihak lain. Memang ada juga subsidi dalam bentuk potongan pajak tiket masuk, yang mestinya 15 % dikorting menjadi 9 %. Jadi, kebun binatang yang makin melarat ini, malah harus menyetor pajak ke kas negara.

Dengan harga tiket Rp 8.000 dan jumlah pengunjung tahunan sekitar 400.000 orang, Gembira Loka mendapat pemasukan sekitar Rp 4,8 miliar per tahun. Kenapa pemasukan terlihat lebih besar daripada hasil perkalian harga tiket dengan jumlah pengunjung ? Soalnya, setiap hari libur yang jumlah totalnya sekitar 90 hari dalam setahun, kebun binatang ini selalu menggelar pentas dangdut; dan itu menghasilkan pemasukan ekstra.

Nah, uang pemasukan sekitar 4,8 miliar itulah yang digunakan menghidupi kebun binatang yang “dibelah” Sungai Gajah Wong ini. Adapun yang perlu dihidupi adalah para pegawai, dan para penghuninya yang rata-rata makan sangat kuat. Sebagian dana juga disisihkan untuk memperbaiki kandang dan sarana lain di Gembira Loka, yang mengalami kerusakan parah akibat gempa bumi yang meluluh-lantakkan Yogyakarta tahun 2006.

Lubang menganga di kandang buaya

KARENA dana minim, hanya sedikit sarana yang bisa diperbaiki, lainnya dibiarkan saja seperti keadaan pasca gempa. Sebagian besar jalan setapak yang menghubungkan kandang ke kandang masih bopeng-bopeng. Bangunan Wayang Tirto yang dikelilingi Telaga dibiarkan rusak dan miring. Tembok kandang burung kasuari yang roboh akibat gempa hanya ditambal dengan seng bekas.

Yang paling membuat miris, pagar kawat di kandang buaya muara berlobang dengan diameter sekitar 50 cm. Ngeri membayangkan, seandainya anak kecil tertarik melongok lewat lubang itu, lalu kehilangan keseimbangan dan jatuh. Di bawah sana, parit buatan penuh dengan buaya…Oh, Gusti!

Menu makan para hewan

KEADAAN Gembira Loka yang menyedihkan itu akhirnya merembet juga ke jatah makan dan kehidupan asmara para penghuninya. Tidak cukup hanya menjalani “diet”, para satwa di sana pun terpaksa hidup “selibat” alias berpantang hubungan seks. Para satwa itu menjalani “Program Keluarga Berencana” gaya alami—namun sebenarnya sangat tidak natural—demi menyelamatkan kebun binatang itu dari ancaman kebangkrutan.

Mau tahu seberapa gede “uang makan” para macan dan kawan-kawan ? Simak penjelasan Surono, Kepala Seksi Kehewanan Gembira Loka, berikut ini :

Menu rutin seekor macan, 4-5 kilogram daging sapi tiap 5 hari sekali, dan 4-5 ekor ayam tiap 3 hari sekali. Kalau harga satu kilogram daging sapi Rp 50.000, dan tiap ekor ayam Rp 20.000, maka “uang makan” seekor macan tiap bulan adalah sekitar Rp 2 juta hingga Rp 2,5 juta.

Di Gembira Loka ada 6 ekor macan. So, pengeluaran rutin untuk kawanan binatang buas itu berkisar Rp 12 juta hingga Rp 15 juta per bulan. Itu belum termasuk biaya kesehatan dan perawatan kandang. Pola pengeluaran yang hampir sama berlaku pula pada hewan lain, meski menunya berbeda-beda. Beberapa satwa lain yang selera makannya “sangat mengerikan” adalah singa, komodo, dan gajah.

  • Menu seekor gajah per hari : 50 ikat rumput gajah, 30 ikat sayuran, 2 kg gula jawa, 5 buah nanas, 2 kg wortel, 2 kg pelet, dan 1 kg asam jawa.
  • Menu seekor singa : 4-5 kg daging sapi tiap 5 hari, 4-5 ekor ayam tiap 3 hari, dan 4-5 kg daging kuda per minggu.
  • Menu harian seekor gorilla : 50-60 kg sayuran dan buah. Jenis buah favorit : anggur, pir, apel, kiwi, melon, dan semangka.

Macan terpaksa “ikut KB”

PARA ahli kependudukan di zaman moderen sudah lama menyadari adanya kenyataan yang kontradiktif, sebuah fakta yang mematahkan teori Malthus; bahwa pada kelompok sosial yang paling miskin, ledakan populasi cenderung membesar seiring dengan makin merosotnya standar hidup mereka. Makin miskin, makin banyak anak. Salahnya Malthus, dia menghitung pertambahan penduduk terkait dengan kesediaan pangan; padahal stimulus utama adalah kebutuhan orgiastik.

Bukan bermaksud membandingkan secara kasar, antara manusia dan hewan, namun perilaku satwa di Gembira Loka memang ada kemiripan dengan ilustrasi di atas. Pada akhir tahun 90-an, setelah berakhirnya aliran dana non-bujeter seiring lengsernya Soeharto; tatkala para satwa harus ikut hidup prihatin; ternyata, malah terjadi “baby booming” di kalangan hewan pemangsa. Saat itu Gembira Loka “panen raya” 111 ekor anak komodo, buah hati dari 10 ekor komodo yang termasuk generasi ketiga di bonbin itu.

Awalnya, perkembang biakan ini disambut gembira. Pasalnya, saat itu hanya Gembira Loka yang berhasil menangkarkan komodo sebanyak itu. Tapi, belakangan, pengelola bonbin berbalik manyun, karena “uang jajan” anak-anak komodo itu ternyata luar biasa besar. Muncul ide menjual sebagian anak komodo itu, demi menekan pengeluaran dan mendapat sedikit pemasukan, namun terhadang oleh UU No.5 Tahun 1990 yang mensyaratkan penjualan binatang langka harus seizin presiden. Ribet.

Akhirnya, pengelola terpaksa tega, para satwa pun dipaksa menjalani “program KB”. Caranya ? “Kami hanya memisahkan macan betina dan jantan agar tidak bisa kawin,”kata Surono. “Program KB” secara natural– yang mengintervensi hukum alam itu– diterapkan pula pada kawanan komodo.

Kasihan, memang kasihan. Para hewan pemangsa itu harus mengatasi sendiri, tak terbayangkan bagaimana caranya, desakan naluri dasar yang paling primitif dan jujur. Tapi, bagi Hari Palguna, itulah jalan terbaik demi kesejahteraan para satwa itu sendiri.Dia bilang,”Kami sebenarnya bisa saja membiakkan macan dan binatang lainnyaa, tetapi siapa yang mau menanggung biaya makan anak-analnya. Anda mau membiayai ?”

===============================================================

Bahan tulisan ini diambil dari laporan di harian Kompas edisi Minggu, 27 April 2008; kemudian ditulis ulang dan diperkaya oleh RM.

Tag: , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

3 Tanggapan to “Macan Pun Terpaksa “Ikut Program KB””

  1. tomyarjunanto Says:

    yah mungkin pepatah orang Jawa ada benarnya juga dibanding Malthus “makan tidak makan asal kumpul”😀 dalam penderitaan rasa saling memiliki dalam keluarga mungkin semakin menebal, yah daripada menangisi kehidupan alangkah lebih baik bila membagikan cinta
    Semoga begitu adanya kita sebagai bangsa *ragu dengan komen ini*

  2. Robert Manurung Says:

    @ tomyarjunanto

    Hahaha…untung yang ngomong orang Jawa. Tapi memang itu benar.

  3. Menggugat Mualaf Says:

    bung, saya adalah salah satu akseptor KB dengan cita-cita peduli bumi. saya pikir, kecerdasan manusia dalam usaha mengendalikan jumlah kelahiran itu patut dihargai. saya adalah yang sangat memanfaatkan teknologi -hasil buah karya manusia-, tuk keselamatan banyak manusia juga. saya harus adil terhadap kebutuhan ruang manusia dan alam.

    sedihnya, betapa banyak persoalan KB ini diabaikan justru oleh manusia yang paham agama. agama menjadi kendala tuk manusia menjadi berkah bagi alam semesta dan kontras dengan pesan tuhan akan kemuliaan manusia yang secara khusus diberi olehNya akal.

    kalau hewan saja sudah harus KB sedemikian rupa. pertanyaannya, bagaimana dengan manusianya? yang notabene punya akal?
    jujur bung, saya pakai “ai yu di” karena saya peduli bumi.. 2 anak saya syukuri.

    horas!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: